Anda di halaman 1dari 33

BAB II

KETENTUAN HUKUM TERHADAP KEJAHATAN

PEMALSUAN UANG KERTAS RUPIAH DAN PENGEDARANNYA

A. Perkembangan dan Modus Operandi Kejahatan Pemalsuan Uang Kertas

Rupiah dan Pengedarannya

Perkembangan pemalsuan surat-surat berharga di Indonesia, umumnya

banyak dilakukan pada uang kartal dibandingkan dengan uang giral. Hal ini

dimungkinkan karena peredaran uang kartal lebih luas daripada uang giral, dan

sasarannya adalah masyarakat luas di perbatasan negara terutama di pulau-pulau

perbatasan, di kota-kota kecil dan kota-kota besar daerah urban.

Pemalsuan uang kertas dilakukan dengan cara peniruan (conterfeiting).

Peniruan merupakan tindak pemalsuan dengan cara mereproduksi atau meniru

suatu dokumen secara utuh. Pelaku berupaya agar hasil initasi mempunyai

kemiripan dengan yang asli. Akan tetapi mengingat uang kertas mempunyai

tingkat sekuritas yang tinggi dan mahal, maka biasanya uang hasil tiruan

mempunyai kualitas jauh lebih rendah.

Tindak peniruan ini bukanlah merupakan suatu fenomena khusus abad

ke-20. Kejahatan tersebut selalu tumbuh setiap kurun waktu dan berkembang

sejalan dengan perkembangan teknologi. Sehingga fenomena peniruan uang ini

harus ditangani secara serius. Tindakan meniru uang dengan maksud untuk

mengedarkan atau menyuruh mengedarkannya seolah-olah uang tersebut asli

merupakan suatu tindak kejahatan berat yang dapat dikenai hukuman pidana. 24

24 Eddi Wibowo, op. cit., hal. 130-132

30

Universitas Sumatera Utara

Korban pertama kejahatan pemalsuan uang ini adalah masyarakat dan

pada gilirannya negara akan merasakan akibat dari kejahatan tersebut. Botasupal

(Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu) melaporkan tindak pemalsuan

uang kertas rupiah dari tahun 1971 – 1986 mencapai nilai Rp 9.542.539.400

termasuk di dalamnya adalah hasil pemalsuan uang kertas rupiah di luar negeri

sebesar Rp 9,4 miliar.

Dari data tersebut di atas terungkap bahwa kerugian yang ditimbulkan

akibat tindak kejahatan pemalsuan uang sangatlah besar, dan khususnya bagi

negara seperti Indonesia akan berpengaruh pada perekonomian negara. Dengan

banyaknya peredaran uang kertas rupiah palsu pada tahun 1970-an yang tidak

saja

akan

merusak

perekonomian

Indonesia

dan

dengan

pertimbangan

kemungkinan adanya tujuan politis, maka pada waktu itu Presiden selaku

Mandataris

MPR

melalui

Instruksi

Presiden

No.

1

Tahun

1971

menginstruksikan

kepada

Kepala

Bakin

antara

lain

untuk

membentuk

Botasupal. 25

Perkembangan

Pemalsuan

dengan

Memanfaatkan

Perkembangan

Teknologi

Perkembangan

teknik-teknik

pemalsuan

uang

tidak

terlepas

dari

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi grafika baik di dalam maupun di luar

negeri. Pada dasarnya baik teknik-teknik pemalsuan yang sederhana sampai

kepada

yang

menggunakan

25 Ibid., hal 132-133.

teknologi

canggih,

dapat

dimanfaatkan

dalam

Universitas Sumatera Utara

upaya-upaya pemalsuan jenis peniruan sebagaimana yang telah disinggung

sebelumnya.

Pemalsuan jenis peniruan dapat digolongkan menjadi jenis-jenis “kurang

berbahaya” dan “berbahaya”, yaitu: 26

a. Jenis yang kurang berbahaya

Yaitu

jenis

pemalsuan

uang

dengan

kualitas

relatif

kurang

baik,

masyarakat mudah membedakannya dengan yang asli, pembuatannya

dilakukan satu-persatu (kuantitas produksinya rendah).

1. Lukisan Tangan

Peniruan dilakukan dengan cara melukis dengan bahan antara lain cat

air, hasil lukisan tampak buruk, tidak sempurna, tidak rapi dan mudah

dideteksi.

2. Fotokopi hitam putih

Pemalsuan dengan alat fotokopi hitam putih memberikan penampakan

pada hasil cetakan antara lain garis-garis relief dan garis halus hilang

terputus-putus

atau

tidak

jelas.

Penyempurnaan

warna

gambar

dilakukan dengan menggunakan cat air.

3. Cetakan kasa / sablon

Proses ini memerlukan alat fotografi untuk memisahkan warna-warna

yang ada pada gambar aslinya. Sebagai acuan cetak digunakan kasa

(screen) missal nilon, sebanyak jumlah warna yang diperlukan.

b. Jenis berbahaya

26 Ibid., hal. 132-135.

Universitas Sumatera Utara

Yaitu jenis pemalsuan dengan kualitas baik, mendekati sempurna dan sulit

dibedakan dengan yang asli jika dideteksi tanpa menggunakan alat deteksi

serta kuantitas produksinya tinggi.

1. Proses photo mechanic (fotografi)

Reproduksi

dengan

cara

pemisahan

setiap

komponen

warna.

Komponen-komponen warna tersebut kemudian dikombinasikan

sesuai dengan urutan pencetakannya.

2. Proses colour separation

Pemisahan

warna

dilakukan

dengan

filter

pada

kamera

bagi

masing-masing warna proses (cyan, magenta, yellow dan black).

Penomoran dilakukan dengan menggunakan teknik cetak offset

yang banyak digunakan percetakan non-sekuritas.

3. Proses multi-colour

Pemisahan warna secara selektif dan pencetakannya sesuai dengan

jumlah warna secara berurutan. Unsur pengaman yang ada pada

uang kertas antara lain warna kertas, tanda air, benang pengaman,

dan serat-serat berwarna dapat juga ditiru dengan proses ini.

Reproduksi

dengan

proses

multi-colour

relatif

memerlukan

keahlian dan ketelitian dengan waktu persiapan yang lebih lama

dibandingkan dengan colour separation. Uang kertas rupiah palsu

hasil

reproduksi

dengan

proses

multi-colour

secara

teknis

merupakan ancaman potensial menuju kualitas sangat berbahaya.

4. Fotokopi berwarna

Universitas Sumatera Utara

Kemajuan teknologi fotokopi berwarna berkembang pesat. Dewasa

ini mesin fotokopi berwarna mampu mereproduksi semua warna

yang tampak. Yaitu empat warna dasar yang dikenal sebagai warna

cyan, magenta, yellow dan black.

Meskipun teknik ini memberikan hasil satu-satu, kapasitas rendah dan biaya

mahal, namun mesin fotokopi berwarna mempunyai tingkat berbahaya yang

sangat tinggi karena dapat dioperasikan dengan mudah oleh siapa saja secara

diam-diam. Hal ini dapat dianggap lebih berbahaya dalam pengedarannya

karena dilakukan bukan oleh sindikat yang dianggap lebih mudah dilacak oleh

pihak yang berwajib. 27

Perkembangan Pemalsuan Uang di Indonesia dan di Kotamadya Medan

Di Indonesia

Ditinjau dari pelaku pemalsuan uang kertas rupiah, baik yang berasal dari luar

negeri maupun dalam negeri, dapat bersifat:

a. Secara professional

28

Uang kertas rupiah palsu yang dibuat secara professional oleh organisasi

sindikat

(organized

crime),

umumnya

dapat

dogolongkan

pada

jenis

‘berbahaya’, dimana semua gambar pada uang palsu merupakan hasil reproduksi

dengan proses photo mechanic, dicetak offset dengan pemberian warnanya

secara colour separation atau multi colour menggunakan tinta cetak biasa

sampai penggunaan tinta-tinta sekuritas. Kertas yang digunakan umumnya mirip

27 Ibid.

28 Ibid., hal. 136-137.

Universitas Sumatera Utara

dengan asli kecuali pemalsuan benang pengaman dan tanda air yang kualitasnya

sangat rendah.

Kasus-kasus

pemalsuan

uang

kertas

rupiah

eks-luar

negeri

dapat

dibedakan sebagai berikut:

1. Semua

pemalsuan

uang

kertas

rupiah

eks-Singapura

dan

Malaysia

dilakukan melalui proses colour separation.

2. Semua pemalsuan uang kertas rupiah eks-Hongkong dan Tawao (Filipina

Selatan) dilakukan melalui proses multi colour.

b. Secara amatir

Uang kertas palsu yang dibuat secara amatir baik oleh suatu kelompok

maupun

perorangan

ini

pada

umumnya

dapat

digolongkan

jenis

‘kurang

berbahaya’ sampai dengan jenis ‘berbahaya’ biasanya dilakukan di dalam

negeri.

Modus operandi pemalsuannya, yaitu:

1. Digambar atau dilukis satu-persatu secara sederhana atau difotokopi dan

kemudian diberi warna

2. Dicetak dengan alat cetak sederhana (handpress, sablon)

3. Pemindahan warna (colour transfer)

c. Kualitas uang kertas palsu lainnya

Dari hasil pemeriksaan terhadap uang kertas palsu yang pernah diperiksa

di Laboratorium Perum Peruri, poses pemalsuan berkisar dari cara yang paling

Universitas Sumatera Utara

sederhana yaitu lukisan tangan, colour transfer, dan cetakan kombinasi antara

offset dengan etterpress-thermography.

Mutu

hasil

pemalsuan

bervariasi

dari

‘kurang

baik’

pada

tingkat

pemalsuan ‘kurang berbahaya’ sampai ‘sangat baik’ bagi uang palsu dengan

tingkat pemalsuan yang ‘berbahaya’.

Kelemahan umum yang teramati pada uang kertas rupiah palsu terdapat

pada ciri-ciri gambar, ciri-ciri kertas dan ciri-ciri tinta cetak. 29

a. Gambar

Ciri-ciri gambar utama dari hasil cetak intaglio memiliki ketajaman gambar

dengan gradasi cetakan blok sampai dengan garis-garis halus (dengan kaca

pembesar), dengan peralihan warna yang sempurna. Pada uang palsu ciri-ciri

ini tidak dapat ditiru dengan sempurna.

b. Kertas

Sesuai

dengan

tujuan

pemalsu

yang

mencari

keuntungan,

maka

pada

umumnya kertas yang digunakan adalah kertas yang terdapat di pasaran,

sehingga mutunya rendah dan memedar di bawah sinar ultra-violet, hal

tersebut berbeda dengan kertas uang asli yang tidak memedar bila dikenai

sinar ultra-violet.

c. Warna tinta cetak

Warna tinta merupakan karakteristik dalam mengidentifikasi uang-uang

palsu, maka dalam pemeriksaan memerlukan pembanding, dengan toleransi

29 Ibid.

Universitas Sumatera Utara

akibat

perubahan

warna

baik

dalam

proses

perubahan dalam peredaran.

produksi

ataupun

akibat

Ada beberapa hal mengenai kejahatan pemalsuan mata uang ini, yaitu

sebagai berikut:

1. Pelaku

Pembuat :

a. Pencetus ide (aktor)

b. Penyandang dana

c. Ahli cetak

d. Tempat penyimpan hasil cetakan

e. Penyedia bahan baku (kertas, plastik, tinta, alat cetak dan sebagainya)

Pengedar :

a. Agen pengedar

b. Pengedar biasa

Hubungan antara pelaku pembuat atau pengedar selalu terputus (sistem sel)

atau bisa juga agen pengedar termasuk kelompok pembuat.

2. Korban

Individu :

a. Masyarakat/rakyat

b. Pedagang

c. Toko-toko

d. Pasar

Universitas Sumatera Utara

Lembaga :

a. Lembaga pemerintah (bank-bank negara)

b. Instansi pemerintah

c. Lembaga swasta (bank-bank swasta)

d. Money Changer

e. Perusahaan-perusahaan swasta

3. Motivasi

1. Kepentingan pribadi atau kelompok (mencari keuntungan)

2. Kepentingan tertentu (politik/ekonomi)

a. Untuk mengganggu stabilitas ekonomi

b. Menurunkan kepercayaan terhadap mata uang yang sah

3. Subversi

4. Modus

Pembuat :

a. Sablon

b. Membelah dan memindah warna (campur warna)

c. Melukis

d. Photocopy

e. Cetak offset

f. Cetak printer

Pengedar :

a. Menyisipkan di antara tumpukan uang asli

b. Belanja pada malam hari dan waktunya singkat

Universitas Sumatera Utara

c.

Menukar dengan uang asli 30

Di Kotamadya Medan

1. Data Jumlah Uang Palsu yang Ditemukan di Bank Indonesia Cabang Medan

Tahun 2000 – 2008: (Data Terlampir)

Pada tahun 2000-2002 cenderung mengalami penurunan, sedangkan

kembali

meningkat

sejak

tahun

2003-2004.

Tahun

2005-2008

cendeung

mengalami peningkatan, terutama 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2007-2008

Bank Indonesia Medan menemukan jumlah uang palsu yang sangat besar yaitu

tahun 2007 total Rp 15.011.000,- dan tahun 2008 total Rp 29.555.000,- Dan dari

tahun ke tahun didominasi oleh pecahan Rp 100.000,- (seratus ribu upiah) dan

Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) yang paling banyak dipalsukan, namun

jangan remeh dengan pecahan uang kertas rupiah yang nilainya kecil karena

uang Rp 1000,- pun ada yang dipalsu.

Terhadap kasus uang palsu yang ditemukan oleh Bank Indonesia Medan

oleh pihak Bank Indonesia dilaporkan kepada pihak Kepolisian (dalam hal ini

kepada Laboratorium Forensik Cabang Medan) untuk diperiksa, sehingga dapat

diusut kasus penyelesaiannya ileh pihak Kepolisian.

2. Data Jumlah Kasus dan Barang Bukti yang Diperiksa di Laboratorium

Forensik Cabang Medan Tahun 2005 – 2008: (Data Terlampir)

30 Suryanbodo Asmoro, Penyidikan Terhadap Tindak Pidana Pemalsuan Mata Uang (makalah), hal. 2-6.

Universitas Sumatera Utara

Dari data 4 (empat) tahun terakhir dilihat bahwa kasus uang palsu yang

berasal dari 5 (lima) provinsi yaitu Aceh, Medan, Batam, Riau, dan Kepri

jumlah kasus yang diperiksa barang bukti uang kertas palsunya di Laboratorium

Forensik Cabang Medan relatif sedikit. Tahun 2005 terdapat 22 (dua puluh dua)

kasus dengan barang bukti 1065 lembar, tahun 2006 terjadi penurunan yaitu 15

(lima belas) kasus dengan barang bukti 412 lembar, tahun 2007 mengalami

peningkatan yang signifikan yaitu terdapat 35 (tiga puluh lima kasus) dengan

barang bukti 2001 lembar. Akan tetapi pada tahun 2008 mengalami penurunan

yaitu hanya 20 (dua puluh) kasus dengan barang bukti 651 lembar, padahal

berdasarkan data jumlah uang palsu yang ditemukan di Bank Indonesia Medan

sangat

banyak.

Hal

ini

dikarenakan

sangat

sulit

menemukan

pelaku

sesungguhnya yang membuat dan mengedarkan uang palsu tersebut.

3. Data Jumlah Kasus Tersangka yang Terlibat dalam Perkara Memalsukan dan

Mengedarkan Uang Palsu yang Ditangani di Poltabes MS Tahun 2001 – 2007:

(Data Terlampir)

Pada tahun 2001-2005 cenderung mengalami peningkatan, dimana tahun

2001 ditemukan uang kertas rupiah palsu sejumlah Rp 6.250.000,- (enam juta

dua ratus lima puluh ribu rupiah), tahun 2002

meningkat

jauh yaitu Rp

34.425.000,- (tiga puluh empat juta empat ratus dua puluh lima ribu rupiah),

tahun 2003 sejumlah Rp 41.060.000,- (empat puluh satu juta enam puluh ribu

rupiah), tahun 2004 mengalami penurunan yaitu Rp 19.280.000,- (sembilan

Universitas Sumatera Utara

belas juta dua ratus delapan puluh ribu rupiah), dan tahun 2005 kembali

meningkat sejumlah Rp 41.000.000,- (empat puluh satu juta rupiah).

Namun sejak tahun 2006 pihak Poltabes MS hanya menangani 1 (satu)

kasus uang palsu sejumlah Rp 1.250.000,- (satu juta dua ratus lima puluh ribu

rupiah) yang sangat sedikit dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

Data kasus uang palsu yang ditangani Poltabes MS pada tahun 2007 pun hanya

2 (dua) kasus dengan barang bukti sejumlah Rp 70.000,- (tujuh puluh ribu

rupiah) yang terlalu kecil untuk dibandingkan dengan jumlah uang palsu pada

tahun-tahun sebelumnya.

4.

Data

Perkara

Menegenai

Uang

Palsu

yang

Diperiksa

dan

Diputus

di

Pengadilan Negeri Medan Tahun 2006 – 2008: (Data Terlampir)

Perkara yang masuk dan telah diputus oleh PN Medan pada tahun 2006

hanya 3 (tiga) perkara, tahun 2007 mengalami peningkatan yaitu ada 8 (delapan)

perkara, dan tahun 2008 menurun dengan hanya ada 3 (tiga) perkara. Data ini

cenderung sedikit dan

yang

begitu

banyak

sangat timpang apabila dilihat dari jumlah uang palsu

yang

ditemukan

di

Bank

Indonesia

Medan.

Hal

ini

dikarenakan pelaku sebenarnya sangat sulit ditemukan karena uang palsu telah

diedarkan dari tangan ke tangan tanpa diketahui oleh korbannya serta kurangnya

alat bukti sehingga sulit bagi pihak Kepolisian (dalam hal ini Poltabes MS)

untuk melakukan penyelidikan bahkan penyidikan. Oleh karenanya jumlah

kasus yang di periksa di pengadilan sangat sedikit. Hal inilah yang perlu dikaji

lebih dalam lagi mengenai penegakan hukumnya.

Universitas Sumatera Utara

B. Kasus

Pemalsuan

Uang

Kertas

Rupiah

Dampaknya Bagi Indonesia

dan

Pengedarannya

serta

Mengenai kejahatan pemalsuan mata uang ini dapat kita lihat dalam

contoh kasus sebagai berikut. Gunawan Tanumulia alias Alex merupakan nama

salah satu tersangka pelaku pemalsuan uang di Bandung. Kelompok Gunawan

Tanumulia cs termasuk kelompok baru. Namun, jaringan kelompok ini sungguh

luas. Uang palsu kreasi Gunawan ini memang cukup sempurna. Kapasitas

produksinya pun besar. Hasilnya hampir sempurna dan ketika dideteksi, uang

palsu ini lolos. Polda Jabar juga telah melaporkan kasus penggandaan uang

palsu ini kepada Bank Indonesia (BI) dan Badan Intelijen Negara (BIN).

Menurut Edi Darnadi, saat dilakukan pendeteksian oleh tim dari BI dan BIN,

uang palsu tersebut 95 persen mendekati sempurna.

Kasus pemalsuan uang yang dilakukan oleh Gunawan cs, tergolong sangat

rapi dan prosfesional. Hal ini terlihat bahwa uang palsu tersebut sekitar 95 %

mendekati sempurna. Perbedaannya terletak pada ketebalan kertasnya saja. Bila

uang tersebut jatuh pada orang awam, kemungkinan besar orang tersebut tidak

tahu bahwa uang tersebut merupakan uang palsu. Hal ini tentu saja merugikan

orang tersebut.

Tentu saja hal tersebut akan merugikan negara. Salah satu dampak serius

yang timbul yaitu rusaknya kepercayaan masyarakat terhadap uang rupiah.

Dampak tersebut akan mempengaruhi secara langsung bagi masyarakat kecil

selaku pengguna terbesar uang tunai sehingga dapat merusak perekonomian di

Indonesia. Selain itu, pemalsuan uang dapat mendorong munculnya tindakan

Universitas Sumatera Utara

kejahatan yang lainnya. Seperti halnya tindak pidana pencucian uang. Kegiatan

ini dilakukan untuk menciptakan citra yang baik terhadap uang palsu tersebut.

Tindakan negatif yang muncul lainnya seperti pembiayaan untuk kegiatan

terorisme dan politik uang.

Dalam hal ini, pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk mencegah

peredaran uang palsu yang semakin meningkat. Salah satu cara yang ditempuh

pemerintah

adalah

mempersempit

ruang

gerak

uang

palsu.

Melalui

Bank

Indonesia (BI) selaku pemegang otoritas, menerbitkan uang pecahan baru Rp.

10.000 dan Rp. 50.000. Kebijakan tersebut memberikan dampak positif. Dari

tahun ke tahun, jumlah uang palsu yang ditemukan semakin berkurang. Pada

tahun 2006, jumlah uang palsu yang ditemukan sebesar 148.511 lembar uang

palsu, dan tahun 2007 ada 74.243 lembar uang palsu. Sedangkan pada bulan

Januari sampai dengan bulan Oktober tahun 2008, uang palsu yang ditemukan

hanya 67.282 lembar uang palsu. Tetapi tentu saja masih ada uang palsu yang

beredar di masyarakat.

Uang

palsu

yang

masih

beredar

di

masyarakat

cukup

sulit

untuk

diberantas. Beberapa upaya telah dilakukan pihak yang berwajib seperti dengan

melakukan pengembangan kasus. Tetapi kesadaran masyarakat akan uang palsu

masih

kurang.

Ketika

mereka

mendapatkan

selembar

uang

dan

mulai

merasakan curiga, mereka tidak segera melaporkan kecurigaan mereka kepada

pihak yang berwajib. Tanpa segan-segan, mereka justru membelanjakan uang

palsu tersebut untuk kepentingan mereka. Padahal bila dilaporkan kepada pihak

yang berwajib, peredaran uang palsu bisa segera di tekan. Umumnya mereka

Universitas Sumatera Utara

segan untuk melapor, bahkan berpikir “nakal” untuk membelanjakannya. Tentu

saja

sikap

masyarakat

yang

seperti

ini

harus

diwaspadai

dan

diperlukan

penyuluhan untuk memberikan kesadaran masyarakat tentang dampak negatif

uang palsu.

Peredaran uang palsu di masyarakat tidak hanya didorong oleh perilaku

masyarakat awam saja, namun juga terkadang perkembangan teknologi sering

menjadi kambing hitam. Kita tidak pernah menyangka bahwa perkembangan

teknologi

selain

dapat

memanjakan

kehidupan

masyarakat,

dapat

juga

digunakan untuk mendukung kegiatan kriminalitas seperti pemalsuan uang.

Berdasarkan

pengakuan

seorang

tersangka

pemalsuan

uang,

ia

dapat

memproduksi Rp300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) dalam sehari. Peralatan

yang dibutuhkannya juga tergolong sederhana, yaitu sebuah printer berwarna.

Printer berwarna tersebut dapat diperoleh dengan mudah disekitar masyarakat

dengan harga yang sangat terjangkau. Tetapi, bila kita mencermati memang ada

sedikit perbedaan antara uang palsu dengan uang yang asli. Bagi mata yang

terlatih, akan sangat mudah untuk membedakan mana yang palsu dan mana

yang bukan. Tetapi bagaimana dengan masyarakat yang ada disekitar pedesaan

yang mereka masih awam dan kurang bisa membedakan antara uang palsu dan

yang asli. Tentu saja hal ini sangat merugikan mereka. Sudah jatuh miskin,

masih dirugikan dengan adanya uang palsu tersebut.

Beberapa upaya juga telah dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan

printer berwarna bagi tindak pidana pemalsuan uang. Salah satunya dengan

mencantumkan stiker hologram pada printer berwarna. Upaya tersebut cukup

Universitas Sumatera Utara

memberikan dampak positif bagi perkembangan kasus dan penekanan tindak

pidana pemalsuan uang. Pada tahun 2005 terdapat 85 kasus, kemudian turun

pada tahun 2006 dengan 78 kasus.

Namun, upaya tersebut menuai protes dari kalangan produsen printer. Hal

tersebut

telah

meningkatkan

memberatkan

biaya

produksi

produsen

karena

secara

printer.

Mereka

meminta

tidak

langsung

peninjauan

ulang

mengenai efektivitas pengadaan stiker tersebut pada penurunan kasus pemalsuan

uang.

Pada dasarnya, pemalsuan uang sama dengan penipuan uang. Pemalsuan

uang merupakan salah satu kejahatan tertua dan membutuhkan perencanaan

terorganisasi yang sangat rapi. Kejahatan ini dapat merugikan kepentingan

perekonomian nasional, merugikan negara dan mencoreng citra atau nama

Indonesia oleh karena itu pelakunya harus dihukum seberat-beratnya.

Pada umumnya, kejahatan pemalsuan uang dilakukan oleh banyak orang.

Sehingga

dalam

penentuan

pertanggungjawaban

terhadap

pelakunya

perlu

diperhatikan mengenai rumusan Pasal 55 KUHP mengenai penyertaan dan

pembantuan yang diatur pada Pasal 56 jo Pasal 57 KUHP. Namun tidak jarang

pula

kejahatan

pemalsuan

uang

dilakukan

oleh

residivis.

Sehingga

perlu

diperhatikan pula rumusan Pasal 486 KUHP. Namun, apabila terhadap pelaku

belum

pernah

mendapatkan

penjatuhan

hukuman

terhadap

perbuatannya

tersebut maka hal ini adalah termasuk gabungan perbuatan.

Universitas Sumatera Utara

Kondisi perekonomian Indonesia yang buruk turut mendorong munculnya

tindakan-tindakan kejahatan, salah satunya pemalsuan uang. Pemalsuan uang

terjadi di Indonesia tentu saja menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan

masyarakat

terhadap

uang,

terutama

rupiah.

Dampak

yang

negatif

bagi

masyarakat, terutama bagi kalangan bawah yang merupakan pengguna terbesar

uang

tunai.

Masyarakat

kalangan

bawah

yang

umumnya

hidup

dalam

kemiskinan harus bertambah menderita akibat tertipu dengan adanya uang palsu.

Hal ini tentu akan membuat mereka semakin terjerumus ke dalam jurang

kemiskinan. Selain itu, uang palsu juga bisa mendorong tindakan kriminal lain

seperti pencucian uang, pembiayaan kegiatan terorisme dan politik uang.

Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya tindak pidana pemalsuan

uang. Antara lain kemiskinan dan pengangguran. Masyarakat yang miskin dan

menganggur

pada

umumnya

mudah

tergoda bila

mendapat

tawaran

yang

menggiurkan.

Pemalsuan uang

tentu

saja

merupakan salah satu

hal yang

menggiurkan karena pelaku kejahatan ini dapat memperkaya diri mereka dengan

kegiatan yang ilegal. Terlebih lagi apabila hidup mereka berada di bawah

tekanan ekonomi yang semakin

mencekik. Terkadang kegiatan pidana ini

menjadi salah satu alternatif untuk lepas dari tekanan perekonomian.

Universitas Sumatera Utara

C. Ketentuan Hukum terhadap Kejahatan Pemalsuan Uang Kertas Rupiah

dan Pengedarannya

Kejahatan peniruan dan pemalsuan mata uang dan uang kertas, yang

kadang disingkat dengan pemalsuan uang, adalah berupa penyerangan terhadap

kepentingan hukum atas kepercayaan terhadap uang sebagai alat pembayaran

yang sah. Sebagai alat pembayaran, kepercayaan terhadap uang harus dijamin.

Kejahatan ini diadakan berhubungan untuk melindungi masyarakat terhadap

uang sebagai alat pembayaran tersebut.

Dalam sistem hukum pidana kita, kejahatan terhadap mata uang dan uang

kertas adalah berupa kejahatan berat. Setidak-tidaknya ada 2 (dua) alasan yang

mendukung pernyataan itu, yakni: 31

1. Ancaman pidana maksimum pada kejahatan ini rata-rata berat. Ada 7 bentuk

rumusan kejahatan mata uang dan uang kertas dalam Bab X buku II KUHP,

dua diantaranya diancam dengan pidana penjara maksimum 15 tahun (Pasal

244 dan 245), dua dengan pidana penjara maksimum 12 tahun (Pasal 246

dan 247), satu dengan pidana penjara maksimum 6 tahun (Pasal 250).

Selebihnya, diancam dengan pidana penjara maksimum 1 (satu) tahun (Pasal

250bis) dan maksimum pidana penjara 4 bulan dua minggu (Pasal 249).

2. Untuk

kejahatan

mengenai

mata

uang

dan

uang

kertas

berlaku

asas

universaliteit, artinya hukum pidana Indonesia berlaku bagi setiap orang

yang melakukan kejahatan ini di luar wilayah Indonesia di manapun. (Pasal

4 sub 2 KUHP). Mengadakan kejahatan-kejahatan yang oleh Undang-

31 Adami Chazawi, Kejahatan Mengenai Pemalsuan, Rajawali Pers, Bandung, 2005, hlm.

21-22.

Universitas Sumatera Utara

undang

ditentukan berlaku asas universaliteit

bukan saja

berhubungan

terhadap kepentingan hukum masyarakat Indonesia dan kepentingan hukum

negara RI, juga bagi kepentingan hukum masyarakat internasional. Sebagai

contoh hukum pidana Indonesia dapat digunakan untuk menghukum seorang

warga negara asing yang memalsukan uang negaranya yang kemudian

melarikan diri ke Indonesia, di mana negara tersebut tidak mempunyai

perjanjian mengenai ekstradisi dengan Indonesia.

Kejahatan pemalsuan mata uang dan uang kertas diatur dalam Pasal 244 s.d. 252

KUHP, ditambah Pasal 250bis. Pasal 248 telah dihapus melalui Stb Tahun 1938

Nomor 593. Di antara pasal-pasal itu ada 7 pasal yang merumuskan tentang

kejahatan, yakni: 244, 245, 246, 247, 249, 250, 251. 32 Pada pembahasan skripsi

ini akan dibahas mengenai Pasal 244 dan Pasal 245 KUHP saja.

A. Meniru dan Memalsu Uang (Pasal 244 KUHP)

Pasal 244 merumuskan sebagai berikut:

Barangsiapa meniru atau memalsu mata uang atau uang kertas yang dikeluarkan oleh negara atau bank, dengan maksud untuk mengedarkan atau menyuruh mengedakan mata uang atau uang kertas itu sebagai yang asli dan tidak dipalsu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.

Apabila dirinci rumusan tersebut terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut:

a. Unsur-unsur objektif:

1) Perbuatan:

a) meniru;

b) memalsu;

32 Ibid.

33 Ibid., hal 22-28.

33

Universitas Sumatera Utara

2) Objeknya:a) mata uang;

b) uang kertas negara;

c) uang kertas bank;

b. Unsur subjektif yaitu dengan maksud untuk:

1)

mengedarkan; atau

2)

menyuruh mengedarkan mata uang dan uang kertas itu seolah-olah asli

dan tidak dipalsu.

A.1. Perbuatan Meniru

Perbuatan meniru (namaken) adalah membuat sesuatu yang menyerupai

atau seperti yang asli dari sesuatu itu. 34 Dalam kejahatan ini sesuatu yang ditiru

itu adalah mata uang dan uang kertas, meniru diartikan sebagai membuat mata

uang (uang logam) atau uang kertas yang menyerupai atau mirip dengan mata

uang atau uang kertas yang asli. Untuk adanya perbuatan ini disyaratkan harus

terbukti ada yang asli atau yang ditiru. Membuat mata uang atau uang kertas

yang tidak ada yang asli atau yang ditiru, tidak termasuk dalam pengertian

meniru.

Misalnya

membuat

lembaran

uang

kertas

dengan

nominal

Rp

11.000,00. Walaupun pada pembuatnya terkandung maksud untuk mengedarkan

atau menyuruh mengedarkannya, perbuatan membuat uang itu tidak termasuk

perbuatan

yang

dilarang

oleh

ketentuan

ini,

karena

perbuatan

itu

bukan

perbuatan meniru.

 

Dalam perbuatan meniru terkandung pengertian bahwa orang

yang

meniru tersebut tidak berhak (melawan hukum) untuk melakukan perbuatan

34 Ibid, hlm.23.

Universitas Sumatera Utara

membuat mata uang atau uang kertas. Oleh sebab itu juga termasuk pengertian

meniru dalam hal seperti:

a) Seorang mencuri peralatan pembuat uang dan bahan-bahan pembuat uang.

Dengan peralatan dan bahan itu ia membuat uang. Karena dibuat dengan

bahan dan dengan peralatan yang sama, maka uang yang dibuatnya ini

adalah sama dan tidak berbeda dengan uang asli. Walaupun demikian uang

yang dibuatnya ini tetap sebagai uang palsu (tidak asli). Membuat uang

dengan cara demikian adalah termasuk perbuatan meniru.

b) Orang/badan yang menurut peraturan berhak membuat atau mencetak

uang,

namun

ia

membuat

uang

melebihi

dari

jumlah

yang

diperintahkan/menurut ketentuan. Maka membuat/mencetak uang lebih

dari ketentuan tadi adalah berupa perbuatan meniru. Walaupun uang

yang dihasilkannya secara fisik adalah sama persis seperti uang aslinya,

tetap juga termasuk pengertian uang palsu (tidak asli).

Dipidana atau tidaknya bagi orang ini, bergantung sepenuhnya pada

bagaimana sikap batinnya. Bila dalam dirinya ada kesengajaan untuk membuat

uang

melebihi

yang

ditentukan

yang

menjadi

wewenangnya,

dan

adanya

masksud untuk mengedarkan atau menyuruh mengedarkannya, sudah termasuk

larangan dalam pasal ini. Sebaliknya bila ia dalam membuat uang melebihi dari

yang ditentukan itu karena lalai atau lupa belaka, dan tentunya tidak terkandung

maksud untuk mengedarkan atau menyuruh mengedarkannya seolah-olah asli

dan tidak dipalsu, maka membuat uang melebihi dari ketentuan tadi tidak

termasuk larangan menurut ketentuan Pasal 244.

Universitas Sumatera Utara

Dalam pengertian perbuatan meniru, tidak mempedulikan tentang nilai

bahan yang digunakan dalam membuat uang itu apakah lebih rendah atau lebih

tinggi dari bahan pada uang yang asli. Dengan kata lain apabila uang hasil dari

perbuatan meniru nilai bahannya lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai uang

kertas yang asli, tetap saja perbuatan sepeti itu dipidana sebagai perbuatan

meniru, jika dalam meniru itu terkandung maksud untuk mengedarkan atau

menyuruh mengedarkan seolah-olah uang kertas asli dan tidak dipalsu.

A.2. Perbuatan Memalsu

Berbeda dengan perbuatan meniru yang berupa perbuatan menghasilkan

suatu mata uang atau uang kertas baru (tapi palsu atau tidak asli), yang artinya

sebelum perbuatan dilakukan sama sekali tidak ada uang. Pada perbuatan

memalsu (vervalschen) sebelum perbuatan dilakukan sudah ada uang (asli).

Pada uang asli ini dilakukan perbuatan menembah sesuatu baik tulisan, gambar

maupun warna, menambah atau mengurangi bahan pada mata uang sehingga

menjadi lain dengan yang asli. Tidak menjadi syarat apakah dengan demikian

uang kertas atau mata uang itu nilainya menjadi lebih rendah ataukah menjadi

lebih tinggi. Demikian juga tidak merupakan syarat bagi motif apa ia melakukan

perbuatan

itu.

Apabila

terkandung

maksud

untuk

mengedarkannya

atau

menyuruh mengedarkannya sebagai uang asli dan tidak dipalsu, maka perbuatan

itu termasuk perbuatan yang dilarang dan dipidana. 35

Kejahatan

Pasal

244

dirumuskan

secara

formil,

maksudnya

ialah

melarang melakukan perbuatan tertentu, dan tidak secara tegas menimbulkan

35 Ibid, hlm.25.

Universitas Sumatera Utara

akibat tertentu.

Sebagai tindak pidana formil, terwujudnya atau selesainya

kejahatan ini bergantung pada selesainya perbuatan meniru atau memalsu.

Untuk

dapat

selesai

atau

terwujudnya

perbuatan

meniru

atau

memalsu

diperlukan suatu syarat yakni hasil atau akibat dari perbuatan. Perbuatan meniru

menghasilkan mata uang atau uang kertas yang palsu atau tidak asli, sedang dari

perbuatan memalsu menghasilkan mata uang atau uang kertas yang dipalsu.

A.3. Mata Uang dan Uang Kertas

Uang

adalah

suatu

benda

yang

wujudnya

sedemikian

rupa

yang

digunakan

sebagai

alat

pembayaran

yang

sah

dan

berlaku

pada

saat

peredarannya. Sah dalam arti yang menurut peraturan yang dikeluarkan oleh

lembaga yang berwenang. Lembaga yang berwenang ini adalah negara atau

badan yang ditunjuk oleh negara seperti bank.

Uang terdiri dari mata uang dan uang kertas. Mata uang berupa uang

yang terbuat dari bahan logam seperti emas, tembaga perak dan lain sebagainya.

Uang kertas adalah uang yang terbuat dari lembaran kertas. Uang kertas

dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yakni uang kertas negara dan uang kertas

bank. Uang kertas negara adalah uang kertas yang dikeluarkan oleh negara, dan

uang kertas bank adalah uang kertas yang dikeluarkan oleh suatu bank yang

ditunjuk pemerintah. Di Indonesia bank yang ditunjuk oleh pemerintah ini

adalah Bank Indonesia.

A.4. Maksud untuk: a) Mengedarkan dan b) Menyuruh Mengedarkan

Mata Uang atau Uang Kertas Itu sebagai Asli dan Tidak Dipalsu

Universitas Sumatera Utara

Unsur kesalahan dalam kejahatan peniruan dan pemalsuan mata uang

dan uang kertas negara maupun uang kertas bank sebagaimana yang dirumuskan

dalam Pasal 244 KUHP adalah unsur kesengajaan sebagai maksud (opzet als

oogmerfk) berupa kesalahan dalam arti yang sempit. Pelaku dalam melakukan

perbuatan meniru dan memalsu uang kertas negara atau uang kertas bank atau

mata uang, didorong oleh suatu kehendak (maksud) yang ditujukan untuk

mengedarkan atau menyuruh orang lain mengedarkan mata uang atau uang

kertas negara atau uang kertas bank palsu (uang kertas yang tidak asli) atau uang

kertas negara atau uang kertas bank atau mata uang yang dipalsu tersebut

sebagai uang kertas negara atau uang kertas bank atau mata uang asli dan tidak

dipalsu.

Memperhatikan unsur kesalahan dalam rumusan Pasal 244 KUHP, dapat

disimpulkan bahwa: a) di samping pelaku menghendaki untuk mengedarkan

atau menyuruh mengedarkan; dan b) juga ia harus mengetahui atau mata uang

atau uang kertas itu adalah tidak asli atau dipalsu. Tidak asli atau palsunya itu

diketahuinya

sebagai

hasil

dari

perbuatannya

sendiri

berupa

meniru

atau

memalsu.

Kesadaran pelaku juga harus ditujukan pada palsunya uang, sedangkan

penyebab palsunya itu disadarinya sebagai hasil dari perbuatannya sendiri, maka

sikap batin pelaku terhadap perbuatan meniru atau memalsu yang menghasilkan

tidak asli atau palsunya mata uang atau uang kertas itu adalah sikap batin

sebagaimana

yang

dimaksud

oleh

unsur

kesengajaan

yang

menurut

MvT

sebagai willens en wetens. Oleh karena itu, walaupun secara formal tidak

Universitas Sumatera Utara

dicantumkan unsur kesengajaan terhadap perbuatan meniru atau memalsu,

secara

tersirat

unsur

kesengajaan

terhadap

kedua

perbuatan

materil

itu

sesungguhnya ada. Kesengajaan terhadap kedua perbuatan itu adalah berupa

unsur yang terselubung.

Oleh karena unsur kesengajaan yang ditujukan pada perbuatan meniru

atau memalsu tidak dicantumkan dalam rumusan, kesengajaan yang ditujukan

pada perbuatan itu tidak perlu dibuktikan. Cukup membuktikan bahwa telah

terjadinya perbuatan, maka dianggap unsur kesengajaan itu telah terbukti pula.

Berdasarkan

pada

pandangan

ini,

hal

yang

tidak

mungkin

terjadi

pada

pemalsuan uang yang dilakukan oleh sebab atau kelalaian (culpa). 36

Perbuatan mengedarkan atau menyuruh mengedarkan uang palsu tidak

perlu telah terwujud. Perihal mengedarkan atau menyuruh mengedarkan adalah

berupa apa yang dituju oleh maksud pelaku belaka, berupa unsur subjektif.

Selesainya kejahatan ditentukan oleh perbuatan meniru atau memalsu, bukan

pada telah terjadinya perbuatan mengedarkan atau menyuruh mengedarkan.

Uang palsu yang telah diedarkan tidak termasuk kejahatan Pasal 244 KUHP

tetapi masuk dalam kejahatan Pasal 245 KUHP.

B. Mengedarkan Uang Palsu (Pasal 245 KUHP)

Pasal 245 KUHP merumuskan sebagai berikut:

Barangsiapa dengan sengaja mengedarkan mata uang atau uang kertas yang dikeluarkan oleh negara atau bank sebagai mata uang atau uang kertas asli dan tidak dipalsu, padahal ditiru atau dipalsu olehnya sendiri, atau waktu diterima diketahuinya bahwa tidak asli atau dipalsu, ataupun barangsiapa menyimpan

36 Ibid, hlm.28.

Universitas Sumatera Utara

atau memasukkan ke Indonesia mata uang dan uang kertas yang demikian, dengan maksud untuk mengedarkan atau menyuruh mengedarkan sebagai uang asli dan tidak dipalsu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.

Dalam rumusan Pasal 245 tersebut di atas, ada 4 (empat) bentuk kejahatan

mengedarkan uang palsu, yaitu: 37

1. Melarang orang yang dengan sengaja mengedarkan mata uang atau uang

kertas negara atau uang kertas bank palsu sebagai mata uang atau uang

kertas asli dan tidak dipalsu, uang palsu mana ditiru atau dipalsu olehnya

sendiri.

Unsur-unsur objektif:

1)

Perbuatan: mengedarkan sebagai asli dan tidak dipalsu;

2)

Objeknya:

a) mata uang tidak asli atau dipalsu;

b) uang kertas negara tidak asli atau dipalsu;

c) uang kertas bank tidak asli atau dipalsu;

3)

Tidak asli atau palsunya uang itu karena ditiru atau dipalsu olehnya

sendiri;

Unsur subjektif:

4)

Dengan sengaja.

2. Melarang orang yang waktu menerima mata uang atau uang kertas negara

atau

uang

kertas

bank

diketahuinya

sebagai

palsu,

dengan

sengaja

mengedarkannya sebagai mata uang atau uang kertas asli dan tidak dipalsu.

37 Ibid., hal 29-33.

Universitas Sumatera Utara

Unsur-unsur objektif:

1)

Perbuatan: mengedarkan sebagai asli dan tidak dipalsu;

2)

Objeknya: a)

mata uang tidak asli atau dipalsu;

b) uang kertas negara tidak asli atau dipalsu;

c) uang kertas bank tidak asli atau dipalsu;

3) Yang tidak asli atau palsunya itu diketahuinya pada saat diterimanya;

3.

Unsur subjektif:

4)

Dengan sengaja.

Melarang orang yang dengan sengaja menyimpan atau memasukkan ke

Indonesia mata uang atau uang kertas negara atau uang kertas bank palsu,

yang mana uang palsu itu ditiru atau dipalsu oleh dirinya sendiri dengan

maksud untuk mengedakan atau menyuruh mengedarkan sebagai uang asli

dan tidak dipalsu.

Unsur-unsur objektif:

1)

Perbuatan: a)

menyimpan;

b)

memasukkan ke Indonesia;

2)

Objeknya: a)

mata uang tidak asli atau dipalsu;

b) uang kertas negara tidak asli atau dipalsu;

c) uang kertas bank tidak asli atau dipalsu;

3) Yang ditiru atau dipalsu olehnya sendiri;

Unsur subjektif:

4)

Dengan

maksud

untuk

mengedarkan

atau

sebagai asli dan tidak dipalsu.

menyuruh

mengedarkan

Universitas Sumatera Utara

4.

Melarang orang yang dengan sengaja menyimpan atau memasukkan ke

Indonesia mata uang atau uang kertas negara atau uang kertas bank yang

pada waktu diterimanya diketahuinya sebagai uang palsu, dengan maksud

untuk mengedarkan atau menyuruh mengedarkan seperti uang asli dan tidak

dipalsu.

Unsur-unsur objektif:

1)

Perbuatan: a)

menyimpan;

b)

memasukkan ke Indonesia;

2)

Objeknya: a)

mata uang tidak asli atau dipalsu;

b)

uang kertas negara palsu (tidak asli) atau dipalsu;

c)

uang kertas bank tidak asli atau dipalsu;

3) Yang tidak asli atau palsunya itu diketahuinya pada saat menerimanya.

Unsur subjektif:

4) Dengan maksud untuk mengedarkannya atau menyuruh mengedarkan

sebagai uang asli dan tidak dipalsu.

Bentuk

pertama

dan

kedua

memiliki

persamaan

dan

perbedaan.

Persamaannya

terletak

pada

unsur-unsur

perbuatan,

objeknya

dan

unsur

kesengajaan.

Perbedaannya,

pada bentuk

pertama

ialah tidak

aslinya atau

palsunya uang itu disebabkan perbuatan meniru atau memalsu yang dilakukan

olehnya sendiri. Berarti dalam bentuk pertama, sebelum perbuatan menegdarkan

dilakukan, terlebih dahulu pelaku melakukan perbuatan meniru atau memalsu,

perbuatan mana sama dengan perbuatan dalam Pasal 244. Sedangkan pada

Universitas Sumatera Utara

bentuk kedua, tidak aslinya atau palsunya uang itu bukan disebabkan oleh

perbuatan pelaku, tetapi oleh orang lain selain pelaku. Orang lain ini tidak perlu

diketahuinya, melainkan pada waktu menerima uang itu ia mengetahui bahwa

uang itu tidak asli atau dipalsu. Pengetahuannya itu harus ditujukan pada tidak

asli atau palsunya uang dan bukan pada si pembuat palsunya uang. 38

Kemudian bentuk ketiga dan bentuk keempat juga memiliki persamaan

dan perbedaan. Persamaannya terletak pada unsur-unsur perbuatan, objeknya

dan unsur subjektif. Perbedaannya sama dengan bentuk pertama, bahwa pada

bentuk ketiga tidak asli atau palsunya uang itu disebabkan oleh perbuatan

meniru

atau

memalsu

yang

dilakukannya

sendiri.

Berarti sebelum pelaku

melakukan perbuatan menyimpan atau memasukkan ke Indonesia, ia terlebih

dahulu melakukan perbuatan meniru atau memalsu terhadap uang itu. Pada

bentuk ketiga selain harus terbukti perbuatan menyimpan atau memasukkan ke

Indonesia, juga harus terbukti adanya perbuatan meniru atau memalsu yang

dilakukan oleh orang yang sama.

Sedangkan pada

bentuk

keempat,

pelaku

tidak

melakukan perbuatan

meniru atau memalsu terhadap uang itu, yang melakukannya adalah orang lain,

dan orang lain itu tidak perlu diketahui olehnya, melainkan pelaku pada waktu

menerima

uang

itu

mengetahui

bahwa

uang

itu

tidak

asli

atau

dipalsu.

Pengetahuan perihal tidak aslinya atau palsunya uang itu harus ada sebelum ia

melakukan perbuatan menyimpan atau memasukkan ke Indonesia. Berarti dalam

hal ini ada 2 (dua) sikap batin, yaitu ia mengetahui tentang tidak aslinya atau

38 Ibid.

Universitas Sumatera Utara

palsunya uang yang diterimanya, dan yang kedua sikap sengaja yang ditujukan

pada perbuatan mengedarkan atau menyuruh mengedarkan uang palsu sebagai

asli dan tidak dipalsu.

Jika terjadi kejahatan bentuk pertama atau bentuk ketiga dengan sendirinya

telah juga terjadi kejahatan Pasal 244. oleh karena bentuk pertama dan bentuk

ketiga kejahatan Pasal 245 yang melarang perbuatan mengedarkan, menyimpan

dan memasukkan ke Indonesia uang palsu (tidak asli atau dipalsu) hasil dari

perbuatan meniru atau memalsu dalam kejahatan Pasal 244 yang artinya telah

terjadi 2 (dua) kejahatan sekaligus, dipandang dari sudut ini tampaknya tidak

adil menetapkan ancaman pidana yang sama (maksimum 15 tahun penjara) bagi

Pasal 244 dan Pasal 245. Bukankah kejahatan Pasal 245 lebih berat dari

kejahatan Pasal 244, karena di dalam kejahatan Pasal 245 ada kejahatan Pasal

244, dan tidak ada kejahatan Pasal 245 di dalam kejahatan Pasal 244.

Delik tersebut di atas yang mencantumkan syarat “dengan maksud untuk

mengedarkan atau

dalam

hal

uang

menyuruh mengedarkan” dapat

melemahkan penuntutan

palsu

dimaksud

belum

diedarkan.

Seyogianya

dengan

terpenuhinya unsur meniru atau memalsu uang, maka delik tersebut telah

memenuhi unsur pemalsuan uang. Sedangkan unsur mengedarkan seyogianya

merupakan unsur yang memberatkan.

Dalam melihat kasus pemalsuan uang rupiah, hendaknya tidak terfokus

pada timbulnya kerugian setelah uang palsu itu diedarkan, akan tetapi haruslah

dilihat pula dari sisi lain, yaitu bahwa uang rupiah merupakan salah satu simbol

Universitas Sumatera Utara

kenegaraan, sehingga tindakan pemalsuan uang rupiah dapat pula dianggap

sebagai kejahatan terhadap simbol negara. Oleh karena itu, meskipun belum

diedarkannya uang palsu dimaksud seyogianya tidak menjadi alasan yang

meringankan hukuman karena terdakwa belum menikmati hasil kejahatannya.

Seharusnya, yang menjadi fokus adalah dengan telah selesainya perbuatan

memalsukan uang rupiah, maka kejahatan tersebut telah selesai dilakukan.

Berkaitan dengan hal itu, maka perbuatan mengedarkan uang palsu seharusnya

adalah delik yang berdiri sendiri (terpisah dari perbuatan memalsukan uang),

sehingga apabila pelaku pemalsuan uang juga sekaligus mengedarkan uang

palsu tersebut, maka hukumannya harus lebih berat.

Melihat dampak dari kejahatan terhadap mata uang, maka dalam Undang

Undang tentang Mata Uang kelak, perlu dicantumkan ancaman pidana dan

denda minimal agar tujuan pemidanaan lebih efektif yaitu untuk menimbulkan

efek jera dapat dicapai. 39

Namun, saat ini Pasal 244 dan 245 KUHP tersebut sebenarnya sudah tidak

sesuai lagi dengan perkembangan di Indonesia, di mana perlu disesuaikan

bahwa uang kertas yang dikeluarkan oleh Pemerintah sudah tidak ada lagi.

Hanya ada uang kertas yang dikeluarkan oleh Bank (dalam hal ini Bank

Indonesia) yang sah sebagai alat pembayaran di Negara kita (sebagaimana

kewenangan Bank Indonesia sebagai bank sentral untuk mengeluarkan dan

39 Direktorat Hukum Bank Indonesia, “Perlunya Paradigma Baru dalam Pemberantasan Pemalsuan Uang dan Pengedaran Uang Palsu”, makalah dalam Seminar Kejahatan terhadap Mata Uang dan Upaya Penegakan Hukumnya di Wilayah Sumatera Utara pada tanggal 14 Januari 2006 di Biro Rektor USU Medan, hal. 6-7.

Universitas Sumatera Utara

mengedarkan uang kertas rupiah yang berlaku saat ini dalam Pasal 2 Undang-

undang No.3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia).

Dari berbagai kasus kejahatan pemalsuan mata uang rupiah, hukuman

pidana yang dijatuhkan kepada para pelaku berdasarkan peraturan perundang-

undangan yang berlaku saat ini relatif rendah, padahal patut untuk dipahami

bahwa kejahatan pemalsuan uang nampaknya sebagian besar merupakan: 40

a) Kejahatan

yang

sifatnya

tidak

berdiri

sendiri

namun

merupakan

kejahatan yang terorganisir dengan baik, bahkan sangat mungkin

merupakan kejahatan yang bersifat transnasional;

b) Pelaku

kejahatan

pemalsuan

mata

uang

rupiah

pada

umumnya

dilakukan oleh para residivis.

Hal

ini kemungkinan dikarenakan

hukuman yang dijatuhkan bagi para pelaku sangat ringan;

c) Pemalsuan terhadap mata uang memerlukan suatu proses yang cukup

rumit, oleh karena itu biasanya pelaku kejahatan pemalsuan uang

tersebut dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian khusus.

Oleh karena itu, kejahatan pemalsuan mata uang rupiah perlu diberi

hukuman yang berat (setimpal) dengan mempertimbangkan lamanya jangka

waktu beredarnya suatu emisi uang rupiah. Hukuman bagi pemalsu uang

dikaitkan dengan jangka waktu edar suatu emisi uang agar para pemalsu

tersebut setelah menjalani hukuman tersebut tidak dapat melakukan pemalsuan

lagi terhadap uang rupiah dengan emisi yang sama. Selain itu, pidana penjara

40 Ibid, hal. 7-8.

Universitas Sumatera Utara

saja tidak cukup untuk menimbulkan efek jera, oleh karena itu terhadap para

pemalsu uang perlu ditambahkan

hukuman lain yaitu

berupa penggantian

kerugian materil yang diakibatkan oleh kejahatan tersebut. 41

Mengenai perlunya penanganan hukum yang tegas bagi para pelaku

kejahatan pemalsuan uang (termasuk para pengedarnya), dalam sambutan beliau

di

Karawang,

Presiden

Susilo

Bambang

Yudhoyono

secara

tegas

menginstruksikan

kepada

kepolisian

dan

penegak

hukum

lainnya

untuk

memproses tindak pidana pemalsuan uang dan pengedarannya dengan sungguh-

sungguh dalam menjatuhkan sanksi yang tegas dan tepat. Karen presidin

memiliki perhatian yang sangat besar terhadap kejahatan yang sangat merugikan

perekonomian negara. Selengkapnya dapat dikutp pernyataan presiden sebagai

berikut: “Oleh karena itulah, merespons terjadinya kejahatan pembuatan uang

palsu, saya minta kepada pihak kepolisian dan penegak hukum lainnya untuk

memprosesnya dengan sungguh-sungguh, berikan sanksi yang tegas dan tepat,

karena sangat, sangat merugikan perekonomian negara kita”. 42

41 Ibid, hal. 8. 42 Ibid.

Universitas Sumatera Utara