Anda di halaman 1dari 16

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Berikut adalah sebuah dialog antara seorang mutarabbi dan murabbinya Ana dapatkan dari

sebuah milist, saya COPAS saja di sini, semoga bermanfaat, amin: AKHI, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat temyata ikhwah banyak pula yang anehaneh. Begitu keluh kesah seorang madu kepada murabbinya di suatu malam. Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri madunya. Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu? sahut sang murabbi setelah sesaat termenung. Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja jawab madu itu. Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?, tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang madu terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat. Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?, sang murabbi mencoba memberi opsi. Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin? serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang madu. Tak ayal, sang madu menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya. Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah? Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang madu. Ia hanya mengangguk. Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya? tanya sang murabbi lagi.

Sang madu tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, Cukup Bang, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana, sang madu berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya. Sang murabbi tersenyum. Akhi, jamaah ini adalah jamaah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah. Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah taala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka. Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik? sambungnya panjang lebar. Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menudingnuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah dai. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalahmasalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah. Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri! Sang madu termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya. Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini? sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga. Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!, sahut sang murabbi. Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang

kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya. Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang madu bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa madunya yang lain dari asyik tidurnya. Malam itu, sang madu menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jamaah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang kami harapkan dari Anda, pembaca Wallahu alam.
... Mungkin tidak ada media (eksternal) yang mewartakan sibuknya PKS setiap saat dalam kerja-kerja Da'wah dan Tarbiyah baik untuk kalangan kader (internal) maupun masyarakat (eksternal). Yang ada adalah hiruk pikuk sensasi politis yang laris manis bagi media pengais rupiah. Itulah pekerjaan mereka (media), dan biarlah mereka bekerja spt itu. Itu urusan mereka. Lantas apa pekerjaan kita (PKS)? Bagi PKS tiada hari yang terlewati dari kerja-kerja dakwah membina kader dan ummat merawat dan memupuk benih keimanan agar tumbuh laksana pohon yang akarnya kuat batangnya tegak dan buahnya lebat. Pribadi sholih dan menebar manfaat bagi yang lain. Setiap hari tidak akan sepi dari kerja-kerja ratusan (ribuan) ustadz-ustadzah para murobbi murobbiyah kader-kader PKS membina ratusan (ribuan) kelompokkelompok halaqoh, liqo, ta'lim. Dari Aceh hingga Papua. Dan itu adalah pekerjaan pokok, kerja utama, amal prioritas, agenda terbanyak dari Partai Keadilan Sejahtera. Bulan-bulan ini DPP PKS super sibuk setiap akhir pekan mengirim kader-kader senior para ustadz ke pelosok tanah air untuk kegiatan Talaqi Madah, I'dad Murobbi, TFT Murobbi. Setiap pekan, struktur PKS (DPP, DPW) menggelar acara Ifthor dan Kajian sore di kantor-kantor DPP/DPW. (Di DPW PKS DI Yogyakarta, sepekan dua kali tiap Senin dan Kamis. Sewaktu rombongan PKS Piyungan mampir DPP seusai Milad PKS di Senayan, kami melihat banner ifthor jama'i di kantor DPP.) Setiap bulan DPD/DPC menggelar MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa). Kaderisasi setiap level struktural menta'limatkan Program Usbu' Ruhiy (pekan ruhiyah). DPP juga mengadakan Mukhoyam Qur'aniyah program utk melahirkan hafidz (penghafal qur'an).

Berapa ribu kader murobbi PKS yang terlibat dalam agenda-agenda dakwah dan tarbiyah? dan berapa juta kader/simpatisan yang mendapat siraman ruhani, tambahan ilmu, terjalinnya ukhuwah dengan agenda-agenda dakwah tarbiyah ini? LALU BANDINGKAN DENGAN "KERJA-KERJA POLITIK" PKS! Hanya "segelintir" kaderkader PKS yg "ngurusi" politik (sebagai aleg, menteri, gubernur, bupati). Dan merekapun "JUGA" tetap terlibat dalam agenda dakwah dan tarbiyah (tidak akan pernah lepas). Apakah masih dikatakan PKS bukan partai dakwah lagi? Apakah PKS sudah politik ansich? Politik bagi kami hanyalah salahsatu bagian dari kerja-kerja dakwah. Saya menulis pagi ini (Sabtu, 23/4/11) jam 07.30 seusai melakukan agenda tarbiyah rutin (semoga Allah SWT menerimanya). Setiap malam sabtu(dinihari), liqo kami punya agenda rutin Tahajud bersama di masjid Al-Ikhlas Piyungan. Kumpul sebelum jam 03.30, lalu qiyamullail hingga subuh, wirid ma'tsurat, dan ditutup dengan riyadhoh kesukaan kami: FUTSAL (lapangan futsal persis di belakang masjid). Saat ini, sy diamanahi 4 kelompok liqo: madya, muda dan pemula(2). Kalau diamanahi jadi legislator malah akan saya tolak, krn saya tidak punya kapasitas disitu. Sy sudah cukup bahagia meniti hari-hari dengan para mutarobbi. Merawat taqwa, merajut ukhuwah, bersama-sama berkiprah nyata di DPRa/DPC. Turut andil walo kecil dalam membangun peradaban mewujudkan misi suci "Rahmatan Lil 'Alamin". Sungguh kami merasakan kebahagiaan tak terkira dalam jamaah ini. Kami bersyukur pada Allah SWT yang telah mentaqdirkan kami menjadi bagian dari jamaah ini. Dan anda, di jamaah manapun, semoga bisa menikmati indahnya hidup dalam naungan kasih sayang Ar-Rahman Ar-Rahim. Dan semoga Allah SWT kelak mengumpulkan kita semua dalam firdaus-Nya. Amin. *)penulis: admin pkspiyungan

Inilah Jawaban Kami...


Diposkan oleh admin di 10:11

"astaghfirullah,memalukan,inikah partai dakwah,dakwah porno?dl pks skrg gk respek lg" Komen diatas dari seseorang yang memberi comment di akun facebook ane. Apa jawaban ane? sebagai kader ecek-ecek alias kelas teri yang hidup di dusun alias grass root, yang menyadari betapa kecilnya peran diri ini dibanding para qiyadah dengan segudang amanah, inilah yang ane jawab: Inikah partai dakwah? YA. 100% KAMI TAK PERNAH SANGSI. Kok ada yg berbuat begitu? Husnudzon di awal, itu perintah Allah dan tuntunan Nabi. Kalo memang terbukti? hukum yg akan bicara. Apa ada orang yang tidak pernah berbuat salah?

Menodai partai dakwah? KALO TERBUKTI, noda itu tinggal dibersihkan. Kalo tdk bisa dibersihkan? diamputasi (pecat). Dan tanpa gembar-gembor, PKS sudah banyak menjatuhkan sangsi kepada kader-kadernya yang terbukti melanggar AD/ART dan etika. Memalukan kami? TIDAK. Tapi sbg pembelajaran bg kami, YA! Kenapa harus malu u/ mengakui dan bertobat KALO ITU TERBUKTI SALAH? Hanya iblis yang sombong untuk mengakui kekeliruan diri. Gara2 begini kami jadi berhenti? TIDAK. TAKKAN PERNAH. Krn dakwah ini tidak ditentukan satu dua orang. Bahkan seandainya semua meninggalkan arena dakwah, kami tlah ber'azam takkan pernah meninggalkan jalan dakwah ini. Kami berdakwah bukan u/ berharap puja puji atau takut dicaci. Allah-lah tujuan kami. Kalo ada yg bersalah diantara kami, Allah pula sudah memberi guide: BERTOBAT dan dimaafkan atau KALO TDK MAU BERTOBAT sungguh azab Allah sangat pedih hanya dibanding caci maki! Mungkin komen ane ini ada yang akan mengomentari: "kasihan kader lapisan bawah yang ikhlas berjuang dan tsiqoh pada qiyadah, tapi qiyadahnya sudah pada menyimpang, hidup bergelimang dunia". Saya akan katakan: "Kasihinilah dirimu sendiri, yang hidup bergelimang prasangka dan dusta. Kasihinilah dirimu sendiri, yang lebih memilih menyendiri diterkam srigala dibanding teguh dalam jamaah penuh berkah, kasihinlah dirimu sendiri yang tiada henti sibuk mengorek orang lain tapi melupakan aib diri sendiri". Hasbunallah wani'mal wakil... kami yakin semua sudah dalam skenario Allah, tak ada satupun yang kebetulan semata. Cukuplah Allah bagi kami... *)penulis: admin pkspiyungan

Ketika Badai Menghantam Perahu Kami...


Diposkan oleh admin di 10:15

Oleh Abdullah Haidir, Lc ... Berlayar mengarungi samudera, jangan berharap kau kan tiba di pulau tujuan tanpa cobaan mendera. Sebelum layar dibentangkan, inilah yang harus terpatri dalam diri menjadi kesadaran. Bahwa berbagai keindahan dari sebuah pelayaran panjang dan kenikmatan di pulau tujuan, berbanding lurus dengan besarnya tantangan yang menghadang. Tak kan pernah kau dapatkan indahnya pemandangan angkasa menjulang di tengah samudera luas membentang, selagi kau masih takut menembus hempasan gelombang. Ini bukan sekedar resiko perjalanan, tapi tlah menjadi aksioma tak terbantahkan. Di sini, di perahu ini, kita sedang merangkai keutuhan dan persaudaraan, kesetiaan dan

keteguhan, apapun posisi dan kedudukan. Karena kita telah memiliki tujuan, harapan dan mimpi yang sama ingin diwujudkan. Namun, kita tidak pernah menafikan adanya kesalahan, kelalaian dan kekhilafan, bahkan juga kejenuhan, kekecewaan, kemarahan, hingga silang sengketa yang tak terhindarkan. Itu wajar belaka, karena memang tidak satu pun di antara kita yang mengaku tiada cela tiada dosa. Namun kesamaan tujuan, mimpi dan khayalan, kan segera menyatukan, meluruskan langkah ke depan, menghapus resah dan kemarahan, berganti semangat yang terbarukan. Karenanya, kita sambut gembira setiap arahan, nasehat dan pesan-pesan yang dapat menguatkan serta menyatukan, sekeras apapun. Tapi, fitnah yang memecah barisan, tuduhan yang memojokkan, umpatan dan celaan yang menjatuhkan, serta aib yang dibeberkan, apalagi tindakan melobangi perahu agar kandas atau tenggelam, tidak pernah dapat kami terima, baik secara logika apalagi perasaan. Bagaimanapun, kami bukan batu yang diam diketuk palu. Di sini, di perahu ini, kita sedang menjadikan badai dan gelombang sebagai ujian kejujuran, sarana muhasabah untuk memperteguh perjuangan, juga sarana belajar menjaga komitmen atas kesepakatan yang tlah dinyatakan. Karenanya, alih-alih badai ini menceraiberaikan atau meluluhlantakkan, justeru dia menjadi moment paling tepat untuk semakin rekat, melupakan kesalahpahaman yang sempat menimbulkan sekat. Mereka di kejauhan, boleh jadi bersorak sorai kegirangan ketika kita terombang ambing di tengah gelombang, berharap satu persatu dari kita tenggelam menjemput ajal menjelang. Tapi tahukah mereka? Justeru saat ini kami rasakan kehangatan tangan saudara kami yang erat saling berpegangan, justeru saat ini kami rasakan kekhusyuan doa-doa untuk keselamatan dan persatuan, justeru saat ini kami semakin yakin bahwa seleksi kejujuran memang harus lewat ujian, justeru saat ini kami jadi dapat membedakan mana nasehat dan mana dendam kesumat, mana masukan bermanfaat dan mana makar jahat, mana senyum tulus persaudaraan dan mana senyum sinis permusuhan. Di sini, di perahu ini, justeru di tengah badai gelombang, kita jadi semakin mengerti pentingnya nakhoda yang memimpin dan mengendalikan, juga semakin menyadari pentingnya syura untuk mengambil keputusan, lalu pentingnya belajar menerima keputusan setelah disyurakan. Adanya kepemimpinan dan syura memang memberatkan, karena proses jadi panjang, langkah-langkah jadi terhalang aturan, keinginan sering tertunda menunggu keputusan. Tapi ini tidak dapat kita hindari, karena kita tidak berlayar sendiri, bergerak sendiri, mengambil keputusan sendiri dan menanggung resiko sendiri. Justeru karena kita berlayar bersama, maka kepemimpinan dan syura mutlak harus ada. Kepemimpinan memang bukan nabi yang maksum dan mendapatkan legalitas wahyu dalam setiap kebijakan, kesalahanpun bukan sebuah kemustahilan meski tidak kita anggap kebenaran. Tapi kepemimpinan yang dibangun oleh syura, telah memenuhi syarat untuk disikapi penuh penghormatan dan ketaatan, sepanjang tidak ada ajakan kemaksiatan. Sebagian orang boleh jadi mengatakan ini sikap taklid buta, kita katakan, 'Inilah komitmen kita!' Sebagian lagi katanya merasa kasihan dengan anak buah yang tidak mengerti banyak persoalan dan hanya ikut ketentuan, kita katakan, 'Kasihanilah dirimu yang sering menghasut tanpa perasaan!' Di sini, di perahu ini, ketika badai menghantam dari kiri dan kanan, depan dan belakang, teringat perkataan para shahabat dalam sebuah peperangan, tatkala musuh dari luar datang menyerang dan orang dekat menelikung dari belakang, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya' (QS. Al-Ahzab: 22)

Ibnu Katsir menjelaskan, "Maksudnya, inilah janji Allah dan Rasul-Nya berupa ujian dan cobaan, pertanda kian dekatnya kemenangan." Riyadh, Rabiul Tsani 1432 H.

Menyerang Qiyadah Melumpuhkan Dakwah


Diposkan oleh admin di 10:25

Muhammad Abdullah Al Khatib* ... Wahai Ikhwan, karena dakwah kalian merupakan kekuatan besar melawan kedzoliman, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian, bahkan tidak ada satu pun cara kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus dakwah kalian. Cara paling berbahaya yang digunakan oleh musuh yang licik adalah upaya menimbulkan friksi internal di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangkan pertarungan karena kekuatan dakwah melemah akibat terpecah belah. Dan hal yang paling efektif menimbulkan friksi internal dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah antara prajurit dan pimpinan. Sebab bila prajurit sudah tidak memiliki sikap tsiqah pada pimpinannnya, maka makna ketaatan akan segera hilang dari jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin ada eksistensi kepemimpinan dan karenanya pula tidak mungkin jamaah dapat eksis. Oleh karena itulah, maka Imam Asy-Syahid menekankan rukun tsiqah dalam Risalah At-Ta'alim dan menjadikannya sebagai salah satu rukun bai'at. Imam Asy-Syahid juga menjelaskan urgensi rukun ini dalam menjaga soliditas dan kesatuan jamaah, ia mengatakan: "...Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah yang timbal balik - antara pimpinan dan yang dipimpin menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan. "Ta'at dan mengucapkan perkataan yang baik adalah lebih baik bagi mereka" (QS 47:21). Dan tsiqah terhadap pimpinan merupakan segalagalanya bagi keberhasilan dakwah." Kita tidak mensyaratkan bahwa yang berhak mendapat tsiqah kita adalah pemimpin yang berkapasitas sebagai orang yang paling kuat, paling bertakwa, paling mengerti, dan paling fasih dalam berbicara. Syarat seperti ini sangat sulit dipenuhi, bahkan hampir tidak terpenuhi

sepeninggal Rasulullah saw. Cukuplah seorang pemimpin itu, seseorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikui amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang ikhwah (saudara) yang merasa bahwa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pimpinannya, maka hendaklah ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pimpinan, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinannya bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan jamaahnya. Saudaraku, mungkin anda masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar ra dan Umar ra sepeninggal Rasulullah saw. Umar berkata kepada Abu Bakar, 'Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai'atmu.' Abu Bakar berkata, 'Akulah yang membai'atmu.' Umar berkata, 'Kamu lebih utama dariku.' Abu Bakar berkata, 'Kamu lebih kuat dariku.' Setelah itu Umar ra berkata, 'Kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu.' Umar pun terbukti benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar sebagai kholifah. Tatkala seseorang bertanya kepada Imam Asy-Syahid, 'Bagaimana bila suatu kondisi menghalangi kebersamaan anda dengan kami? Menurut anda siapakah orang yang akan kami angkat sebagai pemimpin kami?' Imam Asy-Syahid menjawab, 'Wahai ikhwan, angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah dia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian. Wahai Ikhwan, mungkin anda masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, yaitu tidak memerangi mereka. Meski demikian tatkala Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bersikeras untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, 'Demi Allah, tiada lain yang aku pahami kecuali bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku tahu bahwa dialah yang benar.' Andai Umar ra tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya akan dapat memperdayakannya, bahwa dialah pihak yang benar, apalagi ia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Allah swt telah menjadikan al haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar.' Alangkah butuhnya kita pada sikap seperti Umar ra tersebut, saat terjadi perbedaan pendapat di antara kita, terutama untuk ukuran model kita yang tidak mendengar Rasululiah saw memberikan rekomendasi kepada salah seorang di antara kita, bahwa kebenaran itu pada lisan atau hatinya. Mengingat sangat pentingnya ketsiqahan terhadap fikrah dan ketetapan pimpinan, maka musuhmusuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keragu-raguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah, dan pimpinannya. Betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk

melaksanakan

misi

tersebut.

Oleh karena itu, seorang akh jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut. Ia harus yakin bahwa agamanya adalah agama yang haq yang diterima Allah swt. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu memperhatikan Al Quran dan Sunah dalam setiap langkah dan sarananya. Ia harus tetap tsiqah bahwa pimpinannya selalu bercermin pada langkah Rasulullah saw serta para sahabatnya dan selalu tunduk kepada syariat Allah dalam menangani persoalan yang muncul saat beraktivitas serta selalu memperhatikan kemaslahatan dakwah. Kami mengingatkan, bahwa terkadang sebagian surat kabar atau media massa lainnya mengutip pembicaraan atau pendapat yang dilakukan pada pimpinan jamaah, dengan tujuan untuk menimbulkan keragu-raguan, menggoncangkan kepercayaan, dan menciptakan ketidakstabilan di dalam tubuh jamaah. Oleh karena itu, seorang akh muslim tidak diperbolehkan menyimpulkan suatu hukum berdasarkan apa yang dibaca dalam media massa, tidak boleh melunturkan tsiqahnya, dan tidak boleh menyebarkannya atas dasar pembenaran. Ia harus melakukan tabayyun terlebih dahulu. Allah swt menegur segolongan orang yang melakukan kesalahan dengan firman-Nya, Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka serta merta menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja di antaramu. (QS 4:83). *Dikutip dari Kitab Nadzharat Fii Risalah at-Ta'alim (Bab Ats-Tsiqoh) terbitan Asy-Syaamil. *posted: pkspiyungan.blogspot.com

Anggota DPR Korup Disarankan Ikuti Jejak Arifinto


Apr 11, 2011

Jakarta - Keputusan anggota Fraksi PKS yang kepergok nonton video porno saat sidang paripurna, Arifinto, yang mundur dari DPR diapresiasi berbagai kalangan. Langkah Arifinto patut ditiru oleh anggota dewan yang terlilit kasus korupsi tetapi menolak lengser. "Semoga ini menjadi pelajaran penting bagi anggota DPR lainnya. Jangankan korupsi, nonton video porno saja mundur, apalagi yang melakukan pembohongan. Jadi bagi orang-orang yang masih 'tersisa' sebaiknya mengikuti langkah Arifinto," kata Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia, Ray Rangkuti, pada detikcom, Senin (11/4/2011). Ray mengaku prihatin atas yang dialami Arifinto. Namun, Ray tidak membenarkan tindakan Arifinto. "Kita menghukum orang ini sebegitu luar biasa. Tetapi, kita seolah-olah membiarkan anggota DPR lain yang kelakuannya lebih buruk misalnya tidak direcall, di-PAW padahal telah diputus korupsi. Perilaku Marzuki Alie layak diminta mundur ketimbang Arifinto karena telah berulang kali menghina rakyat," papar Ray. Menurut Ray, kesalahan Arifinto hanya satu yakni waktu sidang justru menonton tayangan pornografi. "Kalau mau jujur bukan dia saja, yang lain juga keluar masuk ruang sidang, ada juga yang tanda tangan lalu cabut," cetus Ray. "Tetapi pada tingkat tertentu, kita ucapkan terima kasih kepada Arifinto yang memberikan pelajaran penting bagi bangsa bahwa jika melakukan sesuatu yang tidak tepat maka mundur dari jabatan," lanjut Ray. Arifinto mundur dari anggota DPR setelah heboh foto dirinya yang asyik nonton video porno beredar. Arifinto meminta maaf dan akan fokus meningkatkan kualitas diri dan memperbaiki diri, salah satunya dengan mengkhatamkan Quran.

Menata Konsep Diri, Optimalkan Peran Muslimah PKS


Apr 12, 2011

PKS-jaksel: Ahad (10/04), Sekbidpuan DPRa Petukangan utara bekerjasama dengan DPC Pesanggrahan menyelenggarakan pelatihan dengan tema konsep diri untuk seluruh kader muslimah di wilayah pembinaan Petukangan utara.

Acara pelatihan ini dilaksanakan pada dua tempat yaitu di SDIT/TKIT Arrahman dan mesjid baiturrahman Kecamatan Pesanggrahan. Hal ini dilakukan agar kelas pelatihan tidak terlalu besar dan peserta bisa berperan lebih aktif dalam pelatihan ini.

Untuk pelatihan yangdilaksanakan di ruang TKIT Arrahman, acara dimulai pada pukul 09.00 WIB dan dihadiri oleh sekitar 20 kader muslimah. Acara dimulai dengan pembacaan alquran dan dilanjutkan dengan materi pelatihan.

Hadir sebagai pembicara pada pelatihan ini Zahrina Nurbaiti dengan moderator sekaligus MC dokter ahli paru, Dyah, dari petukangan utara.

Dalam pelatihan ini Zahrina, atau yang akrab dipanggil dengan sebutan ibu iin, menyampaikan bahwa konsep diri itu terbagi dalam 3 kategori yaitu aku diri, aku sosial dan aku ideal. Ketiga kategori ini penting untuk dipahami dan harus seimbang agar tidak tidak terjadi kepribadian yang pecah, tutur wanita yang saat ini menjabat sebagai sekretaris sekbidpuan DPD Jakarta Selatan.

Selanjutnya, dosen ilmu agama islam Universitas Budi Luhur ini juga menyampaikan beberapa ciri-ciri orang yang percaya diri dan kiat kiat bagaimana seorang muslimah bisa meningkatkan rasa percaya dirinya secara mandiri.

Penyampaian Zahrina yang begitu bersemangat dan disertai dengan menceritakan pengalaman hidupnya membuat para peserta yang hadir dalam pelatihan ini menjadi antusias sehingga banyak pertanyaan yang dilontarkan dan bahkan ada juga peserta yang akhirnya menceritakan pengalamannya selama menata konsep diri di lingkungan kerjanya yang heterogen.

Acara berakhir pada pukul 11.00 dengan pembacaan doa Robithah. Dari pelatihan ini seorang kader muslimah diharapkan dapat menganalisa kekuatan dan kelemahan pada dirinya, memiliki konsep diri yang positif, dan percaya diri sehingga tercapailah potensi diri yang optimal. (euis)

Kantor DPD PKS Sungai Penuh Dirusak


Apr 01, 2011

KabarIndonesia - Sekretariat Dewan Pengurus Daerah (DPD) Kota Sungai Penuh, Kamis (31/3) dinihari sekitar pukul 02.00 WIB dirusak sekelompok orang. Kaca bagian depan di lantai dua pecah akibat lemparan beberapa buah batu. Kuat dugaan, pengrusakan ini sebagai bagian memanasnya aktivitas Pilwako Sungai Penuh 7 April 2011 mendatang. Pantauan di lapangan, kaca bagian depan pada lantai dua pecah berserakan. Serpihan kaca memenuhi bagian dalam dan luar gedung. Beberapa batu berukuran sekepalan tangan orang dewasa berserakan di bagian dalam. Ketua DPD Sungai Penuh, Emrizal mengatakan, kejadian ini berlangsung sekitar pukul 02.00 WIB dinihari. Kejadian ini, menurutnya cukup mengganggu aktivitas kader apalagi menjelang persiapan Pilwako Sungai Penuh. Sampai sekarang kita belum tahu siapa pelakunya. Namun yang jelas, ada yang tidak senang dengan berbagai aktivitas PKS di Sungai Penuh. Khususnya berkaitan dengan suksesi Pilwako 7 April mendatang, kata Emrizal. DPD PKS Sungai Penuh dalam perjalanan Pilwako menjadi partai pengusung pasangan AJB-Ardinal. Bersama partai pengusung lain yaitu Partai Demokrat, Golkar dan Partai Indonesia Bersatu (PIB). Sejumlah program dan aktivitas yang dilakukan PKS menjelang Pilwako ditenggarai menimbulkan empati pihak lawan. Hingga melakukan tindakan anarkis dan pengrusakan pada asset gedung partai. Pihaknya saat ini tengah mengkaji tindakan yang akan dilakukan terkait pengrusakan itu. Namun yang pasti kita akan memperkuat pengamanan disekitar DPD dan posko-posko AJB-Ardinal, ujarnya yang mengaku banyak menerima pesan singkat via SMS berisi ancaman akan terjadi tindakan anarKis. Lebih jauh, pengurus DPD PKS mengaku tidak akan terlena atas kejadian ini. Dan tetap fokus pada suksesi Pilwako yang tinggal menghitung hari. Kita jangan terlena dengan kejadian ini dan melupakan agenda utama kita. Apalagi secara prosentase, kemenangan pilwako sudah ada dipihak kita, tegasnya

optimis. Keterangan yang dihimpun dari warga sekitar, sekitar pukul 02.00 wib dinihari, sebuah truk lalu lalang didepan Sekretariat DPD PKS. Beberapa orang mencurigakan terlihat memantau sekitar kantor. Sementara Ketua DPW PKS Provinsi Jambi, Henri Masyhur mengutuk keras tindakan anarkis tersebut. Menurutnya, Pilwako yang bersih dan bermanfaat bagi masyarakat luas harus dimulai dengan tindakan yang santun dan bermartabat. Namun tindakan itu tidak akan mengurangi semangat kita menyukseskan Pilwako Sungai Penuh, ujarnya sambil berpesan, agar kader-kader di daerah tetap solid dan menjaga kesatuan untuk tujuan bersama. (*)

Tetap Tegar Ditengah Himpitan Musibah


Feb 20, 2011

Negeri ini tidak pernah lepas dari musibah yang menderanya. Belum lepas dari ingatan bangsa ini gempa bumi dan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam 2004 silam, kemudian Gempa Yogya 2006, gempa Sumatera Barat, dan tahun ini banjir bandang Wasior Papua, disusul tsunami Mentawai Sumatera Barat, Gunung Merapi Jawa Tengah dan Jogja serta kini Gunung Bromo Jawa Timur.

Sebagai bangsa, kita harus tetap tegar. Menunjukkan karakter dan jatidiri bangsa meski di tengah himpitan musibah. Untuk mengungkap peran guru di tengah himpitan musibah itu. PKS menggelar Diskusi Publik Pendidikan bertemakan Meningkatkan Peran Guru dalam Pembangunan Karakter Bangsa di tengah himpitan musibah pada Sabtu, (27/11)di MD Building Tb Simatupang gedung DPP PKS.

Hadir dalam kegiatan itu tokoh pendidikan nasional Prof. Dr. Arief Rahman, Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd Ketua Harian PGRI, dan Presiden PKS, Ust Lutfhi Hasan Ishak, MA. Seratus guru hadir dalam kegiatan tersebut termasuk dari kalangan organisasi profesi seperti Federasi Guru Independen Indonesia, Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia (JSIT), PGRI, Sekolah Rakyat, MAPADI, Persatuan Umat Islam (PUI), dan Persatuan Guru Sejahtera Indonesia.

Ketua Panitia Diskusi, Raihan Iskandar mengatakan Diskusi ini lebih ditujukan untuk menemukan model pendidikan yang tepat dalam membentuk karakter bangsa ditengah himpitan musibah agar karakter bangsa tetap tegak, tidak goyah kemudian lemah. Pendidikan harus mampu membentuk karakter peserta didik yang tangguh, disinilah letak strategis peran guru, kata pria yang juga menjadi ketua kelompok fraksi (Poksi) X DPR RI FPKS yang membidangi antara lain pendidikan.

Sementara itu Dr. Unifah menegaskan, sejak awal bangsa kita membicarakan pendidikan karakter, bukan saja sekarang. Pendidikan karakter penting di lapisan masyarakat, terutama di sekolah sesuai amanah pasal 3 UU Sisdiknas. Dalam mencapai tujuan tersebut, guru tidak bisa sendiri untuk sampai ke tujuan pendidikan nasional tersebut. Simpul pendidikan karakter adalah tahu kebenaran, cinta kebenaran, merasakan kebenaran, dan melaksanakan kebenaran. Mudah diucapkan, namun tidak mudah dilaksanakan, tutur Unifah.

Unifah mengutip hasil riset di Amerika Serikat yang dilakukan Thomas Lickona bahwa terdapat 10 tanda-tanda kehancuran suatu bangsa yakni : meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks

bebas, semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, menurunnya etos kerja, semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, membudayanya ketidakjujuran, dan adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Pakar pendidikan Prof Dr Arief Rahman menandaskan bahwa sukses pendidikan adalah dicirikan dengan kata bertaqwa. Dengan taqwalah kita semua mengetahui hakikat pendidikan itu dan mampu merealisikan nilai-nilai pendidikan di dalam diri, keluarga, dan masyarakat. Dia menyebutkan, dalam Al Baqoroh 177 disebutkan ada 5 syarat sukses pendidikan yakni : bertaqwa, ikhlash mengerjakan sesuatu, disiplin beribadah, bersabar, dan selalu bersyukur serta rasa kebangsaan.

Peran guru dalam pembentukan karakter bangsa adalah pertama persoalan idealisme guru dalam mendidik anak-anak bangsa. Guru harus mampu mempertahankan idealism perjuangannya. Arief menyontohkan dirinya yang 17 kali di penjara karena mempertahankan sikap dan idealismenya sebagai pendidik seperti memperjuangkan antikorupsi. Arief pun pernah dipanggil Mendiknas karena memprotes pelaksanaan ujian nasional (UN) dan dianggap selalu melawan pemerintah terkait UN.

Saya bilang UN tidak adil. Masa dengan 5,5 kelulusan diberlakukan secara nasional, harusnya ada standar normal sesuai dengan kemampuan di daerah masing-masing. Dampaknya, adalah jadilah sekolah berlomba-lomba menjadi sekolah berbimbel. Peran kedua adalah guru meningkatkan kualitas proses pembelajaran sebagaimana PP NO 19 thn 2005. Jangan sampai guru berwajah seram, tidak bersahabat dengan siswa, tidak sabar. Guru semestinya bisa memotivasi, menyenangkan, dan menginspirasi siswanya.

Peran berikutnya adalah keteladanan. Salah satu penyebab krisis karakter sehingga berakibat korupsi, lemahnya penegakkan hukum, tawuran, dan penyelewengan lainnya adalah krisis keteladanan. Jadi signifikansi juga bila guru harus menjadi teladan. Lebih lanjut Arief mengatakan, ada lima pilar karakter di sekolah yang perlu ditanamkan yakni jujur/amanah, disiplin, kemampuan akademik, kepemimpinan, dan entrepreneurship.

Sementara itu Presiden PKS Lutfhi Hassan Ishaaq, MA, mengatakan, bagi PKS, pendidikan karakter adalah bagian dari platform pembangunan Indonesia menuju masyarakat madani sebagaimana tertera dalam buku Paltform Pembangunan Indonesia. Visi PKS adalah bagaimana caranya menjadikan guru-guru itu seorang yang integrated.

Jadi, mencetak guru yang mampu selalu menjadikan seluruh ilmu yang diajarkan kepada peserta didik, selalu dibingkai dan dikaitkan dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Jalan untuk itu adalah dengan mengenal Allah SWT, memahami kebesaran Allah baik di alam semesta maupun dalam Al Quran, serta berusaha berada dalam tatanan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Sang mahapencipta kita. Misalnya, Bagi PKS, kekayaan dan kejujuran adalah dua hal yang baik dan boleh. Yang tidak boleh adalah menyalahgunakan kekayaan untuk kepentingan pribadi yang melanggar konstitusi. Guru, bagi PKS adalah profesi mulia.Oleh karena itu, PKS selalu memikirkan bagaimana caranya meningkatkan penghargaan dan martabat guru termasuk kesejahteraannya.

Selain diskusi publik yang diadakan PKS di gedungnya sendiri, juga diadakan pengumuman hasil lomba menulis surat untukmu guru tingkat Jabodetabek untuk jenjang SMP. Dari 34 naskah surat yang terkirim melalui email, juara 1 diraih Faiq Fahmi Bahwal (SMPIT NF Depok), Farah Anindya Maharani (SMPIT Darul Abidin Depok) sebagai juara 2, dan M Fijar Lazuardi juara 3 dari SMPIT Insan Mubarak Jakarta Barat. Mereka mendapatkan hadiah dengan total Rp 3,2 juta, piala, dan piagam penghargaan. Ini adalah bukti bahwa suara hati siswa kita mengerti tentang posisi guru, sangat menghargai guru, dan berharap pemerintah mengangkat martabat guru baik guru swasta maupun negeri. Saya terharu mendengarnya, kata Unifah.

Presiden PKS menarik, isi surat mereka, salah satunya adalah ketika siswa berprestasi dan berhasil, guru tidak pernah disebut. Tetapi ketika siswa melakukan kesalahan, guru menjadi pihak yang tertuduh. Ini tidak fair katanya.