Anda di halaman 1dari 1

KARL R. POPPER DAN PROBLEM FILSAFAT ILMU BARAT A.

Pendahuluan Perkembangan ilmu pengetahuan Barat saat ini tidaklah terjadi secara tiba-tiba. Ia adalah hasil dari ramuan berbagai macam interest yang saling bertentangan sesuai dengan basis filosofisnya masingmasing. Sebagai contohnya, Plato, filsuf Yunani,1 mengatakan bahwa segala yang berasal dari penangkapan indra tidak ada yang layak disebut pengetahuan, dan bahwa satu-satunya pengetahuan yang sejati hanyalah berkaitan dengan konsep-konsep.2 Plato mengembangkan pendekatan yang sifatnya rasional-deduktif. Konsepsinya Plato dibantah oleh Aristoteles, menurutnya konsep atau idea itu terbentuk setelah melakukan observasi dengan indra. Aristoteles mengandalkan pengamatan indrawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna.3 Ajaran Aristoteles mengilhami aliran Empirisme yang dikenalkan oleh David Hume, yang kemudian dipersempit lagi oleh aliran positivisme. Dari positivisme, yang kemudian dikukuhkan oleh kelompok kajian filsafat Lingkaran Wina (Vienna Circle),4 neo-postivisme, ilmu pengetahuan berkembang pesat, baik ilmu fenomena alam maupun sosial. Mereka menganggap pernyataan-pernyataan yang tak dapat diverifikasi secara empiris, seperti etika, estetika, agama, metafisika