Anda di halaman 1dari 3

8

BAB III SOLUSI PENCEMARAN MINYAK DI PERAIRAN INDRAMAYU

3.1. Penanganan Pencemaran Minyak di Perairan Indramayu Tiga teknik yang direkomendasikan untuk penanggulangan tumpahan minyak ini yaitu penggunaan spraying chemical dispersant, pengoprasian slick- lickers, dan floating boom ( Clark R.B, 2003). Sementara langkah selanjutnya adalah pembersihan total sisa-sisa minyak baik di permukaan laut ataupun di daerah pantai yang tercemar adalah dengan bioremediation seperti menyemprotkan nitrat dan phosphate ke tumpahan minyak untuk mempercepat kerja bakteri pengurai minyak serta menyemprotkan air/uap tekanan tinggi ke bagian tebinhg batu karang yang terkena tumpahan. Berkaitan dengan perlengkapan kapal, UU No. 21/92 menyebutkan pula tentang perlengkapan kapal baik dalam operasi maupun penanggulangan kecelakaan (termasuk tumpahan minyak ). Para produsen minyak dan gas bumi pun sudah memiliki protap (prosedur kerja) dan fasilitas penanggulangan tumpahan minyak yang cukup memadai untuk digunakan dan penerapan Tier 1 (penanggulangan bencana tumpahan minyak yang terjadi dalam lingkup pelabuhan) dan Tier 2 ( penanggulangan bencana tumpahan minyak yang terjadi diluar pelabuhan). Penerapamn Tier 2 dilakukan secara inter-connection dibawah koordsinasi ADPEL ( Administrasi pelabuhan). Hal yang tidak kalah penting adalah pentinggnya penguasaan prosedur dan teknik penanggulangan tumpahan minyak oleh pelaksana lapangan.

3.2. Regulasi terkait Pencemaran Minyak di Perairan Indramayu Masalah klasik negeri ini adalah lemahnya koordinasi antar instansi pemerintah dan kepolisian dalam menuntaskan suatu kasus. Hendaknya seluruh aparat baik pemerintah daerah dan pusat, pusat-pusat penelitian, Universitas, LSM dan masyarakat bekerja keras saling membantu dalam penanggulangan bencana ini. Jika dibentuk suatu prosedur penanggulangan seperti : pemberitahuan bencana, evaluasi strategi penanggulangan, partisipasi unsur terkait termasuk masyarakat, teknis penanggulangan, komunikasi, koordinasi dan kesungguhan untuk melindungi laut dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat menjadi poin utama dalam penanggulanggan bencana. Untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan polusi laut akibat tumpahan minyak ini terdapat tiga faktor yang dapat dijadikan landasan yaitu aspek legalitas, aspek perlengkapan dan aspek koordinasi. y Aspek Legalitas Suatu peraturan yang baik adalah peraturan yang tidak saja memeniuhi persyaratan formal sebagai peraturan, tetapi menimbulkan rasa keadilan dan kepatutan dan dilaksanakan/ditegakkan dalam kenyataan ( Husseyn Umar, 2003 ). Undang unhdang NO. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup mengatur jelas aspek-aspek pengelolaan dan sanksi bagi pelaku polusi laut. Namun kenyataan di lapangan, aparat hukum sangat sulit mencari bukti untuk dibawa ke pengadilan. Selain pengaturan tentang lingkungan hidup juga tentang keselamatan dan pelayanan kapal diatur dalam UU No. 21 tahun 1992 yang menyebutkan bahwa setiap kapal yang beroperasi untuk melayani seluruh kegfiatan transportasi laut harus berada dalam kondisi laik laut. y Aspek Perlengkapan Kita tahu bahwa pembersihan laut akibat tumpahan minyak sangat sulitr dilakukan, baik dalam hal waktu, kerja yang harus teru-menerus, maupun dalam hal biaya yang harus dikeluarkan. Tiga teknik yang direkomendasikan untuk penanggulangan tumpahan minyak ini yaitu

10

penggunaan spraying chemical dispersant, pengoprasian slick- lickers, dan floating boom ( Clark R.B, 2003). Sementara langkah selanjutnya adalah pembersihan total soisa-sisa minyak baik di permukaan laut ataupun di daerah pantai yang tercemar adalah dengan bioremediation seperti menyemprotkan nitrat dan phosphate ke tumpahan minyak untuk mempercepat kerja bakteri pengurai minyak serta menyemprotkan air/uap tekanan tinggi ke bagian tebinhg batu karang yang terkena tumpahan. Berkaitan dengan perlengkapan kapal, UU No. 21/92 menyebutkan pula tentang perlengkapan kapal baik dalam operasi maupun penanggulangan kecelakaan (termasuk tumpahan minyak ). Para produsen mi9nyak dan gas bumi pun sudah memiliki protap ( prosedur kerja) dan fasilitas penanggulangan tumpahan minyak yang cukup memadai untuk digunakan dan penerapan Tier 1 (penanggulangan bencana tumpahan minyak yang terjadi dalam lingkup pelabuhan) dan Tioer @ ( penanggulangan bencana tumpahan minyak yang terjadi diluar pelabuhan). Penerapamn Tier @ dilakukan secara inter-connection dibawah koordsinasi ADPEL ( Administrasi pelabuhan). Hal yang tidak kalah penting adalah pentinggnya penguasaan prosedur dan teknik penanggulangan tumpahan minyak oleh pelaksana lapangan.

Aspek Koordinasi Dalam hal penanggulangan polusi tumpahan minyak di laut seluruh depertemen terkait seperti yang telah disebutkan sebelumnyaa, LSM, dan unsur masyarakat harus dapat berkoordinasi untik menangulangi bahaya pencemaran ini. Koordinasi ini sangat penting dilakukan agar pencemaran yang terjadi dapat selesai diatasi sampai tyntas, dimana segenap konsumen bahu membahu saling mengisi kekurangan dan saling tukar informasi.