Anda di halaman 1dari 12

SHALAT MENURUT AL QURAN oleh: Muhammad Agus, S.Th.I dan A.Muhammad Kamil, S.Th.I BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam demikian salah satu firman Allah di dalam al Quran tepatnya QS. Al Isra : 70 yang mengabarkan bahwa manusia lahir dengan kemuliaan. Ayat tersebut juga seakan mengingatkan manusia akan sebuah kewajiban dan tanggung jawab untuk memelihara serta menjaga kemuliaan yang diberikan kepadanya. Kemuliaan yang dimaksud tidak dapat diraih atau dipertahankan dengan hanya memperbaiki dan memikirkan diri sendiri, tapi lebih dari itu cahaya kemuliaan harus terpatri lewat usaha merealisasikan nilai-nilai kemuliaan tersebut kepada sesama. Di antara bentuk realisasi tersebut adalah mengaplikasikan nilai-nilai salat dalam kehidupan keseharian yang menjadi tanda keberimanan seseorang. Karena memang salat mengandung pesan-pesan moral yang menuntun manusia dalam menciptapkan suasana menuju kemuliaan yang didambakan. Itulah sebabnya, seseorang pernah berdoa : Allahumma ijalni min al qalil. Ketika itu Umar bertanya mengenai makna doa tersebut, maka orang itu menghubungkan doanya dengan firman Allah SWT QS. Saba : 13 yang mengindikasikan kurangnya hamba yang mampu mensyukuri nikmat Allah dengan baik. Karena itulah lahir sebuah ungkapan katsirun man shaalla wa qalilun man aqama al shalah banyak orang yang salat namun hanya sedikit yang mendirikan salat. Apa perbedaan di antara dua kata tersebut melaksanakan dan mendirikan salat- dan ternyata ayat-ayat yang memerintahkan salat sebagian besar menggunakan term yang berarti mendirikan. Tetapi seiring bacaan al Quran dan pelaksanaan ibadah ritual salat sehari semalam ternyata tidak sedikit ditemukan ada pelanggaran-pelanggaran yang terjadi, sementara pelakunya tak lain dan tak bukan adalah orang yang rajin salat. Sementara di satu sisi diyakini bahwa salat dapat mencegah dari perbuatan keji dan tercela. Bila hal ini terjadi, maka muncul sebuah alasan untuk memurnikan nilai-nilai salat yaitu orang tersebut belum memahami dan melaksanakan salat yang sebenarnya atau ia belum mendirikan salat. Berdasarkan fakta dan kenyataan di atas disertai suara-suara keraguan mengenai apa dan bagaimana salat tersebut, maka penulis berusaha menyusun makalah yang mengkaji salat menurut pandangan al Quran. Apatah lagi memang hubungan antara al Quran dan salat bagaikan hubungan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Tidak ada salat tanpa bacaan al Quran, minimal bacaan QS. Al Fatihah yang oleh Dr. Fadh Abdurrahman bin Sulaiman al Rumi menggambarkan bahwa salat adalah tiang agama, sementara al Fatihah adalah tiangnya salat[1], karena tidak sah salat tanpa membacanya.[2]

Bahkan kedekatan hubungan antara salat dan al Quran ditandai dengan pengungkapan salat terkadang- menggunakan term al Quran. Contohnya dapat dilihat pada QS. Al Isra ; 78. Hal ini kembali mempertegas keterkaitan di antara keduanya. B. Rumusan Masalah Sesuai dengan judul makalah ini salat dalam perspektif al Quran, maka permasalahan pokok yang akan dijadikan kajian utama tergambar dalam rumusan-rumusan berikut ini : 1. Apa pengertian salat menurut al Quran? 2. Bagaimana hubungan antara substansi salat dan pelakunya menurut al Quran? 3. Bagaimana urgensi salat menurut al Quran? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Salat Menurut al Quran Secara etimologi, ulama memiliki keragaman pendapat mengenai asal kata . sebagian di antara mereka berpendapat bahwa shalat berarti ,[3] itulah sebabnya di dalam al Quran ada beberapa ayat yang memerintahkan shalat utamanya shalat berjamaahmenggunakan term ruku dan sujud. Shalat juga berarti (doa, memohonkan keberkahan dan memulikan),[4] makna seperti ini terlihat pada firman Allah SWT :

Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersalawat kepada Nabi Muhammad, wahai orangorang yang beriman bersalawat dan bertaslimlah kepadanya (Nabi Muhammad). (QS. Al Ahzab ; 56). Kata dalam ayat tersebut berarti penyucian atau pemuliaan Allah, para malaikat dan orang-orang Islam kepada Nabi Muhammd.[5] Hanya saja oleh sebagian ulama diklasifikaikan sumber shalat tersebut, bila asalnya dari Allah maka itu berarti rahmat dan kasih sayang, bila iu berasal dari makhluk termasuk para malaikat, jin dan manusia maka itu berarti doa dan permohonan ampunan. Shalat juga oleh sebagian ulama dipahami- bisa berasal dari kata masuk, terbakar atau terpanggang[6]. Penyebutan kata tersebut dapat dilihat pada firman Allah SWT : (QS. Al Nisa ; 30). Masih ada beberapa pendapat ulama mengenai asal makna kata misalnya ia bermakna mengagungkan. Ibadah yang khusus ini dinamakan salat karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Suci.[7] Namun tampaknya dari semua pengertian tersebut memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain paling tidak keterkaitannya adalah shalat merupakan sesuatu yang baik yang akan mengantarkan seseorang menemukan kebaikan, baik itu berupa dikabulkannya doa dan permohonan, datangnya rahmat Allah dan atau terlepas dari api neraka. Sebagaimana disebutkan oleh Ragib al Asfahani

bahwa ketika salat berasal dari akar kata yang berarti masuk dan terbakar maka kalimat berarti melindungi dan membebaskan dirinya dengan ibadah yang khusus tersebut dari api neraka.[8] Adapun shalat menurut istilah atau terminologi maka ditemukan banyak defenisi yang disampaikan ulama, hanya saja defenisi-defenisi tersebut tampaknya sama sekalipun pengungkapannya berbeda yaitu : yang berarti bahwa shalat adalah bentuk penyembahan atau peribadatan kepada Allah melalui beberapa bacaan dan gerakan tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.[9] Tampaknya pengambilan defenisi diawali dengan takbir dan diakhhiri dengan salam ini berdasarkan dengan hadis Rasuullah SAW yang berbunyi :

Kunci salat adalah bersuci, yang melarang dari melakukan sesuatu adalah takbir, dan dan yang membolehkannya adalah salam[10] Kendatipun pengertian salat ini cukup beragam, baik secara etimologi maupun terminologi namun pada dasarnya semuanya saling menguatkan. Karena makna shalat secara etimologi telah tercakup dalam makna terminologinya. Bahkan oleh ulama dikatakan bahwa penamaan ibadah khusus tersebut dengan shalat karena kemampuannya merangkum nilai-nilai etimologi kata tersebut dalam substansinya, misalnya doa, tasbih, dan pengagungan atau pemuliaan.[11] Demikian makna shalat menurut bahasa dan istilah syarinya, tetapi bagaimana defenisi shalat dalam tinjauan al Quran? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya bila kita melihat terlebih dahulu pengggunaan kata shalat dalam al Quran. Sebab ternyata dalam beberapa ayat, shalat tidak hanya berkonotasi untuk shalat lima waktu saja, tetapi juga termasuk shalat-shalat yang lain. Demikian pula shalat lima waktu tidak selalu memakai lafazh shalat namun terkadang dengan ungkapan yang lain. Ungkapan-ungkapan lain yang penulis maksudkan bermakna shalat, di antaranya adalah : 1. Lafazh sebagaimana yang terdapat pada firman Allah QS. Al Jumuah : 9 , oleh sebagian ulama dipahami makna kata bermakna shalat jumat.[12] Atau misalnya juga pada firman-Nya QS. Al Baqarah: 239. oleh sebagian ulama tafsir -termasuk al Alusi- memahami makna kalimat dengan .[13] 2. Lafazh , sebagaimana pada firman Allah QS. Al Dzariyat; 18. Dan di akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah. Oleh Mujahid dan sebagian ulama yang lain ditafsirkan kata istighfar tersebut dengan mereka salat karena di dalam shalat terdapat pemohonan ampunan dan di saat itulah istighfar paling baik dipanjatkan.[14] 3. Lafazh , seebagaimana yang terdapat pada firman Allah SWT QS. Al Syuara; 219. dan melihat pula perubahan gerak badanmu di antara orang-orang [15] sujud. Oleh Ibnu Abbas kata dipahami sebagai

4. Lafazh , sebagaimana pada ayat itu disaksikan. (QS. Al Isra ; 78).

sesungguhnya shalat subuh

Masih ada beberapa kata yang disebutkan di dalam al Quran yang bermakna shalat, hanya saja penulis tidak menyebutkan seluruhnya demi membatasi pembahasan yang lebih luas. Akan tetapi bila diperhatikan dengan seksama tentang ungkapan-ungkapan tersebut maka akan dilihat dengan pasti betapa besar perhatian al Quran terhadap kedudukan shalat secara eksplisit maupun implisit. Shalat mencakup perbuatan dan berbagai macam ucapan termasuk doa, istigfar, qunut, ruku dan sujud yang kesemuanya itu merupakan amal ibadah yan memiliki nilai pahala yang besar. Adapun term dan berbagai macam perubahannya di dalam al Quran terulang sekitar 107 ayat.[16] Baik dalam bentuk masdar, fiil maupun isim failnya, termasuk pula situasi dan keadaan yang dibicarakan. Dari keanekaragaman tersebut maka bisa ditarik pemahaman bahwa salat di dalam al Quran tidak hanya bermakna shalat (dalam arti ruku, sujud, berdiri dan duduk) namun juga dengan makna yang lain. Hal itu dapat dilihat sebagai berikut : 1. Shalat berarti doa, sebagaimana firman Allah SWT : Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu menjadi ketentraman bagi mereka (QS. Al Taubah : 103). 2. Shalat berarti pujian, ampunan dan rahmat. Sebagaimana firman Allah SWT (QS. Al Ahzab ; 56) . di sini, al Bukhari mengomentari bahwa salawat Allah bermakna pujian Allah kepada Nabi Muhammad di sisi para malaikat, atau bisa juga berarti rahmat sebagaimana penjelasan al Turmudzi bahwa salawat Allah adalah rahmat, dan salawat para malaikat adalah permohonan ampunan.[17] 3. Shalat berarti rumah ibadah atau gereja, sebagaimana firman Allah Taala : Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagaimana manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Yahudi dan mesjid-mesjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. (QS. Al Hajj; 40). Ibnu Abbas dalam menafsirkan kata ia maknai sebagai tempat ibadah non muslim. Sebagian ulama memahaminya sebagai gereja nashrani, sementara yang lain menganggapnya sebagai gereja Yahudi.[18] 4. Salat berarti agama, sebagaimana firman Allah SWT ; Apakah agamamu menyuruh kamu (QS. Hud ; 87). Sebagaimana dijelaskan oleh al Razi bahwa kata salat dalam ayat tersebut memiliki makna dari dua kemungkinan yaitu agama atau iman dan amal-amal tertentu.[19] 5. Salat berarti bacaan, sebagaimana firman Allah SWT : Janganlah engkau keraskan bacaanmu. (QS. Al Isra ; 110). Kata salat dalam ayat ini dapat berarti bacaan khususnya- al Quran. Seperti yang diungkapkan oleh al Razi bahwa maknanya adalah bacaan al Quran. Sekalipun di sana terdapat penafsiran yang lain bahwa shalat bermakna doa.[20] 6. Shalat berarti shalat dengan maksud pengertian terminologi, baik yang berupa shalat lima waktu maupun shalat-shalat yang lain. Dan inilah makna shalat yang kebanyakan disebutkan di dalam al Quran sekaligus makna inilah yang menjadi kajian utama dalam makalah ini. Hal itu dapat dilihat pada firman Allah SWT ;

mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat (QS. Al Baqarah ; 2). Atau salatlah berupa salat Id- kepada Tuhan-Mu dan berkurbanlah. Itulah beberapa arti shalat yang terdapat di dalam al Quran. Hanya saja perlu dilihat bahwa pemaknaan term shalat dalam berbagai macam bentuknya berdasarkan dengan qarinah-qarinah yang ada, baik berupa konteks ayatnya, asbab nuzulnya maupun susunan kalimatnya. Sebagai contoh bila kata shalat diikuti dengan huruf jar maka kemungkinan besar itu bermakna , namun bila term tersebut diikuti dengan huruf jar maka kemungkinan besar bermakna shalat dalam arti syari. bahkan term shalat yang berdiri sendiri dan tidak ada qarinah yang bisa mengantarkannya kepada arti lain maka maknanya adalah sesuai dengan makna terminologi atau syarinya. Sepanjang pengetahuan penulis, di dalam al Quran tidak ada ayat yang menunjukkan secara langsung tata cara shalat (kaifiat shalat). Karena perintah shalat datang dengan makna yang umum. Rasulullah Saw sebagai mufassir al Quran yang kemudian menjelaskan kaifiat shalat, dengan kata lain perintah shalat term yang berarti shalat secara syari/terminologi- di dalam al Quran adalah shalat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam disertai dengan beberapa rukun dan syarat-syarat tertentu sesuai dengan yang dibuktikan oleh Rasulullah Saw sebagai penerima perintah shalat tersebut. Hal ini tergambar dalam sabdanya :

Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat, apabila waktu shalat telah masuk maka hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandangkan adzan dan yang lebih tua dari kalian menjadi imam.[21] Sekalipun di dalam al Quran tidak disebutkan secara langsung mengenai tata cara shalat akan tetapi di sana terdapat beberapa ayat yang mengindikasikan rukun-rukun shalat termasuk duduk, berdiri, ruku dan sujud. Sebagai contoh, berdiri yang menjadi salah satu rukun filiyah shalat, dapat dilihat pada firman Allah SWT : peliharalah semua shalatmu dan peliharalah shalat wustha serta berdirilah untuk Allah dengan khusyu. (QS. Al Baqarah; 238).[22] Adapun contoh ayat yang mewakili rukun qauliyah shalat dalam hal ini kewajiban membaca al Fatihah- dapat dilihat pada firman Allah SWT ; Bacalah apa yang mudah bagimu dari al Quran. Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat (QS. Al Muzammil; 20), di dalam ayat tersebut disebutkan ayat secara umum lalu hadis Nabi menjelaskan kewajiban tersebut dengan bacaan al Fatihah ; tidak ada salat bagi orang yang tidak membaca al Fatihah.[23] B. Karakteristik Pelaku Shalat (Mushalli) Menurut al Quran Sebelum berbicara mengenai karakteristik mushalli yang disebutkan di dalam al Quran, sebaiknya kita melihat terlebih dahulu term yang digunakan al Quran dalam menyebutkan orang yang shalat dan term yang menunjukkan perintah shalat.

Di dalam al Quran akan ditemukan setidaknya- dua term atau ungkapan yang terkait dengan shalat. Pertama, ketika al Quran memerintahkan shalat atau memuji orang yang melakukan shalat, hampir semua ungkapan itu disertai dengan kata iqamah mendirikan atau kata-kata yang terbentuk darinya. Sebagai contoh firman Allah SWT : Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukulah bersama orang-orang yang ruku (QS. Al Baqarah; 43). Atau pada ayat lain ; ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikn salat dan menunaikan zakat. Sebenarnya ada beberapa ayat yang memuji orang yang melakukan salat namun tidak menggunakan kata iqamah. Misalnya pada firman Allah SWT : kecuali orang-orang yang melaksanakan salat (Qs. Al Maarij; 22). Ayat ini berbicara mengenai sifat dan keadaan manusia yang memiliki sifat atau cepat berkeluh-kesah. Ketika mendapatkan keburukan dan kebaikan selalu ada respon negatif. Tetapi ada di antara manusia yang dikecualikan oleh Allah yaitu orang-orang yang shalat. Akan tetapi sekalipun pujian tersebut hanya menggunakan kata shalat yang tidak disertai dengan dan semacamnya, tetapi lanjutan ayat tersebut menjelaskan mushalli yang dimaksud yaitu yaitu mereka yang konsisten terhadap salatnya. Oleh sebagian ulama termasuk di antaranya Imam al Razi menjelaskan bahwa makna kata adalah tidak meninggalkan salat, dan memelihara salatnya dengan melaksanakannya sesuai dengan aturan-aturannya serta mendirikan salat dalam segala aspek.[24] Kedua, term yang dipergunakan al Quran adalah kata itu sendiri dan kata yang terbentuk darinya tanpa ada kata yang bermakna mendirikan. Hanya saja perlu dipahami bahwa ketika al Quran menyebutkan pelaku shalat hanya dengan menggunakan term maka itu berarti celaan bagi orang-orang yang mengerjakan shalat karena lalai di dalamnya atau tidak memaknai shalat dengan makna yang sebenarnya,[25] sehingga al Quran menganggapnya tidak mendirikan shalat. Sebagai contoh ayat yang berbicara tentang orang-orang munafiq atau orang-orang yang mendustakan agama; Sungguh celaka bagi orang-orang yang shalat. (QS. Al Maun ; 4) Demikian dua term yang digunakan al Quran dalam menyebutkan orang yang melakukan shalat, atau dalam istilah yang lain orang yang mendirikan shalat dan orang yang melaksanakan shalat. Ragib al Asfahani menjelaskan maksud kata mendirikan adalah menyempurnakan syarat dan hak-haknya bukan sekedar melaksanakan gerakan-gerakannya.[26] Olehnya itu muncul sebuah ungkapan banyak orang yang melaksanakan shalat namun hanya sedikit yang mendirikannya. Dari sini diketahui bahwa perintah shalat bukan hanya sekedar melakukan gerakannya saja, melainkan lebih dari itu. Benar, shalat adalah gerakan badan dan bacaan yang tertentu terdiri dari berdiri, duduk, ruku, sujud, tasbih, tahmid dan sebagainya, tetapi yang mendatangkan pahala adalah yang mendirikan shalat disertai dengan kehadiran hati di dalamnya. Hal ini pulalah yang membedakan antara orang-orang melakukan shalat. Walaupun zhahirnya gerakan-gerakan dan waktunya sama tetapi ia akan berbeda dan bertingkat-tingkat di dalam menghadirkan hati dan kekhusyuan.

C. Urgensi Shalat Menurut al Quran Al Quran menyebutkan shalat dengan lafazh yag berbeda, bentuk yang bermacam-macam dan susunan kalimat yang beraneka ragam. Suatu saat dengan perintah yang jelas dan di saat lain dengan cara pemberitaan. Kadangkala dengan janji dan di tempat lain dengan ancaman. Semua itu menunjukkan besarnya perhatian al Quran terhadap shalat di samping sebagai penegasan terhadapnya. Keterangan-keterangan yang beraneka ragam tersebut juga mengindikasikan pada urgensi shalat itu sendiri. Bahkan bukan hanya itu, al Quran secara tegas memerintahkan seseorang untuk selalu minta pertolongan di antaranya adalah dengan shalat. Hal ini dapat dilihat pada firman Allah SWT QS. Al Baqarah ; 45 mintalah pertolongan dengan sebar dan shalat. Dan sesungguhnya ia sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu. Bila kita membaca ayat-ayat yang terkait dengan shalat maka akan ditemukan banyak urgensi shalat dalam kehidupan ini. Namun penulis hanya membatasinya pada tiga urgensi saja, yang dapat dilihat sebagai berikut ; 1. Salat menjadi tanda sekaligus motivator meningkatnya keimanan. Bagaimana shalat tidak menjadi tanda keimanan sementara ia adalah tiang agama yang tidak bisa tegak tanpa dengannya. Banyak ayat yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya QS. Al Mukminun ; 1,2 dan 9. Di dalam ayat tersebut Allah mengulangi penyebutan kata shalat dan pelakunya yang menunjukkan betapa agung orang beriman yang di antara cirinya adalah rajin shalat sekaligus menegakkannya. Ini pula berarti bahwa ketika seseorang telah memiliki keimanan maka secara otomatis ia akan selalu berusaha baik dan berbuat baik. 2. Shalat menjadi tuntunan kebaikan sekaligus tameng atau benteng dari keburukan. Bagaimana tidak, sementara shalat merupakan ibadah yang paling mulia sekaligus sarana pendekatan kepada Tuhan yang paling baik. Sehingga kesadaran akan dekatnya Tuhan menyebabkan seseorang selalu memaknai hidupnya sesuai dengan keinginan Sang Pemberi Kehidupan. Hal tersebut dapat terlihat pada firman Allah SWT QS. Al Ankabut ; 45 Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Bahkan bukan hanya itu, shalat juga mengajarkan kedisiplinan yang menjadi salah satu syarat utama dari sebuah keberhasilan. Lihat misalnya QS. Al Nisa 103 yang menegaskan bahwa shalat adalah ibadah yang memiliki batas-batas waktu tertentu. 3. Shalat menjadi salah satu faktor turunnya rahmat Allah. Allah SWT menyebutkan di dalam QS. Al Nur ; 56 Dan dirikanlah shlat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Rasulllah supaya kamu diberi rahmat. Di dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan tiga syarat turunnya rahmat dan yang paling pertama disebutkan adalah shalat. Yang demikian itu karena di dalam mendirikan shalat terdapat pemenuhan terhadap naluri manusia yaitu butuh, lemah, suka meminta, mengharapkan perlindungan, berdoa, munajat dan menyerahkan segala urusan kepada yang lebih kuat, penyayang, penyantun dan lebih sempurna. Shalat juga menjadi bukti nyata akan kesyukuran dan penghambaan diri kepada-Nya. Oleh karena itu orang yang mendirikan shalat bagaikan ikan yang tidak bisa hidup kecuali di dalam air, maka apabila

ia keluar dari air ia sangat membutuhkannya dan ingin sekali lari kembali ke dalamnya.[27] Betapa banyak dan besar urgensi shalat yang disebutkan dalam al Quran sebanyak penyebutan kata di dalamnya karena hampir setiap surat tidak terlepas untuk menyebutnya dan menerangkan kelebiihan-kelebihannya. Al Quran dalam berbagai ayatnya telah menerangkan keutamaan dan buah yang akan didapatkan dari shalat seperti pahala bagi yang mendirikan dan siksaan terhadap yang meninggalkannya di samping yang menerangkan pengaruh-pengaruhnya terhadap orangorang mukmin dalam memperbaiki tingkah laku dan meluruskan akhlaknya. Bahkan al Quran juga menegaskan bahwa shalat memiliki ruh dan esensi yang harus direalisir sehingga seorang manusia mampu hidup dengan shalat dan shalat hidup dengannya.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari uraian-uraian di atas yang berbicara mengenai konsep shalat menurut al Quran, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut ; 1. Al Quran dalam menyebutkan shalat menggunakan banyak istilah yang kesemuanya itu menunjukkan keterkaitan shalat dengan lafazh yang digunakan. Shalat juga di dalam al Quran memiliki banyak arti dan makna sesuai dengan konteks dan qarinah-qarinah yang ada. Akan tetapi di saat al Quran menyebutkan kata shalat tetapi tidak ada qarinah yang mengindikasikan makna lain, maka shalat yang dimaksud adalah shalat menurut syari atau istilah. 2. Al Quran ketika memerintahkan shalat atau ketika memuji orang yang melaksanakan shalat selalu dibarengi dengan kata iqamah atau yang seakar dengannya. Namun ketika berbicara tentang sekelompok orang yang shalat tetapi mereka tidak menghayati hakikatnya maka yang digunakan hanya term mushalli tanpa dibarengi dengan kata iqamah. Perbedaan penyebutan ini mengindikasikan perbedaan tingkatan dan kualitas orang yang melakukan shalat. Ada orang yang hanya sebatas mushalli atau hanya melaksanakan shalat saja dengan tidak memperhatikan syarat dan rukunnya atau shalat yang dilaksanakan didasari dengan riya atau shalat tersebut tidak dimaknai sesuai dengan arti serta tujuan hakiki dari ibadah tersebut. Adapula orang yang melaksanakan shalat disebut muqimus shalat, artinya ia bukan hanya sekedar melaksanakan ritual shalat tetapi ia pun mampu menegakkan dan mendirikannya sehingga shalat mampu menjadi tiang agama yang kokoh baginya. 3. Shalat adalah ibadah yang sangat mulia memiliki banyak keutamaan dan urgensi. Di antaranya, shalat adalah tanda keimanan, shalat adalah tuntunan kebaikan dan tameng dari segala keburukan atau dengan kata lain shalat adalah kunci keistiqamahan, shalat juga menjadi sarana untuk mendapatkan rahmat Allah SWT. Sekian banyak ayat yang

terkait dengan shalat yang kesemuanya menunjukkan penting dan mulianya shalat sehingga sungguh merugi orang yang melalaikannya. B. Rekomendasi Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, sehingga penulis hanya mengharapkan kritikan dan masukan yang membangun dari semua pihak, termasuk dari pembaca guna memperbaiki dan menyempurnakan tulisan dan pengetahuan penulis. Apatah lagi penulis yakin bahwa makalah ini masih sangat jauh dari standar sebuah karya ilmiah. Bahkan sebuah kebahagiaan besar jika ada pihak yang berusaha meneliti kembali paling tidak memeriksa referensi yang digunakan- makalah ini sehingga hasil penelitian tersebut dapat lebih valid. Menyikapi segala bentuk masalah dan keragaman pendapat tentang shalat termasuk keragaman bentuk pemikiran dan pendapat hendaknya dijadikan sebuah pegangan terhadap kerahmatan agama Islam. Inilah hasil usaha dan kerja keras penulis dalam mencari, mempelajari dan menulis tentang apa dan bagaimana konsep al Quran tentang shalat. Semoga dengan tulisan ini menjadi ilmu bagi penulis dan pembaca sehingga dapat menuai pahala yang berlipat ganda di sisi Allah SWT. Wallahu alam bi al sawab DAFTAR PUSTAKA Al Quran al Karim Al Rumi, Fadh Abdurrahman bin Sulaiman, Konsep Shalat Menurut al Quran; Telaah Kritis Tentang Fiqh Shalat (al Shalat fi Nazhrit al Quran), terj. Abdullah Abbas. Jakarta. Firdaus. 1991. Al Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, Shahih al Bukhari. Beirut. Dar al Kutub al Ilmiyah. 1992. Al Naisaburi, Abu Husain Muslim bin Hajjaj al Qusyairi, Shahih Muslim. Riyadh. Dar Alam al Kutub. 1996. Al Asfahani, Al Raghib, al Mufradat fi Gharib al Quran. Mesir. al Maimanah. 1424 H. Al Alusi, Syihabuddin al Sayyid Mahmud, Ruhul Maani fi Tafsir al Quran al Azhim. Beirut. Dar al FIkr. 1993. Al Bahwati, Mansur bin Yunus, al Raudhu al Murabba. Riyadh. Maktabah al Riyadh al Haditsah. 1390 H. Al Malyabari, Zainuddin bin Abdul Aziz, Fathul Muin bi Syarhi Qurratu al Ain. Surabaya. Bungkul Indah. tt.

Al Razi, Fakhruddin, al Tafsir al Kabir wa Mafatih al Ghaib. Beirut. Dar al Fikr. 1994. Ibnu Katsir, Imaduddin Abu al FadhaI Ismail, Tafsir al Quran al Azhim. Riyadh. Dar Alam al Kutub. 1997. Abdul Baqi, Muhammad Fuad, al Mujam al Mufahras li Alfazhi al Quran al Karim. Kairo. Dar al Hadits. 1994. Al Qurthubi, Abu Abdillah Muhammad, al Jami li Ahkam al Quran. Beirut. Dar Ihya al Turats al Arabi. 1965. Al Baihaqi, Ahmad bin Husain bin Ali bin Musa Abu Bakar, Sunan al Baihaqi al Kubra. Makkah al Mukarramah. Maktabah Dar al Baz. 1994. Al Sajastani, Abu Daud Sulaiman bin Asyats, Sunan Abi Daud .Hims Suriah. Dar al Hadits. tt. TIGA DIMENSI PENAFSIRAN 1. Eksisteensi substansi = eksistennsinya di dalam al-Quran Makna Umum secara leksikal, makna terminologi dilihat dari bentuk singel dan Pluralnya. Implimentasi substansi shalat dalam al-Quran 1. shalat harus ada iqmah (eksternal dan internal / pra ddan pascanya) 2. shalat harus khusyu (internal) 3. shalat harus dawam (shalat sebagai media hubungan horisontal dengan Allah yang berkesinambungan) 4. shalat harus dijaga waktu2 nya (al-muhafzhah) kalimat yng mewakili kata shalat tetapi bermakna shalat (kata Ruku dan sujud) dan kata ruku adalah yang paling tepat mewakili kata shalat. 1. Fungsi dan urgensinya di dalam al-Quran (menghindarkan manusia dari perbuat keji dan mungkar) 2. Produk atau hasil yang diperoleh dari aplikasi ibadah menurut al-Quran (agar manusia kembali kepada hakikatnya : pengakuan manusia terhadap Allah sebagai Tuhan satusatunya). Dengan terimplementasinya sifat-sifat Allah dalam dirinya. [1] Fadh Abdurrahman bin Sulaiman al Rumi, Konsep Shalat Menurut al Quran; Telaah Kritis Tentang Fiqh Shalat (al Shalat fi Nazhrit al Quran), terj. Abdullah Abbas (Jakarta;Firdaus, 1991), cet. I, hal. III [2] Hal ini sesuai dengan hadis Nabi ; . lihat Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al Bukhri, Shahih al Bukhari (Beirut; Dar al Kutub al Ilmiyah, 1992), jil.

I, hal. 263. Dan Abu Husain Muslim bin Hajjaj al Qusyairi al Naisaburi, Shahih Muslim (Riyadh; Dar Alam al Kutub, 1996), jil. I, hal. 295. [3] Lihat Ibnu Mandzur, Lisan al Arab (Kairo; Dar al Hadits, 1995), jil. XIV, hal. 464 [4] Al Raghib al Asfahani, al Mufradat fi Gharib al Quran (Mesir; al Maimanah, 1424 H), hal. 329 [5] Lihat Syihabuddin al Sayyid Mahmud al Alusi, Ruhul Maani fi Tafsir al Quran al Azhim (Beirut; Dar al FIkr, 1993), jil. VII, hal. 204. [6] Lihat Ibnu Munzdzir, Op.Cit, jil. XIV, hal. 465. [7] Ibid, hal. 466. [8] Ragib al Asfahani, Op.Cit, hal. 328 [9] Mansur bin Yunus al Bahwati, al Raudhu al Murabba (Riyadh; Maktabah al Riyadh al Haditsah, 1390 H), jil. I, hal. 118. [10] Lihat Abu Daud Sulaiman bin Asyats al Sajastani, Sunan Abi Daud (Hims Suriah; Dar al Hadits, tt), jil. I, hal. 63, dan Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah, Sunan al Turmudzi (Beirut; Dar al Fikr, 1994), jil. II, hal. 3. [11] Lihat Zainuddin bin Abdul Aziz al Malyabari, Fathul Muin bi Syarhi Qurratu al Ain (Surabaya; Bungkul Indah, tt), hal. 3 [12] Lihat Fakhruddin al Razi, al Tafsir al Kabir wa Mafatih al Ghaib (Beirut; Dar al Fikr, 1994), jil. I, hal. 342 [13] Lihat Syihabuddin al Sayyid Mahmud al Alusi, Ruhul Maani fi Tafsir al Quran al Azhim (Beirut; Dar al FIkr, 1993), jil. II, hal. 143 [14] Imaduddin Abu al FadhaI Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al Quran al Azhim (Riyadh; Dar Alam al Kutub, 1997), jil. I, hal. 234. [15] Ibnu katsir, Op.Cit, jil. [16] Muhammad Fuad Abdul Baqi, al Mujam al Mufahras li Alfazhi al Quran al Karim (Kairo; Dar al Hadits, 1994), hal. 524-525 [17] Ibnu Katsir, Op.Cit, jil. VI , hal. 457. [18] Lihat Ibnu Katsir, Op.Cit. jil. V , hal. 433. [19] Lihat al Razi, Op.Cit, jil. VIII, hal. 456.

[20] Lihat al Razi, Op.Cit, jil. X, hal. 149. [21] Ahmad bin Husain bin Ali bin Musa Abu Bakar al Baihaqi, Sunan al Baihaqi al Kubra (Makkah al Mukarramah; Maktabah Dar al Baz, 1994), jil. II, hal. 345. [22] Al Qurthuby menjelaskan bahwa qunut artinya berdiri, sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Bakar bin Ambari dan yang telah disepakati oleh umat bahwa berdiri dalam salat fardhu hukumnya wajib atas setiap orang sehat dan kuat baik di saat salat sendiri maupun berjamaah. Lihat Abu Abdillah Muhammad al Qurthubi, al Jami li Ahkam al Quran (Beirut; Dar Ihya al Turats al Arabi, 1965), jil. II, hal. 286. [23] Al Qurthubi menjelaskan bahwa jumhur ulama telah sepakat bahwa bacaan selain al Fatihah hukumnya tidak wajib. [24] Lihat al Razi, Op.Cit, jil. XVI, hal. 32 dan Ibnu Katsir, Op.Cit, jil. VIII, hal. 288 [25] Makna yang dimaksud di antaranya firman Allah SWT QS. Al Ankabut, 45 [26] Ragib al asfhani, Op.Cit, hal. 329 [27] Fadh Abdurrahman, Op.Cit, hal. 68.