Anda di halaman 1dari 10

Wawasan Nusantara

Heri Faisal Harahap


1105170694 1K Akuntansi Pagi

Oleh :

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

FAKULTAS EKONOMI MEDAN 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang


Dalam hubungan dengan kehidupan manusia dalam suatu Negara dalam hubungannya dengan lingkungan alam, kehidupan manusia di dunia mempunyai kedudukan sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai wakil Tuhan (khlifatullah) di bumi yang menerima amanatnya untuk mengelola kekayaan alam. Sebagai hamba Tuhan mempunyai kewajiban untuk beribadah dan menyembah Tuhan sang pencipta dengan penuh ketulusan. Adapun sebagai wakil Tuhan di bumi, manusia dalam hidupnya berkewajiban memelihara dan dan memanfaatkan segenap karunia kekayaan alam dengan sebaik-baiknya untuk kebutuhan hidupnya. Kedudukan manusia tersebut mencakup tiga segi hubungan, yaitu: Hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antar manusia, dan hubungan antara manusia dengan makhluk lainnya. Bangsa Indonesia sebagai umat manusia religious dengan sendirinya harus dapat berperan sesuai dengan kedudukan tersebut. Sebagai Negara kepulauan dengan masyarakatnya yang beraneka ragam, Negara Indonesia memiliki unsure-unsur kekuatan dan sekaligus kelemahan. Kekuatannya terletak pada posisi dan keadaan geografi yang strategi dan kaya akan sumber daya alam. Sementara kelemahannya terletak pada wujud kepulauan dan keanekaragaman masyarakat yang harus disatukan dalam satu bangsa dan satu tanah air, sebagaimana telah diperjuangkan oleh para pendiri Negara. Dalam pelaksanannya bangsa Indonesia tidak bebas dari pengaruh interaksi dan interelasi dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan regional maupun internasional. Dalam hal ini bangsa Indonesia perlu memiliki prinsip-prinsip dasar sebagai pedoman agar tidak terombang-ambing dalam memperjuangkan kepentingan nasional untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya. Salah satu pedoman bangsa Indonesia adalah wawasan nasional yang berpijak pada wujud wilayah nusantara. Sehingga kelompok kami menjadikan kasus Ambalat yang menjadi Studi kasus dalam tugas kelompok ini.

B. Rumusan masalah Dari latar belakang yang telah ada, penulis merumuskan beberapa permasalahan diantaranya : 1. Apa yang dimaksud dengan geopolitik Indonesia dan wawasan Nusantara? 2. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi wawasan nusantara? 3. Apakah Unsur-Unsur Dasar Wawasan Nusantara 4. Bagaimana hubungan wawasan nusantara dan ketahanan Nasional? 5. Apa yang menjadi salah satu studi kasus terkait tema, dimana hal itu merupakan informasi terkini pada bangsa Indonesia? C. Tujuan Penulisan Tujuan pembuatan makalah ini adalah: 1. Untuk memenuhi tugas akhir semester 1 mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan 2. Untuk dijadikan bahan dalam kegiatan diskusi 3. Untuk mengetahui hubungan wawasan nusantara dengan ketahanan nasional. D. Metode dan teknik penulisan Metode dan teknik penulisan yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode studi pustaka. Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi yang bersifat teoritis yang kemudian data tersebut akan dijadikan dasar atau pedoman untuk melihat adanya ketidaksesuaian antara teori dengan kenyataan sebagai penyebab dari permasalahan yang dibahas dalam karya tulis ini. Sumber sumber yang dijadikan sebagai rujukan untuk studi pustaka diperoleh dari berbagai sumber bacaan. Baik itu buku maupun situs situs yang ada di internet.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Geopolitik1 Istilah Geopolitik menurut Frederich Ratzel (1844-1904) sebagai ilmu bumi politik (Political Geography). Istilah ini kemudian dikembangkan oleh sarjana ilmu politik Swedia Rudolf Kjellen (1864-1922) dan Karl Haushofer dari Jerman (1869-1964) menjadi Geographical Politic. Geopolitik memaparkan dasar pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan alternatif kebijaksanaan nasional untuk mewujudkan tujuan tertentu. Prinsip-prinsip Geopolitik menjadi dasar dalam pengembangan wawasan nasional. Geopolitik juga bertumpu kepada geografi sosial (hukum geografi), mengenai situasi, kondisi, atau konstelasi geografi dan segala sesuatu yang dianggap relevan dengan keadaan geografi negara. B. Pengertian Wawasan Nusantara2 Setiap bangsa mempunyai wawasan nasional (national outlook) yang merupakan visi bangsa menuju masa depan. Dalam konteks ini kehidupan berbangsa diperlukan suatu konsep cara pandang yang menjamin kelangsungan hidup serta keutuhan bangsa. Adapun wawasan nasional Bangsa Indonesia dikenal dengan Wawasan Nusantara. Istilah wawasan berasal dari kata Wawas yang berarti pandangan, tinjauan, atau penglihatan inderawi. Sedangkan istilah Nusantara berasal dari kata Nusa yang berarti pulaupulau, dan Antara yang berarti diapit antara dua hal. Istilah Nusantara digunakan untuk menggambarkan kesatuan wilayah perairan dan gugusan pulau-pulau Indonesia yang terletak diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia serta diantara Benua Asia dan Benua Eropa. Dengan demikian wawasan nasional adalah cara pandang suatu bangsa tentang dirinya dan lingkungannya yang dijabarkan dari falsafaah dan sejarah bangsa tersebut dengan posisi dan kondisi geografi negaranya untuk mencapai tujuan atau cita-cita nasionalnya. Sedangkan Wawasan Nusantara mempunyai arti cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta sesuai dengan geografi wilayah Nusantara yang menjiwai kehidupan bangsa dalam mencapai tujuan atau cita-cita nasionalnya.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Wawasan Nusantara3 1. Wilayah (Geografi) a. Asas Kepulauan (Archipelagic Principle) Kata Archipelago dan Archipelagic berasal dari kata Italia Archipelagos. Akar katanya adalah Archi berarti terpenting, terutama dan Pelagos yang berarti laut atau wilayah lautan. Jadi, Archipelago dapat diartikan sebagai lautan terpenting. Istilah Archipelago adalah wilayah lautan dengan pulau-pulau di dalamnya. Arti ini kemudian menjadi pulau-pulau saja tanpa menyebut unsur lautnya sebagai akibat penyerapan bahasa Barat, sedangkan Archipelago selalu diartikan sebagai kepulauan atau gugusan pulau-pulau. Lahirnya asas Archipelago mengandung pengertian bahwa pulau-pulau tersebut selalu dalam kesatuan utuh, sementara tempat unsure perairan atau lautan antara pulau-pulau berfungsi sebagai unsur penghubung dan bukan unsur pemisah. Asas dan wawasan
1 Hotma Siregar SH, MH, 2011, Diktat Pendidikan Kewarganegaraan Hal. 97. Medan 2 Prof. DR. H. Kaelan, M.S. dan Drs. H. Achmad Zubaidi, M.Si, 2007, Pendidikan Kewarganegaraan Hal. 124, Paradigma, Yogyakarta 3 Prof. DR. H. Kaelan, M.S. dan Drs. H. Achmad Zubaidi, M.Si, 2007, Pendidikan Kewarganegaraan Hal. 125-135, Paradigma, Yogyakarta

kepulauan ini dijumpai dalam pengertian The Indian Archipelago. Kata Archipelago pertama kali dipakai oleh Johan Crawford dalam bukunya The history of Indian Archipelago (1820). Kata Indian Archipelagos diterjemahkan kedalam bahasa Belanda Indische Archipel, yang semula ditafsirkan sebagai wilayah Kepulauan Andaman sampai Marshanai. b. Kepulauan Indonesia Bagian wilayah Indische Archipel yang dikuasai Belanda dinamakan Nederlandsch Oostindishe Archipelago. Itulah wilayah jajahan Belanda yang kemudian menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai sebutan untuk kepulauan ini sudah banyak nama yang dipakai, yaitu Hindia Timur, Insulinde oleh Multatuli, Nusantara. Indonesia dan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie) pada masa penjajahan Belanda. Bangsa Indonesia sangat mencintai nama Indonesia meskipun bukan dari bahasanya sendiri, tetapi ciptaan orang barat. Nama Indonesia mengandung arti yang tepat, yaitu Kepulauan Indonesia. Dalam bahasa Yunani, Indo berarti India dan Nesos berarti pulau. Indonesia mengandung makna spiritual yang didalamnya terasa ada jiwa perjuangan menuju cita-cita luhur, Negara kesatuan, kemerdekaan dan kebebasan. Sebutan Indonesia merupakan ciptaan Ilmuwan J.R Logan dalam Journal of The Indian Archipelago and East Asia (1850). Sir W.E.Maxwell, seorang ahli hukum, juga memakainya dalam kegemarannyan mempelajari rumpun Melayu. Pada tahun 1882 dia menerbitkan buku penuntun untuk bahasa Melayu dengan kata pembukaan yang memakai istilah Indonesia semakin terkenal berkat peran Adolf Bastian, seorang etnolog , yang menegaskan arti Kepulauan ini dalam bukunya Indenesien order die Inseln des Malaysichen Archipels (1884-1889). c. Konsepsi tentang Wilayah Lautan Dalam perkembangan hukum laut internasional dikenal beberapa konsepsi mengenai pemilikan dan penggunaan wilayah laut sebagai berikut : 1. Res Nullius, menyatakan bahwa laut itu tidak ada yang memilikinya. 2. Res Cimmunis, menyatakan bahwa laut itu adalah milik masyarakat dunia karena itu tidak dapat dimiliki oleh masing-masing negara. 3. Mare Liberum, menyatakan bahwa wilayah laut adalah bebas untuk semua bangsa. 4. Mare Clausum (The Right and Dominion Of the Sea), menyatakan bahwa hanya laut sepanjang pantai saja yang dapat dimiliki oleh suatu negara sejauh yang dapat dikuasai dari darat (waktu itu kira-kira sejauh 3 mil). 5. Archipelagic State Pinciples (asas Negara Kepulauan) yang menjadikan dasar dalam Konvensi PBB tentang hukum laut. Sesuai dengan Hukum Laut Internasional, secara garis besar Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki Laut Teritorial, Perairan Pedalaman, Zona ekonomi Eksklusif, dan Landas Kontinen. Masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Negara kepulauan adalah suatu negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain. 2. Laut Teritorial adalah satu wilayah laut yang lebarnya tidak melebihi 12 Mil laut di ukur dari garis pangkal, sedangkan garis pangkal adalah garis air surut terendah sepanjang pantai, seperti yang terlihat pada peta laut skala besar yang berupa garis pantai yang menghubungkan titik terluar dari dua pulau dengan batas tertentu sesuai konvensi PBB. 3. Perairan Pedalaman adalah wilayah sebelah dalam daratan atau sebelah dalam dari garis pangkal. 4. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) tidak boleh melebihi 200 mil laut dari garis pangkal. Dalam ZEE negara yang bersangkutan mempunyai ledaulatan untuk keperluan eksplorasi, ekspoiltasi, konservasi, dan pengelolahan sumber hayati dari perairan. 5. Landas Kontinen suatu negara berpantai meliputi dasar laut dan tanah dibawahnya yang terletak di luar teritorialnya sepanjang merupakan kelanjutan alamiah wilayah daratannya. Karakteristik Wilayah Nusantara Nusantara berarti Kepulauan Indonesia yang terletak di antara benua Asia dan Benua Australia dan diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, yang terdiri dari 17.508 pulau besar maupun pulau kecil. Jumlah pulau yang sudah memiliki nama 6.044 buah. Kepulauan Indonesia terletak pada batas-batas astronomi ; Utara : 6 08 LU Selatan : 11 15 LS Barat : 94 45 BB Timur : 141 05 BT Luas wilayah Indonesia seluruhnya adalah 5.193.250 km yang terdiri dari daratan seluas 2.027.087 km dan peraiaran 3.166.163 km. Luas wilayah Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara merupakan yang terluas. Geopolitik dan Geostrategi Geopolitik Asal Istilah Geopolitik Istilah Geopolitik menurut Frederich Ratzel (1844-1904) sebagai ilmu bumi politik (Political Geography). Istilah ini kemudian dikembangkan oleh sarjana ilmu politik Swedia

a.

1. a. 1.

Rudolf Kjellen (1864-1922) dan Karl Haushofer dari Jerman (1869-1964) menjadi Geographical Politic. Geopolitik memaparkan dasar pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan alternatif kebijaksanaan nasional untuk mewujudkan tujuan tertentu. Prinsip-prinsip Geopolitik menjadi dasar dalam pengembangan wawasan nasional. Geopolitik juga bertumpu kepada geografi sosial (hukum geografi), mengenai situasi, kondisi, atau konstelasi geografi dan segala sesuatu yang dianggap relevan dengan keadaan geografi negara. 2. Pandangan Ratzel dan Kjellen Frederich Ratzel pada akhir abda ke 19 mengembangkan kajian geografi politik dengan dasar pandangan bahwa negara mirip dengan organism (makhluk hidup). Negara adalah ruang yang ditempati oleh sekelompok masyarakat politik (bangsa). Jika bangsa dan negara ingin tetap eksis dan berkembang, maka harus diberlakukan hukum eknspansi (pemekaran wilayah). Rudolf Kjellen berpendapat bahwa negara adalah organisme yang harus memiliki intelektual. Negara merupakan system politik yang mencakup geopolitik, ekonomi politik, kratopolitik, dan sosiopolitik. Kjellen mengajukan paham ekspansionisme dalam rangka mempertahankan negara dang mengembangkannya. Pandangan Ratzel dan Kjellen hampir sama. Mereka memandang pertumbuhan negara mirip denga pertumbuhan organism (makhluk hidup). Oleh karena itu negara memerlukan ruang hidup (lebensraum). 3. Pandangan Haushofer Pemikiran Karl Haushofer disamping berisi paham ekspansionisme juga mengandung ajaran rasialisme, yang menyatakan bahwa ras Jerman adalah ras paling unggulyang harus dapat menguasai dunia. Pokok-pokok pemikiran Haushofer adalah sebagai berikut: a. Suatu bangsa dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya tidak terlepas dari hukum alam. Hanya bangsa yang unggul yang dapat bertahan hidup dan terus berkembang sehingga hal ini menjurus ke aral realism. b. Kekuasaan Imperium daratan yang kompak akan dapat mengejar kekuasaan Imperium Maritim untuk menguasai pengawasan lautan. c. Beberapa negara besar di dunia akan timbul dan akan menguasai Eropa, Afrika, dan Asia Barat (Jerman dan Italia). Sementera Jepang akan menguasai Asia Timur Raya. d. Geopolitik dirumuskan sebagai perbatasan. Ruang hidup bangsa dengan kekuasaan ekonomi dan social yang rasial mengharuskan pembagian baru kekayaan alam dunia. 1. Geopolitik Bangsa Indonesia Pandangan Geopolitik bangsa Indonesia yang didasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan yang luhur jelas dan tegas tertuang pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu Bangsa Indonesia juga menolak paham ekspansionisme dan adu kekuatan yang berkembang di Barat. Bangsa Indonesia juga menolak paham rasialisme, karena semua manusia mempunyai martabat yang sama dan semua bangsa memiliki hak dan kewajiban yang sama berdasarkan nilai-nilai Ketuhanaan dan Kemanusian yang universal.

a. Geostrategi Strategi adalah politik dalam pelaksanaan, yaitu upaya bagaimana mencapai tujuan atau sasaran yang ditetapkan sesuai denga keinginan politik. Strategi pada hakikatnya merupakan suatu seni yang implementasinya didasari oleh intuisi, perasaan dan hasil pengalaman. Seni dan ilmu sekaligus digunakan untuk membina atau mengelola sumber daya alam yang dimiliki dalam suatu rencana. Sebagai contoh pertimbangan geostrategic untuk negara dan bangsa Indonesia adalah kenyataan posisi silang bangsa Indonesia dalam berbagai aspek seperti berikut : 1. Geografi : wilayah Indonesia terletak diantara 2 benua, Asia dan Australia, serta dua Samudera yaitu Pasifik dan Hindia. 2. Demografi : Penduduk Indonesia terletak di antara penduduk jarang di selatan (Australia dan Selandia Baru) dan penduduk padat di utara (RRC dan Jepang). 3. Ideologi : ideologi Indonesia (Pancasila) terletak diantara Liberalisme di selatan (Australia dan Selandia Baru) dan komunisme di utara (RRC, Vietnam, dan Korea Utara). 4. Politik : Demokrasi Pancasila terletak diantara Demokrasi Liberal di selatan dan DemokrasiRakyat (diktatur proletar) di utara. 5. Ekonomi : Ekonomi Indonesia terletak diantara Ekonomi Kapitalis di Selatan dan Ekonomi Sosialis di utara. 6. Sosial : Masyarakat Indonesia terletak di antara Masyarakat Individualis di selatan dan Masyarakat Sosialis di utara. 7. Budaya : Budaya Indonesia terletak diantara Budaya Barat di selatan dan Budaya Timur di utara. 8. Hankam : Geopolitik dan Geostrategi Hankam Indonesia terletak diantara wawasan kekuasaan maritim di selatan dan wawasan kekuatan kontitenal di uatara.

1. Perkembangan Wilayah Indonesia dan Dasar Hukumnya a. Sejak 17 Agustus 1945 sampai dengan 13 Desember 1957 Wilayah Negara Republik Indonesia ketika merdeka meliputi wilayah bekas Hindia Belanda berdasarkan ketentuan dalam Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonatie tahun 1939 tentang batas wilayah laut territorial Indonesia. Ordonasi tahun 1939 tersebut menetapkan batas wilayah laut territorial sejauh 3 mil dari garis pantai ketika surut, dengan asas pulau demi pulau secara terpisah-pisah. Pada masa itu wilayah Negara Republik Indonesia bertumpu pada wilayah daratan pulau-pulau yang saling terpisah oleh perairan atau selat di antara pulaupulau. b. Dari Deklarasi Juanda (13 Desember 1957) sampai dengan 17 Februari 1969 Pada tanggal 13 Desember 1957 dikeluarkan deklarasi Juanda yang dinyatakan sebagai pengganti Ordonasi tahun 1939 dengan tujuan berikut : a. Perwujudan bentuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat. b. Penentuan batas-batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan asas Negara Kepulauan (Archipelagic State Principles) c. Pengaturan lalu lintas pelayaran yang lebih menjamin keselamatan dan keamanan Negara Kesatuan republic Indonesia Deklrasi Juanda kemudian dikukuhkan dengan Undang-Undang no. 4/Prp/1960. Tentang Perairan Indonesia. Sejak itu terjadi perubahan bentuk wilayah nasional dan cara perhitungannya. Laut territorial diukur sejauh 12 mil dari titik pulau terluar di Indonesia. Dengan demikian luas wilayah territorial Indonesia yang semula hanya sekitar 2 juta km kemudian bertambah menjadi 5 juta km lebih. Untuk mengatur lalu lintas perairan maka dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1962 tentang lalu lintas damai di perairan pedalaman Indonesia yang meliputi. a. Semua pelayaran dari laut bebas ke suatu pelabuhan Indonesia. b. Semua pelayaran dari pelabuhan Indonesia ke laut bebas, dan c. Semua pelayaran dari dan ke laut bebas dengan melintasi perairan Indonesia. a. Dari 17-2-1969 (Deklarasi Landas Kontinen) sampai sekarang Deklarasi tentang landas kontinen Negara RI merupakan konsep politik yang bedasarkan konsep wilayah. Deklarasi ini dipandang pula sebagai upaya untuk mengesahkan wawasan nusantara. Asas-asas pokok yang termuat dalam Deklarasi tentang landas kontinen adalah sebagai berikut : 1) Segala sumber kekayaan alam yang terdapat dalam landas kontinen Indonesia adalah milik eksklusif Negara RI. 2) Pemerintah Indonesia bersedia menyelesaikan soal garis batas landas kontinen dengan Negara-negara tetangga melalui perundingan. 3) Jika tidak ada garis batas, maka landas kontinen adalah suatu garis yang ditarik di tengah-tengah antara pulau terluar Indonesia dengan wilayah terluar Negara tetangga. 4) Claim tersebut tidak mempengaruhi sifat serta status dari perairan diatas landas kontinen Indonesia maupun udara diatasnya. a. Zona Ekonomi Eksklusif Pengumuman Pemerintah Negara tentang Zona Ekonomi Eksklusif terjadi pada 21 Maret 1980. Batas ZEE adalah selebar 200 mil yang dihitung dari garis dasar laut wilayah Indonesia. Alasan-alasan yang mendorong Pemerintah mengumumkan ZEE adalah : 1) Persedian ikan yang semakin terbatas. 2) Kebutuhan untuk pembangunan nasional Indonesia. 3) ZEE mempunyai kekuatan hukum Internasional. Melalui perjuangan panjang di Forum Internasional, akhirnya Koferensi PBB tentang Hukum Laut II di New York 30 April 1982 menerima The United Nation Convention on The Law of the Sea (UNCLOS). Yang kemudian ditandatangani pada 10 Desember 1982di Montego Bay, Jamaica oleh 117 Negara termasuk Indonesia.

A. Unsur-unsur Dasar Wawasan Nusantara4 a. Wadah (Contour)


4 S. Sumarsono , 2007, Pendidikan Kewarganegaraan Hal. 85-86, PT. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta

Wadah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara meliputi seluruh wilayah Indonesia yang memiliki kekayaan alam dan penduduk dengan aneka ragam budaya. Setelah Negara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, bangsa Indonesia memiliki organisasi kenegaraan yang merupakan wadah berbagai kegiatan kenegaraan dalam wujud suprastruktur politik. Sementara itu, wadah dalam kehidupan bermasyarakatadalah berbagai lembaga dalam wujud infrastruktur politik. Wadah terbagi atas 3 yaitu5 : a. Wujud Wilayah b. Tata Inti Organisasi c. Tata Kelengkapan Organisasi a. Isi (Content) Isi adalah aspirasi bangsa yang berkembang dimasayarakat dan cita-cita serta tujuan nasional terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Untuk mencapai aspirasi yang berkembang dimasyarakat maupun cita-cita dan tujuan nasional seperti diatas, bangsa Indonesia harus bias menciptakan persatuandan kesatuan dalam kebhinekaan tunggal ika dalam kehidupan nasional. Isi menyangkut dua hal yang esensial, yaitu : a. Realisasi aspirasi bangsa sebagai kesepakatan bersama serta pencapaian cita-cita dan tujuan nasional. b. Persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan tunggal ika yang meliputi semua aspek kehidupan nasional. a. Tata Laku(Conduct) Tata laku merupakan hasil interaksi anatara wadah dan isi, yang terdiri atas tata laku batiniah dan lahiriah. Tata laku batiniah mencerminkan jiwa, semangat, dan mentalitas yang baik dari bangsa Indonesia, sedangkan tata laku lahiriah tercermin dalam tindakan, perbuatan, dan perilaku dari bangsa Indonesia berdasarkan kepada bangsa dan tanah air sehingga menimbuhkan nasionalisme yang tinggi dalam semua aspek kehidupan nasional. B. Hubungan Wawasan Nusantara Dan Ketahanan Nasional 5 Konsep wawasan nusantara harus dimaknai sebagai cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya secara keseluruhan. Dengan demikian, bangsa Indonesia akan terlihat sebagai satu kesatuan yang utuh. Cara pandang ini sangat dibutuhkan dalam menyelenggarakan kehidupan nasional agar tetap mengarah pada pencapaian tujuan nasional. Upaya pencapaian tujuan nasional dilakukan dengan melakukan pembangunan disegala sector, termasuk membangun karakter bangsa yang harus berpedoman pada konsep wawasan nusantara. Dalam proses pembangunan nasional untuk mencapai tujuan-tujuan nasional Indonesia sering dihadapkan pada berbagai kendala dan ancaman. Kendala yang dihadapi dalam berbagai bentuk, baik yang bersifat terhambatnya system ataupun tidak tersosialisasikannya system dengan baik. Sedangkan ancaman bias dating dari luar Indonesia, bahkan dari dalam Negara Indonesia sendiri. Untuk mengatasi segala kendala-kendala dan ancaman-ancaman tersebut perlu dibangun suatu kondisi kehidupan nasional yang disebut dengan Ketahanan Nasional. Keberhasilan pembangunan nasional akan meningkatkan kondisi dinamik kehidupan nasional dalam wujud ketahanan nasional yang tangguh akan mendorong pembangunan nasional kerah yang lebih baik.

Secara konseptual, ketahanan nasional suatu bangsa dilator belakangi oleh : a. Kekuatan apa yang ada pada suatu bangsa dan Negara sehingga ia mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya. b. Kekuatan apa yang harus dimiliki oleh suatu bangsa dan Negara sehingga mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya, meskipun mengalami berbagai gangguan, hambatan dan ancaman baik dari dalam maupun dari luar. c. Ketahanan atau kemampuan bangsa untuk tetap jaya , mengandung makna keteraturan (regular) dan stabilitas yang di dalamnya terkandung potensi untuk terjaadinya perubahan (the stability idea of changes). Berdasarkan konsep pengertiannya maka apa yang dimaksud dengan ketahanan nasional adalahsuatu kekuatan yang membuat suatu bangsa dan Negara dapat bertahan, kuat menghadapi ancaman, gangguan, dan hambatan. Konsekuensinya suatu ketahanan harus disertai dengan keuletan yaitu suatu usaha secara terus menerus secara giat dan berkemauan keras menggunakan segala kemampuan dan kecakapan untuk mencapai tujuan dan cita-cita nasional.

5 Hotma Siregar S.H, M.H , 2011, Diktat Pendidikan Kewarganegaraan Hal.105-107, Medan

A. Studi Kasus Ambalat6 AMBALAT kembali mencuri perhatian. Kapal perang Malaysia berkali- kali melanggar teritori Indonesia dan diusir armada angkatan laut kita. Mencuat pada 2005, mengapa krisis Ambalat kembali terjadi? Apa solusi terbaiknya? Ambalat adalah sebuah gugus pulau di sekitar 118.2558 Bujur Timur (BT)-118.254167 BT dan 2.56861 Lintang Utara (LU)- 3.79722 LU yang terletak di perairan Laut Sulawesi, sebelah timur Pulau Kalimantan Timur. Sengketa Ambalat IndonesiaMalaysia menyeruak karena klaim kepemilikan. Pada 2005, krisis Ambalat ditandai dengan show of force kedua angkatan bersenjata, penembakan kapal nelayan kita oleh Malaysia, dan aneka aksi demonstrasi mengecam Malaysia. Ambalat disebut sebagai wilayah Republik Indonesia (RI) sesuai Undang-undang No 4 Tahun 1960 tentang Perairan RI yang telah sesuai dengan konsep hukum Negara Kepulauan (Archipelagic State). Undang-undang ini telah diakui dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut (United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS) ditetapkan dalam Konferensi III PBB di Montego Boy, Jamaika, 10 Desember 1982. Konvensi ini kemudian diratifikasi oleh Indonesia dengan Undang-undang No 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS. Malaysia mengklaim Ambalat sebagai wilayah kedaulatannya sesuai dengan peta wilayah yang dibuat Malaysia pada 1979. Peta itu didasarkan pada The Convention on The Territorial Sea and the Contiguous zone 1958 dan The Continental Self Convention 1958. Peta Laut 1979 tersebut juga telah memasukkan Pulau Sipadan dan Ligitan ke dalam wilayah Malaysia. Malaysia memberi Ambalat (wilayah XYZ) kepada Shell atas dasar perjanjian bagi hasil (Production Sharing Contract ) pada 16 Februari 2005. Masalah Ambalat menjadi penting bagi Indonesia karena setidak-tidaknya ia mencakup tiga dari empat variabel kepentingan nasional. Pertama, dari sisi keamanan nasional, ada masalah penjagaan integritas wilayah nasional yang cukup sensitif. Bagi kaum realisme politik internasional, masalah- masalah keamanan nasional semacam ini justru menjadi fokus utama kebijakan negara. Pengamat militer, Andi Wijayanto dalam wawancara TVOne (27/5/09) menyatakan, langkah Malaysia sejatinya bisa dimaknai sebagai upaya ingin menguji kedaulatan efektif kita atas Ambalat. Kedua, ada persoalan citra dan harga diri bangsa karena perasaan terlecehkan sebagai negara berdaulat dengan manuver angkatan laut Malaysia. Ini berakumulasi dengan memori kehilangan kita atas Sipadan dan Ligitan, aneka kasus kekerasan pada TKI, klaim Malaysia atas Lagu Rasa Sayange, reog dan batik misalnya. Artinya para patriot dan nasionalis menginginkan bahwa harga diri kita harus tegak sebagai bangsa berdaulat. Ketiga ada ancaman bagi kesejahteraan ekonomi karena potensi ekonomi dari minyak Ambalat ditakutkan jatuh ke pihak luar. Pakar ekonomi minyak Dr Kurtubi pada 2005 menyatakan secara kasar Ambalat memiliki cadangan migas seharga 40 miliar dolar AS. Tentu, nilai ini cukup signifikan jika bisa masuk ke kas negara kita Dengan ketiga kepentingan nasional tersebut, maka pilihan instrumen politik luar negeri yang tersedia adalah diplomasi atau konfrontasi. Namun diplomasi memiliki beberapa kelebihan. Pertama, pada tataran praktik, secara nyata telah ada upaya diplomasi sejak 2005 yang dijalankan kedua negara untuk menyelesaikan Ambalat. Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono (20/5/09) juga menyatakan perundingan Ambalat masih berlangsung. Artinya pilihan penyelesaian diplomatik adalah yang paling rasional meski harus dikawal. Penyelesaian diplomatik dimulai dengan pembukaan komunikasi diplomatik Indonesia dengan Malaysia (keterangan pers Departemen Luar Negeri, Jumat 4 Maret 2005). Malaysia menjawab pada 25 Februari 2005 dengan menyampaikan pandangan mereka bahwa wilayah itu adalah wilayahnya. Presiden SBY kemudian berkomunikasi dengan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi melalui telepon Senin 8 Maret 2005 sebelum meninjau Ambalat. Pembicaraan berlangsung konstruktif untuk menyelesaikan masalah dengan baik dan Badawi pun akan mengirimkan Menteri Luar Negeri Malaysia untuk mengunjungi Indonesia. Diplomasi memasuki babak baru setelah Menlu Malaysia Syed Hamid Albar bertemu dengan Menlu RI Hasan Wirajuda di Jakarta (9/3/2005) bahkan diterima oleh Presiden SBY. Dalam pertemuan antarmenlu telah disepakati bahwa kedua belah pihak akan membentuk tim teknis yang akan melakukan perundingan ke arah penyelesaian Blok Ambalat. Pertemuan penyelesaian diplomasi pertama dilakukan pada 22 dan 23 Maret 2005. Pertemuan tim teknis Indonesia-Malaysia dilanjutkan di Langkawi pada 25-26 Mei, di Yogyakarta 25-26 Juli, di Johor Baru pada 27-28 September 2005 dan Desember 2005. Namun hingga 2006 masalah sengketa Blok Ambalat antara Malaysia dan Indonesia masih dalam proses perundingan oleh kedua negara dan belum ada penyelesaian yang dapat diterima oleh kedua negara. Dalam pertemuan bilateral 6 http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2009/06/geopolitik-indonesia.html

antara PM Abdullah Ahmad Badawi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung Negara Tri Arga, Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12-13 Januari 2006 telah disepakati bahwa, sengketa Blok Ambalat akan terus diselesaikan secara perundingan. Kedua, secara moral penyelesaian diplomasi lebih dipilih karena diplomasi merupakan instrumen politik luar negeri yang beradab, murah, dan terukur. Konfrontasi dan perang semakin banyak dicibir karena tidak hanya mahal tetapi juga karena efek rusaknya yang sulit terkontrol. Yang menyedihkan adalah analisa bahwa dari sisi Alutsista kita akan kalah. Perintah untuk tidak mengeluarkan tembakan dari kapal perang kita da cukup mengusir kapal Malaysia cukup bijaksana. Alasan lain, Indonesia dan Malaysia adalah tetangga serumpun yang ada dalam kerangka the ASEAN Way dalam penyelesaian aneka sengketa yang ada. Alur penyelesaian diplomatik yang telah disepakati sendiri mencakup dua fase. Fase pertama adalah pembicaraan untuk mengeksplorasi dan mengetahui posisi masing-masing negara atas klaimnya di Blok Ambalat. Fase kedua adalah bagaimana kedua negara bisa menyepakati jalan keluar dari klaim tumpang tindih atas Blok Ambalat. Jalan keluar ini ada tiga alternatif. Satu, negara yang bersengketa tidak menyepakati solusi dan membiarkan permasalahan ini tidak terselesaikan (baca: mengambang) dengan catatan negara yang bersengketa menyepakati suatu status quo. Dua, negara yang bersengketa tidak menyepakati batas, tetapi bersepakat untuk melakukan pengelolaan bersama. Tiga, negara yang bersengketa sepakat untuk membawa sengketa mereka ke forum penyelesaian sengketa. Alur penyelesaian diplomatik yang telah disepakati sendiri mencakup dua fase. Fase pertama adalah pembicaraan untuk mengeksplorasi dan mengetahui posisi masing-masing negara atas klaimnya di Blok Ambalat. Fase kedua adalah bagaimana kedua negara bisa menyepakati jalan keluar dari klaim tumpang tindih atas Blok Ambalat. Jika diplomasi gagal maka krisis bisa kembali terjadi kapan saja. Konfrontasi akan sangat kontra produktif bagi hubungan bilateral, maupun stabilitas regional ASEAN ke depan. Krisis dan konfrontasi juga akan berakibat perluasan spektrum politik luar negeri tidak lagi semata menjadi pembahasan para elite decision makers tetapi meluas merambah ke wilayah keterlibatan publik. Ini tentu saja positif dalam konteks demokratisasi politik luar negeri agar kebijakan yang diambil accountable terhadap rakyat. Tetapi sayang, mencermati krisis terdahulu, keterlibatan publik lebih cenderung mengarah kepada ekspresi emosi, kemarahan, sweeping, ajakan berperang, penggalangan relawan dan sebagainya. Padahal eloknya keterlibatan itu lebih terarah kepada pernyataan sikap, artikulasi kepentingan, maupaun aksi yang rasional dan terukur. Penyelesaian Ambalat membutuhkan tidak hanya tekad dan upaya diplomasi bilateral berkelanjutan tetapi juga sikap saling respek untuk tidak melakukan provokasi. Selagi diplomasi masih bergulir, provokasi dan pelanggaran teritori tentu berbahaya. Bagi Indonesia, diplomasi juga harus dikawal dengan menunjukkan kewibawaan, kekuatan dan ketegasan. Kaum realis mengatakan, Jika ingin damai bersiaplah untuk berperang (if you want peace, prepare for war).

BAB III PENUTUP


Istilah Geopolitik menurut Frederich Ratzel (1844-1904) sebagai ilmu bumi politik (Political Geography). Istilah ini kemudian dikembangkan oleh sarjana ilmu politik Swedia Rudolf Kjellen (1864-1922) dan Karl Haushofer dari Jerman (1869-1964) menjadi Geographical Politic. Geopolitik memaparkan dasar pertimbangan-pertimbangan dalam menentukan alternatif kebijaksanaan nasional untuk mewujudkan tujuan tertentu. Prinsip-prinsip Geopolitik menjadi dasar dalam pengembangan wawasan nasional. Geopolitik juga bertumpu kepada geografi sosial (hukum geografi), mengenai situasi, kondisi, atau konstelasi geografi dan segala sesuatu yang dianggap relevan dengan keadaan geografi negara.

Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang saling berdekatan dan menjalin hubungan bilateral yang sudah berlangsung sejak lama. Meski demikian, antara kedua negara ini sering terjadi perselisihan, khususnya mengenai permasalah batas wilayah. Fakta memperlihatkan beberapa pulau yang telah diambil oleh pihak Malaysia dari Indonesia, contohnya seperti Pulau Sipadan dan Ligitan. Dan hingga kini yang menjadi permasalahan terbaru, kedua pihak tersebut sedang memperebutkan satu wilayah yang kaya akan sumber daya minyak. Malaysia mengklaim daerah Ambalat, yang terletak di sebelah timur Pulau Kalimantan Timur tersebut termasuk kedalam kepemilikan wilayahnya. Indonesia yang memiliki bukti kuat atas kepemilikannya, tidak begitu saja menerima pernyataan mentah tersebut. Sehingga hal ini membuat sautu hubungan yang kurang baik di antara dua pihak melalui konflik yang ditimbulkan. Dan parahnya, sampai

sekarang belum didapatkan jalan keluar yang dapat menguntungkan kedua belah pihak. Dari kesimpulan yang dapat kami kemukakan di atas. Kami mengaharapkan agar pemerintah Indonesia dapat lebih tegas dalam menyegerakan permasalahan Ambalat tersebut. Karena hal ini dapat menunjukkan Sistem Geopolitik Indonesia yang kuat kepada seluruh dunia. Supaya mereka tidak dengan mudah meremehkan martabat bangsa Indonesia. Indonesia telah merdeka, maka sepatutnya kita menghapuskan segala praktek yang bertautan dengan asas kemerdekaan yang telah direnggut bangsa Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia sendiri, jangan mudah terpengaruh untuk melakukan aksi kekerasan dan tak beretika demi mengungkapkan aspirasinya terhadap permasalahan yang dimaksud. Kita harus tetap berkepala dingin dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, bukankah itu adalah hal yang paling baik untuk tidak menebar kebencian dan kerusakan di muka bumi ini. Untuk itu selesaikanlah kasus ini dengan cara damai mencapai jalan keluar yang saling menguntungkan Indonesia dengan negara serumpunnya, Negeri Jiran Malaysia.

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. 3. 4. 5.

6.

Hotma Siregar SH, MH, 2011, Diktat Pendidikan Kewarganegaraan Hal. 97. Medan Prof. DR. H. Kaelan, M.S. dan Drs. H. Achmad Zubaidi, M.Si, 2007, Pendidikan Kewarganegaraan Hal. 124, Paradigma, Yogyakarta Prof. DR. H. Kaelan, M.S. dan Drs. H. Achmad Zubaidi, M.Si, 2007, Pendidikan Kewarganegaraan Hal. 125-135, Paradigma, Yogyakarta S. Sumarsono , 2007, Pendidikan Kewarganegaraan Hal. 85-86, PT. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta Hotma Siregar S.H, M.H , 2011, Diktat Pendidikan Kewarganegaraan Hal.105107, Medan http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2009/06/geopolitik-indonesia.html