Anda di halaman 1dari 43

Kusmayati (030.06.142) Pembimbing: Dr. Mathilda Yvonne Inkiriwang Sp.

PENDAHULUAN
Masalah khusus pada bayi ketidakmampuannya mempertahankan suhu tubuh normal.

DEFINISI
y Termoregulasi merupakan kemampuan untuk menyeimbangkan antara produksi panas dan hilangnya panas dalam rangka menjaga suhu tubuh pada keadaan normal y Suhu normal bayi baru lahir antara 36-36,5C y Suhu basal tubuh (rektal) antara 36,5-37,5C

FAKTOR RESIKO
Resiko terjadinya gangguan termoregulasi : y Bayi Prematur y Bayi dengan kelainan bawaan khususnya dengan penutupan kulit yang tidak sempurna. y Neonatus dengan gangguan saraf sentral y Bayi dengan sepsis y Bayi dengan tindakan resusitasi yang lama y Bayi IUGR (Intra Uterine Growth Retardation) atau Janin Tumbuh Lambat

KLASIFIKASI

KLASIFIKASI

KLASIFIKASI
Hipotermia
Hipotermia pada neonatus terjadi ketika temperatur suhu tubuh turun dibawah 36,5C pada bayi baru lahir (WHO)

KLASIFIKASI
Faktor dan Penyebab hipotermia 3: y Kurangnya kepedulian menjaga kehangatan neonatus y Pemisahan bayi dengan ibunya y Lingkungan dingin pada transportasi dan area perawatan. y Perubahan temperatur dari janin ke lingkungan ekstrauterin. y Adanya heat loss . y Karakteristik neonatus, y Neonatus resiko tinggi

KLASIFIKASI
Akibat hipotermia: - hipoksia - hipoglikemia, - asidosis metabolik, - distress pernapasan, - sepsis neonatus, - neonatus jaundice, - gangguan fungsi jantung, - defek koagulasi, - sudden infant death syndrom, - delayed growth and development, - retardasi mental dan lainnya.3

KLASIFIKASI
Hipertermia y Faktor penyebab : y Suhu lingkungan yang berlebihan, y Infeksi, y Dehidrasi, y perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma lahir pada otak, malformasi dan obat-obatan.2 y Sepsis neonatal merupakan salah satu penyebab utama kematian pada neonatus (suhu lebih dari 38C).

FISIOLOGI
y Rasio luas permukaan tubuh dengan berat badan bayi >3x orang dewasa. y Kehilangan panas bayi > cepat 4x orang dewasa. y Jika temperatur kulit turun hanya 1C dari suhu ideal 36,5C, penggunaan oksigen pada bayi meningkat hingga 10%.

FISIOLOGI (2)
Stabilisasi temperatur bayi dengan menjaga thermal neutral zone

FISIOLOGI (3)
Pada kehidupan janin, plasenta berperan dalam pertukaran panas dengan ibu

FISIOLOGI (4)
Stimulasi dari kulit dan reseptor suhu dalam tubuh

Hipotalamus

Perubahan metabolisme Tonus motorik, Aktivitas vasomotorik,Pengeluaran keringat Kehilangan atau pembetukan panas tubuh

FISIOLOGI (5)
Mekanisme Termoregulasi Hipotalamus

FISIOLOGI (6)
Mekanisme Penurunan dan Peningkatan Panas di Hipotalamus

FISIOLOGI (7)
y Produksi Panas pada Tubuh (Heat Gain) Mekanisme produksi panas/non-shivering termogenesis (NST) dengan sumber panas berupa jaringan lemak coklat.

FISIOLOGI (8)
Kehilangan Panas pada Tubuh (Heat loss) Panas yang hilang dapat berlangsung secara 3 : 1. Radiasi 2. Konveksi 3. Konduksi 4. Evaporasi

FISIOLOGI(9)

PATOFISIOLOGI
y Kegagalan termoregulasi merupakan kegagalan hipotalamus
y Kehilangan panas > laju pembentukan panas

penurunan suhu tubuh. y Pembentukan panas > kehilangan panas panas di dalam tubuh dan suhu tubuh akan meningkat.2

PATOFISIOLOGI (2)
Penurunan Suhu Tubuh

y Pada orang dewasa, pengaturan suhu melalui

hipotalamus, yaitu dengan mekanisme : 1. shivering (mengigil), 2. non-shivering thermogenesis (NST), dan 3. vasokonstriksi perifer. 2,7 y Pada bayi neonatus, NST adalah jalur yang utama dari suatu peningkatan produksi panas yang cepat. 12 bulan pertama, jalur ST mengalami peningkatan sedangkan untuk jalur NST selanjutnya akan menurun.2

NON-SHIVERING THERMOGENESIS (NST)

TERMOREGULASI PADA BAYI BBLR.


y Non-shivering thermogenesis dihasilkan melalui oksidasi asam lemak bebas dan tergantung pada komponen yang memadai produksi panas, terutama :
y Struktur jaringan adiposa coklat 25 minggu usia

kehamilan y Peningkatan thermogenin usia kehamilan 32 minggu. y Pada 5/3-monodeiodinase aktif 25-32 minggu kehamilan y Bayi prematur dan BBLR cadangan lemak sedikit dan regulasi temperatur immatur

PATOFISIOLOGI
y Peningkatan Suhu Tubuh

kenaikan suhu pada neonatus

kenaikan suhu lingkungan

adanya kenaikan temperatur acuan di hipotalamus sebagai akibat adanya pirogen imunogenik (prostaglandin E2)

DIAGNOSIS
Diagnosis hipotermi/hipertermi ditegakkan dengan pengukuran suhu, baik suhu tubuh atau kulit bayi. a. Termometer aksila. Pengukuran pada aksila selama 3 menit. Suhu aksila normal berkisar antara 36-37C.3 b. Suhu kulit bayi diukur dengan menggunakan termistor (telethermometer) yang diletakan pada kulit abdomen. Suhu kulit normal untuk neonatus 36-36,5C c. Suhu rektal jarang diukur. Suhu rektal normal untuk neonatus berkisar antara 36,6-37,2C.

MANAJEMEN
y Hipotermia berat y Hipotermia sedang y Hipertermia y Manajemen lanjutan (>37,5c) y Preventif

MANAJEMEN HIPOTERMIA BERAT


-

Segera hangatkan bayi di bawah pemancar panas Beri pakaian yang hangat Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi sering diubah. Bila bayi dengan gangguan napas lakukan manajemen gangguan napas. Pasang jalur IV dan beri cairan IV sesuai dengan dosis rumatan, dan infus tetap terpasang di bawah pemancar panas, untuk menghangatkan cairan.

MANAJEMEN HIPOTERMIA BERAT


Periksa kadar glukosa darah, bila kadar glukosa darah kurang 45 mg/dL tangani hipoglikemia. - Nilai tanda kegawatan pada bayi setiap jam dan nilai juga kemampuan minum setiap 4 jam sampai suhu tubuh kembali dalam batas normal. - Ambil sampel darah dan beri antibiotika bila kemungkinan besar sepsis. - Anjurkan ibu menyusui segera setelah bayi siap: Bila bayi tidak dapat menyusui, beri ASI peras Bila bayi tidak dapat menyusui sama sekali, pasang pipa lambung dan beri ASI peras begitu suhu bayi mencapai 35C.
-

MANAJEMEN HIPOTERMIA BERAT


Periksa suhu tubuh bayi setiap jam. Bila suhu naik paling tidak 0,5 C/jam, berarti upaya menghangatkan berhasil, k lanjutkan memeriksa suhu bayi setiap 2 jam. - Periksa juga suhu alat yang dipakai untuk menghangatkan dan suhu ruangan setiap jam. - Setelah suhu tubuh bayi normal: Lakukan perawatan lanjutan untuk bayi Pantau bayi selama 12 jam kemudian, dan ukur suhunya setiap 3 jam
-

MANAJEMEN HIPOTERMIA SEDANG


Penatalaksaan bayi dengan hipotermia sedang adalah2 : y Ganti pakaian dengan yang hangat y Bila ada ibu/pengganti ibu, anjurkan kontak kulit dengan kulit atau perawatan bayi lekat (PMK:Perawatan Metode Kanguru). y Bila ibu tidak ada:
y Hangatkan dengan alat pemancar panas,/inkubator y Periksa suhu alat penghangat dan suhu ruangan, beri ASI

peras y Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi lebih sering diubah.

y Anjurkan ibu untuk menyusui lebih sering. y Mintalah ibu untuk mengamati tanda kegawatan

MANAJEMEN HIPOTERMIA SEDANG


y Periksa kadar glukosa darah dan nilai tanda kegawatan. y Periksa suhu tubuh setiap jam, bila suhu naik minimal 0,5C/jam, berarti usaha menghangatkan berhasil, lanjutkan memeriksa setiap 2 jam. y Bila suhu tidak naik atau naik terlalu pelan, kurang 0,5C/jam, cari tanda sepsis. y Setelah suhu tubuh normal: Lakukan perawatan lanjutan, Pantau bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhu setiap 3 jam y Bila suhu normal dan bayi minum dengan baik serta tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan. Nasihati ibu cara menghangatkan bayi di rumah.

MANAJEMEN HIPERTERMIA
Penatalaksanaan bayi dengan hipertermia adalah2 : y Jangan memberi obat antipiretik y Bila diduga karena paparan panas yang berlebihan: A. Bila bayi belum diletakkan di alat penghangat: y Letakkan bayi di ruangan dengan suhu lingkungan normal (25-28C) y Lepaskan sebagian atau seluruh pakaiannya y Periksa suhu aksilar setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal y Bila suhu sangat tinggi (>39C), bayi dikompres/ dimandikan 10 - 15 menit dalam air yang suhunya 4C lebih rendah dari suhu tubuh bayi.

HIPERTERMIA
B. Bila bayi pernah diletakkan di bawah pemancar panas atau inkubator : y Turunkan suhu alat penghangat/inkubator y Lepas sebagian atau seluruh pakaian bayi selama 10 menit kemudian beri pakaian lagi sesuai dengan alat penghangat yang digunakan y Periksa suhu bayi setiap jam sampai tercapai suhu batas normal y Periksa suhu inkubator atau pemancar panas

HIPERTERMIA
c. Bila bukan karena paparan panas yang berlebihan: y Terapi untuk kemungkinan besar sepsis y Letakkan bayi di ruang dengan suhu lingkungan normal (25-28C) y Lepas pakaian bayi sebagian atau seluruhnya y Periksa suhu bayi setiap jam sampai dicapai suhu tubuh dalam batas normal y Bila suhu sangat tinggi (lebih dari 39C), bayi dikompres atau dimandikan selama 10-15 menit dalam air yang suhunya 4C lebih rendah dari suhu tubuh bayi.

MANAJEMEN LANJUTAN (>37C)


y Penatalaksanaan lanjutan suhu lebih dari 37,5 C2 : y Yakinkan bayi mendapat masukan cukup cairan: y Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya. Bila bayi tidak dapat menyusu, beri ASI peras y Bila terdapat tanda dehidrasi, tangani dehidrasi y Periksa kadar glukosa darah y Cari tanda sepsis y Setelah suhu bayi normal: y Lakukan perawatan lanjutan

SEPULUH LANGKAH PROTEKSI TERMAL/ WARM CHAIN


y Langkah ke 1: Ruang melahirkan yang hangat . y Langkah ke 2: Pengeringan segera y Langkah ke 3 : Kontak kulit dengan kulit y Langkah ke 4: Pemberian ASI y Langkah ke 5: Tidak segera memandikan/ menimbang bayi y Langkah ke 6: Pakaian dan selimut bayi y Langkah ke 7: Rawat gabung y Langkah ke 8: Transportasi hangat y Langkah ke 9: Resusitasi hangat y Langkah ke 10: Pelatihan dan sosialisasi rantai hangat

KANGOORO MOTHER CARE

KESIMPULAN
y Dalam perawatan bayi, perlu dipertahankan suhu lingkungan yang netral (neutral thermal environment) y Keadaan hipotermi atau hipertermi pada bayi, memerlukan penanganan yang tepat untuk menghindarkan terjadinya komplikasi. y Tindakan pencegahan dengan Sepuluh Langkah Proteksi Termal untuk menghindarkan terjadinya hipotermi atau hipertermi.

DAFTAR PUSTAKA
1. 2.

3. 4. 5. 6.

7.

Albert Reece E, L Barbieri Robert. The termoregulatory transition. Obstetrics and gynecology : The essentials of clinical care. Stuttgart : Georg Thieme Verlag; 2010; p. 127-129. Yunanto Ari. Termoregulasi. Pada : Sholeh Kosim M, Yunanto Ari, Dewi Rizalya, Irawan Sarosa Gatot, Usman Ali, penyunting. Buku Ajar Neonatologi. Edisi pertama. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2010; hal. 89-101. Datta Parul. Neonatal hypothermia. Pediatric Nursing. New Delhi : Jaypee brothers medical publisher; 2007; p.85-88. Srivastava RN, Kabra SK. Thermoregulation in the newborn. Pediatrics a concise text. New Delhi : Elsevier ; 2011; p.38-39. 5. Krishnan Lalitha. Thermoregulation. Practical neonatal care. Cennai : Orient Longman Private limited ; 2002; p.17-21. 6. Bratt DR, White R, Martin G, Van Marter LJ, Finer N, Goldsmith JP, et al. Transitional hypothermia in preterm newborns. Journal od perinatology 2007. Nature Publishing Group. 2007 : 27, p45-p47. 7. Knobel Robin, Holditch-Davis Diene. Thermoregulation and Heat Loss prevention after birth and during neonatal intensive-care unit stabilization extremely lowbirthweight infant. Jognn clinical issues. Advance in neonatal care. Vol 10. No. 58; May/June 2007; p7-p14.

THANK YOU.