PANDUAN

MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG
PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA
DAN KEADILAN JENDER
Komnas Perempuan
Desember 2006
& PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
Panduan Menyusun Peraturan Daerah tentang Perlindungan Buruh Migran
Indonesia Berperspektif Hak Asasi Manusia dan Keadilan Jender
Diterbitkan oleh Komnas Perempuan
Tim Penulis:
Lisa Noor Humaidah
Tati Krisnawaty
Tety Kuswandari
Yos Setioso
Disain & Tata Letak:
Agus Wiyono
Diterbitkan atas dukungan dana dari
Ford Foundation
ISBN 978-979-26-7506-1
z
Daftar Tabel
Tabel 1: Persoalan Buruh Migran di Daerah Asal .................................................................. 12
Tabel 2: Bagan Pemilahan Wewenang Pemerintah Pusat dan Daerah
Berdasarkan UU No. 39/2004 ...................................................................................... 14
Tabel 3: Peluang Pembagian Urusan Penempatan dan Perlindungan
di tingkat Daerah .............................................................................................................. 15
Tabel 4: Prinsip Perda dan Indikator Pemenuhan ................................................................. 21
DAFTAR ISI :
Daftar Isi ............................................................................................................................................ 3
Daftar Tabel ........................................................................................................................................... 3
Daftar Singkatan .................................................................................................................................. 4
Pengantar ............................................................................................................................................ 5
I. Pendahuluan .................................................................................................................................... 6
I.1. Latar Belakang Masalah .................................................................................................6
I.2. Tahapan dan Metode Penyusunan Buku Panduan ..............................................7
I.3. Fokus dan Beberapa Pengertian .................................................................................8
II. Mengisi Peluang dan Menjawab Tantangan Otonomi Daerah
untuk Perlindungan Buruh Migran ...................................................................................... 10
II.1. Landasan Konseptual Otonomi Daerah ............................................................... 10
II.2. Peluang Daerah Mengatur Masalah Migrasi Buruh ke Luar Negeri ............ 11
a. Persoalan Buruh Migran di Daerah Asal ........................................................... 11
b. Peraturan Daerah untuk Perlindungan Buruh Migran .............................. 12
c. Tantangan berkaitan dengan Keterbatasan Perda ...................................... 16
III. Langkah dan Panduan Umum Penyusunan Perda Buruh Migran .......................... 18
III.1. Landasan Umum ........................................................................................................ 18
III.2. Prinsip-prinsip Perlindungan Buruh Migran dalam Perda ........................... 19
III.3. Acuan Perda untuk Perlindungan Buruh Migran ............................................ 21
III.4. Kerangka Tehnis Penyusunan Perda .................................................................... 22
Lampiran-lampiran ......................................................................................................................... 26
« PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
Daftar Singkatan
BMI : Buruh Migran Indonesia
BMP : Buruh Migran Perempuan
Depnakertrans : Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Disnakertrans : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
HAM : Hak Asasi Manusia
Pemkab : Pemerintah Kabupaten
Pemkot : Pemerintah Kota
Perda : Peraturan Daerah
PJTKI : Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia
PPTKIS : Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta
Raperda : Rancangan Peraturan Daerah
TKI : Tenaga Kerja Indonesia
e
PENGANTAR
B
erbagai persoalan yang dihadapi oleh buruh migran Indonesia perlu disikapi
dengan melakukan berbagai upaya mekanisme penyelesaian salah satunya dengan
peraturan daerah.
UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi kewenangan
yang otonom bagi daerah untuk mengatur pemerintahannya sendiri. Hal ini dengan tujuan
utama untuk menciptakan kesejahteraan di tingkat daerah serta mengoptimalkan proses
partisipasi dan keterlibatan masyarakat secara luas khususnya keluarga dan mantan buruh
migran.
Buku panduan yang ada di hadapan Anda ini merupakan salah satu upaya Komnas
Perempuan untuk memberi landasan atas penyusunan peraturan daerah yang berperspektif
HAM dan keadilan jender. Hal ini dengan kenyataan bahwa beberapa peraturan daerah
tentang buruh migran yang telah dikaji belum mengintegrasikan prinsip-prinsip HAM dan
keadilan jender mengingat sebagian besar buruh migran Indonesia adalah perempuan.
Buku panduan ini disusun melalui forum bersama dengan pemangku kepentingan yang
terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi perempuan dan buruh migran,
mantan dan keluarga buruh migran. Berbagai pengalaman maupun harapan dari berbagai
pihak terutama di daerah untuk mewujudkan sebuah peraturan dan landasan coba disajikan
dalam buku panduan ini.
Semoga bermanfaat.
Desember 2006
Komnas Perempuan
e PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
I
Pendahuluan
I.1. Latar Belakang Masalah
Adanya sistem yang mampu memberi perlindungan bagi buruh migran Indonesia
merupakan hal yang diharapkan oleh banyak pihak. Harapan ini terutama dirasakan oleh
buruh migran dan anggota keluarganya yang selama ini menghadapi berbagai masalah
baik ketika akan berangkat ke luar negeri, saat bekerja, maupun saat kembali dari tempat
kerjanya. Undang-Undang Republik Indonesia No 29 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah
yang kemudian diperbaharui dengan Undang-Undang Otonomi Daerah No. 32 tahun
2004 memberikan satu harapan baru tentang dimungkinkannya daerah-daerah melakukan
perbaikan sistem perlindungan dan penempatan buruh migran dimulai dari asalnya.
Perbaikan tersebut dapat diupayakan melalui Peraturan Daerah (Perda). Perda sangat
berpeluang untuk memberikan perlindungan kepada warganya yang bermigrasi dengan
sejumlah asumsi diantaranya adalah: (1) daerah lebih mengetahui keadaan dan kebutuhan
dasar warga mereka yang menjadi buruh migran termasuk anggota keluarganya, (2) masalah-
masalah dalam persiapan keberangkatan berasal dari daerah asal buruh migran; begitu juga
(3) jika terjadi permasalahan pada buruh migran maka pihak yang langsung ikut menanggung
masalah tersebut adalah keluarga buruh migran bahkan perangkat pemerintahan di daerah
tersebut.
Studi Komnas Perempuan beserta mitra-mitranya
1
terhadap 4 Peraturan Daerah (Karawang,
Cianjur, Sumbawa, dan Jawa Timur), serta 3 Rancangan Peraturan Daerah (Pontianak,
Bone dan Blitar) menunjukkan bahwa semangat pembentukan Perda belum memberikan
porsi pada perlindungan HAM buruh migran, bahkan salah satu diantaranya lebih banyak
mengatur soal retribusi. HAM buruh migran yang dimaksud diantaranya seperti hak atas
informasi yang jelas dan benar, kepastian atas standar upah, hak terbebas dari diskriminasi
melalui penyelesaian masalah dan penanganan korban khususnya bagi kelompok yang
rentan mengalami kekerasan seperti perempuan.
Peluang diterapkannya Peraturan Daerah juga mengingat bahwa perangkat perlindungan
hukum di tingkat nasional masih jauh dari harapan. Dari peraturan tingkat menteri --
yang dikeluarkan sebagai perangkat nasional khusus untuk buruh migran yang pertama
1
Daftar nama mitra-mitra Komnas Perempuan yang terlibat dalam studi ini dapat dilihat dalam lampiran
¬
pada tahun 1970
2
hingga hadirnya Undang-Undang No. 39/2004 tentang Penempatan
dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri hanya menitikberatkan pada
perspektif pengerahan tenaga kerja. Beberapa elemen penting untuk pemenuhan HAM
buruh migran terlewatkan terutama yang paling terasa adalah perhatian untuk perempuan
buruh migran. Hal ini mengingat jumlah buruh migran Indonesia yang bekerja berdasarkan
data Depnakertrans 80% nya adalah perempuan. Banyak kerentanan yang dialami disamping
mereka mengisi wilayah kerja informal yang sering tidak mendapatkan pengakuan.
Untuk itu, sudah saatnya segera memiliki sistem perlindungan buruh migran yang
memadai di tingkat daerah yang mencakup fungsi-fungsi utama dari sistem perlindungan,
yaitu: (1) menyediakan standar; (2) memastikan mekanisme untuk mencapai keadilan
termasuk prinsip tidak ada impunitas bagi pelaku pelanggaran serta kejelasan sangsi; dan
(3) adanya kepastian serta kewibawaan hukum yang berlaku untuk semua, konsisten, dan
transparan.
Buku ini mencoba menyajikan Panduan dan masukan untuk penyusunan peraturan daerah
yang menyediakan berbagai perangkat untuk perlindungan HAM buruh migran. Salah satu
elemen penting dari produk hukum adalah substansi dan materi yang ada di dalamnya. Jika
substansi dan materi yang disediakan jelas dan memberi landasan, maka peluang jaminan
atas terpenuhinya hak-hak mendasar seorang warga menjadi jelas.
I.2. Tahapan dan Metode Penyusunan Buku Panduan
Penyusunan Panduan perda ini melalui beberapa tahapan, yaitu :
a. Analisis terhadap 4 Perda di 3 Kabupaten, 3 Provinsi dan 1 di tingkat Provinsi serta 3
Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) di 3 Kabupaten, 2 Provinsi. Analisa dilakukan
untuk menangkap prinsip mendasar dari isi Perda dan Raperda.
b. Analisis yang disusun kemudian dikonfrmasikan dan dikonsultasikan melalui workshop
di Jakarta dengan mengundang pemangku kepentingan terkait yaitu dari unsur instansi
pemerintah pusat, instansi pemerintah daerah, organisasi buruh migran, organisasi
perempuan baik di Jakarta maupun di tingkat daerah asal buruh migran.
c. Dari workshop yang dilakukan tersebut, kemudian diselenggarakan Focus Group
Discussion (FGD) dengan melibatkan para pemangku kepentingan di daerah yang terdiri
dari unsur pemerintah daerah, DPRD, organisasi buruh migran, organisasi pendamping,
mantan dan keluarga buruh migran. FGD dilakukan untuk mendapatkan masukan-
masukan tentang masalah-masalah serta peraturan daerah yang memberikan jaminan
hak-hak asasi buruh migran terpenuhi. FGD diselenggarakan di 6 wilayah yaitu Bone,
Sulawesi Selatan; Pontianak, Kalimantan Barat; Sumbawa, Nusa Tenggara Barat; Lampung;
2
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 4 tahun 1970 tentang Pengerahan Tenaga Kerja.
e PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
Cirebon, Jawa Barat; dan Ponorogo, Jawa Timur. Pemilihan wilayah berdasarkan asumsi
tentang:
1) letak geografs dan kekhasan wilayah,
2) pengalaman memiliki peraturan daerah untuk buruh migran,
3) potensi daerah sehubungan dengan pengelolaan penempatan dan perlindungan
buruh migran.
d. Setelah FGD dilakukan di beberapa wilayah tersebut, tim Komnas Perempuan menyusun
panduan Perda perlindungan buruh migran berperspektif HAM dan berkeadilan
gender. Draft panduan ini dikonfrmasikan kembali melalui workshop di Jakarta dengan
mengundang berbagai pihak yang terlibat di wilayah serta beberapa pemangku
kepentingan di Jakarta yang terdiri dari instansi pemerintah terkait, organisasi perempuan
dan buruh migran.
Selain metode penggalian data dan informasi melalui FGD dan workshop, penyusunan
buku panduan ini juga menggunakan metode studi pustaka serta pendalaman literatur
berkaitan dengan hak-hak asasi buruh migran dan hak asasi perempuan.
I.3. Fokus dan Beberapa Pengertian
Fokus dari buku panduan Perda ini adalah bagaimana membangun dan menyusun Perda
yang perspektif HAM dan keadilan jender. Adapun yang dimaksud dengan 2 hal tersebut
adalah :
1. Perspektif HAM adalah pemahaman yang mengadopsi prinsip-prinsip perlindungan dan
penghargaan pada hak mendasar manusia. UU No. 39 tahun 1999 pasal 1 menjelaskan
bahwa:
Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan
manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum dan Pemerintah, dan setiap
orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia;
Pada pasal 4 berikutnya disebutkan bentuk hak mendasar manusia tersebut, yaitu :
Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani,
hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persa-
maan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku
surut adalah hak hak manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan keadaan apapun
dan oleh siapapun.
2. Keadilan jender adalah segala bentuk upaya, proses untuk memberikan keadilan bagi laki-
laki dan perempuan. Keadilan diupayakan melalui langkah-langkah untuk meminimalisir
terjadinya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan UU No. 7 tahun
1984 tentang Pengesahan Konvensi tentang Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi
terhadap Perempuan menjelaskan bahwa :
“diskriminasi terhadap perempuan” berarti perbedaan, pengucilan atau pembatasan yang
dibuat atas dasar jenis kelamin, yang berakibat atau bertujuan untuk mengurangi atau
=
menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-
kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, sipil atau apapun lainnya oleh
kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara
laki-laki dan perempuan
Adapun beberapa pengertian lain yang penting dalam buku Panduan ini adalah sebagai
berikut :
1. Peraturan Daerah dalam buku ini adalah peraturan daerah provinsi dan/atau peraturan
daerah kabupaten/kota yang seluruh materi muatannya dalam rangka penyelenggaraan
otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta
penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.
3
2. Buku Panduan ini akan menggunakan istilah buruh migran Indonesia (BMI) dan tenaga
kerja indonesia (TKI) untuk menunjukan setiap warga negara Indonesia yang bekerja di
luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah.
Peggunaan kata ‘buruh’ dimaksudkan untuk menekankan pada posisi tawar pihak yang
dalam status tersebut sedangkan TKI lebih umum digunakan oleh pemerintah.
3
lihat UU No. 32/2004 pasal 1 dan UU No. 10/2004 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan pasal 12
¬c PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
II
MENGISI PELUANG DAN MENJAWAB
TANTANGAN OTONOMI DAERAH UNTUK
PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN
Kebijakan otonomi daerah berdasarkan UU No. 29/1999 yang telah direvisi dengan UU No.
32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah membawa angin dan optimisme baru
bagi daerah dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. Otonomi daerah
juga membawa suasana baru dalam hubungan antara pusat dan daerah. Masyarakat di dae-
rah yang selama ini lebih banyak dalam posisi dimarginalkan maka selanjutnya diberikan
kesempatan untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan terhadap hak-hak, aspirasi
dan kepentingannya. Dengan kebijakan otonomi daerah, anggapan bahwa pemerintah
lebih tahu kebutuhan masyarakatnya akan bergeser kepada masyarakat lebih mengetahui
kebutuhan, aspirasi dan kepentingannya. Melalui kebijakan otonomi daerah diharapkan
dapat ditingkatkan demokratisasi di tengah masyarakat. Dalam rangka mewujudkan aspirasi,
kebutuhan dan kepentingan masyarakat daerah, pertanyaannya kemudian, apakah UU ini
dapat menjadi ruang untuk merealisasikan tindakan kongkrit perlindungan buruh migran
di tempat mereka berasal?
II.1. Landasan Konseptual Otonomi Daerah
Penyelenggaraan Otonomi Daerah menganut dua nilai dasar yaitu nilai kesatuan dan
nilai otonomi. Hal ini sesuai dengan amanat UUD 45 bahwa negara Indonesia adalah
“eenheidstaat”, sehingga di dalam lingkungannya tidak dimungkinkan adanya daerah
yang juga bersifat “staat”. Hal ini berarti besar dan luasnya daerah otonom serta hubungan
kekuasaan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dibatasi. Desentralisasi
merupakan instrumen untuk mencapai tujuan bernegara dalam kerangka kesatuan bangsa
yang demokratis. Dengan kata lain, berdasarkan UUD 1945 keseimbangan antara kebutuhan
untuk menyelenggarakan desentralisasi dan kebutuhan memperkuat persatuan nasional
harus selalu diperhatikan.
Persebaran urusan pemerintahan di Indonesia mempunyai dua prinsip utama yaitu (1)
selalu terdapat urusan Pemerintahan yang secara absolut dilaksanakan oleh Pemerintah
Pusat (sentralisasi). Hal ini mencakup Politik Luar Negeri, Pertahanan, Yustisi, Moneter dan
Fiskal Nasional, dan agama. Berbagai urusan Pemerintahan tersebut karena menyangkut
kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan maka harus tetap ditangani
oleh Pemerintah. (2) Tidak ada urusan Pemerintahan yang sepenuhnya dapat diserahkan
kepada Daerah. Bagian-bagian urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah hanya
¬¬
yang menyangkut kepentingan masyarakat setempat, bersifat lokalitas. Maka, ada bagian-
bagian dari urusan Pemerintahan tertentu yang dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota, ada
bagian-bagian yang diselenggarakan oleh Propinsi, dan ada juga yang diselenggarakan
oleh Pemerintah.
Berdasarkan Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah Bab III
pasal 10 s.d pasal 18 tentang pembagian Urusan Pemerintahan bahwa kata kewenangan
yang dahulu dipakai dalam Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 sekarang digunakan
kata urusan. Pembagian urusan ini antara lain: (a) Pusat berwenang membuat norma-norma,
standar, prosedur,monev, supervisi, faslitasi, pengawasan, dan urusan-urusan pemerintahan
dengan eksternalitas nasional; (b) Provinsi berwenang mengatur dan mengurus urusan-
urusan pemerintahan dengan eksternalitas regional (lintas kabupaten/kota); dan (c)
Kabupaten/Kota berwenang mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan dengan
eksternalitas lokal (dalam satu kabupaten/kota).
Urusan pemerintahan yang diserahkan meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan
wajib terkait dengan pelayanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup,
pekerjaan umum, perhubungan, kependudukan termasuk varian pemberdayaan perempuan
yang ditetapkan berdasarkan standar pelayanan minimal. Urusan pilihan terkait dengan
upaya penciptaan daya saing daerah dalam menangani sektor unggulan sesuai dengan
potensi, karakteristik, kekhasan dari masing-masing daerah dalam upaya peningkatan
perekonomian daerah seperi pertanian, industri, perdagangan, pariwisata, kelautan,
kehutanan, dan sebagainya.
Dari penjelasan di atas, landasan otonomi daerah secara singkat mengarah pada
terwujudnya pemerintahan yang baik. Secara umum, tata pemerintahan yang baik tersebut
meliputi dan dicirikan dengan aspek : partisipasif, berorientasi pada kesepakatan, akuntabel,
transparan, tanggap, adil dan terbuka, efektif dan efsien, serta taat pada aturan hukum.
Tata pemerintahan yang baik diwujudkan salah satunya melalui seperangkat peraturan.
Seperangkat peraturan dan kebijakan tersebut disusun disamping mengatur kehidupan
masyarakat juga sebagai landasan dan memberi jaminan atas dipenuhinya hak-hak mendasar
mereka salah satunya untuk mencari penghidupan yang layak bagi kemanusiaan dengan
cara migrasi.
II.2. Peluang Daerah Mengatur Masalah Migrasi Buruh ke Luar Negeri
a. Persoalan Buruh Migran di Daerah Asal
Salah satu hal yang mendorong adanya sebuah peraturan adalah adanya persoalan
yang terjadi. Berdasarkan hasil rangkuman FGD di 6 wilayah asal buruh migran, terpetakan
berbagai persoalan buruh migran yang dirasakan efeknya secara langsung oleh daerah. Hal
tersebut sebagaimana tergambar berikut ini :
¬& PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
Tabel 1
Persoalan Buruh Migran di Daerah Asal
Di samping persoalan-persoalan yang terjadi, tentu saja ada banyak manfaat migrasi
yang dirasakan terutama oleh wilayah asal buruh migran. Beberapa diantaranya adalah
menggerakkan roda ekonomi daerah asal bahkan untuk banyak sektor serta memberi
solusi atas minimnya kesempatan kerja. Selain hal-hal yang disebutkan, bagi buruh migran
kesempatan kerja ke luar negeri juga merupakan ruang untuk mengadopsi pengalaman
dan pengetahuan baru melalui pengalaman bekerja.
Persoalan-persoalan yang diidentifkasi di atas sebagai titik pijak urgensi sebuah peraturan
disusun. Sebuah peraturan yang dapat dijadikan standar untuk memperbaiki sistem
penempatan dan perlindungan buruh migran Indonesia.
b. Peraturan Daerah untuk Perlindungan Buruh Migran
UU No 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah menyatakan bahwa masalah pelayanan
ketenagakerjaan berskala kabupaten/kota merupakan salah satu dari urusan wajib yang
Pra penempatan Purna Penempatan
1. Perekrutan
• dilakukan oleh calo/sponsor dan langsung di bawa
ke Jakarta sehingga tidak terdata di Kabupaten.
• dilakukan oleh Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga
Kerja (PJTKI) yang tidak terdaftar sebagai cabang
• calon buruh migran berada lebih lama di tempat
penampungan dari waktu yang telah ditentukan.
2. Sosialisasi atas Informasi dan Hak-hak Asasi buruh
migran
• calon buruh migran tidak mendapatkan informasi
tentang hak-haknya sebagai pekerja terutama dari
PJTKI maupun dari disnakertrans
3. Sistem pengelolaan yang disediakan oleh pemerintah
daerah
• tidak cukupnya aparat dinas tenaga kerja dan
transmigrasi (disnakertrans) untuk menjangkau
daerah-daerah terpencil asal buruh migran untuk
melakukan sosialisasi hak-hak buruh migran.
• minimnya pengawasan atas perusahaan yang
menempatkan dan melakukan kekerasan terhadap
calon buruh migran di penampungan.
• tidak adanya perhatian untuk membangun
pendataan yang baik atas warganya yang menjadi
buruh migran.
4. Kondisi Geografis
• kondisi geografis yang berbatasan dengan negara
tempat buruh migran bekerja menyebabkan
kesulitan untuk melakukan pendataan.
1. Pemrosesan masalah-masalah yang dialami
oleh mantan buruh migran
• kesulitan melakukan proses hukum atas
kekerasan yang dialami oleh perempuan
mantan buruh migran karena wilayah
yurisdiksi yang berbeda.
• mahalnya proses yang harus dikeluarkan
oleh pemerintah daerah jika menghadapi
persoalan yang dialami oleh mantan buruh
migran.
• pemerintah daerah tidak ada sumber daya
untuk menfasilitasi maupun memproses
persoalan yang terjadi.
2. Masalah-masalah sosial lain
• daerah kehilangan tenaga-tenaga kerja
muda potensial terutama untuk wilayah
yang bergantung pada hasil pertanian,
• keluarga dan anak-anak terpisah dari orang
tuanya terutama ibu, istri, kakak perempuan
yang bekerja ke luar negeri,
• pengelolaan hasil dari bekerja ke luar negeri
yang belum dikelola secara efektif,
¬z
menjadi kewenangan pemerintahan daerah kabupaten/kota
4
. Ketentuan ini sejalan dengan
Undang-undang Republik Indonesa No 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan
Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (UU-PPTKLN) yang secara hirarki perundang-undangan
merupakan peraturan tertinggi dalam pengelolaan dan perlindungan buruh migran
5
.
Meskipun merupakan urusan wajib, karena persoalan migrasi buruh ke luar negeri
merupakan persoalan yang melampaui batas-batas atau skala kabupaten/kota, maka urusan
pemerintahan yang concuren dibagi antara Pemerintah, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.
Pembagian tersebut berdasarkan pada prinsip eksternalitas, akuntabilitas, dan efsensi.
UU No 39 tahun 2004 tentang PPTKLN pun menegaskan bahwa pelimpahan wewenang
antara Pemerintah kepada pemerintah daerah dalam mengatur, membina, melaksanakan
dan mengawasi penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri sifatnya
tidak wajib. Pasal 5 menyebutkan bahwa :
(1) Pemerintah betugas mengatur, membina, melaksanakan dan mengawasi penyelenggaraan
penempatan TKI di luar negeri
(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1), Pemerintah dapat
melimpahkan sebagian wewenangnya dan/atau tugas perbantuan kepada pemerintah
daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
4
Undang-Undang Republik Indonesia No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Bab III : Pembagian
Urusan Pemerintahan, pasal 14 ayat 1 butir h
5
Undang-undang Republik Indonesa No 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenga Kerja
Indonesia di Luar Negeri, bab II: Tugas, tanggung Jawab, dan Kewajiban Pemerintah, pasal 5 ayat 2
¬« PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
Tabel 2
Bagan Pemilahan Wewenang Pemerintah Pusat dan Daerah
Berdasarkan UU No. 39/2004
PEMERINTAH PROVINSI KABUPATEN KOTA
• Pembinaan, pengendalian dan
pengawasan penempatan TKI ke luar
negeri
• Pelaksanaan penempatan TKI oleh
pemerintah
• Pembuatan perjanjian/pelaksanaan
kerja-sama bilateral dan multilateral
dengan negara-negara penempatan TKI
• Penerbitan SIPPTKIS --surat izin
pelaksana penempatan TKI Swasta--/
SIUP PJTKI dan rekomendasi rekrut
calon TKI serta penerbitan surat izin
pengerahan (SIP)
• Verifkasi dokumen TKI, penerbitan Kartu
Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN),
penerbitan rekomendasi paspor TKI yang
bersifat khusus dan crash program
• Penyelenggaraan system komputerisasi
terpadu penem-patan TKI di luar negeri
(SISKO TLN) dan pengawasan
penyetoran dana perlindungan (PP 92)
• Penentuan standaer perjanjian kerja,
penelitian terhadap substansi perjanjian
kerja serta pengesahan perjanjian kerja
• Penyelenggaraan pembekalan akhir
pemberangkatan (PAP) yang
pelaksanaannya dapat dikonsentrasikan
ke Gubernur
• Penyelenggaraan program perlindungan,
pembelaan dan advokasi TKI
• Penentuan standar tempat penampungan
calon TKI dan Balai Latihan Kerja Luar
Negeri (BLK-LN)
• Penerapan standar dan penunjukan
lembaga-lembaga yang terkait dengan
program penemptan TKI (lembaga
asuransi, perbankan dan sarana
kesehatan)
• Fasiltiasi kepulangan dan pemulangan
TKI secara nasional.
• Monitoring dan evaluasi
penempatan TKI ke luar
negeri yang berasal dari
wilayah provinsi
• Fasilitasi pelaksanaan
perjanjian kerja sama
bilateral dan multilateral
penempatan TKI yang
pelaksanaannya di wilayah
provinsi
• Penerbitan perijinan
pendirian kantor cabang di
wilayah provinsi dan
rekomendasi perpanjangan
SIPPTKIS/PJTKI
• Verifkasi dokumen TKI di
wilayah provinsi
• Penyebarluasan system
informasi penempatan TKI
dan pengawasan penyetoran
dana perlindugan TKI di
wilayah provinsi
• Sosialisasi terhadap
substansi perjanjian kerja
penempatan TKI ke luar
negeri di lingkup provinsi
• Fasilitasi penyelenggaraan
PAP
• Pembinaan , pengawasan
penemptan dan
perlindungan TKI yang
berasal dari wilayah provinsi
yang bersangkutan
• Penerbitan perijinan tempat
oenampungan di wilayah
provinsi
• Fasilitasi kepulangan TKI di
pelabuhan debarkasi di
wilayah provinsi.
• Pelaksanaan pendaftaran
dan seleksi calon TKI di
wilayah kabupaten/kota
• Pengawasan pelaksanaan
rekrutmen calon TKI di
wilayah kabupatan/kota
• Fasilitasi pelaksanaan
perjanjian kerjasama
bilateral dan multilateral
penempatan TKI yang
pelaksanaannya di wilayah
kabupaten/kota
• Penerbitan rekomendasi ijin
pendirian kantor cabang
PPTKIS di wilayah
kabupaten/kota
• Penerbitan rekomendasi
paspor TKI di wilayahnya
• Penyebarluasan system
informasi penempatan TKI
dan pengawasan
penyetoran
• Sosialisasi terhadap
substansi perjanjian kerja
penempatan TKI ke luar
negeri
• Pembinaan, pengawasan
dan monitoring
penempatan maupun
perlindungan TKI yang
berasal dari kabupaten/kota
yang bersangkutan
• Penerbitan rekomendasi
perijinan tempat
penampungan di wilayah
kabupaten/kota
• Pelayanan kepulangan TKI
yang berasal dari
Kabupaten/Kota
6
Makalah Dirjen Otonomi Daerah dalam Pengelolaan Migrasi ke Luar Negeri dan Perlindugan Buruh Migran
Indonesia disampaikan pada Semiloka Perda yang diselenggarakan Komnas Perempuan, tanggal 14 Februari
2006, Jakarta
Sebagai sebuah gambaran, berikut adalah bagan yang memilahkan kewenangan
Pemerintah dalam konteks penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar
negeri berdasarkan UU PPTKLN
6
:
¬e
Dari bagan tersebut di atas, nampak bahwa peluang yang tersedia di tingkat propinsi dan
kabupaten/kota dalam kerangka otonomi daerah untuk masalah buruh migran berbeda-beda
tetapi juga tidak terlalu luas. Adapun peluang lain jika dibagi berdasarkan beberapa urusan
dalam penempatan dan perlindungan buruh migran tergambar dalam tabel berikut ini :
URUSAN PElUANg DI TINgKAT PROPINSI PElUANg DI TINgKAT KABUPATEN
Rekruitmen • Monitoring dan evaluasi penempatan
TKI yang berasal dari wilayah
provinsi
• Pelaksanaan pendaftaran dan seleksi
calon TKI di wilayah kabupaten/kota
• Pengawasan pelaksanaan rekrutmen
calon buruh migran di wilayah
kabupatan/kota
Kerjasama bilateral/
multilateral
Penempatan TKI
• Fasilitasi pelaksanaan perjanjian
kerja sama yang pelaksanaannya di
wilayah provinsi
• Fasilitasi pelaksanaan perjanjian
kerjasama yang pelaksanaannya di
wilayah kabupaten/kota
Sektor Swasta • Penerbitan perijinan pendirian kantor
cabang di wilayah provinsi dan
rekomendasi perpanjangan Surat Izin
Pelaksana Penempatan TKI (SIPPTKI)
/ Perusahaan Jasa Tenaga Kerja
Indonesia (PJTKI)
• Penerbitan rekomendasi ijin pendirian
kantor cabang Pelaksanan penempatan
TKI swasta (PPTKIS) di wilayah
kabupaten/kota
Administrasi/
Dokumen Perjalanan
buruh migran
Verifkasi dokumen TKI di wilayah
provinsi
Penerbitan rekomendasi paspor buruh
migran di wilayahnya
Informasi • Penyebarluasan sistem informasi
penempatan TKI dan pengawasan
penyetoran dana perlindugan TKI di
wilayah provinsi
• Sosialisasi terhadap substansi
perjanjian kerja penempatan TKI ke
luar negeri di lingkup provinsi
• Fasilitasi penyelenggaraan
Penyelenggaraan Akhir
Pemberangkatan (PAP)
• Penyebarluasan system informasi
penempatan TKI dan pengawasan
penyetoran
• Sosialisasi terhadap substansi
perjanjian kerja penempatan TKI ke
luar negeri
Penempatan dan
Perlindungan
• Pembinaan , pengawasan penemptan
dan perlindungan TKI yang berasal
dari wilayah provinsi yang
bersangkutan
• Pembinaan, pengawasan dan
monitoring penempatan maupun
perlindungan TKI yang berasal dari
kabupaten/kota yang bersangkutan
Penampungan • Penerbitan perijinan tempat
penampungan di wilayah provinsi
• Penerbitan rekomendasi perijinan
temapt penampungan di wilayah
kabupaten/kota
Kepulangan TKI • Fasilitasi kepulangan TKI di
pelabuhan debarkasi di wilayah
provinsi
• Pelayanan kepulangan TKI yang
berasal dari Kabupaten/Kota
Dari gambaran dan penjelasan tersebut, peluang daerah untuk menyusun peraturan
daerah sangat penting untuk digunakan. Di samping untuk memperjelas kebutuhan yang
dapat disediakan oleh pemerintah daerah dalam penempatan dan perlindungan buruh
migran juga dapat mengupayakan keterkaitan dengan urusan lain di daerah yang memiliki
keterkaitan kuat dengan persoalan ketenagakerjaan.
Tabel 3
Peluang Pembagian Urusan Penempatan dan Perlindungan di tingkat Daerah
¬e PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
Hal ini sebagaimana diatur dan dimandatkan dalam UU No. 10/2004 ttg Tata Cara
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Pasal 12 yang menyebutkan bahwa Materi
muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan
otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta
penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.
Untuk itulah peraturan daerah menjadi penting dalam kerangka untuk memberi landasan
yang nyata dalam upaya-upaya menyediakan perlindungan bagi buruh migran di daerah
asalnya. Dalam hal ini juga dengan catatan tebal bahwa peraturan daerah yang akan disusun
tersebut, sebelum dijelaskan lebih banyak di bawah, dengan berpegang dan mengandung
asas diantaranya untuk kemanusiaan, keadilan, kesamaan kedudukan dalam hukum dan
pemerintahan; ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau keseimbangan, keserasian, dan
keselarasan.
7

c. Tantangan berkaitan dengan Keterbatasan Perda
Di samping peluang daerah dalam menyediakan perangkat perlindungan untuk warganya
yang menjadi buruh migran, terdapat tantangan terutama pada keterbatasan daerah dalam
mengatur perlindungan dan penempatan buruh migran.
Pasal 5 ayat (2) UU No 39/ 2004 tentang PPTKLN sedikit mengatur distribusi wewenang
Pemerintah (pusat) kepada Pemerintah (daerah). Sebagaimana telah digambarkan pada tabel
2 yang ini menunjukkan bahwa dalam konteks pengaturan dan perlindungan buruh migran,
pemerintah telah melakukan inisiatif untuk melibatkan dan mengefektifkan peran daerah.
Namun demikian, jika kebutuhan untuk penyusunan peraturan daerah tersebut telah
diputuskan, terdapat tantangan-tantangan sebagaimana hasil dari FGD yang dilakukan
Komnas Perempuan, yaitu yang berkaitan dengan hal-hal berikut ini :
(1) Wilayah yurisdiksi Perda adalah sebatas luas wilayah administratif daerah dimana Perda
tersebut diterbitkan. Maka jangkauan Perda juga terbatas. Keterbatasan tersebut harus
dimanfaatkan secara optimal dalam kaitan dengan fungsi pengawasan pemerintah
daerah dalam penerapan peraturan yang telah disusun.
(2) Terdapat kekecualian-kekecualian peraturan di tingkat pusat. Sebagai contoh masalah
pembuatan Paspor untuk calon buruh migran ke Timur Tengah masih dipusatkan di
Jakarta, sementara paspor untuk ke negara tujuan lainnya dapat dibuat di daerah. Hal
ini menyebabkan kendala daerah untuk melakukan pengawasan.
(3) Inkonsistensi peraturan pemerintah. Hal ini terjadi seiring seringnya perubahan
kebijakan dimana kebijakan sebelumnya belum dijalankan. Dalam konteks perda
hal ini memakan waktu tersendiri untuk penyesuaian, dan juga sosialisasi untuk
pelaksanaan.
7
Sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UU No. 10/2004 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan
¬¬
(4) Alokasi Dana dari Pemerintah Daerah untuk penyusunan Peraturan Daerah untuk
perlindungan buruh migran tidak menjadi prioritas dalam rencana pembangunan
daerah.
(5) Menerjemahkan prinsip-prinsip perlindungan HAM dan Keadilan Jender dalam
sebuah peraturan daerah. Hal ini juga seiring dengan belum tersedianya panduan untuk
menurunkan peraturan berkaitan dengan HAM dan Kesetaraan/Keadilan Jender ke dalam
peraturan yang lebih rendah, antara lain Perda.
¬e PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
III
Langkah dan Panduan Umum
Penyusunan Perda Buruh Migran
D
alam penyusunan Perda, terdapat landasan umum dan prinsip-prinsip
perlindungan buruh migran yang penting dimasukkan. Begitupun dalam
penyusunannya, terdapat tahapan-tahapan yang penting untuk dipenuhi untuk
membuat perda tersebut kredibel dan dapat dijadikan acuan untuk menyediakan
elemen perlindungan bagi buruh migran.
III.1. Landasan Umum
Perundang-undangan kita khususnya Pasal 5 UU No. 10 tahun 2004 tentang Tata Cara
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan juga pasal pasal 137 UU No. 32 tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi landasan penyusunan peraturan daerah yang
harus meliputi :
a. kejelasan tujuan
Perda yang disusun harus memiliki tujuan yang jelas
yang hendak dicapai.
b. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat;
Perda yang disusun harus dibuat oleh lembaga/pejabat
yang berwenang, akan batal demi hukum jika tidak
disusun oleh pejabat yang berwenang di daerah.
c. kesesuaian antara jenis dan materi muatan;
Dalam Pembentukan Peraturan Daerah harus benar-
benar memperhatikan materi muatan yang tepat
dengan jenis Peraturan Perundang-undangannya.
Berikut pula secara substansi tidak bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan di atasnya
sebagaimana diatur dalam pasal 145 UU No. 32 tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah.
d. dapat dilaksanakan;
Pembentukan Perda harus memperhi tungkan
efekti fi tas di dal am masyarakat, bai k secara
Pasal 138 UU No. 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah menjelaskan bahwa :
(1) Materi muatan Perda mengandung asas:
a. pengayoman;
b. kemanusiaan;
c. kebangsaan;
d. kekeluargaan;
e. kenusantaraan;
f. bhineka tunggal ika;
g. keadilan;
h. kesamaan kedudukan dalam hukum
dan pemerintahan;
i. ketertiban dan kepastian hukum;
dan/atau
j. keseimbangan, keserasian, dan
keselarasan.
(2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Perda dapat memuat asas lain
sesuai dengan substansi Perda yang
bersangkutan.
¬=
flosofs, yuridis maupun sosiologis. Serta tak kalah penting dalam hal ini kesiapan aparat
dan infrastruktur dalam menjalankan peraturan tersebut.
e. kedayagunaan dan kehasilgunaan
Perda yang dibuat tersebut memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam
mengatur kehidupan bermasyarakat, menjawab kebutuhan serta sebagai landasan untuk
penyelesaian masalah.
f. kejelasan rumusan
Perda harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan,
sistematika dan pilihan kata atau terminologi, serta bahasa hukumnya jelas dan
mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam
pelaksanaannya. Rumusan Perda juga harus konsisten dan mengacu pada konstitusi dan
perundangan-perundangan yang telah tersedia.
g. keterbukaan dan akuntabilitas
Proses pembentukan Perda mulai dari perencanaan, persiapan, penyusunan, dan
pembahasan bersifat transparan dan terbuka dengan memberi ruang partisipasi masyarakat.
Pelibatan ini wajib mempertimbangkan komposisi pihak-pihak yang terkait dengan
persoalan buruh migran terutama keluarga, mantan dan perempuan buruh migran.
III.2. Prinsip-prinsip Perlindungan Buruh Migran dalam Perda
Dari serangkaian proses yang dilakukan oleh Komnas Perempuan menyepakati bahwa sebuah
peraturan daerah hendaknya menganut dan mengadopsi prinsip-prinsip penegakan HAM dan
keadilan jender. Proses tersebut juga menyepakati bahwa untuk menjalankan dan melaksanakan
seluruh prinsip dalam Perda tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah daerah.
Apa saja prinsip-prinsip perlindungan buruh migran dalam Perda?
(1) Anti Diskriminasi
Merupakan elemen-elemen penghormatan dan pemenuhan atas seluruh hak
buruh migran berlaku tanpa diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, usia, ras, suku,
warna kulit, bahasa, agama atau kepercayaan, pendapat
poilitk, asal-usul etnis, status perkawinan, kelahiran dan
kewarganegaraannya.
(2) Keadilan Gender dan Anti Kekerasan terhadap Perempuan
Mendorong upaya memberi kan keadi l an dengan
memperhitungkan dan menghargai perbedaan dalam
peran sosial budaya, kebutuhan, kesempatan, hambatan
dan kerentanan antara perempuan dan laki-laki. Perda juga
diharapkan memberi perhatian khusus tentang kekerasan
terhadap perempuan juga penanganan terhadap para
perempuan korban kekerasan.
Kekerasan terhadap perempuan
adalah setiap perbuatan berdasarkan
perbedaan jenis kelamin yang berakibat
atau mungkin berakibat kesengsaraan
atau penderitaan perempuan secara
fsik, seksual, atau psikologis, termasuk
ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan
atau perampasan kemerdekaan secara
sewenang-wenang, baik yang terjadi
di depan umum maupun kehidupan
pribadi.
(Pasal 1 Dekl arasi Penghapusan
Kekerasan terhadap Perempuan, 1992)
&c PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
(3) Anti Perdagangan Manusia
Kerentanan buruh migran atas terjadinya praktek perdagangan manusia sangat besar
terjadi. Untuk itu, Perda diharapkan memberikan jaminan untuk meminimalisir terjadinya
perdagangan manusia pada proses migrasi misalnya dengan menyediakan elemen sanksi
yang dapat dilaksanakan dan menjadi porsi daerah.
(4) Aksesibilitas terhadap Informasi dan Layanan
Perda menjamin kemudahan akses dan layanan untuk para calon buruh migran
untuk mendapatkan informasi maupun penjelasan terutama tentang hak-hak asasi
buruh migran. Kemudahan akses ini terutama berkaitan dengan program-program
pemberdayaan dengan
(5) Imparsialitas dan Kesamaan Kedudukan di Muka Hukum dan
Pemerintahan
Sebagai kelompok miskin dan marginal buruh migran sering
tidak mudah mengakses penegakan keadilan. Untuk itu
setiap buruh migran mempunyai hak atas perlakuan sama di
depan hukum pada semua tingkatan. Perda juga diharapkan
menyediakan kejelasan upaya penegakan hukum salah satunya
dengan penerapan sanksi
8
. Perda juga menjunjung tinggi
prinsip imparsialitas (tidak berpihak) pada salah satu pihak
dengan mengacu pada perundang-undangan di atasnya.
(6) Pertimbangan tentang Kekhasan Daerah
Perda hendaknya mempertimbangkan kekhasan serta kebutuhan yang spesifk atas
adanya sebuah peraturan. Hal ini juga dengan pertimbangan bahwa antara daerah satu
dengan daerah yang lain memiliki karakter yang berbeda dimana akan berbeda dalam
pengelolaan buruh migran, misalnya daerah perbatasan akan memiliki kebutuhan
dan pendekatan berbeda dengan daerah perbatasan
9
. Kemudahan akses ini terutama
berkaitan dengan program-program pemberdayaan buruh migran.
Adapun sebagai gambaran prinsip-prinsip Perda dengan beberapa contoh indikator
pemenuhannya adalah digambarkan melalui tabel 4 berikut ini :
Pembahasan tentang Prinsip
perlindungan buruh migran ini juga
menggarisbawahi bahwa persoalan
migrasi memiliki keterkaitan dengan
persoalan lain di daerah. Untuk
itu, penting mensinergikan dengan
persoalan lain yang dibangun di
daerah, misalnya migrasi sangat
erat kaitannya dengan persoalan
kependudukan dan pengembangan
ekonomi di daerah, dst.
8
sanksi-sanksi dan ketentuan pidana yang memungkinkan diatur pada Perda sebagaimana telah diatur pada
peraturan perundang-undangan di atasnya
9
lebih detil tentang prinsip-prinsip perlindungan dan pemenuhannya dapat melihat lampiran II (halaman
27) pada buku Panduan ini.

III.3. Acuan Perda untuk Perlindungan Buruh Migran
Penyusunan Perda hendaknya dapat mengacu pada instrumen hukum di tingkat nasioanl
maupun instrumen HAM Internasional yang telah diadopsi dalam sistem hukum nasional.
Acuan tersebut diantaranya yaitu :
1. Undang-Undang Dasar 1945,
2. UU No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi terhadap Perempuan,
3. UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
4. UU No. 11 tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-hak
Ekonomi, Sosial dan Budaya,
5. UU No. 12 tahun 2005 tentang Pengesahan Konvenan tentang Hak-hak Sipil dan
Politik.
serta, beberapa Konvensi ILO yang telah disahkan oleh Indonesia, diantaranya yaitu;
1. Konvensi No. 29 tentang Kerja Paksa;
Prinsip Indikator Pemenuhan
(beberapa contoh)
Anti Diskriminasi • Adanya pasal yang menegaskan anti diskriminasi,
• Adanya pasal yang memberikan keleluasaan pada siapa pun
untuk bermigrasi.
Keadilan Gender dan Anti Kekerasan
terhadap Perempuan
• Adanya pasal yang menegaskan anti kekerasan terhadap
perempuan dan menjunjung keadilan gender,
• Adanya mekanisme untuk penanganan kasus-kasus kekerasan
terhadap perempuan,
• Adanya jaminan hak informasi atas hak reproduksi bagi
perempuan.
Anti Perdagangan Manusia • Adanya sistem pendataan yang akurat dan akuntabel dengan
menfungsikan seluruh perangkat pemerintahan daerah dari
provinsi sampai desa.
Aksesibilitas terhadap Informasi dan
Layanan
• Adanya proses penempatan yang mudah dan transparan
• Adanya kewajiban pemerintah daerah untuk memberikan hak-
hak mendasar buruh migran.
Imparsialitas dan Kesamaan Kedudukan
di Muka Hukum dan Pemerintahan
• Adanya mekanisme untuk memproses persoalan hukum yang
dihadapi,
• Adanya sanksi yang jelas atas tidak dipatuhinya peraturan
dengan mengacu perundang-undangan di atasnya.
Pertimbangan tentang Kekhasan dan
Kebutuhan Daerah
• Adanya materi yang jelas menyebutkan kebutuhan spesifk
dengan kekhasan daerah tersebut,
• Adanya poin yang spesifk menyediakan tentang kebutuhan
daerah atas perlindungan buruh migran.
Tabel 4
Prinsip Perda dan Indikator Pemenuhan
&& PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
2. Konvensi No. 98 tentang Berlakunya Dasar-dasar daripada Hak untuk Berorganisasi dan
Berunding Bersama;
3. Konvensi No. 100 tentang Renumerasi Setara;
4. Konvensi No.87 tentang Kebebasan Berasosiasi dan Perlindungan terhadap Hak
Berorganisasi;
5. Konvensi No. 105 tentang Penghapusan Kerja Paksa;
6. Konvensi No. 111 tentang Diskriminasi dalam Pekerjaan dan Jabatan;
7. Konvensi No. 138 tentang Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja.
III.4. Kerangka Tehnis Penyusunan Perda
Tahapan yang dilakukan untuk menyusun Peraturan Daerah adalah meliputi :
Sebagai catatan tambahan, Konvensi Internasional tahun 1990 tentang Hak Asasi
Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya dapat dijadikan acuan walaupun pemerintah
Indonesia baru menandatangani Konvensi ini pada tanggal 24 September 2004.
Ringkasan isi serta elemen-elemen yang tersedia dalam Konvensi tersebut, ada dalam
lampiran III Panduan ini.
PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK
MERANCANG PERDA
KONSULTASI DENGAN MASYARAKAT/
PARTISIPASI MASYARAKAT
PERBAIKAN RANCANGAN PERDA
PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN
PENYAMPAIAN PERDA KE PEMERINTAH PUSAT
DAN PEMBATALAN PERDA.
PELIBATAN DAN PARTISIPASI
MASYARAKAT
&z
1.Penyusunan Naskah Akademik
Setelah kebutuhan atas Perda diputuskan melalui pelibatan dan partisipasi masyarakat
maupun hasil dari pemetaan kebutuhan oleh pemerintah maupun DPRD, disusunlah naskah
akademik. Naskah Akademik adalah segala pemikiran yang melatarbelakangi diterbitkannya
sebuah Undang-undang atau Peraturan Daerah. Naskah Akademik merupakan bahan
awal yang memuat gagasan-gagasan tentang urgensi, pendekatan, luas lingkup dan
materi muatan suatu peraturan perundang-undangan, dan merupakan bahan dasar bagi
penyusunan Rancangan sebuah Peraturan
10
.
Sebagian besar pembuat rancangan peraturan perundangan menganggap bahwa naskah
akademik haruslah merupakan produk ilmiah dari perguruan tinggi. Padahal naskah akademik
tidak selalu merupakan produk perguruaan tinggi. Naskah akademik bisa dibuat oleh siapa
pun sepanjang metodologinya bisa dipertanggungjawabkan. Cukup dengan penelitian
sederhana serta dengan melibatkan kelompok-kelompok sosial yang berkompeten dan
berkaitan dengan tema yang akan menjadi sasaran pengaturan. Kajian peraturan yang ada
ditambah dari pengalaman empirik yang dialami kelompok sosial tertentu sebagai pelaku
dari masalah yang akan diatur dalam Perda, serta pemangku kepentingan lainya, telah cukup
menjadi argumentasi ilmiah sebuah naskah akademik.
Secara umum, naskah akademik dapat disusun sebagai berikut :
A. Bagian Pertama:
Berisi Laporan hasil kajian dan atau penelitian tentang Peraturan Daerah yang dirancang,
yang dituangkan dalam bentuk:
I. Pendahuluan
1. Latar Belakang:
1.1. Pokok pikiran dan analisis fakta-fakta yang merupakan alasan pentingnya
persoalan-persoalan tersebut harus segera diatur melalui Peraturan
Daerah
1.2. Daftar Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan dapat menjadi
dasar serta rujukan bagi penyusunan materi Peraturan daerah
2. Tujuan yang hendak dicapai dan manfaat dibuatnya Peraturan Daerah
3. Metode Pendekatan. Metode yang dipergunakan untuk penyusunan Naskah
Akademik
II. Ruang Lingkup Naskah Akademik
1. Ketentuan Umum
Berisi penjelasan arti dan makna tentang istilah-istilah yang dipergunakan dalam
Naskah Akademik
2. Materi
Berisi konsepsi, pendekatan, prinsip-prinsip yang perlu diatur, serta pemikiran atau
usulan normatif yang disarankan
10
Keputusan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional, No. G-159.PR.09.10 TAHUN 1994, Tentang Petunjuk
Teknis Penyusunan Naskah Akademik Peraturan Perundang-undangan.
&« PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
III. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan berisi Rangkuman pokok-pokok isi naskah Akademik, Lingkup materi
yang diatur, dan kaitannya dengan peraturan perundangan lainnya
2. Usulan bentuk pengaturan berkaitan dengan materi muatan
3. Saran berisi rekomendasi apakah keseluruhan materi akan diatur semuanya dan
dituangkan dalam batang tubuh Perda, atau sebagian yang lainnya bisa dan akan
dituangkan dalam Peraturan Pelaksananya, atau dalam Perda yang lain
4. Rekomendasi tentang prioritas dan waktu penyusunan Perda dikaitkan dengan
kebutuhan-kebutuhan, dan disertai alasan-alasannya.
B. Bagian Kedua;
Berisi konsep awal Rancangan Peraturan Daerah
1. Konsiderans dan Dasar Hukum
Berisi:
• Pokok-pokok pikiran dan rumusan ringkas analisis fakta-fakta yang merupakan
alasan pentingnya persoalan-persoalan tersebut harus segera diatur melalui
Peraturan Daerah
• Daftar Undang-undang dan peraturan lain, dan atau pasal-pasalnya yang menjadi
dasar hukum dan rujukan bagi terbitnya Perda.
2. Ketentuan Umum
Berisi: Istilah-istilah dan pengertian serta maknanya yang dipakai di dalam batang
tubuh Perda
3. Materi
Berisi konsepsi mengenai asas-asas dan materi hukum yang perlu diatur, disertai
naskah rumusan normatif sebagai rancangan pasal-pasal yang disarankan.
4. Sanksi
Berisi pemikiran tentang sanksi-sanksi dan ketentuan pidana yang memungkinkan
bagi pelanggaran Perda
5. Ketentuan Peralihan
Berisi ketentuan-ketentuan tentang penyelesaian masalah yang sudah terjadi sebelum
Perda diputuskan, serta peraturan mana yang akan dipergunakan bila untuk hal yang
sama juga telah diatur oleh peraturan lain yang berlaku.
2. Merancang Perda
Proses pembuatan rancangan perda memerlukan sebuah tim kerja. Tim ini tidak harus
besar, tetapi jumlahnya bervariasi dari pejabat Pemerintah Daerah (Pemda), unsur DPRD,
kalangan akademisi, LSM, tokoh-tokoh masyarakat dan buruh migran (mantan buruh migran
dan anggota keluarganya).
3. Konsultasi dan Partisipasi Publik
Sebagaimana dijelaskan pada Landasan Umum, konsultasi dan partisipasi publik
merupakan jaminan atas asas aksesibilitas masyarakat untuk memberikan masukan secara
lisan atau tertulis dalam rangka penetapan maupun pembahasan rancangan peraturan
&e
daerah. Pelibatan ini wajib mempertimbangkan komposisi pihak-pihak yang terkait dengan
persoalan buruh migran terutama keluarga buruh migran, mantan dan perempuan buruh
migran.
4. Perbaikan Rancangan Perda
Berdasarkan hasil konsulatasi dengan masyarakat, rancangan Perda kemudian direvisi.
Sebagai bagian dari proses ini, tim kerja perlu menganalisa hasil konsultasi sebagai
argumentasi yang kuat dalam perbaikan rancangan Perda.
5. Pembahasan dan Pengesahan
Pembahasan rancangan Perda di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dilakukan oleh DPRD
bersama gubernur atau bupati/walikota melalui tahapan yang secara rinci diatur dalam tata
tertib DPRD
6. Penyampaian Perda ke Pemerintah Pusat dan Pembatalan Perda
6.1. Perda disampaikan kepada pemerintah paling lama 7 hari setelah ditetapkan
6.2. Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan atau peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh pemerintah
6.3. Keputusan pembatalan Perda ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60
(enam puluh) hari sejak diterimanya Perda
6.4. Paling lama 7 (tujuh) hari setelah keputusan pembatalan, kepala daerah harus
memberhentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama Kepala Daerah
mencabut Perda yang dimaksud
6.5. Apabila propinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan
Perda dengan alasan yang dapat dibenarkan peraturan perundang-undangan,Kepala
Daerah dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung
6.6. Apabila Pemerintah Pusat tidak mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan
Perda, maka Perda dimaksud dinyatakan berlaku
Bahan Bacaan :
1. Mempercepat Perubahan, Sumber Informasi untuk Pengarusutamaan Jender, CIDA, 2000
2. Panduan Pemantauan Kebijakan Daerah dengan Perspektif HAM dan Keadilan Gender,
Komnas Perempuan, 2004
3. Mendorong Inisiatif Lokal Menghapuskan Kekerasan terhadap Perempuan di Era Otonomi
Daerah, Komnas Perempuan, 2005
4. Dirjen Otonomi Daerah, Pengelolaan Migrasi ke Luar Negeri dan Perlindugan Buruh Migran
Indonesia, makalah pada Semiloka Perda Komnas Perempuan, tanggal 14 Februari 2006,
Jakarta
&e PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
LAMPIRAN I
BAGAN KEKHASAN DAERAH
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Kekhasan Daerah Permasalahan Alternatif Perlindungan
1. Daerah Basis/
Kantong Buruh
Migran Indonesia
• Kondisi Demografs. Resources
buruh migran berpendidikan sangat
rendah (ijazah SD atau tidak tamat
SD). Secara riil segmen ini yang
paling membutuhkan lapangan
pekerjaan.
• Calon buruh migran direkrut oleh
Calo dan dibawa ke luar daerah,
karena didaerah tersebut tidak
ada PPTKIS atau Kantor Cabang-
nya. Selain terjadi eksploitasi, hal
semacam ini rentan terjadinya traf-
fcking.
• PPTKIS yang beroperasi di daerah
tidak memiliki penampungan send-
iri, sehingga calon buruh migran
setempat ditampung di daerah lain.
Dengan demikian Pemkab/Pemkot
kesulitan untuk melakukan penga-
wasan.
• Daerah basis yang mayoritas buruh
migrannya berorientasi ke Negara-
negara Timur Tengah. Selama ini
Paspor untuk tujuan kerja ke nega-
ra-negara tersebut disentralisasi di
Jakarta/Tangerang. Hal ini rentan
terjadinya pemalsuan dokumen.
• Mempertimbangkan persyaratan
Calon berkaitan dengan batasan
Tamat SLTP sebagaimana dike-
hendaki oleh UU 39/2004.
• Ijin Kepala Desa dan Kecamatan
bagi setiap orang yang hendak
mencari pekerjaan.
• Melalui Peraturan Daerah ditentu-
kan bahwa rekrutmen calon buruh
migran hanya boleh dilakukan
oleh PPTKI (atau Kantor Cabang-
nya) yang telah memperoleh ijin
operasional dari Pemkab/Pemkot
setempat.
• Keharusan bagi PPTKIS atau kan-
tor cabangnya yang beroperasi di
daerah untuk memiliki penam-
pungan sendiri yang layak.
• Paspor dibuat di daerah (Kantor
Imigrasi terdekat dari tempat
tinggal calon buruh migran.
2. Daerah Per-
batasan
• Sebagai Wilayah Transit. Rentan
terjadinya pemalsuan dokumen dan
tindak pidana perdagangan orang.
• Sebagai pintu masuk buruh migran
yang dideportasi. Rentan terjadi
eksploitasi, pelecehan seksual,
perdagangan orang serta pene-
lantaran buruh migran deportan
• Kesulitan daerah untuk menyedi-
akan dana untuk menangani buruh
migran deportan secara lebih baik
• Pengawasan Pemprov atau
Pemkab/Pemkot terhadap PPTKIS
atau kantor cabangnya yang
menampung calon buruh migran
yang dikirim dari daerah lain dan
melakukan transit di daerahnya.
• Calon buruh migran yang dita-
mpung harus merupakan calon
yang sudah lengkap segala doku-
men serta persyaratannya, dan
tinggal menunggu keberangka-
tan.
• Sanksi pidana bagi PPTKIS atau
kantor cabangnya yang menam-
pung calon buruh migran tanpa
kelengkapan dokumen.
• Penyediaan gedung penampungan
dan Crisis Centre (dengan tenaga
medis dan counselor) yang
merupakan fasilitas negara.
• Memasukkan anggaran pengelo-
laan dan penanganan buruh
migrant deportan ke dalam APBD.

LAMPIRAN II
Aspek Perlindungan (Perspektif HAM dan Keadilan Jender)
PRINSIP KEBIJAKAN ASPEK PERlINDUNgAN PANDUAN NORMATIF SANKSI
A. Prosedur dan Proses Migrasi
1. Kewenangan pem-
berian Ijin Pendirian
dan atau Ijin Opera-
sional PPTKI berada
pada Pemkab/Pem-
kot.
2. Arus informasi
dan prosedur kerja.
• Mencegah kemungkinan
terjadinya Traffcking serta
penampungan yang terlalu
lama dan mirip penyekapan.
• Mencegah praktek percaloan,
dan melindungi Calon BMI
dari tindak pemerasan.
Kontrol Pemkab/Pemkot ter-
hadap PPTKI yang beroperasi
di wilayahnya, dengan :
⇒ Sosialisai Prosedur bek-
erja ke luar negeri harus
sampai ke basis, melalui
kepala desa.
⇒ Kewajiban PPTKI dan Pem-
kab/ Pemkot untuk mem-
berikan Informasi lengkap
dan berimbang, meliputi
tempat, jenis pekerjaan,
besaran gaji/upah, serta
resiko-resiko yang mungkin
dihadapi.
⇒ Pemberian identitas resmi
dan pendidikan bagi Calo
atau Sponsor sebagai
“middle man”
Pidana bagi Calo
tanpa identitas
resmi
B. Pra Pemberangkatan
1. Calon BMI yang
mengundurkan
diri berhak untuk
meminta dokumen
identitas dirinya
tanpa dipungut biaya
Memperkecil kemungkinan
penampungan yang terlalu
lama dan melindungi Calon BMI
dari praktek pemerasan
Hak Calon BMI memutuskan
untuk menghentikan atau
melanjutkan proses pen-
daftaran kerja ke luar negeri
2. Pembekalan Calon
BMI
Mempersiapkan Calon BMI
secara lebih baik, termasuk
pembekalan bahasa, kultur
negara tujuan, wawasan, hak
dan kewajiban, seluk beluk atu-
ran hukum, serta kemampuan
melindungi diri dan memperta-
hankan hak-haknya.
• Pembekalan untuk Calon
BMI, harus mencakup
Pendidikan dan Latihan
(Diklat). Pendidikan
diberikan untuk peningka-
tan wawasan, bahasa dan
kultur serta hukum negara
tujuan.
• Aspek keterampilan diberi-
kan melalui pelatihan yang
memadai.
• Diklat dilakukan oleh
Pemkab/Pemkot atau
pihak swasta terakreditasi.
Rekrutmen yang dilakukan
oleh PPTKIS hanya terha-
dap mereka yang sudah
memiliki sertifkat Diklat
&e PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
3. Pengaturan
Penampungan
• Mencegah terjadinya penam-
pungan yang terlalu lama,
serta hal yang mirip dengan
penyekapan (pembatasan
atau larangan berkomuni-
kasi).
• Memperkecil kemungkinan
terjadinya pelecehan dan
kekerasan seksual bagai
calon BMP
• Memperkecil Calon BMI yang
dipekerjakan tanpa upah
dengan dalih sebagai bagian
dari pelatihan.
• Kewajiban PPTKIS yang
beroperasi di daerah untuk
menyediakan Penampun-
gan di daerah yang layak
• Penyediaan kamar-kamar
bagi Calon BMI di penam-
pungan (di daerah) den-
gan mempertimbangkan
keamanan dan hak privacy
para calon buruh migran
khususnya perempuan
• Larangan penempatan
BMP dengan Visa “Kawin
Kontrak”
• Penyediaan Dokter perem-
puan bagi Calon BM Per-
empuan dalam menjalani
Medical Check
• Pidana bagi
PPTKIS yang
melakukan
tindakan
Penyekapan
• Sanksi Admin-
istratif bagi
PPTKIS yang
tidak memen-
uhi standar
penampungan.
4. Pencegahan dan
Pemberantasan
Traffcking
Memperkecil atau memberan-
tas potensi dijadikannya BMI
khususnya BMP sebagai obyek
traffcking
Larangan bagi PPTKIS untuk
mengalihkan Calon BMI
kepada PPTKIS lainnya
Sanksi Pidana
bagi PPTKIS yang
melakukan traf-
fcking dengan
merujuk pada
KUHP
C. Masa Kerja (bila memungkinkan)
1. Pengakuan hak-hak
BMI selama masa kerja
melalui kontrak kerja
khususnya pemenuhan
hak reproduksi bagi
buruh migran perem-
puan
Memperkecil atau mence-
gah kemungkinan terjadinya
eksploitasi terhadap BMI serta
perlakuan yang sewenang-
wenang dari Majikan.
Pemantauan oleh Pemkab/
Pemkot dan PPTKIS terhadap
BMI yang sedang bekerja di
negara tujuan. Bekerjasama
dengan Perwakilan RI di
negara tujuan
2. Pengakuan Perem-
puan Pekerja Rumah
Tangga (PRT) sebagai
Pekerja
Pemenuhan hak buruh migran
perempuan setara dengan
buruh migran di sektor yang
disebut formal.
Memasukkan istilah/kategori
Pekerja di dalam Perjanjian
Penempatan dan Perjanjian
Kerja
D. Purna/Paska Kerja
1. Perlindungan BMI
dari tindak preman-
isme di Bandara
atau Pelabuhan
Memperkecil kemungkinan
terjadinya pemerasan terhadap
BMI di Bandara atau Pelabuhan
Kewajiban PPTKIS untuk
menjamin transportasi kepu-
langan BMI sampai Bandara/
Pelabuhan terdekat dengan
kampung halaman BMI
2. Pengelolaan/Peman-
faatan Hasil Kerja
• Memanfaatkan pengelo-
laan hasil bekerja dari
luar negeri. Hal ini untuk
mencegah pemanfaatan
yang sewenang-wenang oleh
keluarga khususnya suami
bagi para istri yang bekerja
ke luar negeri.
Pembinaan kesejahteraan
bagi keluarga yang ditinggal-
kan oleh pemerintah daerah
dengan kerja sama sejumlah
instansi.
&=
Bagian Topik Isi
I (6 pasal) Ruang Lingkup &
Defnisi Pekerja
Migran
6 pasal (no 1 sampai dengan 6)
berkaitan dengan apa yang dicakup dan tidak dicakup konvensi
ini serta arti peristilahan yang dipakai termasuk pekerja migran
yang didokumentasikan maupun tidak atau berada dalam situasi
yang tidak biasa (pasal 5).
II (1 pasal) Prinsip Non
Diskriminasi
1 pasal (no 7)
janji untuk menghormati dan memastikan semua pekerja migran
dan anggota keluarganya memperoleh hak tanpa pembedaan apa-
pun.
III (28 pasal) Uraian tentang
HAM serta
ketentuan tentang
Kewajiban
Pekerja Migran
dan Anggota
Keluarganya
28 pasal (no 8-35)
pasal 8 : Hak datang dan pergi
pasal 9 : Hak hidup yang dilindungi hukum
pasal 10 : Hak mendapat perlakuan manusiawi, bebas dari
perlakuan yang menyiksa dan kejam
pasal 11 : Hak bebas dari kerja paksa
pasal 12 : Hak memilih & menganut agama/kepercayaan
pasal 13 : Hak mengeluarkan & menerima pendapat secara lisan
& tulisan
pasal 14 : Hak dapat perlindungan hukum atas kebebasan
pribadinya
pasal 15 : Hak perlindungan hukum atas hak milik individual
dan kolektif
pasal 16 : Hak mendapatkan perlindungan negara dari kekerasan
pasal 17 : Hak-hak dalam tahanan
pasal 18 : Hak-hak yang didapatkan di depan pengadilan
pasal 19 : Ketentuan pemberian hukuman
pasal 20 : Hak untuk tidak dipenjarakan
pasal 21 : Hak-hak dalam soal dokumen untuk identitas, izin
masuk, dan izin kerja
pasal 22 : Hak-hak untuk tidak diusir dan hal-hal yang berkaitan
dengan pemulangan
pasal 23 : Hak perlindungan & bantuan konsuler atau
diplomatic, khususnya dalam pengusiran.
pasal 24 : Hak untuk diakui sebagai manusia /pribadi di muka
hukum
pasal 25 : Hak perlakuan sama dengan warga negara dalam hal
upah
pasal 26 : Hak berorganisasi
pasal 27 : Hak perlakuan sama dengan warga negara dalam hal
jaminan sosial
pasal 28 : Hak dapat perawatan medis untuk kelangsungan
hidup
pasal 29 : Hak anak dapat nama, pendaftaran kelahiran, dan
kebangsaan
pasal 30 : Hak anak dapat pendidikan dengan perlakuan yang
sama
pasal 31 : Hak atas penghormatan pada identitas budaya
pasal 32 : Hak mentransfer penghasilan
pasal 33 : Hak mendapatkan informasi dalam bahasa yang
dimengerti
pasal 34 : Kewajiban mematuhi hukum
pasal 35 : Kesetaraan pada pekerja migran tak berdokumen atau
dalam situasi tak biasa
LAMPIRAN III
Gambaran Ringkas Isi dari Konvensi Internasional untuk Hak Pekerja
Migran dan Anggota Keluarganya tahun 1990
zc PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
IV (21 pasal) Uraian tentang
Hak-Hak Lain
21 pasal ( no 36-56)
pasal 36 : situasi reguler dan ireguler
pasal 37 : hak mendapatkan informasi tentang semua kondisi
yang berlaku di negara tempat bekerja dan pejabat
yang harus dihubungi berkaitan dengan perubahan
kondisi tsb
pasal 38 : hak libur
psk 39 : kebebasan bergerak dan memilih tempat tinggal
pasal 40 berkumpul dan mendirikan organisasi
pasal 41 berpartisipasi dalam masalah pemerintahan
pasal 42 : bebas memilih wakil dalam lembaga-lembaga
pasal 43 : hak yang berkaitan dengan akses pendidikan,
perumahan, pelayanan sosial dan kesehatan, koperasi
pasal 44 : perlindungan pada keluarga buruh migran
pasal 45 : hak yang berkaitan dengan akses pendidikan,
perumahan, pelayanan sosial dan kesehatan, koperasi
untuk anggota keluarga pekerja migran
pasal 46 : kemudahan dalam bea dan pajak impor untuk pekerja
migran
pasal 47 : transfer pendapatan pekerja migran
pasal 48 : bebas atau pengurangan pajak
pasal 49 : izin tinggal dan izin kerja berkaitan dengan kategori
regular/documented
pasal 50 : izin tinggal berkaitan dengan bubarnya perkawinan
atau meninggal
pasal 51 : izin tinggal berkaitan dengan “jenis pekerjaan”
pasal 52 : Pembatasan – pembatasan akses
pasal 53 : anggota keluarga bebas milih pekerjaan bagi yang
bebas masuk negara tertentu
pasal 54 perlindungan atas pemecatan, tunjangan
pengangguran, akses kegiatan alternatif
pasal 55 : persamaan perlakuan
pasal 56 : tidak boleh diusir kecuali ada alasan-alasan tertentu
V (7 pasal) Ketetapan-
Ketetapan
yang Berlaku
bagi Kategori
Pekerja Tertentu
dan Anggota
Keluarganya

7 pasal (no 57 – 63)
pasal 57 : Pengecualian pekerja migran
pasal 58 : pekerja frontier (perbatasan)
pasal 59 : pejerja seasonal/musiman
pasal 60 : pekerja keliling
pasal 61 : pekerja proyek
pasal 62 : pekerja khusus, pekerjaan tertentu
pasal 63 : pekerja mandiri
VI (8 pasal) Promosi Kondisi
yang baik Setara,
Manusiawi, dan
Sah
2 pasal (no : 64-71)
pasal 64 : Ketentuan negara bekonsultasi dan bekerjasama
pasal 65 : Ketentuan negara menyediakan badan-badan yang
layak
pasal 66 : Ketentuan pembatasan perekrutan untuk wilayah
kerja
pasal 67 : Kerjasama untuk langkah-langkah pemulangan
pekerja migran dan anggota keluarganya
pasal 68 : Bekerjasama mencegah & menghapuskan kegiatan
mempekerjakan pekerja ilegal
pasal 69 : Tindakan untuk mengatur migrasi dalam situasi tidak
biasa atau undocumented migration
pasal 70 : Kondisi yang tidak lebih buruk dari warga negara
setempat
pasal 71 : Pemulangan jenazah dan kompensasi

VII (7 pasal) VII-IX Aplikasi
Konvensi
7 pasal (no 72-78)
pasal 72 : pembentukan Komite, (10 pakar, 14 pakar jika sudah
ditandatangani lebih dari 40)
pasal 73 : Anggota menyerahkan laporan upaya legislatif,
yudikatif, administratif, serta upaya-upaya lain untuk
melaksanakan konvensi.
pasal 74 : Komite memeriksa laporan
pasal 75 : Komite menetapkan aturan, memilih pejabat, serta
aturan sidang tiap tahun
pasal 76 : Negara anggota mengakui kewenangan komite
menerima & membahas komunikasi berkaitan dg
tuduhan tidak memenuhi kewajiban
pasal 77 : Mengakui kewenangan komite dalam hal menerima
& membahas komunikasi berdasarkan pengaduan
individual
pasal 78 : Prosedur lain penyelesaian sengketa
VIII (6 pasal) Ketentuan Umum 6 pasal (no 79-84)
IX (9 pasal) Ketentuan Penutup 9 pasal (no. 85-93): penandatangan, aksesi, ratifkasi, menarik
diri, usul perubahan, dan penyeleaian sengketa.
z& PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
No Nama lembaga/Institusi Alamat Telp/Fax/HP
Email
1. Hilfra Hamid Bagian Pemberdayaan
Perempuan dan Kesra
Jl. Rahadi Oesman, Pontianak 0561 7330407811
2. Padmi Marsiti Disnaker Propinsi Jatim Jl. Dukuh Manunggal 124-126
Surabaya
031 8292648
0813 30179449
3. Muh. Amin Disnakertrans Bone Jl. A. Mappanyukki, Bone 0481 22457
4. Sulaiman Disnakertrans Sumbawa Jl. Garuda No. 93 0371 21729
0371 21325
0812 3726892
5. Ubaidillah Disnaker Cianjur Jl. Raya Bandung Km 4,5
Cianjur
0263 262464
0817 6964379
6. Hasan Kementrian
Pemberdayaan
Perempuan (KPP)
Jl. Merdeka Barat 15
Jakarta
021 3805522
7. Mujari Ditjen Otoda Depdagri Jl. Merdeka Utama No. 7
Jakarta
8. Eka Baslar Ditjen Bina Bangda
Depdagri
Jl. Merdeka Utama No. 7
Jakarta
021 7942648/
79426438
9. A. Yani Ditjen Bina Bangda
Depdagri
Jl. Merdeka Utama No. 7
Jakarta
021 7942648/
79426438
10. Tresno Balitbang HAM Dephuk
HAM
Jl. HR Rasuna Said Kav. C1 021 2525015, ext.523
11. HB.Sya’ban
Farouq
DPRD Kab.Cianjur Jl. Siti Jaenab 31 Cianjur 0263 261702
12. Nurhasanah DPRD Lampung Jl. WR. Monginsidi No. 69,
Teluk Betung Lampung
0721 482166
0721 488946
0811 791653
13. Castra Aji Sarosa FWBMI Cirebon Jl. P. Sutajaya 5A Babalean,
Kab. Cirebon
0231 662072
14. Sukemi YLMD Lampung Jl. Merica No. 215A
Iringmulyo, kota Metro
Lampung
0725 42756
0815 4063284
sukemi_lpg@plasa.
com/ ylmd_lampung@
plasa.com
15. Ratna LPP Bone Jl. Andalas No. 31 Kabupaten
Bone
0481 21056
0813 55132536
asia_bone@yahoo.com
16. Supriyanto AP2BMI Sumbawa Jl. Tenggiri No. 18, komplek
Paragas Sumbawa Besar
0812 3726892
aliansi migran
samawa@yahoo.com
17. Andriyanto YLBH PIK Pontianak Jl. Aliyang No. 12A Pomtianak 0561 766439
0812 5765849
ad_yanto@yahoo.com
LAMPIRAN IV
Daftar Peserta yang terlibat dalam Pedoman Penyusunan Perda :
I. Seminar dan Lokakarya, 14 Februari 2006
zz
18. Danuhardi JKPS Ponorogo Balai Desa Krebet, Kec.
Jambon Ponorogo
0813 35706134
19. Lutf Lakpesdam Blitar Jl. Ciliwung 5/6 Blitar 0342 2801288
0816 562234
20. Sri Almainah Rico Saloke Jl. Cikini Raya No. 47
Jakarta
21. Felixon Kopbumi Jl. Bambu Kuning II/7
Jakarta Timur
021 4717201
22. Choirul Hadi SBMI Jl. Cipinang Kebemben Raya
No. 10, RT5/RW7
Jakarta
021 93856504
021 4756113
Pembicara :
23. Faebuadodo Ditjen Otoda Depdagri Jl. Merdeka Utama No.7
Jakarta
0812 9175479
24. Indra J. Piliang CSIS Jl. Tanah Abang III Np. 23-27,
Jakarta
021 3847517
0812 1013525
indrapiliang@csis.or.id
25. Tati Krisnawati Komnas Perempuan Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
26. Fasilitator :
Yos Soetiyoso
Komnas Perempuan Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
Panitia :
27. lisa NH Komnas Perempuan Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
28. Tety K Komnas Perempuan Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
29. Herman Komnas Perempuan Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
z« PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
II. FGD
FGD dilakukan di 6 wilayah yaitu Lampung, , Cirebon, Pontianak Sumbawa, Ponorogo dan
Bone. Yang terlibat adalah :
A. FGD di Lampung, 5 April 2006
1. Anggi, Direktur YLMD
2. Abu Hasan, keluarga BMI (petani)
3. Suparman, keluarga BMI (petani)
4. Mudasir, DPRD Komisi A
5. Aris Susilo, DPRD Komisi D
6. Wagimin, DPRD Komisi B Lampung Tengah
7. Nurhayati, DPRD Komisi D, Sekretaris Komisi, Muslimat NU Lampung Tengah
8. Rahman Sulaiman, DPRD Komisi B
9. Nurlia, DPRD Komisi D Lampung Tengah
10. Mega Fitri, Dinsos Tenaga Kerja Lampung Tengah
11. Anton Munawar, Dinsos Tenaga Kerja Lampung Tengah
12. Ibnu Hiban, Kepala Dinsos Tenaga Kerja Lampung Tengah
13. Yuan Wiratna, Dinsos Tenaga Tenaga Kerja
14. Ibrahim, PJS Kepala Kampung
15. Novi, Lembaga Advokasi Perempuan Damar
16. Bambang Nugroho Adi, Pendeta untuk 3 Kabupaten
17. Musrianto, keluarga BMI
18. Nurcholis, keluarga BMI (buruh tani)
19. Sunyoto, keluarga BMI (petani)
20. Jumadi, mantan BMI (petani)
21. Ihwan, PJNU Lampung Tengah
22. Murti, Lembaga Advokasi Anak, Bandar Lampung
23. Sumarni, mantan BMI di Hongkong
24. Suprapto, SBMI Lampung
25. Rudi Sugianto,LSGS
26. Sukemi, YLPMD
27. Teguh, YLPMD
28. Fatayahsin, YLPMD
29. Marlina, YLPMD
30. Yos Soetiyoso, Komnas Perempuan
31. Tety, Komnas Perempuan
A. FGD di Bone, 25 April 2006
1. Abidin, disnakertrans
2. A. Men Ala, disnakertrans
3. Bunga, BPD
ze
4. M. Idris, DPRD
5. Asia, DPRD
6. Atto, keluarga BMI
7. A. Tobba, keluarga BMI
8. Adi, keluarga BMI
9. Asiah, keluarga BMI
10. Tahir, keluarga BMI
11. Ahmad, keluarga BMI
12. Juma, keluarga BMI
13. Imran, keluarga BMI
14. Aldi, keluarga BMI
15. Ruaeda, keluarga BMI
16. Mare, keluarga BMI
17. Mali, keluarga BMI
18. Hasmawty, keluarga BMI
19. Fahirah, LSM
20. Nirwanda, LPP Bone
21. Yos Soetiyoso, Komnas Perempuan
22. Herman, Komnas Perempuan
B. FGD di Ponorogo, 1 Maret 2006
1. Soegiharto, Balitbangda Blitar
2. Muladi, Disnakertrans Blitar
3. Minarto, Disnakertrans Ponorogo
4. Didit Santosa, Disnakertrans Ponorogo
5. Makin. Lakpesdam Blitar
6. Tatok Amarudin, Lakpesdam Blitar
7. Hafaz Lutf, Lakpesdam Blitar
8. Danuhardi, JKPS Poonorogo
9. Edy, JKPS Ponorogo
10. Dian Eryanti, LSPS Yogyakarta
11. Sutrisno, LSPS Yogyakarta
12. Sariyah, mantan BMI
13. Siti Fatimah, mantan BMI
14. Fulva, keluarga BMI
15. Eny Khoiriyah, mantan BMI
16. Sunardi, keluarga BMI
17. Galuh Febriyani, mantan BMI
18. Nurharsono, mantan BMI
19. Widodo, keluarga BMI
20. Lilik, mantan BMI
21. Heru Sasongko, mantan PJTKI
ze PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
22. Sukirno, cabang PJTKI
23. Yos Soetiyoso, Komnas Perempuan
24. Herman, Komnas Perempuan
C. FGD di Sumbawa, 11 Maret 2006
1. Masyuji, TPPKK Kab. Sumbawa
2. Zaenal Muntaqine, Disnakertrans
3. Asfo, Pemda, bagian hukum
4. Mahmudin, Pemda, bagian hukum
5. Zulnaidi, Polres
6. Sutriyanto, Polres
7. Muaji, Polres
8. Abdul Aziz, Polres
9. Mustaridahkan, Satpol PP
10. Yusmi Zustia, Dinas Sosial
11. Syamsul Fikri, DPRD Komisi IV
12. Syarifudin, DPRD
13. A. Muslich, DPRD
14. Nuraidah, FORPPHAS
15. Abdul Hakik, Camat Cape
16. Nisma Abdullah, Plampang
17. Nurhidayati, Sepakat
18. Wayati, LPA
19. Darmawanty, FORPPHAS
20. Nur Atiqah, PIPP
21. Aminah Mosfan, PIPP
22. Wanjayardi, Tatebal
23. Sumiar S, Tatebal
24. Tri Budi, PLAN Indonesia
25. Syamsudin, Kelompok TKW Dete
26. Nurhinsyah, mantan BMI
27. Dewi Rohyani, AP2BMI
28. Jaya Purnawan, AP2BMI
29. Guril, AP2BMI
30. Supriyanto, AP2BMI
31. Yos Soetiyoso, Komnas Perempuan
32. Tety Kuswandari, Komnas Perempuan
D. FGD di Pontianak, 16 Maret 2006
1. Maksum Jauhari, Disnakertrans Propinsi Kalbar
2. Rosalie Kowel, Disnakertrans Propinsi Kalbar
3. Sulaiman, Disnakertrans Propinsi Kalbar

4. Katharina Lies, DPRD Prop. Kalbar
5. Reny, PPSW Borneo
6. Dani, Pekka
7. Kurniadi, Eka Dharma Indonesia
8. Laili Khairnur, Lembaga Gemawan
9. RH Farid Panji Anom, MABM Kalbar
10. Nasipah, mantan BMI
11. Pabali Musa, Muhammadiyah Kalbar
12. Rousdy Said, Muhammadiyah Kalbar
13. Tuti, LBH Apik
14. Shantie, LPS AIR
15. Hei Zahry Abdulk, MAM Kalbar
16. Maria Rosyati Ama, Majelis Adat Dayak Kalbar
17. Wiwin, mantan BMI
18. Pida, mantan BMI
19. Verry, keluarga BMI
20. Rosnawati, mantan BMI
21. Yos Soetiyoso, Komnas Perempuan
22. Herman, Komnas Perempuan
E. FGD di Cirebon, 28 Maret 2006
1. Ubaidillah, Disnaker Kab. Cianjur
2. Odi Ahmad, Disnaker Cirebon
3. Ari Nurzaman, Sosnaker Indramayu
4. HB Sya’ban Farouq, DPRD Kab. Cianjur
5. Toto Satori, DPRD Kab. Cirebon, Komisi D
6. Fahrurozi, Solidaritas Buruh Migran Cianjur (SBMC)
7. Roziqoh, Fahmina Cirebon
8. Lutfah, FKBMI Indramayu
9. Badrun, FKBMI Indramayu
10. Masrifah, FKBMI Indramayu
11. Abdul Aziz, tokoh agama Indramayu
12. Yus Macrus, FWBMI Cirebon
13. Castra Aji Sarosa, FWBMI Cirebon
14. Roheti, FWBMI Cirebon
15. Handri, FWBMI Cirebon
16. Siti Fatimah, WCC Balqis Cirebon
17. Cardi Syaukani, keluarga BMI
18. Susanti Andriyani, mantan BMI Cirebon
19. Yos Soetiyoso, Komnas Perempuan
20. Tati Krisnawati, Komnas Perempuan
21. Lisa Noor Humaidah, Komnas Perempuan
ze PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
No Nama lembaga/Institusi Alamat Telp, Fax, HP, Email
1. Fatmawati DPRD Bone, Komisi D Jl. Yos Sudarso 0481 21015
0812 4145390
2. Amin DPRD Sumbawa, Komisi D Jl. Hasanudin No. 1 0812 3763633
3. Nurhasanah DPRD Lampung
Wakil ketua
Jl. P. Sutajaya 5A Babalean, Kab.
Cirebon
0231 662072
0811 791653
4. Suharjono Disnaker Prop. Jatim Jl. Dukuh Nenanggal 12A
Surabaya
0818 294130
5. Didit Santosa Disnakertrans Kab.
Ponorogo
Jl. Budi Utomo 12 Ponorogo 0813 35900503
6. A. Ubaidillah Disnaker Kab. Cianjur Jl. Raya Bandung Km 4,5
Cianjur
0263 262464
0817 6964379
7. Alimudin Nur Disnakertrans Kab.
Sumbawa
Jl. Garuda 93, Sumbawa Besar-
NTB
0371 21729
0371 21325
0813 39815666
8. Darusy Yunus Disnakertans Kab.
Sumbawa
Jl. Garuda 93, Sumbawa Besar-
NTB
0371 21729
0371 21325
0813 39554847
9. Edy Purwantono Disnakertrans Jateng Jl. Pahlawan 16, Semarang 0815 75747755
10. Zubaidah POLRI Jl. Trunojoyo 3, Jakarta Selatan 021 7218131
11. Arifn Hutagalung Ditjen Bina Bangda
Depdagri
Jl. Taman Makam Pahlawan No.
20 Kalibata, Jaksel
021 7942648
0816 1340038
12. Rizki DephukHAM Jl. HR Rasuna Said Kav. 6-7,
Kuningan, Jakarta Selatan
021 2525023
13. Maringan Firman Dephuk HAM Jl. HR Rasuna Said Kav. 6-7,
Kuningan, Jakarta Selatan
021 2525023
14. Halasan Pardede Dephuk HAM Jl. HR Rasuna Said Kav. 6-7,
Kuningan, Jakarta Selatan
021 2525023
15. Larmaya Adji Depnakertrans Gatot Subroto 021 5229124
16. Pihri Komnas HAM
17. Enni Rochmaeni Komisi Ombudsman Jl. Adityawarma 43
Kebayoran Baru, Jakarta
021 725874-77
18. Magdalena Komnas Perlindungan
Anak Indonesia
Jl. Teuku Umar 10
Jakarta
0818 727038
19. Herlyna Divisi Reformasi Hukum
Komnas Perempuan
Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
20. Lily P. Siregar Kopbumi Region Sumut Jl. Baru VI, No. 18AA Marindal,
Medan
061 7868577
08126503611
pusbakumi@yahoo.com
21. Danuhardi JKPS Ponorogo Balai Desa Krebet, Kec. Jambon
Ponorogo
0813 35706134
22. Endang S Kopbumi Region NTB Jl. Industri No. 26A, Mataram 0818 360252
23. Castra Aji Sarosa FWBMI Cirebon Jl. P. Sutajaya 5A Babalean, Kab.
Cirebon
0231 662072
24. Prapto SBMI Lampung Jl. Soekarno Hatta No. 85, Kec.
Mulyodadi- Kota Metro Lampung
085 269137314
25. Tatok Lakpesdam Blitar Jl. Ciliwung 5/6 Blitar 0342 2801288
0816 562234
26. Ratna LPP Bone Jl. Andalas No. 31 Kabupaten
Bone
0481 21056
0813 55132536
asia_bone@yahoo.com
III. Pertemuan Nasional, 19 Desember 2006
z=
27. Mulyadi Prayitno Kopbumi Region Sulsel Jl. Lembu No. 34 Makasar 0811 441129
28. Epraim TURC 021 5708777
0812 8246123
29 Yasmine TURC 021 5708777
30. Adnan Fauzi SBM Cianjur Kampung Cibitung Rt 11/Rw 5,
Ds. Girijaya, Kec. Cibinong, Kab.
Cianjur - Cianjur Selatan
0263 2360204
0815 63214997
31. Dadang SBM Karawang Kraung Mongul VII, Tegal Sawah-
Karawang
0267 573426
32. Lukman Syahru LBH Cianjur Jl. Masjid Agung No. 128 Cianjur 0817 6910695
33. Muh. Usman Kopbumi Region Jambi Perum puri Cemara Indah A2 No.
9 Jambi
0813 75221242
34. Supriyanto AP2BMI Sumbawa Jl. Tenggiri No. 18, komplek
Paragas Sumbawa Besar
0812 3726892
aliansi migran samawa@
yahoo.com
35. Andriyanto YLBH PIK Pontianak Jl. Aliyang No. 12A Pomtianak 0561 766439
0812 5765849
ad_yanto@yahoo.com
36. Tatik faricha Kopbumi Region Jatim Jl. Tales V/16 Surabaya 0813 30741579
37. Ratna Kopbumi Region Jateng Jl. Diponegoro 98, Salatiag 0815 7762868
38. Sukemi YLMD Lampung Jl. Merica No. 215A Iringmulyo,
kota Metro Lampung
0725 42756
0815 4063284
sukemi_lpg@plasa.com
ylmd_lampung@plasa.com
39. Hefriyadi Kopbumi Region Sumsel 0812 7842230
40. Thaufek Solidaritas Perempuan Jl. Jati Padang Raya, Gang Wahid
No. 64, Jakarta Selatan
021 7826008
021 7802529
41. Gandhi Convention Watch Salemba 4 Jakarta 021 3924392
021 7800702
42. Achie Luhulima Convention Watch Salemba 4, Jakarta 021 3924392
43. Endang Larasati GPPBM Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
44. Khalilah GPPBM Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
45. Pudja Pramono GPPBM Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
Pembicara :
46. Yos Soetiyoso Komnas Perempuan Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
47. Adhi santika Dephuk HAM Jl. HR Rasuna Said Kav. 6-7,
Kuningan, Jakarta Selatan
021 2525023
0816 789034
afhr@yahoo.com
48. Riwanto LIPI Widya Graha LIPI lt IV&V
Jl.Jend. Gatot Subroto 10
Jakarta Selatan
021 5265711
021 5262199
0815 11397280
49. Savitri Ecosoc Rights Jl. Tebet Timur Dalam VIC/17 0816 889409
Fasilitator :
50. Tati Krisnawati Komnas Perempuan Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
Panitia :
51. Tety Kuswandari Divisi PKRD
Komnas Perempuan
Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
52. Carolina Komnas Perempuan Jl. Latuharhari 4B
Jakarta Pusat
021 3903963
021 3903922
«c PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH
TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA
BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER
KATA PENUTUP
P
uji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena perkenan-Nya, buku pedoman ini
dapat diselesaikan dan menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada penyumbang pemikiran dari berbagai elemen dari Pemerintah Pusat dan
Daerah, DPRD, LSM dan organisasi pemerhati buruh migran di 8 wilayah yaitu di
DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan NTB
untuk menyempurnakan pedoman menyusun Perda yang berperspektif HAM dan Keadilan
Jender (daftar nama terlampir).
Merespon kebutuhan di daerah berdasarkan hasil dari seminar nasional, FGD dan
pertemuan nasional yang dilakukan selama kurun waktu 1 tahun, diperlukan pedoman
menyusun Perda berperspektif HAM dan keadilan jender. Proses penyusunan pedoman ini
mengalami kesulitan mengekstraksikan mozaik aspirasi yang begitu banyak muncul dari
proses diskusi di daerah-daerah karena berupaya berupaya semaksimal mungkin, bagaimana
agar keseluruhan aspirasi bisa terserap.
Dengan adanya UU No. 29/1999 tentang otonomi daerah yang telah direvisi dengan
UU No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan peluang sekaligus menjawab
tantangan bagi Pemerintah Daerah untuk melahirkan Perda bagi perlindungan buruh migran
yang mempunyai perspektif HAM dan keadilan jender. Untuk menjamin penghormatan dan
penegakan prinsip-prinsip HAM dan keadilan jender, harus dijabarkan sebagai ketentuan di
dalam pasal-pasal Perda. Baik yang bersifat mengharuskan maupun yang bersifat larangan
kaitannya dengan hal diatas, dituangkan secara rinci disertai dengan sanksi-sanksi terhadap
pelanggarannya. Di dalam pedoman ini telah diurai sebagaimana yang diperlukan untuk
mengantisipasi kasus-kasus buruh migran dari pra pemberangkatan, masa kerja dan purna
kerja yang terjadi.
Namun demikian, Perda bukanlah suatu tongkat sihir yang dapat menyelesaikan
masalah-masalah yang dihadapi buruh migran. Perda mempunyai keterbatasan di dalam
dirinya sendiri seperti : yurisdiksi berlakunya perda; kerjasama bilateral adalah wilayah
kekuasaan Pemerintah Pusat bukan Daerah; dan UU 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja ke Luar Negeri mempunyai kekuatan diatas Perda padahal UU
ini tidak secara jelas mengatur kewenangan Pemerintah Daerah dalam urusan penempatan
buruh migran ke luar negeri dan dalam mengatur penyelesaian masalah buruh migran.
Melihat hal tersebut diatas, keterbatasan Perda bukan alasan untuk tidak menyediakan
peraturan di tingkat daerah. Perda perlindungan buruh migran sangat dibutuhkan untuk
memastikan buruh migran mempunyai payung hukum sejak dari daerah asalnya.

PANDUAN

MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER

Komnas Perempuan
Desember 2006

Panduan Menyusun Peraturan Daerah tentang Perlindungan Buruh Migran Indonesia Berperspektif Hak Asasi Manusia dan Keadilan Jender
Diterbitkan oleh Komnas Perempuan Tim Penulis: Lisa Noor Humaidah Tati Krisnawaty Tety Kuswandari Yos Setioso Disain & Tata Letak: Agus Wiyono Diterbitkan atas dukungan dana dari Ford Foundation ISBN 978-979-26-7506-1 

PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER

................. Kerangka Tehnis Penyusunan Perda ....................................... 39/2004 ...... Fokus dan Beberapa Pengertian ..................................... 11 a..................................3...............................................2......................................................................................... 16 III..........1..........................................................1.................................................... 10 II........................................... Latar Belakang Masalah .................................................... 15 Tabel 4: Prinsip Perda dan Indikator Pemenuhan ....................... 21 III........................... Acuan Perda untuk Perlindungan Buruh Migran . 12 Tabel 2: Bagan Pemilahan Wewenang Pemerintah Pusat dan Daerah Berdasarkan UU No............................................................................................................................. 26 Daftar Tabel Tabel 1: Persoalan Buruh Migran di Daerah Asal ................ 11 b.............. 18 III........................................................................................ 14 Tabel 3: Peluang Pembagian Urusan Penempatan dan Perlindungan di tingkat Daerah ................5 I.............4 Pengantar ... 18 III.... 22 Lampiran-lampiran ..............3 Daftar Singkatan .................2.................................................................................... Persoalan Buruh Migran di Daerah Asal ....................3.............................................................. 19 III............DAFTAR ISI : Daftar Isi ......... Tahapan dan Metode Penyusunan Buku Panduan ........... Peraturan Daerah untuk Perlindungan Buruh Migran ......................................................... Peluang Daerah Mengatur Masalah Migrasi Buruh ke Luar Negeri ...............6 I.....................................................................3 Daftar Tabel ................................................................2.................................................... 12 c...................................... Mengisi Peluang dan Menjawab Tantangan Otonomi Daerah untuk Perlindungan Buruh Migran ................................. Langkah dan Panduan Umum Penyusunan Perda Buruh Migran ..7 I............................................................................................................................................ 10 II....................................... Landasan Konseptual Otonomi Daerah ..............1.6 I.................................................... Prinsip-prinsip Perlindungan Buruh Migran dalam Perda ................................. Pendahuluan ...............................................................................................................................................4.................8 II... Landasan Umum ........................... 21  ................................................ Tantangan berkaitan dengan Keterbatasan Perda ..............................................

Daftar Singkatan BMI BMP Depnakertrans Disnakertrans HAM Pemkab Pemkot Perda PJTKI PPTKIS Raperda TKI : Buruh Migran Indonesia : Buruh Migran Perempuan : Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi : Hak Asasi Manusia : Pemerintah Kabupaten : Pemerintah Kota : Peraturan Daerah : Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia : Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta : Rancangan Peraturan Daerah : Tenaga Kerja Indonesia  PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER .

Hal ini dengan tujuan utama untuk menciptakan kesejahteraan di tingkat daerah serta mengoptimalkan proses partisipasi dan keterlibatan masyarakat secara luas khususnya keluarga dan mantan buruh migran. Hal ini dengan kenyataan bahwa beberapa peraturan daerah tentang buruh migran yang telah dikaji belum mengintegrasikan prinsip-prinsip HAM dan keadilan jender mengingat sebagian besar buruh migran Indonesia adalah perempuan. organisasi perempuan dan buruh migran. pemerintah daerah. Buku panduan ini disusun melalui forum bersama dengan pemangku kepentingan yang terdiri dari pemerintah pusat. Berbagai pengalaman maupun harapan dari berbagai pihak terutama di daerah untuk mewujudkan sebuah peraturan dan landasan coba disajikan dalam buku panduan ini. Buku panduan yang ada di hadapan Anda ini merupakan salah satu upaya Komnas Perempuan untuk memberi landasan atas penyusunan peraturan daerah yang berperspektif HAM dan keadilan jender. Semoga bermanfaat. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi kewenangan yang otonom bagi daerah untuk mengatur pemerintahannya sendiri. mantan dan keluarga buruh migran. UU No. Desember 2006 Komnas Perempuan  .PENGANTAR B erbagai persoalan yang dihadapi oleh buruh migran Indonesia perlu disikapi dengan melakukan berbagai upaya mekanisme penyelesaian salah satunya dengan peraturan daerah.

Cianjur. Perbaikan tersebut dapat diupayakan melalui Peraturan Daerah (Perda). kepastian atas standar upah. Peluang diterapkannya Peraturan Daerah juga mengingat bahwa perangkat perlindungan hukum di tingkat nasional masih jauh dari harapan. Bone dan Blitar) menunjukkan bahwa semangat pembentukan Perda belum memberikan porsi pada perlindungan HAM buruh migran. saat bekerja. dan Jawa Timur). hak terbebas dari diskriminasi melalui penyelesaian masalah dan penanganan korban khususnya bagi kelompok yang rentan mengalami kekerasan seperti perempuan. maupun saat kembali dari tempat kerjanya. Undang-Undang Republik Indonesia No 29 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang kemudian diperbaharui dengan Undang-Undang Otonomi Daerah No. Studi Komnas Perempuan beserta mitra-mitranya1 terhadap 4 Peraturan Daerah (Karawang. HAM buruh migran yang dimaksud diantaranya seperti hak atas informasi yang jelas dan benar. serta 3 Rancangan Peraturan Daerah (Pontianak. Harapan ini terutama dirasakan oleh buruh migran dan anggota keluarganya yang selama ini menghadapi berbagai masalah baik ketika akan berangkat ke luar negeri. begitu juga (3) jika terjadi permasalahan pada buruh migran maka pihak yang langsung ikut menanggung masalah tersebut adalah keluarga buruh migran bahkan perangkat pemerintahan di daerah tersebut. (2) masalahmasalah dalam persiapan keberangkatan berasal dari daerah asal buruh migran. bahkan salah satu diantaranya lebih banyak mengatur soal retribusi. 32 tahun 2004 memberikan satu harapan baru tentang dimungkinkannya daerah-daerah melakukan perbaikan sistem perlindungan dan penempatan buruh migran dimulai dari asalnya. Latar Belakang Masalah Adanya sistem yang mampu memberi perlindungan bagi buruh migran Indonesia merupakan hal yang diharapkan oleh banyak pihak.1. Dari peraturan tingkat menteri -yang dikeluarkan sebagai perangkat nasional khusus untuk buruh migran yang pertama 1 Daftar nama mitra-mitra Komnas Perempuan yang terlibat dalam studi ini dapat dilihat dalam lampiran  PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . Perda sangat berpeluang untuk memberikan perlindungan kepada warganya yang bermigrasi dengan sejumlah asumsi diantaranya adalah: (1) daerah lebih mengetahui keadaan dan kebutuhan dasar warga mereka yang menjadi buruh migran termasuk anggota keluarganya.I Pendahuluan I. Sumbawa.

organisasi buruh migran. Tahapan dan Metode Penyusunan Buku Panduan Penyusunan Panduan perda ini melalui beberapa tahapan. Kalimantan Barat. I. (2) memastikan mekanisme untuk mencapai keadilan termasuk prinsip tidak ada impunitas bagi pelaku pelanggaran serta kejelasan sangsi. FGD dilakukan untuk mendapatkan masukanmasukan tentang masalah-masalah serta peraturan daerah yang memberikan jaminan hak-hak asasi buruh migran terpenuhi. Pontianak. c. konsisten. kemudian diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para pemangku kepentingan di daerah yang terdiri dari unsur pemerintah daerah.  . 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri hanya menitikberatkan pada perspektif pengerahan tenaga kerja. 3 Provinsi dan 1 di tingkat Provinsi serta 3 Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) di 3 Kabupaten. Jika substansi dan materi yang disediakan jelas dan memberi landasan. Hal ini mengingat jumlah buruh migran Indonesia yang bekerja berdasarkan data Depnakertrans 80% nya adalah perempuan. instansi pemerintah daerah. Analisis yang disusun kemudian dikonfirmasikan dan dikonsultasikan melalui workshop di Jakarta dengan mengundang pemangku kepentingan terkait yaitu dari unsur instansi pemerintah pusat. dan transparan. Beberapa elemen penting untuk pemenuhan HAM buruh migran terlewatkan terutama yang paling terasa adalah perhatian untuk perempuan buruh migran. Sumbawa. Analisa dilakukan untuk menangkap prinsip mendasar dari isi Perda dan Raperda. yaitu: (1) menyediakan standar. yaitu : a.pada tahun 19702 hingga hadirnya Undang-Undang No. Nusa Tenggara Barat.2. 2 Provinsi. Dari workshop yang dilakukan tersebut. 2 Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. DPRD. mantan dan keluarga buruh migran. organisasi perempuan baik di Jakarta maupun di tingkat daerah asal buruh migran. FGD diselenggarakan di 6 wilayah yaitu Bone. organisasi pendamping. Sulawesi Selatan. dan (3) adanya kepastian serta kewibawaan hukum yang berlaku untuk semua. 4 tahun 1970 tentang Pengerahan Tenaga Kerja. Analisis terhadap 4 Perda di 3 Kabupaten. maka peluang jaminan atas terpenuhinya hak-hak mendasar seorang warga menjadi jelas. b. Lampung. Banyak kerentanan yang dialami disamping mereka mengisi wilayah kerja informal yang sering tidak mendapatkan pengakuan. Buku ini mencoba menyajikan Panduan dan masukan untuk penyusunan peraturan daerah yang menyediakan berbagai perangkat untuk perlindungan HAM buruh migran. Salah satu elemen penting dari produk hukum adalah substansi dan materi yang ada di dalamnya. Untuk itu. sudah saatnya segera memiliki sistem perlindungan buruh migran yang memadai di tingkat daerah yang mencakup fungsi-fungsi utama dari sistem perlindungan. organisasi buruh migran.

hak untuk tidak diperbudak. Keadilan diupayakan melalui langkah-langkah untuk meminimalisir terjadinya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. yang berakibat atau bertujuan untuk mengurangi atau  PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . hak beragama. pikiran dan hati nurani. 39 tahun 1999 pasal 1 menjelaskan bahwa: Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati. tim Komnas Perempuan menyusun panduan Perda perlindungan buruh migran berperspektif HAM dan berkeadilan gender. Pada pasal 4 berikutnya disebutkan bentuk hak mendasar manusia tersebut. Adapun yang dimaksud dengan 2 hal tersebut adalah : 1. Perspektif HAM adalah pemahaman yang mengadopsi prinsip-prinsip perlindungan dan penghargaan pada hak mendasar manusia. Keadilan jender adalah segala bentuk upaya. Jawa Timur. I. Selain metode penggalian data dan informasi melalui FGD dan workshop. Draft panduan ini dikonfirmasikan kembali melalui workshop di Jakarta dengan mengundang berbagai pihak yang terlibat di wilayah serta beberapa pemangku kepentingan di Jakarta yang terdiri dari instansi pemerintah terkait. Setelah FGD dilakukan di beberapa wilayah tersebut. dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Jawa Barat.3. d. organisasi perempuan dan buruh migran. 2. pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin. hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum. 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi tentang Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan menjelaskan bahwa : “diskriminasi terhadap perempuan” berarti perbedaan. hukum dan Pemerintah.Cirebon. dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara. pengalaman memiliki peraturan daerah untuk buruh migran. hak untuk tidak disiksa. hak kebebasan pribadi. dan Ponorogo. UU No. Pemilihan wilayah berdasarkan asumsi tentang: 1) 2) 3) letak geografis dan kekhasan wilayah. proses untuk memberikan keadilan bagi lakilaki dan perempuan. Berdasarkan UU No. dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak hak manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan keadaan apapun dan oleh siapapun. Fokus dan Beberapa Pengertian Fokus dari buku panduan Perda ini adalah bagaimana membangun dan menyusun Perda yang perspektif HAM dan keadilan jender. penyusunan buku panduan ini juga menggunakan metode studi pustaka serta pendalaman literatur berkaitan dengan hak-hak asasi buruh migran dan hak asasi perempuan. yaitu : Hak untuk hidup. potensi daerah sehubungan dengan pengelolaan penempatan dan perlindungan buruh migran.

dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.menghapuskan pengakuan. 32/2004 pasal 1 dan UU No.3 2. terlepas dari status perkawinan mereka. penikmatan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasankebebasan pokok di bidang politik. Peggunaan kata ‘buruh’ dimaksudkan untuk menekankan pada posisi tawar pihak yang dalam status tersebut sedangkan TKI lebih umum digunakan oleh pemerintah. Buku Panduan ini akan menggunakan istilah buruh migran Indonesia (BMI) dan tenaga kerja indonesia (TKI) untuk menunjukan setiap warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. sipil atau apapun lainnya oleh kaum perempuan. ekonomi. atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan Adapun beberapa pengertian lain yang penting dalam buku Panduan ini adalah sebagai berikut : 1. sosial budaya. Peraturan Daerah dalam buku ini adalah peraturan daerah provinsi dan/atau peraturan daerah kabupaten/kota yang seluruh materi muatannya dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. 10/2004 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundangundangan pasal 12  . 3 lihat UU No.

anggapan bahwa pemerintah lebih tahu kebutuhan masyarakatnya akan bergeser kepada masyarakat lebih mengetahui kebutuhan. Pertahanan. Moneter dan Fiskal Nasional. Dalam rangka mewujudkan aspirasi. Berbagai urusan Pemerintahan tersebut karena menyangkut kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan maka harus tetap ditangani oleh Pemerintah. Landasan Konseptual Otonomi Daerah Penyelenggaraan Otonomi Daerah menganut dua nilai dasar yaitu nilai kesatuan dan nilai otonomi. berdasarkan UUD 1945 keseimbangan antara kebutuhan untuk menyelenggarakan desentralisasi dan kebutuhan memperkuat persatuan nasional harus selalu diperhatikan. aspirasi dan kepentingannya. apakah UU ini dapat menjadi ruang untuk merealisasikan tindakan kongkrit perlindungan buruh migran di tempat mereka berasal? II. dan agama. Persebaran urusan pemerintahan di Indonesia mempunyai dua prinsip utama yaitu (1) selalu terdapat urusan Pemerintahan yang secara absolut dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat (sentralisasi). Otonomi daerah juga membawa suasana baru dalam hubungan antara pusat dan daerah. Yustisi. Bagian-bagian urusan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah hanya 10 PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . Hal ini berarti besar dan luasnya daerah otonom serta hubungan kekuasaan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dibatasi. Dengan kata lain. Dengan kebijakan otonomi daerah. pertanyaannya kemudian. Desentralisasi merupakan instrumen untuk mencapai tujuan bernegara dalam kerangka kesatuan bangsa yang demokratis. Masyarakat di daerah yang selama ini lebih banyak dalam posisi dimarginalkan maka selanjutnya diberikan kesempatan untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan terhadap hak-hak.1. Hal ini sesuai dengan amanat UUD 45 bahwa negara Indonesia adalah “eenheidstaat”. aspirasi dan kepentingannya. kebutuhan dan kepentingan masyarakat daerah. (2) Tidak ada urusan Pemerintahan yang sepenuhnya dapat diserahkan kepada Daerah. Hal ini mencakup Politik Luar Negeri. sehingga di dalam lingkungannya tidak dimungkinkan adanya daerah yang juga bersifat “staat”. Melalui kebijakan otonomi daerah diharapkan dapat ditingkatkan demokratisasi di tengah masyarakat. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah membawa angin dan optimisme baru bagi daerah dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. 29/1999 yang telah direvisi dengan UU No.II MENGISI PELUANG DAN MENJAWAB TANTANGAN OTONOMI DAERAH UNTUK PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN Kebijakan otonomi daerah berdasarkan UU No.

monev. karakteristik. Maka.yang menyangkut kepentingan masyarakat setempat. dan (c) Kabupaten/Kota berwenang mengatur dan mengurus urusan-urusan pemerintahan dengan eksternalitas lokal (dalam satu kabupaten/kota). perdagangan. supervisi.d pasal 18 tentang pembagian Urusan Pemerintahan bahwa kata kewenangan yang dahulu dipakai dalam Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 sekarang digunakan kata urusan. perhubungan. pekerjaan umum. Secara umum. pendidikan. pariwisata. tanggap. Peluang Daerah Mengatur Masalah Migrasi Buruh ke Luar Negeri a. (b) Provinsi berwenang mengatur dan mengurus urusanurusan pemerintahan dengan eksternalitas regional (lintas kabupaten/kota). dan urusan-urusan pemerintahan dengan eksternalitas nasional. industri. terpetakan berbagai persoalan buruh migran yang dirasakan efeknya secara langsung oleh daerah. Urusan pilihan terkait dengan upaya penciptaan daya saing daerah dalam menangani sektor unggulan sesuai dengan potensi. Hal tersebut sebagaimana tergambar berikut ini : 11 . akuntabel. kekhasan dari masing-masing daerah dalam upaya peningkatan perekonomian daerah seperi pertanian. kelautan. Seperangkat peraturan dan kebijakan tersebut disusun disamping mengatur kehidupan masyarakat juga sebagai landasan dan memberi jaminan atas dipenuhinya hak-hak mendasar mereka salah satunya untuk mencari penghidupan yang layak bagi kemanusiaan dengan cara migrasi. ada bagian-bagian yang diselenggarakan oleh Propinsi. efektif dan efisien. serta taat pada aturan hukum. landasan otonomi daerah secara singkat mengarah pada terwujudnya pemerintahan yang baik. II. Berdasarkan Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah Bab III pasal 10 s. Persoalan Buruh Migran di Daerah Asal Salah satu hal yang mendorong adanya sebuah peraturan adalah adanya persoalan yang terjadi. berorientasi pada kesepakatan. Tata pemerintahan yang baik diwujudkan salah satunya melalui seperangkat peraturan. Dari penjelasan di atas.2. pengawasan. kehutanan. standar. lingkungan hidup. adil dan terbuka. ada bagianbagian dari urusan Pemerintahan tertentu yang dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota. transparan. Urusan pemerintahan yang diserahkan meliputi urusan wajib dan urusan pilihan. bersifat lokalitas. tata pemerintahan yang baik tersebut meliputi dan dicirikan dengan aspek : partisipasif. faslitasi. Pembagian urusan ini antara lain: (a) Pusat berwenang membuat norma-norma. dan sebagainya. Berdasarkan hasil rangkuman FGD di 6 wilayah asal buruh migran. Urusan wajib terkait dengan pelayanan dasar seperti kesehatan. prosedur. kependudukan termasuk varian pemberdayaan perempuan yang ditetapkan berdasarkan standar pelayanan minimal. dan ada juga yang diselenggarakan oleh Pemerintah.

• pemerintah daerah tidak ada sumber daya untuk menfasilitasi maupun memproses persoalan yang terjadi. Pemrosesan masalah-masalah yang dialami oleh mantan buruh migran • kesulitan melakukan proses hukum atas kekerasan yang dialami oleh perempuan mantan buruh migran karena wilayah yurisdiksi yang berbeda. istri. • keluarga dan anak-anak terpisah dari orang tuanya terutama ibu. Masalah-masalah sosial lain • daerah kehilangan tenaga-tenaga kerja muda potensial terutama untuk wilayah yang bergantung pada hasil pertanian. Peraturan Daerah untuk Perlindungan Buruh Migran UU No 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah menyatakan bahwa masalah pelayanan ketenagakerjaan berskala kabupaten/kota merupakan salah satu dari urusan wajib yang PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER 1 . • pengelolaan hasil dari bekerja ke luar negeri yang belum dikelola secara efektif. 4. tentu saja ada banyak manfaat migrasi yang dirasakan terutama oleh wilayah asal buruh migran. Di samping persoalan-persoalan yang terjadi. 2. Sistem pengelolaan yang disediakan oleh pemerintah daerah • tidak cukupnya aparat dinas tenaga kerja dan transmigrasi (disnakertrans) untuk menjangkau daerah-daerah terpencil asal buruh migran untuk melakukan sosialisasi hak-hak buruh migran. Perekrutan • dilakukan oleh calo/sponsor dan langsung di bawa ke Jakarta sehingga tidak terdata di Kabupaten.Tabel 1 Persoalan Buruh Migran di Daerah Asal Pra penempatan 1. Purna Penempatan 1. • mahalnya proses yang harus dikeluarkan oleh pemerintah daerah jika menghadapi persoalan yang dialami oleh mantan buruh migran. • dilakukan oleh Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja (PJTKI) yang tidak terdaftar sebagai cabang • calon buruh migran berada lebih lama di tempat penampungan dari waktu yang telah ditentukan. Beberapa diantaranya adalah menggerakkan roda ekonomi daerah asal bahkan untuk banyak sektor serta memberi solusi atas minimnya kesempatan kerja. Persoalan-persoalan yang diidentifikasi di atas sebagai titik pijak urgensi sebuah peraturan disusun. • tidak adanya perhatian untuk membangun pendataan yang baik atas warganya yang menjadi buruh migran. 2. Sosialisasi atas Informasi dan Hak-hak Asasi buruh migran • calon buruh migran tidak mendapatkan informasi tentang hak-haknya sebagai pekerja terutama dari PJTKI maupun dari disnakertrans 3. Kondisi Geografis • kondisi geografis yang berbatasan dengan negara tempat buruh migran bekerja menyebabkan kesulitan untuk melakukan pendataan. b. Sebuah peraturan yang dapat dijadikan standar untuk memperbaiki sistem penempatan dan perlindungan buruh migran Indonesia. kakak perempuan yang bekerja ke luar negeri. Selain hal-hal yang disebutkan. bagi buruh migran kesempatan kerja ke luar negeri juga merupakan ruang untuk mengadopsi pengalaman dan pengetahuan baru melalui pengalaman bekerja. • minimnya pengawasan atas perusahaan yang menempatkan dan melakukan kekerasan terhadap calon buruh migran di penampungan.

pasal 5 ayat 2 5 1 .menjadi kewenangan pemerintahan daerah kabupaten/kota4. melaksanakan dan mengawasi penyelenggaraan penempatan TKI di luar negeri (2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1). 4 Undang-Undang Republik Indonesia No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. akuntabilitas. dan efisensi. Meskipun merupakan urusan wajib. Provinsi. membina. Ketentuan ini sejalan dengan Undang-undang Republik Indonesa No 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (UU-PPTKLN) yang secara hirarki perundang-undangan merupakan peraturan tertinggi dalam pengelolaan dan perlindungan buruh migran5. maka urusan pemerintahan yang concuren dibagi antara Pemerintah. membina. Pasal 5 menyebutkan bahwa : (1) Pemerintah betugas mengatur. pasal 14 ayat 1 butir h Undang-undang Republik Indonesa No 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenga Kerja Indonesia di Luar Negeri. UU No 39 tahun 2004 tentang PPTKLN pun menegaskan bahwa pelimpahan wewenang antara Pemerintah kepada pemerintah daerah dalam mengatur. karena persoalan migrasi buruh ke luar negeri merupakan persoalan yang melampaui batas-batas atau skala kabupaten/kota. bab II: Tugas. Bab III : Pembagian Urusan Pemerintahan. Pembagian tersebut berdasarkan pada prinsip eksternalitas. dan Kewajiban Pemerintah. Pemerintah dapat melimpahkan sebagian wewenangnya dan/atau tugas perbantuan kepada pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. tanggung Jawab. melaksanakan dan mengawasi penyelenggaraan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri sifatnya tidak wajib. dan Kabupaten/Kota.

penelitian terhadap substansi perjanjian kerja serta pengesahan perjanjian kerja • Penyelenggaraan pembekalan akhir pemberangkatan (PAP) yang pelaksanaannya dapat dikonsentrasikan ke Gubernur • Penyelenggaraan program perlindungan. tanggal 14 Februari 2006. perbankan dan sarana kesehatan) • Fasiltiasi kepulangan dan pemulangan TKI secara nasional. pengawasan penemptan dan perlindungan TKI yang berasal dari wilayah provinsi yang bersangkutan • Penerbitan perijinan tempat oenampungan di wilayah provinsi • Fasilitasi kepulangan TKI di pelabuhan debarkasi di wilayah provinsi. pengendalian dan pengawasan penempatan TKI ke luar negeri • Pelaksanaan penempatan TKI oleh pemerintah • Pembuatan perjanjian/pelaksanaan kerja-sama bilateral dan multilateral dengan negara-negara penempatan TKI • Penerbitan SIPPTKIS --surat izin pelaksana penempatan TKI Swasta--/ SIUP PJTKI dan rekomendasi rekrut calon TKI serta penerbitan surat izin pengerahan (SIP) • Verifikasi dokumen TKI. penerbitan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN). Jakarta 1 PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER .Sebagai sebuah gambaran. PROVINSI • Monitoring dan evaluasi penempatan TKI ke luar negeri yang berasal dari wilayah provinsi • Fasilitasi pelaksanaan perjanjian kerja sama bilateral dan multilateral penempatan TKI yang pelaksanaannya di wilayah provinsi • Penerbitan perijinan pendirian kantor cabang di wilayah provinsi dan rekomendasi perpanjangan SIPPTKIS/PJTKI • Verifikasi dokumen TKI di wilayah provinsi • Penyebarluasan system informasi penempatan TKI dan pengawasan penyetoran dana perlindugan TKI di wilayah provinsi • Sosialisasi terhadap substansi perjanjian kerja penempatan TKI ke luar negeri di lingkup provinsi • Fasilitasi penyelenggaraan PAP • Pembinaan . pembelaan dan advokasi TKI • Penentuan standar tempat penampungan calon TKI dan Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLK-LN) • Penerapan standar dan penunjukan lembaga-lembaga yang terkait dengan program penemptan TKI (lembaga asuransi. KABUPATEN KOTA • Pelaksanaan pendaftaran dan seleksi calon TKI di wilayah kabupaten/kota • Pengawasan pelaksanaan rekrutmen calon TKI di wilayah kabupatan/kota • Fasilitasi pelaksanaan perjanjian kerjasama bilateral dan multilateral penempatan TKI yang pelaksanaannya di wilayah kabupaten/kota • Penerbitan rekomendasi ijin pendirian kantor cabang PPTKIS di wilayah kabupaten/kota • Penerbitan rekomendasi paspor TKI di wilayahnya • Penyebarluasan system informasi penempatan TKI dan pengawasan penyetoran • Sosialisasi terhadap substansi perjanjian kerja penempatan TKI ke luar negeri • Pembinaan. pengawasan dan monitoring penempatan maupun perlindungan TKI yang berasal dari kabupaten/kota yang bersangkutan • Penerbitan rekomendasi perijinan tempat penampungan di wilayah kabupaten/kota • Pelayanan kepulangan TKI yang berasal dari Kabupaten/Kota 6 Makalah Dirjen Otonomi Daerah dalam Pengelolaan Migrasi ke Luar Negeri dan Perlindugan Buruh Migran Indonesia disampaikan pada Semiloka Perda yang diselenggarakan Komnas Perempuan. berikut adalah bagan yang memilahkan kewenangan Pemerintah dalam konteks penempatan dan perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri berdasarkan UU PPTKLN6: Tabel 2 Bagan Pemilahan Wewenang Pemerintah Pusat dan Daerah Berdasarkan UU No. penerbitan rekomendasi paspor TKI yang bersifat khusus dan crash program • Penyelenggaraan system komputerisasi terpadu penem-patan TKI di luar negeri (SISKO TLN) dan pengawasan penyetoran dana perlindungan (PP 92) • Penentuan standaer perjanjian kerja. 39/2004 PEMERINTAH • Pembinaan.

Adapun peluang lain jika dibagi berdasarkan beberapa urusan dalam penempatan dan perlindungan buruh migran tergambar dalam tabel berikut ini : Tabel 3 Peluang Pembagian Urusan Penempatan dan Perlindungan di tingkat Daerah URUSAN Rekruitmen PElUANg DI TINgKAT PROPINSI • Monitoring dan evaluasi penempatan TKI yang berasal dari wilayah provinsi • Fasilitasi pelaksanaan perjanjian kerja sama yang pelaksanaannya di wilayah provinsi • Penerbitan perijinan pendirian kantor cabang di wilayah provinsi dan rekomendasi perpanjangan Surat Izin Pelaksana Penempatan TKI (SIPPTKI) / Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) Verifikasi dokumen TKI di wilayah provinsi • Penyebarluasan sistem informasi penempatan TKI dan pengawasan penyetoran dana perlindugan TKI di wilayah provinsi • Sosialisasi terhadap substansi perjanjian kerja penempatan TKI ke luar negeri di lingkup provinsi • Fasilitasi penyelenggaraan Penyelenggaraan Akhir Pemberangkatan (PAP) • Pembinaan . Di samping untuk memperjelas kebutuhan yang dapat disediakan oleh pemerintah daerah dalam penempatan dan perlindungan buruh migran juga dapat mengupayakan keterkaitan dengan urusan lain di daerah yang memiliki keterkaitan kuat dengan persoalan ketenagakerjaan. nampak bahwa peluang yang tersedia di tingkat propinsi dan kabupaten/kota dalam kerangka otonomi daerah untuk masalah buruh migran berbeda-beda tetapi juga tidak terlalu luas.Dari bagan tersebut di atas. pengawasan penemptan dan perlindungan TKI yang berasal dari wilayah provinsi yang bersangkutan • Penerbitan perijinan tempat penampungan di wilayah provinsi • Fasilitasi kepulangan TKI di pelabuhan debarkasi di wilayah provinsi PElUANg DI TINgKAT KABUPATEN • Pelaksanaan pendaftaran dan seleksi calon TKI di wilayah kabupaten/kota • Pengawasan pelaksanaan rekrutmen calon buruh migran di wilayah kabupatan/kota • Fasilitasi pelaksanaan perjanjian kerjasama yang pelaksanaannya di wilayah kabupaten/kota • Penerbitan rekomendasi ijin pendirian kantor cabang Pelaksanan penempatan TKI swasta (PPTKIS) di wilayah kabupaten/kota Kerjasama bilateral/ multilateral Penempatan TKI Sektor Swasta Administrasi/ Dokumen Perjalanan buruh migran Informasi Penerbitan rekomendasi paspor buruh migran di wilayahnya • Penyebarluasan system informasi penempatan TKI dan pengawasan penyetoran • Sosialisasi terhadap substansi perjanjian kerja penempatan TKI ke luar negeri Penempatan dan Perlindungan • Pembinaan. peluang daerah untuk menyusun peraturan daerah sangat penting untuk digunakan. 1 . pengawasan dan monitoring penempatan maupun perlindungan TKI yang berasal dari kabupaten/kota yang bersangkutan • Penerbitan rekomendasi perijinan temapt penampungan di wilayah kabupaten/kota • Pelayanan kepulangan TKI yang berasal dari Kabupaten/Kota Penampungan Kepulangan TKI Dari gambaran dan penjelasan tersebut.

terdapat tantangan-tantangan sebagaimana hasil dari FGD yang dilakukan Komnas Perempuan. Dalam hal ini juga dengan catatan tebal bahwa peraturan daerah yang akan disusun tersebut. Tantangan berkaitan dengan Keterbatasan Perda Di samping peluang daerah dalam menyediakan perangkat perlindungan untuk warganya yang menjadi buruh migran. jika kebutuhan untuk penyusunan peraturan daerah tersebut telah diputuskan. Namun demikian. keserasian. 10/2004 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundangundangan 1 PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . Maka jangkauan Perda juga terbatas. yaitu yang berkaitan dengan hal-hal berikut ini : (1) Wilayah yurisdiksi Perda adalah sebatas luas wilayah administratif daerah dimana Perda tersebut diterbitkan. dan/atau keseimbangan. Sebagaimana telah digambarkan pada tabel 2 yang ini menunjukkan bahwa dalam konteks pengaturan dan perlindungan buruh migran. sebelum dijelaskan lebih banyak di bawah. dan keselarasan. dan juga sosialisasi untuk pelaksanaan. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan kendala daerah untuk melakukan pengawasan. keadilan. ketertiban dan kepastian hukum. Hal ini terjadi seiring seringnya perubahan kebijakan dimana kebijakan sebelumnya belum dijalankan.Hal ini sebagaimana diatur dan dimandatkan dalam UU No. (2) Terdapat kekecualian-kekecualian peraturan di tingkat pusat. Sebagai contoh masalah pembuatan Paspor untuk calon buruh migran ke Timur Tengah masih dipusatkan di Jakarta.7 c. 7 Sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UU No. 10/2004 ttg Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Pasal 12 yang menyebutkan bahwa Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. pemerintah telah melakukan inisiatif untuk melibatkan dan mengefektifkan peran daerah. sementara paspor untuk ke negara tujuan lainnya dapat dibuat di daerah. Pasal 5 ayat (2) UU No 39/ 2004 tentang PPTKLN sedikit mengatur distribusi wewenang Pemerintah (pusat) kepada Pemerintah (daerah). Untuk itulah peraturan daerah menjadi penting dalam kerangka untuk memberi landasan yang nyata dalam upaya-upaya menyediakan perlindungan bagi buruh migran di daerah asalnya. (3) Inkonsistensi peraturan pemerintah. Keterbatasan tersebut harus dimanfaatkan secara optimal dalam kaitan dengan fungsi pengawasan pemerintah daerah dalam penerapan peraturan yang telah disusun. Dalam konteks perda hal ini memakan waktu tersendiri untuk penyesuaian. dengan berpegang dan mengandung asas diantaranya untuk kemanusiaan. terdapat tantangan terutama pada keterbatasan daerah dalam mengatur perlindungan dan penempatan buruh migran.

(5) Menerjemahkan prinsip-prinsip perlindungan HAM dan Keadilan Jender dalam sebuah peraturan daerah. 1 .(4) Alokasi Dana dari Pemerintah Daerah untuk penyusunan Peraturan Daerah untuk perlindungan buruh migran tidak menjadi prioritas dalam rencana pembangunan daerah. antara lain Perda. Hal ini juga seiring dengan belum tersedianya panduan untuk menurunkan peraturan berkaitan dengan HAM dan Kesetaraan/Keadilan Jender ke dalam peraturan yang lebih rendah.

terdapat landasan umum dan prinsip-prinsip perlindungan buruh migran yang penting dimasukkan. Berikut pula secara substansi tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di atasnya sebagaimana diatur dalam pasal 145 UU No. keadilan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 10 tahun 2004 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan juga pasal pasal 137 UU No. Pembentukan Perda harus memperhitungkan efektifitas di dalam masyarakat.1. keseimbangan. i. dapat dilaksanakan. Perda dapat memuat asas lain sesuai dengan substansi Perda yang bersangkutan. Dalam Pembentukan Peraturan Daerah harus benarbenar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan Perundang-undangannya. c.III Langkah dan Panduan Umum Penyusunan Perda Buruh Migran D alam penyusunan Perda. Landasan Umum Perundang-undangan kita khususnya Pasal 5 UU No. kesesuaian antara jenis dan materi muatan. dan keselarasan. akan batal demi hukum jika tidak disusun oleh pejabat yang berwenang di daerah. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjelaskan bahwa : (1) Materi muatan Perda mengandung asas: a. b. c. kebangsaan. b. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. III. kenusantaraan. ketertiban dan kepastian hukum. h. Perda yang disusun harus dibuat oleh lembaga/pejabat yang berwenang. baik secara Pasal 138 UU No. bhineka tunggal ika. d. keserasian. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi landasan penyusunan peraturan daerah yang harus meliputi : a. g. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. kekeluargaan. pengayoman. d. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat. f. Begitupun dalam penyusunannya. kejelasan tujuan Perda yang disusun harus memiliki tujuan yang jelas yang hendak dicapai. e. kemanusiaan. 1 PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . terdapat tahapan-tahapan yang penting untuk dipenuhi untuk membuat perda tersebut kredibel dan dapat dijadikan acuan untuk menyediakan elemen perlindungan bagi buruh migran. dan/atau j.

yuridis maupun sosiologis. kedayagunaan dan kehasilgunaan Perda yang dibuat tersebut memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Prinsip-prinsip Perlindungan Buruh Migran dalam Perda Dari serangkaian proses yang dilakukan oleh Komnas Perempuan menyepakati bahwa sebuah peraturan daerah hendaknya menganut dan mengadopsi prinsip-prinsip penegakan HAM dan keadilan jender. kelahiran dan Kekerasan terhadap perempuan kewarganegaraannya. termasuk ancaman perbuatan tertentu. agama atau kepercayaan. baik yang terjadi di depan umum maupun kehidupan pribadi. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. g. seksual. f. Proses tersebut juga menyepakati bahwa untuk menjalankan dan melaksanakan seluruh prinsip dalam Perda tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. ras. Perda juga diharapkan memberi perhatian khusus tentang kekerasan terhadap perempuan juga penanganan terhadap para perempuan korban kekerasan. Apa saja prinsip-prinsip perlindungan buruh migran dalam Perda? (1) Anti Diskriminasi Merupakan elemen-elemen penghormatan dan pemenuhan atas seluruh hak buruh migran berlaku tanpa diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. keterbukaan dan akuntabilitas Proses pembentukan Perda mulai dari perencanaan. Serta tak kalah penting dalam hal ini kesiapan aparat dan infrastruktur dalam menjalankan peraturan tersebut. status perkawinan. warna kulit.filosofis. adalah setiap perbuatan berdasarkan (2) Keadilan Gender dan Anti Kekerasan terhadap Perempuan Mendorong upaya memberik an keadilan dengan memperhitungkan dan menghargai perbedaan dalam peran sosial budaya. penyusunan. kesempatan. pendapat poilitk. suku. e. Rumusan Perda juga harus konsisten dan mengacu pada konstitusi dan perundangan-perundangan yang telah tersedia. Pelibatan ini wajib mempertimbangkan komposisi pihak-pihak yang terkait dengan persoalan buruh migran terutama keluarga. perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. hambatan dan kerentanan antara perempuan dan laki-laki. pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang. 1992) 1 . dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka dengan memberi ruang partisipasi masyarakat. menjawab kebutuhan serta sebagai landasan untuk penyelesaian masalah. III. bahasa. kejelasan rumusan Perda harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan. mantan dan perempuan buruh migran.2. (Pasal 1 Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan. kebutuhan. asal-usul etnis. atau psikologis. persiapan. usia.

Hal ini juga dengan pertimbangan bahwa antara daerah satu dengan daerah yang lain memiliki karakter yang berbeda dimana akan berbeda dalam pengelolaan buruh migran. (5) Imparsialitas dan Kesamaan Kedudukan di Muka Hukum dan Pemerintahan Sebagai kelompok miskin dan marginal buruh migran sering tidak mudah mengakses penegakan keadilan. Kemudahan akses ini terutama berkaitan dengan program-program pemberdayaan dengan Pembahasan tentang Prinsip perlindungan buruh migran ini juga menggarisbawahi bahwa persoalan migrasi memiliki keterkaitan dengan persoalan lain di daerah. Adapun sebagai gambaran prinsip-prinsip Perda dengan beberapa contoh indikator pemenuhannya adalah digambarkan melalui tabel 4 berikut ini : 8 sanksi-sanksi dan ketentuan pidana yang memungkinkan diatur pada Perda sebagaimana telah diatur pada peraturan perundang-undangan di atasnya lebih detil tentang prinsip-prinsip perlindungan dan pemenuhannya dapat melihat lampiran II (halaman 27) pada buku Panduan ini. (4) Aksesibilitas terhadap Informasi dan Layanan Perda menjamin kemudahan akses dan layanan untuk para calon buruh migran untuk mendapatkan informasi maupun penjelasan terutama tentang hak-hak asasi buruh migran. 9 0 PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . Untuk itu. misalnya daerah perbatasan akan memiliki kebutuhan dan pendekatan berbeda dengan daerah perbatasan9. Perda juga diharapkan menyediakan kejelasan upaya penegakan hukum salah satunya dengan penerapan sanksi8. dst. penting mensinergikan dengan persoalan lain yang dibangun di daerah. (6) Pertimbangan tentang Kekhasan Daerah Perda hendaknya mempertimbangkan kekhasan serta kebutuhan yang spesifik atas adanya sebuah peraturan. Perda diharapkan memberikan jaminan untuk meminimalisir terjadinya perdagangan manusia pada proses migrasi misalnya dengan menyediakan elemen sanksi yang dapat dilaksanakan dan menjadi porsi daerah.(3) Anti Perdagangan Manusia Kerentanan buruh migran atas terjadinya praktek perdagangan manusia sangat besar terjadi. Untuk itu setiap buruh migran mempunyai hak atas perlakuan sama di depan hukum pada semua tingkatan. misalnya migrasi sangat erat kaitannya dengan persoalan kependudukan dan pengembangan ekonomi di daerah. Untuk itu. Kemudahan akses ini terutama berkaitan dengan program-program pemberdayaan buruh migran. Perda juga menjunjung tinggi prinsip imparsialitas (tidak berpihak) pada salah satu pihak dengan mengacu pada perundang-undangan di atasnya.

UU No. 3. 29 tentang Kerja Paksa. Adanya materi yang jelas menyebutkan kebutuhan spesifik dengan kekhasan daerah tersebut. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. 4. Adanya proses penempatan yang mudah dan transparan Adanya kewajiban pemerintah daerah untuk memberikan hakhak mendasar buruh migran. Acuan tersebut diantaranya yaitu : 1. Adanya poin yang spesifik menyediakan tentang kebutuhan daerah atas perlindungan buruh migran. 1 . Adanya sanksi yang jelas atas tidak dipatuhinya peraturan dengan mengacu perundang-undangan di atasnya. Adanya mekanisme untuk memproses persoalan hukum yang dihadapi. 5. Sosial dan Budaya. 12 tahun 2005 tentang Pengesahan Konvenan tentang Hak-hak Sipil dan Politik. Acuan Perda untuk Perlindungan Buruh Migran Penyusunan Perda hendaknya dapat mengacu pada instrumen hukum di tingkat nasioanl maupun instrumen HAM Internasional yang telah diadopsi dalam sistem hukum nasional.3. Adanya jaminan hak informasi atas hak reproduksi bagi perempuan. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Adanya sistem pendataan yang akurat dan akuntabel dengan menfungsikan seluruh perangkat pemerintahan daerah dari provinsi sampai desa. 11 tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi. UU No. Undang-Undang Dasar 1945. Konvensi No. Adanya mekanisme untuk penanganan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Adanya pasal yang menegaskan anti kekerasan terhadap perempuan dan menjunjung keadilan gender. Keadilan Gender dan Anti Kekerasan terhadap Perempuan Aksesibilitas terhadap Informasi dan Layanan Imparsialitas dan Kesamaan Kedudukan di Muka Hukum dan Pemerintahan • • • • Pertimbangan tentang Kekhasan dan Kebutuhan Daerah • • III. serta. Adanya pasal yang memberikan keleluasaan pada siapa pun untuk bermigrasi. UU No. 1. diantaranya yaitu. 2. UU No. beberapa Konvensi ILO yang telah disahkan oleh Indonesia.Tabel 4 Prinsip Perda dan Indikator Pemenuhan Prinsip Anti Diskriminasi Indikator Pemenuhan (beberapa contoh) • • • • • Anti Perdagangan Manusia • Adanya pasal yang menegaskan anti diskriminasi.

6.  PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . 100 tentang Renumerasi Setara.4. Konvensi No. 138 tentang Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja.87 tentang Kebebasan Berasosiasi dan Perlindungan terhadap Hak Berorganisasi. ada dalam lampiran III Panduan ini. Konvensi No.2. III. Konvensi No. Kerangka Tehnis Penyusunan Perda Tahapan yang dilakukan untuk menyusun Peraturan Daerah adalah meliputi : PELIBATAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK MERANCANG PERDA KONSULTASI DENGAN MASYARAKAT/ PARTISIPASI MASYARAKAT PERBAIKAN RANCANGAN PERDA PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN PENYAMPAIAN PERDA KE PEMERINTAH PUSAT DAN PEMBATALAN PERDA. 111 tentang Diskriminasi dalam Pekerjaan dan Jabatan. 3. 105 tentang Penghapusan Kerja Paksa. 98 tentang Berlakunya Dasar-dasar daripada Hak untuk Berorganisasi dan Berunding Bersama. 7. Konvensi No. Sebagai catatan tambahan. 5. Konvensi Internasional tahun 1990 tentang Hak Asasi Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya dapat dijadikan acuan walaupun pemerintah Indonesia baru menandatangani Konvensi ini pada tanggal 24 September 2004. Konvensi No. 4. Konvensi No. Ringkasan isi serta elemen-elemen yang tersedia dalam Konvensi tersebut.

Cukup dengan penelitian sederhana serta dengan melibatkan kelompok-kelompok sosial yang berkompeten dan berkaitan dengan tema yang akan menjadi sasaran pengaturan. Pendahuluan 1. serta pemangku kepentingan lainya.09. Naskah Akademik adalah segala pemikiran yang melatarbelakangi diterbitkannya sebuah Undang-undang atau Peraturan Daerah. Kajian peraturan yang ada ditambah dari pengalaman empirik yang dialami kelompok sosial tertentu sebagai pelaku dari masalah yang akan diatur dalam Perda.2.Penyusunan Naskah Akademik Setelah kebutuhan atas Perda diputuskan melalui pelibatan dan partisipasi masyarakat maupun hasil dari pemetaan kebutuhan oleh pemerintah maupun DPRD. Sebagian besar pembuat rancangan peraturan perundangan menganggap bahwa naskah akademik haruslah merupakan produk ilmiah dari perguruan tinggi. luas lingkup dan materi muatan suatu peraturan perundang-undangan. Tujuan yang hendak dicapai dan manfaat dibuatnya Peraturan Daerah 3. prinsip-prinsip yang perlu diatur. Daftar Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan dapat menjadi dasar serta rujukan bagi penyusunan materi Peraturan daerah 2. Ketentuan Umum Berisi penjelasan arti dan makna tentang istilah-istilah yang dipergunakan dalam Naskah Akademik 2. No. Metode Pendekatan. yang dituangkan dalam bentuk: I. Naskah Akademik merupakan bahan awal yang memuat gagasan-gagasan tentang urgensi. Naskah akademik bisa dibuat oleh siapa pun sepanjang metodologinya bisa dipertanggungjawabkan. Metode yang dipergunakan untuk penyusunan Naskah Akademik II. Ruang Lingkup Naskah Akademik 1. serta pemikiran atau usulan normatif yang disarankan 10 Keputusan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional. telah cukup menjadi argumentasi ilmiah sebuah naskah akademik.1. pendekatan.  . Tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Naskah Akademik Peraturan Perundang-undangan. naskah akademik dapat disusun sebagai berikut : A. Secara umum. Bagian Pertama: Berisi Laporan hasil kajian dan atau penelitian tentang Peraturan Daerah yang dirancang. dan merupakan bahan dasar bagi penyusunan Rancangan sebuah Peraturan10. Latar Belakang: 1. pendekatan. disusunlah naskah akademik. Materi Berisi konsepsi.10 TAHUN 1994. G-159. Pokok pikiran dan analisis fakta-fakta yang merupakan alasan pentingnya persoalan-persoalan tersebut harus segera diatur melalui Peraturan Daerah 1.1.PR. Padahal naskah akademik tidak selalu merupakan produk perguruaan tinggi.

LSM. 4. dan atau pasal-pasalnya yang menjadi dasar hukum dan rujukan bagi terbitnya Perda. Ketentuan Peralihan Berisi ketentuan-ketentuan tentang penyelesaian masalah yang sudah terjadi sebelum Perda diputuskan. 2. Bagian Kedua.III. Tim ini tidak harus besar. serta peraturan mana yang akan dipergunakan bila untuk hal yang sama juga telah diatur oleh peraturan lain yang berlaku. atau dalam Perda yang lain 4. B. tokoh-tokoh masyarakat dan buruh migran (mantan buruh migran dan anggota keluarganya). konsultasi dan partisipasi publik merupakan jaminan atas asas aksesibilitas masyarakat untuk memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penetapan maupun pembahasan rancangan peraturan  PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . 3. 2. Lingkup materi yang diatur. Usulan bentuk pengaturan berkaitan dengan materi muatan 3. Konsiderans dan Dasar Hukum Berisi: • Pokok-pokok pikiran dan rumusan ringkas analisis fakta-fakta yang merupakan alasan pentingnya persoalan-persoalan tersebut harus segera diatur melalui Peraturan Daerah • Daftar Undang-undang dan peraturan lain. Kesimpulan berisi Rangkuman pokok-pokok isi naskah Akademik. Konsultasi dan Partisipasi Publik Sebagaimana dijelaskan pada Landasan Umum. Kesimpulan dan Saran 1. atau sebagian yang lainnya bisa dan akan dituangkan dalam Peraturan Pelaksananya. Ketentuan Umum Berisi: Istilah-istilah dan pengertian serta maknanya yang dipakai di dalam batang tubuh Perda 3. tetapi jumlahnya bervariasi dari pejabat Pemerintah Daerah (Pemda). disertai naskah rumusan normatif sebagai rancangan pasal-pasal yang disarankan. Materi Berisi konsepsi mengenai asas-asas dan materi hukum yang perlu diatur. dan kaitannya dengan peraturan perundangan lainnya 2. Sanksi Berisi pemikiran tentang sanksi-sanksi dan ketentuan pidana yang memungkinkan bagi pelanggaran Perda 5. kalangan akademisi. unsur DPRD. dan disertai alasan-alasannya. Rekomendasi tentang prioritas dan waktu penyusunan Perda dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan. Merancang Perda Proses pembuatan rancangan perda memerlukan sebuah tim kerja. Berisi konsep awal Rancangan Peraturan Daerah 1. Saran berisi rekomendasi apakah keseluruhan materi akan diatur semuanya dan dituangkan dalam batang tubuh Perda.

Keputusan pembatalan Perda ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya Perda 6. 2004 3.Kepala Daerah dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung 6. Perbaikan Rancangan Perda Berdasarkan hasil konsulatasi dengan masyarakat. Komnas Perempuan.1. Apabila Pemerintah Pusat tidak mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan Perda. 2005 4. mantan dan perempuan buruh migran. Apabila propinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda dengan alasan yang dapat dibenarkan peraturan perundang-undangan. makalah pada Semiloka Perda Komnas Perempuan. Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum dan atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh pemerintah 6. Komnas Perempuan.4. Perda disampaikan kepada pemerintah paling lama 7 hari setelah ditetapkan 6. 2000 2. maka Perda dimaksud dinyatakan berlaku Bahan Bacaan : 1. Penyampaian Perda ke Pemerintah Pusat dan Pembatalan Perda 6. dilakukan oleh DPRD bersama gubernur atau bupati/walikota melalui tahapan yang secara rinci diatur dalam tata tertib DPRD 6. Mempercepat Perubahan. Sumber Informasi untuk Pengarusutamaan Jender.6. Pembahasan dan Pengesahan Pembahasan rancangan Perda di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Mendorong Inisiatif Lokal Menghapuskan Kekerasan terhadap Perempuan di Era Otonomi Daerah. 4. rancangan Perda kemudian direvisi. CIDA.2.3. Pengelolaan Migrasi ke Luar Negeri dan Perlindugan Buruh Migran Indonesia. Jakarta  . Sebagai bagian dari proses ini. Panduan Pemantauan Kebijakan Daerah dengan Perspektif HAM dan Keadilan Gender.daerah.5. Paling lama 7 (tujuh) hari setelah keputusan pembatalan. tim kerja perlu menganalisa hasil konsultasi sebagai argumentasi yang kuat dalam perbaikan rancangan Perda. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan Perda dan selanjutnya DPRD bersama Kepala Daerah mencabut Perda yang dimaksud 6. Dirjen Otonomi Daerah. 5. Pelibatan ini wajib mempertimbangkan komposisi pihak-pihak yang terkait dengan persoalan buruh migran terutama keluarga buruh migran. tanggal 14 Februari 2006.

Resources buruh migran berpendidikan sangat rendah (ijazah SD atau tidak tamat SD). karena didaerah tersebut tidak ada PPTKIS atau Kantor Cabangnya. Paspor dibuat di daerah (Kantor Imigrasi terdekat dari tempat tinggal calon buruh migran. Dengan demikian Pemkab/Pemkot kesulitan untuk melakukan pengawasan. PPTKIS yang beroperasi di daerah tidak memiliki penampungan sendiri. Hal ini rentan terjadinya pemalsuan dokumen. Daerah Perbatasan • • • • • • • • Pengawasan Pemprov atau Pemkab/Pemkot terhadap PPTKIS atau kantor cabangnya yang menampung calon buruh migran yang dikirim dari daerah lain dan melakukan transit di daerahnya. Daerah basis yang mayoritas buruh migrannya berorientasi ke Negaranegara Timur Tengah. Sanksi pidana bagi PPTKIS atau kantor cabangnya yang menampung calon buruh migran tanpa kelengkapan dokumen. Selain terjadi eksploitasi. Selama ini Paspor untuk tujuan kerja ke negara-negara tersebut disentralisasi di Jakarta/Tangerang. perdagangan orang serta penelantaran buruh migran deportan Kesulitan daerah untuk menyediakan dana untuk menangani buruh migran deportan secara lebih baik • Alternatif Perlindungan Mempertimbangkan persyaratan Calon berkaitan dengan batasan Tamat SLTP sebagaimana dikehendaki oleh UU 39/2004. Calon buruh migran yang ditampung harus merupakan calon yang sudah lengkap segala dokumen serta persyaratannya. Ijin Kepala Desa dan Kecamatan bagi setiap orang yang hendak mencari pekerjaan. hal semacam ini rentan terjadinya trafficking. Sebagai Wilayah Transit. Memasukkan anggaran pengelolaan dan penanganan buruh migrant deportan ke dalam APBD. Calon buruh migran direkrut oleh Calo dan dibawa ke luar daerah. pelecehan seksual. Keharusan bagi PPTKIS atau kantor cabangnya yang beroperasi di daerah untuk memiliki penampungan sendiri yang layak. Sebagai pintu masuk buruh migran yang dideportasi. dan tinggal menunggu keberangkatan. Melalui Peraturan Daerah ditentukan bahwa rekrutmen calon buruh migran hanya boleh dilakukan oleh PPTKI (atau Kantor Cabangnya) yang telah memperoleh ijin operasional dari Pemkab/Pemkot setempat. sehingga calon buruh migran setempat ditampung di daerah lain. Rentan terjadinya pemalsuan dokumen dan tindak pidana perdagangan orang. • • • • • • • 2. Penyediaan gedung penampungan dan Crisis Centre (dengan tenaga medis dan counselor) yang merupakan fasilitas negara. Secara riil segmen ini yang paling membutuhkan lapangan pekerjaan.  PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER .LAMPIRAN-LAMPIRAN LAMPIRAN I BAGAN KEKHASAN DAERAH Kekhasan Daerah 1. Daerah Basis/ Kantong Buruh Migran Indonesia • Permasalahan Kondisi Demografis. Rentan terjadi eksploitasi.

Pembekalan Calon BMI Memperkecil kemungkinan penampungan yang terlalu lama dan melindungi Calon BMI dari praktek pemerasan Hak Calon BMI memutuskan untuk menghentikan atau melanjutkan proses pendaftaran kerja ke luar negeri Mempersiapkan Calon BMI secara lebih baik. • Diklat dilakukan oleh Pemkab/Pemkot atau pihak swasta terakreditasi. • Mencegah kemungkinan terjadinya Trafficking serta penampungan yang terlalu lama dan mirip penyekapan. • Aspek keterampilan diberikan melalui pelatihan yang memadai. 2. hak dan kewajiban. harus mencakup Pendidikan dan Latihan (Diklat). Calon BMI yang mengundurkan diri berhak untuk meminta dokumen identitas dirinya tanpa dipungut biaya 2. • Mencegah praktek percaloan. Rekrutmen yang dilakukan oleh PPTKIS hanya terhadap mereka yang sudah memiliki sertifikat Diklat  . wawasan. Arus informasi dan prosedur kerja. ⇒ Pemberian identitas resmi dan pendidikan bagi Calo atau Sponsor sebagai “middle man” Pidana bagi Calo tanpa identitas resmi B. kultur negara tujuan. Pra Pemberangkatan 1. Kontrol Pemkab/Pemkot terhadap PPTKI yang beroperasi di wilayahnya. Pendidikan diberikan untuk peningkatan wawasan. termasuk pembekalan bahasa. Prosedur dan Proses Migrasi Kewenangan pemberian Ijin Pendirian dan atau Ijin Operasional PPTKI berada pada Pemkab/Pemkot. besaran gaji/upah. dengan : ⇒ Sosialisai Prosedur bekerja ke luar negeri harus sampai ke basis. serta resiko-resiko yang mungkin dihadapi. serta kemampuan melindungi diri dan mempertahankan hak-haknya. seluk beluk aturan hukum. 1. • Pembekalan untuk Calon BMI. melalui kepala desa. jenis pekerjaan. dan melindungi Calon BMI dari tindak pemerasan.LAMPIRAN II Aspek Perlindungan (Perspektif HAM dan Keadilan Jender) PRINSIP KEBIJAKAN ASPEK PERlINDUNgAN PANDUAN NORMATIF SANKSI A. bahasa dan kultur serta hukum negara tujuan. ⇒ Kewajiban PPTKI dan Pemkab/ Pemkot untuk memberikan Informasi lengkap dan berimbang. meliputi tempat.

Masa Kerja (bila memungkinkan) 1. serta hal yang mirip dengan penyekapan (pembatasan atau larangan berkomunikasi). Pengakuan hak-hak BMI selama masa kerja melalui kontrak kerja khususnya pemenuhan hak reproduksi bagi buruh migran perempuan 2. • Memperkecil kemungkinan terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual bagai calon BMP • Memperkecil Calon BMI yang dipekerjakan tanpa upah dengan dalih sebagai bagian dari pelatihan. Hal ini untuk mencegah pemanfaatan yang sewenang-wenang oleh keluarga khususnya suami bagi para istri yang bekerja ke luar negeri.3. Pemantauan oleh Pemkab/ Pemkot dan PPTKIS terhadap BMI yang sedang bekerja di negara tujuan. Pengelolaan/Pemanfaatan Hasil Kerja Memperkecil kemungkinan terjadinya pemerasan terhadap BMI di Bandara atau Pelabuhan Kewajiban PPTKIS untuk menjamin transportasi kepulangan BMI sampai Bandara/ Pelabuhan terdekat dengan kampung halaman BMI Pembinaan kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan oleh pemerintah daerah dengan kerja sama sejumlah instansi. Memperkecil atau mencegah kemungkinan terjadinya eksploitasi terhadap BMI serta perlakuan yang sewenangwenang dari Majikan. • Kewajiban PPTKIS yang beroperasi di daerah untuk menyediakan Penampungan di daerah yang layak • Penyediaan kamar-kamar bagi Calon BMI di penampungan (di daerah) dengan mempertimbangkan keamanan dan hak privacy para calon buruh migran khususnya perempuan • Larangan penempatan BMP dengan Visa “Kawin Kontrak” • Penyediaan Dokter perempuan bagi Calon BM Perempuan dalam menjalani Medical Check Larangan bagi PPTKIS untuk mengalihkan Calon BMI kepada PPTKIS lainnya • Pidana bagi PPTKIS yang melakukan tindakan Penyekapan • Sanksi Administratif bagi PPTKIS yang tidak memenuhi standar penampungan. • Memanfaatkan pengelolaan hasil bekerja dari luar negeri. Pencegahan dan Pemberantasan Trafficking Memperkecil atau memberantas potensi dijadikannya BMI khususnya BMP sebagai obyek trafficking Sanksi Pidana bagi PPTKIS yang melakukan trafficking dengan merujuk pada KUHP C. Purna/Paska Kerja 1. Perlindungan BMI dari tindak premanisme di Bandara atau Pelabuhan 2. 4. Pengakuan Perempuan Pekerja Rumah Tangga (PRT) sebagai Pekerja D.  PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . Bekerjasama dengan Perwakilan RI di negara tujuan Memasukkan istilah/kategori Pekerja di dalam Perjanjian Penempatan dan Perjanjian Kerja Pemenuhan hak buruh migran perempuan setara dengan buruh migran di sektor yang disebut formal. Pengaturan Penampungan • Mencegah terjadinya penampungan yang terlalu lama.

dan kebangsaan pasal 30 : Hak anak dapat pendidikan dengan perlakuan yang sama pasal 31 : Hak atas penghormatan pada identitas budaya pasal 32 : Hak mentransfer penghasilan pasal 33 : Hak mendapatkan informasi dalam bahasa yang dimengerti pasal 34 : Kewajiban mematuhi hukum pasal 35 : Kesetaraan pada pekerja migran tak berdokumen atau dalam situasi tak biasa  . dan izin kerja pasal 22 : Hak-hak untuk tidak diusir dan hal-hal yang berkaitan dengan pemulangan pasal 23 : Hak perlindungan & bantuan konsuler atau diplomatic. bebas dari perlakuan yang menyiksa dan kejam pasal 11 : Hak bebas dari kerja paksa pasal 12 : Hak memilih & menganut agama/kepercayaan pasal 13 : Hak mengeluarkan & menerima pendapat secara lisan & tulisan pasal 14 : Hak dapat perlindungan hukum atas kebebasan pribadinya pasal 15 : Hak perlindungan hukum atas hak milik individual dan kolektif pasal 16 : Hak mendapatkan perlindungan negara dari kekerasan pasal 17 : Hak-hak dalam tahanan pasal 18 : Hak-hak yang didapatkan di depan pengadilan pasal 19 : Ketentuan pemberian hukuman pasal 20 : Hak untuk tidak dipenjarakan pasal 21 : Hak-hak dalam soal dokumen untuk identitas. pendaftaran kelahiran. khususnya dalam pengusiran.LAMPIRAN III Gambaran Ringkas Isi dari Konvensi Internasional untuk Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya tahun 1990 Bagian I (6 pasal) Topik Ruang Lingkup & Definisi Pekerja Migran Isi 6 pasal (no 1 sampai dengan 6) berkaitan dengan apa yang dicakup dan tidak dicakup konvensi ini serta arti peristilahan yang dipakai termasuk pekerja migran yang didokumentasikan maupun tidak atau berada dalam situasi yang tidak biasa (pasal 5). izin masuk. 1 pasal (no 7) janji untuk menghormati dan memastikan semua pekerja migran dan anggota keluarganya memperoleh hak tanpa pembedaan apapun. pasal 24 : Hak untuk diakui sebagai manusia /pribadi di muka hukum pasal 25 : Hak perlakuan sama dengan warga negara dalam hal upah pasal 26 : Hak berorganisasi pasal 27 : Hak perlakuan sama dengan warga negara dalam hal jaminan sosial pasal 28 : Hak dapat perawatan medis untuk kelangsungan hidup pasal 29 : Hak anak dapat nama. 28 pasal (no 8-35) II (1 pasal) Prinsip Non Diskriminasi III (28 pasal) Uraian tentang HAM serta ketentuan tentang Kewajiban Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya pasal 8 : Hak datang dan pergi pasal 9 : Hak hidup yang dilindungi hukum pasal 10 : Hak mendapat perlakuan manusiawi.

perumahan. akses kegiatan alternatif pasal 55 : persamaan perlakuan pasal 56 : tidak boleh diusir kecuali ada alasan-alasan tertentu 7 pasal (no 57 – 63) pasal 57 pasal 58 pasal 59 pasal 60 pasal 61 pasal 62 pasal 63 2 : Pengecualian pekerja migran : pekerja frontier (perbatasan) : pejerja seasonal/musiman : pekerja keliling : pekerja proyek : pekerja khusus. Manusiawi. dan Sah pasal (no pasal 64 : Ketentuan negara bekonsultasi dan bekerjasama pasal 65 : Ketentuan negara menyediakan badan-badan yang layak pasal 66 : Ketentuan pembatasan perekrutan untuk wilayah kerja pasal 67 : Kerjasama untuk langkah-langkah pemulangan pekerja migran dan anggota keluarganya pasal 68 : Bekerjasama mencegah & menghapuskan kegiatan mempekerjakan pekerja ilegal pasal 69 : Tindakan untuk mengatur migrasi dalam situasi tidak biasa atau undocumented migration pasal 70 : Kondisi yang tidak lebih buruk dari warga negara setempat pasal 71 : Pemulangan jenazah dan kompensasi 0 PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . pelayanan sosial dan kesehatan. pelayanan sosial dan kesehatan. koperasi untuk anggota keluarga pekerja migran pasal 46 : kemudahan dalam bea dan pajak impor untuk pekerja migran pasal 47 : transfer pendapatan pekerja migran pasal 48 : bebas atau pengurangan pajak pasal 49 : izin tinggal dan izin kerja berkaitan dengan kategori regular/documented pasal 50 : izin tinggal berkaitan dengan bubarnya perkawinan atau meninggal pasal 51 : izin tinggal berkaitan dengan “jenis pekerjaan” pasal 52 : Pembatasan – pembatasan akses pasal 53 : anggota keluarga bebas milih pekerjaan bagi yang bebas masuk negara tertentu pasal 54 perlindungan atas pemecatan. pekerjaan tertentu : pekerja mandiri : 64-71) V (7 pasal) KetetapanKetetapan yang Berlaku bagi Kategori Pekerja Tertentu dan Anggota Keluarganya VI (8 pasal) Promosi Kondisi yang baik Setara. perumahan. tunjangan pengangguran. koperasi pasal 44 : perlindungan pada keluarga buruh migran pasal 45 : hak yang berkaitan dengan akses pendidikan.IV (21 pasal) Uraian tentang Hak-Hak Lain 21 pasal ( no 36-56) pasal 36 : situasi reguler dan ireguler pasal 37 : hak mendapatkan informasi tentang semua kondisi yang berlaku di negara tempat bekerja dan pejabat yang harus dihubungi berkaitan dengan perubahan kondisi tsb pasal 38 : hak libur psk 39 : kebebasan bergerak dan memilih tempat tinggal pasal 40 berkumpul dan mendirikan organisasi pasal 41 berpartisipasi dalam masalah pemerintahan pasal 42 : bebas memilih wakil dalam lembaga-lembaga pasal 43 : hak yang berkaitan dengan akses pendidikan.

memilih pejabat. ratifikasi. 14 pakar jika sudah ditandatangani lebih dari 40) pasal 73 : Anggota menyerahkan laporan upaya legislatif. dan penyeleaian sengketa. yudikatif. serta upaya-upaya lain untuk melaksanakan konvensi.VII (7 pasal) VII-IX Aplikasi Konvensi 7 pasal (no 72-78) pasal 72 : pembentukan Komite. 85-93): penandatangan. usul perubahan. pasal 74 : Komite memeriksa laporan pasal 75 : Komite menetapkan aturan. aksesi. serta aturan sidang tiap tahun pasal 76 : Negara anggota mengakui kewenangan komite menerima & membahas komunikasi berkaitan dg tuduhan tidak memenuhi kewajiban pasal 77 : Mengakui kewenangan komite dalam hal menerima & membahas komunikasi berdasarkan pengaduan individual pasal 78 : Prosedur lain penyelesaian sengketa 6 pasal (no 79-84) 9 pasal (no. VIII (6 pasal) IX (9 pasal) Ketentuan Umum Ketentuan Penutup 1 . administratif. menarik diri. (10 pakar.

Cirebon Jl. Pontianak Jl. ext. 8. Aliyang No.com 0561 766439 0812 5765849 ad_yanto@yahoo. Mappanyukki. Mujari Eka Baslar A. Bone Jl. Rahadi Oesman. Merdeka Utama No. Dukuh Manunggal 124-126 Surabaya Jl. Tenggiri No. 3. com/ ylmd_lampung@ plasa. Andriyanto YLBH PIK Pontianak  PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . Andalas No. HR Rasuna Said Kav. Merdeka Barat 15 Jakarta Jl. Supriyanto AP2BMI Sumbawa 17. Yani Tresno HB. 12. 10. komplek Paragas Sumbawa Besar Jl. 7 Jakarta Jl. 215A Iringmulyo. 31 Kabupaten Bone Jl. Kab. 6.com 0481 21056 0813 55132536 asia_bone@yahoo. Seminar dan Lokakarya. Ubaidillah Hasan Disnaker Cianjur Kementrian Pemberdayaan Perempuan (KPP) Ditjen Otoda Depdagri Ditjen Bina Bangda Depdagri Ditjen Bina Bangda Depdagri Balitbang HAM Dephuk HAM DPRD Kab. Siti Jaenab 31 Cianjur Jl. Merica No. 69. 14. Merdeka Utama No. 4. Ratna LPP Bone Jl. 14 Februari 2006 No Nama 1. Amin Sulaiman lembaga/Institusi Bagian Pemberdayaan Perempuan dan Kesra Disnaker Propinsi Jatim Disnakertrans Bone Disnakertrans Sumbawa Alamat Jl. 12A Pomtianak 16.LAMPIRAN IV Daftar Peserta yang terlibat dalam Pedoman Penyusunan Perda : I.Cianjur DPRD Lampung Jl. Castra Aji Sarosa Sukemi FWBMI Cirebon YLMD Lampung 15.523 0263 261702 0721 482166 0721 488946 0811 791653 0231 662072 0725 42756 0815 4063284 sukemi_lpg@plasa. A. 7 Jakarta Jl. C1 Jl. WR. Sutajaya 5A Babalean. Teluk Betung Lampung Jl. 11.Sya’ban Farouq Nurhasanah 021 7942648/ 79426438 021 7942648/ 79426438 021 2525015. Garuda No. 2. Hilfira Hamid Padmi Marsiti Muh. P. Raya Bandung Km 4.com 0812 3726892 aliansi migran samawa@yahoo. Monginsidi No. 7 Jakarta Jl. Merdeka Utama No. 93 Telp/Fax/HP Email 0561 7330407811 031 8292648 0813 30179449 0481 22457 0371 21729 0371 21325 0812 3726892 0263 262464 0817 6964379 021 3805522 5.5 Cianjur Jl. kota Metro Lampung 7. 9.com 13. 18.

Kec. Faebuadodo Ditjen Otoda Depdagri 0812 9175479 24. 47 Jakarta Jl. 22. Komnas Perempuan Komnas Perempuan Komnas Perempuan  . 10. Jakarta Jl. Tati Krisnawati Fasilitator : Yos Soetiyoso Panitia : lisa NH Tety K Herman Komnas Perempuan Komnas Perempuan 27. 20. 28.or. Piliang CSIS 021 3847517 0812 1013525 indrapiliang@csis. Latuharhari 4B Jakarta Pusat Jl. 29. Danuhardi Lutfi Sri Almainah Felixon Choirul Hadi JKPS Ponorogo Lakpesdam Blitar Rico Saloke Kopbumi SBMI Balai Desa Krebet. 23-27. 19. Ciliwung 5/6 Blitar Jl. RT5/RW7 Jakarta Jl.id 021 3903963 021 3903922 021 3903963 021 3903922 021 3903963 021 3903922 021 3903963 021 3903922 021 3903963 021 3903922 25. 26. Latuharhari 4B Jakarta Pusat Jl. Bambu Kuning II/7 Jakarta Timur Jl. Latuharhari 4B Jakarta Pusat 0813 35706134 0342 2801288 0816 562234 021 4717201 021 93856504 021 4756113 Pembicara : 23. Latuharhari 4B Jakarta Pusat Jl.18. Latuharhari 4B Jakarta Pusat Jl. Jambon Ponorogo Jl. Tanah Abang III Np. Merdeka Utama No. Cikini Raya No. Cipinang Kebemben Raya No.7 Jakarta Jl. Indra J. 21.

Direktur YLMD Abu Hasan. Bambang Nugroho Adi. Men Ala. 3. DPRD Komisi D Lampung Tengah 10. DPRD Komisi A Aris Susilo. Dinsos Tenaga Kerja Lampung Tengah 11. 5. YLPMD 28. DPRD Komisi D. Nurcholis. Jumadi. Pontianak Sumbawa. YLPMD 30. Muslimat NU Lampung Tengah Rahman Sulaiman.II. Anggi. 9. SBMI Lampung 25. Musrianto. 6. keluarga BMI 18. 4. 7. keluarga BMI (petani) Mudasir. Yuan Wiratna. PJNU Lampung Tengah 22. 8. keluarga BMI (buruh tani) 19. Komnas Perempuan A. Rudi Sugianto. Yos Soetiyoso. DPRD Komisi B Lampung Tengah Nurhayati. Sumarni. Anton Munawar. Marlina.  Abidin. PJS Kepala Kampung 15. Tety. Pendeta untuk 3 Kabupaten 17. disnakertrans Bunga. Murti. Sekretaris Komisi. DPRD Komisi B Nurlia. YLPMD 27. DPRD Komisi D Wagimin.LSGS 26. Lembaga Advokasi Perempuan Damar 16. Mega Fitri. BPD PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . Dinsos Tenaga Kerja Lampung Tengah 12. Ponorogo dan Bone. 25 April 2006 1. mantan BMI di Hongkong 24. Sukemi. Ibrahim. Yang terlibat adalah : A. FGD FGD dilakukan di 6 wilayah yaitu Lampung. Cirebon. Teguh. Komnas Perempuan 31. 2. Sunyoto. Dinsos Tenaga Tenaga Kerja 14. Suprapto. keluarga BMI (petani) 20. Lembaga Advokasi Anak. FGD di Lampung. 2. 5 April 2006 1. Ihwan. Novi. Kepala Dinsos Tenaga Kerja Lampung Tengah 13. FGD di Bone. disnakertrans A. Bandar Lampung 23. . Fatayahsin. keluarga BMI (petani) Suparman. YLPMD 29. Ibnu Hiban. mantan BMI (petani) 21. 3.

mantan BMI 18. Disnakertrans Blitar Minarto. Soegiharto. 2. Galuh Febriyani. keluarga BMI 15. 6. 9. Nurharsono. LSM 20. Lakpesdam Blitar Tatok Amarudin. keluarga BMI 20. keluarga BMI 11. Mali. 5. Sunardi. Lilik. Eny Khoiriyah. Sutrisno. Disnakertrans Ponorogo Makin. Komnas Perempuan B. keluarga BMI 10. 8. JKPS Poonorogo Edy. Juma. Aldi. 3. LSPS Yogyakarta 12. Balitbangda Blitar Muladi. Idris. mantan PJTKI  . Tahir. mantan BMI 21. Lakpesdam Blitar Hafiaz Lutfi. FGD di Ponorogo. Dian Eryanti. keluarga BMI 15. mantan BMI 14. Widodo. Mare. Imran. keluarga BMI 17. keluarga BMI Adi. 6. 9. JKPS Ponorogo 10. LSPS Yogyakarta 11. Ahmad. DPRD Asia. keluarga BMI 17. mantan BMI 19. keluarga BMI 12. keluarga BMI 18. 4. Fahirah. Lakpesdam Blitar Danuhardi. keluarga BMI 14. keluarga BMI 19. Hasmawty. Sariyah. Siti Fatimah. Nirwanda. Fulva.4. 5. Ruaeda. DPRD Atto. 1 Maret 2006 1. Tobba. 7. Disnakertrans Ponorogo Didit Santosa. 7. mantan BMI 16. M. LPP Bone 21. Heru Sasongko. keluarga BMI A. keluarga BMI 16. mantan BMI 13. 8. Yos Soetiyoso. keluarga BMI 13. keluarga BMI Asiah. Komnas Perempuan 22. Herman.

16 Maret 2006 1. Satpol PP 10. Disnakertrans Propinsi Kalbar Rosalie Kowel. Sumiar S. Pemda. FGD di Pontianak.  Maksum Jauhari. 5. Disnakertrans Propinsi Kalbar Sulaiman. Syamsudin. DPRD 13. Komnas Perempuan 24. Dewi Rohyani. Guril. 2. Camat Cape 16. bagian hukum Mahmudin. 8. Yos Soetiyoso. Syarifudin. Tri Budi. Tety Kuswandari. Nurhinsyah. Herman. Plampang 17. Polres Abdul Aziz. Pemda. Wanjayardi. PIPP 22. Polres Mustaridahkan. Syamsul Fikri.22. Supriyanto. 2. DPRD Komisi IV 12. Sukirno. Wayati. Tatebal 24. Disnakertrans Propinsi Kalbar PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . LPA 19. Masyuji. Sumbawa Zaenal Muntaqine. Polres Sutriyanto. Nur Atiqah. Tatebal 23. Muslich. mantan BMI 27. Abdul Hakik. Darmawanty. cabang PJTKI 23. Kelompok TKW Dete 26. Komnas Perempuan 32. PLAN Indonesia 25. 3. 7. Disnakertrans Asfo. 6. AP2BMI 28. Yos Soetiyoso. AP2BMI 30. Nisma Abdullah. PIPP 21. Dinas Sosial 11. FORPPHAS 20. AP2BMI 31. Komnas Perempuan C. Komnas Perempuan D. FORPPHAS 15. A. Sepakat 18. TPPKK Kab. DPRD 14. Yusmi Zustia. Nurhidayati. Nuraidah. 9. 11 Maret 2006 1. 4. Jaya Purnawan. bagian hukum Zulnaidi. AP2BMI 29. Polres Muaji. 3. Aminah Mosfan. FGD di Sumbawa.

Cianjur Toto Satori. FWBMI Cirebon 13. Disnaker Cirebon Ari Nurzaman. Cardi Syaukani. MAM Kalbar 16. Yos Soetiyoso. Komnas Perempuan 22. Rosnawati. Komnas Perempuan 20. Pida. 7. Ubaidillah. DPRD Kab. Tati Krisnawati. 9. Verry. DPRD Prop. MABM Kalbar 10. Lembaga Gemawan RH Farid Panji Anom. 9. FWBMI Cirebon 14. Muhammadiyah Kalbar 12. keluarga BMI 20. 28 Maret 2006 1. Solidaritas Buruh Migran Cianjur (SBMC) Roziqoh. 5. Sosnaker Indramayu HB Sya’ban Farouq. FKBMI Indramayu Badrun. 7. 6. Fahmina Cirebon Lutfiah. mantan BMI 11. keluarga BMI 18. Pabali Musa.4. Maria Rosyati Ama. Rousdy Said. DPRD Kab. Tuti. FKBMI Indramayu 11. Hei Zahry Abdulk. 3. Herman. FGD di Cirebon. Masrifah. Yus Macrus. FKBMI Indramayu 10. tokoh agama Indramayu 12. Siti Fatimah. 8. Komnas Perempuan  . Susanti Andriyani. Cirebon. Lisa Noor Humaidah. Abdul Aziz. 4. Kalbar Reny. Pekka Kurniadi. Cianjur Odi Ahmad. Handri. Wiwin. mantan BMI 21. 6. Disnaker Kab. Katharina Lies. LBH Apik 14. Komisi D Fahrurozi. LPS AIR 15. Komnas Perempuan E. mantan BMI 19. FWBMI Cirebon 16. WCC Balqis Cirebon 17. 5. Castra Aji Sarosa. 8. Shantie. Komnas Perempuan 21. mantan BMI 18. Muhammadiyah Kalbar 13. FWBMI Cirebon 15. 2. Yos Soetiyoso. Eka Dharma Indonesia Laili Khairnur. PPSW Borneo Dani. Roheti. Majelis Adat Dayak Kalbar 17. mantan BMI Cirebon 19. Nasipah.

Sutajaya 5A Babalean. Kab. Kec. Danuhardi Endang S Castra Aji Sarosa Prapto Tatok Ratna JKPS Ponorogo Kopbumi Region NTB FWBMI Cirebon SBMI Lampung Lakpesdam Blitar LPP Bone Jl. Mataram 0818 294130 0813 35900503 0263 262464 0817 6964379 0371 21729 0371 21325 0813 39815666 0371 21729 0371 21325 0813 39554847 0815 75747755 021 7218131 021 7942648 0816 1340038 021 2525023 021 2525023 021 2525023 021 5229124 021 725874-77 0818 727038 021 3903963 021 3903922 061 7868577 08126503611 pusbakumi@yahoo. Jakarta Selatan Jl. Pahlawan 16. Sumbawa BesarNTB Jl. 12. Kuningan. 11. 1 Telp. HR Rasuna Said Kav. 24. Sumbawa Disnakertans Kab. Raya Bandung Km 4.com 0813 35706134 0818 360252 8. HP. Fatmawati Amin Nurhasanah Suharjono Didit Santosa A. Taman Makam Pahlawan No. Mulyodadi. Garuda 93.com  PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . Email 0481 21015 0812 4145390 0812 3763633 Jl. Jakarta Selatan Gatot Subroto Jl. Jakarta Selatan Jl. Semarang Jl. 6-7. 10. 22. Sumbawa Disnakertrans Jateng POLRI Ditjen Bina Bangda Depdagri DephukHAM Dephuk HAM Dephuk HAM Depnakertrans Komnas HAM Komisi Ombudsman Komnas Perlindungan Anak Indonesia Divisi Reformasi Hukum Komnas Perempuan Kopbumi Region Sumut Alamat Jl. Komisi D DPRD Lampung Wakil ketua Disnaker Prop. 20. Adityawarma 43 Kebayoran Baru. Jatim Disnakertrans Kab. 18AA Marindal. Garuda 93. Budi Utomo 12 Ponorogo Jl. Komisi D DPRD Sumbawa. 0231 662072 Cirebon 0811 791653 Jl. Trunojoyo 3. 13. Pertemuan Nasional. 4. Sumbawa BesarNTB Jl. Edy Purwantono Zubaidah Arifin Hutagalung Rizki Maringan Firman Halasan Pardede Larmaya Adji Pihri Enni Rochmaeni Magdalena Herlyna Lily P. Yos Sudarso Jl. Sutajaya 5A Babalean. 6-7. P. Industri No. Baru VI. Fax. Jambon Ponorogo Jl. Andalas No. 0231 662072 Cirebon Jl. 85. Jakarta Jl. Medan Balai Desa Krebet. Teuku Umar 10 Jakarta Jl. HR Rasuna Said Kav. 25. 19 Desember 2006 No Nama 1. 16. 17. Jakarta Selatan Jl. No. 14. 18. 31 Kabupaten Bone 085 269137314 0342 2801288 0816 562234 0481 21056 0813 55132536 asia_bone@yahoo. Soekarno Hatta No. 7. Ciliwung 5/6 Blitar Jl.5 Cianjur Jl. Ponorogo Disnaker Kab. Ubaidillah Alimudin Nur lembaga/Institusi DPRD Bone. 6-7. 23. Hasanudin No. Kuningan. HR Rasuna Said Kav. 15. Cianjur Disnakertrans Kab. 26. Kec. Kuningan. Dukuh Nenanggal 12A Surabaya Jl. 5. Latuharhari 4B Jakarta Pusat Jl.Kota Metro Lampung Jl. Jaksel Jl. Darusy Yunus 9. P. 19.III. Siregar 21. 6. 3. 2. 26A. 20 Kalibata. Kab.

Jakarta Selatan Widya Graha LIPI lt IV&V Jl. 44. 45. 52. 42. Hefriyadi Thaufiek Gandhi Achie Luhulima Endang Larasati Khalilah Pudja Pramono Pembicara : Kopbumi Region Sumsel Solidaritas Perempuan Convention Watch Convention Watch GPPBM GPPBM GPPBM 46. Dadang Lukman Syahru Muh. Latuharhari 4B Jakarta Pusat 021 3924392 021 7800702 021 3924392 021 3903963 021 3903922 021 3903963 021 3903922 021 3903963 021 3903922 021 3903963 021 3903922 021 2525023 0816 789034 afhr@yahoo. Latuharhari 4B Jakarta Pusat Jl. 37. Latuharhari 4B Jakarta Pusat Jl.com 0812 7842230 Jl. Riwanto LIPI 49. 33.0267 573426 Karawang Jl. Masjid Agung No. Yos Soetiyoso Adhi santika Komnas Perempuan Dephuk HAM 48. Aliyang No.Jend. Savitri Fasilitator : Tati Krisnawati Panitia : Ecosoc Rights Komnas Perempuan 51. Cibinong. Mulyadi Prayitno Epraim Yasmine Adnan Fauzi Kopbumi Region Sulsel TURC TURC SBM Cianjur Jl. Tatik faricha Ratna Sukemi Kopbumi Region Jatim Kopbumi Region Jateng YLMD Lampung Jl. Tenggiri No. Tegal Sawah. Usman Supriyanto SBM Karawang LBH Cianjur Kopbumi Region Jambi AP2BMI Sumbawa Kraung Mongul VII. 9 Jambi Jl. 47. 215A Iringmulyo. 29 30.27.com 0561 766439 0812 5765849 ad_yanto@yahoo. Tety Kuswandari Carolina Divisi PKRD Komnas Perempuan Komnas Perempuan  . Latuharhari 4B Jakarta Pusat Jl. Andriyanto YLBH PIK Pontianak 36. Kuningan.com ylmd_lampung@plasa. Gang Wahid 021 7826008 No. Latuharhari 4B Jakarta Pusat Jl. Ds. Salatiag Jl. 43. Girijaya.com 021 5265711 021 5262199 0815 11397280 0816 889409 021 3903963 021 3903922 021 3903963 021 3903922 021 3903963 021 3903922 35. Jati Padang Raya. 32. 128 Cianjur Perum puri Cemara Indah A2 No. Gatot Subroto 10 Jakarta Selatan Jl. Cianjur . 38. komplek Paragas Sumbawa Besar Jl. Tebet Timur Dalam VIC/17 Jl. 28. Merica No. 12A Pomtianak 0817 6910695 0813 75221242 0812 3726892 aliansi migran samawa@ yahoo. kota Metro Lampung 39. Latuharhari 4B Jakarta Pusat Jl. 34. Jakarta Jl. 64. Lembu No. 40. 18. 50. Kab. Latuharhari 4B Jakarta Pusat Jl. Diponegoro 98. Tales V/16 Surabaya Jl. 6-7.com 0813 30741579 0815 7762868 0725 42756 0815 4063284 sukemi_lpg@plasa. Jakarta Selatan 021 7802529 Salemba 4 Jakarta Salemba 4. 34 Makasar 0811 441129 021 5708777 0812 8246123 021 5708777 Kampung Cibitung Rt 11/Rw 5. HR Rasuna Said Kav.Cianjur Selatan 0263 2360204 0815 63214997 31. Kec. 41.

dan NTB untuk menyempurnakan pedoman menyusun Perda yang berperspektif HAM dan Keadilan Jender (daftar nama terlampir). Kalimantan. Perda perlindungan buruh migran sangat dibutuhkan untuk memastikan buruh migran mempunyai payung hukum sejak dari daerah asalnya. Jawa Tengah. Namun demikian. LSM dan organisasi pemerhati buruh migran di 8 wilayah yaitu di DKI Jakarta. Dengan adanya UU No. Perda bukanlah suatu tongkat sihir yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi buruh migran. buku pedoman ini dapat diselesaikan dan menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada penyumbang pemikiran dari berbagai elemen dari Pemerintah Pusat dan Daerah. Di dalam pedoman ini telah diurai sebagaimana yang diperlukan untuk mengantisipasi kasus-kasus buruh migran dari pra pemberangkatan. Baik yang bersifat mengharuskan maupun yang bersifat larangan kaitannya dengan hal diatas. dan UU 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja ke Luar Negeri mempunyai kekuatan diatas Perda padahal UU ini tidak secara jelas mengatur kewenangan Pemerintah Daerah dalam urusan penempatan buruh migran ke luar negeri dan dalam mengatur penyelesaian masalah buruh migran. Untuk menjamin penghormatan dan penegakan prinsip-prinsip HAM dan keadilan jender. 29/1999 tentang otonomi daerah yang telah direvisi dengan UU No. Sulawesi.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan peluang sekaligus menjawab tantangan bagi Pemerintah Daerah untuk melahirkan Perda bagi perlindungan buruh migran yang mempunyai perspektif HAM dan keadilan jender. masa kerja dan purna kerja yang terjadi. DPRD. Jawa Barat. kerjasama bilateral adalah wilayah kekuasaan Pemerintah Pusat bukan Daerah.KATA PENUTUP P uji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sumatera. Jawa Timur. Merespon kebutuhan di daerah berdasarkan hasil dari seminar nasional. Proses penyusunan pedoman ini mengalami kesulitan mengekstraksikan mozaik aspirasi yang begitu banyak muncul dari proses diskusi di daerah-daerah karena berupaya berupaya semaksimal mungkin. diperlukan pedoman menyusun Perda berperspektif HAM dan keadilan jender. harus dijabarkan sebagai ketentuan di dalam pasal-pasal Perda. dituangkan secara rinci disertai dengan sanksi-sanksi terhadap pelanggarannya. Melihat hal tersebut diatas. keterbatasan Perda bukan alasan untuk tidak menyediakan peraturan di tingkat daerah. FGD dan pertemuan nasional yang dilakukan selama kurun waktu 1 tahun. 0 PEDOMAN MENYUSUN PERATURAN DAERAH TENTANG PERLINDUNGAN BURUH MIGRAN INDONESIA BERPERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA DAN KEADILAN JENDER . bagaimana agar keseluruhan aspirasi bisa terserap. Perda mempunyai keterbatasan di dalam dirinya sendiri seperti : yurisdiksi berlakunya perda. karena perkenan-Nya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful