Anda di halaman 1dari 64

1

BAB I PENDAHULUAN

Ternak ialah hewan yang dipelihara oleh manusia dan hidupnya diatur sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan dan diambil hasil produksinya. Sapi adalah ternak yang dimanfaatkan oleh manusia terutama untuk tenaga, daging, kulit, dan susunya. Sebagai bahan pangan, daging mengandung protein, lemak, mineral, air, dan vitamin dengan variasi komposisi yang berbeda tergantung dari bangsa, pakan yang dikonsumsi, dan umur hewan. Daging sapi mengandung protein hewani yang cukup tinggi. Kebutuhan akan daging meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan pertumbuhan masyarakat, sedangkan produksi daging pada saat ini masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Tingginya permintaan masyarakat akan daging selain disebabkan karena daging mempunyai nilai gizi yang tinggi dan rasanya enak juga didukung oleh kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi untuk menunjang aktivitas hidupnya. Usaha penggemukan sapi di Indonesia semakin berkembang. Saat ini banyak masyarakat maupun perusahaan yang mengusahakan penggemukan sapi potong. Pada awalnya usaha penggemukan sapi dilakukan di daerah pulau Jawa, kemudian menyebar ke beberapa daerah di luar pulau Jawa terutama daerah tujuan transmigrasi pada masa pemerinatahan Orde Baru. Penggemukan sapi dapat dilakukan pada skala rumah tangga maupun dalam skala usaha yang lebih

besar. Tujuan utama usaha penggemukan sapi potong adalah peningkatan bobot badan yang tinggi dalam tempo yang relatif singkat, semakin tinggi peningkatan bobot badan berarti semakin tinggi pula produksi ternak sapi yang dipelihara. Faktor-faktor yang mendukung produksi sapi adalah jenis kelamin, umur, komposisi pakan, kondisi fisiologis ternak, kebersihan lingkungan dan penanggulangan penyakit. Jenis ternak sapi yang mulai dipelihara saat ini semakin beragam, antara lain adalah sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) selain jenis sapi yang umum diternakkan di Indonesia terutama pulau Jawa, yaitu sapi Peranakan Ongole (PO). Selain itu juga disaat harga pakan konsentrat buatan pabrik semakin melambung para peternak harus berpikir lebih keras agar biaya pakan ternak sapi peliharaannya tidak terlalu tinggi, maka digunakanlah pakan yang merupakan sisa pengolahan produk pangan yaitu ampas tahu, dan pakan yang mudah ditemui yaitu singkong. Namun kemampuan respons kedua jenis sapi tersebut terhadap pakan yang sama belum diketahui secara pasti. Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah dengan pemberian bahan pakan penyusun ransum yang dengan mudah ditemui sehari-hari dapat diketahui adanya perbedaan respons pola perkembangan tubuh terhadap pakan antara jenis sapi PO dan PFH, sehingga dapat ditentukan oleh peternak jenis sapi mana yang lebih ekonomis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) Sapi peranakan Friesien Holstein merupakan hasil persilangan antara sapi

jawa asli dengan sapi PFH dengan pola grading up (Abidin, 2002). Sapi PFH merupakan hasil persilangan antara sapi FH dengan sapi lokal yang ada di Indonesia dimana sifat FH-nya lebih menonjol (Muljana, 1985). Sapi PFH mempunyai ciri-ciri fisik mirip dengan sapi FH, antara lain adalah warna belang hitam putih, tanduk pendek dan menjurus ke depan, pada dahi terdapat warna putih yang berbentuk segitiga, mempunyai sifat tenang dan jinak (Siregar, 2003). Sapi PFH jantan juga dapat digemukkan sebagai penghasil daging. Bobot sapi jantan dewasa dapat mencapai 800 1000 kg, dengan pertambahan bobot badan rata-rata 1,03 kg/hr dan persentase karkas 55 60% Arianto, 2003). 2.2. Sapi Peranakan Ongole (PO) Sapi Peranakan Ongole (PO) adalah sapi hasil persilangan antara Sapi Ongole dan sapi Jawa (Pane, 1993). Menurut Murtidjo (1990) dan Darmono (1993) sapi Ongole merupakan sapi keturunan Bos indicus yaitu, sapi yang mempunyai punuk besar dan berhasil didomestikasi di India. sapi Ongole diintroduksi oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-19 dan (Sarwono dan

mengalami perkawinan silang dengan sapi lokal Indonesia dan disebut Peranakan Ongole (Abidin, 2002). Menurut Williamson dan Payne (1993), sapi PO mempunyai ciri-ciri seperti sapi Ongole, yaitu: berpunuk, bergelambir, kulit di sekitar mata berwarna hitam, bertanduk pendek, kulit longgar dengan lipatan-lipatan di bawah leher dan perut, warna kulit putih atau putih keabu-abuan. Menurut Siregar (2003), sapi PO mempunyai pertambahan bobot badan 0,47-0,81 kg/hari dan tergantung kondisi pakan dan pemeliharaan yang baik. 2.3. Kebutuhan Nutrisi Pakan Pemberian ransum khususnya pada penggemukan sapi perlu

mempertimbangkan dahulu zat-zat gizi yang dibutuhkan sapi, pertambahan bobot badan yang ingin atau dapat dicapai dan jumlah zat-zat gizi yang diperlukan untuk mencapai pertambahan bobot badan tersebut (Siregar, 1994). Zat makanan dibutuhkan untuk hidup pokok dan sisanya untuk produksi hewan seperti daging, susu dan cadangan untuk kerja (Tillman et al., 1991). Kebutuhan gizi sapi

tergantung beberapa faktor yaitu umur, bobot badan, pertambahan bobot badan dan tujuan pemeliharaan (Siregar, 1994). Kebutuhan zat pakan sapi potong digunakan untuk mempertahankan hidup, aktivitas tubuh, menjaga kesehatan, kebutuhan hidup pokok maupun untuk reproduksi (Sugeng, 2007). Kebutuhan energi dapat dinyatakan dalam total digestible nutrients (TDN), yaitu jumlah seluruh zat pakan yang dapat dicerna menjadi energi (Sutardi, 1981). Kelebihan energi pada hewan yang sedang

tumbuh digunakan untuk pertumbuhan dan produksi, sedangkan pada ternak muda energi digunakan untuk menyimpan energi dalam bentuk protein dan pada ternak dewasa disimpan dalam bentuk lemak (Tillman et al., 1991). Protein dalam tubuh ternak digunakan untuk memperbaiki jaringan yang rusak, pertumbuhan jaringan baru, metabolisme energi, enzim-enzim yang essensial bagi fungsi tubuh dan hormon-hormon tertentu (Sugeng, 2007). Ternak ruminansia mampu mengubah kualitas protein rendah menjadi lebih baik dengan bantuan mikroorganisme dalam rumen (Parakkasi, 1999). Standar kebutuhan zat gizi untuk penggemukan berdasarkan Courtney dan Rutherglen (1995) untuk Department of Natural Resource and Environment, State Government of Victoria (2002) adalah seperti yang tertera pada Tabel 1. 2.4. Bahan Pakan Menurut Sutardi (1981), bahan pakan adalah bahan-bahan penyusun ransum untuk dimakan oleh ternak. Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi (birahi, konsepsi, dan kebuntingan), serta laktasi (Tillman, et al.,1998). Bahan pakan penyusun ransum ternak sebagian besar terdiri dari bahan-bahan yang berasal dari tanaman, terutama sisa-sisa atau hasil pabrik dan perusahaan yang berupa hasil ikutan (Anggorodi, 1984). Bahan makanan ternak dapat berasal dari tanaman, hasil tanaman dan kadang-kadang juga bahan makanan yang berasal dari ternak atau hewan yang hidup di laut. ), konsumsi pakan adalah jumlah pakan yang

dikonsumsi oleh hewan yang diberikan secara ad libitum. Keragaman konsumsi pakan disebabkan oleh aspek-aspek yaitu aspek individu, spesies dan bangsa ternak, status fisiologis, kebutuhan energi, kualitas pakan dan kondisi lingkungan (Soebarinoto et al., 1991).

Tabel 1. Kebutuhan Nutrisi pada Penggemukan Sapi Potong Menurut Department of Natural Resource and Environment, State Government of Victoria.

Liveweight Growth rate (kg) (kg/day )

150 200 250 300 400 500

1.0 1.0 1.0 1.0 1.0 0.5 1.0 0 0.5 1.0

600

800

0 0.5

Maximum daily Metabolisable Minimum dry matter (DM) energy (EM) ME intake requirement concentration of diet (MJ/day) (MJ/day) Percentage (kg) of liveweight 2.9 4.3 50 11.6 2.8 5.5 59 10.7 2.6 6.6 68 10.3 2.5 7.6 76 10.0 2.4 9.4 93 9.9 2.1 10. 82 7.7 2.1 7 108 10.1 10. 7 2.0 11. 63 5.4 2.0 7 95 8.1 2.0 11. 122 10.4 7 11. 7 1.8 14. 81 5.6 1.8 4 117 8.1 14. 4

Crude protein percentage of dietary dry matter

13 13 13 13 13 11 12 10 11 12

10 10

Seperti halnya unsur nutrisi pada manusia, pakan ternak yang baik adalah pakan yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral (Darmono,1993). Menurut Sugeng (2007), tujuan pemberian pakan ini dibedakan menjadi dua golongan, yaitu makanan perawatan untuk mempertahankan hidup dan kesehatan, dan makanan produksi untuk pertumbuhan dan pertambahan bobot badan. Jumlah pakan yang diperlukan hewan tergantung pada kondisi lingkungan, baik untuk kebutuhan pokok hidup (perawatan) ataupun berproduksi. Bahan pakan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu konsentrat / pakan penguat (produk bijian atau butiran) serta bahan berserat/ pakan kasar (jerami atau rumput) (Blakely dan Bade, 1992). 2.4.1. Pakan Kasar Pakan kasar adalah pakan yang nilai nutrisinya rendah, yakni kandungan nutrisi yang tidak sebanding dengan jumlah fisik volume pakan tersebut, mengandung lebih dari 18% serat kasar, dan rendah kandungan energi termetabolisnya (Ensminger, 1992). Contoh pakan tersebut adalah rumput, jerami, silase, batang jagung, pucuk daun tebu, akar tanaman dan daun ubi. Pakan kasar yang biasa diberikan untuk ternak potong adalah hijauan (rumput gajah) dan limbah industri (Anggorodi, 1994) Jerami padi adalah bagian batang yang telah dipanen bulir-bulir buahnya bersama atau tidak dengan tangkainya dikurangi akar dan bagian batang yang tertinggal setelah disabit (Komar, 1984). Kandungan zat makanan jerami padi menurut Sutardi (1981) adalah 87,5% BK; 4,15% PK dan 43,2% TDN. Jerami

mengandung selulosa yang tidak dapat dicerna oleh pencernaan sapi, karena selulosa tersebut diliputi oleh dinding sel yang keras, yaitu silica dan lignin (Sugeng, 2007). Lebih lanjut dijelaskan bahwa nilai cerna jerami hanya berkisar 30 %, tetapi nilai cerna jerami tersebut dapat ditingkatkan menjadi lebih dari 50% dengan cara silase. 2.4.1.1. Rumput gajah Rumput gajah merupakan rumput potongan yang tumbuh tegak membentuk rumpun, berumur panjang dan tingginya dapat mencapai 2 meter, produksinya dapat mencapai 150-200 ton/Ha/th dengan jarak pemotongan 6-8 minggu (Setiadi, 2001). Menurut Lubis (1992), rumput ini dapat tumbuh dengan baik di daerah pegunungan. Kandungan nutrisi rumput gajah yang masih segar adalah BK 21 %, PK 9,6 %, LK 1,9 %, TDN 52,4 % (Siregar,2003). 2.4.1.2. Hay Hay adalah hijauan pakan ternak yang sengaja dipotong dan dikeringkan sebagai persediaan pada musim paceklik, prinsipnya adalah mengurangi kandungan air hijauan menjadi 15- 20 % dengan cara pemanasan secara cepat (Setiadi, 2001). Dijelaskan lebih lanjut oleh Kartadisastra (1997), hay adalah tanaman hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk kering dengan kadar air antara 20-30 %, dengan demikian kualitas bahan keringnya meningkat. 2.4.2. Pakan Penguat/ Konsentrat Bahan pakan yang dianalisis adalah pakan ternak ruminansia terutama sapi yaitu berupa pakan penguat atau yang sering disebut dengan konsentrat. Pakan

penguat adalah sejenis pakan komplet yang dibuat khusus untuk meningkatkan produksi dan berperan sebagai penguat (Kartadisastra, 1997). Konsentrat adalah pakan dengan kandungan BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen) dan kandungan TDN yang tinggi dan serat kasar rendah (kurang dari 18%) (Ensminger, 1992). Konsentrat adalah pakan ternak yang berasal dari biji-bijian atau hasil samping dari pengolahan produk pertanian misalnya: bungkil kacang, bungkil kedelai, bungkil kelapa, dedak padi, ampas tahu, tetes tebu, dan sebagainya (Darmono, 1993). Menurut Ensminger (1969), konsentrat terdiri dari hasil pengolahan industri pertanian yang kandungan serat kasarnya rendah serta bijibijian. Berdasarkan komposisi dalam konsentrat, maka konsentrat dibagi menjadi dua, yaitu konsentrat sumber energi yang mempunyai kandungan protein kurang dari 20% serta konsentrat sumber protein yang mengandung protein kasar diatas 20%. 2.4.2.1. Ketela pohon Ketela pohon sering disebut juga ubi kayu atau singkong (Manihot spp) termasuk dalam umbi-umbian dan merupakan sumber energi (Hartadi et al., 1997). Ubi kayu lebih baik dipakai dalam campuran pakan yang mengandung protein, vitamin dan mineral, karena ubi kayu tidak mengandung vitamin selain itu pemakaian ubi kayu sebagai bahan pakan perlu diperhatikan karena mengandung racun HCN (asam sianida) (Lubis, 1992). Komposisi zat gizi dari ubi kayu adalah BK 32,3%; SK 4,2%; PK 3,3%; TDN 81,8% (Siregar, 2003).

10

Singkong (Cassava) termasuk familia Euphorbiceae merupakan tanaman perennial yang ditanam untuk diambil umbi dan daunnya sebagai ransum (Sudarman, 1988). Dijelaskan lebih lanjut bahwa singkong tumbuh baik di daerah tropis dengan suhu lingkungan antara 25-29o C, curah hujan 100-1500 mm/tahun, ketinggian kurang dari 1000 m dpl (Wargiono et, al., 2000) dan dapat tumbuh pada daerah yang miskin hara. Untuk memperoleh hasil yang tinggi, singkong lebih baik ditanam di daerah panas dengan penyinaran penuh minimum 10 jam sehari. 2.4.2.2. Ampas tahu Ampas tahu merupakan hasil sampingan (limbah padat) dari industri pembuatan tahu. Ampas tahu mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi yaitu sekitar 27,45% dengan kandungan asam amino essensial terutama methionin dan lisin serta mineral Ca dan P yang cukup tinggi (Mahfudz, 2000). Ampas tahu berbentuk lembut, basah, dan berair, warnanya putih kehijauan atau putih kekuningan dengan kandungan BK 26.2%; PK 23,70%; SK 2,60%; lemak 1,10%; BETN 30,00%; dan abu 70,00% (Siregar, 2003). 2.4.3. Pakan Tambahan (Feed Supplement) Pakan tambahan adalah pakan yang diberikan pada ternak dengan cara dicampur dengan ransum dalam jumlah yang relatif sedikit. Pakan tambahan dapat berupa garam, urea, vitamin, mineral serta mollases. Pemberian pakan tambahan bertujuan untuk merangsang nafsu makan, pemeliharaan kesehatan tubuh dan keperluan produksi (Anggorodi, 1984). Penambahan garam dalam

11

ransum sapi diperlukan untuk menghindari defisiensi mineral (Tillman et al., 1991).

2.5.

Metode Pemberian Pakan Jumlah pakan yang diberikan pada ternak tergantung pada tatalaksana

pemeliharaan, tujuan pemeliharaan dan kebutuhan ternak (Setiadi, 1982). Cara pemberian pakan dapat dilakukan secara terbatas atau tidak terbatas. Pemberian secara terbatas yaitu dengan membatasi pemberian pakan sesuai dengan jumlah gizi yang dibutuhkan ternak, sedangkan cara tidak terbatas yaitu pemberian pakan yang selalu tersedia (Siregar, 1994). Pemberian konsentrat juga dapat diberikan dalam bentuk komboran, yaitu pencampuran pelbagai bahan pakan penyusun ransum konsentrat dan air bersih dengan persentase komposisi yang ditentukan dengan tujuan mempercepat konsumsi pakan konsentrat. 2.5.1. Konsumsi Pakan Pengaturan waktu pemberian konsentrat dan hijauan berpengaruh terhadap proses fermentasi dalam rumen. Konsentrat sebaiknya diberikan terlebih dahulu kemudian hijauan, agar merangsang aktivitas mikroorganisme rumen

(Komar, 1984). Penyajian konsentrat dalam bentuk basah atau kering tidak mempengaruhi produksi atau pertumbuhan maupun perkembangan tubuh (Sutardi, 1981).

12

2.5.2. Konsumsi Air Minum Air termasuk kebutuhan utama yang tidak bisa diabaikan. Dalam kenyataannya, hewan dapat bertahan hidup dalam jangka waktu yang lebih panjang tanpa pakan dibandingkan mereka tanpa air (Ensminger,1992). Air minum perlu diperhatikan dan disiapkan dalam kandang secara tidak terbatas agar ternak dapat mengkonsumsi sesuai kebutuhan (Siregar, 1994). Kebutuhan untuk mengkonsumsi air dipengaruhi oleh konsumsi, jenis pakan dan temperatur sekeliling (Setiadi, 1982). Ternak yang mengalami kekurangan air hingga 20% dari keadaan normal akan mengalami dehidrasi (Sugeng, 2007). Menurut Akoso (1996), kebutuhan air minum untuk masing-masing sapi berbeda tergantung umur, bangsa sapi dan cuaca. Air dalam tubuh sapi berfungsi untuk mengatur suhu badan, membantu proses pencernaan, mengangkut sari makanan dan mengeluarkan sisa makanan (Akoso, 1996). Kebutuhan rata-rata air pada sapi potong untuk tumbuh dengan suhu 21C-27C adalah 4,7 liter air setiap kg bahan kering yang dikonsumsi (Tillman

et al., 1991). Pemberian air pada sapi sebaiknya secara ad libitum, artinya pemberian air minum pada sapi harus selalu tersedia (Sosroamidjojo,

1979). Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi air adalah keadaan iklim, bangsa sapi, umur, dan jenis pakan yang tersedia (Sugeng, 2007). 2.6. Konversi Pakan

13

Konversi pakan (Feed Conversion Ratio) adalah perbandingan atau rasio jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ternak dengan produk yang dihasilkan oleh ternak tersebut. Konversi pakan merupakan petunjuk berapa persen konsumsi pakan diubah menjadi daging (Blakely dan Bade, 1992). Menurut Tillman et al. (1991) konversi pakan dipengaruhi oleh kondisi sapi, palatabilitas pakan, kondisi musim dan manajemen, sedangkan pakan yang dikonsumsi ternak dipengaruhi oleh bobot badan, bangsa, suhu lingkungan, kandungan serat kasar, kandungan air pakan, efisiensi dan perkembangan rumen, kondisi individu, palatabilitas, zat-zat pakan essensial, penyakit dan lain-lain. Menurut Siregar (2003) konversi pakan dipengaruhi oleh bangsa ternak, tersedianya zat-zat pakan ransum dan kesehatan ternak. Semakin bertambahnya umur dan bertambahnya bobot badan ternak, maka konversi pakan juga bertambah. Hal ini dikarenakan pada ternak yang muda memerlukan jumlah yang sedikit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga dapat membentuk pertambahan berat badan. Pemberian pakan tertentu harus dalam jumlah yang besar dan ada beberapa jenis pakan yang disajikan dalam jumlah kecil untuk lebih mengefisiensikan konversi pakan (Lubis, 1982). Pemberian pakan yang cukup dan memenuhi persyaratan antara lain umur, kondisi dan berat ternak, jenis kelamin, bangsa ternak, mutu dan jumlah pakan dalam proses penggemukan akan meningkatkan produk yang dihasilkan (Srigandono, 1991). 2.7. Efisiensi pakan

14

Efisiensi pakan dapat dihitung dari konversi pakan, yakni jumlah pakan yang dikonsumsi untuk mencapai partambahan satu kilogram bobot badan (Siregar, 2003). Berdasarkan perbandingan pertambahan bobot badan dengan total konsumsi bahan kering dikalikan 100%. Efisiensi pakan sangat penting bagi para peternak agar tidak mengalami kerugian akibat terlalu banyak pakan atau kekurangan pakan (Anggorodi, 1984). Ditambahkan oleh Sugeng (2007), bahwa pemberian pakan yang memenuhi syarat dalam proses penggemukan akan menghasilkan produksi yang tinggi. Menurut penelitian yang telah dilakukan, efisiensi penggunaan pakan atau ransum pada sapi Bali, Madura, dan Peranakan Ongole masing-masing adalah 9,8; 13,13; dan 13,29 (Siregar, 2003). 2.8. Pertumbuhan Tubuh Ternak Pertumbuhan adalah pertambahan bobot dan perubahan ukuran jaringanjaringan tubuh seperti daging, tulang dan komposisi tubuh (Anggorodi, 1994). Menurut Soeparno (1992) pertumbuhan merupakan perubahan ukuran tubuh yang meliputi perubahan bobot hidup, bentuk dan komposisi tubuh, termasuk perubahan komponen-komponen tubuh seperti otot, lemak, tulang dan organ serta komponen-komponen kimia termasuk air, lemak, protein dan abu. Pertumbuhan adalah tolok ukur dalam menilai tingkat performans produksi ternak potong pada umumnya. Pertumbuhan dapat diukur dari pertambahan bobot badannya dan laju pertambahan ukuran dimensional badan ternak dan bersifat irreversible/ tidak dapat kembali ke bentuk dan ukuran sebelumnya kecuali ukuran lingkar dada yang dapat berubah ketebalannya hanya

15

sampai batas minimum pada bagian serabut otot dan lemak yang terikat di sekitar wilayah tulang rusuk dada, dan grafik pertumbuhan yang normal akan berbentuk kurva sigmoid (Payne, 1990). Umur, berat badan, bangsa, jenis kelamin, dan penggunaan pakan sangat berpengaruh pada proporsi pembentukan otot, lemak dan tulang pada tingkat pertumbuhan tertentu (Berg dan Butterfield, 1976). Pola pertumbuhan memiliki bentuk pola sigmoid dimana setelah mencapai titik infleksi kecepatan pertumbuhan akan menurun dimana kurva pertumbuhan menggunakan Model Brody (Beltran et, al., 1992) untuk mengestimasikan korelasi antara rata-rata berat badan aktual dengan perkiraan pada umur yang berbeda. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ternak adalah pakan, genetik, jenis kelamin dan lingkungan (Campbell dan Lasley, 1985)

16

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dengan judul Pola Pertumbuhan Sapi Peranakan Ongole dan Sapi Peranakan Friesian Holstein Yang Diberi Pakan Tambahan Campuran Ampas Tahu dan Singkong dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Ternak Potong dan Kerja Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan September 2004 sampai dengan Desember 2004. 3.1. Materi Penelitian Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah empat ekor sapi PO jantan dengan bobot badan rata-rata 204,40 kg + 13,97 kg (CV = 6,84%) dan empat ekor sapi PFH jantan dengan bobot badan rata-rata 204,33 kg + 3,54 kg (CV = 1,73%), dengan umur 1,5 2 tahun. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari timbangan ternak dengan merk dagang SIMA berkapasitas 2000 kg dengan ketelitian hingga 1 kg, timbangan merek Five Goats untuk menimbang ampas tahu, singkong dan rumput gajah dengan kapasitas 5 kg

17

dan ketelitian 20 gram, tongkat ukur untuk mengukur panjang badan dan tinggi pundak, serta pita ukur untuk mengukur lingkar dada ternak sapi. Bahan pakan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ampas tahu dan singkong, sedangkan pakan kasar yang digunakan adalah hay rumput gajah. Kebutuhan bahan pakan dihitung berdasarkan 3% bobot badan. Persentase pemberian pakan kasar dan pakan penguat adalah 30% pakan kasar dan 70% pakan penguat. Air minum diberikan secara ad libitum. Kandungan nutrisi bahan pakan yang digunakan dalam penelitian ditampilkan pada tabel 2. Tabel 2. Kandungan Nutrisi Bahan Pakan Penelitian Bahan Pakan BK PK Abu LK SK BETN

.......................................... % ........................................... Hay Rumput Gajah Ampas Tahu Ubi Kayu 84,88 11,62 35,82 13,04 21,39 2,49 15,14 3,40 1,55 2,13 7,70 0,39 36,79 27,95 4,63 32,90 39,56 90,94

Keterangan: BK = Bahan Kering, PK = Protein Kasar, LK = Lemak Kasar, BETN = Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen 3.2. Metode Penelitian Penelitian dilakukan dalam 4 periode yaitu persiapan (2 minggu), periode adaptasi (2 minggu), periode pendahuluan (2 minggu), dan periode perlakuan (12 minggu). Periode persiapan yaitu dengan mempersiapkan kandang dan perlengkapan materi penelitian serta pemberian antibiotik Penstrep yang

18

mengandung Streptomycin dan Procain penicillin G, serta obat cacing Dovenik disuntikkan lewat intramuskuler dan Vermidizol 20 ml lewat oral begitu juga dengan obat ektoparasit Ektopar. Periode adaptasi dilakukan untuk membiasakan ternak pada pakan yang akan diberikan pada saat perlakuan berlangsung. Semua ternak diberi perlakuan sama dengan pakan sama berupa pakan konsentrat campuran ampas tahu dan singkong cacah serta hay rumput gajah, serta pemberian Biosolamine untuk

memperkuat daya tahan tubuh dan penguat otot. Jumlah pakan diberikan dengan takaran 3% bobot badan dan pemberian pakan berdasarkan bobot badan rata-rata. Pemberian pakan kasar dan pakan penguat berdasarkan kebutuhan protein kasar ternak yakni 12%. Periode pendahuluan dilaksanakan dengan penimbangan bobot badan ternak awal untuk mengetahui koefisien variasi bobot badan. Jenis pakan yang diberikan pada periode ini sama dengan periode adaptasi, dengan ukuran 3% bobot badan ternak. Kegiatan yang dilakukan pada periode perlakuan adalah pemberian pakan dan minum, penimbangan ternak dan pengukuran dimensi tubuh ternak dilakukan 1 minggu sekali. Pemberian konsentrat antar sapi PFH dan PO adalah sama dengan persentase yang sama. Pakan konsentrat diberikan pagi pukul 07.00 WIB, siang pukul 12.00 WIB, dan sore pukul 17.00 WIB. Tiap selang 2 jam setelah pemberian campuran singkong dan ampas tahu, rumput gajah diberikan. Sanitasi kandang dilakukan tiap pagi dan sore hari sebelum pemberian pakan dan dilakukan penimbangan sisa pakan dan pengukuran ketinggian air minum.

19

Pengamatan data dilakukan tiap akhir minggu. Dilakukan 3 kali pengulangan dalam setiap metode pengukuran dimensi tubuh ternak yaitu pengukuran panjang badan, tinggi pundak, dan lingkar dada pada masing-masing sampel ternak yang diamati. Data pendukung adalah PBBH dihitung dengan bobt badan akhir dikurangi bobot badan awal dibagi dengan lama perlakuan dalam satuan hari. 3.3. Pengukuran Bobot Badan Pengambilan data dilakukan 1 minggu sekali yaitu pada hari minggu sebelum pemberian pakan. Aktivitas yang dilakukan adalah mengukur bobot badan, tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada. Bobot badan ditimbang dengan timbangan ternak merk SIMA, panjang badan dan tinggi pundak diukur dengan menggunakan tongkat ukur, sedangkan untuk lingkar dada diukur dengan menggunakan pita ukur. 3.4. Analisa Statistik

3.4.1. Parameter Penelitian Data utama diambil adalah, tinggi pundak, panjang badan dan lingkar dada, data pendukung lainnya adalah pertambahan bobot badan (PBB). Data dianalisis menggunakan metode Independent Sample Comparison (Steel and Torrie, 1984) yaitu dengan membandingkan laju pertumbuhan dua bangsa sapi yang berbeda dengan umur sama. Penelitian ini menggunakan empat ekor sapi Peranakan Ongole dan empat ekor sapi Peranakan Friesian Holstein.

20

Kelompok yang dibandingkan : K1 K2 : Sapi Peranakan Ongole : Sapi Peranakan Friesian Holstein

Kedua kelompok diberi pakan 3% dari bobot badan dengan bahan pakan yang digunakan adalah rumput gajah (30%) dan (70%) campuran ampas tahu dan singkong. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah pola pertumbuhan berupa pertambahan tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada. Parameter pendukung yang lain adalah PBBH. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji-t (t-test) (Steel dan Torrie, 1960), sebagai berikut :

x1 x 2
t hitung =

S1

n1

+ S2

n2

Keterangan:
X1 X2

= Nilai rata-rata populasi 1 = Nilai rata-rata populasi 2 = Jumlah sampel populasi 1 = Jumlah sampel populasi 2

S1 S2

= Varians sampel 1 = Varians sampel 2

n1 n2

Hipotesis statistik untuk penelitian ini adalah :

21

H0 : Tidak ada perbedaan pola pertumbuhan antara sapi PO dan sapi PFH yang mendapat pakan ampas tahu, singkong dan rumput gajah H1 : Terdapat perbedaan pola pertumbuhan antara sapi PO dan sapi PFH yang mendapat pakan ampas tahu, singkong dan rumput gajah Kriteria pengujiannya adalah : Ho diterima jika t hitung < t tabel, pada taraf 5% Ho ditolak jika t hitung > t tabel, pada taraf 5%

22

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Pertambahan Bobot Badan Harian dan Konsumsi Bahan Kering Pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan konsumsi bahan kering

(BK) total pada sapi Peranakan Ongole (PO) dan sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) adalah seperti yang tertera pada tabel 3. Hasil analisis statistik menunjukan bahwa nilai pertambahan bobot badan harian (PBBH) pada kedua bangsa sapi PO (1,07 kg) dan PFH (1,19 kg) tidak berbeda nyata (P>0,05), ini sesuai dengan konsumsi BK pakan sapi PO (5,64 kg) yang tidak berbeda dari sapi PFH (5,83 kg). Namun jika diartikan secara harfiah dilihat dari perolehan bobot badan akhir dan PBBH berbanding dengan konsumsi BK pakan, sapi PFH (Bos taurus) lebih efisien dibanding dengan sapi PO (Bos indicus) seperti yang terlihat pada nilai konversi pakan antara sapi PO (5,27) dan sapi PFH (4,89). Tabel 3. Data hasil rata-rata Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) dan konsumsi Bahan Kering (BK) Sapi PO dan PFH. Parameter Sapi PO Sapi PFH Keterangan

23

------------------------ kg ---------------------Bobot badan awal (kg) Bobot badan akhir (kg) PBBH Konsumsi BK Total (kg) BK Hijauan (kg) BK Konsentrat (kg) Konversi Pakan 204,40 249,50 1,07 5,64 1,62 4,03 5,27 204,33 254,50 1,19 5,83 1,33 4,49 4,89 ns ns ns ns ns -

4.2.

Pertambahan Dimensi Ukuran Tubuh Pertambahan tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, dan PBBH

ditampilkan pada Tabel 4. Pada tabel tersebut didapatkan hasil yang menunjukkan signifikasi perbedaan antara kedua kelompok bangsa sapi.

Tabel 4. Data hasil Pertambahan rata-rata panjang badan, tinggi pundak, dan lingkar dada pada Sapi PO dan PFH. Parameter Pertambahan Tinggi Pundak (cm) Pertambahan Panjang Badan (cm) Pertambahan Lingkar Dada (cm) Sapi PO 0,77 2,19 1,49 Sapi PFH 0,62 1,43 0,76 Ket. ns s ns

Keterangan : ns = tidak berbeda nyata pada taraf 5% (P>0,05) s = berbeda nyata pada taraf 5% (P<0,05) Hasil analisis secara statistik rata-rata pertambahan tinggi pundak pada sapi PO dan PFH tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada taraf 5% (P>0,05) antara sapi PO (0,77 cm) dengan sapi PFH (0,62 cm), namun pada rata-

24

rata pertambahan panjang badan terdapat perbedaan yang signifikan pada taraf 5% (P<0,05) antara sapi PO (2,19 cm) dan sapi PFH (1,43 cm). Sementara itu ratarata pertambahan lingkar dada pada sapi PO (1,49 cm) secara deskriptif lebih tinggi dari sapi PFH (0,76 cm), meskipun secara statistik perbedaannya tidak

signifikan (P>0,05). Meskipun konsumsi pakan sapi PO lebih rendah dari sapi PFH (lih. tabel 3). Apabila dilihat dari pertambahan tinggi pundak yang tidak signifikan bisa ditarik 2 kesimpulan sementara, yaitu kedua jenis sapi tersebut (PO dan PFH) belum mencapai fase pertumbuhan meninggi yang maksimum, atau bahkan sudah melewati masa pertumbuhan meninggi yang maksimum dan mulai masuk ke tahap fase pertumbuhan berikutnya. Ditilik dari pertambahan panjang tubuh yang signifikan diketahui bahwa sapi PO dan PFH telah melewati fase pertumbuhan meninggi dan sedang memasuki fase pertumbuhan memanjang, namun belum mencapai maksimum, pernyataan ini diperkuat oleh hasil pertambahan lingkar dada yang tidak menunjukkan perbedaan, dimana fase pertumbuhan selanjutnya adalah fase pertumbuhan melingkar. Perbedaan kemampuan mencapai titik inklesi (incletion) atau masuk masa pubertas pada PFH lebih cepat daripada PO, disebabkan karena pada sapi PFH yang merupakan keturunan sapi daerah sub-tropis (Bos Taurus) mengalami pematangan seks lebih cepat daripada sapi PO sebagai sapi daerah tropis (Bos Indicus) (Sugeng, 2007), hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono dan Arianto (2003), yang menyatakan bahwa sapi PO tergolong lambat dewasa, dengan bobot rata-rata sapi jantan 400-559 kg dan sapi betina 300-400 kg.

25

Fenomena ini dapat dijelaskan, bahwa laju pertumbuhan menuju maturitas tidaklah sama, karena keduanya adalah keturunan dari 2 bangsa yang berbeda secara genetis, yaitu PO dari golongan bangsa sapi tropis (Bos indicus) dan PFH dari golongan bangsa sapi sub-tropis (Bos taurus). Seperti diketahui keturunan Bos indicus memiliki tubuh yang tipis/ sempit, berkaki lebih panjang dan mempunyai panjang badan yang tinggi, sedangkan pada golongan sapi Bos taurus memiliki bentuk badan yang lebih kompak dan gilig, disebabkan karena garis punggung lurus dan rata, rongga dada berkembang lebih baik ditambah dengan timbunan lemak pada sapi dewasa cukup tebal, dan kaki yang relatif pendek (Sugeng, 2007). Pada periode ini sapi PO dan sapi PFH sedang masuk dalam fase pertumbuhan memanjang ditilik dari laju pertambahan tinggi pundak pada keduanya tidaklah signifikan, dan laju rata-rata pertambahan panjang badan menjadi signifikan pada taraf 5% (P>0,05). Sesuai dengan pendapat Sugeng (2007), bahwa pertumbuhan kaki lebih awal daripada bagian tubuh lain, seperti pungung dan pinggang, sehingga dapat diartikan bahwa kedua jenis bangsa sapi sudah melewati fase pertumbuhan meninggi namun belum masuk fase pertumbuhan melingkar, karena pertambahan lingkar dada yang tidak signifikan pada taraf 5% (P>0,05). Sedangkan terdapat perbedaan pada panjang badan yang signifikan dikarenakan adanya perbedaan respon jenis bangsa sapi terhadap pakan yang dikonsumsi yang menyebabkan adanya perbedaan laju pertumbuhan (Soeparno, 1994). Proses pertumbuhan pada tulang belakang tidak terjadi serempak, karena pendewasaan sacral vertebrae terjadi sebelum lumbar vertebrae, dan pendewasaan lumbar vertebrae terjadi

26

sebelum thoracic vertebrae (Forrest et. al, 1975), sehingga pertambahan panjang badan PO lebih tinggi dari PFH.

BAB V KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah antara sapi PO dan PFH tidak ada perbedaan dalam performa produksi (PBBH), pertambahan tinggi pundak dan pertambahan lingkar dada, namun terdapat perbedaan pada laju pertumbuhan seperti yang ditampakkan oleh perbedaan panjang badan.

27

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2002. Penggemukan Sapi Potong. AgroMedia Pustaka, Jakarta. Anggorodi, R. 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia, Jakarta. Beltran, J. J., W. T. Butts, Jr., T. A. Olson, and M. Koger. 1992. Growth Patterns of Two Lines of Angus Cattle Selected Using Predicted Growth Parameters. ARS, Subtropical Agriculture Research Station, U. S. Department of Agriculture, Brooksville, Florida 34605 0046. Berg, R. T. and R. M. Butterfield. 1976. New Concept of Cattle Growth. Sidney University Press, Sidney. Campbell, J. R. dan J. F. Lasley. 1985. The Science of Animal that Serve Humanity. Edisi ke-3. Tata Mc. Graw Hill Publishing Co. Ltd., New Delhi. Ensminger, M. E. 1969. Animal Science. Sixth Edition. The Interstate Printer and Publisher, Singapore. Ensminger. M. E. 1992. The Stockmans Handbook. Cetakan ke-7. Interstate Publisher, Inc, Danville. Forrest, J. C., Aberle, E. D., Hedrick, H.B.,Judge, M. D., and Merkel, R. A. 1975. Principles Of Meat Science. W. H. Freeman & Co., San Francisco. Lubis, D. A. 1982. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Pembangunan, Jakarta. Mahfudz, L. D. 2000. Pengaruh Penggunaan Ampas Tahu Terhadap Efisiensi Penggunaan Protein dan Kualitas karkas Ayam Pedaging. Sainteks Vol. VII No. 2 Maret. Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Pane, I. 1993. Pemuliabiakan Ternak Sapi. Cetakan ke-3. PT Gramedia, Jakarta.

28

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Makanan Nutrisi dan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia Press, Jakarta. Payne, W. J. A. 1990. An Introduction to Animal Husbandry in The Tropics. John willey & Sons, inc., New York. Sarwono, B. dan H. B. Arianto. 2003. Penggemukkan Sapi Potong Secara Cepat. Cetakan ke-3. Penebar Swadaya, Jakarta. Siregar, S. B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta. Siregar, S. B. 2003. Penggemuikan Sapi. Penebar Swadaya, Jakarta. Soebarinoto, Chuzaemi. S. dan Mashudi. 1991. Ilmu Gizi Ruminansia. Universitas Brawijawa (Tidak Diterbitkan), Malang. Soeparno. 1994. Ilmu Teknologi Daging. Cetakan ke-2. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Steel, R. G. D. dan J. H. Torrie. 1984. Principles and Procedures of Statistics, A Biometrical Approach. Edisi ke-2. McGraw-Hill International Book Company, Singapura. Sugeng, Y. B. 2007. Sapi Potong. Cetakan ke-16. Penebar Swadaya, Jakarta. Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-6. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Wargiono, J., dkk. 2000. Terknologi Produksi Benih Ubikayu dan Ubijalar. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor. Williamson, G. dan Payne, W. J. A. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh S. G. N. Djiwa Darmadja dan Ida Bagus Djagra)

29

LAMPIRAN

Lampiran 1. Pertambahan Tinggi Pundak Materi Penelitian.

Tabel 4. Pertambahan Tinggi Pundak Sapi PO 1. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Tinggi Pundak

Pertambahan Tinggi Pundak

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Tinggi Pundak 122,8 123 123,3 123,3 124,6 127 128 122,7 123 123 123,7 124,3 126,8 127 122,7 122,8 123,5 123,7 124 127 127 122,73 122,9333 123,2667 123,5667 124,3 126,9333 127,3333 0,766666667 0,2 0,333333 0,3 0,733333 2,633333 0,4

30

Tabel 5. Pertambahan Tinggi Pundak Sapi PO 2. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Tinggi Pundak

Pertambahan Tinggi Pundak

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Tinggi Pundak 118 119 119,4 120 120,9 122 122,3 118 119,1 119,6 120 120,6 122,5 123,6 118,5 118,9 119,9 120 120,4 123 122,6 118,17 119 119,6333 120 120,6333 122,5 122,8333 0,777777778 0,8333 0,633333 0,366667 0,633333 1,866667 0,333333

31

Tabel 6. Pertambahan Tinggi Pundak Sapi PO 3. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Tinggi Pundak

Pertambahan Tinggi Pundak

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Tinggi Pundak 123 125,7 126,3 127,7 128 129,4 130 123,7 125,8 126 127,8 128,8 128,6 129,5 123,5 125,4 126,5 127,7 128,4 128,4 129 123,4 125,6333 126,2667 127,7333 128,4 128,8 129,5 1,016666667 2,2333 0,633333 1,466667 0,666667 0,4 0,7

32

Tabel 7. Pertambahan Tinggi Pundak Sapi PO 4. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Tinggi Pundak

Pertambahan Tinggi Pundak

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Tinggi Pundak 119 121,2 122,2 123,6 124,3 125 125,3 120 121 122,5 123,7 124,2 124,7 125 120 121,2 121,9 123,4 124,6 124,9 125,8 119,67 121,1333 122,2 123,5667 124,3667 124,8667 125,3667 0,95 1,4667 1,066667 1,366667 0,8 0,5 0,5

33

Tabel 8. Pertambahan Tinggi Pundak Sapi PFH 1. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Tinggi Pundak

Pertambahan Tinggi Pundak

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Tinggi Pundak 116 117,1 117,9 117,9 118,4 120,4 121 116,5 117,4 117,4 117,4 119 119,8 121 117 117,4 117,4 117,6 119,5 120,4 120,5 116,5 117,3 117,5667 117,6333 118,9667 120,2 120,8333 0,722222222 0,8 0,266667 0,066667 1,333333 1,233333 0,633333

34

Tabel 9. Pertambahan Tinggi Pundak Sapi PFH 2. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Tinggi Pundak

Pertambahan Tinggi Pundak

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Tinggi Pundak 115,5 116,1 116,4 117,5 117,6 118 119 116 116,5 116,7 117,5 117,8 118,4 119,1 116 116,5 116,5 117 117,7 118,2 119,6 115,83 116,3667 116,5333 117,3333 117,7 118,2 119,2333 0,566666667 0,5333 0,166667 0,8 0,366667 0,5 1,033333

35

Tabel 10. Pertambahan Tinggi Pundak Sapi PFH 3. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Tinggi Pundak

Pertambahan Tinggi Pundak

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Tinggi Pundak 122,7 123,7 124 125,2 125,4 126,3 127 123,5 124,7 124 124,2 125,8 126,2 126,3 124 123,4 124,3 124,7 125,6 125,8 126 123,4 123,9333 124,1 124,7 125,6 126,1 126,4333 0,505555556 0,5333 0,166667 0,6 0,9 0,5 0,333333

36

Tabel 11. Pertambahan Tinggi Pundak Sapi PFH 4. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Tinggi Pundak

Pertambahan Tinggi Pundak

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Tinggi Pundak 114 114,8 116,4 116,7 118 120,5 121 114,5 115,1 116,3 116,7 118 120,5 120,6 114 114,7 116,3 118 118 119,9 120,5 114,17 114,8667 116,3333 117,1333 118 120,3 120,7 1,088888889 0,7 1,466667 0,8 0,866667 2,3 0,4

37

Lampiran 2. Pertambahan Panjang Badan Materi Penelitian.

Tabel 12. Pertambahan Panjang Badan Sapi PO 1. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Panjang Badan

Pertambahan Panjang Badan

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Panjang Badan 100 99,5 104 109 107,7 109 110 97 99,5 104,5 107,5 108,5 108,5 109 97 100 105,5 108 109,5 109,5 109,4 98 99,66667 104,6667 108,1667 108,5667 109 109,4667 1,911111111 1,666667 5 3,5 0,4 0,433333 0,466667

38

Tabel 13. Pertambahan Panjang Badan Sapi PO 2. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Panjang Badan

Pertambahan Panjang Badan

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Panjang Badan 90 93 98 109,5 112,5 113 113,5 92 91 94 108,5 112 112,5 113 92 93 94 110 111,5 112,5 112,5 91,33333 92,33333 95,33333 109,3333 112 112,6667 113 3,611111111 1 3 14 2,666667 0,666667 0,333333

39

Tabel 14. Pertambahan Panjang Badan Sapi PO 3. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Panjang Badan

Pertambahan Panjang Badan

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Panjang Badan 90 92 99 101 102,2 104 105 89 91,5 97 102 102,2 102,5 103 90,5 90 97,5 103 103,1 103 104 89,83333 91,16667 97,83333 102 102,5 103,1667 104 2,361111111 1,333333 6,666667 4,166667 0,5 0,666667 0,833333

40

Tabel 15. Pertambahan Panjang Badan Sapi PO 4. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Panjang Badan

Pertambahan Panjang Badan

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Panjang Badan 87 95,5 101 103 103,7 104 105 86 95,5 102 102,5 104 104,5 105 87 96 102 103,5 104 104 104,5 86,66667 95,66667 101,6667 103 103,9 104,1667 104,8333 3,027777778 9 6 1,333333 0,9 0,266667 0,666667

41

Tabel 16. Pertambahan Panjang Badan Sapi PFH 1. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Panjang Badan

Pertambahan Panjang Badan

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Panjang Badan 103 103 109 112 111,5 112 113 102,5 104 110 111,5 111,5 112 113 103,5 104 109 110 112,5 112 112,5 103 103,6667 109,3333 111,1667 111,8333 112 112,8333 1,638888889 0,666667 5,666667 1,833333 0,666667 0,166667 0,833333

42

Tabel 17. Pertambahan Panjang Badan Sapi PFH 2. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Panjang Badan

Pertambahan Panjang Badan

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Panjang Badan 97 98,5 107 109,5 110 111 111,5 98 98,5 106 110 110,1 111 112 98 99 106 108,5 109,9 110 111 97,66667 98,66667 106,3333 109,3333 110 110,6667 111,5 2,305555556 1 7,666667 3 0,666667 0,666667 0,833333

43

Tabel 18. Pertambahan Panjang Badan Sapi PFH 3. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Panjang Badan

Pertambahan Panjang Badan

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Panjang Badan 101 104 108 111 111,7 112 112,4 100 105 107,5 110 112 112,3 112,7 100 104 108 111,5 112,4 113 113,6 100,3333 104,3333 107,8333 110,8333 112,0333 112,4333 112,9 2,094444444 4 3,5 3 1,2 0,4 0,466667

44

Tabel 19. Pertambahan Panjang Badan Sapi PFH 4. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Panjang Badan

Pertambahan Panjang Badan

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Panjang Badan 91 100 102 103,5 104,5 105 105 93,5 100 101 104 103,9 105 106 93,5 99,5 103 103 103,6 104 106 92,66667 99,83333 102 103,5 104 104,6667 105,6667 2,166666667 7,166667 2,166667 1,5 0,5 0,666667 1

45

Lampiran 3. Pertambahan Lingkar Dada Materi Penelitian.

Tabel 20. Pertambahan Lingkar Dada Sapi PO 1. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Lingkar Dada

Pertambahan Lingkar Dada

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Lingkar Dada 146 148 150 152 152 156 157 144,5 148 148 151 152 157 157,5 144,5 147,8 148,5 150,4 153 156,8 157 145 147,9333 148,8333 151,1333 152,3333 156,6 157,1667 2,027777778 2,933333 0,9 2,3 1,2 4,266667 0,566667

46

Tabel 21. Pertambahan Lingkar Dada Sapi PO 2. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Lingkar Dada

Pertambahan Lingkar Dada

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Lingkar Dada 145 145,5 145 146,7 148,5 147,8 148 145 145,5 147 147 147,5 148 148,5 144 145 147 146,5 147 148 148,7 144,6667 145,3333 146,3333 146,7333 147,6667 147,9333 148,4 0,622222222 0,666667 1 0,4 0,933333 0,266667 0,466667

47

Tabel 22. Pertambahan Lingkar Dada Sapi PO 3. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Lingkar Dada

Pertambahan Lingkar Dada

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Lingkar Dada 149 150,8 152 154 166,8 168 169 147,5 151,9 153,5 154 167,5 167,5 167,5 149,5 152 153 155,5 166,9 167 167,8 148,6667 151,5667 152,8333 154,5 167,0667 167,5 168,1 3,238888889 2,9 1,266667 1,666667 12,56667 0,433333 0,6

48

Tabel 23. Pertambahan Lingkar Dada Sapi PO 4. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Lingkar Dada

Pertambahan Lingkar Dada

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Lingkar Dada 138,5 140 141,3 145,3 146,5 146,4 146,9 138,5 140,5 141 142 145 145,5 146 141 140,3 140,5 143,5 145 145,5 145,3 139,3333 140,2667 140,9333 143,6 145,5 145,8 146,0667 1,122222222 0,933333 0,666667 2,666667 1,9 0,3 0,266667

49

Tabel 24. Pertambahan Lingkar Dada Sapi PFH 1. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Lingkar Dada

Pertambahan Lingkar Dada

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Lingkar Dada 145,5 146,5 148,1 148,6 150,2 149,9 150 146 147 147 148,8 150 152 152,2 145,5 146 146,5 147,8 150 150 152 145,6667 146,5 147,2 148,4 150,0667 150,6333 151,4 0,955555556 0,833333 0,7 1,2 1,666667 0,566667 0,766667

50

Tabel 25. Pertambahan Lingkar Dada Sapi PFH 2. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Lingkar Dada

Pertambahan Lingkar Dada

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Lingkar Dada 145 146 147 150 150,2 150,3 151 145,5 146,2 148 149,5 150 150 151,5 145 146 146 149 149,8 151 150,5 145,1667 146,0667 147 149,5 150 150,4333 151 0,972222222 0,9 0,933333 2,5 0,5 0,433333 0,566667

51

Tabel 26. Pertambahan Lingkar Dada Sapi PFH 3. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Lingkar Dada

Pertambahan Lingkar Dada

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Lingkar Dada 148,5 150 149,5 154 156 155 156 148,2 148,5 150 155 154 156 156 147,8 148,5 150,5 155,3 156,2 157 157 148,1667 149 150 154,7667 155,4 156 156,3333 1,361111111 0,833333 1 4,766667 0,633333 0,6 0,333333

52

Tabel 27. Pertambahan Lingkar Dada Sapi PFH 4. Ulangan Minggu A B C Rata-rata Lingkar Dada

Pertambahan Lingkar Dada

........................................... cm ................................................ 1 2 3 4 5 6 7 Rata-rata Pertambahan Lingkar Dada 147 147 148,5 147 149,5 150,8 150,5 147,5 147 147 149 149,5 150 151 147 148,9 148 148,5 150,4 150,4 151 147,1667 147,6333 147,8333 148,1667 149,8 150,4 150,8333 0,611111111 0,466667 0,2 0,333333 1,633333 0,6 0,433333

53

Lampiran 3. Data Bobot Badan dan Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) sapi Penelitian. Sapi Peranakan Ongole (PO) Ulangan Bobot Badan Awal Bobot Badan Akhir PBBH

................................................ kg .......................................... 1 2 3 4 Rata-rata 223,00 189,30 204,30 201,00 204,40 276,50 228,00 257,50 236,00 249,50 1,27 0,92 1,27 0,83 1,07

Sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) Ulangan 1 2 3 4 Rata-rata Bobot Badan Awal Bobot Badan Akhir PBBH ................................................ kg .......................................... 201,00 204,00 203,00 209,30 204,33 250,00 246,00 269,00 253,00 254,50 1,17 1,00 1,57 1,04 1,19

54

Lampiran 4. Uji t-student untuk Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) Ulangan 1 2 3 4 Rata-rata Standar Deviasi (SD) Varians (S2) S2 gabungan S2 gabungan S2 gabungan S2 gabungan S gabungan t hitung = = = = = = Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH ................................ kg .............................. 1,27 1,17 0,92 1 1,27 1,57 0,83 1,04 1,07 1,19 0,23 0,26 0,05 0,07 (n1 1) S21 + (n2 1) S22 n1 + n2 2 (4 1) 0,05 + (4 1) 0,07 4+42 0,15 + 0,21 6 0,06 0,25 X1 - X2 S gab 1/n1 + 1/n2 t hitung = 1,07 - 1,19 0,25 + t hitung = 0,12

55

0,25 x 0,707 t hitung = 0,70 ns Lampiran 5. Uji t-student untuk Konsumsi Bahan Kering (BK) Total Ulangan 1 2 3 4 Rata-rata Standar Deviasi (SD) Varians (S2) S2 gabungan S2 gabungan S2 gabungan S2 gabungan S gabungan t hitung = = = = = = Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH ................................ kg .............................. 6,58 4,75 5,69 5,58 5,87 6,36 4,43 6,62 5,64 5,83 0,90 0,84 0,80 0,71 (n1 1) S21 + (n2 1) S22 n1 + n2 2 (4 1) 0,80 + (4 1) 0,71 4+42 2,4 + 2,13 6 0,76 0,87 X1 - X2 S gab 1/n1 + 1/n2 t hitung = 5,64 - 5,83 0,87 + t hitung = 0,19 0,87 x 0,707 t hitung = 0,30 ns

56

Lampiran 6. Uji t-student untuk Konsumsi Bahan Kering (BK) Rumput Gajah Ulangan 1 2 3 4 Rata-rata Standar Deviasi (SD) Varians (S2) S2 gabungan S2 gabungan S2 gabungan S2 gabungan S gabungan t hitung = = = = = = Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH ................................ kg .............................. 1,95 0,61 1,93 1,26 1,49 1,57 1,10 1,89 1,62 1,34 0,40 0,55 0,16 0,30 (n1 1) S21 + (n2 1) S22 n1 + n2 2 (4 1) 0,16 + (4 1) 0,30 4+42 0,48 + 0,90 6 0,23 0,48 X1 - X2 S gab 1/n1 + 1/n2 t hitung = 1,62 - 1,33 0,48 + t hitung = 0,29 0,48 x 0,707 t hitung = 0,83 ns Lampiran 7. Uji t-student untuk Konsumsi Bahan Kering (BK) Konsentrat

57

Ulangan 1 2 3 4 Rata-rata Standar Deviasi (SD) Varians (S2) S2 gabungan S2 gabungan S2 gabungan S2 gabungan S gabungan t hitung = = = = = =

Bangsa Sapi Sapi PO Sapi PFH ................................ kg .............................. 4,63 4,14 3,76 4,32 4,93 4,79 3,33 4,73 4,03 4,49 0,59 0,32 0,35 0,10 (n1 1) S21 + (n2 1) S22 n1 + n2 2 (4 1) 0,35 + (4 1) 0,10 4+42 1,05 + 0,30 6 0,225 0,47 X1 - X2 S gab 1/n1 + 1/n2

t hitung

4,03 - 4,49 0,47 +

t hitung

0,46 0,47 x 0,707

t hitung = 1,384 ns Lampiran 8. Uji t-student untuk Pertambahan Tinggi Pundak Sapi Penelitian Ulangan Bangsa Sapi PO PFH ................................. cm .................................

58

1 2 3 4
X
X
X
2

0,666666666 0,639390909 0,81515454 0,95 0,767803028 3,071212115 2,420242102 0,143939962 0,124655664 0,020718712

0,612118184 0,539400003 0,536363636 0,784845454 0,618181819 2,472727277 1,569309371 0,11649653 0,100888954 0,013571441

SD Sampel SD Populasi SD2 Uji homogenitas F hit =


v arians_ terbesar varian s_ terkecil
0,02071871 2 0,01357144 1
1,52664053 9

= =

F tab (0,05)(3;3) = 9,28 F tab > F hit = Homogen, maka T tabel (0,05; n1+n2-2) (Steel and Torrie, 1984)

T hit

2 1 S 12 d S 22 d + n1 n2

= = =

0 6832 ,7 7 0 0 0 2781 ,0 0 1 7 4

8- 0 1111 ,6 8 8 8 2 0 1514 ,0 3 7 4 + 4

9 1

0 4610 ,1 9 2 2 0,0 8 7 5 8 05232

9 5

0 4610 ,1 9 2 2 9 0,0 2 8 0 2 9580

59

1,615989175

T tab (0,05; 6 ) = 1,943 T tab > T hit = H0 diterima, tidak ada perbedaan nyata pertambahan tinggi pundak antara sapi PO dan PFH.

Lampiran 9. Uji t-student untuk Pertambahan Panjang Badan Sapi Penelitian Ulangan Bangsa Sapi PO PFH ................................. cm ................................. 1,911116667 2,178788182 1,645451818 3,027771667 1,242418182 1,609093636 1,406063636 1,47273

1 2 3 4

60

X
X
X
2

2,190782084 8,763128334 20,27439781 0,598969465 0,518722772 0,35876442

1,432576364 5,730305454 8,27873387 0,152352355 0,13194101 0,02321124

SD Sampel SD Populasi SD2 Uji homogenitas F hit =


v aria n s_ terb esa r v arian s_ terkec il
0,35876442 0,02321124
15,4565

= =

F tab (0,05)(3;3) = 9,28 F tab < F hit = Tidak Homogen, maka T tabel (0,05; v) (Pius, 2005)
2

S12 S 22 + n 1 n2
v =
2

S12 S 22 n n 1 + 2 n1 1 n2 1

0,35876442 0,02321124 + 4 4 2 2 0,35876442 0,02321124 4 4 + 4 1 4 1

+ 0,00580281 ) 0,0080444943 16 0,0000336726 039 + 3 3


2

( 0,089691105

0,0091190878 02 0,0026814981 05 + 0,0000112242 013

61

= =

0,0091190878 0,0026927223
3,386568224

02 07

= 3

T hit

2 1 S 12 d S 22 d + n1 n2

2 9728 ,1 0 8 0 0 5742 ,3 8 6 4 4

4 -1 3 5 6 6 ,4 2 7 3 0 2214 ,0 3 1 2 + 4

0 5252 ,7 8 0 7 0,0 5 9 9 5 9431

= =

0 5252 ,7 8 0 7 0,3 9 2 8 7 0009

2,453574264

T tab (0,05; 3 ) = 2,353; T tab < T hit = H0 ditolak, ada perbedaan nyata pertambahan panjang badan antara sapi PO dan PFH.

62

Lampiran 10. Uji t-student untuk Pertambahan Lingkar Dada Sapi Penelitian

Ulangan

1 2 3 4
X
X
X
2

Bangsa Sapi PO PFH ................................. cm ................................. 2,027783333 0,745454545 0,6606 2,151509091 1,122233333 1,490531439 5,962125757 10,43669663 0,718786185 0,622487096 0,516653579 0,79090909 0,984845454 0,52120909 0,760604544 3,042418179 2,422819151 0,190387374 0,164880302 0,036247352

SD Sampel SD Populasi SD2

63

Uji homogenitas F hit =


v arian s_ te rb esar v arian s_ terkec il
0,51665357 9 0,03624735 2
14,2535537 2

= =

F tab (0,05)(3;3) = 9,28 F tab < F hit = Tidak Homogen, maka T tabel (0,05; v) (Pius, 2005)
2

S12 S 22 + n 1 n2
v =
2

S12 S 22 n n 1 + 2 n1 1 n2 1

0,51665357 9 0,03624735 2 + 4 4 2 2 0,51665357 9 0,03624735 2 4 4 + 4 1 4 1


+ 0,009061838 ) 0,016683182 0,0000821169 0794 + 3 3
2

( 0,129163394

= = =

0,019106214 0,0055610606 67 + 0,0000273723 0265 0,019106214 0,0055843297


3,421397916

= 3

T hit

2 1 S 12 d S 22 d + n1 n2

64

1 9513 ,4 0 3 4 0 1768 ,7 8 8 1 4

9-0 6644 ,7 0 0 5 5 0 9377 ,1 0 8 3 + 4

4 4

= = =

0 2969 ,7 9 2 8 0,1 8 2 2 2 3253

0 928 ,72 9 6 9 5 0,3 7 6 4 71 8 5 1

1,96329564

T tab (0,05; 3 ) = 2,353; T tab > T hit = H0 diterima, tidak ada perbedaan nyata pertambahan panjang badan antara sapi PO dan PFH.