Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia dan mikro-organisme (virus dan bakteri). Lingkungan, di Indonesia sering juga disebut "lingkungan hidup". Misalnya dalam Undang-Undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, definisi Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perkehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Dan mengenai karakter menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Oleh karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui,

maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu. Manusia adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang tunduk kepada aturan hukum alam, mengalami kelahiran, pertumbuhan, perkembangan, mati, dan seterusnya, serta terkait serta berinteraksi dengan alam dan lingkungannya dalam sebuah hubungan timbal balik baik itu positif maupun negatif. Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai homo sapiens (bahasa latin untuk manusia)sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Manusia juga sebagai mahkluk individu memiliki pemikiran-pemikiran tentang apa yang menurutnya sesuai ketika tindakan-tindakan yang ia ambil. Dan sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dan keterkaitannya dengan lingkungan dan tempat tinggalnya.Manusia itu disebut individu apabila pola tingkah lakunya bersifat spesifik dirinya dan bukan lagi mengikuti pola tingkah laku umum. Ini berarti bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas didalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang. Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal itu membutuhkan proses

yang sangat panjang dan banyak faktor yang mempengaruhinya terutama lingkungan. Karena itu kami mengambil judul makalah Pengaruh

Lingkungan Terhadap Karakteristik Manusia.

2. Rumusan Masalah 1. Apa peran lingkungan bagi manusia? 2. Mengapa lingkungan menjadi faktor pembentuk karakter manusia sebagai makhluk individu dan sosial? 3. Bagaimana perbedaan karakter antara masyarakat desa dan masyarakat kota?

BAB II PEMBAHASAN

1. Peran Lingkungan Bagi Manusia Lingkungan merupakan bagian terpenting dan mendasar dari kehidupan manusia. Sejak dilahirkan manusia sudah berada dalam lingkungan baru dan asing baginya. Dari lingkungan baru inilah sifat dan perilaku manusia terbentuk dengan sendirinya. Lingkungan yang baik akan membentuk pribadi yang baik, sementara lingkungan yang buruk akan membentuk sifat dan perilaku yang buruk pula. Anak-anak berkembang dari suatu hubungan interaksi antara gerakan-gerakan dalam dan kondisi lingkungan luar. Akal memang bagian diri manusia yang dikaruniakan Tuhan sejak kita lahir. Dengan akal ini manusia dapat berfikir, namun akal tidak akan berguna apabila tidak ada lingkungan disekitarnya yang akan diubah. Dengan kata lain lingkungan akan mengubah dan membentuk perilaku manusia yang ada di dalamnya. Manusia akan berinteraksi dan berusaha untuk bertahan dalam lingkungan dimana dia berada. Salah satu usaha yang harus dilakukan adalah mengubah perilaku sesuai lingkungan tempat tinggalnya sehingga dia akan bisa terus bertahan didalam lingkungan tersebut. Berikut contoh hubungan lingkungan dengan manusia:

 Dibanding dengan anak lain dan variabel lain yang konstan, anak usia
7 tahun dari rumah tangga bersesakan ternyata sembilan bulan terbelakang dalam membaca, perbedaan pendengaran.

 Seseorang yang pindah dari tempat lain akan mengubah perilakunya di


tempat baru agar bisa diterima di lingkungan baru tersebut. Dari beberapa pernyataan diatas, jelas bahwa lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Penjara salah satu contoh tempat yang bisa mengubah perilaku seseorang menjadi lebih baik. Jika ada orang ditempatkan kedalam hutan, maka secara otomatis dia akan mengubah perilakunya demi kelangsungan hidupnya. Lingkungan dengan aneka ragam kekayaannya merupakan sumber inspirasi dan daya cipta untuk diolah menjadi kekayaan budaya bagi dirinya. Lingkungan dapat membentuk pribadi seseorang, karena manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya. Lingkungan memiliki peranan bagi individu, sebagai: 1. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. Contoh: air dapat dipergunakan untuk minum atau menjamu tamu ketika berkunjung ke rumah. 2. Tantangan bagi individu dan individu berusaha untuk dapat menundukkannya. Contoh: air banjir pada musim hujan mendorong manusia untuk mencari cara untuk mengatasinya. 3. Sesuatu yang diikuti individu. Lingkungan yang beraneka ragam senantiasa memberikan rangsangan kepada individu untuk

berpartisipasi dan mengikutinya serta berupaya untuk meniru dan mengidentifikasinya, apabila dianggap sesuai dengan dirinya. Contoh: seorang anak yang senantiasa bergaul dengan temannya yang rajin belajar, sedikit banyaknya sifat rajin dari temannya akan diikutinya sehingga lama kelamaan dia pun berubah menjadi anak yang rajin. 4. Obyek penyesuaian diri bagi individu, baik secara alloplastis maupun autoplastis. Penyesuaian diri alloplastis artinya individu itu berusaha untuk merubah lingkungannya. Contoh: dalam keadaan cuaca panas individu memasang kipas angin sehingga di kamarnya menjadi sejuk. Dalam hal ini, individu melakukan manipulation yaitu mengadakan usaha untuk memalsukan lingkungan panas menjadi sejuk sehingga sesuai dengan dirinya. Sedangkan penyesuaian diri autoplastis, penyesusian diri yang dilakukan individu agar dirinya sesuai dengan lingkungannya. Contoh: seorang juru rawat di rumah sakit, pada awalnya dia merasa mual karena bau obat-obatan, namun lama-kelamaan dia menjadi terbiasa dan tidak menjadi gangguan lagi, karena dirinya telah sesuai dengan lingkungannya.

2. Faktor Pembentuk Karakter Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial Faktor-faktor pembentuk karakter manusia ada dua yaitu; faktor keturunan dan faktor lingkungan. Di sini kita membatasi masalah yang akan dibahas yaitu hanya faktor lingkungan saja. Lingkungan memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter karena di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami. Faktor lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain. Misalnya, orang-orang Amerika Utara memiliki semangat ketekunan, keberhasilan, kompetisi, kebebasan, dan etika kerja Protestan yang terus tertanam dalam diri mereka melalui buku, sistem sekolah, keluarga, dan teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung ambisius dan agresif bila dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan keluarga dari pada pekerjaan dan karier. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku manusia. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti

pengalaman, karena dengan lingkungan itu manusia mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pengaruh lingkungan itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya. Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi manusia, dapat kita ikuti pada uraian berikut: 1. Lingkungan Membuat Manusia Sebagai Makhluk Individu. Individu berasal dari kata Individuum, artinya yang tak terbagi. Dalam bahasa inggris individu berasal dari kata in dan divided. Kata in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan divided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi atau satu kesatuan. Manusia sebagai makhuk individu mempunyai unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagaimana individu manakala unsurunsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsurunsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak lagi disebut sebagai individu. Dalam diri individu ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur fisik dan psikisnya, atau ada unsur raga dan jiwanya. Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Maka bisa disebut juga setiap individu manusia itu memiliki perilaku dan kepribadian yang unik. Sekalipun orang itu terlahir secara kembar, mereka tidak memiliki ciri fisik dan psikis yang sama. Setiap anggota fisik manusia tidak ada yang persis sama, meskipun

sama-sama terlahir sebagai manusia kembar. Sebagai contoh adalah bagaimana sidik jari setiap manusia memiliki guratanguratan yang berbedabeda, setiap manusia juga memiliki jenis rambut yang berbeda pula. Sel darah, bentuk susunan gigi, dan juga bentuk tengkorak kepala manusia juga berbeda untuk masingmasing individu. Hal inilah yang kemudian dapat dijadikan sebagai identifikasi DNA bagi ilmu kedokteran di era modern saat ini. Ciri seorang individu tidak hanya mudah dikenali lewat ciri fisik dan biologisnya. Sifat, karakter, perangai, atau gaya dan selera orang juga berbedabeda. Lewat ciriciri fisik seseorang pertama kali mudah dikenali. Ada orang yang gemuk, kurus atau langsing, ada yang kulitnya coklat, hitam atau putih, ada yang rambutnya lurus dan ikal. Dilihat dari sifat, perangai, dan karakternya, ada orang yang periang, sabar, cerewet atau lainnya. Dalam ciri individu ini biasanya manusia mengidentifikasi manusia lainnya melalui kebiasan mausia satu yang telah melakukan interaksi dengan manusia yang lainnya, sehingga mampu merasakan sifatsifat dasar individu yang lainnya. Halhal tersebut dalam ilmu alamiah sekarang ini disebut ilmu psikologi. Kalau seorang individu mempunyai ciri fisik dan karakter atau sifat yang dibawa sejak lahir, ia juga memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dimiliki oleh faktor lingkungan, faktor lingkungan ikut berperan dalam pembentukan karakteristik khas manusia. Istilah lingkungan

merujuk pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik seperti kondisi alam sekitarnya, baik itu lingkungan buatan seperti tempat tinggal (rumah) dan lingkungan. Sedangkan lingkungan yang bukan buatan seperti kondisi geografis dan iklimnya. Orang yang tinggal di daerah pantai memiliki sifat dan kebiasaaan yang berbeda dengan yang tinggal di daerah pegunungan, berbeda lingkungan tempat tinggal, cenderung berbeda pula kebiasaan dan perilaku orangorangnya. Lingkungan sosial, merujuk dimana seorang individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial lain yang lebih besar. Selain individu, kelompok sosial yang lebih besar, seperti keluarga, tetangga dan masyarakat, memiliki ciri atau karakter atau kebiasaaan yang berbeda pula. Keluarga yang terbiasa dengan suasana demokratis dan religius, misalnya, berbeda dengan keluarga yang sifatnya otoriter dan kurang religius. Begitu pula lingkungan tetangga yang familiar dan gotong royong, berbeda dengan yang kurang akrab dan individualisme. 2. Lingkungan Membuat Manusia Sebagai Makhluk Sosial. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan atau berinteraksi dengan manusia yang lain. Ada kebutuhan sosial (social need) untuk hidup bekelompok dengan orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk mencari kawan atau teman. Kebutuhan untuk berteman dengan orang lain, sering kali didasari atas kesamaan ciri atau kepentingannya masing-

10

masing. Misalnya, orang kaya cenderung berteman lagi dengan orang kaya yang lainnya. Orang yang berprofesi sebagai artis, cenderung berteman dengan sesama artis lagi. Dengan demikian, akan terbentuk kelompok kelompok sosial dalam masyarakat yang didasari oleh kesamaan ciri atau kepentingan. Selama manusia hidup ia tidak akan lepas dari pengaruh masyarakat, di rumah, di sekolah, dan di lingkungan yang lebih besar manusia tidak lepas dari pengaruh orang lain. Oleh karena itu, manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia yang lainnya. Dalam konteks sosial yang disebut masyarakat, setiap orang akan mengenal orang lain oleh karena itu perilaku manusia selalu terkait dengan orang lain. Perilaku manusia dipengaruhi orang lain, ia melakukan sesuatu dipengaruhi faktor dari luar dirinya, seperti tunduk pada aturan, tunduk pada norma masyarakat, dan keinginan mendapatkan respon positif dari orang lain. Karena manusia adalah makhluk sosial, mereka berinteraksi dengan yang lain, tidak semuanya interaksi itu berjalan dengan baik, terkadang menimbulkan halhal lain yang negatif. Dalam hubungan antar anggota dan kelompok masyarakat, kita sering dihadapkan dengan perbedaanperbedaan. Misalnya, orang jawa memiliki kebiasaan dan sifatsifat yang khas, orang sunda, batak, ambon, padang dan yang lainnya juga begitu. Terkadang ada sifat negatif yang diperlihatkan oleh satu

11

kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat lainnya. Sikap khas yang sering ditampilkan itu disebut prasangka (prejudice). Perlu digarisbawahi bahwa apabila terjadi prasangka yang berlebihan antar kelompok masyarakat, maka akan terjadi konflik yang buruk yang terjadi di kedepannya.

3. Perbedaan Karakter Antara Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota Dalam perkembangannya akibat pertumbuhan dan perkembangan manusia, masyarakat terbagi menjadi masyarakat desa dan masyarakat kota. Masyarakat desa dan kota memiliki perbedaan karakter baik secara fisik maupun secara sosial. Sebuah desa sering kali ditandai dengan kehidupan yang tenang jauh dari hiruk pikuk keramaian, penduduknya ramah tamah, saling mengenal satu sama lain, mata pencaharian penduduknya kebanyakan sebagai petani atau nelayan. Orang di desa mempunyai hubungan yang lebih erat dan mendalam antar sesama warganya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok, atas dasar kekeluargaan. Penduduk masyarakat desa pada umumnya hidup dari pertanian atau nelayan, meskipun pekerjaan yang lain pun ada seperti tukang kayu atau tukang batu. Masyarakat desa umumnya hidup bekerja sama dalam masyarakat yang disebut gotong royong. Oleh karena itu, pada masyarakat desa jarang dijumpai pekerjaan berdasarkan keahlian, akan tetapi pekerjaan biasanya didasarkan pada usia dan jenis kelamin.

12

Usia dan ketokohan sangat berperan dalam kehidupan orang desa. Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan, pada umumnya memegang peranan penting. Orang-orang akan selalu meminta nasehatnasehat kepada mereka, Apabila ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Kesukarannya adalah bahwa orang-orang tua itu mempunyai pandangan yang didasarkan pada tradisi yang kuat, sehingga perubahan akan sangat sulit terjadi. Masyarakat kota ditandai dengan kehidupan yang ramai, wilayahnya yang luas, banyak penduduknya, hubungan yang tidak erat satu sama lain, dan mata pencaharian penduduknya bermacam-macam. Menurut Sarjono Sukamto, masyarakat kota dan desa memiliki perhatian yang berbeda, khususnya perhatian terhadap keperluan hidup. Di desa, yang diutamakan adalah perhatian khusus terhadap kebutuhan pokok, fungsi-fungsi yang lainnya diabaikan. Lain dengan pandangan orang kota, mereka melihat selain kebutuhan pokok, pandangan masyarakat sekitarnya sangat mereka perhatikan. Kalau menghidangkan makanan misalnya, diusahakan dengan memberikan kesan bahwa yang menghidangkannya mempunyai kebutuhan sosial yang tinggi. Bila ada tamu misalnya, mereka berusaha untuk menghidangkan makanan dalam kemasan yang kesannya makanan itu dibeli dari toko makanan, selain enak juga mahal. Pada orangorang desa, hal itu tidak dipedulikan, mereka masak makanan sendiri, kemasannya kurang menarik atau makanannya enak atau tidak, itu kurang dipertimbangkan. Pada orang kota, makanan harus kelihatan mewah dan

13

tempat menghidangkannya harus mewah dan terhormat. Di sini, terlihat ada perbedaan penilaian, orang desa menilai makanan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan biologis, sedangkan bagi orang kota sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan sosial. Pembagian kerja pada masyarakat kota sudah sangat terspesialisasi. Begitu pula jenis profesi pekerjaan sudah sangat banyak macamnya. Dari sudut keahlian, seseorang mendalami pekerjaan pada satu jenis keahlian yang semakin spesifik, contohnya : ada dokter umum, yang lebih terspesialisasi ada dokter khusus ahli THT, dokter ahli penyakit dalam, dokter ahli kandungan, dan lain-lain. Di samping itu jenis pekerjaan banyak sekali macamnya, contohnya: ada tukang listrik, ada ahli bangunan, guru, polisi, tentara, akuntan, dan lain-lain. Pada masyarakat desa memiliki jenis pekerjaan yang sama, seperti bertani, berladang, atau sebagai nelayan. Kehidupan orang desa yang memiliki jenis pekerjaan yang sama sangat menggantungkan pekerjaannya kepada keluarga lainnya. Mereka tidak bisa mengerjakan semuanya oleh keluarganya sendiri. Untuk mengolah tanah, memanen padi, atau pekerjaan bertani lainnya, mereka harus sepakat dengan yang lain menunggu giliran. Begitu pula jika ada pekerjaan lain, seperti membuat atau memperbaiki rumah, mereka sudah atur waktunya supaya bisa dikerjakan bersama-sama. Saling ketergantungan pada masyarakat yang disebabkan oleh karena adanya persamaan dalam bidang pekerjaan oleh Emile Durkheim disebut dengan solidaritas mekanis.

14

Pembagian masyarakat dengan sebutan masyarakat gemainschaft pada masyarakat desa dan masyarakat geselschaft pada masyarakat kota oleh Ferdinand Tonnies. Masyarakat gemainschaft atau disebut juga paguyuban adalah kelompok masyarakat dimana anggotanya sangat terikat secara emosional dengan yang lainnya. Sedangkan masyarakat geselschaft atau patembeyen dimana ikatan-ikatan diantara anggotanya kurang kuat dan bersifat rasional. Paguyuban cenderung sebagai refleksi masyarakat desa, sedangkan patembeyen refleksi masyarakat kota.

15

BAB III PENUTUP

Simpulan Dari semua uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa: 1. Peran Lingkungan Bagi Manusia Lingkungan yang baik akan membentuk pribadi yang baik, sementara lingkungan yang buruk akan membentuk sifat dan perilaku yang buruk pula. a. Alat untuk kepentingan dan kelangsungan hidup individu dan menjadi alat pergaulan sosial individu. b. Tantangan bagi individu. c. Sesuatu yang diikuti individu. d. Obyek penyesuaian diri bagi individu, baik secara alloplastis maupun autoplastis.

2. Faktor Pembentuk Karakter Manusia Keturunan dan Lingkungan merupakan faktor pembentuk

karakteristik manusia. Dari faktor lingkungan dapat disimpulkan: a. Lingkungan membuat manusia sebagai makhluk individu. Orang yang tinggal di daerah pantai memiliki sifat dan kebiasaaan yang berbeda dengan yang tinggal di daerah pegunungan, berbeda

16

lingkungan tempat tinggal, cenderung berbeda pula kebiasaan dan perilaku orangorangnya. b. Lingkungan membuat manusia sebagai makhluk sosial. Selama manusia hidup ia tidak akan lepas dari pengaruh masyarakat, di rumah, di sekolah, dan di lingkungan yang lebih besar manusia tidak lepas dari pengaruh orang lain. Karena manusia adalah makhluk sosial, mereka berinteraksi dengan yang lain, tidak semuanya interaksi itu berjalan dengan baik, terkadang menimbulkan halhal lain yang negatif.

3. Perbedaan Karakter antara Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota Dalam perkembangannya akibat pertumbuhan dan perkembangan manusia, masyarakat terbagi menjadi masyarakat desa dan masyarakat kota. Masyarakat desa dan kota memiliki perbedaan karakter baik secara fisik maupun secara sosial.  Unsur atau ciriciri masyarakat desa: a. Sebuah desa sering kali ditandai dengan kehidupan yang tenang jauh dari hiruk pikuk keramaian. b. Penduduknya ramah tamah, saling mengenal satu sama lain, mata pencaharian penduduknya kebanyakan sebagai petani atau nelayan. c. Masyarakat desa umumnya hidup bekerja sama dalam masyarakat yang disebut gotong royong.

17

d. Usia dan ketokohan sangat berperan dalam kehidupan orang desa. Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan, pada umumnya memegang peranan penting. Orang-orang akan selalu meminta nasehat-nasehat kepada mereka,

 Unsur dan ciri-ciri masyarakat kota: a. Masyarakat kota ditandai dengan kehidupan yang ramai,

wilayahnya yang luas, banyak penduduknya, hubungan yang tidak erat satu sama lain, dan mata pencaharian penduduknya bermacammacam. b. Mereka melihat selain kebutuhan pokok, pandangan masyarakat sekitarnya sangat mereka perhatikan. c. Untuk memenuhi kebutuhan sosial masyarakat kota sudah sangat terspesialisasi dengan jenis profesi. Jadi masyarakat dengan sebutan masyarakat gemainschaft pada masyarakat desa dan masyarakat geselschaft pada masyarakat kota oleh Ferdinand Tonnies. Masyarakat gemainschaft atau disebut juga paguyuban adalah kelompok masyarakat dimana anggotanya sangat terikat secara emosional dengan yang lainnya. Sedangkan masyarakat geselschaft atau patembeyen dimana ikatan-ikatan diantara anggotanya kurang kuat dan bersifat rasional.

18

DAFTAR PUSTAKA

Sihotang, Amri P. 2008. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Semarang: Semarang University Press http://keripiku.blogspot.com/2010/11/pengertian-individu-keluarga-dan.html http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/07/pengaruh-lingkungan-terhadapindividu/ http://id.wikipedia.org/wiki/Kepribadian http://anstone.wordpress.com/architecture-info/pengaruh-lingkungan-terhadapperilaku/

19