Anda di halaman 1dari 49

TUGAS ASKEB II ( PERSALINAN )

OLEH; Y UY U N

His (Kontraksi) adalah serangkaian kontraksi rahim yang teratur, yang secara bertahap akan mendorong janin melalui serviks (rahim bagian bawah) dan vagina (jalan lahir), sehingga janin keluar dari rahim ibu. Kontraksi menyebabkan serviks membuka secara bertahap (mengalami dilatasi), menipis dan tertarik sampai hampir menyatu dengan rahim. Perubahan ini memungkinkan janin bisa melewati jalan lahir.

His biasanya mulai dirasakan dalam waktu 2 minggu (sebelum atau sesudah) tanggal perkiraan persalinan.Penyebab yang pasti dari mulai timbulnya his tidak diketahui. Mungkin karena pengaruh dari oksitosin (hormon yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisa dan menyebabkan kontraksi rahim selama persalinan

Persalinan biasanya berlangsung selama tidak lebih dari 12-14 jam (pada kehamilan pertama) dan pada kehamilan berikutnya cenderung lebih singkat (68 jam)
y . Show (sejumlah kecil darah yang bercampur dengan

lendir dari serviks) biasanya merupakan petunjuk bahwa persalinan segera dimulai; tetapi show bisa keluar 72 jam sebelum kontraksi dimulai. Kadang selaput ketuban pecah sebelum persalinan dimulai dan cairan ketuban mengalir melalui serviks dan vagina. Jika selaput ketuban pecah, segera hubungi dokter atau bidan

Mungkin sulit untuk membedakan his sejati dari his palsu. Biasanya his palsu tidak sesering dan tidak sekuat his asli. Kadang satu-satunya cara untuk mengetahui perbedaan antara his sejati dan his palsu adalah melakukan pemeriksaan dalam. Pada pemeriksaan dalam bisa diketahui adanya perubahan pada serviks yang menandakan dimulainya proses persalinan.

MEKANISME PERSALINAN NORMAL

y Penurunan y Fleksi y Putaran paksi dalam y Ekstensi y Putaran paksi luar y Ekspulsi y

PENURUNAN Penurunan dibagi dalam : -Masuknya kepala pada PAP PG : 36-37 mg MP: awal persalinan. -Majunya kepala

MASUKNYA KEPALA MELINTASI PAP

y Sinklitismus y adalah : bila sumbu kepala janin tegak lurus

dengan bidang PAP

Asinklitismus anterior
Asinkliismuu anterior adalah : bila sumbu kepala membuat sudut lancip ke depan dg PAP atau sutura sagitalis mendekati promontorium

Asinklitismus posterior
adalah : bila sumbu kepala membuat sudut kanan kebelakang dg PAP atau sutura sagitalis mendekati simfisis

Begitu penurunan kepala menemukan tahanan dari pinggir PAP,serviks dan dinding/dasar panggul,sehingga terjadi fleksi,dan dengan majunya kepala biasanya fleksi bertambah sehingga ubun-ubun kecil jelas lebih rendah dari ubun-ubun besar Putaran paksi dalam gerakan memutar kepala dengan suatu cara yg secara berlahan menggerak oksiput dari posisi asalnya ke anterior menuju simpisis pubis. 1.Sebab-sebab putaran paksi dalam .pada fleksi bagian belakang kepala merupakan bagian terrendah dari kepala 2.bagian terrendah dari kepala ini mencari tahanan yang paling sedikit yaitu di daerah sebelah depan atas 3.ukuran terbesar dari bidang tengah panggul ialah diameter anteroposterior

PUTARAN PAKSI LUAR


Disebut juga putaran restitusi=putaran balasan Setelah kepala lahir,maka kepala(ubun-ubun kecil)akan memutar kembali kearah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam

EKSPULSI y Setelah putaran paksi luar,bahu akan berada dalam posisi depan belakang selanjutnya di lahirkan bahu depan terlebih dahulu baru kemudian bahu belakang.demikian pula dilahirkan trokanter depan terlebih dulu baru kemudian trokanter belakang.akhirnya bayi lahir seluruhnya.

Hal-hal yang harus di periksa dalam pemeriksaan dalam adalah: Dinding vagina elastis atau tidak porsio tebal atau tidak pembukaan lengkap atau tidak,sesuai ukuran CM Ketuban utuh atau pecah persentase kepala atau bokong Posisi UUK kiri depan,belakang,melintang atau kanan depan penurunan bagian terendah hodge 1,2,3 dan 4 Ada atau tidak molase kesan panggul normal atau tidak pengeluaran lender campur darah

Hodge I : dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas symphisis dan promontorium HodgeII : sejajar dengan Hodge I setinggi pinggir bawah symphisis. HodgeIII : sejajar Hodge I dan II setinggi spina ischiadika kanan dan kiri. HodgeIV : sejajar Hodge I, II dan III setinggi os coccygis

y Promontorium tdk teraba y Linea terminalis teraba sebagian y Os sacrum konkaf/melengkung y dinding panggul lurus atau datar y Spina iskiadika kiri dan kanan tdk teraba y arkus pubis harus membentuk sudut tumpul y otot-otot dasar panggul lunak/tdk teraba

Panggul wanita terdiri dari : Panggul besar (Pelvis Mayor) Panggul besar dibentuk oleh 4 buah tulang : a. 2 tulang pangkal paha (Os Coxae), terdiri dari tiga buah tulang : 1. Tulang Usus (Os. Ilium) Merupakan tulang terbesar dari panggul dan membentuk bagian atas dan bagian belakang tulang panggul Batas atasnya merupakan penebalan tulang yang disebut cristailiaca Ujung depan dan belakang crista iliaca menonjol : spina iliaca anterior superior dan spina iliaca posterior superior

NEXTTtttt.
y 2. Tulang Duduk (Os. Ischium) y Terdapat disebelah bawah tulang usus y Pinggir belakang menonjol : spina ischiadica y Pinggir bawah tulang duduk sangat tebal, yang mendukung y y y y

badan saat duduk disebut tuber ischiadicum 3. Tulang Kemaluan (Os. Pubis) Terdapat disebelah bawah dan depan tulang usus Dengan tulang duduk dibatasi foramen obturatum Tangkai tulang kemaluan yang berhubungan dengan tulang usus: ramus superior ossis pubis

b. 1 tulang kelangkang (Os. Sacrum) Tulang ini berbentuk segitiga dengan lebar dibagian atas dan mengecil dibagian bawahnya. Tulang kelangkang terletak di antara kedua tulang pangkal paha. Terdiri dari lima ruas tulang yang berhubungan erat. c. 1 tulang tungging (Os. Coccygis) Berbentuk segitiga dengan ruas tiga sampai lima buah dan bersatu. Pada saat persalinan tulang tungging dapat didorong ke belakang sehingga memperluas jalan lahir

1.Panggul kecil (pelvis minor)


y Terbentuk oleh 4 buah tulang,Panggul kecil dalam ilmu kebidanan mempunyai arti yang penting karena merupakan tempat alat reproduksi wanita yang membentuk jalan lahir. Panggul kecil dibentuk oleh 4 buah bidang yaitu :
y

atas panggul (PAP)/inlet

y y PAP dibentuk oleh : y Promontorium y Sayap Os. Sacrum y Linea terminalis/ inominata kanan dan kiri y Ramus superior Ossis Pubis kanan dan kiri y Pinggir atas simfisis pubis

b.Pintu tengah panggul (PTP)/midlet PTP dibentuk oleh 2 buah bidang yaitu : --Bidang luas panggul Bidang luas panggul dibentuk oleh pertengahan simfisis menuju pertemuan Os. Sacrum 2 dan 3. --Bidang sempit panggul Bidang sempit panggul dibentuk oleh tepi bawah simfisis menuju kedua spina ischiadica dan memotong Os. Sacrum setinggi 1-2 cm diatas ujungnya.

C.Pintu bawah panggul (PBP)

y Pintu bawah panggul bukanlah merupakan

satu bidang tetapi terdiri dari dua segitiga dengan dasar yang sama. Segitiga depan dasarnya tuber ossis ischiadica dengan dibatasi arcus pubis, sedangkan segitiga belakang dasarnya tuber ossis ischiadica denga dibatasi oleh ligamentum sacrotuberosum kiri dan kanan.
y

GAMBAR PANGGUL

UKURAN - UKURAN PANGGUL


y PAP : y Konjugata diagonalis :pinggir bawah symphisis pubis ke promontorium :12,5 cm y Konjugata vera : pinggir atas symphisis pubis ke promontorium : konjugata diagonalis - 1,5 cm = 11 cm y Konjugata transversa : antar dua linea innominata : 12 cm y Konjugata obliqua : 13 cm y y PTP : y Bidang luas panggul : pertengahan symphisis ke pertemuan os sacrum 2 dan 3. Sekitar 12,75 x 12,5 cm. Dalam persalinan tidak mengalami kesukaran. y Bidang sempit panggul : tepi bawah symphisis menuju spina ischiadica. Sekitar 11,5 x 11 cm. y Jarak kedua spina 10 - 11 cm.

GAMBAR DAN UKURAN KEPALA JANIN Kepala janin terdiri dari: bagian muka yang di bentuk oleh tulang-tulang yang melekat dengan erat satu sama lainnya dan tulang-tulang dasar tengkorak bagian tengkorak(cranium)merupakan bagian besar dari kepala dan yang terpenting pada persalinan,karena biasanya bagian tengkoraklah yang paling depan

Yang membentuk bagian tengkorak: y Os frontale 2 buah y Os parietale 2 buah y Os temporal 2 buah y Os oksipitale 2 buah Batas antara tulang-tulang tersebut di sebut sutura,sutura yang harus di kenal : y Sutura sagitalis:antara kedua os parietale y Sutura koronarius:antara os frontale dan os parietale y Sutura lambdoideus:antara os oksipitale dan kedua os parietal y Sutura frontalis :antara os frontale kiri dan kanan

Ukuran-ukuran kepala bayi Ukuran muka belakang Diameter suboksipito-bregmatikus : dari foramen magnum ke ubun-ubun besar ( 9.50cm). ukuran ini adalah ukuran muka belakang terkecil yang melalui jalan lahir, kalau kepala sangat menekur (hiperfleksi) pada letak belakang kepala. Diameter oksipito-frontalis : dari pangkal hidung ke titik yang terjauh pada belakang kepala ( 11.75 cm ). Ukuran ini melalui jalan lahir pada letak puncak kepala. Diameter oksipito-mentalis : dari dagu ke titik yang terjauh pada belakang kepala ( 13.50 cm ). Ukuran ini adalah ukuran terbesar dan melalui jalan lahir pada letak dahi. Diameter submento-bregmatikus ( 9.50 cm ). Ukuran ini pada kelahiran presentasi muka.

y Ukuran melintang

Diameter biparietalis : ukuran yang terbesar antara kedua os parietalis kiri dan kanan ( 9.50 cm ). Pada letak belakang kepala ukuran ini melalui ukuran muka-belakang dari pintu atas panggul. y Diameter bitemporalis : jarak yang terbesar antara sutura koronarius kiri dan kanan ( 8 cm ). Pada letak defleksi ukuran ini melalui pintu atas panggul y . Ukuran lingkaran

Sirkumferensia suboksipito-bregmatikus ( lingkaran kecil kepala): 32 cm.


y Sirkumferensia submento-bregmatikus : 32 cm y Sirkumferensia oksipito-frontalis ( lingkaran sedang kepala ) : 34cm y Sirkumferensia mento-oksipitalis ( lingkaran besar kepala ) : 35cm

Mengapa paling sering ubun-ubun kecil kiri depan yang keluar lebih dahulu?

y Sikap janin yang fisiologis adalah badan dalam keadaan kifose

sehingga punggung menjadi konveks, kepala dalam sikap hiperfleksi dimana dagu dekat dengan dada, lengan bersilang di depan dada, dan tali pusat terletak diantara ekstremitas dan tungkai terlipat pada lipat paha dan lutut yang rapat pada badan.
y Sikap fisiologis ini menghasilkan sikap fleksi , dimana ubun-

ubun kecil jelas lebih rendah dari ubun-ubun besar. keuntungan dari bertambahnya fleksi ialah bahwa ukuran kepala yang lebih kecil melalui jalan lahir yaitu diameter suboksipito-brekmatika menggantikan diameter suboksipitofrontalis.

Pada presentase belakang kepala bagian terendah ialah daerah ubun- ubun kecil dan bagian inilah yang akan memutar ke depan ke bawah simfisis. Bagian terendah dari kepala ini mencari tahanan yang paling sedikit yaitu daerah sebelah depan atas dimana sikap dagu mendekati dada sehingga tampak jelas ubun-ubun kecil kiri depan terlihat pada awal majunya kepala dalam persalinan dan hal ini adalah posisi yang normal atau normoposisi.

 Mengapa pada hodge ke-4 uteri berada di bawah simfisis?

y Hal ini di karenakan bidang hodge 4 sejajar dengan

H1,H2 dan H3 terletak setinggi os coxigis, kepala sudah sampai H4 berarti kepala sudah sampai di dasar panggul sehingga bentuk uterus mengalami perubahan, hal inilah yang menyebabkan uteri berada di bawah simfisis.
y

1.Mendengar dan melihat adanya tanda persalinan kala dua. 2.Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin dan memasukan alat suntik sekali pakai 2 ml ke dalam wadah partus set. 3.Memakai celemek plastik. 4.Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan degan sabun dan air mengalir. 5.Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yang akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.

6.Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakan kembali ke dalam wadah partus set. 7.Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan vulva ke perineum. 8.Melakukan pemeriksaan dalam (pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah). 9.Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%. 10.Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai (pastikan DJJ dalam batas normal (120 160 x/menit)).

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

11.Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran. ,,,,,,,,,,,,,,,, 12.Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu ,,, untuk meneran (pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman. 13.Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran. 14.Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit. 15.Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 6 cm.

,,,,,,,,,,,,,,,
16.Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu 17.Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan, 18.Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan. 19.Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 6 cm, memasang handuk bersih untuk mengeringkan janin pada perut ibu. 20.Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janiN 21.Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan.

,,,,,,,,,,,,,,,,,
22.Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang. 23.Setelah bahu lahir, geser tangan bawah ke arah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas. 24.Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung ke arah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan jari telunjuk tangan kiri di antara kedua lutut janin)

25.Melakukan penilaian selintas : (a) Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa kesulitan? (b) Apakah bayi bergerak aktif ? 26.Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi di atas perut ibu. 27.Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus. 28.Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik. 29Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).

30.Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan


klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama. 31.Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat di antara 2 klem tersebut . 32.Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.

..
33.Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi 34.Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva 35.Meletakan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat. 36.Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati ke arah dorsokrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
37.Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian ke arah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorsokranial). 38.Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban. 39.Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase (pemijatan) pada fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)

40..Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta


dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan ke dalam kantong plastik yang tersedia.

41.Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan


perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.

42.Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak


terjadi perdarahan pervaginam.

43Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit


di dada ibu paling sedikit 1 jam.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
44.Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral. 45.Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral. 46.Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam. 47.Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi. 48.Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah. 49.Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
50.Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik. 51.Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi. 52.Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai. 53.Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai pakaian bersih dan kering. 54.Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum.

55.Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%. 56.Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% 57.Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. 58.Melengkapi partograf

1.Lakukan massage pundus uteri segera setelah plasenta dilahirkan : massage merangsang kontraksi uterus. Sambil melakukan massage sekaligus dapat dilakukan penilaian kontraksi uterus. 2.Bersihkan kavum uteri dari selaput ketuban dan gumpalan darah : selaput ketuban atau gumpalan darah dalam kavum uteri akan dapat menghalangi kontraksi uterus secara baik. 3.Mulai melakukan kompresi bimanual interna. Jika uterus berkontraksi keluarkan tangan setelah 1-2 menit. Jika uterus tetap tidak berkontraksi teruskan kompresi bimanual interna hingga 5 menit : sebagian besar atonia uteri akan teratasi dengan tindakan ini. Jika kompresi bimannual tidak berhasil setelah 5 menit, dilakukan tindakan lain

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
4.Minta keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksterna : Bila penolong hanya seorang diri, keluarga dapat meneruskan proses kompresi bimanual secara eksternal selama anda melakukan langkah-langkah selanjutnya. 5.Berikan metal ergometrin 0,2 mg intra muskuler / intravena : metilergometrin yang diberikan secara intramuskuler akan mulai bekerja dalam 5-7 menit dan akan menyebabkan kontraksi uterus. Pemberian intravena bila sudah terpasang infuse sebelumnya. 6.Berikan infuse cairan larutan ringer laktat dan oksitoksin 20 IU/500 ml : anda telah memberikan oksitoksin pada waktu penatalaksanaan aktif kala tiga dan metil ergometrin intramuskuler. Oksitoksin intravena akan bekerja segera untuk menyebabkan uterus berkontraksi. Ringer laktat akan membantu memulihkan volume cairan yang hilang selama atoni. Jika uterus wanita belum berkontraksi selama 6 langkah pertama, sangat mungkin bahwa ia mengalami perdarahan postpartum dan memerlukan penggantian darah yang hilang secara cepat

7.Mulai lagi kompresi bimanual interna atau pasang tampon uterovagina : jika atonia uteri tidak teratasi setelah langkah pertama, mungkin ibu mengalami masalah serius lainnya. Tampon utero vagina dapat dilakukan bila penolong telah terlatih. Segera siapkan proses pembedahan.. 8.Teruskan cairan intravena hingga ruang operasi siap. Lakukan laparotomi : pertimbangkan antara tindakan 9.mempertahankan uterus dengan ligasi arteri uterine/hipogastrika atau histerektomi. : pertimbangan antaralain paritas, kondisi ibu, jumlah perdarahan.

*************************
.

THANK YOU