Anda di halaman 1dari 28

CARLITO AMARAL 21080110159001

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kawasan yang dilindungi adalah kawasan atau wilayah yang dilindungi karena nilai-nilai lingkungan alaminya, lingkungan sosial budayanya, atau karena hal-hal lain yang serupa dengan itu. Pelbagai macam kawasan yang dilindungi terdapat di berbagai negara, sangat bervariasi baik dalam aras atau tingkat perlindungan yang disediakannya maupun dalam undang-undang atau aturan (internasional, nasional, atau daerah) yang dirujuknya dan yang menjadi landasan operasionalnya. Beberapa contohnya adalah taman nasional, cagar alam, cagar alam laut, cagar budaya, dan lain-lain. Ada lebih dari 108.000 kawasan yang dilindungi di seluruh dunia, dan jumlah ini terus bertambah, mencakup wilayah seluas 19.300.000 km (7,500,000 mil), atau lebih dari 13% luas daratan dunia; melebihi luas Benua Afrika. Pada pihak lain, sampai dengan 2008 baru sebanyak 0,8% luas lautan yang termuat dalam sekitar 5.000 kawasan perlindungan laut. Keinginan dan tindakan manusia dalam melindungi lingkungannya yang berharga barangkali telah dilakukan semenjak ribuan tahun yang silam. Akan tetapi salah satu yang tercatat jelas dalam sejarah ialah apa yang dilakukan oleh Ashoka, salah seorang raja yang paling terkenal dari Dinasti Maurya, India. Pada tahun 252 SM. Ia mengumumkan perlindungan satwa, ikan, dan hutan. Di zaman modern, penetapan Taman Nasional Yellowstone di Amerika Serikat pada tahun 1872 merupakan salah satu tonggak penting konservasi alam masa kini. Di Indonesia sendiri, pada tahun 1889 telah ditetapkan Cagar Alam Cibodas oleh Pemerintah Hindia Belanda ketika itu[5], dengan tujuan untuk melindungi salah satu hutan pegunungan yang paling cantik di Jawa. Komitmen internasional untuk membangun suatu jaringan kawasan yang dilindungi di dunia berawal dari tahun 1972, yakni ketika Deklarasi Stockholm memandatkan

CARLITO AMARAL 21080110159001

perlindungan dan pelestarian wakil-wakil semua tipe ekosistem utama yang ada, sebagai bagian fundamental dari program konservasi di masing-masing negara. Sejak saat itulah, upaya perlindungan dari perwakilan ekosistem perlahan-lahan tumbuh menjadi prinsip dasar konservasi alam dan biologi konservasi; dikukuhkan oleh resolusi-resolusi PBB untuk lingkungan seperti Piagam Dunia untuk Kelestarian Alam (1982), Deklarasi Rio (1992), serta Deklarasi Johannesburg (2002). Suatu set dari berbagai tipe kawasan yang dilindungi, luasan serta persebarannya di suatu negara biasa disebut sebagai sistem kawasan yang dilindungi. Sayangnya, sistem kawasan ini umumnya masih terpaku pada kawasan konservasi daratan, dengan sedikit sentuhan pada kawasan konservasi laut dan lahan basah Untuk pengelolaan hutan konservasi, seperti taman nasional, cagar alam, taman buru, hutan wisata dan hutan lindung, dilakukan pengelolaan oleh pemerintah melalui unit pelaksana teknis sebagai perwakilan pemerintah di lapangan. Sebagian lokasi kawasan konservasi juga dikelola bersama dengan lembaga konservasi internasional. Hingga saat ini pengelolaan hutan konservasi masih sangat jauh dari sisi pengelolaan hutan oleh rakyat, karena pengertian konservasi sebagai kawasan yang "steril" dari masyarakat masih menjadi pegangan pemerintah dalam pengelolaan hutan. Hal tersebut mengakibatkan seringnya terjadi konflik antara rakyat dengan pengelola kawasan, misalnya di Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Kutai, Taman Nasional Lore Lindu, Taman Nasional Rawa Aopa Watumoai, Taman Nasional Gunung Halimun, dan beberapa kawasan konservasi lainnya di Indonesia. Indonesia yang memiliki Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Perlindungan Alam seluas 23.214.626,57 hektar, dimana sebagian besarnya merupakan Taman Nasional. Konsep pengelolaan Taman Nasional sangat sentralistik dan kerap mengabaikan keberadaan masyarakat adat/lokal yang justru telah hidup di kawasankawasan tersebut secara turun-temurun, dari generasi ke generasi. Hal inilah yang menjadi titik terjadinya konflik kepentingan antara kepentingan konservasi dan kepentingan rakyat. Untuk pengelolaan hutan konservasi, seperti taman nasional, cagar alam, taman buru, hutan wisata dan hutan lindung, dilakukan pengelolaan oleh pemerintah

CARLITO AMARAL 21080110159001

melalui unit pelaksana teknis sebagai perwakilan pemerintah di lapangan. Sebagian lokasi kawasan konservasi juga dikelola bersama dengan lembaga konservasi internasional. Hingga saat ini pengelolaan hutan konservasi masih sangat jauh dari sisi pengelolaan hutan oleh rakyat, karena pengertian konservasi sebagai kawasan yang "steril" dari masyarakat masih menjadi pegangan pemerintah dalam pengelolaan hutan. Hal tersebut mengakibatkan seringnya terjadi konflik antara rakyat dengan pengelola kawasan, misalnya di Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Kutai, Taman Nasional Lore Lindu, Taman Nasional Rawa Aopa Watumoai, Taman Nasional Gunung Halimun, dan beberapa kawasan konservasi lainnya di Indonesia. Sementara di tingkat daerah, pengelolaan kawasan konservasi menjadi bagian yang dianggap tidak penting dan tidak diperhatikan, karena saat ini dipandang bahwa kawasan konservasi merupakan wewenang pemerintah pusat. Namun untuk kawasan hutan lindung dan hutan wisata, yang merupakan wewenang pemerintah daerah, mulai terlihat adanya perhatian pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan. Pola pengelolaan yang digunakan juga tidak berbeda dengan pola pengelolaan kawasan konservasi, dimana di dalam kawasan hutan, tidak dibenarkan rakyat berada di dalam kawasan. Sebagian besar kawasan konservasi di Indonesia saat ini tengah mengalami desakan kuat ke arah kerusakan yang menjadikan kawasan konservasi sebagai jarahan dari penebangan hutan tak terkendali, terutama ketika otonomi daerah dimulai. Hal ini diakibatkan oleh tidak terlibatnya masyarakat sekitar hutan dalam mengelola hutan dan di masa lalu sebagian rakyat yang tinggal di kawasan konservasi justru dikeluarkan dari kawasan kelola mereka. WALHI mencatat bahwa hingga tahun 2003 telah terjadi beberapa pengusiran rakyat dari kawasan konservasi di Indonesia, diantaranya di TN Lore Lindu, TN Kutai, TN Meru Betiri, TN Komodo, TN Rawa Aopa Watumoi, TN Taka Bonerate, TN Kerinci Seblat dan beberapa kawasan lainnya. Bahkan di TN Komodo, masyarakat nelayan hingga saat ini dilarang melakukan aktivitas penangkapan ikan di kawasan tangkap tradisional mereka yang diklaim sepihak sebagai zona inti taman nasional.

CARLITO AMARAL 21080110159001

Beberapa kasus yang terjadi di kawasan konservasi antara lain adalah pembangunan jalan di Kawasan Ekosistem Leuser dan Taman Nasional Gunung Leuser, pengusiran dan penembakan nelayan di Taman Nasional Komodo, Operasi Napoleon di Taman Nasional Wakatobi, pengusiran masyarakat Dongi-dongi di Taman Nasional Lore Lindu dan pengusiran rakyat Moronene di Taman Nasional Rawa Aopa Watomohai. 1.2 Maksud dan Tujuan

Makksud dan tujuan dari tulisan ini adalah untuk memahami pengertian tentang Kawasan Lindung dan Kawasan konservasi yang memberikan manfaat akan model pengelolaan lingkunan dalam melidungi ekosistem yang terdapat dilingkungan sekitar kita.

1.3

Ruang Lingkup

Ruang lingkup pembahasan tugas ini didasarkan pada Menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1990, konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan dengan kegiatan: 1) perlindungan sistem penyangga kehidupan; 2) pengawetan keanekaragaman spesies tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan 3) pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam

konteks ini, konservasi keanekaragaman hayati (biodiversity) merupakan bagian tak terpisahkan dari pengertian konservasi sumberdaya alam hayati.

CARLITO AMARAL 21080110159001

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kawasan Lindung Yang dimaksud kawasan lindung adalah kawasan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan nilai sejarah, serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan yang bereklanjutan. Pengelolaan kawasan ini bertujuan untuk menjaga kelestarian seluruh sumberdaya yang ada serta mencegah terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Pengembangan Kawasan Lindung mencakup (1) Kawasan Perlindungan terhadap Kawasan Bawahannya, (2) Kawasan Perlindungan Setempat yang terdiri dari kawasan Sempadan Pantai, Sempadan Sungai, Perlindungan Mata Air/Sumber Air dan Perlindungan Waduk, (3) Kawasan Cagar Budaya dan/atau Ilmu Pengetahuan dan (4) Kawasan Rawan Bencana. Kawasan Sempadan Sungai adalah kawasan sepanjang tepi sungai (sungai buatan) yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai, dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki luar tanggul 2) Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki luar tanggul 3) Sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan:


sungai besar dengan luas DAS >= 500 km2 ditetapkan 100 meter dihitung dari tepi sungai,

sungai kecil dengan luas DAS < 500 km2 ditetapkan 50 meter dihitung dari tepi sungai.

CARLITO AMARAL 21080110159001

4) Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan:




Sungai dengan kedalaman < 3 meter, sempadan ditetapkan 10 meter dari tepi sungai,

Sungai dengan kedalaman 3 20 meter, sempadan ditetapkan 15 meter dari tepi sungai,

Sungai dengan kedalaman > 20 meter, sempadan ditetapkan 30 meter dari tepi sungai

5) Sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan, sempadannya adalah tepi bahu jalan dengan ketentuan konstruksi dan penggunaan jalan harus menjamin bagi kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai.

2.1.1

Kawasan Budidaya Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan. Kawasan budidaya terdiri dari : 1) Kawasan Hutan Produksi Terbatas 2) Kawasan Pertanian 3) Kawasan Pertambangan 4) Kawasan Pariwisata 5) Kawasan Perindustrian 6) Kawasan Permukiman 7) Arah Pengembangan Sarana/ Prasarana 8) Pengembangan Kawasan Transportasi

2.1.2

Kategori IUCN Menurut definisi IUCN, kawasan yang dilindungi adalah: Suatu ruang yang dibatasi secara geografis dengan jelas, diakui, diabdikan dan dikelola, menurut aspek hukum maupun aspek lain yang efektif, untuk mencapai tujuan pelestarian alam jangka panjang, lengkap dengan fungsifungsi ekosistem dan nilai-nilai budaya yang terkait.

CARLITO AMARAL 21080110159001

Selanjutnya IUCN membedakan aneka macam kawasan yang dilindungi ke dalam enam kategori, yakni:  Strict Nature Reserve Yakni suatu wilayah daratan atau lautan yang dilindungi karena memiliki keistimewaan atau merupakan perwakilan ekosistem, kondisi geologis atau fisiologis, dan atau spesies, tertentu, yang penting bagi ilmu pengetahuan atau pemantauan lingkungan.  Wilderness Area Wilayah daratan atau lautan yang masih liar atau hanya sedikit diubah, yang masih memiliki atau mempertahankan karakter dan pengaruh alaminya, tanpa adanya hunian yang permanen atau signifikan; dilindungi dan dikelola untuk mempertahankan kondisi alaminya.  National Park Wilayah daratan dan lautan yang masih alami, yang ditunjuk untuk (i) melindungi integritas ekologis dari satu atau beberapa ekosistem di dalamnya, untuk kepentingan sekarang dan generasi mendatang; (ii) menghindarkan/mengeluarkan kegiatan-kegiatan eksploitasi atau okupasi yang bertentangan dengan tujuan-tujuan pelestarian kawasan; (iii)

menyediakan landasan bagi kepentingan-kepentingan spiritual, ilmiah, pendidikan, wisata dan lain-lain, yang semuanya harus selaras secara lingkungan dan budaya.  Natural Monument Wilayah yang memiliki satu atau lebih, kekhasan atau keistimewaan alam atau budaya yang merupakan nilai yang unik atau luar biasa; yang disebabkan oleh sifat kelangkaan, keperwakilan, atau kualitas estetika atau nilai penting budaya yang dipunyainya.

CARLITO AMARAL 21080110159001

 Habitat/Species Management Area Wilayah daratan atau lautan yang diintervensi atau dikelola secara aktif untuk memelihara fungsi-fungsi habitat atau untuk memenuhi kebutuhan spesies tertentu.  Protected Landscape/Seascape Wilayah daratan atau lautan, dengan kawasan pesisir di dalamnya, di mana interaksi masyarakat dengan lingkungan alaminya selama bertahun-tahun telah membentuk wilayah dengan karakter yang khas, yang memiliki nilainilai estetika, ekologis, atau budaya yang signifikan, kerap dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Menjaga integritas hubungan timbalbalik yang tradisional ini bersifat vital bagi perlindungan, pemeliharaan, dan evolusi wilayah termaksud. 2.1.3 Sistem kawasan yang dilindungi di Indonesia Pelestarian alam di Indonesia secara legal mengacu kepada dua undang-undang (UU) induk, yakni UU no 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya; serta UU no 41 tahun 1999 tentang Kehutanan (jo. UU no 5 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan). UU no 5/1990 bertitik berat pada pelestarian keanekaragaman hayati, baik keanekaragaman hayati hutan maupun bukan; baik di dalam kawasan hutan negara maupun di luarnya. Sedangkan UU no 41/1999 salah satunya mengatur konservasi alam di kawasan hutan negara; namun bukan hanya mencakup konservasi keanekaragaman hayati, melainkan meliputi pula perlindungan fungsi-fungsi penunjang kehidupan yang disediakan kawasan hutan. UU no 41/1999 membedakan dua kategori besar kawasan hutan yang dilindungi, yakni:


Hutan lindung, yakni kawasan hutan negara yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air,

CARLITO AMARAL 21080110159001

mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah instrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah; dan


Hutan konservasi, yakni kawasan hutan negara dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.

Selanjutnya, UU no 41/1999 lebih lanjut merinci kawasan hutan konservasi ke dalam:




Kawasan hutan suaka alam. Ialah kawasan hutan negara dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.

Kawasan hutan pelestarian alam. Ialah kawasan hutan negara dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Taman buru. Yakni kawasan hutan negara yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu.

Peraturan Pemerintah RI no 68 tahun 1998 sebelumnya telah mendefinisikan:




Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan, yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.

Kawasan Pelestarian Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan, yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

PP no 68/1998, sebagaimana juga UU no 5/1990, tidak membatasi lingkupnya hanya pada hutan atau kawasan hutan negara. Selanjutnya PP tersebut merinci, yang

CARLITO AMARAL 21080110159001

termasuk ke dalam Kawasan Suaka Alam (KSA) adalah cagar alam dan suaka margasatwa. Sedangkan yang tergolong Kawasan Pelestarian Alam (KPA) adalah taman nasional, taman hutan raya (tahura), serta taman wisata alam. Uraian mengenai kawasan yang dilindungi yang paling luas cakupannya, ialah yang termuat di dalam Keppres no 32 tahun 1990. Keppres yang terbit sebelum UU no 5/1990 ini mencantumkan:


Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, terdiri dari:


  

Kawasan hutan lindung Kawasan bergambut Kawasan resapan air.

Kawasan perlindungan setempat, terdiri dari:


   

Sempadan pantai Sempadan sungai Kawasan sekitar danau/waduk Kawasan sekitar mata air.

Kawasan suaka alam dan cagar budaya, yakni:


    

Kawasan suaka alam Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya Kawasan pantai berhutan bakau Taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, serta

Kawasan rawan bencana

CARLITO AMARAL 21080110159001

2.2

Kawasan Konservasi

Konservasi adalah upaya yang dilakukan manusia untuk melestarikan atau melindungi alam. Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris, Conservation yang artinya pelestarian atau perlindungan. Sedangkan menurut ilmu lingkungan, Konservasi adalah :


Upaya efisiensi dari penggunaan energi, produksi, transmisi, atau distribusi yang berakibat pada pengurangan konsumsi energi di lain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya.

Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam

(fisik) Pengelolaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kiamia atau transformasi fisik.

 

Upaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya.

Di Indonesia, berdasarkan peraturan perundang-undangan, Konservasi [sumber daya alam hayati] adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Cagar alam dan suaka margasatwa merupakan Kawasan Suaka Alam (KSA), sementara taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam merupakan Kawasan Pelestarian Alam (KPA). Cagar alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tunbuhan, satwa, atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Suaka margasatwa mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwanya.

CARLITO AMARAL 21080110159001

Taman nasional mempunyai ekosistem asli yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman hutan raya untuk tujuan koleksi tumbuhan dan satwa yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,

menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi. Taman wisata alam dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. 2.2.1. Karakteristik Kawasan Konservasi Kawasan konservasi mempunyai karakteristik sebagaimana berikut:  Karakteristik, keaslian atau keunikan ekosistem (hutan hujan tropis/'tropical rain forest' yang meliputi pegunungan, dataran rendah, rawa gambut, pantai)  Habitat penting/ruang hidup bagi satu atau beberapa spesies (flora dan fauna) khusus: endemik (hanya terdapat di suatu tempat di seluruh muka bumi), langka, atau terancam punah (seperti harimau, orangutan, badak, gajah, beberapa jenis burung seperti elang garuda/elang jawa, serta beberapa jenis tumbuhan seperti ramin). Jenis-jenis ini biasanya dilindungi oleh peraturan perundang-undangan.  Tempat yang memiliki keanekaragaman plasma nutfah alami.  Lansekap (bentang alam) atau ciri geofisik yang bernilai estetik/scientik.  Fungsi perlindungan hidro-orologi: tanah, air, dan iklim global.  Pengusahaan wisata alam yang alami (danau, pantai, keberadaan satwa liar yang menarik) 2.2.2. Kebijakan Di Indonesia, kebijakan konservasi diatur ketentuannya dalam UU 5/90 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. UU ini memiliki beberpa turunan Peraturan Pemerintah (PP), diantaranya: 1. PP 68/1998 terkait pengelolaan Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) 2. PP 7/1999 terkait pengawetan/perlindungan tumbuhan dan satwa

CARLITO AMARAL 21080110159001

3. PP 8/1999 terkait pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar/TSL 4. PP 36/2010 terkait pengusahaan pariwisata alam di suaka margasatwa (SM), taman nasional (TN), taman hutan raya (Tahura) dan taman wisata alam (TWA).

CARLITO AMARAL 21080110159001

BAB III KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM HAYATI

3.1.

Konsep Dasar

Konservasi merupakan suatu usaha pengelolaan yang dilakukan oleh manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam sehingga dapat menghasilkan keuntungan sebesarbesarnya secara berkelanjutan untuk generasi manusia saat ini, serta tetap memelihara potensinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi generasi generasi yang akan datang. Berdasarkan pengertian tersebut, konservasi mencakup berbagai aspek positif, yaitu perlindungan, pemeliharaan, pemanfaatan secara berkelanjutan, restorasi, dan penguatan lingkungan alam (IUCN, 1980). Pengertian tersebut juga menekankan bahwa konservasi tidak bertentangan dengan pemanfaatan aneka ragam varietas, jenis dan ekosistem untuk kepentingan manusia secara maksimal selama pemanfaatan tersebut dilakukan secara berkelanjutan. Menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1990, konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan dengan kegiatan: 1) perlindungan sistem penyangga kehidupan; 2) pengawetan keanekaragaman spesies tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; 3) pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam konteks ini, konservasi keanekaragaman hayati (biodiversity) merupakan bagian tak terpisahkan dari pengertian konservasi sumberdaya alam hayati. Selain itu, dengan ratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Convention) oleh Pemerintah Indonesia melalui Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994, konservasi keanekaragaman hayati telah menjadi komitmen nasional yang membutuhkan dukungan seluruh lapisan masyarakat. Dalam praktek di lapangan, kerap kali masih ditemukan pengertian dan persepsi tentang konservasi yang keliru, yaitu seolah-olah konservasi melarang total pemanfataan sumberdaya alam. Berlandaskan pada pengertian tersebut masyarakat, khususnya penduduk setempat yang bermukim di sekitar kawasan konservasi, dilarang keras untuk dapat menikmati berbagai manfaat yang diberikan oleh lingkungan sekitarnya. Penduduk dipisahkan dengan lingkungannya secara paksa, padahal mereka secara turun-temurun

CARLITO AMARAL 21080110159001 telah lama tinggal di wilayahnya. Tujuan utama konservasi, menurut Strategi Konservasi Sedunia (World Conservation Strategy), ada tiga, yaitu: (a) memelihara proses ekologi yang esensial dan sistem pendukung kehidupan, (b) mempertahankan keanekaan genetis ,dan (c) menjamin pemanfaatan jenis (spesies) dan ekosistem secara berkelanjutan. Hal ini berarti kegiatan konservasi adalah suatu upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have secara bijaksana (wise use). Konservasi dalam pengertian sekarang, sering diterjemahkan sebagai the wise use of nature resource (pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana). Definisi lain tentang konservasi adalah manajemen (survai, penelitian, administrasi, pengawetan, pemanfaatan, pendidikan, dan latihan) udara, air, mineral, tanah, dan organisme hidup termasuk manusia untuk mencapai kualitas hidup manusia setinggi-tingginya (IUCN, 1969). The management of human use of the biosphere so that it may yield the greatest sustainable benefit to present generation while maintaining its potential to meet the needs and aspiration of future generation (WCS, 1980). Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi dan ekologi dimana konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumberdaya alam untuk saat kini, sedangkan dari segi ekologi melakukan alokasi sumberdaya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang.

Konservasi sumberdaya alam adalah tanggung jawab semua umat di muka bumi karena pengaruh ekologis dari berbagai upaya pembangunan tidak terbatas oleh wilayah negara atau administratif. Upaya konservasi adalah bagian integral dari pembangunan. Pembangunan yang dilakukan di negara manapun terkait dengan kepentingan negara lain maupun kepentingan internasional. Sebagai gambaran lain adalah adanya fenomena migrasi spesies yang melampaui batas-batas wilayah administrasi negara dan berkembangnya perdagangan produk hayati tingkat internasional. Ancaman terhadap ekosistem mempunyai ruang lingkup internasional dan membutuhkan kerjasama internasional dalam menghadapinya. Konservasi sumberdaya alam menjadi tanggung jawab bersama dari seluruh umat di muka bumi. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan terjalinnya jaringan kelembagaan baik secara regioonal, nasional bahkan internasional. Taman nasional, merupakan salah satu bentuk kawasan konservasi yang telah memiliki kelembagaan cukup kuat di berbagai negara. Berbagai bentuk kerjasama internasional diakui

CARLITO AMARAL 21080110159001

sangat berarti bagi negara-negara yang kurang mampu dalam mengangani sendiri kawasan konservasi yang dimilikinya. Hal ini mengimplementasikan suatu mekanisme untuk memikul biaya secara bersama-sama, melalui pembagian yang adil antara biaya dan manfaat dari pengelolaan kawasan konservasi , baik diantara bangsa dan kawasan yang dilindungi serta masyarakat sekitar. Pada tahun 1972 dilakukan pertemuan yang merupakan tonggak penting dalam pengembangan strategi konservasi global. Pertemuan tersebut dikenal dengan Stockholm Conference on the Human Environment. Hasil dari pertemuan tersebut antara lain pembentukan UNEP (The United Nations Environment Program) untuk menghadapi tantangan permasalahan lingkungan hidup dunia, yg masih terfokus pada kerusakan dan konservasi sumberdaya alam. Pada tahun 1992, Earth Summit di Rio de Janeiro,Brazil, atau yang dikenal sebagai United Nations Conference on Environmental and Development; dikenal juga dalam istilah KTT Bumi membahas berbagai cara untuk melindungi lingkungan dengan perhatian pada pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan pada negara yang kurang sejahtera. Pertemuan tersebut juga berhasil meningkatkan perhatian dan keseriusan dunia dalam menghadapi berbagai krisis lingkungan, membangun pemahaman yang jelas antara upaya perlindungan lingkungan dan kebutuhan untuk mengentaskan kemiskinan di negara berkembang dengan bantuan dana dari negara maju. 3.2. Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati atau biodiversity merupakan ungkapan pernyataan terdapatnya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan persekutuan makhluk, yaitu tingkatan ekosistem, tingkatan jenis dan tingkatan genetis. Pada dasarnya Keanekaragaman ekosistem di alam terbagi dalam beberapa tipe, yaitu ekosistem padang rumput, ekosistem hutan, ekosistem lahan basah dan ekosistem laut. Kanekaragaman tipe-tipe ekosistem tersebut pada umumnya dikenali dari ciri-ciri komunitasnya yang paling menonjol, dimana untuk ekosistem daratan digunakan ciri komunitas tumbuhan atau vegetasinya karena wujud vegetasi

mencerminkan fisiognomi atau penampakan luar hasil interaksi antara tumbuhan, hewan dan lingkungannya.

CARLITO AMARAL 21080110159001 Dalam menilai potensi keanekaragaman hayati , seringkali yang lebih banyak menjadi pusat perhatian adalah keanekaragaman jenis, karena paling mudah diamati. Sementara Keanekaragaman genetik yang merupakan penyusunan jenis-jenis tersebut secara umum lebih sulit dikenali. Sekitar 10 % dari semua jenis makhluk hidup yang pada saat imi hidup dan menghuni bumi ini terdapat di Indonesia, yang luas daratannya hanya sepertujuhpuluhlima luas daratan bumi. Negara Indonesia yang terdiri atas 17.058 pulau, memiliki kekayaan

keanekaragaman spesies sebanyak 10 % dari total jenis tumbuhan berbunga di dunia, 12 % dari total mamalia, 16 % dari total reptil dan amfibia, 17 % dari total jenis burung dan 25 % atau lebih dari total jenis ikan di dunia. Dalam naskah Biodiversity Action Plan for Indonesia (Bappenas, 1991) , ditulis bahwa hutan tropika Indonesia memiliki keanekaragaman spesies palm terbanyak di dunia, terdapat sebanyak 400 species meranti-merantian dari Famili Dipterocarpaceae; 25.000 species tumbuhan berbunga. Untuk keanekaragaman spesies mamalia adalah

tertinggi di dunia ( 515 species, di antaranya 36 species endemis ), terbanyak di dunia untuk keanekaragaman jenis kupu-kupu ekor walet dari famili Papilionidae (121 species, 44 % endemis), terbanyak ketiga utuk Keanekaragaman jenis reptilia (lebih dari 600 species), terbanyak keempat untuk jenis burung (1519 species, 28 % endemis), terbanyak kelima untuk jenis amphibi (270 species) dan ke tujuh di dunia untuk tumbuhan berbunga. Potensi keanekaragaman hayati di Indonesia tidak ternilai harganya. Selama ini lebih dari 6000 species tanaman dan binatang telah dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup sehati-hari masyarakat, dan lebih dari 7000 jenis ikan laut dan tawar selama ini mendukung kebutuhan masyarakat. Keanekaragaman hayati dikategorikan menjadi tiga tingkatan yaitu :  Keanekaragaman Genetik Genetik adalah aspek biokimia yang menentukan struktur dan sifat suatu organisme yang diturunkan secara fisik dari induknya. Sifat genetik ini dibentuk oleh Asam Deoksiribosa Nukleat ( ADN) .  Keanekaragaman Spesies Spesies adalah kelompok organisme yang mampu saling berbiak satu dengan yang lain secara bebas, dan menghasilkan keturunan, namun umumnya tidak berbiak dengan anggota dari jenis lain.  Keanekaragaman Ekosistem

CARLITO AMARAL 21080110159001 Ekosistem adalah suatu unit ekologis yang mempunyai komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi dan antara komponen-komponen tersebut terjadi pengambilan dan perpindahan energi, daur materi dan produktivitas. Manfaat Keanekaragaman hayati antara lain :  Merupakan sumber kehidupan, penghidupan dan kelangsungan hidup bagi umat manusia, karena potensial sebagai sumber pangan, papan, sandang, obat-obatan serta kebutuhan hidup yang lain  Merupakan sumber ilmu pengetahuan dan tehnologi  Mengembangkan sosial budaya umat manusia  Membangkitkan nuansa keindahan yang merefleksikan penciptanya. Konservasi keanekaragaman hayati diperlukan karena pemanfaatan sumber daya hayati untuk berbagai keperluan secara tidak seimbang akan menyebabkan makin langkanya beberapa jenis flora dan fauna karena kehilangan habitatnya, kerusakan ekosistem dan menipisnya plasma nutfah. Hal ini harus dicegah agar kekayaan hayati di Indonesia tetap dapat mendukung kehidupan secara berkelanjutan. Banyak metode dalam pengelolaan keanekaragaman hayati yang secara umum dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Konservasi Insitu, meliputi metode dan alat untuk melindungi spesies, variasi genetik dan habitat dalam ekosistem aslinya. Pendekatan insitu meliputi penetapan dan pengelolaan kawasan lindung seperti: cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, hutan lindung, sempadan sungai, kawasan plasma nutfah dan kawasan bergambut. Dalam prakteknya, pendekatan insitu juga termasuk pengelolaan satwa liar dan strategi perlindungan sumberdaya di luar kawasan lindung. Di bidang kehutanan dan pertanian, pendekatan insitu juga digunakan untuk melindungi keanekaragaman genetik tanaman di habitat aslinya serta penetapan spesies dilindungi tanpa

menspesifikasikan habitatnya. b. Konservasi Eksitu, meliputi metode dan alat untuk melindungi spesies tanaman, satwa liar dan organisme mikro serta varietas genetik di luar habitat/ekosistem aslinya. Kegiatan yang umum dilakukan antara lain penangkaran, penyimpanan atau pengklonan karena alasan habitat mengalami kerusakan akibat konversi dan materi tersebut dapat digunakan untuk penelitian, percobaan, pengembangan produk baru atau pendidikan lingkungan. Dalam metode tersebut termasuk:

CARLITO AMARAL 21080110159001 pembangunan kebun raya, koleksi mikologi, museum, bank biji, koleksi kultur jaringan dan kebun binatang. Mengingat bahwa organisme dikelola dalam lingkungan buatan,metode eksitu mengisolasi spesies dari proses-proses evolusi.

3.3.

Operasional Konservasi Sumberdaya Alam Hayati  Preservasi : perlindungan sumbedaya alam dari eksploitasi komersial untuk memperpanjang pemanfaatannya  Restorasi : koreksi dari kesalahan-kesalahan masa lalu yang telah membahayakan produktivitas sumberdaya alam  Benefisiasi : meningkatkan manfaat mutu dari suatu sumberdaya alam  Maksimisasi : semua tindakan untuk menghindari pemborosan  Substitusi : penggunaan sumberdaya alam yang umum sebagai pengganti yang langka, atau, penggunaan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui sebagai pengganti yang tidak dapat diperbaharui  Alokasi : strategi penggunaan terbaik dari suatu sumberdaya  Integrasi :memaksimmkan jumlah barang dan jasa dari suatu sumberdaya atau kompleks sumberdaya alam, misalnya, sumberdaya daerah aliran sungai  Daur ulang : penggunaan kembali bahan-bahan buangan

PRESERVASI DAUR ULANG RESTORASI

INTEGRASI

DEFINISI OPERASIONAL KONSERVASI


ALOKASI

BENEFISIASI

SUBSTITUSI

MAKSIMISASI

Gambar 1. Operasional Kegiatan Konservasi

CARLITO AMARAL 21080110159001

Biodiversity

Wood Air Hutan Untuk Kesejahteraan Masyarakat Water


Wildlife

Recreation

Forage

Gambar 2. Operasional Kegiatan Konservasi Hutan dan Kaitannya dengan Kesejahteraan Masyarakat 3.4. Prinsif Dasar Konservasi Sumberdaya Alam Hayati
Secara keseluruhan, Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH) adalah pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Banyak motif untuk melakukan konservasi yang dapat dilihat dalam Gambar 3.

Turisme Kesehatan bersama

Ethik Estetik

di ka

MOTIF-MOTIF KONSERVASI

Pe nd i

Produksi

an iti el h n a Pe lmi I

at nfa al Ma ensi t Po

an aik rb sies a Pe pe ay S did bu

Alam i Sebag a an rsekutu Pe

Gambar 3. Motif-motif Konservasi

CARLITO AMARAL 21080110159001 1. Motif Etik : Manusia bertanggung jawab atas perlakuan dan penggunaan sumberdaya secara bijaksana sumberdaya alam hayati. Manusia dipercaya Tuhan untuk membina hidup dan kehidupan di muka bumi . 2. Motif Estetik : keindahan alam dalam bentuk bentang alam, formasi geologis, tetumbuhan, dan binatang alam akan selalu menjadi salah satu alasan pokok konservasi alam di mana pun dan kapan pun 3. Motif Produksi : hasil alam (non-budidaya) sangat penting di mana pun di muka bumi ini. Berjuta penduduk telah ditopang hidupnya oleh hasil alam ini.

Konservasi biodiversity bertujuan langsung pada upaya pengelolaan secara efektif dan bijaksana dari hasil-hasil alam ini 4. Motif Alam sebagai Persekutuan: Nilai alam akan sangat ditentukan oleh Dengan demikian, misalnya kita

terjaganya keutuhan dari persekutuan alam.

harus mencegah penggundulan hutan dan erosi tanah karena tanah merupakan tempat berpijak atau substrat bagi penghasil karbohidrat yaitu tumbuhan, lalu kita pun harus menjaga keseimbangan ekologis alam, tidak merusak jaring dan tidak meghilangkan rantai makanan . 5. Motif Perbaikan spesies budidaya : tanaman budidaya dan hewan ternak seringkali memerlukan program perbaikan genetik mengingat ketahanannya terhadap penyakit atau produktivitasnya menurun. Untuk maksud ini, tentu sumber genetik harus diambil dari alam 6. Motif Manfaat potensial : Saat ini manusia hanya terbatas pada penggunaan beberapa spesies tumbuhan dan hewan saja yang merupakan sebagian kecil saja dari total spesies yang disediakan oleh alam. Pada saatnya nanti dan bahkan saat ini juga, tumbuhan dan satwaliar perlu dikembangkan untuk tujuan

keanekaragaman makanan, serta obat-obatan. Kawasan konservasi merupakan tempat terakhir (= the last stand) di alam bagi spesies liar untuk melangsungkan evolusinya (genepools) 7. Motif Penelitian ilmiah : penelitian dasar maupun terapan 8. Motif Pendidikan : lingkungan alam sangat baik untuk mendidik anak-anak,

remaja, maupun dewasa bahkan para eksekutif pemerintahan, bagaimana alam

CARLITO AMARAL 21080110159001 bekerja sehingga nantinya terbentuk kader-kader pengelola sumberdaya alam yang bijaksana 9. Motif Kesehatan bersama : penyakit mental, kenakalan remaja, dan unsur-unsur lingkungan pencemaran. merupakan indikator-indikator yang baik bagi kasus-kasus

Kegiatan rekreasi alam telah terbukti sangat manjur untuk

mengatasi penyakit mental dan kenakalan remaja perkotaan 10. Motif Turisme : pengembangan kepariwisataan akan terjadi keterbukaan wilayah, kesempatan berusaha dan lapangan kerja. lapangan kerja jauh lebih besar dari Kepariwisataan bisa menyediakan sekedar industri perminyakan.

Kepariwisataan melibatkan banyak aspek, mulai dari penyediaan prasarana dan sarana pariwisata, industri pariwisata dan pelayanan.

Konservasi biologi pada dasarnya merupakan bagian dari ilmu dasar dan ilmu terapan yang berasaskan pada pelestarian kemampuan dan pemanfaatannya secara serasi dan seimbang. Tujuan dari KSDAH adalah untuk terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta kesinambungan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, perlu dilakukan strategi dan juga pelaksananya. Di Indonesia, kegiatan konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, mencakup masayarakat umum, swasta, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi, serta pihak-pihak lainnya. Sedangkan strategi konservasi nasional telah dirumuskan ke dalam tiga hal metode pelaksanaannya, yaitu : 1). Perlindungan sistem penyangga kehidupan (PSPK) a. Penetapan wilayah PSPK. b. Penetapan pola dasar pembinaan program PSPK. c. Pengaturan cara pemanfaatan wilayah PSPK. d. Penertiban penggunaan dan pengelolaan tanah dalam wilayah PSPK. e. Penertiban maksimal pengusahaan di perairan dalam wilayah PSPK.

CARLITO AMARAL 21080110159001 2). Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya a. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya b. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa (in-situ dan eks-situ konservasi). 3.) Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. a. Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam. b. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar (dalam bentuk : pengkajian, penelitian dan pengembangan, penangkaran, perdagangan, perburuan, peragaan,

pertukaran, budidaya). Kawasan pelestarian alam ataupun kawasan dilindungi ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan berbagai macam kriteria sesuai dengan kepentingannya. Hampir di setiap negara mempunyai kriteria/kategori sendiri untuk penetapan kawasan dilindungi, dimana masing-masing negara mempunyai tujuan yang berbeda dan perlakuan yang mungkin berbeda pula. Namun di level internasional misalnya Commission on National Park and Protected Areas (CNPPA) yaitu komisi untuk taman nasional dan kawasan dilindungi yang berada di bawah IUCN memiliki tanggung jawab khusus dalam pengelolaan kawasan yang dilindungi secara umum di dunia, baik untuk kawasan daratan maupun perairan. Sedikitnya, sebanyak 124 negara di dunia telah menetapkan setidaknya satu kawasan koservasinya sebagai taman. Walaupun di antara masing-masing negara, dasar penetapan, tingkat perlindungan legal dan tujuan pengelolaannya beragam. Apabila suatu negara tidak memiliki kawasan dilindungi yang khusus karena sulit untuk memenuhi standar yang ditetapkan, maka mereka dapat mengelola kawasan alternatif seperti hutan produksi yang dialihkan sebagai kawasan dilindungi sehingga penurunan/pengurangan plasma nutfah dapat ditekan. Kategori klasifikasi kawasan dilindungi, dimana kategori pegelolaan harus dirancang agar pemanfaatan agar seimbang, tidak lebih mementingkan salah satu fungsi dengan meninggalkan fungsi lainnya. Adapun kategori penetapan kawasan dilindungi yang tepat harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu :

CARLITO AMARAL 21080110159001 a. Karakteristik atau ciri khas kawasan yang didasarkan pada kajian ciri-ciri biologi dan ciri lain serta tujuan pengelolaan. b. Kadar perlakuan pengelolaan yang diperlukan sesuai dengan tujuan pelestarian. c. Kadar toleransi atau kerapuhan ekosistem atau spesies yang terdapat di dalamnya. d. Kadar pemanfaatan kawasan yang sesuai dengan tujuan peruntukan kawasan tersebut. e. Tingkat permintaan berbagai tipe penggunaan dan kepraktisan pengelolaan. Sedangkan secara umum, ciri-ciri suatu kawasan ditetapkan sebagai kawasan dilindungi adalah :  Karakteristik/keunikan ekosistem, misalnya ekosistem hutan hujan dataran rendah, fauna endemik, ekosistem pegunungan tropika, dan lain-lain.  Spesies khusus yang diminati, mencakup nilai/potensi, kelangkaan atau terancam, misalnya menyangkut habitat jenis satwa seperti badak, harimau, beruang, dan lain-lain.  Tempat yang memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.  Lanskap/ciri geofisik yang bernilai estetik, dan penting untuk ilmu pengetahuan misalnya glasier, mata air panas, kawah gunung berapi dan lain-lain.  Tempat yang berfungsi sebagai perlindungan hidrologi, tanah, air dan iklim mikro.  Tempat yang potensial untuk pengembangan rekreasi alam dan wisata, misalnya danau, pantai, pegunungan, satwa liar yang menarik, dan lain-lain.  Tempat peninggalan budaya, misalnya candi, galian purbakala, situs, dan lain-lain.  Secara umum, tujuan utama dari pengelolaan kawasan dilindungi adalah :  Penelitian ilmiah.  Perlindungan daerah liar/rimba.  Pelestarian keanekaragaman spesies dan genetic.  Pemeliharaan jasa-jasa lingkungan.  Perlindungan fenomena-fenomena alam dan budaya yang khusus.  Rekreasi dan wisata alam.  Pendidikan (lingkungan).  Penggunaan lestari dari sumberdaya alam yang berasal dari ekosistem alami.  Pemeliharaan karakteristik budaya dan tradisi.

CARLITO AMARAL 21080110159001 Berdasarkan tujuan manajemen tersebut, maka kawasan dilindungi dikelola dalam berbagai kategori pengelolaan kawasn dilindungi yang ditetapkan IUCN (1994) sebagai berikut :  Cagar alam mutlak (strict nature protection)  Daerah liar/rimba (wilderness area)  Konservasi ekosistem dan rekreasi, misalnya taman nasional.  Konservasi fenomena alam, misalnya monumen alam.  Konservasi melalui kegiatan manajemen aktif misalnya kawasan pengelolaan habitat.  Konservasi bentang alam, laut dan rekreasi.  Pemanfaatan lestari ekosistem alam.

Adapun kriteria umum bagi berbagai kawasan yang dilindungi adalah : 1.Taman Nasional, yaitu kawasan luas yang relatif tidak terganggu yang mempunyai nilai alam yang menonjol dengan kepentingan pelestarian yang tinggi, potensi rekreasi besar, mudah dicapai oleh pengunjung dan terdapat manfaat yang jelas bagi wilayah tersebut. 2. Cagar alam, umumnya kecil, dengan habitat rapuh yang tidak terganggu oleh kepentingan pelestarian yang tinggi, memiliki keunikan alam, habitat spesies langka tertentu, dan lain-lain. Kawasan ini memerlukan perlindungan mutlak. 3. Suaka margasatwa, umumnya kawasan berukuran sedang atau luas dengan habitat stabil yang relatif utuh serta memiliki kepentingan pelestarian mulai sedang hingga tinggi. 4. Taman wisata, kawasan alam atau lanskap yang kecil atau tempat yang menarik dan mudah dicapai pengunjung, dimana nilai pelestarian rendah atau tidak akan terganggu oleh kegiatan pengunjung dan pengelolaan yang berorientasi rekreasi. 5. Taman buru, habitat alam atau semi alami berukuran sedang hingga besar, yang memiliki potensi satwa yang boleh diburu yaitu jenis satwa besar (babi hutan, rusa, sapi liar, ikan, dan lain-lain) yang populasinya cukup besar, dimana terdapat minat untuk berburu, tersedianya fasilitas buru yang memadai, dan lokasinya mudah dijangkau oleh

CARLITO AMARAL 21080110159001 pemburu. Cagar semacam ini harus memiliki kepentingan dan nilai pelestarian yang rendah yang tidak akan terancam oleh kegiatan perburuan atau pemancingan. 6. Hutan lindung, kawasan alami atau hutan tanaman berukuran sedang hingga besar, pada lokasi yang curam, tinggi, mudah tererosi, serta tanah yang mudah terbasuh hujan, dimana penutup tanah berupa hutan adalah mutlak perlu untuk melindungi kawasan tangkapan air, mencegah longsor dan erosi. Prioritas pelestarian tidak begitu tinggi untuk dapat diberi status cagar.

3.5.

Katagori IUCN Untuk Spesies Yang Terancam Kepunahan


Menurut Buku Red Data Books ( Edisi 1), IUCN telah memperkenalkan

pengkatagorian spesies yang terancam kepunahan berdasarkan status ekologis dan besarnya ancaman yang diterima spesies tersebut. Katagori yang spesies yang terancam kepunahan tersebut adalah : - Extinct (Punah), yakni apabila selama 50 tahun terakhir tidak ada lagi data yang menunjukkan secara jelas keberadaan spesies tersebut (kriteria menurut CITES). - Endangered (bahaya punah), yakni spesies yang berada dalam bahaya kepunahan dan tidak mungkin bertahan lestari tanpa menghentikan sumber-sumber penyebab kepunahannya. Termasuk ke dalam katagori ini spesies-spesies yang populasinya di alam terus menurun menuju titik kritis, atau habitatnya menyusut drastis hingga membahayakan kelestariannya. Juga spesies yang diperkirakan punah, namun dalam jangka 50 tahun terakhir keberadaannya sempat tercatat secara akurat. - Vulnerable (Rawan), yakni spesies-spesies yang diperkirakan tengah menuju ke dalam katagori terbahayakan di saat-saat mendatang, apabila sumber-sumber yang

mengancamnya tidak dihentikan atau ditanggulangi. Termasuk ke dalamnya adalah spesies-spesies yang sebagian besar atau seluruh populasinya tengah menyusut karena permanenan yang berlebihan (overeksploitasi), kerusakan habitat yang meluas ataupun gangguan lingkungan yang lain; spesies-spesies yang populasinya menyusut dengan gawat, sementara upaya pengamanan yang (tengah) dilakukan tidap dapat mengantisipasinya; dan spesies-spesies yang walaupun masih terdapat dalam jumlah yang cukup, namun terancam oleh faktor-faktor yang dapat merugikannya yang berada di lingkungannya. - Rare (Langka), yakni spesies-spesies yang total populasinya kecil, yang walaupun tidak termasuk ke dalam katagori-katagori di atas namun berada pada kondisi yang riskan.

CARLITO AMARAL 21080110159001 Mungkin penyebarannya terbatas secara geografis atau pada habitat-habitat tertentu; atau menyebar luas namun dalam populasi-populasi yang kecil saja. - Indeterminate, spesies-spesies yang diketahui terancam bahaya punah , rawan atau langka , namun tidak cukup informasi untuk menyatakan secara tepat termasuk jyang mana dari tiga katagori tersebut. - Insufficiently Known, ialah spesies-spesies yang disangka kuat namun belum dapat secara tegas masuk ke dalam katagori-katagori di atas karena informasinya masih kurang. Katagori IUCN, hasil revisi dalam pengkategorisasian species terancam punah ke dalam berbagai kategori sebagai berikut : - PUNAH Extinc (EX) Suatu taxon dikatakan punah jika tidak ada keraguan lagi bahwa individu terakhir telah mati. - PUNAH DI ALAM Extinct in the wild (EW) Suatu taxon dikatakan punah di alam jika dengan pasti diketahui bahwa taxon tersebut hanya hidup di penangkaran, atau hidup di alam sebagai hasil pelepasan kembali di luar daerah sebaran aslinya. Suatu taxon dianggap punah di alam jika telah dilakukan survai menyeluruh di daerah sebarannya atau di daerah yang memiliki potensi sebagai daerah sebarannya di alam, survai dilakukan pada waktu yang tepat, dan survai tersebut gagal menemukan individu taxon tersebut. Survai harus dilakukan sepanjang siklus hidup taxon tersebut.

- KRITIS Critically Endangered (CR) Suatu taxon dikatakan kritis jika taxon tersebut menghadapi resiko kepunahan sangat tinggi di alam

- GENTING Endangered (EN) Suatu taxon dikatakan genting jika taxon tersebut tidak termasuk kategori kritis saat menghadapi resiko kepunahan sangat tinggi di alam dalam waktu dekat

- RENTAN Vulnerable (VU) Suatu taxon dikatakan rentan jika taxon tersebut tidak termasuk kategori kritis atau genting tetapi menghadapi resiko kepunahan tinggi di alam

CARLITO AMARAL 21080110159001 - KEBERADAANNYA TERGANTUNG AKSI KONSERVASI Conservation Dependent (CD) Untuk dianggap sebagai CD suatu taxon harus merupakan fokus dari program konservasi jenis atau habitat yang secara langsung mempengaruhi taxon dimaksud.

- RESIKO RENDAH Low Risk (LR) Suatu taxon dikatakan beresiko rendah jika setelah dievaluasi ternyata taxon tersebut tidak layak dikategorikan dalam kritis, genting, rentan, - Conservation Dependent atau Data Deficient. Kategori ini masih dapat di bagi lagi menjadi tiga, yaitu: (i) taxon yang nyaris memenuhi syarat untuk dikatakan terancam punah (Near-Threatened), (ii) taxon yang tidak begitu menjadi perhatian, (iii) taxon yang saat ini jumlahnya besar tetapi memiliki peluang yang sangat kecil untuk punah di masa depan.

- KURANG DATA Data Deficient (DD) Suatu taxon dikatakan kekurangan data jika informasi yang diperlukan, baik sifatnya langsung maupun tidak langsung, untuk menelaah resiko kepunahan taxon dimaksud berdasarkan distribusi atau status tidak memadai. Taxon dalam kategori ini mungkin telah banyak dipelajari aspek biologinya, tetapi data kelimpahan dan atau distribusinya masih kurang. Berdasarkan hal tersebut DD tidak dapat dimasukkan ke dalam kategori terancam punah atau beresiko kecil. Dengan memasukkan taxon ke dalam kategori ini menunjukkan bahwa informasi tentang taxon tersebut sangat diperlukan.

- TIDAK DIEVALUASI Not Evaluated (NE) Suatu taxon dikatakan tidak dievaluasi jika taxon tersebut tidak dinilai berdasarkan kriteria di atas.