Anda di halaman 1dari 16

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR EKONOMI

MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING

DAN NUMBERED HEADS TOGETHER

Agtia Sita Devi, Aniek Hindrayani S.E,M.Si, M. Sabandi S.E,M.Si

Abstract: The aim of research is to know the improvement of student’s activeness and learning achievement using mind mapping and numbered heads together cooperative learning model. The subject of research was the X-8 graders of SMA Negeri 7 Surakarta in the school year of 2009/2010. The research was a classroom action research. The research procedure included the following steps:

(a) planning, (b) acting, (c) observing and interpreting, and (d) analyzing and reflecting. Data of research were gathered through (a) observation, (b) in-depth interview, (c) test, and (d) documentation. The result of the research showed that it gave effect on student’s activeness and learning achievement. It can be seen from each aspect of activeness and learning achievement that improved significantly.

Key words: activeness, learning achievement, mind mapping, numbered heads together, cooperative learning

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan hidup yang utama bagi

manusia. Hal ini sangat penting mengingat pendidikan dijadikan sebagai salah

satu tolok ukur tingkat kesejahteraan manusia. Berkualitas tidaknya tingkat

kesejahteraan manusia dipengaruhi oleh sejauh mana kualitas pendidikan yang

didapatnya. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan salah satu upaya dalam

meningkatkan sumber daya manusia yang harus selalu dikembangkan. Oleh

karena itu, setiap instasi pendidikan wajib mempunyai kemampuan baik sistem

pengajaran maupun personil untuk menuju keberhasilan pembelajaran yang

maksimal.

Dalam mencapai hasil yang maksimal dalam dunia pendidikan, diperlukan

keterampilan dan kreatifitas dari pendidik maupun peserta didik. Pada dasarnya

keberhasilan suatu pembelajaran dipengaruhi kolaborasi antara guru dan siswa, di

mana keduanya mampu menciptakan suasana belajar yang harmonis seperti

adanya interaksi dalam pembelajaran. Kekurangaktifan siswa yang terlibat dalam

1

2

proses pembelajaran dapat terjadi karena model pembelajaran yang digunakan kurang melibatkan siswa secara langsung. Pembelajaran di kelas masih banyak didominasi oleh guru sehingga kurang membangun persepsi, minat dan sikap siswa yang lebih baik. Kebanyakan anak didik mengalami kebosanan dikarenakan model pengajaran yang berpusat pada guru sehingga kurangnya minat dan sikap siswa tersebut berdampak terhadap prestasi belajar yang secara umum kurang memuaskan. Keadaan seperti ini peneliti jumpai pada kelas X-8 di SMA Negeri 7 Surakarta yang mana kegiatan belajar menggunakan metode ceramah Berdasarkan data yang diperoleh, prestasi siswa kelas X-8 masih rendah yang ditunjukkan dengan rata-rata ulangan harian dengan nilai 63,4 yang masih di bawah batas ketuntasan yaitu 68. Selain itu kektifan siswa menunjukkan masih kurang karena kegiatan siswa hanya cenderung mendengarkan penjelasan guru saja. Disamping itu guru juga kurang aktif memancing siswa untuk bertanya ataupun mengeluarkan pendapatnya mengenai pelajaran. Kegiatan belajar yang didominasi oleh siswa tertentu saja menyebabkan keaktifan siswa yang tidak merata. Jika hal ini tidak ditindaklanjuti maka keadaan kelas yang kondusif sulit diciptakan, sebaliknya tidak adanya interaksi antar siswa akan menyebabkan individualism siswa dalam belajar. Tujuan dari penelitian ini yaituuntuk mengetahui adanya peningkatan keaktifan siswa dan prestasi belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran mind mapping dan numbered heads together. Melaui penelitian tindakan kelas permasalahan proses pembelajaran di kelas dapat diatasi yaitu melalui metode yang digunakan dan dirancang dalam langkah-langkah skenario pembelajaran. Kemudian diterapkan dalam beberapa siklus untuk mencapai hasil yang maksimal atau yang ditergetkan. Melalui penelitian ini guru dan peneliti berharap dapat mengatasi permasalahan.

LANDASAN TEORI Permasalahan dalam penelitian ini yaitu kurangnya keaktifan dan prestasi siswa dalam kegiatan belajar yang dikarenakan metode konvensional yang diterapkan guru mengakibatkan kurangnya interaksi dan partisipasi siswa yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Sehingga berdasarkan permasalahan perlu

3

adanya suatu tindakan yang ditetapkan sebagai suatu solusi, yaitu pembelajaran aktif. Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif, sehingga mereka dapat mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan belajar aktif, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental, akan tetapi juga melibatkan secara fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan. Peneliti menetapkan indikator keaktifan yang akan diamati,yaitu 1)Visual activities, yaitu semua kegiatan siswa menggunakan indera penglihatan, seperti memperhatikan dan membaca. 2) Oral activities, yaitu semua kegiatan siswa yang dilakukan dengan berbicara, seperti bertanya, mengeluarkan pendapat, dan menanggapi. 3) Listening activities, yaitu kegiatan siswa dalam mendengarkan penjelasan guru, pendapat guru, maupun pendapat siswa lain. 4) Writing activities, yaitu keiatan siswa yang berkaitan dengan menulis, seperti merangkum, mencatat, maupun membuat peta. Sedangkan untuk mengukur prestasi siswa, peneliti melihat pada hasil belajar siswa melalui tes individual yang dilaksanakan tiap siklus.

Maraknya perkembangan model pembelajaran tidak selalu diikuti dengan penggunaannya. Peneliti mencermati bahwa masih adanya pembelajaran bersifat konvensional dalam pelajaran ekonomi, guru memberi penjelasan dan siswa mencatat disertai tanya jawab seperlunya serta dilanjutkan dengan latihan soal atau tugas. Penggunaan metode ceramah dalam proses pembelajaran masih sangat dominan, sehingga guru yang memegang kendali penuh, sedangkan siswa tidak banyak terlibat aktif dalam mengikuti pembelajaran. Tanpa disadari penggunaan metode konvensional dapat menghambat keaktifan dan kreativitas siswa dalam belajar karena dalam dunia pendidikan telah berkembang metode atau model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, khususnya pelajaran ekonomi. Karena pada dasarnya pelajaran ekonomi memerlukan kegiatan lebih atau praktik, sehingga siswa akan lebih berminat dalam belajar ekonomi. Oleh karena itu diperlukan studi khusus yang dapat dijadikan solusi

4

tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu melalui penelitian tindakan kelas.

Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, peneliti menggunakan pembelajaran kooperatif yaitu suatu pembelajaran yang mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang digunakan untuk mewujudkan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student oriented), terutama untuk mengatasi permasalahan guru dalam mengaktifkan siswa, yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain. Metode-metode pembelajaran kooperatif yang menggunakan tujuan kelompok dan tanggung jawab individual akan meningkatkan pencapaian prestasi siswa. Belajar secara kolaboratif akan sangat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar, menciptakan kerja sama, membangun kekompakan dalam menyelesaikan suatu masalah, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara bersama. Peneliti dan guru sepakat untuk menggunakan model pembelajaran mind mapping dan numbered heads together. Penelitian tindakan kelas ini berusaha mendeskripsikan hasil penerapan model pembelajaran kooperatif mind mapping dan numbered heads together. Model pembelajaran yang digunakan ini lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam menciptakan cara belajar siswa yang praktis dan kreatif serta siswa dapat aktif dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi/hasil belajar kelompoknya untuk dipresentasikan di depan kelas. Penerapan kolaborasi mind mapping dan numbered heads together untuk meningkatkan penguasaan dan pemahaman materi, serta keaktifan siswa dalam proses pembelajaran mata pelajaran ekonomi yang akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa dalam mencari, mengolah, dan mendiskusikan dengan teman belajar dalam bentuk kelompok bernomor. Pembelajaran mind mapping atau peta konsep adalah belajar menggunakan suatu bagan yang dapat menunjukkan bagaimana suatu konsep berhubungan atau terkait dengan konsep-konsep lain yang termasuk kategori yang sama. Hubungan

5

antar konsep dapat dirinci dalam bentuk pernyataan-pernyataan. Konsep yang paling umum terdapat pada puncak, lalu menurun hingga sampai pada konsep- konsep yang lebih khusus. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah konsep yang lebih umum, terbentuklah suatu hierarki pada peta konsep itu. Model pembelajaran ini membantu siswa agar tidak terpaku pada hafalan yang sifatnya hanya sementara. Adanya variasi simbol, warna, dan bentuk yang ada pada peta pikiran diharapkan siswa dapat lebih mudah mengingat dan memahami materi sehingga pembelajaran bermakna dapat tercapai. Dengan menggunakan peta konsep siswa juga akan lebih mudah membuat catatan dan mempelajarinya, sehingga memudahkan siswa untuk mempelajari materi yang dirasa banyak dan membingungkan. Pembelajaran kooperatif numbered heads together merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Selain itu NHT biasa digunakan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam melakukan presentasi yaitu melalui pemanggilan acak berdasarkan nomor yang telah diberikan pada masing-masing siswa. Dalam pelaksanaannya kedua model pembelajaran tersebut akan dikolaborasikan, yang mana siswa akan dibentuk menjadi beberapa kelompok heterogen, setelah itu masing-masing anggota dalam kelompok akan mendapat satu nomor yang berbeda. Siswa akan kerja kelompok membuat peta konsep dengan menghubungkan konsep-konsep atau poin-poin dari materi yang dipelajari sehingga akan membentuk bagan. Setelah diskusi, guru akan memanggil satu nomor untuk memaparkan hasil diskusinya, hal dilakukan pada tiap-tiap kelompok. Model pembelajaran mind mapping dan numbered heads together merupakan kombinasi dari keduanya yaitu kedua model pembelajaran yang digunakan nantinya akan dikolaborasikan menjadi sebuah kesatuan dalam bentuk langkah-langkah pelaksanaannya, yaitu :

6

Tabel 1. Tabel Langkah-langkah Kegiatan dengan Model Mind Mapping dan Numbered Heads Together.

No

Kegiatan

1

Siswa dibagi dalam kelompok, satu kelompok bisa 4-6 siswa.

2

Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor

3

Guru memberikan tugas masing-masing kelompok untuk membuat sebuah peta konsep dari materi yang diajarkan.

4

Guru memantau dan mengecek diskusi siswa untuk memastikan pembelajaran berjalan sesuai rencana

5

Masing-masing kelompok mengumpulkan tugas setelah menyelesaikannya

6

Guru memanggil salah satu nomor dari siswa yang dilakukan pada tiap kelompok.

7

Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil diskusi dari kelompoknya. Siswa mempresentasikan materi yang dipelajari sesuai peta konsep yang sudah dibuat bersama kelompoknya

8

Kelompok lain bertanya dan menanggapi hasil pekerjaan kelompok yang dipresentasikan.

9

Guru melakukan evaluasi untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman siswa tentang materi yang dipelajarinya.

Kolaborasi model pembelajaran ini mempunyai tujuan selain melatih kerja

sama, kekompakan, rasa saling meghormati antar siswa, juga melatih kesiapan

individual siswa walaupun mereka belajar secara berkelompok. Hal ini

dikarenakan pemberian nomor yang berbeda pada setiap anggota dalam kelompok

menyebabkan siswa mempunyai peluang untuk memaparkan hasil belajarnya.

Meningkatnya kesiapan siswa akan menumbuhkan keberanian siswa juga dalam

menunjukkan kemampuan dan partisipasinya dalam bertanya maupun berpendapat

di depan banyak orang. Dengan penerapan kolaborasi ini diharapkan dapat

meratakan kegiatan siswa, terutama bagi siswa yang kurang berpartisipasi dalam

proses pembelajaran.

METODE

Penelitian ini tergolong penelitian tindakan kelas yang melalui beberapa

siklus dalam pelaksanaannya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai

Desember 2010 di SMA Negeri 7 Surakarta. Subyek penelitian ini adalah siswa

kelas X-8 yang terdiri dari 36 siswa. Peneliti memperoleh sumber data dari guru

dan siswa itu sendiri. Data yang dapat diperoleh dari siswa yaitu mengenai jumlah

7

atau tingkat keaktifan siswa saat mengikuti proses pembelajaran, sedangkan data dari guru yaitu mengenai kondisi kelas dan nilai ulangan harian siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: 1) Observasi, peneliti menggunakan observasi nonpartisipatif, yaitu peneliti berperan pasif dalam kegiatan pembelajaran dan hanya melakukan pengamatan secara langsung. Data yang dikumpulkan dalam pengamatan adalah penerapan model pembelajaran kooperatif mind mapping dan numbered heads together dengan berpedoman pada lembar observasi yang sudah dipersiapkan. 2) Wawancara, dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara terstruktur di mana sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Peneliti melakukan wawancara terhadap guru mata pelajaran ekonomi dan siswa guna mendapatkan informasi yang berkaitan dengan hasil belajar siswa, cara atau metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru, serta mengenai situasi dan kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran ekonomi. 3) Tes, pada penelitian ini tes digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan pengajaran. 4) Dokumentasi, merupakan gambaran sebuah penelitian tindakan kelas dilakukan. Kegiatan dokumentasi dilaksanakan dengan mengambil gambar kegiatan para siswa dan guru dalam pelaksanaan pembelajaran saat penelitian dilaksanakan. Pembelajaran ini dilakukan dalam empat kali pertemuan yaitu dua kali pertemuan pada setiap siklusnya. Adapun prosedur pelaksaaan penelitian tindakan kelas ini dapat dilihat pada gambar alur pembelajaran ini:

Perencanaan Pembelajaran Pelaksanaan Pembelajaran Analisis dan Refleksi Observasi/Pengamatan
Perencanaan Pembelajaran
Pelaksanaan Pembelajaran
Analisis dan Refleksi
Observasi/Pengamatan

Gambar 1. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas

8

Hal yang pertama dilakukan adalah membuat perencanaan pembelajaran yang meliputi kegiatan menyiapkan silabus dan RPP pada mata pelajaran ekonomi, merancang skenario pembelajaran menggunakan model pembelajaran mind mapping dan numbered heads together. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan instrumen penelitian berupa lembar observasi untuk mengukur tingkat keaktifan siswa, tes untuk mengetahui hasil belajar siswa dan angket wawancara untuk mengetahui tanggapan guru maupun siswa mengenai penerapan model pembelajaran mind mapping dan numbered heads together. Kedua, pelaksanaan penelitian implementasi dari perencanaan strategi dan skenario pembelajaran yang telah dibuat. Setiap tindakan yang dilaksanakan tersebut selalu diikuti dengan pemantauan dan evaluasi serta analisis dan refleksi. Ketiga, observasi/pengamatan yang dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berlangsung dalam waktu bersamaan. Hal yang diamati meliputi kondisi kelas, keaktifan siswa, serta pestasi belajar siswa yang dapat dilihat pada hasil tes evaluasi yang diberikan guru pada akhir pelajaran. Tahap terakhir adalah analisis dan reflekksi yaitu kegiatan menganalisis atau mengolah data hasil observasi, sehingga dapat dilakukan langkah perbaikan terhadap bagian yang kurang. Penulis dan guru mengadakan diskusi untuk penentuan langkah- langkah untuk memperbaiki permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan tindakan. Setelah itu, dapat ditarik kesimpulan apakah penelitian yang dilakukan berhasil atau tidak sehingga dapat menentukan langkah berikutnya. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kualitatif digunakan untuk memaparkan deskripsi mengenai hasil observasi, analisis kegiatan, serta catatan lapangan siswa maupun guru pada tiap-tiap siklus sesuai pengamatan penulis. Analisis data kuantitatif digunakan untuk memaparkan data statistik atau dalam bentuk angka- angka yaitu nilai terendah dan nilai rata-rata. Indikator ketercapaian dalam penelitian ini adalah 75% dari jumlah siswa mampu mencapai nilai batas ketuntasan 68, serta mampu menunjukkan kegiatan dan keikutsertaannya dalam proses pembelajaran.

9

HASIL

Berdasarkan dari tahapan atau skenario pelaksanaan kolaborasi pembelajaran kooperatif mind mapping dan numbered heads together, pelaksanaan dimulai dengan kegiatan guru membuka kelas. Materi pelajaran Ekonomi pada penelitian ini yaitu Bank dan Kebijakan Moneter. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam dua siklus. Kegiatan belajar siklus I pada pertemuan pertama dimulai dengan persensi yang dilakukan guru, kemudian menyampaikan materi Bank secara garis besar. Setelah itu guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran mind mapping dan numbered heads together. Kegiatan ini berlangsung selama 10 menit. Kegiatan selanjutnya guru membagi siswa menjadi enam kelompok yang mana setiap kelompok terdiri dari enam siswa. Setelah siswa berkumpul dengan kelompoknya, guru memberi nomor kepada setiap siswa pada masing-masing kelompok dan dilanjutkan dengan pembagian sub materi sebagai bahan diskusi yang nantinya akan di presentasikan di depan kelas. Setelah itu guru mempersilakan siswa untuk memulai diskusi dan membuat peta konsep dari sub materi yang telah diberikan. Selama kegiatan diskusi, guru selalu mengamati dan memfasilitasi khususnya bagi kelompok yang masih kesulitan dalam membuat peta konsep. Setelah selesai melaksanakan diskusi, guru menyiapkan siswanya untuk mempresentasikan hasil belajar kelompoknya. Kelompok 1 sampai 3 akan mempresentasikan hasil belajarnya pada pertemuan pertama ini. Presentasi dilaksanakan oleh seorang siswa yang telah ditunjuk guru secara acak berdasarkan nomor yang telah diberikan. Jadi, guru akan menentukan nomor secara acak pada setiap kelompoknya untuk memilih seorang siswa yang nantinya menjadi perwakilan kelompoknya menyajikan hasil belajarnya di depan kelas. Pada pertemuan kedua kagiatan belajar merupakan lanjutan dari kegiatan pertemuan pertama yaitu presentasi kelompok 4 sampai 6. Siswa menyajikan presentasi hasil belajarnya dengan menggambarkan peta konsep dari sub materi yang telah dibuat di white board. Hal ini memudahkan siswa lain memahami penjelasan karena dilakukan secara urut dengan menggambarkan poin-poin

10

penting. Cara ini berbeda dengan cara presentasi yang biasa dilakukan siswa sebelumnya yaitu hanya dengan membaca. Kegiatan diskusi diikuti dengan tanya jawab siswa mengenai materi yang disajikan. Kegiatan pada pertemuan kedua ini diakhiri dengan tes individu sebagai evaluasi. Berdasarkan catatan peneliti pada siklus I, proses pembelajaran berjalan dengan baik, keadaan kelas kondusif walaupun pada pertemuan pertama guru masih sering memperingatkan siswa agar memperhatikan pada saat kegiatan presentasi. Penerapan model pembelajaran mind mapping dan numbered heads together sudah baik dengan siswa menunjukkan kegiatan belajarnya dan bersedia

untuk berpartisipasi baik pada saat kegiatan diskusi maupun presentasi. Terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan guru yaitu 1) Sebagian siswa masih gaduh dalam pelaksanaan diskusi maupun presentasi terutama pada kelompok yang belum mendapat giliran. 2) Guru masih kurang dalam memberi motivasi siswa untuk aktif bertanya maupun mngeluarkan pendapatnya dalam kegiatan presentasi, sehingga masih didominasi oleh siswa tertentu. Tetapi pada pertemuan kedua masalah tersebut dapat diminimalisasi karena baik guru maupun siswa sudah lebih paham mengenai kegiatan belajar menggunakan kedua model pembelajaran tersebut. Siswa juga lebih percaya diri dalam menyajikan hasil belajarnya, serta mampu mengendalikan kelas menjadi kondusif. Pada hasil observasi, dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan pada

Hal ini dapat dilihat dari lembar observasi peneliti yang

aktivitas siswa

menunjukkan adanya perbedaan aktivitas atau kegiatan siswa sebelum dan sesudah diterapkannya koaborasi model pembelajaran tersebut. Pada siklus I diperoleh hasil tingkat keaktifan siswa pada aspek visual activities 80%, oral activities 61,12%, listening activities 84,44%, dan writing activities 86,10%. Dari keempat aspek yang diteliti, aspek oral activities belum mampu mencapai kriteria ketercapaian indikator, yaitu masih di bawah 75%. Sedangkan peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari adanya peningkatan nilai rata-rata pelajaran Ekonomi siswa X-8. Sebelum penerapan kolaborasi model pembelajaran, nilai rata-rata kelas adalah 63,4, sedangkan setelah penerapan kolaborasi model pembelajaran ini rata-rata kelas menjadi 74 dengan rincian 25 siswa mendapat nilai di atas batas

11

ketuntasan, 3 siswa mencapai batas ketuntasan, dan sebanyak 8 siswa memperoleh nilai di bawah batas ketuntasan. Sehingga pada siklus I ini telah mencapai target yaitu 75% dari jumlah siswa mampu memperoleh nilai di atas batas ketuntasan yang telah ditentukan yaitu 68. Kegiatan siklus II pada dasarnya sama dengan kegiatan pada siklus I, terutama pada skenario pembelajarannya. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 19 Mei dan 26 Mei 2010. Siklus II dilaksanakan karena aspek oral activities (61,12%) yang belum memenuhi target atau batas ketercapaian indikator yaitu 75%. Disamping itu pada siklus II ini juga bertujuan untuk memaksimalkan hasil belajar maupun keaktifan siswa pada aspek yang lain. Berbeda dengan siklus I, pada siklus II ini guru membentuk kelompok yang berbeda dan melanjutkan materi sebelumnya yaitu kebijakan moneter. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan interaksi siswa dengan siswa lain, sehingga seluruh siswa kelas X-8 dapat bekerja sama dalam belajar. Secara keseluruhan, pelaksanaan siklus II jauh lebih baik dari sebelumnya karena guru merasa lebih paham mengenai langkah-langkah penerapan model mind mapping dan numbered heads together. Keadaan kelas sangat kondusif, hanya terdapat sedikit kegaduhan yang dapat teratasi dengan cepat. Selama diskusi berlangsung, kondisi kelas cukup tenang karena siswa sudah paham cara belajar mereka. Perbedaan pendapatpun sudah dapat diatasi sendiri, siswa dapat menentukan keputusan lebih cepat, sehingga guru hanya memantau kegiatan diskusi siswa.Pada saat presentasi siswa sudah mampu menunjukkan partisipasi mereka yang lebih intens atau sering dan tidak lagi didominasi beberapa anak. Tidak hanya guru saja tetapi para penyaji juga sudah mampu menciptakan kelas yang kondusif. Pelaksanaan tes evaluasi berjalan dengan tertib dan tenang, siswa dapat mengerjakan soal sendiri-sendiri. Yang terpenting yaitu guru lebih sering memberi motivasi siswa untuk turut bersedia berpartisipasi dalam kegiatan belajar baik diskusi, bertanya, menyampaikan pendapat, maupun hanya memberi tanggapan. Pada siklus II ini diperoleh hasil bahwa tingkat keaktifan siswa pada tiap- tiap aspek yang diteliti telah mencapai kriteria ketuntasan yaitu 75%. Berdasarkan

12

perhitungan pada lembar observasi yaitu pada aspek visual activities 97,22%, oral activities 77,79%, listening activities 100% dan writing activities 94,44%. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan dalam keaktifan siswa yang dapat dilihat dari kegiatannya. Hasil belajar siswa pada siklus II ini menunjukkan ada peningkatan dari siklus I yang dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas X-8 meningkat menjadi 79 dengan rincian 32 siswa mendapat nilai di atas batas ketuntasan, 2 siswa mencapai batas ketuntasan, namun masih terdapat sebanyak 2 siswa yang mendapat nilai di bawah ketuntasan. Sehingga pada siklus II ini ketuntasan belajar mencapai 94% dari jumlah siswa walaupun 6% dari jumlah siswa belum mencapai batas tuntas. Berdasarkan penelitian dari siklus I dan siklus II yang telah dilaksanakan, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keaktifan dan prestasi belajar siswa. Hasil penelitian secara keseluruhan tiap siklus dapat dilihat dari grafik di bawah ini :

penelitian secara keseluruhan tiap siklus dapat dilihat dari grafik di bawah ini : Gambar 2. Grafik

Gambar 2. Grafik Nilai Rata-rata Siswa

13

13 Gambar 3. Grafik Keaktifan Siswa Hasil penelitian ini juga didukung dari hasil wawancara yang dilakukan

Gambar 3. Grafik Keaktifan Siswa

Hasil penelitian ini juga didukung dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap guru dan siswa. Wawancara terhadap siswa pada siklus I dan II diperoleh hasil bahwa dengan penerapan kolaborasi model pembelajaran mind mapping dan numbered heads together, suasana belajar menjadi lebih santai dan menyenangkan karena mereka merasa mempunyai sebuah tim yang bisa saling membantu dan adanya interaksi dengan teman lain. Selain itu siswa merasa lebih mudah menghafal dengan peta konsep yang dapat mempermudah belajarnya, sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Sedangkan hasil wawancara terhadap guru mengungkapkan bahwa lebih banyak kegiatan dan interaksi dapat menumbuhkan motivasi belajar dalam diri siswa yang berpengaruh terhadap meningkatnya keaktifan dan prestasi belajar siswa.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyimpulkan bahwa penerapan kolaborasi model pembelajaran mind mapping dan numbered heads together dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar Ekonomi kelas X-8. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perubahan tingkat aktifitas yang dapat dilihat pada masing-masing aspek yaitu visual activities, oral activities, listening activities, dan writing activities yang mengalami peningkatan pada tiap siklusnya. Siswa

14

lebih aktif dalam mengikuti pelajaran dan mempunyai keberanian untuk tampil di depan kelas, menyampaikan pendapatnya, bertanya maupun menanggapi presentasi dari teman lain. siswa dapat dilihat dari. Selain itu siswa mampu membangun kerja sama dalam belajar, menciptakan suatu kekompakan dalam kelompoknya untuk mendapat hasil yang maksimal. Diterapkannya kedua model pembelajaran ini juga mempengaruhi siswa merasa lebih mudah belajar menggunakan peta konsep, selain mudah menghafal, dengan peta konsep siswa dapat membuat peta sesuai dengan kreativitas kelompoknya, sehingga lebih mudah dipahami dan dipelajari. Siswa juga berkesempatan untuk berpendapat dan bertukar pikiran dengan teman sebayanya saat belajar, sehingga dapat mengembangkan cara berfikirnya. Peningkatan prestasi belajar dilihat dari ketuntasan belajar siswa pada siklus I dan II.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian,terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi siswa, guru, maupun sekolah. Pertama, siswa berperan aktif dalam mengemukakan pendapat, bertanya, maupun memberi tanggapan selama proses pembelajaran, mampu bekerja sama, bertukar pikiran, dan membina kekompakan belajar dengan siswa lain. Kemudian siswa mampu memberanikan diri untuk tampil di depan kelas, menyampaikan ide/pendapat kepada guru maupun teman. Siswa dapat aktif dalam mencari atau menambah sumber belajar, sehingga tidak hanya menerima informasi dari guru saja. Kedua, guru menerapkan metode dan model pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif untuk menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan. Selain itu guru mampu menciptakan interaksi dengan siswa maupun antar siswa agar situasi belajar lebih hidup. Guru mampu memotivasi siswanya agar lebih berani dan percaya diri dalam bertanya dan menyampaikan pendapatnya. Ketiga, sekolah perlu mengadakan sosialisasi dan pelatihan kepada guru tentang penerapan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Selain itu sekolah menerapkan tujuan pembelajaran yang

15

dapat menciptakan keaktifan siswanya dalam belajar, sehingga mengajarkan siswa untuk turut berpartisipasi dalam proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Anita, Lie. 2008. Cooperative Learning (Mempraktekkan Coopertive Learning di Ruang-ruang kelas). Jakarta: Grasindo. A. Tabrani Rusyan, Atang Kusdinar, Zaenal Arifin. 1989. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remadja Karya. Bobbi DePorter. 2006. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan. Bandung : PT. Mizan Pustaka. Hamzah Uno. 2008. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Nana Sudjana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:

Remadja Karya. Nana Syaodih Sukmadinata. 2006. Metode Penelitian Pendidikan: Bandung:

PT.Remaja Rosdakarya. Mansur Muslich.2009. Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas itu Mudah. Jakarta: Bumi Aksara. Oemar Hamalik . 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Sarjuli dkk. 2002. Active Learning.101 Stategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta:

Pustaka Isnan Madani. Slavin, Robert E. 2009. Cooperative Learning Teori, Model dan Riset. Bandung:

PT.Remaja Rosdakarya. Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: CV. Rajawali. Supriono.2008. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Petaa Konsep untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan SMP Nasional KPS Balikpapan. Jurnal Inovatif Volume 3. 88-93. Sutratinah Tirtonegoro. 2001. Anak Supernormal dan Program Pendidikannya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

16

Suwiyadi. 2007. Penerapan Model Number Heads Together untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas VIII SMP Terbuka I Balikpapan. Jurnal Pendidikan Inovatif Volume 2. 86-89. Zaenal Arifin. 2009. Evaluasi Pembelajaran Prinsip, Teknik, Prosedur. Bandung:

PT.Remaja Rosdakarya.