Anda di halaman 1dari 8

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana

Modul 1 Pengertian Sosiologi dan Keterkaitannya dengan Psikologi TIK : Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertian sosiologi dan keterkaitannya dengan ilmu psikologi

SRI RAHAYU HANDAYANI, S.Pd. MM

A.

Pengertian Sosiologi

Sosiologi berasal dari bahasa yunani yaitu kata socius dan logos, di mana socius memiliki arti kawan / teman dan logos berarti kata atau berbicara. Menurut Bapak Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Menurut ahli sosiologi lain yakni Emile Durkheim, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu. Objek dari sosiologi adalah masyarakat dalam berhubungan dan juga proses yang dihasilkan dari hubungan tersebut. Tujuan dari ilmu sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang pergaulan hidup antara seseorang dengan seseorang, perseorangan dengan golongan atau golongan dengan golongan. Dengan demikian terdapat dua unsur pokok dalam sosiologi, yaitu manusia dan hubungan sosial (masyarakat). Terdapat berbagai pendapat tentang kedudukan individu dan masyarakat ini. Di satu pihak ada yang berpendapat bahwa individu lebih dominan daripada masyarakat, tetapi di pihak lain berpendapat bahwa masyarakat lebih dominan daripada

individu. Sementara itu terdapat pendapat yang mengambil posisi tengah yang mengatakan bahwa antara individu dan masyarakat terjadi proses saling mempengaruhi. Sejumlah kritik diajukan kepada sosiologi, yaitu 1) sosiologi adalah ilmu yang sulit, 2) sosiologi hanya merupakan kumpulan dari berbagai kajian ilmu sosial lainnya, dan 3) tidak ada lapangan yang khusus bagi sosiologi karena objeknya telah banyak digarap oleh ilmu-ilmu sosial lainnya. Sosiologi merupakan cabang ilmu sosial yang dahulunya berinduk pada ilmu filsafat. Dengan demikian pokok-pokok pikiran sosiologi tidak bisa terlepas dari pemikiran para ahli filsafat yang mengkaji tentang masyarakat. Sosiologi mengalami perkembangan yang pesat pada abad ke20, di mana pada masa ini mulai banyak bermunculan berbagai cabang sosiologi, seperti sosiologi industri, sosiologi perkotaan, sosiologi pedesaan, dan lain-lain. Pemikiran para ahli yang mengkonsentrasikan diri pada masalah kajian sosiologi ini dibedakan atas tokoh-tokoh sosiologi klasik dan tokoh-tokoh sosiologi modern. B. Bidang Kajian Sosiologi Sosiologi sebagai ilmu sosial yang mempunyai fokus kajian mengenai tingkah laku manusia mempunyai bidang kajian yang sangat luas, antara lain bidang kajian Sosiologi Industri, Sosiologi Hukum, Sosiologi Pendidikan, Sosiologi Perkotaan, Sosiologi Pedesaan, Sosiologi Kesehatan, dan lain-lain. Sosiologi Industri mengkaji masalah fenomena industri dengan menitikberatkan kajiannya pada faktor manusia, dan mengaitkannya dengan faktor mesin serta mekanisme kerja pabrik yang berorientasi pada efisiensi dan efektivitas. Sedangkan Sosiologi Hukum merupakan cabang sosiologi yang mengkaji fenomena-fenomena hukum yang ada di masyarakat. Sementara itu Sosiologi Pendidikan mengkaji proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam lembaga pendidikan dengan tekanan dan wilayah tekanannya pada lembaga pendidikan. Di lain pihak Sosiologi Perilaku Menyimpang mengkaji perilaku dan kondisi yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma yang sudah disepakati dalam masyarakat. Dalam melakukan kajiannya, terutama pada masyarakat modern, sosiologi perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu sosial lainnya membentuk kajian multidisipliner. Antropologi bisa membantu sosiologi dalam hal metodologi mengingat antropologi mempunyai pengalaman yang sangat panjang dalam melakukan penelitian yang bersifat kualitatif. Psikologi bisa memberi masukan bagi sosiologi dalam hal informasinya mengenai kecenderungan-kecenderungan yang sifatnya

individual. Sementara itu sosiologi juga harus meminta bantuan ahli sejarah untuk memberi informasi tentang proses historis yang ada dalam fenomena perubahan sosial C. Keterkaitan antara Psikologi dan Sosiologi

Manusia sebagai makhluk sosial juga menjadi obyek dari sosial. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan manusia, mempelajari manusia di dalam hidup

bermasyarakatnya. Karena itu baik psikologi maupun sosiologi yang membicarakan manusia, tidaklah mengherankan kalau pada suatu pada waktu ada titik-titik di dalam meninjau pertemuan manusia itu, misalnya manusia itu, soal tingkah laku. Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup bermasyarakatnya, sedangkan tinjauan psikologi ialah bahwa tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan, yang didorong oleh motif tertentu hingga manusia itu bertingkah laku atau berbuat. Seperti apa yang dikemukan oleh Bouman: sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang hidup manusia dalam hubungan golongan. Ia mempelajari hubungan-hubungan antara sesama manusia, sepanjang hal ini berarti bagi kita dalam memperdalam pengetahuan kita tentang perhubungan-perhubungan dalam masyarakat. Dalam hal ini yang terutama menarik perhatian kita adalah bentuk-bentuk pergaulan hidup, di mana perhubungan-perhubungan ini menunjukan sifat yang kurang atau lebih kekal: pertamatama golongan-golongan dan penggolongan-penggolongan (bangsa, keluarga, perhimpunan, tingkatan, kelas, dan sebagainya.) Bagi ahli sosiologi tinggallah satu persoalan yang tak dapat dimasukkan dalam ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, yakni menyelami hakikat kerja sama dan kehidupan bersama dalam segala macam bentuk yang timbul dari perhubungan antar manusia. Jadi yang dipersoalkan di sini ialah kehidupan bergolong-golongan yang sebenarnya.(Bouman, 1953). Karena adanya titik-titik persamaan ini maka timbullah cabang-cabang ilmu pengetahuan dalam psikologi yaitu psikologi sosial yang khusus menyelidiki dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan dengan situasi-situasi sosial. Makin lama orang makin menyadari bahwa tingkah laku manusia tidak dapat terlepas dari keadaan sekitarnya, karena itu tidaklah sempurna meninjau manusia itu berdiri sendiri terlepas dari masyarakat yang melatarbelakangi. Pada dasarnya Psikologi adalah ilmu yang sangat erat kaitannya dengan ilmu- ilmu lain. Hubungan psikologi dengan ilmu lain dapat dikatakan seperti simbiosis mutualisme, yaitu saling membantu, saling mengisi satu sama lain. Psikologi dengan ilmu lain tidak dapat berdiri sendiri,

keduanya saling memerlukan bantuan. Psikologi mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain seperti: Psikologi dan sosiologi mempunyai hubungan yang sangat erat. Psikologi mempelajari tentang perilaku manusia dalam lingkungan sedangkan Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku hubungan antar individu, dan antar individu dan kelompok dalam perilaku sosial, sosiologi lebih mempelajari struktur yang berubah atau konstan tanpa bergantung dengan individu-individu lain. Namun dalam ilmu psikologi lebih mempelajari manusia sebagai individu sedangkan dalam sosiologi memandang manusia sebagai makhluk kelompok.Antara psikologi dan sosiologi sama-sama memerlukan bantuan dan saling memerlukan satu sama lain. Sosiologi adalah juga suatu ilmu yang secara langsung berhubungan dengan tingkah laku manusia. Para ahli sosiologi terutama memusatkan perhatiannya kepada tingkah laku kelompok. Ia mempelajari pengaruh-pengaruh kelompok terhadap individu-individu yang termasuk dalam kelompok itu. Melihat kepada apa yang menjadi objek sosiologi seperti tersebut diatas, tampak oleh kita bahwa ilmu ( psikologi dan sosiologi ) inipun mempunyak banyak persamaan atau keterkaitan. Perbedaanya psikologi menekankan pada person individu, mengapa individu bertingkah laku seperti yang dia lakukan, sedangkan sosiologi menekankan pada sifat-sifat dan tingkah laku kelompok. Yang dipelajari sosiologi terutama ialah hubungan sosial manusia D. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan

Sosiologi jelas merupakan ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri ( lepas dari filsafat ) karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan yang ciri-ciri utamanya adalah sebagai berikut : a. Sosiologi bersifat empiris yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif b. Sosiologi bersifat teoritis yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi, serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori

c. Sosiologi bersifat kumulatif, yang berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama d. Sosiologi bersifat nonetis, yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk baiknya fakta tertentu tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis Pokok-pokok bahasan sosiologi menurut a. Pandangan para perintis 1. FAKTA SOSIAL ( emile Durkeim ) : cara bertindak, berfikir, dan berperasaan yang bersumber pada suatu kekuatan diluar individu, bersifat memaksa dan mengendalikan individu, dan berada di luar kehendak pribadi individu ( ada dibuku Rules of sosiologi Method ) 2. TINDAKAN SOSIAL ( max Weber ) : Tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain dan berorientasi pada perilaku orang lain b. Pandangan ahli sosiologi masa kini 3. IMAJINASI / KHAYALAN SOSIOLOGI : dua unsur pokok dalam imajinasi sosial adalah personal trouble of millieu ( berlangsung dalam ciri individu dan dalam jangkuan hubungan langsungnya dengan orang lain ) dan Public Issues ( hal yang berada di luar lingkungan setempat individu dan di luar jangkuan kehidupan pribadinya bersifat umum). Ruang lingkup kajian sosiologi lebih luas dari ilmu sosial lainnya. Hal ini dikarenakan ruang lingkup sosiologi mencakup semua interaksi sosial yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok di lingkugan masyarakat. E. Sejarah dan Perkembangan Sosiologi Sosiologi muncul dan berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman. L. Laeyendecker pun mengaitkan kelahiran sosiologi dengan serangkain perubahan berjangka panjang yang melanda eropa barat di abad pertengahan antaralain a. Tumbuhnya kapitalisme pada abad 15, kapitalisme lahir (menurut max weber konsultan dan peneliti 1864-1920) dari sekte kalvinisme dalam agama prostestan dimana ajaran kalvinisme mengharuskan umatnya untuk menjadikan dunia tempat yg makmur yg dicapai dengan kerja keras, karena kemakmuran menuntun mereka ke arah surga. Sisi

lain dari ajaran ini adalah mewajibkan umatnya untuk hidup sederhana dan melarang segala bentuk kemewahan dan foya-foya. Mereka yg semakin makmur tidakmengkonsumsi melaikan ditanamkan kembali dalam usaha mereka b. Perubahan di bidang sosial politik dan perubahan berkenaan dengan reformasi marthin luther c. Meningkatnya individualisme dan lahirnya ilmu pengetahuan modern d. Berkembangnya kepercayaan pada dirinya sendiri e. Revolusi di abad 18 : Revolusi industri serta Revolusi perancis

Kekuatan sosial yang mendorong pertumbuhan sosiologi antara lain : revolusi politik, revolusi industri, munculnya kapitalisme, munculnya sosialisme, urbanisasi, perubahan keagamaan, pertumbuhan ilmu Para Perintis Sosiologi : Auguste comte ( 1798-1857) pemberi nama sosiologi, Karl marx ( jerman 1818-1883), emile Durkhiem (1858-1917), max weber (1864-1920) F. Sejarah Perkembangan Sosiologi di Indonesia Sejak jaman kerajaan di Indonesia sebenarnya para raja dan pemimpin di Indonesia sudah mempraktikkan unsur-unsur Sosiologi dalam kebijakannya begitu pula para pujangga Indonesia. Misalnya saja Ajaran Wulang Reh yang diciptakan oleh Sri PAduka Mangkunegoro dari Surakarta, mengajarkan tata hubungan antara para anggota masyarakat Jawa yang berasal dari golongan-golongan yang berbeda, banyak mengandung aspek-aspek Sosiologi, terutama dalam bidang hubungan antar golongan (intergroup relations) . Ki Hajar Dewantoro, pelopor utama pendidikan nasional di Indonesia, memberikan sumbangan di bidang sosiologi terutama mengenai konsep-konsep kepemimpinan dan kekeluargaan di Indonesia yang dengan nyata di praktikkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa. Pada masa penjajahan Belanda ada beberapa karya tulis orang berkebangsaan belanda yang mengambil masyarakat Indonesai sebagai perhatiannya seperti Snouck Hurgronje, C. Van Vollenhoven, Ter Haar, Duyvendak dll. Dalam karya mereka tampak unsur-unsur Sosiologi di dalamnya yang dikupas secara ilmiah tetapi kesemuanya hanya dikupas dalam kerangka non sosiologis dan tidak sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Sosiologi pada waktu itu

dianggap sebagai Ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dengan kata lain Sosiologi ketika itu belum dianggap cukup penting dan cukup dewasa untuk dipelajari dan dipergunakan sebagai ilmu pengetahuan, terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Kuliah-kuliah Sosiologi mulai diberikan sebelum Perang Dunia ke dua diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Jakarta. Inipun kuliah Sosiologi masih sebagai pelengkap bagi pelajaran Ilmu Hukum. Sosiologi yang dikuliahkan sebagin besar bersifat filsafat Sosial dan Teoritis, berdasarkan hasil karya Alfred Vierkandt, Leopold Von Wiese, Bierens de Haan, Steinmetz dan sebagainya.

Pada tahun 1934/1935 kuliah-kuliah Sosiologi pada sekolah Tinggi Hukum tersebut malah ditiadakan. Para Guru Besar yang bertaggung jawab menyusun daftar kuliah berpendapat bahwa pengetahuan dan bentuk susunan masyarakat beserta proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukan dalam pelajaran hukum. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, seorang sarjana Indonesia yaitu Soenario Kolopaking, untuk pertama kalinya member kuliah sosiologi (1948) pada Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta (kemudia menjadi Fakultas Sosial dan Ilmu Politik UGM . Beliau memberika kuliah dalam bahasa Indonesai ini merupakan suatu yang baru, karena sebelum perang dunia ke dua semua perguruan tinggi diberikan da;am bahasa Belanda. Pada Akademi Ilmu Politik tersebut, sosiologi juga dikuliahkan sebagai ilmu pengetahuan dalam Jurusan Pemerintahan dalam Negeri, hubungan luar negeri dan publisistik. Kemudian pendidkikan mulai di buka dengan memberikan kesempatan kepara para mahasiswa dan sarjana untuk belajar di luar negeri sejak tahun 1950, mulailah ada beberapa orang Indonesia yang memperdalam pengetahuan tentang sosiologi. Buku Sosiologi mulai diterbitkan sejak satu tahun pecahnya revolus fisik. Buku tersebut berjudul Sosiologi Indonesai oleh Djody Gondokusumo, memuat tentang beberapa pengertian elementer dari Sosiologi yang teoritis dan bersifat sebagai Filsafat. Selanjutnya buku karangan Hassan Shadily dengan judul Sosilogi Untuk Masyarakat Indonesia yang merupakan merupakan buku pelajaran pertama yang berbahasa Indonesia yang memuat bahan-bahan sosiologi yang modern. Para pengajar sosiologi teoritis filosofis lebih banyak mempergunakan terjemahan buku-

bukunya P.J. Bouman, yaitu Algemene Maatschapppijleer dan Sociologie, bergrippen en problemen serta buku Lysen yang berjudul Individu en Maatschapppij. Buku-buku Sosiologi lainnya adalah Sosiologi Suatu Pengantar Ringkas karya Mayor Polak, seorang warga Negara Indonesia bekas anggota Pangreh Praja Belanda, yang telah mendapat pelajaran sosiologi sebelum perang dunia kedua pada universitas Leiden di Belanda. Beliau juga menulis buku berjudul Pengantar Sosiologi Pengetahuan, Hukum dan politik terbit pada tahun 1967. Penulis lainnya Selo Soemardjan menulis buku Social Changes in Yogyakarta pada tahun 1962. Selo Soemardjan bersama Soelaeman Soemardi, menghimpun bagianbagian terpenting dari beberapa text book ilmu sosiologi dalam bahasa Inggris yang disertai dengan pengantar ringkas dalam bahasa Indonesia dirangkum dalam buku Setangkai Bunga Sosiologi terbit tahun 1964. Dewasa ini telah ada sejumlah Universitas Negeri yang mempunyai Fakultas Sosial dan politik atau Fakultas Ilmu Sosial. Sampai saat ini belum ada Universitas yang mngkhususkan sosiologi dalam suatu fakultas sendiri, namun telah ada Jurusan Sosiologi pada beberapa fakultas Sosial dan Politik UGM, UI dan UNPAD. Penelitian-penelitian sosiologi di Indonesia belum mendapat tempat yang sewajarnya, oleh karena masyarakat masih percaya pada angka-angka yang relative mutlak, sementara sosiologi tidak akan mungkin melakukan hal-hal yang berlaku mutlak disebkan masing-masing manusia memiliki kekhususan. Apalagi masyarakat Indonesai merupakan masyarakat majemuk yang mencakup beragam suku.