Anda di halaman 1dari 8

Nama NIM e-mail No.

Hp

: Kukuh Bagus R : 0910103010071 : kuburaan@gmail.com : 0852 9766 6229

PENGARUH GERAKAN POLITIK ISLAM DI MESIR


1. PENDAHULUAN Transisi dari otoritarianisme kepada demokrasi hampir selalu melibatkan proses yang sangat kompleks. disisi lain banyak pendukung rezim lama (otoritarianisme) masih bertahan. Pada saat yang sama pula kekuatan reformasi tidak terkonsolidasi dengan baik atau mungkin sebaliknya, sehingga banyak menimbulkan kecurigaan hubungan timbal balik semakin meningkat. Tidak adanya figur-figur sentral juga dapat membuat banyak kalangan dapat menumbuhkan saling percaya sedikit demi sedikit. Hal seperti ini juga terjadi di mesir pasca tumbangnya kekuasaan Mubarak, orang yang berkuasa di Mesir selama tiga dasawarsa ini masih banyak sekali meninggalkan masalah yang tidak mudah di pecahkan. Kedepan mungkin perjuangan dengan basis kepentingan untuk mewujudkan pemerintahan pilihan rakyat dapat kembali di kuasai oleh militer. Menurut DR Essam el-Haddad salah seorang pemimpin muda al-Ikhwan al-Muslimun (IM), yang juga aktif dalam organisasi Muslim Relief Internasional yang berpusat di London, Inggris. Mesir pasca Mubarak sangat krusial bagi masa depan Mesir baik politik maupun ekonomi. Sekarang ini adalah waktu yang paling tepat bagi rakyat Mesir untuk mendapatkan haknya yang sah untuk menentukan masa depan Mesir. Hanya dengan cara itu, Mesir dapat melepaskan kebergantungannya pada asing, khususnya AS. Dewasa ini demokrasi dan munculnya perlawanan terhadap post-modernisme adalah dua fenomena yang saling berkaitan. Perlawanan dipicu oleh isu kebangkitan komunal dan keagamaan sebagai imbas langsung dari meluasnya demokratisasi. Akibatnya, hampir seluruh bagian dunia negara-negara akan menghadapi kedua tema terbesar dipenghujung abad 19. Mesir adalah sebuah negara yang dianggap sebagai garda terdepan perkembangan sosial, politik,

intelektual dan keagamaan di dunia Arab dan di dunia muslim pasca perlawanan dari gerakangerakan Islam yang menginginkan kembali puncak kejayaannya. Ada semacam kecenderungan yang tumbuh secara alamiah dewasa ini di banyak negara. Demokrasi dianggap sebagai cara terbaik untuk membangun sistem politik. Artinya adalah ada sebuah pengakuan oleh masyarakat internasional dan domestik akan tuntutan terhadappemberdayaan masyarakat dalam pemerintahan dan politik melalui cara yang lebih demokratis. Partisipasi politik, kebebasan dan persamaan hak menjadi ihwal bagi terbentuknya kesadaran berpolitik yang tinggi. Kesadaran berpolitik ini kemudian mendorong individuindividu dan kelompok untuk berupaya melakukan kontrol atas berbagai perkembangan dan jalannya pemerintahan bahkan tidak hanya sebagai kontrol tapi juga dapat berkembang menjadi sebuah kekuatan besar yang berorientasi pada protes keras yang memaksa pemerintah untuk turun dari jabatan politiknya. Itu semua dapat terjadi jika kesadaran yang tinggi dari kelompokkelompok tersebut, keinginan masyarakat luas agar pemerintah mengakomodir dan mengartikulasikan tuntukan dan dukungannya tidak terwujud, dan kemajuan ekonomi, dikhawatirkan akan menimbulkan kesenjangan aspirasi, yaitu antara harapan yang meningkat da n tingkat kepuasan, diantara beberapa kelompok yang pada gilirannya dapat melahirkan kekerasan, bahkan pemberontakan. Secara umum dapat dikatakan bahwa tumbuhnya kesadaran berpolitik ini telah juga menumbuhkan kesadaran dari masyarakat untuk dapat mengontrol jalannya pemerintahan sesuai dengan harapan yang diinginkan bersama. Inilah esensi dari demokrasi itu. Melihat perkembangan di dunia Muslim, kemunculan kelompok yang beridentitas komunal itu telah menumbuhkan berbagai aliran dan organisasi berbasis Islam, yang berkaitan erat dengan dua isu utama. Pertama, isu demoktratisasi yang muncul sebagai akibat pertarungan keras negara dan elite politik dengan masyarakat. Faktor ini bisa terjadi oleh sebab tidak tercapainya kemakmuran dalam masyarakat atau bisa pula, elite dan birokrasi tidak menjalankan pemerintahannya sesuai dengan ajaran atau aqidah yang Islami. Kebanyakan pemerintahan di dunia Islam bersikap otoriter dan mereka terpaku pada program-program modernisasi model Barat yang sekular. Dalam kaitan ini, sebenarnya faktor ini tidak terlepas dengan isu kedua, yakni, isu kebangkitan Islam yang telah lama berkembang dari abad ke-19, di dunia Muslim. Dimana pada saat itu, Jamaluddin Al-Afghani menjadi figur bagi perubahan sosial dan politik dalam dunia islam untuk menghadapi kolonialisme. Kebangkitan Islam kontemporer (fundamentalisme Islam), di tilik dari asal-usul dan manifestasinya, memiliki akar yang kuat dalam pengalaman negara Mesir. Pengalaman ini tidak hanya membawa dampak dalam regional saja, namun juga sampai pada tataran internasional dunia Islam transnasional dan juga Barat. Tidak heran bila kemudian organisasi semacam Ikhwanul Al-Muslimin dan Jam`iyah Islamiyah, yang menawarkan konsep dan model ideologi

dan organisasi bagi pertumbuhan dan perkembangan islam seluruh dunia, memiliki jaringan yang luas, dari Afrika Utara hingga Asia Tenggara. Tokoh-tokoh Islam di Sudan, Tunisia, Aljazair, kawasan Teluk, Asia Selatan, dan Asia Tenggara mengakui pengaruh formatif dari Ikhwan, terutama dari dua tokoh ini; Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutb. Jika ditinjau dari perspektif demokrasi, pengalaman Mesir ini telah menunjukkan bagaimana naik turunnya demokrasi yang terkadang meluas hingga menyebabkan konfrontasi antara negara dan aktivitas Islam revolusioner yang radikal, yang terwujud dalam berbagai kelembagaan Islam dalam bidang sosial dan politik, yang pada akhirnya menyulut revolusi moderat dan juga revolusi kekerasan. Tulisan ini berusaha mengkaji lebih dalam mengenai dinamika politik domestik Mesir dan keberagaman organisasi-organisasi Islam dalam masyarakat, tantangannya pada negara dan dampaknya pada proses demokratisasi.

2. ARTI PENTING DAN PENGARUHNYA TERHADAP POLITIK DOMESTIK MESIR Pada abad kedua puluh ini, gerakan-gerakan Islam mulai bermunculan. Struktur dan pendekatan mereka sangatlah berbeda dengan gerakan-gerakan Islam yang lahir sebelumnya. Hal ini pula menandai lahirnya suatu organisasi Islam gaya baru. Ikhwan Al-Muslimin, yang didirikan oleh Hasan Al-Banna di Mesir pada tahun 1928, dan Jamaat-i Islami, yang didirikan Abu Al-A`la Al-Maududi di Pakistan pada 1941, adalah dua contoh terpenting gerakan-gerakan baru tersebut. Pada awalnya, gerakan-gerakan itu tidak mendapat dukungan dari unsur-unsur konservatif dalam masyarakat, tetapi dari kalangan berpendidikan yang bekerja di sektor-sektor modern. Alih-alih menyerukan untuk kembali pada kondisi pra-modern, mereka berupaya membangun struktur islam secara murni dalam konteks modern. Gerakan-gerakan ini, pada dasarnya, menentang kecenderungan negara pasca kemerdekaan untuk mengikuti model pembangunan yang lebih mengarah ke Barat dan sekuler. Kecenderungan ini pula, setidaknya, mewakili penolakan khas postmodern terhadap pemaksaan homogenitas yang dilakukan oleh lembaga-lembaga massa dan rasionalisme amoral dari sekularisme modern, sesuatu yang menjadi agenda modernitas. Dalam kaitan ini, para pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Jam`iyah Islamiyah di Pakistan bercita-cita yang berorientasi masa depan bagi dunia Islam, yaitu mengubah masyarakat dengan mencetak generasi baru kaum Muslim yang berpendidikan modern dan lebih berorientasi Islam. Oleh karenanya, penekanan utama dari organisasi islam ini adalah pada isu-isu sejarah, pendidikan, dan isu-isu seputar pemuda.

Ikhwan tidak menyerukan revolusi melainkan mendorong proses reformasi islam yang dengannya nilai-nilai islam ditanamkan dalam bidang-bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan media. Ini sangat berbeda dengan pandangan kaum militan yang percaya bahwa pembebasan masyarakat Mesir mensyaratkan agar seluruh umat Islam terlibat dalam perjuangan bersenjata atau perang suci melawan rezim yang mereka anggap menindas, anti-Islam, dan boneka Barat. Suatu hal yang menarik untuk dikaji pula adalah kritik Ikhwan terhadap demokrasi barat, terutama karena menciptakan ketergantungan ideologis atau bentuk-bentuk pemerintahan asing. Mereka menolak bentuk partai politik atau partaisme (Hizbiyah). Bagi Ikhwan, partisipasi politik atau demokrasi hanyalah sarana untuk mencapai tujuan sebab segala sesuatu dikerahkan dalam rangka melestarikan dan menyebarkan islam. Namun dalam perkembangannya, Ikhwan Al-Muslimin, pada tahun 1970-an, dengan tegas menyatakan untuk berpartisipasi dalam sistem politik yang ada. Asumsinya, daripada melancarkan revolusi dengan kekerasan akan lebih baik memamfaatkan demokrasi untuk mengkritik pemerintah, untuk mencapai tujuannya, atau untuk mendukung perjuangan islam sebesar-besarnya. Sikap ambivalensi Ikhwan terhadap demokrasi ini merupakan bagian dari keyakinannya bahwa dunia Islam tengah berjuang untuk mempertahankan diri di tengah ancaman peradaban global akibat Perang Dingin. Lebih lanjut, kaum Muslim dianggap terjebak di antara Barat kapitalis yang menkankan sekularisme, individualisme, dan materialisme dan Timur, komunis atau sosialis dan ateis yang bercirikan kediktatoran dan kelaliman. Pada era 1980-an, gerakan-gerakan Islam moderat di Mesir menggunakan pendekatan Bottom-up dan gradual dalam melakukan perubahan politik, dan bersedia berpartisipasi dalam sistem politik yang ada. Gerakan-gerakan Islam berpartisipasi dalam politik pemilihan dan, sesuai dengan harapan sebagian orang, mencatat kemenangan yang mengesankan. Meskipun dilarang sebagai sebuah partai politik tersendiri di Mesir, Ikhwan Al-Muslimin membentuk koalisi dengan partai-partai politik lain dan tampil sebagi kelompok oposisi politik yang menentukan. Hal ini terlihat jelas dalam pemilihan umum yang berlangsung pada tahun 1984, dimana koalisi Ikhwan dan partai Wafu telah memenangkan 65 dari 450 kursi, sehingga mereka menjadi kelompok oposisi terbesar di parlemen. Sedangkan, dalam pemilu 1987, Ikhwan membentuk koalisi baru, Aliansi Islam, bersama partai Buruh dan partai Liberal. Koalisi ini memenangkan 17 persen suara, dan tampil sebagai oposisi politik dominan bagi pemerintahan Mubarak. Para kandidat Ikhwan menduduki 38 dari 60 kursi aliansi, yang berarti lebih dari setengahnya. Walaupun berkampanye dengan slogan Islam adalah Solusi dan menyerukan penerapan

hukum islam, bukan berarti aliansi islam itu bersifat eklusif namun ia lebih bersifat inklusif yang dibuktikan dengan masuknya orang-orang Kristen Koptik dalam daftar kandidatnya. Setidaknya hal ini menepis citra monolitis yang dangkal dari sikap Islam terhadap demokratisasi. Pada konteks lain, Ikhwan Al-Muslimin dan organisasi-organisasi Islam sukarela lain telah menjadi agen yang efektif bagi perubahan sosial dan politik. Bagaimanapun, berkembangnya lembaga-lembaga sosio-ekonomi alternatif dan berpartisipasinya mereka dalam proses politik, menunjukkan kekuatan mereka dalam mengembangkan lembaga dan memobilisasi rakyat. Organisasi-oragnisasi Islam ini terlibat dalam serangkaian aktivitas sosial dan politik, dengan mendirikan perhimpunan-perhimpunan amal islam (Jamiyah Khayriyah) hingga berperan serta dalam parlemen dan pemilihan perhimpunan profesi. Jaringan kelembagaan mereka yang mencakup masjid-masjid, rumah sakit, klinik, pusat penitipan anak, perkumpulan pemuda, lembaga bantuan hukum, sekolah-sekolah bahasa asing, bank-bank, badan penerbitan, dan program-program rehabilitasi pencandu obat, yang berkembang dengan pesatnya.

Pada dasarnya, pertumbuhan mereka didorong oleh ketidakmampuan pemerintah menangani sosio-ekonomi yang kronis, yang berdampak sangat merugikan bagi lebih separo dari 50 juta warga negara Mesir di bawah usia dua puluh tahun. Organisasi ini meskipun banyak yang berorientasi apolitis, organisasi-organisasi itu telah mampu mengisi kekosongan pelayanan sosial dan dengan demikian merupakan kritik tak langsung terhadap ketidakmampuan/ kegagalan pemerintah untuk memberikan pelayanan yang memadai, terutama bagi sektor-sktor masyarakat bawah. Pada akhirnya, paling tidak, organisasi-organisasi Islam ini menawarkan harapan baru dan bentuk komunitas baru, suatu masyarakat yang diorganisasikan ke dalam sel-sel yang dinamakan keluarga (usrah). Yang lebih penting lagi, komunitas mereka dibangun atas dasar ideologi Islam yang memberikan identitas, komunitas, dan kesinambungan religio-budaya. Setidaknya, komunitas ini mewakili suatu kritik terhadap masyarakat Mesir modern dan sekaligus inign menawarkan agenda perubahan korektif yang radikal, yang berakar dalam sebuah pandangan dunia agama.

3. ANTARA REZIM OTORITERIAN DAN PERMASALAHAN DEMOKRASI YANG PROBLEMATIS Mesir sering dianggap sebagai garda depan perkembangan politik, sosial, intelektual, dan keagamaan di dunia Arab dan di dunia Muslim yang lebih luas. Selama lebih dari dua dasawarsa,

para penguasa Mesir telah bertarung menghadapi berbagai bentuk kebangkitan Islam yang menentang keras negara dan elite penguasa. Pengalaman Mesir ini telah menunjukkan aktivitas islam yang revolusioner yang radikal dan pelembagaan Islam dalam bidang sosial dan politik. Menurut Esposito dan Voll, tumbuhnya aktivitas-aktivitas revolusioner yang radikal ini, muncul paling tidak, karena beberapa alasan. Pertama, kebijakan negara yang berubah-ubah terhadap Islam dalam kerangka kepentingan pemerintah dan elite penguasa untuk mempertahankan legitimasi dan dunia mereka yang seringkali menyulut ketegangan di tengah masyarakat. Pada masa pemerintahan Gamal Abdel Nasser (1952-1971), misalnya, meskipun rezim ini mendapatkan dukungan dari Ikhwan Al-Muslimin, usai revolusi 1952. Malah kemudian, Ikhwan menentang rezim ini karena terbukti bahwa Nasser tidak berniat mendirikan sebuah negara Islam, seperti yang dijanjikannya. Bagi Nasser, ia lebih mengedepankan promosi nasionalisme dan sosialisme Arab sekuler. Akibatnya, hubungan dengan Ikhwan memburuk. Pemerintah dan Ikhwan, kemudian terlibat dalam konfrontasi yang sporadis. Akhirnya, pada tahun1966, Nasser menghukum mati Sayyid Qutb, ideolog utama Ikhwan Al-Muslimin, serta tokoh-tokoh garis keras lainnya dan menahan, memenjarakan para aktivis gerakan Islam. Sehingga, praktis menjelang akhir periode politiknya, negara telah demikian membelenggu lembaga keagamaan dan membungkam seluruh oposisi. Anwar Saddat yang muncul kemudian, berusaha menarik simpati masyarakat dengan membentuk identitas dan legitimasi politiknya sendiri, memamfaatkan islam untuk menyngkirkan kekuasaan Nasseris dan kelompok kiri, demi meningkatkan legitimasi dan mencari dukungan rakyat. Kebijakan politik dan ekonomi Sadat yang lebih terbuka memungkinkan berkembangnya gerakan-gerakan Islam yang beragam dan berwajah majemuk. Ikhwan Al-Muslimin seakan muncul kemabli dari pengasingannya. Mereka mulai membangun dan menyusun barisan kembali. Seiring dengan itu, kelompok-kelompok Islam yang lebih muda dan radikal bermunculan pula. Kelompok-kelompok radikal ini berkeyakinan bahwa pemerintah bersikap anti-Islam, dan bahwa satu-satunya pilihan adalah mengulingkannya dengan revolusi kekerasan. Kelompok ini menjalankan strategi anti pemerintahan dengan menunjukkan sikap perlawanan dan kekerasan, merekrut dan memobilisasi anggota, dan menyerang lembaga-lembaga pemerintah serta membunuh para pejabat. Akibatnya, semakin lama rezim mendapati dirinya didikte oleh Ikhwan dan Jamaah Islamiyah yang militan. Dan rezim juga mendapati inisiatifinisiatif islami selama ini tidak produktif. Bagi mereka, Islam adalah pedang bernata dua, yang dapat mendatangkan dan melenyapkan legitimasi, serta dapat pula mengerahkan dan mengerakkan oposisi. Setelah membiarkan si jin keluar dari botol, Sadat berusaha memasang kembali tutupnya, dengan menyatakan pemisahan agama dan politik. Dari sini tampaknya, otoriterianisme Sadat

semakin kuat saja dan penindasan terhadap para penentangnya semakin luas termasuk para pengkritik kebijakannya, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri, entah mereka itu kaum sekuler ataupun kaum agama. Penahanan ini yang dilakukan rezim itu menyulut perlawanan dari kalangan Islam yang radikal, dan akhirnya berpuncak pada pembunuhan Anwar Sadat, pada 3 Oktober 1981, oleh para anggota Jamaah Al-Jihad. Kedua, munculnya gerakan-gerakan revolusioner radikal di Mesir disebabkan oleh faktor berkembangnya gaya hidup, kekuasaan, dan hak-hak istimewa yang diperoleh oleh penguasa. Tokoh-tokoh Islam mencemooh dan menolak reformasi hukum karena dianggap sebagai hasil pengaruh Barat. Mereka menyebut Undang-undang Jihan, mengacu pada Jihan Sadat, yang ibunya berasal dari Inggris, dan dianggap sudah terbaratkan. Lebih jauh lagi, kebijakan ekonomi pintu terbuka (Infitah) Sadat dianggap mendorong penetrasi budaya Barat, dari pakaian dan perilaku hingga televisi, musik, dan video, yang hanya menguntungkan kaum elite yang menikmati hak istimewa dalam ekonomi. Dengan demikian, mendorong tumbuhnya suatu masyarakat yang di dalamnya yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Ketiga, tumbuhnya polarisasi antara para tokoh Islam dan sekuler serta pejabat-pejabat pemerintah. Faktor keempat, justifikasi pemerintahterhadap kaum fundamentalis dengan tuduhan hendak membajak demokrasi. Sedangkan faktor lainnya, secara khusus dapat dikatakan bahwa ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan kebutuhan publik; pengangguran kaum menengah, dan merosotnya moral, telah memicu semakin meluasnya konfrontasi antara pasukan keamanan negara dan kaum ekstremis Muslim yang pada akhirnya menyulut revolusi moderat dan juga revolusi kekerasan. Hal ini membuktikan bahwa begitu dilematis dan problematisnya pembangunan demokrasi di Mesir. Dimana, perluasan demokratisasi, dalam hal ini mengacu kepada kekebasan berekspresi, telah menciptakan momok tersendiri bagi pemerintahan di Mesir. 4. KESIMPULAN Kesimpulan apa yang dapat ditarik dari pembahasan di atas adalah bahwa hampir di seluruh dunia Muslim, terutama Mesir, dewasa ini, menjadi saksi bagi pengaruh dan interaksi antara kekuatan kebangkitan Islam dan demokratisasi. Dari sini juga, kita bisa menyaksikan bagaimana gerakan-gerakan global keagamaan dan komunal berlangsung. Tampak jelas, bahwa ada kecenderungan desekulerisasi global yang menetang proyek modernisasi, pembaratan progresif dan sekulerisasi masyarakat yang telah sering didenggungkan sebgai prinsip-prinsip perkembangan evolusioner yang tak terelakkan.

Di sisi lain, kebangkitan Islam yang mewarnai abad ke-20 ini telah memunginkan munculnya beragam gerakan-gerakan Islam. Arti penting dan pengaruh gerakan-gerakan Islam dalam konteks yang lebih luas dapat dilihat dari sejauh mana mereka mendapatklan legitimasi budaya, dan sejauh mana mereka menjadi bagian dari arus utama kehidupan dan masyarakat Muslim, dan bukan semata-mata sebagai kelompok yang dipinggirkan dan diasingkan. Setidaknya, pranata-pranata yang berorientasi Islam telah menyediakan kebutuhan di tengah masyarakat, yang menyediakan layanan pendidikan dan sosial yang banyak dibutuhkan masyarakat dan paling tidak mampu menekan keterbatasan-keterbatasan dan kegagalankegagalan pemerintah yang terus berlanjut. Dan prestasi terpenting bagi gerakan Islam, khususnya Ikhwan Al-Muslimin adalah sejauh mana ia dapat menciptakan suatu alternatif dan normatif dengan landasan agama dan pertimbangan-pertimbanagn politik, sosial, dan ekonomi. Tatanan alternatif itu memberikan suatu pandangan-dunia ideologis yang didasarkan atas, dan dan dilegitimasi oleh, agama dan menawarkan sistem pelayanan sosial alternatif yang menunjukkan relevansi dan efektivitas agama dengan realitas dan masalah-masalah sosial. Akibatnya, Islam akan dianggap sebagai agen perubahan yang efektif dan sekaligus sebagai tantangan dan ancaman.

Referensi

John L. Esposito dan John O. Voll, Demokrasi di Negara-negara Muslim; Problem dan Prospek, (Bandung: Mizan,1999)

., Islam, Politik, Pemerintahan dan Negara, dalam Jurnal Dialog, edisi Th. IV, No.13, OktoberDesember 2000

., Saatnya Revolusi Islam, dalam Majalah Sabili, edisi khusus No. 01, Th. X, 25 Juli 2002/ 14 Jumadil Awal 1423 H

., The Rule of Sadat (1970-1981),

dalam http://www.arab.net/egypt/et_sadat.htm , akses tanggal: 22-12-2011

http://www.gusdur.net/detail.asp?catName=&contentOID=531, akses tanggal 24-12-2011 .., Anwar Sadat: Architect of New Mideast, dalam

http://www.time.com/time/special/moy/1977.html , tertanggal January. 2, 1978, diakses tanggal: 13-72009