Anda di halaman 1dari 4

Arah Kebijakan Pemerintah di Sektor Perumahan Rakyat Dinilai tidak Jelas

2 Januari 2012 Jakarta Kenaikan harga rumah susun sederhana milik (rusunami) yang dikaji pemerintah dinilai hanya akan merugikan masyarakat berpenghasilan rendah. Kementerian Perumahan Rakyat dituding tidak mempunyai arah pembangunan yang jelas bagi pengembangan hunian bagi masyarakat menengah bawah. Fauzi Buldan, Pengamat Properti mengungkapkan pembangunan perumahan rakyat termasuk rusunami selama ini sudah salah kaprah karena hanya mengedepankan aspek fisik berupa target pembangunan. Akibatnya, setiap tahun pemerintah lebih mengejar publikasi berupa pencapaian jumlah unit rumah yang telah dibangun. Padahal upaya untuk mendorong minat dan daya beli masyarakat lebih penting. Rencana kenaikan harga rusunami itu merupakan sikap pemerintah yang mengakomodir keinginan developer agar pasokan tetap ada. Kalau orientasinya hanya target, maka pembangunan perumahan rakyat tidak menyentuh persoalan sebenarnya yakni daya beli masyarakat masih rendah, ujarnya di Jakarta, Sabtu. Fauzi mempertanyakan banyaknya rusunami dan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang dibangun pemerintah tidak berada di posisi strategis, tanpa dukungan infrastruktur memadai. Akibatnya banyak rumah susun yang selesai dibangun kosong karena tidak dihuni. Kondisi itu terjadi akibat pola pikir pemerintah yang lebih mengejar target pembangunan. Rakyat jangan dipaksa tinggal tanpa diberi informasi tentang budaya hidup di hunian bertingkat, katanya. Menurut dia, ada kecenderungan masyarakat menengah bawah makin tidak mampu membeli karena harga rusunami terus melambung. Saat ini harga rusunami sekitar Rp 144 juta per unit. Sementara intervensi pemerintah dalam bentuk alokasi subsidi pembiayaan sangat minim. Saat ini, kata Fauzi, pembeli dan penghuni proyek rusunami bergeser kepada kelompok menengah atas karena kalangan menengah bawah tidak mampu membeli, serta tidak disiapkan kulturnya untuk hidup di hunian vertikal. Kalau orientasi Kementerian Perumahan Rakyat masih saja pada target angka, maka backlog perumahan sampai kapanpun tidak akan selesai. Justru masyarakat menengah bawah di perkotaan bakal makin tersingkir jauh ke pinggiran, tandasnya. Program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang dilakukan pemerintah untuk mendorong daya beli masyarakat juga kurang optimal. Dalam acara Refleksi dan Evaluasi Kinerja Akhir Tahun 2011 Kementerian Perumahan Rakyat, Sri Hartoyo, Deputi Menteri Perumahan Rakyat mengatakan sepanjang 2011 dana fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) yang terserap hanya untuk sekitar 99.699

unit. Jumlah tersebut terbagi atas 99.574 unit rumah sejahtera tapak dan 125 unit rumah sejahtera susun. Kementerian Perumahan Rakyat pada 2012 menargetkan penyaluran FLPP untuk sekitar 123.790 unit dengan alokasi dana sebesar Rp 4,7 triliun. Ada beberapa hambatan yang dihadapi oleh Kemenpera dalam penyaluran FLPP pada 2011 antara lain kurang siapnya masyarakat dalam menyediakan uang muka serta SPT Pajak, ujarnya di Jakarta, Kamis. Sedangkan dari sisi pembangunan rumah, pemerintah mendorong pengembang dan pemerintah daerah lebih banyak membangun dan mempermudah perizinan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. (Kam) http://www.neraca.co.id/2012/01/02/arah-kebijakan-pemerintah-di-sektorperumahan-rakyat-dinilai-tidak-jelas/

Rabu, 04/01/2012 12:22 WIB

Bisnis Properti Masih Banyak Terkendala Masalah Hukum


Rista Rama Dhany detikFinance

Jakarta - Banyak peraturan perundang-undangan yang hingga saat ini menjerat pebisnis properti khususnya pengembang. Setidaknya ada 3 aturan hukum yang mengancam bisnis properti.

Menurut Pengamat Hukum Properti Erwin Kallo, pertama ada Undangundang Perumahan dan kawasan pemukiman tahun 2011. Menurutnya UU ini sebenarnya tujuannya baik yakni untuk melindungi konsumen, namun mengancam bisnis pengembang khususnya pengembang menengah kecil. "Yakni di dalam UU tersebut, developer boleh menjual perumahan atau apartemen yang dibangunnya kepada konsumen, setelah berhasil bangun 20% dari proyek yang direncanakan," kata Erwin kepada detikFinance, Rabu (4/1/2012). Bagi developer besar seperti Ciputra, Lippo, Bakrie, Agung Podomoro syarat itu tidak ada masalah karena modalnya sangat besar. "Tapi bagi mereka developer menengah kecil yang bangun pemukiman di perkampungan, membuka lahan pemukiman baru pelosok ini jadi masalah, karena modal mereka sedikit dan harus diputar-putar salah satunya dengan menjual rumah yang sudah jadi dulu," ujarnya. "Asal tahu saja, pasokan rumah di Indonesia lebih banyak berasal dari developer di daerah-daerah, persentasenya 80% lebih dibandingkan developer besar yang saya sebut di atas," katanya. Peraturan yang lain diungkapkan Erwin, Undang-undang No. 20/2011 tentang pembangunan rumah susun, tujuannya bagus dimana setiap developer yang bangun rumah susun, apartemen, kondotel, kondominium wajib membuat 20% rumah susun murah untuk rakyat. "Tujuannya kan baik, subsidi silang. Orang kaya bangunin rumah susun bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)," katanya. Tetapi jadi masalah ini undang-undang ada unsur wajibnya, berlaku seluruh Indonesia. "Ada rekan kami bangun kondotel di Sorong dan Samarinda, dia bingung masa 20% mau dibangunin rumah susun?, siapa yang mau beli atau tinggal," ujarnya. Didaerah-daerah seperti itu tanahnya luas, Pemda disana justru memperluas pembangunan. "Rusun kan cocoknya untuk daerah perkotaan yang lahan hunian semakin sempit, kalau disana siapa yang mau, tapi kalau bangun bukan rusun, bisa jadi masalah lagi kan kewajibannya 20% bangun Rumah Susun," tutur pendiri Erwin Kallo & Co ini. Satu lagi diungkapkannya, yaitu PP nNo 11/2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar, ini peraturan tidak manusiawi lagi dan bisa dijadikan alat pemerasan oleh oknum kepada para developer. "Kalau ada tanah yang nganggur selama 3 tahun, akan dirampas oleh negara tanpa ada ganti rugi sama sekali dan dibagi-bagi kan kepada

rakyat," ujarnya. Tujuannya baik, khususnya bagi tanah perkebunan dan pertanian, kalau tidak diapa-apakan bisa dibagi ke petani untuk digarap. "Disini masalahnya, bagi developer membeli tanah jauh dipelosok harganya masih murah, nanti pas daerah tersebut berkembang baru mereka bangun, itu investasi, adanya PP tersebut itu tanah developer bisa direbut negara," jelasnya. "Tidak usah di pelosok, di tengah kota DKI Jakarta aja banyak, dan bertahun-tahun didiamkan, masa itu mau dirampas tanpa ada penggantian lagi," imbuhnya. Banyak lagi peraturan-peraturan aneh yang dilandaskan hanya pencitraan kepada pemimpinnya, kepada rakyatnya. "Bilang untuk kepentingan rakyat, tapi apa, malah sengsarakan rakyat. Sudah banyak kasusnya terjadi, inikan tambah buat masalah, hukum seharusnya jadi jalan keluar dari masalah bukan menambah masalah," tandas Erwin. (hen/hen) http://finance.detik.com/read/2012/01/04/122227/1806368/1016/bisnisproperti-masih-banyak-terkendala-masalah-hukum