Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Karena sifat dan karakteristiknya yang unik, kayu merupakan bahan yang paling banyak digunakan untuk keperluan konstruksi. Kebutuhan manusia akan kayu sebagai bahan bangunan baik untuk keperluan konstruksi, dekorasi, maupun furniture terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Kebutuhan kayu untuk industri perkayuan di Indonesia diperkirakan sebesar 70 juta m3 per tahun dengan kenaikan rata-rata sebesar 14,2 % per tahun sedangkan produksi kayu bulat diperkirakan hanya sebesar 25 juta m3 per tahun, dengan demikian terjadi defisit sebesar 45 juta m3 (Priyono, 2001). Disisi lain besarnya produksi padi di Indonesia juga akan menghasilkan limbah sekam yang melimpah. Selama ini limbah sekam digunakan untuk pembakaran batu bata dan abunya digunakan untuk abu gosok. Dengan mengoptimalkan keunggulan sifatnya, limbah sekam dapat digunakan untuk pembuatan panel komposit (Herina, 2005 dalam M. Nugroho, 2009). Sekam padi adalah bagian terluar dari butir padi, yang merupakan hasil sampingan saat proses penggilingan padi dilakukan. Sekitar 20 % dari bobot padi adalah sekam padi (Hara, 1986 dalam Murdiyono, 2009). Di lain pihak, seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus meningkat. Sebagai konsekuensinya peningkatan limbah plastik pun tidak terelakkan. Limbah plastik merupakan bahan yang tidak dapat

terdekomposisi oleh mikroorganisme pengurai (non biodegradable), sehingga penumpukkannya di alam dikhawatirkan akan menimbulkan masalah lingkungan (Setyawati, 2003). Perkembangan teknologi, khususnya di bidang papan komposit telah menghasilkan produk komposit yang merupakan gabungan antara serbuk kayu dengan plastik daur ulang. Teknologi ini berkembang pada awal 1990-an di Jepang dan Amerika Serikat. Dengan teknologi ini dimungkinkan pemanfaatan

2 serbuk kayu dan plastik daur ulang secara maksimal, dengan demikian akan menurunkan jumlah limbah yang dihasilkan (Setyawati, 2003). Perkembangan teknologi material komposit yang demikian pesat telah menjadi alternatif baru yang sangat diminati dalam teknologi bahan. Material komposit memiliki sifat khas yang utama yaitu ringan. Oleh sebab itu sifat kekuatan dan kekakuan spesifiknya tinggi. Material komposit diproyeksikan menjadi material pengganti bahan-bahan struktural konvensional seperti logam dan kayu. Selain dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu, pembuatan komposit dengan menggunakan matriks dari plastik yang telah didaur ulang juga dapat mengurangi pembebanan lingkungan terhadap limbah plastik disamping menghasilkan produk inovatif sebagai bahan bangunan pengganti kayu. Kebanyakan polimer, terutama termoplastik adalah substansi non-polar (hidrofobik) yang tidak sesuai dengan serat kayu yang bersifat polar (hidrofilik). Oleh karena itu menghasilkan komposit polimer dan serat kayu dengan daya rekat antara polimer dan serat kayu yang kecil. Dalam rangka meningkatkan afinitas dan adhesi antara serat kayu dan matriks termoplastik dalam produksi, maka ditambahkanlah coupling agent. Coupling agent adalah zat yang digunakan dalam jumlah kecil untuk merubah permukaan suatu bahan sehingga terjadi ikatan dengan permukaan lain, misalnya kayu dan termoplastik (Pritchard, 1998). Coupling agent dapat digunakan sebagai bahan penghubung untuk meningkatkan adhesi antarmuka dengan matriks untuk memperbaiki penyebaran partikel dan penurunan sifat penyerapan air pada komposit yang dihasilkan (Bledzki, 2003).

1.2 Perumusan Masalah Kebutuhan kayu yang terus meningkat dan potensi hutan yang terus berkurang menuntut penggunaan kayu secara efisien dan bijaksana, antara lain dengan memanfaatkan limbah biomassa berupa serbuk kayu dan sekam padi serta plastik daur ulang menjadi produk yang bermanfaat. Dengan melimpahnya limbah padat hasil olahan produk pertanian khususnya di Aceh maka pemanfaatan limbah

3 padat tersebut akan sangat berguna dari segi ekonomis maupun dari segi lingkungan yaitu pengurangan jumlah limbah yang terbuang langsung ke tanah dan akan mencemari lingkungan. Pada beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan pembuatan papan komposit dengan menggunakan bahan baku limbah pertanian dengan plastik polietilen baik High Density Poly Ethylene (HDPE) maupun Low Density Poly Ethylene (LDPE) tanpa penambahan coupling agent. Dalam penelitian ini akan dibuat papan komposit dengan mencampurkan limbah padat serbuk kayu dan sekam padi dengan plastik daur ulang jenis High Density Poly Ethylene (HDPE) serta dengan penambahan coupling agent yaitu Maleic Anhidride (MA) untuk meningkatkan ikatan antarmuka antara filler dan matriks.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk komposit (papan komposit) dengan menggunakan bahan-bahan limbah padat produksi pertanian yaitu serbuk kayu dan sekam padi serta limbah plastik daur ulang jenis polietilen. Sedangkan tujuan khususnya adalah untuk mengetahui pengaruh variabel proses yaitu jenis limbah padat yang digunakan (serbuk kayu dan sekam padi), ukuran partikel dan perbandingan komposisi berat filler serta matriks terhadap kualitas kayu komposit yang dihasilkan untuk mendapatkan kondisi optimum dari variabel tersebut dalam menghasilkan produk yang berkualitas terbaik. 1.3.2 Manfaat Penelitian Diharapkan penelitian ini dapat memberikan gagasan terbaru dalam memanfaatkan limbah padat pertanian dan limbah plastik untuk menghasilkan kayu komposit yang berguna baik secara ekonomis maupun pengurangan jumlah limbah yang terbuang dari segi lingkungan.