Anda di halaman 1dari 14

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Limnologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari lingkungan perairan darat (misalnya danau, situ, waduk, danau, rawa dan lahan basah), terdiri atas kompoenen biotik dan abiotik, serta pengungkapan proses-proses interaksi diantara komponen-komponen itu (Hehanussa, 2001). Limnologi merupakan sintesis yang menggambarkan banyak disiplin ilmu yang memberikan sumbangan bagi peneliti. Sehubungan dengan ini Limnologi mirip dengan Oseanografi bukan Biologi dan Informasinya dapat ditentukan beberapa rujukan yang bernilai dikatalogkan pada perpustakaan (Sihotang, 2010). Untuk menentukan kondisi suatu perairan dapat ditentukan dengan parameter iologi yakni salah satu menjadi parameternya adalah plankton. Istilah plankton pertama kali digunakan oleh Hensen dalam Odum (1971), berasal dari bahasa Yunani yaitu Planktos yang artinya mengembara atau berkeliaran. Menurut Boney dalam Krebs (1985), plankton tersusun atas jasad jasad tumbuhan mikroskopis (phytoplankton) dan jasad jasad hewani (zooplankton) yang terdapat di laut maupun air tawar, hidup bebes terapung dan pergerakannya bersifat pasif tergantung adanya arus dan angin. Menurut Barus (2004) bahwa fitoplankton merupakan kelompok yang memegang peranan sangat penting dalam ekosistem air, karena kelompok ini dengan adanya kandungan klorofil mampu melakukan fotosintesis. Proses fotosintesis pada ekosistem air yang dilakukan oleh fitoplankton (produsen),

merupakan sumber nutrisi utama bagi kelompok organisma air lainnya yang membentuk rantai makanan.

1.2. Tujuan dan Manfaat Tujuan diadakannya praktikum Parameter Biologi ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis plankton (fitoplankton dan zooplankton) untuk menghitung kepadatan dari masing-masing jenis fitoplankton dan zooplankton, untuk menghitung lebih lanjut mengenai beberapa indeks yang biasa dipakai untuk mendeskripsikan mutu perairan secara cepat, dan agar mahasiswa mampu mengambil sample secara benar di perairan umum. Adapun manfaat dari praktikum ini yaitu setiap mahasiswa dapat mengetahui keberadaan plankton (fitoplankton dan zooplankton) di perairan umum khususnya waduk Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Pekanbaru.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pada dasarnya studi mengenai ekosistem perairan merupakan kajian tentang struktur dan fungsi biota dalam ekosistem perairan bersangkutan. Hal ini berarti keberadaan plankton tidak bisa dipisahkan dengan masalah kualitas perairannya sebagai tempat hidup mereka. Selain kualitas perairan laut, plankton juga dapat dipengaruhi oleh musim dan keadaan oseanografi setempat misalnya dapat dipengaruhi oleh pasang surut, gelombang dan arus (Wibisono, 2005). Menurut Sigid (2010) plankton sebagai jasad renik yang hidupnya meelayang layang di dalam air dapa dikelompokkan dua macam yaitu : fitoplankton yang merupakan tumbuhan dan zooplankton yang merupakan hewan. Fitoplankton sebagai produser primer mempunyai peran yang sangat penting bila dipandang dari penghasil bahan organik dari anorganik via klorofil dan bantuan sinar matahari. Berbeda dengan fitoplankton, zooplankton tidak dapat membentuk bahan organik dari bahan anorganik tetapi mengkonsumsi fitoplankton untuk membentuk bahan organik. Plankton adalah semua organime renik yang hidupnya melayang-layang di dalam air yang bergerak pasif atau daya geraknya sangat terbatas untuk menentang arus. (Sachlan, 1980) Nybakken (1992) menyatakan bahwa plankton merupakan organisme yang kemampuan renangnya demikian lemah sehingga pergerakannya dipengaruhi gerakan air. Keberadaan zooplankton dijumpai hampir di seluruh habitat aquatic tetapi kelimpahan dan komposisinya bervariasi tergantung keadaan lingkungan dan terkait dengan perubahan musim. (Arinardi et al, 1994)

Menurut (Matthew) dalam (akmal, 1996) bahwa seringkali kepadatan zooplankton dan fitoplankton saling mempengaruhi, dimana pada saat jumlah fitoplankton berubah meningkat atau menurun, maka zooplankton berubah pula. Kualitas suatu perairan sangat berpengaruh terhadap kemampuan produktifitas fitoplankton, penurunan kualitas perairan akan mnyebabkan penurunan kelimpahan fitoplankton yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kelayakan suatu perairan untuk kegiatan perikanan. (Emilawati, 2001).

III. METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat Waktu pelaksanaan praktikum Limnologi ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 2 November 2011 pada pukul 10.00 s/d selesai di Laboratorium Limnologi jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. 3.2. Bahan dan Alat Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah lugol, alkohol, label, dan botol sample/film, sedangkan alat-alat yang digunakan selama praktikum adalah planktonet, pipet tetes, dan mikroskop. 3.3. Metode Pengamatan Metode yang digunakan dalam praktikum Limnologi yang berjudul plankton adalah pengamatan secara langsung ke lapangan, yang tetap berpedoman kepada buku penuntun dan didukung dengan beberapa literatur tertentu dimana objek yang diamati adalah organisme plankton dan informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan cara mengamati secara langsung di Laboratorium Limnologi. 3.4. Prosedur praktikum Prosedur praktikum parameter biologi dilakukan dengan cara menyaring 5 liter air di suatu perairan dengan planktonet sebanyak 10 kali sehingga total air yang disaring adalah 50 liter. Masukkan air yang telah dilakukan pemekatan denagn plankton net ke dalam botol film kemudian air sample tadi di beri lugol

agar plankton awet dan tidak rusak. Biarkan air sampel mengendap untuk selanjutnya diidentifikasi plankton yang terdapat pada air sampel dan menghitung berapa jenis plankton yang diperoleh untuk selanjutnya data data tersebut dihitung dan dianalisis dengan menggunakan rumus : N = n x A/B x C/D x 1/E Dimana : N = jumlah total plankton (sel/L) n = jumlah rata rata sel plankton pada setiap lapangan pandangan (sel) A = luas gelas penutup (mm2) B = luas satu lapangan pandang (mm2) C = volume air yang tersaring (ml) D = volume air 1 tetes dibawah gelas penutup (ml) E = volume air yang disaring (L)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum parameter biologi ini dapat diperoleh data sebagai berikut : Table 1. Perhitungan Fitoplankton Spesies Lapangan Pandang ke 1- 2 -3 -4-5 1325-4 5223-3 --512-1 325---5 9 12 13 10 - 17 Jumlah total sel dari seluruh Lapangan pandang 15 15 9 14 53/4 = 13,5 Jumlah sel perlapangan pandang

Ileonema ciliata Coscinodiscus nodulifer Dilep anser Pleurosigma angulatum Total

3 3 2 3 2,75

plankton yang teridentifikasi : Adapun data yang diperoleh adalah n = 2,75 sel A = 22 mm x 22 mm = 484 mm2 B = 37,4 mm2 C = 125 ml D = 0,06 x 5 = 0,3 ml E = 100 L Perhitungan : N = n x A/B x C/D x 1/E = 2,75 x 484/37,4 x 125/0,06 x 1/100

= 2,75 x 12,94 x 2083,3 x 0,1 = 7413,4231 sel/L

4.2. Pembahasan Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh jumlah total plankton 7413,4231 sel/ L. Angka tersebut menggambarkan bahwa kondisi perairan yang menjadi objek praktikum tersebut tergolong perairan eutrofik (peerairan kaya nutrien) karena jumlah kelimpahan plankton tidak begitu besar dalam tiap liter air dan juga terlihat dari morfologi perairan tersebut tidak berwarna hijau layaknya parairan oligotrofik melainkan menunjukkan ciri ciri seperti : dangkal, zona litoral luas, tumbuhan litoral melimpah, warna air yang terlihat hijau sampai kuning. Selain itu perairan yang menjadi objek praktikum juga merupakan perairan mengalir sehingga pengadukan nutrien tersebar rata.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Dari praktikum parameter biologi dapat disimpulkan bahwa perairan yang menjadi objek praktikum tersebut adalah perairan eutrofik (kaya akan nutrien) dan juga perairan seperti ini baik dijadikan sebagai lokasi usaha budidaya perairan. 5.2. Saran Sebaiknya semua praktikan dapat turun kelapangan tanpa hanya melihat praktikan yang lain bekerja, hal ini diperlukan agar semua praktikan dapat mengerti teknis teknis pada praktikum ini dan dapat menerapkannya dalam penelitian yang akan dilakukan di masa yang akan datang terlebih lagi penelitian dalam pembiatan skripsi.

DAFTAR PUSTAKA

10

Akmal, E. 1996. Dinamika Populasi Zoocladocera Sehubungan Dengan Beberapa Parameter Kualitas Air di Danau Baru Desa Buluh Cina Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau. Pekanbaru. 78 hal (tidak diterbitkan). Arinardi, O. H., Trimaningsih dan Suirdjo. 1994. Pengantar Tentang Plankton Serta Kisaran Kelimpahan dan Plankton Predominan di Sekitar Pulau Jawa dan Bali. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi. UPIJakarta. 108 hal. Barus, T.A, 2004. Faktor-Faktor Lingkungan Abiotik Dan Keanekaragaman Plankton Sebagai Indikator Kualitas Perairan Danau Toba. Jurnal Manusia Dan Lingkungan, Vol. XI, No.2. Emilawati. 2001. Kualitas Perairan dan Struktur Komunitas Fitoplankton. Faperika UNRI (tidak diterbitkan). Hehanussa, P dan Hariyani S. 2001. Kamus Limnologi Perairan Darat. IHPUNESCO. Nybakken, J. W. 1992 . Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Diterjemahkan oleh M. Eidman, Koesoebiono, D.G.Bengen, M. Hutomo dan S. Soekardjo. Gramedia. 459 hal. Odum, E. P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Ahli Bahasa : Samingan, T. Gadjahmada University Press. Yogyakarta. Sachlan, M., 1980. Planktonologi. Diktat Pekuliahan Planktonologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 135 hal (tidak diterbitkan). Sigid, Asmika Harnalin, dkk. 2010. Penuntun Praktikum Limnologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau. 33 Hal (Tidak diterbitkan). Sihotang, C, Asmika Harnalis dan Efawani. 2010. Limnologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau. 101 Hal (Tidak diterbitkan). Wibisono, M. S. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Jakarata : Grasindo

11

LAMPIRAN

Lampiran 1. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum

12

gg

Planktonet

Pipet tetes

Mikroskop

Penggaris

Ember

Pena

Buku Penuntun Praktikum

Tisu

Lampiran 2. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum gg

13

Lugol

Alkohol

Botol sampel/film

Label

Lampiran 3. Plankton yang ditemukan di waduk gg

14

Ileonema ciliata

Coscinodiscus nodulifer

Botol sampel/film Dilep anser

Label Pleurosigma angulatum