Anda di halaman 1dari 19

Budidaya Udang Vaname di Air Tawar Written by dede Wednesday, 30 November 2011 07:04 Udang adalah komoditas unggulan

perikanan budidaya yang berprospek cerah. Udang termasuk komoditas budidaya yang sudah dikenal dan sangat diminati oleh masyarakat. Udang vaname dikenal sebagai komoditas budidaya air payau. Selama ini, udang vaname yang menjadi salah penghasil devisa Negara non migas banyak dibudidayakan di wadah tambak. Padahal sebenarnya udang vaname dapat dibudidayakan dengan menggunakan media air tawar dengan menggunakan metode tradisional ataupun semiintensif. Udang vannamei dikenal memiliki nama ilmiah yakni Penaeus vannamei. Udang jenis ini memiliki 2 gigi pada tepi rostrum pada bagian ventral dan 8 9 gigi pada bagian tepi rostrum bagian dorsal. Penaeus vannamei memiliki toleransi salinitas yang lebar, yaitu dari 2 40 ppt, tapi akan tumbuh cepat pada salinitas yang lebih rendah, saat lingkungan dan darah isoosmotik (Wyban et al., 1991). Kondisi udang yang dapat hidup dengan salinitas yang sangat lebar ini kemudian menjadikan beberapa pembudidaya mencoba melakukan budidaya udang vaname di air tawar melalui proses aklimatisasi dan dalam prosesnya berhasil dilakukan budidaya udang vaname pada salinitas rendah yakni pada salinitas 2 ppt. Budidaya udang vaname di air tawar memiliki beberapa keunggulan diantaranya mengurangi risiko udang terjangkit penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri yang banyak menginfeksi udang di perairan air payau. Harus dipahami bahwa yang dimaksud dengan air tawar disini adalah air tawar yang mengandung sedikit garam. Jadi, bukan air tawar murni seperti budidaya air tawar pada umumnya. Budidaya udang vaname dengan air tawar maksudnya air tawar yang masih mengandung kadar garam tapi sedikit dan salinitasnya mendekati kondisi air tawar yaitu 2 ppt tersebut di atas. Menurut Sudrajat, sebenarnya budidaya udang di air tawar dengan sistem tradisional juga sudah dilakukan oleh para pembudidaya di Lamongan, Lampung dan Polman-Sulbar. Pembudidaya biasanya memanfaatkan lahan persawahan dengan menggunakan pola tanam bersama bandeng dan padi. Hasilnya cukup menggiurkan. Dari sawah seluas 1 ha yang ditanami 10 ribu benur udang windu bisa menghasilkan 1,75 kuintal udang size 35, dengan lama pemeliharaan 90 hari. Hasil tersebut masih ditambah dengan 4 kuintal bandeng dan 7 kuintal padi. Sayangnya, semua itu belum digarap secara lebih serius oleh pemerintah. Padahal prospek pengembangan budidaya udang air tawar ini cukup besar, terutama jika melihat luasnya potensi tambak-tambak air tawar yang berjarak 2-3 km dari bibir pantai dan belum termanfaatkan secara optimal (Trobos, 2008). Kelemahan dari budidaya udang vaname di air tawar adalah kepadatan benih dan ukuran panen terbatas. Biasanya para pembudidaya air tawar hanya bisa memelihara sekitar 6,6 12,5 gram saja, atau sekitar size 150 80 ekor /kg. Budidaya udang vaname di air tawar dibagi dalam 2 tahapan ,yaitu tahap pendederan dan tahap pembesaran. Tahap pendederan merupakan tahap penentu dari kelanjutan usaha budidaya karena langkah ini adalah proses adaptasi benur dari lingkungan yang salinitasnya tinggi ke lingkungan yang nantinya bersalinitas mendekati nol (0). Benur yang dibeli dari hatchery biasanya

bersalinitas sekitar 30 promil. Benur tersebut lalu ditebar di petakan yang salinitasnya hampir sama dengan di hatchery yaitu sekitar 30 permil. Selanjutnya dilakukan penambahan air tawar pelan - pelan selama 10 sampai 14 hari, sehingga salinitasnya mendekati 0,5 ppt. Air yang dipakai untuk kucuran lebih baik jika dari petak yang air tawarnya akan digunakan untuk membesarkan udang nantinya. Harapannya adaptasi bisa lebih sempurna. Jika kolam pendederan hanya mempunyai air tawar, maka sebaiknya mendatangkan air laut. Jangan menambahkan garam untuk membuat air laut tiruan. Bisa juga menggunakan air asin dari tambak garam, kemudian air tersebut diencerkan. Untuk tahap pembesaran, faktor penting pada budidaya air tawar adalah mempertahankan alkalinitas dan salinitas sekitar 0,5 ppt. Sehingga diharapkan penerapan pengapuran dan penambahan berkala garam krosok sangat diperlukan sekitar 200 kg per minggu. Ini untuk mengantisipasi hilangnya garam karena proses pergantian air. (Trobos, 2009) Rata-rata udang dipelihara antara umur 50 90 hari dengan size 200 100 ekor/kg. Ada pula yang sampai size 70 ekor/ kg dengan umur antara 110 sampai 120 hari. Variasi besar kecilnya size, tonase, angka kehidupan (SR) tergantung dari mutu benur, kepadatan dan masa adaptasi serta faktor pendukung lainnya. Kepadatan 10 hingga 15 ekor/m2 memungkinkan untuk tidak memakai kincir dengan masa budidaya 75 hari. Sedangkan kepadatan 25 ekor/m2 harus sudah memakai kincir menjelang umur 25 hari. Untuk kepadatan 40 ekor/m2, kincir harus sudah operasi sejak udang berusia 7 hari. Kondisi persiapan program pakan dalam keadaan standar.(Trobos, 2009) Beberapa kunci sukses budidaya udang vaname di air tawar adalah: 1. Prosedur aklimatisasi dan penebaran, karena biasanya benur dari hatchery bersainitas tinggi dan harus diadaptasikan ke salinitas rendah yang komposisi ioniknya berbeda
2. Lokasi tambak harus berada pada kawasan estuarine yang masih kena dampak pasang

surut.Hal ini berkaitan dengan kebutuhan akan kadar ion garam yang diperlukan dalam budidaya udang vaname.
3. Benur sudah setidaknya diatas PL10, sebaiknya benur telah mempunyai cabang filamen

insang yang meluas karena insang memainkan peraan penting dalam osmoregulasi udang. Kapasitas regulasi benur berkaitan dengan jumlah permukaan insang yang tersedia untuk osmoregulasi. sebelum PL 10, insang mempunyai cabang sedikit sehingga toleransinya terbatas terhadap salinitas rendah.
4. Benih udang vaname sudah diadaptasi ke salinitas rendah (tawar). Penurunan salinitas

sebaiknya dilakukan mulai PL10 secara bertahap. Penurunan salinitas dapat dilakukan dengan penurunan salinitas sebanyak 1 2 ppt perharinya sehingga akan didapatkan ukuran tebar benih adalah sekitar PL 30-40. Benih udang yang sudah diaklimatisasi ke air tawar ini dapat di peroleh di Jepara.
5. Perhatikan kondisi kadar ion garam dan mineral di tambak/kolam yang akan dilakukan

penebaran benih udang vaname. Beberapa pembudidaya mengalami kendala dalam melakukan budidaya ini karena kadar ion dan mineral yang dibutuhkan untuk proses pertumbuhan tidak terdapat pada sumber airnya. Beberapa solusi untuk masalah ini pembudidaya melakukan penambahan ion dan mineral yang dibutuhkan. 6. Perlu identifikasi kebutuhan nutrien/nutrisi pakan yang spesifik untuk lingkungan salinitas rendah. 7. Untuk mengurangi resiko infeksi penyakit sebaiknya dibuat system klaster sehingga

penyebaran penyakit dapat lebih dikontrol. Saat ini berkembang minat tinggi untuk memelihara species laut dan muara di air bersalinitas rendah di daerah pedalaman yang jauh dari pantai. Untuk species seperti ikan striped bass, salinitas air ditingkatkan dengan menambah garam krasak ke kolam air tawar. Di Thailand, larutan air asin bersalinitas 100-200 ppt dari penguapan air pantai yang ditambahkan di kolam air tawar untuk meningkatkan salinitas dan digunakan sebagai media untuk budidaya udang. Di beberapa tempat lain, ada yang menggunakan air tanah atau air permukaan yang mengandung salinitas yang memadai. (Claude E. Boyd, Ph.D in Global Aquaculture Advocate, Sept/Oct 2007) Meskipun perairan ini mempunyai salinitas yang cukup, ketidaksetimbangan ion mayornya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan SR ikan dan udang. Masalah yang paling ngetop adalah kandungan konsentrasi potassium rendah. Persoalan ini dapat diatasi dengan mengaplikasikan potassium chloride untuk memberikan konsentrasi potassium hingga 10x salinitasnya. Konsentrasi magnesium dapat juga berefek negative terhadap pertumbuhan species yang dibudidaya di air bersalinitas rendah. (Claude E. Boyd, Ph.D in Global Aquaculture Advocate, Sept/Oct 2007) Di daerah yang gersang/kering, penguapan akan mengkonsentrasikan ion-ion di air kolam inland, yang dapat membahayakan species budidaya, terutama dimana digunakan kolam yang dilapis dan secara rutin ditambahkan air untuk menggantikan berkurangnya air akibat penguapan. Saya menyadari akan situasi dimana salinitas di kolam yang dilapis di area gurun pasir bisa meningkat diatas 5.000 mg/l selama bertahun-tahun, yang mematikan ikan kakap yang dipelihara di kolam tsb. (Claude E. Boyd, Ph.D in Global Aquaculture Advocate, Sept/Oct 2007) Beberapa species dapat dapat beradaptasi terhadap kisaran salinitas yang luas daripada yang lain. Udang laut sangat toleran terhadap salinitas yang bervariasi. contohnya, Litopenaeus vannamei dan Penaeus monodon dapat dibudidaya di perairan yang berkisar dari 1 ppt hingga lebih dari 40 ppt. Namun demikian, salinitas ekstrim sangat membuat stress, dan budidaya udang kurang bermasalah pada salinitas diatas 5 ppt dan dibawah 40 ppt. Salinitas yang ekstrim terutama menyebabkan stress jika terjadi suhu yang juga ekstrim. (Claude E. Boyd, Ph.D in Global Aquaculture Advocate, Sept/Oct 2007) Tambak udang di muara sering mempunyai variasi salinitas musiman yang luas. Selama musim hujan, salinitas bisa turun drastis, sementara musim kemarau, salinitas bisa melebihi salinitas air lautan. Petambak udang kadang-kadang menambahkan air tawar ke kolam dekat pantai untuk menurunkan salinitas. Penarikan air tanah untuk tujuan ini tidak dianjurkan, dapat menyebabkan pengacauan air garam menjadi sumber air tawar. Perkembangan produksi udang terutama udang vaname terganggu oleh adanya serangan penyakit sehingga beberapa sentra produksi budidaya udang vaname mengalami penurunan produksi yang berimbas pada turunnya produksi udang secara nasional. Selama empat tahun terakhir produksi udang vaname mengalami tren penurunan produksi terutama di sentra produksi udang vaname. Sentra produksi udang vaname antara lain terdapat di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Udang vaname prospek pasarnya yang sangat potensial terutama pasar ekspor. Penurunan produksi udang vaname akibat penyakit mungkin dapat di atasi dengan menggiatkan budidaya udang vaname di air tawar karena terbukti lebih tahan terhadap serangan penyakit. potensi pengembangan budidaya udang vaname di air tawar sangat terbuka lebar. Apalagi didapati informasi bahwa udang vaname dapat dipelihara di daerah di luar kawasan eustuarine sehingga

hal ini semakin membuka peluang pembudidayaan udang vaname dengan media air tawar dan tidak harus dekat dengan pantai. Bahkan informasi yang didapat udang vaname dipelihara di kolam bekas budidaya ikan lele yang notabene merupakan kolam murni air tawar dan lokasinya berada di pekarangan rumah. Satu hal yang penting dalam pemeliharaan udang vaname di air tawar adalah kandungan ion dan mineral yang dibutuhkan untuk proses pertumbuhan udang vaname. dari berbagai sumber Last Updated on Thursday, 01 December 2011 13:41 Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya [DJPB], all right reserved.
http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id/index.php? option=com_content&view=article&id=141:udang-vaname-tawar&catid=57:berita

PENOKOLAN BENIH UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) Oleh Toto Warsito, ST A. Pendahuluan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu jenis udang yang habitat aslinya di pantai dan laut Amerika Latin, seperti Mexico dan Puertorico. Namun demikian di Indonesia sudah mulai banyak petani tambak yang membudidayakan udang Vaname, sebab udang jenis ini lebih banyak memiliki keunggulan dibandingkan jenis udang lain. Keunggulan dari udang Vaname terletak pada ketahanan terhadap penyakit, kebutuhan kandungan protein yang relatif lebih rendah, pertumbuhan lebih cepat, toleran terhadap perubahan suhu air dan oksigen terlarut serta mampu memanfaatkan seluruh kolom air di bandingkan udang jenis lain. Vaname mempunyai ciri-ciri mampu hidup pada kisaran salinitas 5 45 ppt dengan salinitas optimal 10 30 ppt; kisaran suhu 24o 32o C dengan suhu optimal 28o 30o C; mampu bertahan pada oksigen 0,8 ppm selama 3 4 hari tetapi disarankan DO 4 ppm. PH air 7 8,5 ; kebutuhan protein rendah yaitu 32 % serta prosentase daging 66 68 %, lebih tinggi jika dibandingkan udang windu yang hanya 62 %. Penokolan benih udang vaname adalah pendederan benih udang vaname (PL12) yang biasa disebut benur sampai dengan PL 28 ataupun PL 32 terdiri dari beberapa tahapan, dimulai dari persiapan kolam pemeliharaan, pendederan benur udang Vaname, pemeliharaan benur udang Vaname dan terakhir pemanenan.

Vaname ciri-ciri mampu hidup pada kisaran salinitas 5 45 ppt dengan salinitas optimal 10 30 ppt; kisaran suhu 24 32C dengan suhu optimal 28 30 C; mampu bertahan pada oksigen 0,8 ppm selama 3 4 hari tetapi disarankan DO 4 ppm. PH air 7 8,5 ; kebutuhan protein rendah yaitu 32 % serta prosentase daging 66 68 %, lebih tinggi jika dibandingkan udang windu yang hanya 62 %.Penokolan benih udang vaname adalah pendederan benih udang vaname (PL12) yang biasa disebut benur sampai dengan PL 28 ataupun PL 32 terdiri dari beberapa tahapan, dimulai dari persiapan kolam pemeliharaan, pendederan benur udang Vaname, pemeliharaan benur udang Vaname dan terakhir pemanenan. Vaname ciri-ciri mampu hidup pada kisaran salinitas 5 45 ppt dengan salinitas optimal 10 30 ppt; kisaran suhu 24 32C dengan suhu optimal 28 30 C; mampu bertahan pada oksigen 0,8 ppm selama 3 4 hari tetapi disarankan DO 4 ppm. PH air 7 8,5 ; kebutuhan protein rendah yaitu 32 % serta prosentase daging 66 68 %, lebih tinggi jika dibandingkan udang windu yang hanya 62 %.Penokolan benih udang vaname adalah pendederan benih udang vaname (PL12) yang biasa disebut benur sampai dengan PL 28 ataupun PL 32 terdiri dari beberapa tahapan, dimulai dari persiapan kolam pemeliharaan, pendederan benur udang Vaname, pemeliharaan benur udang Vaname dan terakhir pemanenan. Vaname ciri-ciri mampu hidup pada kisaran salinitas 5 45 ppt dengan salinitas optimal 10 30 ppt; kisaran suhu 24 32C dengan suhu optimal 28 30 C; mampu bertahan pada oksigen 0,8 ppm selama 3 4 hari tetapi disarankan DO 4 ppm. PH air 7 8,5 ; kebutuhan protein rendah yaitu 32 % serta prosentase daging 66 68 %, lebih tinggi jika dibandingkan udang windu yang hanya 62 %.Penokolan benih udang vaname adalah pendederan benih udang vaname (PL12) yang biasa disebut benur sampai dengan PL 28 ataupun PL 32 terdiri dari beberapa tahapan, dimulai dari persiapan kolam pemeliharaan, pendederan benur udang Vaname, pemeliharaan benur udang Vaname dan terakhir pemanenan.

B. Tahapan Penokolan Udang Vaname di Kolam Pendederan 1. Persiapan Kolam Pendederan Kolam pendederan yang akan digunakan dipasangi instalasi aerasi dengan menggunakan pipa paralon memanjang di dasar kolam dan dilubangi tiap dua meter. Dan mempersiapkan anco yang digunakan untuk mengontrol pakan dan kondisi benur dipasang hingga kedalaman 10 20 cm dari dasar kolam. Sebelum digunakan kolam pendederan terlebih dahulu dibersihkan dan dilakukan pengeringan kurang lebih 3 hari. Setelah proses pengeringan selesai dilanjutkan pengisian tambak dengan air laut sampai ketinggian air lebih kurang 90 cm. Selanjutnya dilakukan pemupukan menggunakan pupuk organik cair dengan dosis 20 cc /m3 yang dilarutkan pada air tambak. Setelah itu tambak yang telah diisi air dan telah diberi pupuk tersebut didiamkan selama lima hari. Setelah perendaman selama lima hari dan pakan alami sudah tumbuh barulah benih udang Vaname (PL 12) yang akan ditokolkan ditebar. 2. Pendederan Benur Udang Vaname (PL 12) Benih udang Vaname (PL 12) yang akan didederkan sebelumnya dilakukan aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan kolam pendederan. Ada dua aklimatisai yang dilakukan sebelum benur ditebar, yang pertama aklimatisasi suhu dengan cara meletakkan plastik pengemas yang berisi benur ke dalam tambak. Tindakan ini dilakukan hingga suhu air dalam kemasan plastik mendekati atau sama dengan suhu air kolam pendederan yang dicirikan dengan munculnya embun di dalam plastik kemasan. Kedua aklimatisasi salinitas, yang dilakukan setelah aklimatisasi suhu selesai. Aklimatisasi salinitas dilakukan dengan cara air kolam

dimasukkan kedalam plastik kemasan secara perlahan sampai dengan salinitas air dalam plastik kemasan mendekati atau sama dengan air kolam pendederan. Benur yang telah diaklimatisasi tersebut selanjutnya ditebar secara perlahan ke dalam kolam pendederan. Waktu yang paling baik untuk penebaran benur Vaname pada saat pendederan adalah pagi hari atau sore hari. Sedangkan kepadatan untuk pendederan udang Vaname pada saat penokolan adalah 200 300 ekor /m2 3. Pemeliharaan Benur Udang Vaname (PL 12) Selama pemeliharaan, selain pakan alami yang ada di kolam pendederan juga perlu diberikan pakan tambahan. Pakan tambahan ini berupa pakan buatan berbentuk pelet berukuran kecil yang dikenal dengan nama starter. Jumlah pemberian pakan buatan berdasarkan estimasi, yaitu dengan acuan antara lain memperhatikan jumlah benur yang naik ke anco, keseragaman pertumbuhan ukuran dan perkiraan nafsu makan benur dengan melihat sisa pakan yang ada di anco. Setiap kali pemberian pakan, 2 4 % dari jumlah total pakan yang ditebar harus dimasukkan ke dalam anco. Frekuensi pemberian pakan buatan cukup 2 3 kali sehari, karena benur sampai dengan ukuran tokolan (PL 32) masih banyak memakan pakan alami. Aliran air pemasukan diatur setiap hari, hal ini untuk menjaga kualitas kesegaran air selama pemeliharaan. 4. Pemanenan Pemanenan tokolan udang Vaname dilakukan setelah udang Vaname berumur 16 hari PL 28 sampai dengan umur 20 hari PL 32 dari pendederan (PL 12). Pemanenan dimulai dengan menurunkan volume air 80 %. Setelah mencapai volume 20 %, dilakukan penyeseran menggunakan hapa dan ditampung ke ember dan apabila didalam kolam tinggal sedikit pintu air pengeluaran dibuka dan di saluran pengeluaran dipasang jaring kantong, tokolan udang Vaname yang sudah masuk ke dalam jaring kantong ditampung dalam ember dan udang Vaname yang telah banyak di dalam ember dipindahkan ketempat lain dengan menggunakan serokan. Tokolan udang Vaname yang telah dipanen dipindahkan ke tempat pengemasan dengan diberi aerasi. http://totototo.blogsome.com/penokolan-udang

Reproduksi Udang Putih (Litopenaeus vannamei)


A. INTERMEZZO Udang putih (L. vannamei) merupakan spesies introduksi yang dibudidayakan di Indonesia. Udang putih yang dikenal masyarakat dengan udang vannamei ini berasal dari Perairan Amerika Tengah. Negara-negara di Amerika Tengah dan Selatan seperti Ekuador, Venezuela, Panama,Brasil, dan meksiko sudah lama membudidayakan jenis udang yang dikenal juga dengan pasific white shrimp ini. Di Indonesia, udang vannamei baru diintroduksi dan dibudidayakan mulai awal tahun 2000-an dengan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Masuknya udang vannamei ini telah menggairahkan kembali usaha pertambakan Indonesia yang mengalami kegagalan budidaya akibat serangan penyakit, terutama bintik putih (white spot). White spot telah menyerang tambak-tambak udang windu baik yang dikelola secara tradisional maupun intensif meskipun telah menerapkan teknologi tinggi dengan fasilitas yang lengkap. Udang vannamei mempunyai beberapa keunggulan dibanding spesies udang lainnya. Berdasarkan penelitian Boyd dan Clay (2002), produktivitasnya mencapai lebih dari13.600 kg/ha. Produktivitas yang tinggi ini karena udang putih mempunyai beberapa keunggulan dibanding spesies jenis lainnya, antara lain : tingkat kelulushidupan tinggi, ketersediaan benur yang berkualitas, kepadatan tebar tinggi, tahan Penyakit dan konversi pakan rendah. Teknologi budidaya udang terus memerlukan penelitian dan pengembangan dari waktu ke waktu. Walaupun dalam dua dasawarsa terakhir telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, namun jika dibandingkan dengan teknologi pertanian (misalnya hortikultura) atau peternakan (misalnya unggas), teknologi budidaya udang masih sangat jauh ketinggalan. Teknologi pertanian dan peternakan telah mencapai tahap genetic engineering (rekayasa genetika) dimana secara genetik telah ditemukan bibit unggul yang lebih produktif dan tahan terhadap penyakit. Sedangkan teknologi budidaya udang baru memasuki tahap genetic mapping (pemetaan genetika). Perkembangan terakhir teknologi budidaya udang difokuskan pada genetic improvement (perbaikan genetika) melalui proses seleksi induk secara ketat. Namun proses genetic improvement ini masih berada pada tahap seleksi secara alami.

Tingkat keberhasilan dari penerapan teknologi budidaya udang sangat bergantung pada tingkat penguasaan teknologi lingkungan perairan (sebagai tempat hidup udang) dan biologi udang itu sendiri. Lingkungan perairan merupakan ekosistem yang sangat kompleks, yang terdiri dari komponen biotik dan komponen abiotik. Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang benar tentang ekosistem perairan (tambak) sehingga dapat senantiasa menjaga keseimbangannya. Disamping itu, pemahaman tentang biologi udang merupakan hal yang tidak kalah penting, mulai dari anatomi, morfologi, fisiologi, habitat dan kebiasaan makan sampai pada pemahaman structure genetiknya serta sistem reproduksi. Udang vannamei, sebagai salahsatu komoditi andalan perikanan saat ini, keberlangsungan dan ketersediaannya di alam harus selalu dipertahankan, baik untuk memenuhi kebutuhan domestic, maupun untuk keperluan ekspor. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk tetap mempertahankan ketersediaan stok udang vannamei ini, salahsatunya adalah dengan melakukan berbagai kajian yang berhubungan dengan Reproduksi komoditi tersebut. Diharapkan dengan kajian ini, dapat mempertahankan keberlangsungan spesies udang vannamei. B. BIOLOGI UDANG VANNAMEI 1) Morfologi Udang vannamei

Gambar Udang Vannamei Litopenaeus vannamei, biasa juga disebut sebagai udang putih dan masuk ke dalam famili Penaidae. Anggota famili ini menetaskan telurnya di luar tubuh setelah telur dikeluarkan oleh udang betina. Udang Penaeid dapat dibedakan dengan jenis lainnya dari bentuk dan jumlah gigi pada rostrumnya. Penaeid vannamei memiliki 2 gigi pada tepi rostrum bagian ventral dan 8-9 gigi pada tepi rostrum bagian dorsal (Anonim 1, 2007). Secara lengkap klasifikasi Udang Vannamei secara Taksonomi menurut Wyban dan Sweeney (1991) adalah sebagai berikut:
Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : Malacostraca : Decapoda : Panaeidae : Litopenaeus : Litopenaeus vannamei

Umumnya, Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan bagian badan. Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing. Bagian kepala dilindungi oleh cangkang kepala atau Carapace. Bagian depan meruncing dan melengkung membentuk huruf S yang disebut cucuk kepala atau rostrum. Pada bagian atas rostrum terdapat 7 gerigi dan bagian bawahnya 3 gerigi untuk P. monodon. Bagian kepala lainnya adalah :
1. Sepasang mata majemuk (mata facet) bertangkai dan dapat digerakkan. 2. Mulut terletak pada bagian bawah kepala dengan rahang (mandibula) yang kuat. 3. Sepasang sungut besar atau antena. 4. Dua pasang sungut kecil atau antennula. 5. Sepasang sirip kepala (Scophocerit). 6. Sepasang alat pembantu rahang (Maxilliped). 7. Lima pasang kaki jalan (pereopoda), kaki jalan pertama, kedua dan ketiga bercapit yang dinamakan chela. 8. Pada bagian dalam terdapat hepatopankreas, jantung dan insang. 9. Bagian badan tertutup oleh 6 ruas, yang satu sama lainnya dihubungkan oleh selaput tipis. Ada lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama sampai dengan ruas kelima, sedangkan pada ruas keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Di antara ekor kipas terdapat ekor yang meruncing pada bagian ujungnya yang disebut telson. Organ dalam yang bisa diamati adalah usus (intestine) yang bermuara pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam.

Tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite. Udang vannamei memiliki tubuh berbuku buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton secara periodik (moulting). Kepala (thorax) udang vannamei terdiri dari antenula, antenna, mandibula dan dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki berjalan (peripoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Maxilliped sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Endopodite kaki berjalan menempel pada cephalothorax yang dihubungkan oleh coxa. Bentuk peripoda beruas ruas yang berujung dibagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2 dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5). Diantara coxa dan dactylus terdapat ruang yang berturut turut disebut basis, ischium, merus, carpus dan cropus. Pada bagian ischium terdapat duri yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies Pennaeid dalam taksonomi. Perut (abdomen) udang terdiri dari 6 ruas. Bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama sama telson. 2) Habitat Udang Vannamei Udang Vannamei adalah jenis udang laut yang habitat aslinya di daerah dasar dengan kedalaman 72 meter. Udang vannamei dapat ditemukan di perairan/lautan Pasifik mulai dari Mexico,

Amerika Tengah dan Selatan. Udang vannamei relatif mudah dibudidayakan. Sedangkan untuk pejantan pada udang vannamei setelah menjadi dewasa memiliki ciri ciri sebagai berikut; petasma menjadi simetris, agak terbuka, tak mempunyai penutup, kurangnya proyeksi distomedian, mempunyai sirip costae yang pendek sehingga tidak dapat menjangkau sampai tepi distal dan terbuka dengan jelas. Habitat udang Penaeid usia muda adalah air payau, seperti muara sungai dan pantai. Semakin dewasa udang jenis ini semakin suka hidup di laut. Ukuran udang menunjukkan tingkatan usia. Dalam habitatnya, udang dewasa mencapai umur 1,5 tahun. Pada waktu musim kawin tiba, udang dewasa yang sudah matang telur atau calon spawner berbondong-bondong ke tengah laut yang dalamnya sekitar 50 meter untuk melakukan perkawinan. Udang dewasa biasanya berkelompok dan melakukan perkawinan, setelah udang betina berganti cangkang (Murtidjo1989). Di dalam kondisi budidaya, udang vannamei hidup mendiami seluruh kolom air, dari dasar hingga lapisan permukaan. Sifat tersebut memungkinkan udang tersebut dipelihara di tambak dalam keadaan padat . 3) Makanan Udang Vannamei Semula digolongkan ke dalam hewan pemakan segala macam bangkai (omnivorous scavenger) atau pemakan detritus. Dari hasil penelitian terhadap usus udang menunjukkan bahwa udang ini adalah karnivora yang memakan crustacea kecil, amphipoda dan polychaeta. Secara alami L. vannamei merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari untuk mencari makan, sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dalam substrat atau lumpur. Namun di tambak budidaya dapat dilakukan feeding dengan frekuensi yang lebih banyak untuk memacu pertumbuhannya. L. vannamei membutuhkan makanan dengan kandungan protein sekitar 35%, lebih kecil jika dibandingkan udang-udang Asia seperti Penaeus monodon dan Penaeus japonicus yang membutuhkan pakan dengan kandungan protein hingga 45%. Dan ini akan berpengaruh terhadap harga pakan dan biaya produksi. 4) Daur Hidup Udang Vannamei Hidup udang penaeid sejak telur mengalami fertilisasi dan lepas dari tubuh induk betina menurut Martosudarmo dan Ranoemihardjo (1983), akan mengalami berbagai macam tahap, yaitu : 1. Nauplius Stadia Nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50 jam untuk Litopenaeus vannamei, belum memerlukan pakan karena masih mempunyai kandungan telur 2. Zoea Stadia zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama kira-kira 4 hari. Stadia zoea sangat peka terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. Zoea mulai membutuhkan pakan berupa fitoplankton (Skeletonema sp.) 3. Stadia mysis Terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk udang stadia mysis mirip udang dewasa, bersifat planktonis dan bergerak mundur dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia mysis mulai menggemari pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina. 4. Post larva

Stadia larva ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia larva bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang disenangi berupa zooplankton.

Gambar Siklus hidup udang Penaeid (Stewart, 2005) C. Sistem Reproduksi 1) Organ Reproduksi Udang vannamei Organ reproduksi udang vannamei betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduk, lubang genital, dan thelycum. Oogonia diproduksi secara mitosis dari epitelium germinal selama kehidupan reproduktif dari udang betina. Oogonia mengalami meiosis, berdiferensiasi menjadi oosit, dan dikelilingi oleh sel-sel folikel. Oosit yang dihasilkan akan menyerap material kuning telur (yolk) dari darah induk melalui sel-sel folikel (Wyban et al., 1991).

A. Petasma jantan B. Satu dari sepasang appendix masculine C. Satu dari sepasang terminal ampoule D. Open thelycum Gambar Struktur Reproduksi Eksternal Udang Vannamei Organ reproduksi utama dari udang jantan adalah testes, vasa derefensia, petasma, dan apendiks maskulina. Sperma udang memiliki nukleus yang tidak terkondensasi dan bersifat nonmotil karena tidak memiliki flagela. Selama perjalanan melalui vas deferens, sperma yang

berdiferensiasi dikumpulkan dalam cairan fluid dan melingkupinya dalam sebuah chitinous spermatophore (Wyban et al., 1991). Leung-Trujillo (1990) menemukan bahwa jumlah spermatozoa berhubungan langsung dengan ukuran tubuh jantan. 2) Proses Perkawinan (mating) Induk Udang vannamei Udang vannamei melakukan mating (perkawinan) apabila udang betina telah matang telur yang ditandai dengan warna orange pada punggungnya, udang jantan segera memburu oleh rangsangan feromon yang dikeluarkan oleh betina dan terjadilah mating. Dari hasil mating tersebut sperma akan ditempelkan pada telikum, 4-5 jam kemudian induk betina tersebut akan mengeluarkan telur (spawning) dan terjadilah pembuahan (Wyban and Sweeney, 1991)

Gambar Perilaku Kawin Induk Udang vannamei Perilaku kawin pada udang vannamei pada wadah pemijahan dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan seperti temperatur air, kedalaman, intensitas cahaya, fotoperiodisme, dan beberapa faktor biologis seperti densitas aerial dan rasio kelamin (Yano et al., 1988). Menurut Dunham (1978) dalam Yano, et al (1988), bahwa adanya perilaku kawin pada krustasea disebabkan adanya feromon. Udang jantan hanya akan kawin dengan udang betina yang memiliki ovarium yang sudah matang. Kontak antena yang dilakukan oleh udang jantan pada udang betina dimaksudkan untuk pengenalan reseptor seksual pada udang (Burkenroad, 1974, Atema et al., 1979, Berg and Sandfer, 1984 dalam Yano, et al., 1988). Proses kawin alami pada kebanyakan udang biasanya terjadi pada waktu malam hari (Berry, 1970, McKoy, 1979 dalam Yano, 1988). Tetapi, udang vannamei paling aktif kawin pada saat matahari tenggelam. Spesies udang vannamei memiliki tipe thelycum tertutup sehingga udang tersebut kawin saat udang betina pada tahap intermolt atau setelah maturasi ovarium selesai, dan udang akan bertelur dalam satu atau dua jam setelah kawin (Wyban et al., 2005). 3) Peneluran dan Perkembangan Telur Peneluran terjadi saat udang betina mengeluarkan telurnya yang sudah matang. Proses tersebut berlangsung kurang lebih selama dua menit. Udang vannamei biasa bertelur di malam hari atau beberapa jam setelah kawin. Telur-telur dikeluarkan dan difertilisasi secara eksternal di dalam air. Seekor udang betina mampu menghasilkan setengah sampai satu juta telur setiap bertelur. Dalam waktu 13-14 jam, telur kecil tersebut berkembang menjadi larva berukuran mikroskopik yang disebut nauplii/ nauplius (Perry, 2008). Tahap nauplii tersebut memakan kuning telur yang tersimpan dalam tubuhnya lalu mengalami metamorfosis menjadi zoea.

Tahap kedua ini memakan alga dan setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis. Mysis mulai terlihat seperti udang kecil dan memakan alga dan zooplankton. Setelah 3 sampai 4 hari, mysis mengalami metamorfosis menjadi postlarva. Tahap postlarva adalah tahap saat udang sudah mulai memiliki karakteristik udang dewasa. Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai postlarva membutuhkan waktu sekitar 12 hari. Di habitat alaminya, postlarva akan migrasi menuju estuarin yang kaya nutrisi dan bersalinitas rendah. Mereka tumbuh di sana dan akan kembali ke laut terbuka saat dewasa. (Anonim, 2008). D. Teknik Pembenihan Udang vannamei 1) Karakteristik Induk Udang yang dijadikan sebagai induk (broodstock) sebaiknya bersifat SPF (Specific Pathogen Free). Udang tersebut dapat dibeli dari jasa penyedia udang induk yang memiliki sertifikat SPF. Keunggulan udang tersebut adalah resistensinya terhadap beberapa penyakit yang biasa menyerang udang, seperti white spot, dan lain-lain. Udang tersebut didapat dari sejumlah besar famili dengan seleksi dari tiap generasi menggunakan kombinasi seleksi famili, seleksi massa (WFS) dan seleksi yang dibantu marker. Induk udang tersebut adalah keturunan dari kelompok famili yang diseleksi dan memiliki sifat pertumbuhan yang cepat, resisten terhadap TSV dan kesintasan hidup di kolam tinggi. Karakteristik induk udang baik yang lain adalah udang jantan dan betina memiliki karakteristik reproduksi yang sangat bagus. Spermatophore jantan berkembang baik dan berwarna putih mutiara. Udang betina matang secara seksual dan menunjukkan perkembangan ovarium yang alami. Berat udang jantan dan betina sekitar 40 gram dan berumur 12 bulan. 2) Proses Pembenihan Secara Konvensional Proses pembenihan yang biasa dilakukan pada kebanyakan pembenuran (hatchery) udang komersial adalah dengan cara perkawinan alami untuk menghasilkan larva. Keuntungan perkawinan alami dibandingkan dengan inseminasi buatan adalah jumlah nauplii yang dihasilkan tiap udang betina sekali bertelur lebih banyak dibandingkan nauplii yang dihasilkan dengan metode inseminasi buatan (Yano et al., 1988). Induk udang vannamei dikumpulkan dan dipelihara dalam kondisi normal untuk maturasi dan kawin secara alami. Setiap sore dilakukan pemeriksaan untuk melihat udang betina yang sudah kawin lalu dipindah ke tangki peneluran (spawning tank). Betina yang sudah kawin akan memperlihatkan adanya spermatophore yang melekat. Saat pagi hari, betina yang ada di dalam tangki peneluran dipindahkan lagi ke dalam tangki maturasi (maturation tank). Dalam waktu 1216 jam, telur-telur dalam tangki peneluran akan berkembang menjadi larva tidak bersegmen atau nauplii (Wyban et al., 1991). Menurut Caillouet (1972), Aquacop (1975), dan Duronslet et al., (1975), ovum pada udang betina biasanya mengalami reabsorbsi tanpa adanya peneluran lagi. Masalah tersebut dapat dikurangi dengan cara ablasi salah satu tangkai mata yang menyediakan hormon yang berfungsi sebagai stimulus untuk reabsorbsi ovum (Arnstein dan Beard, 1975; Wear dan Santiago, 1977). Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa ablasi juga dapat meningkatkan pertumbuhan udang (Hameed dan Dwivedi, 1977). Ablasi dilakukan dengan cara membakar, mengeluarkan isi dari salah satu batang mata keluar melalui bola mata, dan melukai batang mata dengan gunting (Wyban et al., 2005). Udang yang akan diablasi dipersiapkan untuk memasuki puncak reproduktif. Jika ablasi dilakukan saat tahap premolting maka akan menyebabkan molting, ablasi segera setelah udang

molting dapat menyebabkan kematian, dan ablasi selama intermolt menyebabkan perkembangan ovum (Adiyodi, 1970). a. Sistem Maturasi i. Gedung Maturasi Induk udang membutuhkan suasana lingkungan yang tenang untuk maturasi yang baik. Oleh karena itu, fasilitas maturasi harus dibagi menjadi tiga ruangan yang terpisah, yaitu ruang tangki maturasi, ruang tangki peneluran (spawning tanks), dan ruang untuk persiapan makanan (Wyban et al.,1991). ii. Ruang Tangki Maturasi (Maturation Tanks) Setiap tangki maturasi difasilitasi oleh pipa untuk penyediaan air laut. Flownwater digunakan pada tiap jalur suplai untuk mengontrol pertukaran air. Saluran udara yang terletak di tengah tangki menyediakan udara menuju tangki. Saluran udara tersebut juga digunakan untuk menjaga kedalam air dalam tangki tetap pada 18 inchi (Wyban et al., 1991). Kotak lampu 75 watt digantungkan diatas tangki. Plastik diffuser pada kotak lampu berfungsi untuk menyebarkan cahaya, dan mencegah cahaya yang berlebihan masuk dalam tangki dibawahnya. Mesin sunrise/sunset (lampu yang dikontrol oleh waktu dan rheostat) mengontrol fotoperiodisme dalam masing-masing tangki dan meningkatkan cahaya secara bertahap dari keadaan gelap gulita menjadi cahaya penuh pada pertengahan hari (Wyban et al., 1991).

Gambar Tangki maturasi (Courtland, 1999) iii. Ruang Tangki Peneluran (Spawning Tanks) Spawning tanks memiliki dasar yang rata. Masing-masing tangki berisi air laut dan saluran udara di tengah tangki. Kaca fiber ditambahkan dalam tangki sehingga enam ekor udang yang sudah kawin dapat bertelur dengan segera (Wyban et al., 1991). iv. Sistem Air Kualitas air harus diatur dan dipelihara pada kondisi menyerupai lingkungan alami udang Penaeid. Air laut yang dimasukkan ke dalam tangki maturasi dan spawning tanks harus mengalami beberapa perlakuan dahulu, antara lain penghilangan materi organik yang terlarut

dengan cara filtrasi dan pengendapan, ozonisasi untuk menghilangkan sebagian besar mikroorganisme, dan pendinginan air (25oC 28oC) agar didapat suhu yang menyerupai habitat asli udang Penaeid. Thermostat diatur pada suhu 27oC dan fluktuasi temperatur harian diatur agar kurang dari 0,5oC. v. Alarm Sistem alarm mengawasi beberapa parameter yang penting dalam sistem maturasi. Satu alarm terhubung pada kedalaman air dalam reservoir. Jika air turun sebanyak 15 cm dalam tangki, alarm akan berbunyi. Sistem alarm lain terhubung pada suplai udara. b. Manajemen Sistem Maturasi i. Stocking Setiap tangki maturasi ditempati oleh udang jantan yang lebih banyak daripada jumlah udang betina (5-6 udang/m 2). Udang jantan seharusnya memiliki berat 40 gram atau lebih. Karena pertumbuhan udang jantan yang lambat, berat udang dibawah 40 gram biasanya menyebabkan udang tersebut kuran produktif. Udang jantan dengan melanisasi yang parah pada petasma atau spermatophore tidak dimasukkan ke dalam tangki maturasi. Berat udang betina seharusnya mencapai 48 gram atau lebih (Wyban et al., 1991). ii. Penandaan (Tagging) Setiap induk harus ditandai sehingga dapat dihitung dan diidentifikasi. Penanda diselipkan pada batang mata. Sistem ini juga berfungsi untuk mencari beberapa hewan untuk dieliminasi (Wyban et al., 1991). iii. Ablasi Setelah satu minggu dalam tangki maturasi, udang induk betina dilakukan ablasi pada batang mata. Pemotongan menggunakan pisau atau gunting yang dibakar sebelumnya agar steril. Saat udang betina sudah ditandai dan diablasi, sistem operasi menuju ke aktivitas rutin harian (Wyban et al., 1991). 3). Pembenihan Dengan Cara Inseminasi Buatan Inseminasi buatan biasa dilakukan oleh penyedia induk udang yang bersifat unggul, seperti udang dengan sertifikasi SPF (Specific Pathogen Free). Teknik ini dilakukan agar keturunan yang diperoleh dapat dipastikan dari induk yang unggul dan tidak terjadi inbreeding. Teknik untuk menghasilkan induk unggul ini membutuhkan prosedur dan peralatan yang sangat canggih dan mahal, salah satu caranya adalah menggunakan teknik fingerprinting. Selain itu, jumlah telur dan nauplii yang dihasilkan lebih sedikit bila dibandingkan perkawinan secara alami. Pertama-tama, udang betina ditangkap dan dilihat perkembangan ovariumnya. Betina yang sudah memiliki ovarium berkembang akan memiliki warna kehijauan pada lobus ovarium yang terletak pada bagian dasar carapace (Arce et al., 2008).

Gambar Udang dengan ovarium yang sudah berkembang Spermatophore yang sudah berkembang dari udang jantan dikeluarkan secara manual dengan cara menekan spermatophore secara hati-hati sampai spermatophore keluar dari lubang genital. Spermatophore yang sehat tidak menunjukkan adanya melanisasi, berwarna putih, agak bengkak,dan keras jika disentuh (Arce, 2008). Udang betina yang ovariumnya sudah berkembang dipegang pelan sampai thelycum nya terlihat. Thelycum tersebut dikeringkan dengan menggunakan kertas handuk. Spermatophore ditempatkan di antara jari dan index finger lalu spermatophore ditekan dari ujung yang tertutup ke ujung yang terbuka. Tekanan tersebut membuat pecah kantung sperma dan membebaskan sperma yang membentuk tetesan antara jari dan index finger. Hal tersebut memisahkan massa sperma dari bahan gelatin dan spermatophore (Arce et al., 2008). Udang betina dipegang rapat-rapat lalu tetesan sperma diletakkan ke dalam thelycum. Setelah sperma diletakkan pada posisi yang tepat, posisi poreopod dikembalikan ke posisi semula yang membantu mengunci masa sperma. Udang betina tersebut ditempatkan pada spawning tank selama satu malam. Proses ini harus diselesaikan dalam waktu kurang dari 1 menit untuk mengurangi tekanan pada udang betina (Arce et al., 2008).

Suka Be the first to like this post.

Ditulis dalam Akuakultur


Gara-gara Ujan yang Gak Kunjung Reda

http://tuturanbermakna.wordpress.com/2011/04/29/reproduksi-pada-udang-putih-litopenaeusvannamei/

NAUTIKA PERIKANAN LAUT


Makanan dan Kebiasaan Makan

Menurut Effendi (1997), makanan merupakan faktor pengendali yang penting dalam menghasilkan sejumlah ikan disuatu perairan, karena merupakan faktor yang menentukan bagi populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan di suatu perairan. Di alam terdapat berbagai jenis makanan yang tersedia bagi ikan dan ikan telah menyesuaikan diri dengan tipe makanan khusus dan telah dikelompokkan secara luas sesuai dengan cara makannya, walaupun dengan macammacam ukuran dan umur ikan itu sendiri (Nikolsky, 1963) Menurut Moyle dan Chech (1988), ikan dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah dan variasi makanannya menjadi euryphagous yaitu ikan yang memakan berbagai jenis makanan; stenophagous yaitu ikan yang memakan makanan yang sedikit jenisnya; dan onophagous yaitu ikan yang hanya memakan satu jenis makanan saja. Menurut Effendi (1997), kebiasaan makanan adalah jenis, kuantitas dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara makan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu, tempat dan bagaimana cara ikan memperoleh makanannya. Effendi (1997) menambahkan bahwa faktorfaktor yang menentukan suatu jenis ikan akan memakan suatu jenis oeganisme adalah ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna, rasa, tekstur makanan dan selera ikan terhadap makanan. Selanjutnya dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh suatu spesies ikan adalah umur, tempat dan waktu. Jenis ikan kakap merah umumnya termasuk ikan buas, karena pada umumnya merupakan predator yang senantiasa aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal). Aktivitas ikan nokturnal tidak seaktif ikan diurnal (siang hari). Gerakkannya lambat, cenderung diam dan arah geraknya tidak dilengkapi area yang luas dibandingkan ikan diurnal. Diduga ikan nokturnal lebih banyak menggunakan indera perasa dan penciuman dibandingkan indera penglihatannya. Bola mata yang besar menunjukkan ikan nokturnal menggunakan indera penglihatannya untuk ambang batas intensitas cahaya tertentu, tetapi tidak untuk intesitas cahaya yang kuat (Iskandar dan Mawardi, 1997). Ikan kakap merah lebih suka memangsa jenis-jenis ikan. Adapun mangsa lain berupa jenis kepiting, udang, jenis crustacea, gastropoda serta berbagai jenis plankton utamanya urochordata. Umumnya kakap merah yang berukuran besar, baik panjang maupun tinggi tubuhnya, memangsa jenis-jenis ikan maupun invertebrata berukuran besar yang ada di dekat permukaan di perairan karang. Jenis kakap merah ini biasanya menghuni perairan pantai berkarang hingga kedalaman 100 meter, hidup soliter dan tidak termasuk jenis ikan yang berkelompok. Mereka umumnya dilengkapi dengan gigi kanin yang merupakan adaptasi sehubungan dengan tingkah laku makannya, agar mangsa tidak mudah lepas. Ikan dewasa umumnya berwarna merah darah pada punggungnya dan berwarna putih pada bagian perutnya (Gunarso, 1995).
Diposting oleh ::[ 4L! ]:: Label: Artikel Perikanan

http://npl-vedca.blogspot.com/2009/07/makanan-dan-kebiasaan-makan.html