Anda di halaman 1dari 15

Kemahiran Berbahasa

Pengertian
Yang dimaksud dengan kemahiran berbahasa disini ialah kesanggupan seseorang menggunakan bahasa dalam berkominikasi. Jika seseorang mempunyai kemampuan menggunakan bahan untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya secara efektif dan efisien kepada orang lain, dan dia sanggup pula memahami amanat yang disampaikan oleh orang lain kepadanya melalui bahasa, berarti orang tersebut mempunyai kemahiran berbahasa. Kemahiran berbahasa meliputi kemahiran berbicara, mendengar, menulis, dan membaca. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam bab ini akan kita bicarakan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan kalimat efektif, alinea atau paragraf, ragam karangan ilmiah, diskusi dengan segala ragamnya, serta tipe pemimpin dan peserta diskusi yang dianggap baik.

Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis, serta sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis. Kalimat efektif mudah ditangkap dan mudah dipahami, dan mempunyai potensi untuk tampil lebih hidup dan lebih segar.

Syarat Kalimat Efektif


Syarat kalimat effektif : 1. Dilihat dari segi pembicara atau penulis, kalimat efektif menghendaki syarat berupa penguasaan kaidah sintaksis (tata kalimat) dan beberapa aspek kebahasaan esensial lainnya, antara lain penguasaan secara aktif sejumlah besar kosa kata (perbendaharaan kata) dan kemampuan menemukan gaya yang paling cocok untuk mengungkapkan atau menyampaikan gagasan. 2. Dilihat dari segi kalimat itu sendiri, kalimat efektif menghendaki syarat sebagai berikut: a. kesatuan gagasan yang jelas (kesatuan) 3. koherensi yang baik dan kompak (kepaduan) 4. penekanan yang wajar 5. paralelisme (kesejajaran) 6. logika (penalaran) 7. variasi (keanekaragaman)

Kesatuan Gagasan Yang Jelas


Kesatuan gagasan sebuah kalimat akan terwujud dengan baik apabila fungsi-fungsi ( jabatan-jabatan ) kalimat jelas. Untuk mewujudkan fungsi-fungsi kalimat yang jelas diperlukan: 1. kecermatan penggunaan kata tugas, 2. ketetapan pemakaian kata, 3. kecermatan penggabungan dua buah konstruksi atau lebih guna menghindari kontaminasi (kerancuan),dan 4. Ketepatan makna kalimat dengan menghindari kemungkinan penafsiran ganda. Perhatikan contoh berikut! (1.a) (1.b) (2.a) (2.b) (3.a) (3.b) (3.c) (4.a) Di desa-desa sudah banyak memiliki posyandu. (salah) Desa-desa sudah banyak memiliki posyandu. (benar) Bagi yang berminat mengikuti lomba ini diharap segera menghubungi panitia. (salah) Yang berminat mengikuti lomba ini harap segera menghubungi panitia. (benar) Jalan layang untuk mengatasi kemacetan lalu lintas kendaraan. (salah) Jalan layang mengatasi kemacetan lalu lintas kendaraan. (benar) Jalan layang dibuat untuk mengatasi kemacetan lalu lintas kendaraaan. (benar) Suami yang tidak bertanggung jawab itu tega membiarkan istri dan anaknya lahir di atas tikar usang yang sudah koyak. (salah) Bapak yang tidak bertanggung jawab itu tega membiarkan anaknya lahir di atas tikar usang yang sudah koyak. (benar) Suami yang tidak bertanggung jawab itu tega membiarkan istrinya melabirkan anak di atas tikar usang yang sudah koyak. (benar) Abas mendapat bagian dua puluh lima ribuan. (salah) Abas mendapat bagian dua puluh lima ribu rupiah. (benar) Abas mendapat bagian seratus ribu rupiah. (benar) Togop bersembunyi di kamar kecil itu. (salah) Togop bersembunyi di kamar sempit itu. (benar) Togop bersembunyi di kakus itu. (benar)

(4.b)

(4.c) (5.a) (5.b) (5.c) (6.a) (6.b) (6.c)

Koherensi Yang Baik dan Kompak


Koherensi atau perpautan adalah hubungan timbal balik antar unsur yang membangun kalimat. Koherensi dapat terwujud dengan tata urutan kata atau kelompok kata yang tepat dalam sebuah kalimat. Perhatikan contoh berikut! (7.a) (7.b) (8.a) (8.b) Tarmudi meninggalkan Surabaya bersama anak dan istrinya. (salah) Tarmudi bersama anak dan istrinya meninggalkan Surabaya. (benar) Kakek saya menikmati dengan sepuas-puasnya tadi pagi teh manis buatan ibu saya. (salah) Tadi pagi kakek saya menikmati teh manis buatan ibu saya dengan sepuas-puasnya. (benar)

Koherensi akan rusak oleh kesalahan penggunam kata tugas, pemakaian kata yang maknanya tumpang-tindih, pemakaian kata-kata yang maknanya kontradiktif, dan kesalahan penempatan keterangan aspek. Perhatikan contoh berikut! (9.a) (9.b) (10.a) Perbuatannya itu hanya akan mencemarkan bagi nama baik keluarga dan dirinya. (salah) Perbuatannya itu hanya akan mencemarkan nama baik keluarga dan dirinya sendiri. (benar) Banyak para pengamat berpendapat bahwa meliburkan anak sekolah bukan cara terbaik guna menyukseskan pemilu mendatang. (salah) Banyak pengamat berpendapat bahwa meliburkan anak sekolah bukan cara terbaik guna menyukseskan pemilu mendatang. (benar) Sering kita membuat suatu kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari. (salah) Kita sering membuat kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari. (benar) Saya sudah dengar berita itu kemarin siang. (salah) Sudah saya dengar berita itu kemarin siang. (benar) Mereka akan ambil sendiri barang-barang ini nanti sore. (salah) Akan mereka ambil sendiri barang-barang ini nanti sore. (benar)

(10.b) (11.a) (11.b) (12.a) (12.b) (13.a) (13.b)

Penekanan Yang Wajar


Penekanan yang wajar dapat dilakukan dengan jalan membubuhkan partikel penekan, mempergunakan repetisi, membuat pertentangan, dan menambahkan kata yang maknanya menyangatkan.

Perhatikan contoh berikut! (14.a) (14.b) (15.a) (15.b) (16.a) (16.b) (17.a) (17.b) (18.a) (18.b) (18.c) Pergi dia mengikuti kehendak hatinya. Pergilah dia mengikuti kehendak hatinya. Kamu suka kepadanya, aku suka kepadanya. Kamu suka kepadanya, aku pun suka kepadanya. Harapan kita begitu. Harapanmu begitu, harapanku juga begitu, harapan kita memang begitu. Ia seorang pemberani. la bukan seorang penakut, melainkan seorang pemberani. lstri Pak Ali cantik. Istri Pak Ali sangat cantik. lstri Pak Ali cantik sekali.

Penekanan yang berlebihan adalah salah, contoh: (18.d) Istri Pak Ali sangat cantik sekali.

Pararelisme
Paralelisme atau kesejajaran sangat penting artinya bagi kejelasan kalimat. Paralelisme diperlukan dalam kalimat-kalimat yang mengandung rincian. Untuk mewujudkan adanya kesejajaran, kata-kata yang merupakan rincian atas salah satu fungsi kalimat hendaknya dinyatakan dalam bentuk yang sama atau sejajar. Perhatikan contoh berikut! Cara menegaskan atau mementingkan sebuah kata dalam kalimat ialah pemutasian, penambahan partikel, menggarisbawahi kata tersebut, atau mengulang kata yang sama. (salah) Cara menegaskan atau mementingkan sebuah kata dalam kalimat ialah pemutasian, penambahan partikel, penggarisbawahan kata tersebut, atau pengulangan kata yang sama. (benar) Cara menegaskan atau mementingkan sebuah kata dalam kalimat ialah menggarisbawahi kata tersebut, mengulang kata yang sama, memutasikan, atau menambahkan partikel penekan. (benar)

(19.a)

(19.b)

(19.c)

(20.a)

Proyek raksasa itu membutuhkan dana yang besar, waktu yang lama, dan keterampilan para pekerjanya. (salah) Proyek raksasa itu membutuhkan dana yang besar, waktu yang lama, dan para pekerja yang terampil. (benar)

(20.b)

Logika ( Penalaran )
Kalimat yang efektif adalah kalimat yang memperlihatkan logika yang balk. Logika atau penalaran adalah proses berpikir yang baik dan teratur. Sebuah kalimat yang tidak menunjukkan keteraturan berpikir penuturnya adalah kalimat yang tidak efektif

Perhatikan contoh berikut! (21.a) Tina memang pandai menari, tetapi mendung yang hitam itu membuat orang ragu-ragu untuk bepergian. (salah) Tina memang pandai menari, tetapi ia tidak menjadi sombong karena kepandaiannya itu. (benar) Biasanya pada hari libur banyak orang bepergian, tetapi mendung yang hitam ini membuat orang ragu-ragu untuk bepergian. (benar) Pengunjung pergelaran musik Kantata Takwa hampir mencapai seratus dua puluh ribu orang lebih. (salah) Pengunjung pergelaran musik Kantata Takwa hampir mencapai seratus dua puluh ribu orang. (benar) Pengunjung pergelaran musik Kantata Takwa mencapai seratus dua puluh ribu orang lebih. (benar)

(21.b)

(21.c)

(22.a)

(22.b)

(22.c)

Variasi
Variasi sangat penting artinya dalam karangan yang panjang. Sebuah karangan yang monoton akan membosankan pembaca. Bila pembaca menjadi bosan dengan kalimat-kalimat yang kurang variatif, berarti secara keseluruhan karangan tersebut tidak efektif.

Variasi dalam sebuah karangan dapat berupa variasi panjang-pendek kalimat, variasi bentuk kalimat, variasi bentuk predikat, variasi pilihan kata, dan sebagainya. Perhatikan contoh berikut! (23.a) Selesai mengerjakan PR, lalu Andi membaca majalah, lain menggunting artikel yang menarik, lalu menempelkan guntingan itu pada sehelai kain. (salah) Setelah selesai mengerjakan PR, Andi membaca majalah, kemudian menggunting artikel yang menarik, lalu menempelkan guntingan itu pada sehelai kertas. (benar)

(23.b)

Alinea
Alinea, atau paragraf adalah seperangkat kalimat yang berkaitan satu sama lain, membentuk satu kesatuan untuk mengungkapkan atau mengemukakan satu gagasan pokok. Alinea mempunyai satu kesatuan pikiran yang lebih luas dari kalimat.

Sebuah alinea hanya memuat satu gagasan utama atau satu pikiran pokok. Jika kita hendak mengemukakan dua gagasan utama, kita harus menuangkannya dalam dua alinea yang berbeda. Gagasan utama biasanya didukung oleh beberapa gagasan bawahan, yang disebut juga pikiran penjelas.

Gagasan utama lazimnya dituang dalam sebuah kalimat topik, sedang pikiran penjelas dituang dalam kalimat-kalimat penjelas. Jadi, kalimat topik ialah kalimat yang memuat gagasan utama sebuah alinea, sedang kalimat penjelas ialah kalimat yang mengandung pikiran penjelas alinea itu.

Sebuah alinea yang kalimat topiknya terletak di bagian awal dinamakan alinea deduktif, sedang yang terletak di bagian akhir kalimat disebut alinea induktif. Jika kalimat topik sebuah alinea diletakkan di bagian awal kemudian diulang lagi di bagian akhir, alinea demikian dinamakan alinea campuran atau alinea induktif-deduktif

1. Contoh alinea deduktif:

Komunikasi umumnya tampil dalam bentuknya yang informatif, edukatif dan


persuasif maksudnya, komunikasi biasa digunakan orang untuk menyampaikan pesan, mendidik, atau mempengaruhi persepsi lawan bicara, sehingga terbentuk sikap dan bahkan opini baru.

2. Contoh alinea induktif:

Orang tua, siapa pun dia, janganlah menjajah anak. Sebaliknya anak patutlah selalu ingat hahwa sejahat-jahatnya orang tua, dia tidak akan sampai hati membunuh anak hanya karena haknya tidak dipenuhi oleh anak. Namun perlu sekali menyadari, bahwa orang tua selamanya menghendaki yang baik bagi anaknya, sekalipun harus diakui bahwa yang menurutnya baik itu, tidak selalu demikian menurut ukuran umum. Dengan demikian, yang perlu ialah bagaimana menciptakan cara terbaik untuk mencapai saling pengertian.
3. Contoh alinea campuran:

Mencari dasar baru yang kekal, aman, dan pasti, bukan perkara kecil Satu, langkah ke depan dalam hal ini sulit sekali. Sebaliknya, satu langkah ke belakang yang tanpa kita sadari mudah sekali terjadi Karena itu sering kita terjebak langkah mundur, dari sekarang itulah yang sedang kita alami.
Selain ketiga jenis alinea di atas, ada alinea yang tidak mempunyai kalimat topik. Gagasan nama alinea tersebut terdapat pada seluruh kalimat yang ada, yang satu sama lain menggambarkan keadaan tertentu. Alinea demikian lazimnya dinamakan alinea deskriptif.

Contoh alinea deskriptif : Hamparan sawah membentang luas. Padi menguning menunduk berayun-ayun, meliuk-liuk ditiup angin lembah, beromba-ombak bagai samudra. Dangau-dangau berpencaran. Bocahbocah bertepuk sorak dengan suara nyaring, mengusir kawanan-kawanan parkit yang berpesta pora memakarn bulir-bulir padi. Bukit yang membujur bagaikan raksasa tidur, membatas di kejauhan, berselimut mega seputih kapas, menambah asri pemandangan.

Ragam Karangan
Biasanya karangan dibedakan atas karangan fiktif dan karangan faktual. Yang pertama disebut fiksi, sedang yang kedua dinamakan nonfiksi. Fiksi umumnya hanya mengetengahkan hasil rekaan atau imajinasi atau khayal pengarang. Imajinasi tersebut sering pula didasarkan pada peristiwa sehari-hari sehingga ada kemungkinan dapat terjadi. Sebaliknya karangan nonfiksi menyajikan peristiwa secara apa adanya atau secara objektif. Bahasa fiksi biasanya bersifat konotatif dan subjektif, bahasa nonfiksi cenderung objektif dan denotatif.

Termasuk karangan fiktif ialah roman, novel, cerpen, kisah perjalanan, legenda, fabel, mite, dan hikayat. Sedang contoh karangan nonfiktif dapat kita kemukakan misalnya, resensi, skripsi, tesis, desertasi, laporan, paper atau makalah, yang semuanya termasuk karangan ilmiah

Yang dimaksud karangan ilmiah ialah karangan yang mengungkapkan buah pikiran hasil pengamatan, penelitian, atau peninjauan terhadap sesuatu yang disusun menurut metode dan sistematika tertentu, dan yang isi serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.

Cirt-ciri Karangan Ilmiah: (1) logis, maksudnya semua keterangan yang diketengahkan mempunyai alasan yang dapat diterima akal sistematis, yaitu semua yang dipaparkan disusun dalam urutan yang berkesinambungan objektif atau faktual, artinya keterangan yang dikemukakan didasarkan pada apa yang benarbenar ada atau sesuai dengan fakta teruji, artinya keterangan yang diberikan dapat diuji kebenarannya, dan ; bahasanya bersifat lugas atau denotatif.

(2) (3)

(4) (5)

Syarat-syarat Karangan Ilmiah: (1) (2) mengandung masalah serta pemecahannya masalah harus merangsang atau menarik perhatian pembaca

(3) (4)

lengkap dan tuntas, artinya membeberkan semua segi yang berkaitan dengan masalahnya disusun menurut sistem tertentu dan metode tertentu sehingga mudah dimengerti dan dipahami.

Yang tergolong karangan ilmiah antara lain: (1 Laporan ialah bentuk karangan yang berisi rekaman kegiatan tentang suatu yang sedang ) dikerjakan, digarap, diteliti, atau diamati, dan mengandung saran-saran untuk dilaksanakan. Laporan ini disampaikan dengan cara seobjektif mungkin. (2 Makalah ditulis oleh siswa atau mahasiswa sehubungan dengan tugas dalam bidang studi tertentu. ) Makalah dapat berupa hasil pembahasan buku atau hasil suatu pengamatan. (3 Kertas kerja adalah karangan yang berisi prasaran, usulan, atau pendapat yang berkaitan dengan ) pembahasan suatu pokok persoalan, untuk dibacakan dalam rapat kerja, seminar, simposium, dan sebagainya. (4 Skripsi, karya tulis yang diajukan untuk mencapai gelar sarjana atau sarjana muda. Skripsi ditulis ) berdasarkan studi pustaka atau penelitian bacaan, penyelidikan, observasi, atau penelitian lapangan sebagai prasyarat akademis yang harus ditempuh, dipertahankan dan dipertanggungjawabkan oleh penyusun dalam sidang ujian. (5 Tesis mempunyai tingkat pembahasan lebih dalam daripada skripsi. Pernyataan-pernyataan dan ) teori dalam tesis didukung oleh argumen-argumen yang lebih kuat, jika dibandingkan dengan skripsi. Tesis ditulis dengan bimbingan seorang dosen senior yang bertanngungjawab dalam bidang studi tertentu. (6 Desertasi ialah karangan yang diajukan untuk mencapai gelar doktor. yaitu gelar tertinggi yang ) diberikan oleh suatu univesitas. Penulisan desertasi ini di bawah bimbingan promotor atau dosen yang berpangkat profesor, dan isinya pembahasan masalah yang lebih kompleks dan lebih mendalam daripada persoalan dalam tesis. (7 Resensi ialah karya tulis yang berisi hasil penimbangan, pengulasan, atau penilaian sebuah buku. ) Resensi yang disebut juga timbangan buku atau book review sering disampaikan kepada sidang pembaca melalui surat kabar atau majalah. Tujuan resensi ialah memberi pertimbangan den penilaian secara objektif, sehingga masyrakat mengetahui apakah buku yang diulas tersebut patut dibaca ataukah tidak.

Contoh kutipan sebuah resensi

"Buku ini tidak mudah dibaca. Susunan yang kronologis, rangkaian kutipan, dan dokumen otentik membuatnya tergolong bacaan berat. Maksud penulis memang hanya, menyuguhkan fakta-fakta yang tercecer dalam kumpulan dokumen Amerika dan Belanda serta dalam, arsip-arsip Inggris dan Belanda." (8) Kritik dari bahasa Yunani kritikos yang berarti `hakim'. Kritik sebagai bentuk karangan berisi penilaian baik-buruknya suatu karya secara objektif. Kritik tidak hanya mencari kesalahan atau cacat suatu karya, tetapi juga menampilkan kelebihan atau keunggulan karya itu seperti adanya. Esai adalah semacam kritik yang lebih bersifat subjektif. Maksudnya apa yang dikemukakan

(9)

dalam esai lebih merupakan pendapat pribadi penulisnya.

Bentuk-bentuk Karangan
(1) Eksposisi atau paparan ialah salah satu bentuk wacana atau karangan yang bermaksud menjelaskan, mengembangkan, atau menerangkan suatu gagasan. Tujuannya untuk menambah pengetahuan pembaca tanpa berusaha untuk mengubah pendirian atau mempengaruhi sikap pembaca. Contoh:

Kantor Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang representatif, kini mulai dibangun di Palu, setelah tertunda dua tahun. Pembangunan kantor di Jalan Sam Ratulangi Palu Timur itu, direncanakan rampung 2 - 3 tahun mendatang, dengan biaya sekitar Rp 10 milyar. Demikian keterangan Sekwilda Sulteng, Amur Muchasim SH, Rabu (4/10) di Palu la menjelaskan, untuk tahap pertama, seta bangunan sayap dapat dirampungkan Februari 1996.

(2) Narasi adalah sejenis karangan atau cerita yang isinya mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa menurut urutan waktu atau secara kronologis. Kejadian yang dikisahkan dapat bersifat khayali atau faktual, atau gabungan dari keduanya. Narasi ini sering dimasukkan ke dalam golongan karangan fiktif, jadi tercakup di dalamnya ialah roman, novel, cerpen, hikayat, tambo, dan dongeng. Contoh:

1. "Sejak kecil orang tuanya sudah tiada, tetapi Tuhan telah menolongnya, sehingga kini ia menjadi orang yang berguna baik untuk diri sendiri maupun masyarakatnya.

2. "Beratus-ratus tahun Indonesia telah dljajah Belanda. Perang Dunia II pecah, dan Belanda di Indonesia kemudian takluk oleh Jepang, kini Jepanglah yang menguasai dan mengangkangi Indonesia. Ini tidak lama memang, karena Sekutu dapat mengalahkan Jepang dengan dibomnya Hiroshima dengan bom atom. Kesempatan baik ini tidak disia-siakan oleh bangsa Indonesia umuk memproklamirkan kemerdekaannya. Proklamasi itu dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hata, pada tangga 17 Agustus 1945."

(3) Deskripsi disebut juga lukisan, yaitu salah satu bentuk karangan yang menggambarkan suatu keadaan, kejadian, atau peristiwa sejelas mungkin sehingga pembaca mendapat kesan seperti melihat sendiri sesuatu yang digambarkan itu. (Lihat contoh paragraf deskriptif).

(4) Argumentasi adalah sebuah wacana yang berusaha meyakinkan atau membuktikan kebenaran suatu pernyataan, pendapat, sikap, atau keyakinan. Dalam Argumentasi ini, suatu gagasan atau pernyataan dikemukakan dengan alasan yang kuat dan meyakinkan sehingga orang yang membacanya akan terpengaruh untuk membenarkan pernyataan, pendapat, dan sikap yang diajukan. Contoh:

"Amin memang murid yang baik. Setiap hari la datang ke sekolah selalu lebih awal
dari teman-temannya. Semua pekerjaan rumah tidak ada yang tidak diselesaikannya. Kepada gurunya dan orang tua ia selalu bersikap hormat. Bahwa prestasi belajarnya juga jauh lebih baik dari teman-temannya dapat dilihat dalam rapornya yang tidak pernah ada angka merah, Tak ayal lagi ia akan menjadi mahasiswa yang baik. "

(5) Persuasi, ialah bentuk wacana yang tujuannya adalah meyakinkan, mengajak atau membangkitkan suatu tindakan dengan mengemukakan alasan-alasan yang kadang-kadang agak emosional. Jika argumentasi berusaha membuktikan kebenaran atau pernyataan melalui proses penalaran yang sehat, persuasi berusaha merebut perhatian dan membangkitkan tindakan terhadap pembacanya. Contoh: Semua orang tahu bahwa kebersihan adalah pangkal kesehatan. Namun demikian, masih banyak anggota masyarakat kita yang tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan. Inilah masalah yang sulit dipecahkan. Seandainya saja setiap anggota masyarakat peduli akan kebersihan di sekitar tempat tinggalnnya tentulah kualitas kesehatan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, marilah kita mencoba untuk menjadikan diri kita masing-masing peduli terhadap kebersihan lingkungan . Kesadaran ini dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk, diantaranya ialah

tidak membuang sampah sembarangan.

Persamaan dan Perbedaan Antara Eksposisi dan Argumentasi


a. Persamaan:

Sama-sama menjelaskan pendapat dan keyakinan penulis. Sama-sama memerlukan fakta yang diperkuat atau diperjelas dengan angka, peta, statistik, grafik, gambar, dan lain-lain. Sama-sama memerlukan analisis dan sintesis pada waktu mengupas sesuatu. Sama-sama menggali sumber ide melalui: - pengalaman - pengamatan dan penelitian - sikap dan keyakinan - daya khayal tidak digunakan

b. Perbedaan: Tujuan paparan hanya menjelaskan dan menerangkan, sehingga pembaca memperoleh informasi yang sejelas-jelasnya. Sedangkan argumentasi bertujuan mempengaruhi pembaca, sehingga pembaca akhirnya menyetujui bahwa pendapat, keyakinan, dan sikap penulis benar. Grafik, statistik, dan lain-lain pada paparan untuk menjelaskan. Sedangkan grafik, statistik dan lain-lain pada argumentasi untuk membuktikan. Pendahuluan pada paparan memperkenalkan topik dan tujuan yang akan dipaparkan. Sedangkan pendahuluan atau pembuka pada argumentasi berisi latar belakang dan sejarah persoalan, sistematika yang digunakan, pengertian persoalan, sera tujuan argumentasi.

Penutup pada akhir paparan biasanya manegaskan lagi apa yang telah diuraikan sebelumnya. Sedangkan pada akhir argumentasi biasanya menyimpulkan apa yang telah diuraikan sebelumnya.

Diskusi
Diskusi ialah percakapan yang sifatnya resmi, serius sesuai dengan aturan yang ada. Tujuannya untuk memahami masalah atau persoalan, mencari sebab-sebab sekaligus berusaha manemukan pemecahan atau jalan keluar bagi persoalan tersebut. Jadi, di dalam sebuah diskusi harus ada masalah yang dibahas. Ada peserta dan pemimpin, serta ada aturan dan disiplin. Sebuah diskusi perlu dipersiapkan. Persiapan ini meliputi penentuan topik atau pokok permasalahan, menetapkan pemimpin yang mempunyai pengetahuan luas, dan menentukan tempat serta waktunya. Seorang pemimpin diskusi yang baik harus (1) mengetahui langkah-langkah kegiatan, (2) memahami pokok masalah, (3) mengenal semua peserta, (4) berwibawa dan sabar, (5) mampu mengembangkan dan menjaga jalannya diskusi sehingga tidak terjadi benturan, (6) dapat menjaga suasana sehingga tidak berat sebelah.

Sebaliknya seorang peserta diskusi yang baik akan (1) mengadakan persiapan awal, (2) menyiapkan garis besar masalah sebelum diskusi berlangsung, (3) menjadi penyampai gagasan yang baik, (4) menghindari kata-kata kasar yang menyinggung perasaan lawan bicara, (5) berbicara secukupnya dan yang hanya berkaitan dengan masalah, (6) menjadi pendengar yang baik, dan (7) menghindarkan diri dari perdebatan yang emosional.

Tugas seorang pemimpin diskusi antara lain ialah (1) menetapkan topik atau pokok pembicaran dengan peserta, (2) menyiapkan garis besar atau kerangka diskusi, (3) membuka diskusi dengan membacakan rangkuman tentiang masalah dan sasaran yang ingin dicapai, (4) memimpin jalannya diskusi dengan sabar, jujur, dan tidak berat sebelah, (5) membuat rangkuman pembicaraan setiap peserta, (6) mengarahkan pembicaraan agar tidak menyimpang dari pokok permasalahan, dan, (7) menyimpulkan seluruh pembicaraan dalam diskusi.

Macam-macam Diskusi
(1) Diskusi Kelompok, yaitu diskusi yang terdiri atas beberapa kelompok orang, dan masing-masing kelompok mempunyai seorang ketua dan notulis. Tidak ada pendengar. (2) Diskusi Panel, ialah diskusi yang terdiri atas seorang pemimpin, sejumlah peserta, dan beberapa pendengar. Dalam jenis diskusi ini tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga pendengar dapat mengikuti jalannya diskusi dengan seksama. Setelah berlangsung tanya jawab antara pemimpin dan peserta, peserta dan pendengar, pemimpin merangkum hasil tanya-jawab atau pembicaraan, kemudian mengajak pendengar ikut mendiskusikan masalah tersebut sekitar separuh dari waktu yang tersedia (3) Seminar adalah pertemuan berkala yang biasanya diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa dalam rangka melaporkan hasil penelitiannya, dan umumnya di bawah bimbingan seorang dosen atau ahli. Tujuan diskusi jenis ini tidak untuk memutuskan sesuatu. Seminar dapat bersifat tertutup atau terbuka. Yang terakhir dapat dihadiri oleh umum, tetapi mereka tidak ikut berdiskusi, melainkan hanya bertindak sebagai peninjau. Untuk menyelenggarakan seminar harus dibentuk sebuah panitia. Pembicara yang ditentukan sebelumnya, umumnya menguraikan gagasan atau topiknya dalam bentuk kertas kerja.

(4) Simposium ialah pertemuan ilmiah untuk mengetengahkan atau membandingkan berbagai pendapat atau sikap mengenai suatu masalah yang diajukan oleh sebuah panitia. Uraian pendapat dalam simposium ini diajukan lewat kertas kerja yang dinamakan prasaran. Dan beberapa prasaran yang disampaikan dalam simposioum harus berhubungan. Orang yang mengajukan prasaran, yang dinamakan pemrasaran, berkewajiban (1) membuat makalah atau prasaran, (2) menepati waktu yang diberikan, (3) menjawab setiap pertanyaan dengan singkat dan tepat.

Persiapan-persiapan yang perlu untuk menyelenggarakan simposium, yaitu: (1) memilih dan merumuskan masalah, (2) menetapkan tujuan, (3) menempatkan pembicara berdasarkan sumbangannya dalam (4) menetapkan pemimpin, (5) menjelaskan kepada pemimpin dan pembicara tentang tujuan tersedia, dan tata cara yang berlaku.

mencapai tujuan, simposium, waktu yang

(5) Konferensi adalah pertemuan yang diselenggarakan oleh suatu organisasi atau badan resmi sehubungan dengan masalah tertentu. Jika konferensi hanya bertujuan menyampaikan hasil keputusan suatu organisasi atau badan pemerintah mengenai suatu masalah maka hal tersebut dinamakan dengar pendapat atau jumpa pers.

Pidato
Salah satu bentuk kemahiran berbahasa yang lain dan yang umum sekali ialah pidato.

Yang dimaksud dengan pidato ialah penyampaian pesan, gagasan atau pengungkapan suatu maksud dengan bahasa yang tersusun baik kepada orang banyak.

Berdasarken sifat isinya, pidato dibedakan atas: (1) pidato pembukaan, (2) pidato sambutan, (3) pidato pengarahan, (4 ) pidato laporan, dan (5) pidato prasaran.

Berdasarkan sifat tujuannya, pidato dibedakan atas: (1) Pidato instruktif atau memberitahukan atau menyampaikan sesuatu termasuk pengarahan; (2) Pidato persuasif atau bertujuan mempengaruhi pendapat pendengar serta membangkitkan tindakan; (3) Pidato rekreatif, bertujuan menciptakan suasana gembira, akrab dan menyenangkan seperti dalam jamuan makan, dan (4) Pidato edukatif bertujuan menumnbuhkan kesadaran pendengar atau untuk mendidik.

Catatan : Baik dalam diskusi maupun dalam pidato, seorang pembicara dapat memperkuat atau memperjelas pendapatnya dengan mengemukakan contoh-contoh, ilustrasi, fakta, angka, atau perbandingan-perbandingan, di samping tabel dan grafik.