Anda di halaman 1dari 7

Selasa, 03 Januari 2012 | 08:45 oleh W ahyu Satriani, Ruisa Khoiriyah

GLOBAL BOND

Aksi beli kembali global bond menarik pencari likuiditas


Share

dibaca sebanyak 228 kali 0 Komentar

JAKARTA. Rencana pemerintah menggelar hajatan pembelian kembali (buyback) Surat Berharga Negara (SBN) dalam denominasi dollar Amerika Serikat (AS) alias global bond bisa dimanfaatkan para investor untuk mendulang keuntungan. Pemerintah memang belum mengungkapkan nilaiglobal bond yang akan dibeli kembali, berikut serinya. "Kami masih menghitung biaya serta perbandingannya, juga tenor-tenor mana yang akan dibeli kembali karena ini semua akan memengaruhi profil jatuh tempo utang RI," jelas Rakhmat Waluyanto, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan. Rencana pembelian kembali global bond menyusul naik kelasnya Indonesia menjadi negara layak investasi. "Kami ingin mengurangi biaya utang dan memperpanjang durasi utang negara," jelas Rakhmat. Menilik data Kemkeu, hingga 30 Desember 2011, ada 12 seri global bond di pasar yang jatuh tempo antara 2014 hingga 2038. Nilai totalnya US$ 18,7 miliar. Sukartono, Head of Debt Market BNI Securities, menilai, investor bisa memanfaatkan aksi buyback untuk mendapatkan likuiditas ketimbang memegang global bond terlalu lama hingga jatuh tempo. Capital gainbisa lebih cepat diperoleh daripada melepasnya saat jatuh tempo nanti," kata dia, kemarin (2/1). Harga buyback yang dipatok pemerintah memang kemungkinan besar akan lebih rendah dibandingkan harga instrumen tersebut di pasar sekunder sekarang. Namun, investor masih akan tetap untung mengingat harga global bond sudah naik cukup tinggi dibandingkan harga perdananya. "Yield kan terus tertekan, harganya sudah naik tinggi," kata Sukartono. Helmi Arman, analis Citi Group, ada dua opsi buyback yang bisa ditempuh oleh pemerintah. Pertama, menarik instrumen yang dibeli kembali dari investor dan langsung menukarnya dengan instrumen bertenor lebih panjang. Kedua, menggelar buyback melalui lelang. Jika opsi pertama yang ditempuh, maka investor bisa diuntungkan karena langsung mendapat pengganti atas instrumen yang sudah ia lepas. "Jadi, buyback bisa dimanfaatkan oleh investor yang ingin memperbanyak portofolio investasi berupa instrumen bertenor panjang," kata Helmi. Semakin panjang tenor suatu instrumen, kata Helmi, akan semakin rentan terhadap pergerakan yield. "Jikayield turun, harga instrumen tenor panjang akan naik lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya, sehingga investor lebih untung karena mendapatkan capital gain," begitu tutur Helmi. Adapun jika hajatan buyback dilakukan pemerintah melalui lelang, maka investor bisa diuntungkan dari harga pembelian yang dipatok pemerintah. Namun, peluang investor mendapatkan lagi instrumen pengganti global bond yang telah dilepas itu akan kecil. Peluang investor menjual global bond di harga tinggi juga relatif kecil. Pemerintah kemungkinan tidak akan terlalu jauh mematok harga beli kembali dari harga global bond di pasar sekunder. Prediksi Helmi, tidak semua investor akan tertarik memanfaatkan buyback. Semua bergantung pada profil risiko dan tujuan investasi para investor global bond. Terlebih jika tingkat kupon yang diberikan sudah cukup tinggi. Dari 12 seri tersebut, rentang kuponnya berkisar 4,87%-11,62%.

http://investasi.kontan.co.id/v2/read/1325555112/86583/Aksi-beli-kembali-global-bond-menarikpencari-likuiditassenin 0

Jurnal surat berharga di miliki hingga jatuh tempo


Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo adalah aset keuangan non derivative dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan, serta entitas mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo, kecuali: y y y investasi yang sebelum pengakuan awal ditetapkan sebagai aset keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laporan laba rugi; investasi yang ditetapkan oleh entitas dalam kelompok Tersedia untuk Dijual; dan investasi yang memenuhi definisi pinjaman yang diberikan dan piutang.

Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi dimiliki hingga jatuh tempo, jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya, telah menjual atau mereklasifikasi investasi dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum jatuh tempo (lebih dari jumlah yang tidak signifikan dibandingkan dengan total nilai investasi dimiliki hingga jatuh tempo), kecuali penjualan atau reklasifikasi tersebut: y dilakukan ketika aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (contohnya, kurang dari tiga bulan sebelum jatuh tempo) dimana perubahan suku bunga tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap nilai wajar aset keuangan tersebut; terjadi setelah entitas berhasil menagih hampir seluruh jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadwal pembayaran atau pembayaran awal; atau terkait dengan kejadian tertentu yang berada diluar kendali entitas, tidakberulang, dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh entitas.

y y

Investasi dalam convertible bond yang dapat dikonversi sebelum jatuh tempoumumnya tidak dapat diklasifikasikan dalam kelompok investasi dimiliki hinggajatuh tempo karena tidak konsisten dengan tujuan pembelian fitur konversitersebut, yaitu memperoleh hak untuk mengkonversi menjadi ekuitas merupakanderivatif melekat.

http://jurnalakuntansikeuangan.com/2011/08/jurnal-surat-berharga-dimiliki-hingga-jatuh-tempo/

Surat berharga di Indonesia berkembang mulai tahun 1980 setelah adanya deregulasi ekonomi dalam bidang keuangan. Aturan ini membawa perubahan kepada berkembangnya pasar keuangan di Indonesia dimana surat berharga komersial ini adalah merupakan salah satu bentuk pengembangan pasar financial. Dimana selanjutnya pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bank Indonesia No.28/52/DIR dan No 49/52/UPG yang masing masing tentang Persyaratan perdagangan dan penerbitan surat berharga komersial melalui bank umum di Indonesia, dimana dengan adanya peraturan tersebut maka bank umum di Indonesia mempunyai pedoman yang seragam serta memiliki

dasar hukum yang kuat terhadap keberadaan surat berharga komersial. lalu yang menjadi pertanyaan bagaimana perlindungan hukum yang di miliki oleh setiap pemegangsurat-surat berharga? Di karnakan yang menjadi pokok pembahasan kali ini merupakan perlindunganhukum bagi pemegang surat berharga dalam perspektif hukum dagang maka dapat dijelaskan seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa surat berharga adalah alat yangberfuungsi Sebagai alat pembayaran, Sebagai alat pemindahan hak tagih (karena dapatdiperjualbelikan). Sebagai Surat Legitimasi (Surat Bukti Hak Tagih). Maka dengan adanya surat ini dengan secara otomatis timbullah suatu perikatan antara masingmasing pihak yang membuatnya. Karena Perlindungan hukum merupakan suatu tindakan Segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan hokum maka perlrlindungan hokum yang dimiliki oleh seorang pemegang surat berharga terdapat pada kitap undang undang hokum dagang dan kitap undang-undang hokum perdata pada pasal 1233-1352tentang perjanjian. Di karenakan hukum dagang juga merupakan hukum yang mengatur tentang hubungan pribadi antara manusia dan manusia merupakan salah satu subjek-subjek hukum kerena bersamaan hidup dalam suatu masyarakat, misalnya barang-barang yang dibawa oleh pihak perempuan dalam perkawinan, perwarisan, jual beli, pegadaian sawah, dll tetapi hubungan pribadi tersebut selalu terdapat antara subjek-subjek hukum saja, sedangkan benda-benda tersebut hanya bersangkutan dalam hubungan tersebut hanya merupakan objek saja. Negarapun sebagai subjek hukum sebagai badan hukum dapat terlibat dalam hubungan pribadi tersebut. Apalagi Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan pancasila haruslahmemberikan perlindungan hukum terhadap warga masyarakatnya sesuai dengan yangtercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4, oleh karena itu perlindungan hukum
berdasarkan pancasila berarti pengakuan& perlindungan hukum berdasarkan Pancasila berarti pengakuan dan perlindungan akan harkat dan martabat manusia atas dasar nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, serta keadilan sosial. Nilai-nilai tersebut melahirkan pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia dalam wujudnya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial dalam wadah negara kesatuan yang menjunjung tinggi semangat kekeluargaan demi mencapai kesejahteraan bersama.

Sebelum kita membahas lebih dalam, sebaiknya kita perlu mengetahui definisi dari Perlindungan Hukum itu sendiri yaitu segala daya upaya yang dilakukan secara sadar oleh setiap orang maupun lembaga pemerintah, swasta yang bertujuan mengusahakanpengamanan, penguasaan dan pemenuhan kesejahteraan hidup sesuai dengan hak-hakasasi yang ada. Pada prinsipnya perlindungan hukum tidak membedakan terhadap kaumpria maupun wanita, Sistem pemerintahan negara sebagaimana yang telah dicantumkandalam Penjelasan UUD 1945 diantaranya menyatakan prinsip negarayang berdasarkan atas hukum (rechtstaat) dan Pemerintah konstitusi (hukum dasar) Indonesia adalah atas sistem berdasar

Elemen pokok negara hukum adalah pengakuan& perlindungan

terhadap fundamental

rights

(tiada

negara

hukum

tanpa

pengakuan&perlindungan

terhadap fundamental rights Dalam kehidupan dimana hukum dibangun dengan dijiwai oleh moralkonstitusionalme, yaitu menjamin kebebasan & hak warga, maka menaati hukum dankonstitusi pada hakekatnya menaati imperatif yang terkandung sebagai substansimaknawi didalamnya (imperatif : hak-hak warga yang asasi harus dihormati & ditegakkan oleh pengembang kekuasaan negara dimanapun & kapanpun, juga ketika warga menggunakan kebebasannya untuk ikut serta atau untuk mempengaruhi jalannya proses pembuatan kebijakan public. Seperti Dewasa ini aktivitas bisnis berkembang begitu pesatnya dan terusmerambah ke berbagai bidang, baik menyangkut barang maupun jasa. Bisnis merupakansalah satu pilar penopang dalam upaya mendukung perkembangan ekonomi danpembangunan. Dalam melakukan bisnis tidak mungkin pelaku bisnis terlepas dari hukum karena hukum sangat berperan mengatur bisnis agar bisnis bisa berjalan dengan lancar, tertib, aman sehingga tidak ada pihakpihak yang dirugikan akibat adanya kegiatan bisnis tersebut, contoh hukum bisnis adalah undangundang perlindungan konsumen (UU No. 8 tahun 1999). Dalam undang-undang perlindungan konsumen dalam pasal disebut diatur tentang kewajiban pengusaha mencantumkan lebel halal dan kadaluarsa pada setiap produk yang ia keluarkan. Dengan kewajiban tersebut konsumen terlindungi kesehatannya karena ada jaminan perlindungan jika produk sudah daluarsa. Begitu juga dengan konsumen umat islam adanya lebel halal akan terjamin dari mengkonsumsi produk haram. Contoh-contoh hukum yang mengatur dibidang bisnis, hukum perusahaan (PT, CV, Firma), kepailitan, pasar modal, penanaman modal PMA/PMDN, kepailitan, likuidasi, merger, akuisisi, perkreditan, pembiayaan, jaminan hutang, surat berharga, hukum ketenagakerjaan/perburuhan, hak kekayaan intelektual, hukum perjanjian (jual beli/transaksi dagang), hukum perbankan, hukum pengangkutan, hukum investasi, hukum teknologi, perlindungan konsumen, hukum anti monopoli, keagenan, distribusi, asuransi, perpajakan, penyelesaian sengketa bisnis, perdagangan internasional/WTO, kewajiban pembukuan, dll. Dengan demikian jelas aturan-aturan hukum tesebut diatas sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis. Aturan-aturan hukum itu dibutuhkan karena : a. Pihak-pihak yang terlibat dalam persetujuan/perjanjian membutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekadar janji serta itikad baik saja. bisnis itu

b. Adanya kebutuhan untuk menciptakan upaya-upaya hukum yang dapat digunakan seandainya salah satu pihak tidak melaksanakan kewajibannya, tidak memenuhi janjinya. c. Disinilah peran hukum bisnis tersebut.

Untuk itu pemahaman hukum bisnis dewasa ini dirasakan semakin penting, baik oleh pelaku bisnis dan kalangan pembelajar hukum, praktisi hukum maupun pemerintah sebagai pembuat regulasi kebijakan yang berkaitan dengan dunia usaha. Hal ini tidak terlepas dari semakin intens dan dinamisnya aktifitas bisnis dalam berbagai sektor serta mengglobalnya sistem perekonomian. Menurut Ismail Saleh dalam bukunya HUKUM DAN EKONOMI 1990, : Memang benar ekonomi merupakan tulang punggung kesejehateraan masyarakat dan memang benar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah tiang-tiang penopang kemajuan suatu bangsa namun tidak dapat disangkal bahwa hukum merupakan pranata yang pada akhirnya menentukan bagaimana kesejehateraan yang dicapai tersebut dapat dinikmati secara merata, bagaimana keadilan sosial dapat diwujudkan dalam kehidupan masyarakat dan bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membawa kebahagiaan rakyat banyak . Berdasarkan hal diatas sangatlah terlihat bahwa hukum sangat penting dalam dunia ekonomi/bisnis sebagai alat pengatur bisnis tersebut. Kemajuan suatu ekonomi/bisnis tidak akan berarti kalau kemajuan tidak berdampak pada kesejahteraan dan keadilan yang dinikmati secara merata oleh rakyat. Negara harus menjamin semua itu. Agar tidak ada terjadi pengusaha kuat menindas pengusaha lemah, yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin, sehingga tidak ada keseimbangan dalam tatanan kehidupan masyarakat. Disinilah peran hukum membatasi hal tersebut. Maka dibuat perangkat hukum yang mengatur dibidang bisnis tersebut (hukum bisnis). Dengan telah dibuatnya hukum bisnis tersebut (peraturan perundang-undangan) imbasnya adalah hukum bisnis tersebut harus diketahui/dipelajari oleh pelaku bisnis sehingga bisnisnya berjalan sesuai dengan koridor hukum dan tidak mempraktikkan bisnis yang bisa merugikan masyarakat luas (monopoli dan persaingan usaha tidak sehat). Bagaimanapun juga adanya pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat serta kompleks melahirkan berbagai bentuk kerjasama bisnis. Kerjasama bisnis yang terjadi sangat beraneka ragam tergantung pada bidang bisnis apa yang sedang dijalankan. Keanekaragaman kerjasama bisnis ini tentu saja melahirkan masalah serta tantangan baru karena hukum harus siap untuk dapat mengantisipasi setiap perkembangan yang muncul.
Diposkan oleh suherly di 10:34 AM

http://suherlyontheblog.blogspot.com/2011/03/surat-surat-berharga.html
TINJAUAN YURIDIS TENTANG PENERBITAN CEK ATAS PERHITUNGAN A. Latar Belakang Di dalam dunia perusahaan dan perdagangan, orang menginginkan segala sesuatunya bersifat praktis dan aman khususnya dalam lalu lintas pembayaran. Artinya, orang tidak mutlak lagi menggunakan alat pembayaran berupa uang, melainkan cukup dengan menerbitkan surat berharga baik sebagai alat pembayaran kontan maupun sebagai alat pembayaran kredit. Praktis dalam setiap transaksi, para pihak tidak perlu membawa mata uang dalam jumlah besar sebagai alat pembayaran dalam suatu transaksi, melainkan cukup dengan membawa atau mengantongi surat berharga saja. Aman artinya tidak setiap orang yang tidak berhak dapat menggunakan surat berharga itu, karena pembayaran dengan surat berharga memerlukan cara-cara tertentu. Sedangkan jika menggunakan mata uang apalagi dalam jumlah besar

banyak sekali kemungkinan timbulnya bahaya atau kerugian, misalnya pencurian, kebakaran atau perampokan, dan lain-lain. Mengingat praktisnya penggunaan cek atau wesel sebagai alat pembayaran sudah semakin dirasakan, maka meluaslah pengenalan dan penggunaan berbagai bentuk surat berharga yang juga merupakan tanda bahwa masyarakat semakin mengenal peran penting dari surat-surat berharga. Pada dasarnya salah satu fungsi utama dari surat-surat berharga (termasuk wessel, cek, dan eksep, adalah untuk dapat diperdagangkan, untuk dapat dipindahtangankan dari satu tangan ke tangan yang lain. Faktor atau syarat yang menjadikan adanya fungsi dapat diperdagangkan itu ialah dengan adanya klausula-klausula pada surat itu yang bertujuan untuk memperalihkan kedudukan hukum dari orang yang berhak atas isi dari surat tersebut kepada orang lain. Dengan perkataan lain, klausula-klausula tersebut menyatakan bahwa sifat berbagai penagih dari pemegang surat itu dapat diperalihkan kepada orang lain dengan cara yang telah ditentukan oleh klausula-klausula itu sendiri. Untuk menuju kepada pengertian surat berharga yang menjadi obyek pembicaraan, seperti yang diatur dalam KUH Dagang terlebih dahulu perlu dibedakan dua macam surat, yaitu : 1. Surat berharga, terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda waarde papier di negara anglo saxon di kenal dengan istilah negatible instruments. 2. Surat yang mempunyai harga atau nilai, terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda papier van waarde dalam bahasa Inggris letter of value. Pengertian surat berharga adalah surat yang oleh penerbitnya sengaja diterbitkan sebagai pelaksanaan pemenuhan suatu prestasi, yang berupa pembayaran sejumlah uang. Tetapi pembayaran itu tidak dilakukan dengan menggunakan mata uang, melainkan dengan menggunakan alat bayar lain. Alat bayar itu berupa surat yang didalamnya mengandung suatu perintah kepada pihak ketiga, atau pernyataan sanggup untuk membayar sejumlah uang kepada pemegang surat itu. Surat berharga itu mempunyai tiga fungsi utama, yaitu : 1. Sebagai alat pembayar (alat tukar uang) 2. Sebagai alat untuk memudahkan hak tagih (diperjualbelikan secara mudah dan sederhana). 3. Sebagai surat bukti hak tagih (surat legitimasi). Sedangkan tujuan penerbitan surat berharga itu adalah sebagai pemenuhan prestasi berupa pembayaran sejumlah uang. Pengertian surat yang mempunyai harga atau nilai adalah surat ini diterbitkan bukan sebagai pemenuhan prestasi berupa pembayaran sejumlah uang, melainkan sebagai bukti diri bagi pemegangnya sebagai yang berhak atas apa yang tersebut didalamnya. Surat ini juga tidak dapat diperjualbelikan karena tujuan pembayaran. Seorang kreditur yang menerima surat pengakauan hutang dari debiturnya, merupakan bukti bagi kreditur bahwa ia mempunyai piutang pada debitur. Tetapi debitur sekali lagi tidak menerbitkan surat itu untuk diperalihkan kepada orang lain, karena debitur tidak berkewajiban membayar hutangnya kepada orang lain selain dari kreditur itu sendiri. jika ternyata kemudian kreditur itu memperalihkan surat pengakuan hutang itu kepada orang lain, maka kreditur harus memberitahukan hal ini kepada debitur. Kewajiban memberitahukan semacam ini tidak terdapat pada surat berharga. Adanya penolakan tersebut bisa juga dikarenakan adanya cacat pada surat berharga tersebut, yang di maksud dengan cacat pada surat berharga ialah cacat karena tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh undang-undang, yaitu syarat-syarat formil ini membawa pengaruh pada soal sah atau tidaknya surat berharga itu. Syarat-syarat formil untuk cek diatur dalam pasal 178 KUHD. Termasuk cacat bentuk itu misalnya tidak ada tanda tangan penerbit, tidak ada tanggal atau kekurangan yang lain sehingga seorang bankir dapat menolak pembayaran suatu cek yang ditujukan padanya. Namun demikian ketentuan pasal 178 KUHD untuk surat cek mengatur upaya tangkisan yang dibedakan menjadi dua macam yaitu : 1. Upaya tangkisan absolut (execption in rem) 2. Upaya tangkisan relatif (execption in personam) Tangkisan absolut dapat digunakan terhadap ketidakcakapan penandatangan (penerbit) untuk melakukan perbuatan hukum. Hal ini menyangkut soal sahnya perjanjian yang menjadi dasar penerbitan surat berharga. Jika perikatan dasar tidak sah, akibatnya pembayaran dengan surat berharga itu juga tidak sah. Ketidakcakapan ini digolongkan juga pada cacat bentuk.

Upaya tangkisan relatif ini tidak dapat diketahui dari bentuk surat berharga itu, melainkan hanya dapat diketahui dari hubungan hukum yang terjadi antara penerbit dengan salah seorang endosan yang mendahului pemegang terakhir, khususnya dengan pemegang pertama, hubungan hukum mana lazim disebut dengan perilatan dasar. Ini bukanlah merupakan satu-satunya penyebab yang dapat membebaskan seorang bankir dari kewajiban membayar, karena bisa juga suatu cek yang walaupun memenuhi syarat formil namun dibubuhi tanda untuk diperhitungkan sehingga bank tidak dapat memberikan pembayarannya secara tunai karena terikat ketentuan undang-undang. Dari berbagai jenis surat-surat berharga tersebut, penulis bahas salah satu bentuk surat berharga, yaitu : cek, sebagai obyek pembahasan dalam pembuatan skripsi ini. Dimana dalam hal ini salah satu jenis cek adalah cek atas perhitungan. Cek atas perhitungan merupakan cek yang dapat dibayar kepada tiap-tiap pemegang yang berhak pembayarannya, tidak dengan uang tunai tetapi dengan cara pemindahbukuan (overboeking) pada rekening pemegang. Cek perhitungan itu ditandai dengan tulisan miring lurus dari bawah ke atas yang berbunyi untuk diperhitungkan. B. Perumusan Masalah Dengan adanya berbagai masalah yang timbul dalam penerbitan cek atas pembawa semacam ini, penulis dalam penyusun skripsi berikut akan mengemukakan beberapa masalah, yaitu sebagai berikut : a. Bagaimana bentuk pembayaran dalam cek atas perhitungan ? b. Bagaimana bentuk penyelesaian terhadap penolakan cek atas perhitungan ?
by Onti-Rug

http://www.lawskripsi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=10&Itemid=10