Anda di halaman 1dari 9

Tiga Alasan Menolak Susbtansi RUU Komponen Cadangan Pertahanan Negara: Suatu Kritik Bhatara Ibnu Reza

A. Pendahuluan Pemerintah dan DPR akhirnya menyetujui RUU Komponen Cadangan Pertahanan Negara (KCPN) dalam pembahasan pada masa persidangan 2010 setelah sebelumnya DPR dimasukan dalam Prolegnas 2008.1 Dan untuk keperluan tersebut sebelumnya DPR telah pula mengesahkan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) RUU KCPN yang diketuai oleh Happy Bone Zulkarnain pada 21 April 2009.2 Adapun draft yang dibahas adalah draft Desember 2008 yang merupakan revisi dari draft 9 Oktober 2006 yang sebelumnya telah mengalami kritik tajam dari masyarakat sipil.3 Pada RUU ini Departemen Pertahanan menjadi wakil dari pemerintah sebagai mitra dari Pansus RUU KCPN DPR. Dalam Naskah Akademik Komponen Cadangan Pertahanan Negara 2008 yang dipublikasikan oleh Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan Departemen Pertahanan menyatakan bahwa:4 pembentukan adalah sesuatu yang strategis. Jika hal ini bias dipahami maka sebetulnya pembentukan Komponen Cadangan bukan hanya karena nilai urgensinya tapi lebih kepada nilai strategisnya. Bahwa ia perlu ada demi kepentingan pertahanan dan bela negara di masa mendatang yang harus dipersiapkan dari masa kini. Peryataan ini tentunya haruslah melihat akan beberapa hal terutama sekali adalah strategic defense review dan postur pertahanan yang hendak dibangun oleh Indonesia. Pasalnya sebagaimana telah disinggung diawal, kepentingan pembentukan KCPN ini tidak memiliki dasar yang cukup kuat jika mengacu pada dua Produk Strategis Pertahanan yaitu Strategi Pertahanan
*Sebagian besar pernah dimuat dalam tulisan Bhatara Ibnu Reza,Reformasi Legislasi Sektor Keamanan Indonesia 2008-2009: Reformasi Tanpa Arah, dalam Beni Sukadis, et.al, Almanak Reformasi Sektor Keamanan, (Jakarta: Lesperssi, 2009). *Koordinator Riset Hak Asasi Manusia IMPARSIAL The Indonesian Human Rights Monitor 1 Lihat Pusat Informasi dan Komunikasi Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, RUU Usulan Prioritas Prolegnas 2008, http://hukumham.info/index.php?option=com_content&task=view&id=103&Itemid=99999999, (Diakses 21 April 2009). 2Lihat www.hukumonline.com,Rapat Paripurna Sahkan Dua Pansus RUU, http://cms.sip.co.id/hukumonline/detail.asp?id=21781&cl=Aktual, (Diakses 21 April 2009). 3 Lihat Bhatara Ibnu Reza, et. al, Reformasi di Persimpangan: Rancangan Komponen Cadangan Pertahanan Negara, (Jakarta: Imparsial, 2008). Lihat juga www.kompas.com, Imparsial: Hentikan Penyusunan RUU Komponen Cadangan, (Diakses pada 21 April 2009). 4Lihat Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan, Naskah Akademik Komponen Cadangan Pertahanan Negara, (Jakarta: Departemen Pertahanan RI, 2008), hal. 28.

Negara dan Postur Pertahanan Negara yang diterbitkan pada 2007. Sungguhpun draft RUU KCPN telah direvisi pada Desember 2008 tidak menjadikannya sebagai bentuk pengejawantahan Perpres No. 7 Tahun 2008 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara yang diterbitkan pada bulan dan tahun yang sama. Dalam draft RUU KCPN versi Desember 2008 memang terdapat banyak perubahan akan tetapi esensi dari RUU yaiotu filosofis, hukum dan politik serta kedudukan warga sipil tidak mengalami perubahan. Terdapat tiga permasalahan dalam RUU KCPN yaitu persoalan HAM warga negara; kaitannya dengan postur pertahanan negara; nuansa kepentingan politik militer terutama Angkatan Darat. Dengan kata lain draft Desember 2008 belum menjawab persoalanpersoalan pertahahan negara apalagi perlindungan terhadap hak kosntitusi warga negara serta kepentingan atas pembentukan KCPN. B. Persoalan Hak Konstitusi Warga Negara: Conscientious Objection? Naskah Akademik dari Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan menyatakan RUU KCPN mengakomodasi HAM akan tetapi draft RUU KCPN Desember 2009 masih belum menjamin hak-hak warga negara dengan masih adanya penerapan pidana bagi warga negara yang menolak untuk mengambil bagian dari KCPN.5 Padahal persoalan persepektif HAM adalah hal yang sangat penting dalam keikutsertaan warga sipil dalam pertahanan negara.6 Hak-hak yang dilanggar pada proses perekrutan adalah hak untuk hidup (right to life), hak untuk kebebasan dan keamanan seseorang (right to liberty and security), serta kekebasan untuk berpikir, hati nurani dan beragama (freedom of thought, conscience and religion) serta hak untuk diperlakukan sama dihadapan hukum tanpa diskriminasi dalam kesamaan perlindungan hukum (right to be treated equal before the law). Kesemua hak tersebut termasuk dalam rumpun hak tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Berkait dengan praktik wajib militer di berbagai negara, Komisi Tinggi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN High Commission for Human Rights) kemudian mengeluarkan resolusi mengenai penolakan terhadap wajib militer oleh seseorang melalui Resolusi 1998/77.7 Conscientious Objection yang secara harafiah diartikan sebagai penolakan bersungguh-sungguh sebenarnya merupakan penolakan seseorang terhadap wajib militer berdasarkan kepercayaannya (believe). Sedangkan individu yang menggunakannya disebut sebagai Conscientious Objector (CO). Penolakan tersebut merupakan hasil dari penafsiran Komisi HAM PBB dimana hal itu merupakan bagian dari HAM dalam Pasal 18 ICCPR8 mengenai kekebasan untuk berpikir, hati nurani dan beragama (freedom of thought, conscience and religion). Dalam Komentar Umum
5 Ibid. hal. 48. 6 Lihat Bhatara Ibnu Reza,Wajib Militer: Perspektif HAM, dalam Beni Sukadis, Pertahanan Semesta dan Wajib Militer: Pengalaman Indonesia dan Negara Lain, (Jakarta: Lesperssi-DCAF, 2008). Hal. 90-103. 7 United Nations High Commission for Human Rights, Conscientious Objection to Military Service, (Commission on Human Rights Resolution 1998/77). 8 Peter Rowe, The Impact of Human Rights Op.Cit, hal. 18 dalam footnote 61. Ketentuan dalam Pasal 18 ICCPR juga telah diadopsi oleh sejumlah instrument HAM regional seperti dalam Pasal 8 African Charter on Human Rights and Peoples Rights; Pasal 12 American Convention of Human Rights serta Pasal 9 European Convention on Human Rights.

(General Comment) Nomor 24 Paragraf berkait dengan Pasal 18 ICCPR oleh Komite HAM (Human Rights Committee)9 dinyatakan bahwa:10 The Covenant does not explicitly refer to a right to conscientious objection, but the Committee believes that such a right can be derived from article 18, inasmuch as the obligation to use lethal force may seriously conflict with the freedom of conscience and the right to manifest ones religion or belief. Meski terkesan bahwa conscientious objection didasarkan oleh kepercayaan dan agama namun hak ini juga melindungi hak individu dalam kebebasan nurani dan non-believers.11 Resolusi 1998/77 Komisi HAM PBB menekankan agar negara harus mengambil setiap tindakan yang perlu untuk menahan diri (to refrain) dari pengecaman terhadap para CO serta menghukum kembali (repeated punishment) karena pengabaian melakukan wajib militer (failure to perform military service) serta mengingat tidak seorangpun dapat dihukum kembali terhadap suatu kejahatan dimana ia telah menerima hukuman atau dibebaskan berdasarkan hukum dan hukum acara pidana dari masing-masing negara.12 Negara baik dalam hukum nasional maupun praktiknya tidak diperbolehkan memperlakukan para CO berkaitan dengan persyaratan dan ketentuan wajib militer atau berkait dengan hak-hak ekonomi, sosial, budaya, sipil dan politik.13 Sedangkan bagi negara-negara yang belum mengatur perihal conscientious objection namun memiliki peraturan perundang-undangan mengenai sistem wajib militer (system of compulsory military service, Resolusi 1998/77 Komisi HAM PBB merekomendasikan untuk memberikan CO dengan berbagai dinas pengganti (alternative service) wajib militer yang sesuai bagi pengguna conscientious objection, non-kombatan atau penduduk sipil dalam kepentingan publik (public interest) dan bukan sebagai dasar penghukuman (punitive nature).14 Dalam hal situasi-situasi tertentu terdapat kesesuaian dengan persyaratan dari definisi pengungsi sebagaimana diatur dalam Konvensi 1951 tentang Status Pengungsi, resolusi ini mendorong negara-negara untuk memberikan suaka (granting asylum) bagi CO yang terpaksa meninggalkan negara asalnya disebabkan ketakutannya dari tindak persekusi yang timbul dari penolakannya dalam melakukan wajib militer dimana tidak terdapat pengaturan (provision) atau pengaturan yang memadai mengenai conscientious objection terhadap wajib militer.15
9 Harus diperhatikan bahwa Komite HAM (Human Rights Committee) merupakan badan yang dibentuk dalam rangka mengawasi kewajiban negara peserta ICCPR atau sering dikenal sebagai treaty body. Sedangkan Komisi HAM PBB UN Commission for Human Rights adalah organ PBB yang dibentuk dibawah Economic, Social and Cultural Council (ECOSOC) yang merupakan principal organ dari PBB. Dalam perjalanannnya Komisi HAM PBB menjadi Dewan HAM PBB (UN Human Rights Council) Lihat Scott Davidson, Hak Asasi Manusia [Human Rights]. [Diterjemahkan oleh A. Hadyana Pudjaatmaka], (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1994). 10 General Comment No. 22: 30/07/93(48th Session): The Right to Freedom of Thought, Conscience and Religion (Art. 18) CCPR/ C/21/Rev.1/Add.4. para. 11. 11 Commission on Human Rights, Civil and Political Rights, including the Question of Conscientious Objection to Military Service, Report of the High Commissioner submitted pursuant to Commission Resolution 2000/34, E/CN. 4/2002/WP. 2 of March 14,2002, hal. 3, para. 9. 12 United Nations High Commission for Human Rights, Conscientious Objection, Op.Cit., para. 5. 13 Ibid. para. 6. 14 Ibid. para. 4. 15 Ibid. para.7.

Laporan Komisi HAM PBB No. E/CN.4/2002/WP pada 14 Maret 2002 berkait dengan persoalan conscientious objection dalam wajib militer menampilkan sejumlah yurisprudensi dari berbagai organisasi internasional maupun regional.16 Salah satunya yang paling maju dilakukan oleh Pengadilan HAM Eropa (European Court of Human Rights). Indonesia sendiri pernah memiliki mekanisme CO ketika pemberlakukan UU No. 66 Tahun 1958 tentang Wajib Militer merupakan salah satu peraturan perundang-undangan yang lahir dari amanat UU No 29 Tahun 1954 tentang Pertahanan Negara. UU merupakan peraturan yang pertama mengatur segala soal wajib militer diantaranya hak dan kewajiban, kedudukan hingga berbagai sanksi pidana dalam berbagai situasi. Warga negara yang berusia 18 tahun hingga 40 tahun wajib mendaftar untuk wajib militer. Meski dalam kerangkawajib terdapat hal yang menarik dimana UU ini membebaskan seseorang untuk ikut serta dalam wajib militer berdasarkan kepercayaanya. Penjelasan Pasal 11 UU No. 66 Tahun 1958 tentang Wajib Militer menyatakan: Pasal 10 Undang-undang Pertahanan di mana di dapat juga syarat-syarat pembebasan (Lembaran Negara tahun 1954 No.84) berbunyi sebagai berikut : "Wajib-militer tidak dikenakan terhadap: a. Mereka yang dalam, keadaan sedemikian, sehingga apabila mereka diapnggil untuk wajib-militer akan mengakibatkan kesukaran hidup bagi orang lain yang menjadi tanggungannya. b. Mereka yang menjabat suatu jabatan agama atau perikemanusiaan yang ajarannya tidak membolehkan, c. Mereka yang melakukan tugas penting untuk Negara" Pasal ini belum di muat ketentuan mengenai kemungkinan pembebasan dari golongan tertentu yang juga terdapat dalam masyarakat Indonesia, yaitu golongan yang tidak bersedia menjadi prajurit (secara sukarela maupun wajib) karena hal itu adalah bertentangan dengan kepercayaan yang dianutnya, (dalam bahasa Belanda "principiele dienst weigeraars"); Ketentuan-ketentuan tentang hal ini perlu diatur dalam Undang-undang tersendiri. UU No. 66 Tahun 1958 tentang Wajib Militer juga memberikan penegasan secara jelas perihal komponen pertahanan negara yang telah diatur dalam Pasal 5 UU No 29 Tahun 1954 tentang Pertahanan Negara. Penjelasan ini terlihat dalam butir 2 tentang Wajib Militer dalam Rangka Pertahanan Negara dimana terdapat Komponen Pertahanan Negara yaitu: Pertama: Angkatan Perang yang terdiri dari : a. Angkatan Perang tetap yang terdiri dari militer-sukarela yang merupakan tenaga inti dari Angkatan Perang semasa damai maupun perang. b. Cadangan Angkatan Perang yang terdiri dari militer-wajib yang semasa damai dididik dan dilatih secara periodik. Kedua: Rakyat terlatih, terdiri dari mereka yang tidak dimasukkan dalam Angkatan Perang (secara sukarela maupun wajib) untuk melakukan tugas-tugas pembelaan yang
16 Commission on Human Rights, Op.Cit. hal. 6-9.

bersifat tidak khusus militer dan membantu Angkatan Perang dalam pelaksanaan tugastugas secara langsung maupun tidak. Bila ditelisik lebih jauh terhadap peraturan perundang-undangan berkait dengan wajib militer terdapat hal penting khususnya dalam penghormatan terhadap HAM sebagai hak konstitusi warga negara. UU No. 66 Tahun 1958 tentang Wajib Militer menggunakan landasan hukum dari UUDS 1950 dan UU No 29 Tahun 1954 tentang Pertahanan Negara. Dengan kata lain UU Wajib Militer merupakan pengejawantahan konstitusi Indonesia khususnya Pasal 24 UUDS 1950 berkait dengan hak dan kewajiban warga negara dalam pertahanan negara. Meski UU Wajib Militer tidak secara spesifik menyebutkan dasar-dasar HAM lainnya yang termaktub dalam UUDS 1950 secara lengkap namun semangat UU Wajib Militer tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan hak konstitusi warga negara. Bandingkan dengan Pasal 12(1) draft RUU KCPN versi Desember 2008 menyatakan: Penangguhan menjadi anggota Komponen Cadangan dapat dilakukan terhadap calon Anggota Komponen Cadangan karena: a. sakit yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter; b. keberadaannya diperlukan masyarakat; c. sedang menjalani tahap ujian akhir atau tugas akhir pendidikan yang tidak dapat ditinggalkan; d. sedang menunaikan ibadah haji atau ibadah lain sesuai dengan agamanya; atau e. sedang melaksanakan tugas penting yang tidak dapat digantikan oleh orang lain. Terkesan bahwa RUU ini mengakomodasi CO didalamnya serta sangat jauh dari maknanya. Dalam pasal ini terlihat kata penangguhan mencerminkan bahwa pertimbangan diberikan kepada negara dan bukan kepada warga negara. Artinya kuasa untuk melakukan penangguhan dengan berbagai pertimbangan dan alasan tidak didasarkan pada hak warga negara. Pasal ini membuktikan bahwa RUU ini tidak mngakomodasi standar internasional berkait dengan hak warga negara dalam pelibatannya dalam pertahanan negara. C. Persoalan Postur Pertahanan Negara: Mengapa Harus Komponen Cadangan? Kedua, perihal postur pertahanan negara. Hal yang seringkali diungkapkan ketika RUU KCPN ini menjadi perhatian masyarakat adalah mengapa kemudian KCPN menjadi jawaban dari permasalahan postur pertahanan Indonesia mengingat seharusnya terlebih dahulu pengaturan postur pertahanan lebih diutamakan pada komponen utama pertahanan yaitu TNI. Sedangkan reformasi terhadap TNI belumlah selesai. Pertanyaan lainnya adalah, seberapa besar KCPN dibutuhkan untuk memperkuat komponen utama? Serta bagaimana kemudian pembiayaan KCPN ini jika dilaksanakan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus segera dijawab. Departemen Pertahanan merancang bahwa pembangunan KCPN menjadi bagian dari pengembangan postur pertahanan nirmiliter17 yang dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan setiap matra.18 Tahap awal pembangunan KCPN difokuskan pada penuntasan RUU KCPN serta
17 Isitilah ini absurd karena nirmiliter secara harafiah adalah tanpa militer dan akan rancu jikia melihat kedudukan KCPN sebagai kombatan dalam Hukum Humaniter Internasional. Lihat Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan, Op.Cit, hal. 48. 18 Departemen Pertahanan, Postur Pertahanan Negara, (Jakarta: Departemen Pertahanan, 2007). hal. 110.

sosialisasi peraturan perundangannya setelah pengesahannya.19 Pengadaan KCPN dilakukan secara bertahap dengan pengadaan sebesar 10.000 personel yang diprioritaskan pada matra darat serta pembangunan sarana dan prasaran seperti markas untuk Komponen Cadangan sehingga dalam 5 tahun terdapat 50.000 personel KCPN.20 Untuk itu dalam merealisasikannya dimana setiap Komando Distrik Militer (Kodim) memiliki satu kompi Komponen Cadangan.21 Pemaparan pembangunan KCPN dalam Buku Postur Pertahanan Negara 2007 tidak memberikan gambaran yang jelas seberapa besar kebutuhan Komponen Utama dalam hal ini TNI Angkatan Darat sehingga diperlukan Komponen Cadangan sedemikian besar. Ini membuktikan bahwa konsep pembangunan Komponen Cadangan tidak terlalu signifikan karena kalau hanya ingin memperbesar jumlah personel akan lebih baik jika penambahan personel difokuskan pada komponen utama. Pasal 7(2) UU No. 3 Tahun 2003 tentang Pertahanan Negara menyatakan bahwa sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai komponen utama dengan didukung oleh Komponen Cadangan dan komponen pendukung. Sementara pada Pasal 7(3) disebutkan bahwa sistem pertahanan negara dalam menghadapi ancaman non-militer menempatkan lembaga pemerintah di luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai dengan bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh unsur-unsur lainnya dan kekuatan bangsa. Ketentuan pasal ini secara jelas menegaskan bahwa pembentukan Komponen Cadangan hanya ditujukan untuk membantu TNI selaku komponen utama pertahanan dalam menghadapi ancaman militer.

Persoalan lain yang tak kalah penting adalah penggunaan KCPN. Pasal 27 draft RUU KCPN versi Desember 2008 menyatakan bahwa KCPN digunakan berdasarkan strategi pertahanan melalui mobilisasi yang ditetapkan oleh Presiden. Dalam penjelasan pasal ini tidak dijelaskan maksud strategi pertahanan dalam kaitannya dengan apakah digunakan untuk menghadapi musuh dari luar atau musuh dari dalam.22 Selain itu dalam Pasal 29 draft RUU KCPN versi Desember 2008 menegaskan bahwa dalam keadaan perang anggota Komponen Cadangan setelah dimobilisasi berstatus kombatan

Berbeda pada draft versi 9 Oktober 2006 yang secara tegas menyatakan KCPN digunakan dalam keadaan darurat militer dan atau keadaan perang.23 Perubahan ini tentunya sekali lagi harus
19 Ibid. hal. 124 20 Ibid. hal. 124 21 Ibid. hal. 124 22 Penjelasan Pasal 27 Draft RUU KCPN versi Desember 2008: Yang dimaksud dengan strategi pertahanan adalah perpaduan antara seni dan ilmu dalam menentukan pilihan-pilihan guna mencapai tujuan pertahanan negara. Strategi pertahanan negara disusun berdasarkan 3 (tiga) kaidah penuntun yakni, yang menyangkut sasaran (ends), alat (means), dan cara dan/atau pendekatan (ways); yang menjawab 3 (tiga) pertanyaan penuntun yang mendasar, yaitu apa yang dipertahankan, dengan apa mempertahankan dan bagaimana mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menjamin keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. 23Pasal 32 berbunyi: Dalam keadaan darurat militer atau keadaan perang Komponen Cadangan setelah dimobilisasi

mengacu pada Pasal 7(2) UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI menyatakan bahwa tugas pokok TNI terbagi dua, yaitu: a. Operasi militer untuk perang; b. Operasi militer selain perang, yaitu: 1) mengatasai gerakan separatisme bersenjata; 2) mengatasi pemberontakan bersenjata; 3) mengatasi aksi terorisme; 4) mengamankan wilayah perbatasan; 5) mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis; 6) melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri; 7) mengamankan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya; 8) memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta; 9) membantu tugas pemerintahan daerah; 10) membantu kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam Undang-undang; 11) membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di Indonesia; 12) membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan; 13) membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search dan rescue); 14) membantu pemerintah dalam pengamanan pelayaran dan penerbangan terhadap pembajakan, perompakan, dan penyelundupan. Secara prinsip, penggunaan Komponen Cadangan untuk membantu TNI selaku komponen utama pertahanan dalam melaksanakan tugas operasi militer selain perang (military operation other than war) tidak dapat dibenarkan. Misalnya adalah penggunaan Komponen Cadangan dalam mengahadapi ancaman internal seperti pemberontakan bersenjata, separatisme bersenjata, ancaman terorisme, atau menghadapi aksi demonstrasi warga terhadap objek-objek vital atau perusahaan-perusahaan yang melakukan pencemaran terhadap lingkungan dan merugikan warga. Kebaradaan Komponen Cadangan hanya ditujukan penggunaannya untuk membantu tugas TNI dalam menghadapai ancaman militer dari negara asing (ancaman eksternal). Selain bertentangan dengan ketentuan UU Pertahanan, penggunaan Komponen Cadangan untuk membantu tugas operasi militer selain perang justru akan menimbulkan potensi menghadapkan antar warga negara yang pada akhirnya akan berujung pada terjadinya konflik horisontal. Pengembangan KCPN pada pemaparan Buku Postur Pertahanan Negara dilakukan terhadap matra darat. Ini adalah satu bukti bahwa pengembangan KCPN mengandalkan perekretan secara masif melalui mobilisasi hanya efektif digunakan dalam pertempuran jarak dekat (close combat) yang itu hanya ada pada matra darat. Namun penerapan wamil akan menemui kendala bagi matra udara dan matra laut yang lebih banyak mengandalkan kemampuan dan kecakapan invidu dalam penguasaan teknologi pada alat utama sistem persenjataan (alustsista) modern mengingat mereka
berstatus sebagai kombatan

hanya mendapatkan pelatihan dan pendidikan militer alakadarnya.24 D. Persoalan Anggaran KCPN: Pelanggaran Terhadap UU Pertahanan Negara Berkaitan dengan anggaran bagi KCPN, Pasal 37 draft RUU KCPN versi Desember 2008 menyatakan pendanaan penyelenggaraan KCPN didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja. Negara. Namun dalam penjelasannya dinyatakan ...namun mengingat penyelenggaraan Komponen Cadangan Pertahanan Negara berkaitan pula dengan kepentingan daerah, tidak menutup kemungkinan adanya sumber pendanaan yang sah seperti bantuan/hibah pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat. Hal yan sama juga diungkapkan dalam Naskah Akademik Komponen Cadangan Pertahanan Negara 2008.25 Terkait dengan pembiayaan komponen cadangan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebagai salah satu sumbernya, di samping Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), secara jelas menyalahi ketentuan dalam pengadaan anggaran pertahanan. Lebih daripada itu, ketentuan tersebut juga secara jelas dapat menimbulkan masalah serius dalam kerangka penggunaan komponen cadangan di setiap wilayah, yang menjadikannya sulit untuk dikontrol karena keberadaanya yang tidak bergantung pada alokasi anggaran di APBN. Selain itu, pembiayaan komponen cadangan oleh APBD akan memperumit proses pertanggungjawaban anggarannya sehingga membuka peluang terjadinya penyalahgunaan dan penyimpangan. Secara prinsip, pemenuhan kebutuhan anggaran pertahanan negara harus dilakukan secara terpusat, yakni dialokasikan melalui APBN. Daerah, tentu saja tidak bisa dan tidak boleh disertakan atau dikenakan kewajiban dalam pembiayaan tersebut. Ketentuan ini sudah dinyatakan secara jelas dan tegas dalam Pasal 25 UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.26 Alasan yang menempatkan bahwa pasal ini sebagai pengecualian terhadap ketentuan pada UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sehingga masalah merupakan tanggungjawab bersama sebagaimana dinyatakan dalam penjelasan Pasal 37, merupakan alasan yang tidak tepat dan tidak dibenarkan. Berkait dengan keterlibatan Pemerintah Daerah dalam anggaran pertahanan sepertinya Departemen Pertahanan akan terbantu dengan menggunakan dasar hukum Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 32 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2009. Dalam peraturan tersebut mengatur secara jelas mengenai mekanisme pemberian hibah kepada intansi vertikal termasuk TNI dan Polri. Walhasil, dengan peraturan ini dimana anggaran pertahanan yang seharusnya terpusat dijadikan legitimasi untuk mendapatkan dana APBD yang akan berujung pada menurunnya alokasi sejumlah dana untuk anggaran yang menjadi prioritas dari daerah tersebut seperti sektor pendidikan dan kesejahteraan.
24 Untuk mengetahui tuntutan penguasaan teknologi oleh tentara profesional lihat Morris Janowitz, The Professional Soldier: A Social and Political Portrait, (New York,Free Press Co: New York, 1971). 25 Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan, Op.Cit, hal. 48 26 Pasal 25 (1) UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara menyatakan: Pertahanan negara dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (2) Pembiayaan pertahanan negara ditujukan untuk membangun, memelihara, mengembangkan, dan menggunakan Tentara Nasional Indonesia serta komponen pertahanan lainnya.

Penyimpangan-penyimpangan ini jelas merupakan pelanggaran nyata terhadap peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan pertahanan negara serta Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik (algemene beginselen van behoorlijk bestuur) atau good governance principles terutama asas kepastian hukum dan asas kepentingan umum. Selain itu persoalan ini akan menyulitkan pengawasan yang dilaksanakan oleh DPR dimana pengawasan anggaran merupakan pengendalian demokrasi yang hasilnya mencakup tiga hal yaitu,(1) Disiplin jumlah fiskal; (2) Alokasi sumber daya dan penggunaan bersarkan prioritas strategis; (3) Performa operasional yang efektif dan efisien.27 Terkesan bahwa yang kemudian diuntungkan dari pembangunan KCPN adalah Angkatan Darat selain mendapatkan anggaran dari APBN berkait dengan pengembangan personel akan tetapi juga mendapatkan anggaran dari APBD. Tinimbang menghabiskan anggaran negara ada baiknya pemerintah memfokuskan pada pembaruan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang telah tua dan pemakaiannya menimbulkan resiko besar termasuk kematian terhadap prajurit-prajurit terbaik Indonesia. Sejumlah peristiwa selama tahun 2009 membuktikan bagaimana sejumlah alutista milik TNI yang telah out of date telah memakan korban dan sekali lagi Departemen Pertahanan masih berkelit bahwa faktor usia alutsista bukan menjadi penyebab utama kecelakaan.28 E. Simpulan Berangkat dari argumen-argumen diatas maka dapat disimpulkan bahwa substansi RUU KCPN masih bermasalah karena tidak menjamin dan menghormati HAM yang telah menjadi hak konstitusi warga negara. Seharusnya RUU ini mengakomodasi serta mengadopsi mekanisme conscientious objection yang telah diakui secara universal dalam praktik wajib militer. Kedua dalam soal postur pertahanan negara adalah penting untuk melanjutkan proses reformasi terhadap komponen utama pertahanan yang hingga kini belum selesai. Contohnya adalah hingga kini tidak jelas kelanjutan pembahasan atas RUU Perubahan atas UU No. 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer yang lebih penting mengingat institusi ini belum terkena imbas reformasi sector keamanan. Ketiga, soal anggaran KCPN memakai APBD merupakan bentuk pelanggaran nyata atas semangat sentralisasi terhadap anggaran pertahanan sesuai dengan amanat UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Jika ini tetap dilanjutkan maka pertanyaannya kemudian, untuk apa dan kepentingan siapakah sebenarnya RUU KCPN ini dibahas?***

27 Todor Tagarev, Kendali Demokrasi Selama Perencanan Anggaran dan Perode Pemberlakuan (Adoption), dalam Plamen Pantev, Ed., Hubungan Sipil-Militer dan Kendali Demokrasi Sektor Keamanan, (Jakarta: Friedrich Ebert Stiftung, 2005), hal. 126. 28 www. Detik.com, Menhan Bantah Usia Alutsista Faktor Utama Kecelakaan, http://www.detiknews.com/read/2009/06/10/141615/1145475/10/menhan-bantah-usia-alutsista-faktor-utamakecelakaan, (diakses pada 15 Juni 2009).