Anda di halaman 1dari 17

Refleksi Peradaban Masa Depan Asia Tenggara (Infrastruktur, Fasilitas yang Bisa Dikembangkan)

Dosen Pengampu : Dr. Adang Kuswaya, M.Ag

(Mahmudah) NIM :M.1.11.012

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN ) SALATIGA PROGRAM PASCA SARJANA 2011

A. Pengertian Peradaban Peradaban memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang "kompleks": dicirikan oleh praktik dalam pertanian, hasil karya dan pemukiman, berbanding dengan budaya lain, anggota-anggota sebuah peradaban akan disusun dalam beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hirarki sosial. Istilah peradaban sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah "budaya" yang populer dalam kalangan akademis.
[1]

Dimana setiap manusia dapat

berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai "seni, adat istiadat, kebiasaan ... kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan kebiasaan dalam tradisi yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat". [2] Namun, dalam definisi yang paling banyak digunakan, peradaban adalah istilah deskriptif yang relatif dan kompleks untuk pertanian dan budaya kota. Peradaban dapat dibedakan dari budaya lain oleh kompleksitas dan organisasi sosial dan beragam kegiatan ekonomi dan budaya. Dalam sebuah pemahaman lama tetapi masih sering dipergunakan adalah istilah "peradaban" dapat digunakan dalam cara sebagai normatif baik dalam konteks sosial di mana rumit dan budaya kota yang dianggap unggul lain "ganas" atau "biadab" budaya, konsep dari "peradaban" digunakan sebagai sinonim untuk "budaya (dan sering moral) Keunggulan dari kelompok tertentu." Dalam artian yang sama, peradaban dapat berarti "perbaikan pemikiran, tata krama, atau rasa".
[3]

masyarakat yang mempraktikkan

pertanian secara intensif; memiliki pembagian kerja; dan kepadatan penduduk yang mencukupi untuk membentuk kota-kota. "Peradaban" dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk pada seluruh atau tingkat pencapaian manusia dan penyebarannya (peradaban manusia atau peradaban global). Istilah peradaban sendiri sebenarnya bisa digunakan sebagai sebuah upaya manusia untuk memakmurkan dirinya dan kehidupannya. Maka, dalam sebuah peradaban pasti tidak akan dilepaskan dari tiga

faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban. Ketiga faktor tersebut adalah sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan IPTEK.

Istilah peradaban seringkali disamakan dengan penggunaan Civil Society. Penyamaan kedua konsep ini tentu saja tidak begitu tepat. Sejarah Asia Tenggara sudah jauh dimulai beberapa abad silam.

B. Wilayah Asia Tenggara 1. Batas Wilayah Asia Tenggara adalah sebuah kawasan di benua Asia bagian tenggara. Kawasan ini mencakup Indochina dan Semenanjung Malaya serta kepulauan di sekitarnya. Asia Tenggara berbatasan dengan Republik Rakyat Cina di sebelah utara, Samudra Pasifik di timur, Samudra Hindia di selatan, dan Samudra Hindia, Teluk Benggala, dan anak benua India di barat. Asia Tenggara biasa dipilah dalam dua kelompok: Asia Tenggara Daratan (ATD) dan Asia Tenggara Maritim (ATM). Negara-negara yang termasuk ke dalam ATD adalah 1. 2. 3. 4. 5.
y

Kamboja Laos Myanmar Thailand Vietnam

Negara-negara yang termasuk ATM adalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. Brunei Filipina Indonesia Malaysia Singapura Timor Leste

Malaysia, meskipun ada bagian yang tersambung ke benua Asia, biasa dimasukkan ke dalam ATM karena alasan budaya. Semua negara Asia Tenggara terhimpun ke dalam organisasi ASEAN. Timor Leste yang sebelumnya merupakan bagian dari Indonesia telah mengajukan diri menjadi anggota ASEAN walaupun oleh beberapa pihak, atas alasan politis, negara ini dimasukkan ke kawasan Pasifik.[1] Secara geografis (dan juga secara historis) sebenarnya Taiwan dan pulau Hainan juga termasuk Asia Tenggara, sehingga diikutkan pula. Namun demikian, karena alasan politik Taiwan dan pulau Hainan lebih sering dimasukkan ke kawasan Asia Timur. Kepulauan Cocos dan Pulau Christmas, yang terletak di selatan Jawa, oleh beberapa pihak dimasukkan sebagai Asia Tenggara meskipun secara politik berada di bawah administrasi Australia. Sebaliknya, Pulau Papua dimasukkan sebagai Asia Tenggara secara politik meskipun secara geologi sudah tidak termasuk benua Asia. 2. Ekonomi Kebanyakan ekonomi negara-negara di Asia Tenggara masih digolongkan kepada negara berkembang, hanya Singapura yang digolongkan ke dalam negara maju. Ekonomi kawasan Asia Tenggara masih banyak tergantung pada hasil alam, dengan pengecualian Singapura. Dengan pembentukan kawasan perdagangan bebas Asia Tenggara oleh negara-negara ASEAN diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. 3. Kebudayaan Kawasan Asia Tenggara pada masa protosejarah sebenarnya merupakan wilayah yang dinamis dalam perkembangan kebudayaannya. Wilayah tersebut merupakan terminal migrasi bangsa yang datang dari arah Asia kontinental. Dalam upaya menempati wilayah yang baru saja dihuni, manusia migran dari daratan Asia mengembangkan kebudayaannya yang akan menjadi dasar perkembangan kebudayaan Asia Tenggara hingga kini. Setelah beberapa ratus abad bermukim di daratan Asia Tenggara, orang-orang yang kemudian mengembangkan kebudayaan Austronesia tersebut, sebagian ada yang melanjutkan migrasinya ke wilayah kepulauan, menyebar ke arah kepulauan Nusantara

dan juga Filipina, bahkan terus berlanjut ke arah pulau-pulau di Samudera Pasifik. Menurut Robert von Heine Geldern, migrasi ke arah wilayah kepulauan terjadi dalam dua tahap, yaitu: 1. Tahap pertama berlangsung dalam kurun waktu antara 2500--1500 SM 2. Tahap kedua berlangsung dalam kurun waktu yang lebih muda antara 1500500 SM (Von Heine Geldern 1932 and 1936; Soejono 1984: 206--208). Kesimpulan tersebut didasarkan kepada berbagai penemuan arkeologi, antara lain monument-monumen dari tradisi megalitik yang tersebar di berbagai wilayah Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Kajian megalitik menunjukkan bahwa di masa silam terjadi dua gelombang migrasi dari Asia Tenggara daratan seraya membawa hasil-hasil kebudayaan megalitiknya. Gelombang pertama menghasilkan kebudayaan megalitik tua dengan cirinya selalu menggunakan batu-batu alami besar, sedikit pengerjaan pada batu, dan minimnya ornament. Dalam gelombang kedua migrasi dihasilkan kebudayaan megalitik muda yang mempunyai ciri, batu-batu tidak selalu berukuran besar, telah banyak pengerjaan pada batu, dan juga telah banyak digunakan ornamen dengan beragam bentuknya. Megalitik muda itu telah menempatkan nenek moyang bangsa-bangsa Asia Tenggara dalam era proto-sejarah. Bersamaan dengan berkembangnya kebudayaan megalitik muda, kemahiran mengolah bijih logam telah maju, sehingga masa itu juga telah dihasilkan benda-benda dari perunggu dan besi. Kemahiran seni tuang perunggu dan penambahan bentuk ornamen tersebut kemudian ditularkan kepada seluruh seniman sezaman di wilayah Asia Tenggara, oleh karenanya artefak perunggu Dong-son dapat dianggap sebagai salah satu peradaban pengikat bangsa-bangsa Asia Tenggara. C. Peradaban Asia Tenggara 1. Akar Peradapan Asia Tenggara Selanjutnya adalah perihal peradaban yang dikembangkan oleh bangsabangsa Asia Tenggara yang sebenarnya adalah sub-bangsa Austronesia. Telah dikemukakan bahwa kebudayaan keturunan orang-orang Austronesia di negaranegara Asia Tenggara berkembang sesuai dengan jalan sejarah dan juga pengaruh

asing yang mendatanginya. Peradaban oleh para ahli kurang lebih didefinisikan sebagai bagian dari kebudayaan yang baik, maju, dan indah. Termasuk ke dalam peradaban adalah keberaksaraan, masyarakat yang kompleks, kemajuan teknologi, dan pembangunan pemukiman. Bangsa-bangsa Asia Tenggara telah memiliki benih dari perkembangan peradabannya. Datangnya pengaruh kebudayaan India, Cina, dan Islam, sejatinya bagaikan air penyiram benih yang siap disemaikan. Benih itulah yang mengakar jauh sejak masa prasaejarah lalu memasuki era protosejarah dan akhirnya menembus zaman sejarah. Akar yang sama itu dimiliki oleh bangsa-bangsa Asia Tenggara, akar tersebut berupa segala pencapaian yang telah berhasil diraih oleh bangsa Austronesia sebelum pengaruh luar memperkaya kebudayaan mereka. Akar itu adalah segala kepandaian yang dimiliki bangsa Austronesia dalam masa prasejarah sebagaimana yang telah dikemukakan terdahulu. Kemudian masuklah berbagai aspek kebudayaan dari India (terbanyak) dan Cina. Sumbangan terpenting dari kebudayaan India sebenarnya adalah pengenalan terhadap aksara. Maka aksara Pallava lah yang dipilih oleh nenek moyang orang Indonesia, Thailand, Khmer, dan Myanmar untuk menuliskan pengalaman-pengalaman mereka dalam prasasti. Berkat adanya aksara juga pengetahuan dan perjalanan hidup nenek moyang bangsa-bangsa Asia tenggara itu didokumentasikan dalam suatu historiografi Asia Tenggara yang disebut berbeda-beda pada tiap bangsa. Di Indonesia sendiri ada yang menyebutnya dengan Babad, Hikayat, Tambo, Salasilah, Bo, Sajarah, dan lain-lain. Dengan dikenalnya tulisan Pallava Asia Tenggara memasuki Zaman sejarahnya, sekitar abad ke-4 M, sebelumnya masih dalam zaman transisi antara prasejarah dan sejarah yang disebut proto-sejarah. Dengan demikian akar peradaban bangsa-bangsa Asia Tenggara yang kelak bergabung dalam ASEAN adalah Peradaban Austronesia minus aksara. Kebudayaan Austronesia tidak mungkin berkembang sendiri di wilayah Asia Tenggara, karena kawasan tersebut menjadi arena pertemuan dua kebudayaan besar Asia yang telah lama berkembang, kedua kebudayaan itu adalah India dan Cina. Di awal tarikh Masehi, dalam periode protosejarah, dapat dipastikan banyak pelaut dan

niagawan dari Cina dan India saling berkunjung. Kebudayaan bangsa-bangsa di Asia Tenggara (baca: Austronesia) akhirnya diperkaya dengan diterimanya pengaruh dua kebudayaan besar Asia pada masa itu. Maka tidak mengherankan apabila banyak aspek kebudayaan yang datang dari India dan Cina kemudian diterima oleh sub-bangsa-bangsa Austronesia di Asia Tenggara. Apabila diperhatikan secara saksama, maka banyak bangsa Asia Tenggara yang pada awal tarikh 2. Masuknya Islam di Asia Tenggara Ketika agama Islam mulai mengembangkan institusi kerajaan pertama di Asia Tenggara, yaitu Samudera Pasai di wilayah Aceh; banyak bangsa Asia Tenggara daratan masih setia melaksanakan ritus agama Buddha Mahayananya, seperti di Laos, Thailand. Khmer, dan Myanmar. Islam seakan-akan hanya Berjaya di wilayah Asia Tenggara kepulauan dan semenanjung, sementara di pedalaman Asia Tenggara tidak mendapat sambutan yang semarak. Agama Islam adalah pengaruh luar yang datang lebih kemudian ke Asia Tenggara, sesuai dengan para pembawanya yang merupakan kaum niagawan, maka pada awalnya agama tersebut perkembang di wilayah yang mempunyai pantai dan bandar niaga, sudah pasti Islam akan berkembang di wilayah kepulauan dan wilayah tepian continental yang kerapkali dikunjungi para pedagang Islam. Tidak bisa dipungkiri bahwa Islam adalah bentuk kebudayaan ketiga yang turut memperkaya perkembangan kebudayaan Austronesia di Asia Tenggara. Hanya saja diakui bahwa agama tersebut hanya dipeluk oleh sebagian dari sub bangsa Austronesia yang lazim dinamakan ras Melayu, tetapi Melayu tidak identik dengan Islam. D. Refleksi Peradaban Asia Tenggara 1. Tinjauan Infrastruktur Infrastruktur fisik dan sosial adalah dapat didefinisikan sebagai kebutuhan dasar fisik pengorganisasian sistim struktur yang diperlukan untuk jaminan ekonomi sektor

publik dan sektor privat

[1]

sebagai layanan dan fasilitas yang diperlukan


[3]

[2]

agar

perekonomian dapat berfungsi dengan baik

Istilah ini umumnya merujuk kepada

hal infrastruktur teknis atau fisik yang mendukung jaringan struktur seperti fasilitas antara lain dapat berupa jalan, kereta api, air bersih, bandara, kanal, waduk, tanggul, pengelolahan limbah, perlistrikan, telekomunikasi, pelabuhan secara fungsional, infrastruktur selain fasilitasi akan tetapi dapat pula mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat, distribusi aliran produksi barang dan jasa sebagai contoh bahwa jalan dapat melancarkan transportasi pengiriman bahan baku sampai ke pabrik kemudian untuk distribusi ke pasar hingga sampai kepada masyarakat. dalam beberapa pengertian, istilah infrastruktur termasuk pula infrastruktur sosial kebutuhan dasar seperti antara lain termasuk sekolah dan rumah sakit.[4] bila dalam militer, istilah ini dapat pula merujuk kepada bangunan permanen dan instalasi yang diperlukan untuk mendukung operasi dan pemindahan [5]. Khusus di Asia Tenggara kondisi infrastruktur di setiap negara menemukan momen pembalikan ekonomi pasca krisis, negara-negara Asia Tenggara saat ini mulai meningkatkan daya saing ekonomi dengan melakukan percepatan

pembangunan infrastruktur, seperti jalan, jembatan, pelabuhan laut dan udara, jasa logistik, serta sarana transportasi lain pasca krisis. Perbaikan infrastruktur sangat diperlukan sejalan dengan perbaikan iklim investasi dari sisi regulasi, kestabilan fundamental ekonomi, serta kondisi sosial dan politik masyarakat. Keterbatasan infrastruktur menyebabkan biaya pengangkutan sangat tinggi. Biaya ini dibebankan kepada harga produk, sehingga dari sisi harga sulit bersaing di pasar internasional. Untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, perlu pembiayaan. 2. Prospek Fasilitas yang Perlu Dikembangkan Harapan yang kini muncul adalah agar krisis moneter 1997 mampu membawa kapitalisme di Asia Timur dan Asia Tenggara memasuki milenium ketiga dengan sebuah wajah baru, di mana koreksi terhadap rasionalitas formal pelaku ekonomi

dimungkinkan oleh intervensi struktural sebuah pemerintahan yang transparan dan demokratis dalam mekanisme pasar.

Tetapi hubungan antara kapitalisme dengan demokrasi sebenarnya amat kompleks. Analisis-analisis proyektif tentang prospek hubungan antara kapitalisme dan demokrasi merupakan suatu usaha yang teramat sulit. Masalah utamanya, kapitalisme tidak secara intrinsik memuat dimensi-dimensi moralitas politik dalam dirinya.

Kapitalisme, sebagai suatu regim kapital, memiliki ideologi dan sistem logika yang terpola pada never-ending circuit of capital accumulation. Karenanya, sentralitas kapital itu sendirilah yang selalu menjadi basis material dan moral bagi pembentukan formasi-formasi sosial-politik. Segala pertimbangan mengenai pilihan bentuk sistem politik hanya muncul sejauh itu mempengaruhi sirkuit akumulasi modal. Pertimbangan domestik ataupun internasional untuk memasukkan dimensi demokrasi dalam pengaturan sebuah formasi sosial-politik hanya dilakukan sejauh demokrasi mempunyai nilai instrumental dalam sirkuit akumulasi kapital. Ini berarti prospek hubungan demokrasi dan kapitalisme tergantung pada prospek sentralitas kapital itu sendiri.

Konsekuensinya, bila hanya mengandalkan rasionalitas dan moral ekonomi pelaku pasar serta kemauan politik pemerintah, tanpa adanya intervensi dari elemen-elemen kekuatan demokrasi yang tidak terlibat aktivitas akumulasi modal, maka kapitalisme milenium ketiga akan tetap menempatkan akumulasi modal dalam posisi sentralnya. 3. Refleksi Peradapan Masa Depan Asia Tenggara Globalisasi ekonomi, di satu sisi telah menimbulkan lompatan bagi kemakmuran ekonomi dunia. Dalam kurun waktu 1986-2000, akumulasi kekayaan global melonjak dari 7,2 triliun menjadi 27 triliun dolar AS. Setiap tahun negara-negara maju mengalami peningkatan konsumsi per kapita sebesar 2,3 per sen, di negaranegara Asia Timur sebesar 6,1 per sen dan Asia Selatan sebanyak 2,0 per sen. Bila sepuluh tahun lalu negara-negara berkembang hanya berpenghasilan sebesar 34

persen dari Gross World Product, sekarang telah mencapai 40 persen. Namun pada sisi lainnya, globalisasi juga ternyata tidak mampu menghapus kenestapaan dunia. Kemiskinan, kesenjangan dan penderitaan masih menandai potret buram umat manusia. Sekarang ini, mengutip Landes (1999), jarak kesenjangan antara negara paling kaya dan paling miskin adalah 400 berbanding satu. Sekira 250 tahun lalu, kesenjangan tersebut hanya 5 berbanding 1. Laporan WHO tahun 2001 mencatat bahwa terdapat 826 juta penduduk bumi yang mengalami kekurangan gizi dan sekira 10 juta orang meninggal dunia karenanya (lihat Stiglitz, 2003; Baasir, 2003). Bahkan jika globalisasi dipandang sebagai proses tak terpisahkan dari dominannya faham kapitalisme, Haque (1999:xi) dalam Restructuring Development Theories and Practices menunjukkan bahwa globalisasi bukan saja telah gagal mengatasi krisis pembangunan, melainkan semakin memperburuk kondisi sosialekonomi di Dunia Ketiga. Pembangunan sosial dapat dilihat dari output indicators (indikator keluaran) (seperti tingkat kemiskinan, melek hurup, harapan hidup, dan partisipasi sosial). Indikator yang sering disebut dengan indikator sosial ini telah dikembangkan sejak tahun 1970an. Misalnya, Social Accounting Matrix (SAM) yang digagas oleh Pyatt dan Round (1977); Physical Quality of Life Index (PQLI) oleh Morris (1977), dan Human Development Index oleh tim UNDP (Mahbub Ul Haq, Amartya Sen, Paul Streeten dkk). Pembangunan Sosial bisa pula diukur dari input indicators (indikator masukan) yang umumnya dilihat dari pengeluaran pemerintah untuk sektor pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial. Pembangunan sosial di beberapa negara Asia Tenggara di lihat dari output indicators dan input indicators. Secara sederhana, menginformasikan bahwa: 1. Pembangunan ekonomi yang berhasil umumnya diikuti oleh membaiknya kualitas hidup. Ini menunjukan bahwa pembangunan ekonomi penting bagi peningkatan kualitas hidup manusia. 2. Tingginya pendapatan nasional senantiasa diikuti oleh tingginya pengeluaran pemerintah untuk sektor sosial. Artinya, semakin kaya suatu negara semakin besar pemerintah tersebut mengeluarkan anggaran sosial.

3.

Tingkat kualitas hidup ternyata ditunjang pula oleh tingkat pengeluaran sosial. Dapat dikatakan bahwa kemajuan sosial tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi, melainkan pula oleh adanya proporsi pengeluaran sosial yang memadai.

Negara Lemah versus Negara Sejahtera Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu berjalan linier dengan perbaikan standar hidup. Alasannya sederhana. Pertumbuhan ekonomi baru berdampak pada perkembangan hidup, jika disistribusikan secara proporsional untuk pembangunan sosial (Ranis dan Stewart, 1999). Menurut Haq (1995), idealnya negara berkembang dan maju dapat mengeluarkan anggaran untuk pembangunan sosial antara 15 20 persen dari pengeluaran pemerintahnya.

Hingga saat ini, masih berkembang anggapan bahwa pengeluaran sosial sangat tergantung pada pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, pembangunan sosial dipandang sebagai pengeluaran mahal yang tidak akan mampu dilakukan oleh negara-negara berkembang. Hanya negaranegara kaya saja yang pantas melakukan investasi sosial yang mewah ini. Pengeluaran sosial

yang kecil di negara-negara berkembang (di bawah 10%) kemudian menjadi fenomena yang dianggap wajar. Benarkah?

Penelitian UNDP (1990) membuktikan bahwa developing countries are not too poor to pay for human development. Negara berkembang tidak perlu menunggu perekonomiannya tumbuh terlebih dahulu, baru melakukan investasi sosial. Studi di negara-negara Eropa, Amerika, Australia dan Selandia Baru yang dilakukan penulis memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi (GDP) tidak selalu diikuti dengan tingginya pengeluaran sosial. Begitu pula pengeluaran sosial yang rendah di suatu negara tidak selalu dikarenakan pembangunan ekonominya yang rendah. Spektrum mengenai hubungan antara pembangunan ekonomi (PE) dan pengeluaran sosial (PS) tersebut dapat dikategorikan kedalam empat model, yaitu: Negara Lemah, Negara Pelit, Negara Baik Hati dan Negara Sejahtera.

1.

Negara Lemah. Negara ini ditandai dengan PE yang rendah dan PS yang rendah pula. Indonesia, Kamboja, Vietnam termasuk dalam kategori ini. GDP negara-negara ini masih dibawah US$5.000 dan mengeluarkan belanja sosial kurang dari 3 persen dari pengeluaran pemerintahnya.

2.

Negara Pelit. Meskipun negara ini memiliki PE yang tinggi, tetapi PS-nya relatif rendah. Amerika Serikat, Australia dan Jepang termasuk dalam kategori ini. Secara berturut-turut negara ini memiliki pendapatan (GDP) sebesar US$21.449; US$17.215; dan US$23.801. Namun mereka hanya membelanjakan anggaran negara untuk pembangunan sosial sebesar 14,6 persen, 13,0 persen dan 11,6 persen.

3.

Negara Baik Hati. PE di negara ini relatif rendah. Kondisi ini tidak menghalangi negara untuk memberi porsi besar terhadap PS. Yunani dan Portugal memiliki GDP sebesar US$6.505 dan US$6.085. Namun negara-negara ini mengeluarkan anggaran untuk PS sebesar 20,9 persen dan 15,3 persen.

4. Negara Sejahtera. Negara sejahtera merupakan sosok negara ideal, karena memiliki PE dan PS yang tinggi. Posisi negara sejahtera diduduki terutama oleh negara-negara Skandinavia

yang menerapkan sistem welfare state murni, seperti Swedia (PE US$26.652 PS 33,1%); Norwegia (PE US$24.924 PS 28,7%); Denmark (PE US$25.150 PS 27,8%); dan Finlandia (PE US$27.527 PS 27,1%). Negara-negara Eropa Barat juga termasuk kategori ini: Belanda (PE US$18.676 PS 28,8); Prancis (PE US$21.105 PS 26,5%); Austria (PE US$20.391 PS 24,5%); Jerman (PE US$23.536 PS 23,5%); dan Inggris (PE US$16.985 PE 22,3%). Dengan PE US$13.020 dan PS 19,0%, Selandia Baru termasuk kategori negara sejahtera.

Pakar ekonomi pemenang Nobel 1998, Amartya Sen dengan sempurna membuktikan bahwa hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial tidaklah otomatis. Agar berjalan positif dan berkelanjutan harus ditunjang oleh kebijakan sosial (social policy) pemerintah yang pro pembangunan sosial. Laporan tahunan UNDP, Human Development Report, yang kini menjadi acuan di berbagai negara di dunia, juga menunjukkan bahwa pembangunan manusia mendorong pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang tidak memperhatikan pembangunan manusia tidak akan bertahan lama (sustainable).

Pengalaman di Asia Tenggara menunjukkan bahwa tingkat kemajuan ekonomi berhubungan secara positif dengan tingkat pengeluaran sosial. Namun demikian, melihat masih kecilnya pengeluaran sosial di negara-negara ini (antara 2 6 persen) dapat dinyatakan bahwa komitmen pemerintah terhadap pembangunan sosial masih rendah.

Anggapan bahwa pengeluaran sosial yang tinggi merupakan kemewahan dan hanya mampu dilakukan oleh negara-negara kaya ternyata tidak terbukti. Kenyataan di banyak negara menunjukkan bahwa tingginya pengeluaran sosial tidak selalu ditentukan oleh tingginya GDP, seperti diperlihatkan model negara lemah versus negara sejahtera. Contoh lain bisa dilihat pada kasus Malaysia, Thailand, Yunani dan Portugal. GDP Malaysia (US$ 7.730) lebih besar dari GDP Yunani (US$ 6.505) dan Portugal (US$ 6.085), tetapi pengeluaran sosial Malaysia (5,8%) jauh di bawah kedua negara tersebut (20,9% dan 15,3%). Pendapatan Thailand (US$ 6,490) hanya terpaut sedikit di bawah Portugal dan Yunani, namun pengeluaran sosial Thailand (4,2) jauh tertinggal oleh Portugal dan Yunani.

KESIMPULAN ASEAN dalam dinamika kebudayaan Austronesia sebenarnya terletak di pusat ethno-genesisnya. Di tengah wilayah Austronesia yang membentang dari barat adalah Madagaskar hingga Pulau Paskah di timur, dan mulai dari Taiwan-mikronesia di utara sampai wilayah Selandia Baru di selatan, itulah wilayah jelajah nenek moyang Austronesia. Dalam suatu kebudayaan pasti terdapat konsep-konsep inti sehingga menjadi kebudayaan tersebut tetap bertahan dan mempunyai jati dirinya, walaupun harus menembus ruang geografi dan zaman-zaman berbeda. Setelah memperhatikan perkembangan kebudayaan di Asia Tenggara tempat terbentuknya ASEAN, maka terdapat beberapa central concept yang dapat dikembangkan bersama oleh negara-negara ASEAN sebagai peradaban ASEAN (ASEAN Civilization), 1. Kebudayaan leluhur bersama Austronesia: jejak kebudayaan ini ada di setiap negara ASEAN hingga sekarang, walaupun tersaput oleh anasir kebudayaan baru yang datang kemudian. Contoh: terekam dalam bahasa, arsitektur rumah tradisional, tata kota, the soul of government system, religi etnik, kesenian, ornamen, adat sopan satun, dan lain-lain. 2. Kemampuan peradaban ASEAN untuk berinteraksi dan berdialog dengan budaya luar yang datang, kemudian unsur budaya luar itu menjadi luluh dan dianggap sebagai milik sendiri. Akibat adanya kemampuan tersebut penduduk wilayah Asia Tenggara sejak masa silam tidak pernah menjadi India atau menjadi Cina dalam bidang budaya, melainkan tetap Austronesia. 3. Tidak bisa dipungkiri bahwa masuknya Islam adalah bentuk kebudayaan ketiga yang turut memperkaya perkembangan kebudayaan Austronesia di Asia Tenggara. Hanya saja diakui bahwa agama tersebut hanya dipeluk oleh sebagian dari sub bangsa

Austronesia yang lazim dinamakan ras Melayu, tetapi Melayu tidak identik dengan Islam.

4. Tradisi agraris dan maritim yang sebenarnya sangat kuat mengakar, namun akibat kolonialisme banyak negara yang melupakan kedua kemampuan itu. ASEAN sebagai ethno-genesis Austronesia harus mampu mengembangkan lagi pencapaian-pencapaian baru di bidang agraris (telah dipelopori Thailand) dan maritim (seharusnya Indonesia). 5. Toleransi dan Solidaritas ASEAN telah ditunjukkan sejak masa silam. Terdapat berita tertulis yang menyatakan ada kerjasama antara beberapa kerajaan Asia Tenggara untuk membendung pengaruh Cina yang selalu mendesak ke selatan. 6. Penyebaran peradaban kita bukan berasal dari mana-mana, namun menyebar ke mana-mana. Bercermin sejak masa silam wilayah Asia Tenggara selalu didatangi oleh pengaruh luar, dan pengaruh budaya Asia Tenggara itu meluas hingga sepertiga dari bola bumi. Demikian beberapa postulat penting yang dapat diangkat dari kebudayaan Austronesia yang sebenarnya menjadi dasar terbentuknya kebudayaan di negara-negara ASEAN. Dalam kebudayaan tersebut terdapat hal-hal yang maju, indah, dan bermutu bagi kepentingan seluruh umat manusia, itulah yang disebut peradaban Austronesia; tentunya sekarang dapat dijuluki The ASEAN Civilization.

DAFTAR PUSTAKA: FISCHER, G.TH., 1980. Pengantar Antropologi Kebudayaan Indonesia. Seri Pustaka Sarjana. Terjemahan Anas Makruf. Jakarta: PT.Pembangunan. SOEJONO, R.P. (vol.editor), 1984, Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: PN.Balai Pustaka. VOGEL, J.PH., 1925, The Earliest Sanskrit Inscriptions of Java, Publicaties van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie I: 1535. Batavia. WAGNER, FRIZT A., 1995, Indonesia: Kesenian Suatu Daerah Kepulauan. Tranlated by Hildawati Sidharta. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud. Makalah ini disampaikan dalam Lokakarya Sentralitas ASEAN. Tema: Eksistensi ASEAN di Tengah Perkembangan Tatanan Regional Direktorat Jendral Kerjasama ASEAN, DEPLU R.I. Yogyakarta, 22-23 Juni 2009 Baasir, Faisal (2003), Dunia dalam Perangkap AS, dalam Republika, 12 April Badan Pusat Statistik (BPS) (1999), Indikator Kesejahteraan Rakyat, Jakarta: BPS Haq, Mahbub Ul (1995), Reflections on Human Development, New York: Oxford University Press Hill, Michael (1996), Social Policy: Comparative Analysis, London: Prentice Hall/Harvester Wheat Sheaf Suharto, Edi (1997), Pembangunan, Kebijakan Sosial dan Pekerjaan Sosial: Spektrum Pemikiran, Bandung: LSP STKS Utomo, Arif Punto (2003), Baju, dalam Republika, 27 Agustus