Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS MENGENAI FAKTOR KELUARNYA INGGRIS DARI EXCHANGE RATE MECANISM: BLACK WEDNESDAY

Galuh Muhamad Iqbal SAS


Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

galuhsas@yahoo.co.id

Abstract: In the introduction, in this paper try to explain the reasons why the British entry into the Exchange Rate Mechanism (ERM), and whether it was true because the inflation rate is high or not. Then peper also explains the influence of changes interest rates in Germany against British interest rates, while Britain was in the European exchange rate mechanism (ERM), demonstrated using Error Correction Model (ECM) approach. Then, this paper also shows process British out of the exchange rate mechanism (ERM).
Keywords: Interest rates UK, Inflation Uk, Interest rates Germany, ECM (Error Correction Model)

PENDAHULUAN Pada akhir tahun 1980-an menjelang awal tahun 1990 inflasi di Inggris berada dikisaran 9,5%, dan akhirnya Nigel Lawson membujuk Thatcher untuk bergabung kedalam ERM (Exchange Rate Mechanism) dengan tujuan agar dapat mengurangi angka inflasi. Dalam ERM nilai Poundsterling dijaga dalam batas-batas tertentu terhadap Deutsche Mark (mata uang jerman sebelum di adopsi ke Euro). Pada tahun 1990 Jerman Barat dan Jerman Timur kembali bergabung. Penyatuan kembali Jerman barat dan Jerman Timur diikuti dengan ekspansi fiskal domestik secara besar-besaran di Jerman. Pemerintah Jerman menghimpun dana melalui pencetakan obligasi baru dalam rangka membangun kembali Jerman timur dan mengadakan transfer pendapatan bagi penduduknya yang relatif miskin. Oleh karena itu orang-orang jerman timur cenderung terbiasa untuk mengkonsumsi lebih banyak daripada biasanya, dan akibatnya adalah terjadi lonjakan Inflasi di jerman, yang oleh Bundesbank (Bank Sentral Jerman), di coba diredam dengan menaikan suku bunga secara drastis. Akan tetapi, negara EMS lain tidak sedang mengalami booming ekonomi dalam waktu yang bersamaan tersebut, mereka dipaksa untuk menaikan suku bunga setinggi suku bunga di Jerman demi mempertahankan kebakuan kurs mata uang mereka dengan Deutsche Mark. Sama halnya dengan

Inggris, inflasi disana sedang mengalami peningkatan, Poundsterling menjadi lemah di pasar. Oleh karena itu, pemerintah Inggris terpaksa meningkatkan suku bunga untuk melindungi nilai Poundsterling agar tidak merosot dibandingkan dengan Deutsche Mark. Suku bunga yang lebih tinggi sangat membantu untuk mengurangi inflasi. Tetapi masalahnya adalah karena pemerintah Inggris meningkatkan suku bunga jauh lebih tinggi dari yang diperlukan untuk perlambatan ekonomi. Kenaikan tingkat suku bunga Inggris ini menyebabkan peningkatan besar terhadap biaya pembayaran hipotek, sehingga hal tersebut menyebabkan harga rumah menjadi jatuh. Harga rumah yang jatuh dan pembelanjaan yang lebih rendah menyebabkan ekonomi melambat, dan masuk ke dalam resesi. Akan tetapi, meskipun ekonomi memasuki resesi, pemerintah tidak

memangkas tingkat suku bunga. Hal ini karena pemerintah Inggris ingin nilai Poundsterling itu lebih besar daripada Deutsche Mark. Pada suatu hari yaitu rabu 16 September 1992, pemerintah Inggris meningkatkan suku bunga dari 12% sampai 15%. Secara teori, suku bunga yang tinggi dapat menarik arus hot money. Akan tetapi, pasar tahu suku bunga 15% ini tidak akan berkelanjutan, pasar melihat untuk apa itu - mengukur putus asa? oleh karena itu dealer valuta asing terus menjual Poundsterling -nya. Pemerintah Inggris menanggapi hal tersebut dengan menggunakan cadangan mata uang asing yang mereka miliki, untuk membeli Poundsterling dan tetap bersikukuh untuk mempertahankan tingkat suku bunga yang tinggi. Pemerintah Inggris telah berkomitmen untuk menjaga Poundsterling agar tetap berada pada ERM, apa pun konsekuensinya. Kebijakan untuk melindungi nilai poundsterling ini menyebabkan kemerosotan ekonomi yang serius. Suku bunga yang tinggi mengakibatkan meningkatnya angka pengangguran dan memukul pasar perumahan di Inggris. Namun permasalahan yang utama adalah pemerintah inggris tidak bisa mengendalikan jumlah uang di pasar. Pasar memprediksi tidak ada lagi yang bisa dilakukan pemerintah Inggris, selain mendevaluasi pounsterling. Sebuah devaluasi dapat membantu meningkatkan permintaan untuk ekspor dan menciptakan lapangan kerja. Dalam resesi, devaluasi tidak menjadi masalah. Namun, dalam booming, devaluasi bisa menyebabkan inflasi. Hanya itu yang dibutuhkan perekonomian Inggris.

LANDASAN TEORI Inflasi adalah proses kenaikan harga harga barang secara umum dan terus menerus. Ini tidak berarti bahwa harga harga berbagai macam barang itu naik dengan persentase yang sama. Mungkin dapat terjadi kenaikan tersebut secara bersamaan. Yang penting terdapat kenaikan harga umum barang secara terus menerus selama suatu periode tertentu. kenaikan yang terjadi hanya sekali

saja (meskipun dengan persentase yang cukup besar) bukanlah merupakan inflasi. Kenaikan harga ini diukur dengan menggunakan index harga, salah satunya seperti Consumer Price Index.1 Bunga adalah imbal jasa atas pinjaman uang. Imbal jasa ini merupakan suatu kompensasi kepada pemberi pinjaman atas manfaat kedepan dari uang pinjaman tersebut apabila diinvestasikan. Jumlah pinjaman tersebut disebut dengan "pokok utang" (principal). Persentase dari pokok utang yang dibayarkan sebagai imbal jasa (bunga) dalam suatu periode tertentu disebut "suku bunga" Inflasi dan suku bunga mempunyai hubungan timbal balik. Suku bunga tinggi akan mengakibatkan kenaikan bunga pinjaman kredit bank yang dibutuhkan oleh peminjam, dana meningkat sehingga ongkos produksi akan meningkat dan berujung pada harga jual produk yang meningkat pula. Inflasi yang meningkat mengakibatkan suku bunga juga meningkat, jika terjadi inflasi maka setiap investor akan meminta imbal hasil minimum yang telah mampu mengganti besarnya inflasi. Empat aspek khusus dari krisis ERM yang harus menjadi catatan. Pertama adalah peran seorang aktor besar George Soros dalam memicu krisis. Soros telah meramalkan bahwa akan ada kemungkinan terjadinya devaluasi Poundsterling, dan mulai diam-diam membangun perencanaan jangka pendek dalam bentuk sejumlah short-term credit lines, dengan total sekitar $ 15 miliar. Pada saat terjadi kolapsnya rezim pertukaran Soros mendapatkan keuntungan yang besar dari kejadian tersebut. Kedua, krisis menunjukkan ketidakrelevanan cadangan devisa dalam dunia mobilitas modal yang tinggi. Bank sentral dari kedua negara (Inggris dan Italia) memiliki cadangan devisa yang cukup besar. Dengan demikian, mereka mampu terlibat dalam direct foreign exchange intervention pada skala yang sangat besar, Inggris membeli sekitar $ 50 milyar Poundsterling selama beberapa hari. Intervensi ini diimbangi dengan open market operations, tujuannya untuk menghindari atau mengurangi size of the monetary base. Dan itu jelas tidak efektif, Poundsterling hanya dapat dipertahankan dengan kontraksi moneter di dalam negeri. Ketiga, Rose dan Svensson (1994) menunjukkan bahwa perbedaan minat terhadap mata uang sudah tidak meluas sejak Agustus 1992 (sebulan sebelum terjadinya Black Wednesday), para pemain di pasar uang telah memilih satu dari sekian banyak mata uang yaitu Poundsterling. Keempat, sebuah fakta yang luar biasa tentang krisis ERM adalah bahwa negara-negara yang "gagal", dan tidak didukung dengan kemampuan perekonomian mereka, Negara tersebut tidak dapat mempertahankan nilai mata uangnya, dibandingkan dengan Negara lain yang berhasil. Inggris,

Dikutip dari buku Ekonomi Moneter edisi ke 1 karangan Prof. Nopirin,Ph.D

khususnya, mengalami penurunan yang cepat dalam tingkat pengangguran, akan tetapi tidak ada kenaikan yang sesuai pada inflasi.

METODOLOGI PENELITIAN 1. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dan satu variabel terikat yaitu suku bunga Inggris dan dua variabel bebas yaitu inflasi Inggris dan Tingkat Suku Bunga Jerman. Rentang waktu data yang digunakan yaitu dalam basis bulanan, dari tahun 1980 bulan januari sampai dengan tahun 1998 bulan September. Data sekunder ini bersumber pada St Louis fed dan Internatioan

Financial Statistics yang dikeluarkan oleh International Monetary Fund. 2. Metode Analisis Data a. Uji stasioneritas Uji Akar-Akar Unit (Unit Root Test) Uji akar-akar unit ini dimaksudkan untuk menentukan stasioner tidaknya sebuah variabel. Data dikatakan stasioner bila data tersebut mendekati rata-ratanya dan tidak terpengaruh waktu. Apabila data yang diamati dalam uji akar-akar unit (Unit Root Test) ternyata belum stasioner maka harus dilanjutkan dengan uji derajat. Uji kointegrasi adalah uji ada tidaknya hubungan jangka panjang antara variable bebas dan terikat, uji ini merupakan kelanjutan dari uji akar-akar unit (Unit Root Test) dan uji derajat integrasi (Integration Test). b. Model Error Correction Model Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Model yang digunakan adalah Error Correction Model (ECM), persamaannya ialah:

IRUK = C(1) + C(2)*INFUK + C(3)*IRGR Atau, ( I ) IRUK = 0 + 1 INFUK + 2 IRGR + et D(IRUK) = C(1) + C(2)*D(INFUK) + C(3)*D(IRGR) + C(4)*RESID01(-1) Atau, ( II ) IRUK = 0 + 1 INFUK + 2 IRGR + 3 CEt-1 + et

Dimana:

IRUK = Tingkast suku bunga Inggris INFUK = Tingkat inflasi Inggris IRGR = Tingkat suku bunga Jerman CEt-1 = koreksi kesalahan (residual lag 1 dari persamaan awal)

SUKU BUNGA INGGRIS VS SUKU BUNGA JERMAN Pada tahun 1992 kondisi perekonomian Inggris sedang mengalami krisis mata uang. Ditambah lagi dengan adanya tekanan dari Jerman yang tiba-tiba menaikan tingkat suku bunga secara sepihak, dengan alasan untuk meredam inflasi yang terjadi disana, akibat dari adanya ekspansi fikal dan peningkatan jumlah konsumsi masyarakat. Sehingga harga-harga meningkat atau mengalami inflasi. Kejadian ini ditanggapi oleh negara-negara ERM lainnya dengan ikut meningkatkan suku bunga karena mereka tidak ingin kehilangan investor yang memindahkan modalnya ke Jerman. Inggris adalah salah satu negara yang ingin tetap mempertahankan kebakuan nilai tukarnya dengan Deutsche Mark. Harapannya ialah jika suku bunga Inggris naik relatif terhadap tempat lain, itu akan menjadi lebih menarik untuk deposit uang di Inggris. Anda akan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih baik dari tabungan di bank-bank Inggris, karena itu permintaan untuk Poundsterling akan naik. Tingkat bunga lebih tinggi menyebabkan apresiasi. Hal ini dikenal sebagai "hot money" dan merupakan faktor penting yang dijalankan dalam menentukan nilai mata uang. Akan tetapi, ketika suku bunga yang di patok oleh bank sentral Inggris terlalu besar maka hal itu akan mempersulit para pengusaha untuk mendapatkan modal, sehingga akan terjadi banyak perusahan yang sebelumnya produktif menjadi tidak produktif, diakibatkan karena sulit atau tidak mendapatkan suntikan dana segar untuk melanjutkan usahanya. Kita tahu jika tingkat suku bunga tinggi maka orang akan cenderung menabung lebih banyak, karena mereka berfikir akan mendapatkat keuntungan yang lebih besar dari suku bunga tersebut. Akan tetapi, hal tersebut membuat perusahaan menjadi tidak produktif karena alasan sulit mendapatkan dana. Sekarang kita asumsikan sebelum adanya kenaikan suku bunga barang yang di produksi oleh perusahan itu normal, akan tetapi setelah adanya peningkatan suku bunga jumlah barang yang di produksi menjadi menurun, sehingga terjadilah kelangkaan barang. Hal inilah yang menyebakan inflasi di masa mendatang, jika Inggris menetapkan tingkat suku bunga yang terlalu tinggi.

SETELAH PEMERINTAH INGGRIS KELUAR DARI ERM Keluarnya poundsterling dari mekanisme nilai tukar Eropa (ERM) itu sangat memalukan, dan kejadian 16 September 1992 masih terasa sakit bagi Inggris. Mr Mayor menggambarkan peristiwa hari

itu, ketika suku bunga dinaikkan menjadi 15% dalam usaha yang sia-sia untuk menjaga pondsterling agar tetap berada pada ERM, hal tersebut merupakan sebuah kesalahan politik yang besar. Keluarnya Poundsterling dari ERM, membuat kepercayaan publik terhadap pemerintah Inggris menjadi buruk, dan keluarnya poundsterling dari ERM membuat kredibilitas pemerintah Inggris menjadi hilang. Menurut Mr Mayor pemerintah telah dinilai terlalu keras selama berada pada ERM. Pada musim panas 1992 sempat ada panggilan untuk mendevaluasi mata uang, tetapi keseimbangan pandangan pemerintah Inggris itu bertentangan dengan hal tersebut (kecuali sebagai bagian dari penyesuaian kembali mata uang secara umum pada ERM) dengan alasan bahwa hal tersebut akan berakibat pada inflasi. Sebagian besar masalah poudsterling, kata Mr Mayor, berasal dari peristiwa di luar kendali Inggris. Ada kebenaran dalam hal ini. Menurut Gavyn Davies, kepala ekonom di Goldman Sachs, kedalaman yang tak terduga dari resesi Inggris, kekuatan pasca-penyatuan dan booming Jerman, serta kurangnya kerjasama dari Bundesbank dan pemerintah Prancis dalam membantu Inggris untuk penyelarasan ERM semua disorot serius, yang sebelumnya tidak dikenal, sebagai kelemahan dalam ERM. Mr Mayor tidak punya pilihan mudah. Menaikkan suku bunga lebih cepat secara politis sulit, dan itu tidak mungkin. Tapi dia tidak membuat keadaan menjadi lebih buruk dengan mengatakan, misalnya, poundsterling yang akan menggantikan Deutsche Mark sebagai mata uang kuat di Eropa, dalam upaynyaa untuk menambah kredibilitas, Mr Mayor berjanji untuk menjaga poundsterling dalam ERM. Mr Mayor mengklaim bahwa waktu yang singkat bagi poundsterling berada di dalam ERM, itu telah membantu perekonomian, sehingga dapat berada pada keseimbangan, because it killed inflationary expectations. Hal ini diperdebatkan. Martin Weale, direktur Institut Nasional Penelitian Ekonomi dan Sosial, mengakui bahwa Inggris mungkin telah bergabung secara kebetulan pada waktu yang tepat dan pergi pada saat yang tepat, akan tetapi pengangguran sedang tinggi dan output mengalami penurunan, sehingga menyebabkan inflasi. Meskipun demikian, sebagian besar ekonom sepakat bahwa sejak September 1992 pemerintah telah menjalankan perekonomian dengan baik, pemotongan pajak baru-baru ini dan keengganan untuk menaikkan suku bunga. Salah seorang ekonom yaitu Kleinwort Benson, dia meramalkan bahwa pada tahun 1997 Inggris akan menikmati kombinasi terbaik dari pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang rendah seperti tahun 1950.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Error Correction Model (ECM) merupakan model yang digunakan untuk mengoreksi persamaan regresi antara variabel-variabel yang secara individual tidak stasioner agar kembali ke nilai equilibriumnya di jangka panjang, dengan syarat utama berupa keberadaan hubungan kointegrasi diantara variabel-variabel penyusunnya. 1. Uji Stasioneritas:

Tabel 1 Uji Akar-Akar Unit (Unit Root Test): Level Variabel IRUK INFUK IRGR ADF Test Statistic -2.278853 -7.153828
-0.330748

Critical Value 1% -4.0027 -3.4615


-3.4615

5% -3.4313 -2.8747 -2.8747

10% -3.1390 -2.5737 -2.5737

Keterangan Tidak Stasioner Stasioner Tidak Stasioner

Keterangan pada Tabel 1 adalah sebagai berikut: Variabel IRUK tidak stasioner pada derajat level (ADF Test statistic > nilai critical value), variabel IRGR sudah stasioner pada derajat level (ADF Test statistic > nilai critical value) dan, variabel IRGR tidak stasioner pada derajat level (ADF Test statistic > nilai critical value). Data yang diamati dalam uji akar-akar unit (Unit Root Test) ternyata ada yang belum stasioner, diantaranya IRUK, dan IRGR maka dilanjutkan dengan uji derajat itegrasi 1st Difference pada Tabel 2. Tabel 2 Uji Derajat Integrasi: 1st difference Variabel IRUK IRGR ADF Test Statistic
-7.491322 -5.862587

Critical Value 1%
-4.0029 -3.4616

5%
-3.4314 -2.8748

10%
-3.1391 -2.5738

Keterangan Stasioner Stasioner

Keterangan pada Tabel 2 adalah sebagai berikut: variabel IRUK sudah stasioner pada derajat 1st differences (ADF Test statistic < nilai critical value), dan variabel IRGR sudah stasioner pada derajat 1st differences (ADF Test statistic < nilai critical value).

Dua variabel yang tidak stasioner pada derajat level namun stasioner pada tingkat diferensi pertama besar kemungkinan terjadi kointegrasi yang berarti terdapat hubungan jangka panjang antara keduanya. Di sini akan digunakan uji Johansen pada Table 3.

Tabel 3 Unrestricted Cointegration Rank Test: IRGR IRUK Hypothesized No. of CE(s) None At most 1 Eigenvalue 0.041144 0.001791 Trace Statistic 9.637679 0.394439 5 Percent Critical Value 15.41 3.76 1 Percent Critical Value 20.04 6.65

Keterangan pada Tabel 3 adalah sebagai berikut: Tidak ada kointegrasi pada 5% dan 1%.

2. Model Error Correction Model Jika data yang dianlisis tidak stasioner pada derajat level tapi saling berkointegrasi, berarti ada hubungan jangka panjang antara kedua variabel tersebut sehingga diperlukan adanya koreksi dengan model ECM. Tabel 4 Regresi dalam Jangka Panjang Variable C INFUK IRGR Coefficient 5.146066 2.191904 0.653952 Std. Error 0.787663 0.579204 0.127445 t-Statistic 6.533334 3.784337 5.131262 Prob. 0.0000 0.0002 0.0000

IRUK = 5.146066386 + 2.191903608*INFUK + 0.6539523619*IRGR


IRUK vs. INFUK 18 16 14 IRUK

IRGR vs. IRUK 9 8 7 IRGR 6 5 4 3 2 4 6 8 10 12 14 16 18

12 10 8 6 4 -1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 INFUK

IRUK

Keterangan pada Tabel 4 adalah sebagai berikut: Dalam jangka panjang variable INFUK memiliki hubungan positif dengan IRUK, artinya ketika ada kenaikan INFUK, maka IRUK akan terpengaruh sebesar 2.191904. Dalam jangka panjang variable IRGR memiliki hubungan positif dengan IRUK, artinya ketika ada kenaikan IRGR, maka IRUK akan terpengaruh sebesar 0.653952.

Tabel 5 Regresi dalam Jangka Pendek Variable C D(INFUK) D(IRGR) RESID01(-1) Coefficient -0.024130 -0.021963 0.033790 -0.027491 Std. Error 0.045893 0.107268 0.204792 0.016067 t-Statistic -0.525782 -0.204750 0.164999 -1.711039 Prob. 0.5996 0.8380 0.8691 0.0885

D(IRUK) = -0.02412970962 - 0.02196298816*D(INFUK) + 0.0337904487*D(IRGR) 0.02749095064*RESID01(-1) Keterangan pada Tabel 5 adalah sebagai berikut: Dalam jangka pendek variable INFUK tidak memiliki hubungan positif dengan IRUK, artinya ketika ada kenaikan INFUK, maka IRUK tidak terpengaruh. Dalam jangka pendek variable IRGR tidak memiliki hubungan positif dengan IRUK, artinya ketika ada kenaikan IRGR, maka IRUK tidak terpengaruh.

KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan data tingkat suku bunga Inggris, Tingkat Inflasi Inggris, dan Tingkat suku bunga Jerman yang berbasis bulanan. Maka dihasilkanlah kesimpulan sebagai berikut: 1. Hasil estimasi diatas menunjukan nilai koefisien ECT signifikan pada = 10 % dan negatif sebesar -0.027491 sehingga model ini telah memenuhi kriteria persamaan jangka pendek (ECM). Nilai koefisien ECT negatif dan signifikan berarti volatilitas tingkat suku bunga jerman, dan Tingkat Inflasi Inggris pada jangka pendek pengaruhnya kecil bahkan tidak ada terhadap tingkat suku bunga Inggris ketika menuju equilibrium jangka panjang. 2. Setelah dilakukan penelitian tentang faktor yang menyebabkan pemerintah Inggris bersikukuh mempertahankan tingkat suku bunganya, ternyata tidak terbukti dalam jangka pendek tingkat suku bunga Jerman dapat mempengaruhi tingkat suku bunga Inggris. Mungkin ada faktor lain yang benar-benar mempengaruhi tingkat suku bunga Inggris

tersebut di pertahankan tetap tinggi oleh pemerintah Inggris. 3. Alasan pemerintah Inggris bersikukuh untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunga yang tinggi. Yang pertama, ialah untuk mempertahankan nilai mata uang Inggris Pounsterling. Nilai tukar ditentukan oleh penawaran dan permintaan untuk mata uang. Jika ada permintaan yang lebih besar untuk Poundsterling, itu akan menyebabkan nilai meningkat. Contoh: Sebuah apresiasi nilai tukar bisa terjadi jika Inggris memiliki: Suku bunga yang lebih tinggi. Suku bunga yang lebih tinggi itu membuat para investor lebih tertarik untuk menyimpan uangnya di Inggris, sehingga nilai pound akan meningkat, dan tingkat Inflasi menjadi lebih rendah. Yang kedua, ialah untuk meredam inflasi yang terlalu besar. Jika inflasi di Inggris relatif lebih tinggi dibandingkan di tempat lain, maka ekspor Inggris menjadi tidak kompetitif dan akan ada penurunan permintaan Poundsterling untuk membeli barang-barang Inggris. Jika barang Inggris menjadi tidak menarik dan tidak kompetitif, ini juga akan menyebabkan nilai Kurs menurun. Hal tersebut penting untuk menentukan nilai jangka panjang dari Poundsterling. 4. Keluarnya Poundsterling dari ERM, membuat kepercayaan publik terhadap pemerintah Inggris menjadi buruk, dan keluarnya poundsterling dari ERM membuat kredibilitas pemerintah Inggris menjadi hilang.

DAFTAR PUSTAKA

Krugman R.P and Obstfeld M (2000): International Economics: Theory and Policy. Fifth Editon. Person Education International.

Masson R. Paul (1995): Gaining and Losing ERM Credibility: The Case of The United Kingdom. Royal Economic Society

Sosvilla-Rivero S and Prez-Bermejo F (2003): Credibility and Duration in Target Zones: Evidence from the EMS. DOCUMENTO DE TRABAJO -19 Univ. Complutense de Madrid.

Soderlind, Paul (1999): market expectation in the UK Before and After the ERM Crisis. Economica -67, 1-18. Stockholm School of Economics and CEPR.

The

Economist

Sterling

and

the

ERM

Mar

13th

1997

http://www.economist.com/node/145550 di akses pada tanggal 1 Desember 2011.

http://research.stlouisfed.org/fred2/categories/32949?cid=32949&pageID=1 tanggal 29 Desember 2011).

(di

akses

pada