Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KULIAH LAPANG DENDROLOGI KEBUN RAYA BOGOR

Oleh Hari, Tanggal

: Rizqi Adha Juniardi (E24100103) : Senin, 19 Desember 2011

Asisten Praktikum: 1. 2. 3. 4. 5. Yuniar Safitri E44070023 Mitra ElisaE14070096 Azizah E44070041 Rhomi Ardiansyah E44070045 Nurunnajah E44070051

Dosen Pembimbing: Dr. Ir. Agus Hikmat, M. Sc, F. Trop.

LABORATORIUM EKOLOGI HUTAN DEPARTEMEN SILVIKULTUR

FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Mengenal jenis-jenis pohon dari spesies, genus, famili, maupun divisinya merupakan hal yang penting untuk dilakukan bagi seorang rimbawan. Hal ini dikarenakan daerah lapangan yang dijadikan sebagai tempat bekerja merupakan hutan belantara yang terdiri dari pepohonan dari berbagai macam jenis. Terutama Indonesia yang merupakan negara pemilik keanekaragaman yang besar karena terletak di garis khatulistiwa. Pengenalan jenis-jenis pohonnya juga tidak sembarangan karena terdapat ilmu yang melandasi rimbawan untuk mengenal morfologi pohon dan kegunaan dari spesies pohon tertentu. Ilmu tersebut adalah Dendrologi yang mempelajari pohon dari sifat-sifat dan taksonomi pohon, penyebaran, ekologi serta manfaatnya. Spesies-spesies tertentu terkadang diambil sampelnya lalu disimpan di kawasan konservasi di luar habitatnya seperti Kebun Raya Bogor yang sebelumnya dijadikan kawasan untuk uji coba pepohonan dari luar negeri tentang kemampuan pepohonan tersebut untuk beradaptasi di kawasan iklim Indonesia lalu setelah itu disebarkan di seluruh Indonesia. Kebun Raya Bogor hingga kini menjadi sarana untuk penelitian pohon, wisata, dan pendidikan. Tujuan Kuliah Lapang 1. Mengetahui keadaan Kebun Raya Bogor sebagai kawasan konservasi. 2. Mengetahui jenis-jenis spesies pohon secara utuh. 3. Mengetahui kondisi spesies pohon dalam lingkungan Kebun Raya Bogor. 4. Mengenal nama lokal, nama latin, dan famili dari spesies pohon. 5. Mengetahui manfaat dari spesies pohon di Kebun Raya Bogor. 6. Mengetahui ciri khusus yang dimiliki suatu spesies pohon.

BAB II KONDISI UMUM KEBUN RAYA BOGOR


Sejarah Kebun Raya Bogor Pemrakarsa dari Kebun Raya Bogor ialah Prof. C. G. C. Reinwraght, seorang botanis berkebangsaan Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi ilmuwan botani dan kimia. Ia lalu diangkat menjadi menteri bidang pertanian, seni, dan ilmu pengetahuan di Jawa dan sekitarnya. Beliaulah yang mempunyai ide untuk mendirikan kebun botani yang kemudian dinamakan sLands Plantentuinte Buitenzorg yang lebih dikenal dengan nama Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Bogor didirikan di Kota Bogor pada tanggal 18 Mei 1817 pada zaman pemerintahan Belanda. Kebun Raya Bogor memiliki luas sekitar 47 hektar termasuk kedalamnya halaman Istana Bogor. Kebun Raya Bogor memiliki ketinggian sekitar 260 mdpl dan curah hujan 3000-4300 mm per tahun. Sekarang luas dari Kebun Raya Bogor telah mencapai 87 hektar. Koleksi Kebun Raya Bogor Kebun Raya Bogor merupakan sarana koleksi tumbuh-tumbuhan tropika dataran rendah yang beriklim basah. Dengan letak Kebun Raya Bogor yang sangat strategis yaitu berada di khatulistiwa membuat keanekaragaman hayati dari Kebun Raya Bogor ini semakin banyak dan mudah bagi jenis tumbuhan-tumbuhan untuk beradaptasi. Tercatat hingga Januari 2006, koleksi dari Kebun Raya Bogor sekitar dari 222 famili, 1.257 marga, 3.423 spesies, dan spesimen sekitar 13.684 tumbuhan. Tujuan dan Fungsi Kebun Raya Bogor Pada awalnya Kebun Raya Bogor memiliki fungsi sebagai kawasan uji coba tanaman luar yang akan disebarkan di Indonesia. Namun, seiring perkembangan zaman dan pengetahuan yang terus meningkat, Kebun Raya Bogor memiliki fungsi sebagai kawasan konservasi tumbuhan di luar habitat aslinya

yang dikatakan hampir punah dikarenakan faktor-faktor tertentu disebut kawasan ex-situ. Kebun Raya Bogor juga dijadikan sebagai sarana penelitian untuk para botanis ataupun peneliti-peneliti lain yang berkaitan dengan lingkungan, tumbuhan, dan ekologi hutan. Lalu Kebun Raya Bogor juga dapat menjadi kawasan wisata dimana tercatat sekitar satu juta pengunjung setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan Kebun Raya Bogor seperti kebun rekreasi dengan ekologi hutan yang menenangkan dan menyenangkan. Kebun Raya Bogor juga menjadi kawasan pendidikan dimana pelajarpelajar dan peneliti muda datang untuk menambah wawasan mereka tentang tanaman dan pepohonan yang ada di Kebun Raya Bogor. Selain itu, penambahan ilmu yang mereka dapatkan tentang kehutanan juga dapat mengingatkan mereka bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian hutan dan kehidupan di dalamnya. Kebun Raya Lainnya Selain Kebun Raya Bogor terdapat juga kebun raya lain yang ada di daerah lain sesuai dengan lingkungan daerah tanaman tersebut untuk menambah koleksi jenis-jenis spesies yang dapat dikonservasi. Kebun raya tersebut, diantaranya: 1. Kebun Raya Purwodadi, Purwodadi, Jawa Timur. Kebun raya ini didirikan oleh Van Sloten pada tahun 1941. Luasnya 87 hektar dengan ketinggian 250 mdpl untuk koleksi tanaman tropika dataran rendah iklim kering. 2. Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat. Kebun raya ini didirikan oleh Teysman pada tahun 1952. Luasnya 120 hektar dengan ketinggian 1.400 mdpl untuk koleksi tanaman tropika pegunungan beriklim basah. 3. Kebun Raya Eka Karya, Bedugul, Bali. Kebun raya ini didirikan tahun 1959 oleh Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo. Luasnya sekitar 159,4 hektar dengan ketinggian 1.400 mdpl untuk koleksi tanaman tropika pegunungan beriklim kering.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Pengamatan
1. Kempas (Koompassia excelsa)

Famili: Fabaceae Ciri khusus: Tinggi pohon dapat mencapai 30-40 meter. Hidup di hutan dataran rendah. Pohon ini dilindungi karena dapat menjadi sarang lebah yang dimakan oleh beruang madu. Berasal dari Kalimantan.
2. Asam Londo (Pithecellobium dulce)

Famili: Fabaceae-Mimoceae Ciri khusus: Tinggi pohon tidak tinggi. Berasal dari Meksiko. Batang berwarna putih. Biasa dijadikan sebagai tanaman peneduh.
3. Merbau (Intsia bijuga)

Famili: Fabaceae Ciri khusus: Berbanir papan seperti Agathis. Penghasil kayu utama di Papua. Kulit batang mengelupas. Tinggi mencapai 30 meter. Disebut juga kayu besi karena sangat kuat.
4. Angsana (Pterocarpus indicus)

Famili: Fabaceae Ciri khusus: Getah berwarna merah. Ditanam di pinggir jalan utama KRB pada tahun 1844. Terdapat 2 jenis yang bersebelahan yang akarnya menyambung nutrisi. (root Bunga grating) memiliki untuk sayap. efisiensi Dapat penyerapan
5. Entada (Bauhinia winitii)

diperbanyak dengan cara stek tunas. Famili: Fabaceae/Leguminoceae

Ciri khusus: Berasal dari Thailand. Salah satu spesies yang berhabitus liana.

6. Sindur (Sindora sianensis)

Famili: Leguminoceae Ciri khusus: Tinggi dapat mencapai 30-40 meter. Tidak berbanir seperti kempas. Batang tinggi dan lurus menjulang ke atas. Bergetah merah pada batang. Buahnya kasar.
7. Trembesi (Samanea saman)

Famili: Mimoceae Ciri khusus: Berasal dari Amerika iklim tropis. Tajuk berbentuk kubah melebar. Baik untuk mengurangi pemanasan global dengan menyerap karbon. Bisa menekan tanaman lokal.
8. Kedawung (Parkia roxburgii)

Famili: Fabaceae Ciri khusus: Berasal dari Malesia. Buahnya seperti petai baik untuk pencernaan. Regenerasi sulit sehingga menyebabkan kelangkaan. Batangnya besar, lurus, dan tinggi. Banirnya menjalar ke segala arah.
9. Saga Pohon (Adenanthera pavonina)

Famili: Fabaceae Ciri khusus: Daunnya dapat dijadikan obat sariawan. Memiliki biji merah polos. Penyebaran tropis Asia.
10. Ampuyu (Eucalyptus alba)

Famili: Myrtaceae Ciri khusus: Batang tidak normal (berpilin). Daun dapat diolah menjadi minyak eucalyptus untuk permen.
11. Pandan (Pandanus conoides)

Famili: Pandanaceae

Ciri khusus: Tumbuh di hutan pantai. Daunnya untuk anyaman. Pada tinggi tertentu akan bercabang. Buah majemuk. Akar berduri.

12. Gayam (Inocarpus fagiferus)

Famili: Fabaceae Ciri khusus: Satu-satunya suku Fabaceae yang memiliki daun tunggal. Batang beralur. Sebagai peneduh. Buah diolah menjadi keripik gayung.
13. Keben (Baringtonia asiatica)

Famili: Euphorbiaceae Ciri khusus: Habitat di hutan pantai. Batang simpodial. Buah seperti lampion dan beracun. Daun tidak bertangkai (daun duduk).
14. Pedada (Sonneratia caseolaris)

Famili: Sonneratiaceae Ciri khusus: Habitat di hutan mangrove. Pangkal daun berwarna merah. Buahnya bulat dan bisa dimakan. Daun tebal dan kaku. Akarnya berbentuk pasak yang berupa akar nafas dan sangat lentur karena mengandung gabus.
15. Benuang laci (Duabanga moluccana)

Famili: Sonneratiaceae Ciri khusus: Daun marginal vein. Pohon besar berbanir. Dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan veneer. Penyebarannya Malaysia Timur, kepulauan Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara Barat khususnya di Gunung Tambora.
16. Soka (Ixora sp.)

Famili: Rubiaceae Ciri khusus: Bunga berwarna merah, tumbuh berkarang. Memiliki banyak cabang. Memiliki stipule di antara pertulangan daun. Opposite. Habitus semak.

17. Bisbul (Diospyros discolor)

Famili: Ebenaceae Ciri khusus: Kulit batang hitam bergelombang. Percabangan simpodial. Biasa disebut buah mentega karena buahnya berwarna putih. Dijadikan pohon peneduh.
18. Salam (Syzygium polyanthum)

Famili: Myrtaceae Ciri khusus: Buah seperti buni, kecil hitam, bisa dimakan. Daun sering dimanfaatkan untuk bumbu dapur atau obat asam urat. Kayunya minimal digunakan untuk kayu bakar.
19. Kelapa Sawit (Elaeis guinensis)

Famili: Arecaceae Ciri khusus: Berasal dari Afrika. Akar serabut. Tumbuhan berumah satu.
20. Pinang-pinangan (Palmae sp.)

Famili: Arecaceae Ciri khusus: Batang beruas. Bunga tersususun. Daun majemuk.
21. Sagu (Metroxylon sagu)

Famili: Arecaceae Ciri khusus: Monokarpik. Pada helai daun terdapat duri di bagian tepi dan pertulangan bagian bawah. Di dalam batang terdapat ulat yang banyak mengandung vitamin C.
22. Siwalan (Borassus flabellifer)

Famili: Arecaceae Ciri khusus: Buah biasa dijadikan makanan kolang-kaling. Daunnya untuk menulis sebagai pengganti kertas di daerah Indonesia Timur.
23. Ulin (Eusideroxylon zwageri)

Famili: Lauraceae Ciri khusus: Kayu keras dan awet. Pohon berwarna coklat kemerahan. Digunakan untuk konstruksi bangunan. Termasuk tanaman Apendiks I.
24. Podocarpus (Podocarpus polystachyus)

Famili: Podocarpaceae Ciri khusus: Tumbuh di hutan pegunungan. Mikropil menghadap ke bawah. Daun berbentuk lanset.

25. Ki Putri (Podocarpus neriifolius)

Famili: Podocarpaceae Ciri khusus: Termasuk spesies konifer. Dapat ditemukan di India, Nepal, Cina, Indonesia, dan Malaysia.
26. Araukaria (Araucaria sp.)

Famili: Araucariaceae Ciri khusus: Kayu yang daunnya memiliki sisik yang tajam. Kulit mengelupas panjang ke samping dan biji bersatu dengan sisik.
27. Melinjo (Gnetum gnemon)

Famili: Podocarpaceae Ciri khusus: Daun dapat digunakan sebagai sayuran. Buah dapat dibuat emping. Peralihan antara gymnospermae dan angiospermae.
28. Damar Pilau (Agathis borneensis)

Famili: Araucariaceae Ciri khusus: Berasal dari Maluku. Kulit mengelupas bulat. Kulit batang menghasilkan kopal.
29. Pinus/Tusam (Pinus caribaea)

Famili: Pinaceae Ciri khusus: Satu fasikel terdiri dari 3 helai daun. Batang menghasilkan gondorukem. Helaian daun sangat kaku. Batangnya beralur dalam.
30. Kopi (Coffeea canephora)

Famili: Rubiaceae

Ciri khusus: Tanaman perdu. Banyak cabang simpodial. Daun penumpu di antara daun. Kopi jenis robusta. Tepi daun bergelombang. Banyak ditemukan di Bengkulu.
31. Pala-palaan (Horsfieldia iryagedhi)

Famili: Myristicaceae Ciri khusus: Kayu digunakan untuk konstruksi bangunan. Arillus menyelubungi seluruh biji. Helai daun berbulu cokelat.
32. Karet Kerbau (Ficus elastica)

Famili: Moraceae Ciri khusus: Tumbuhan epifit, jenis parasit dapat mengambil alih pohon inang. Daun besar dan tebal. Pertulangan daun tidak terlihat jelas. Bergetah putih. Memiliki akar gantung.
33. Matoa (Pometia pinnata)

Famili: Sapindaceae Ciri khusus: Pohon dapat tumbuh tinggi. Kayu keras. Tanaman berdaun majemuk dan tidak terdapat anak daun di ujung ranting. Matoa biasa disebut dengan rambutan Irian.
34. Rambutan (Nephelium lappaceum)

Famili: Sapindaceae Ciri khusus: Daun lebih bulat dan lebar. Buah berbulu. Batang memiliki banyak cabang.
35. Lengkeng (Dimocarpus longan)

Famili: Sapindaceae Ciri khusus: Daging buah (arillus) tipis berwarna putih dan agak bening.
36. Kesambi (Schleichera oleosa)

Famili: Sapindaceae Ciri khusus: Berasal dari Kupang.


37. Lici (Litchi chinensis)

Famili: Sapindaceae

Ciri khusus: Pohon tertua di KRB yang ditanam pada tahun 1823, 6 tahun setelah berdirinya KRB dan masih hidup hingga saat ini. Buahnya dapat dimakan, berarillus bening.
38. Bintaro (Cerbera odollam)

Famili: Apocynaceae Ciri khusus: Biji bintaro memiliki ciri khusus yaitu berongga dan biasa digunakan untuk kerajinan tangan. Memiliki getah putih yang bernilai ekonomis tinggi. Buahnya berpasangan. Tumbuh di hutan pantai.
39. Jelutung (Dyera costulata)

Famili: Apocynaceae Ciri khusus: Berasal dari Sumatra. Dapat tumbuh hingga 60 meter dan diameter sebesar 2 meter. Getahnya untuk bahan baku permen karet. Pohon ini dapat ditemukan di Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sumatera, dan bagian selatan Thailand.
40. Pulai (Alstonia scholaris)

Famili: Apocynaceae Ciri khusus: Berasal dari Sulawesi. Daun menempel di bagian atas tungkai daun terdiri dari 5-8 helaian. Pohon bergetah putih
dengan daun tunggal. Buah umumnya berpasangan. Tulang daun rapat. Pohon langka. 41. Sawo Duren (Chrysophyllum cainito)

Famili: Sapotaceae Ciri khusus: Sebagai peneduh. Bagian bawah daun berwarna kuning keperakan seperti daun durian. Buah bisa dimakan.
42. Nyatoh (Palaquium rostratum)

Famili: Sapotaceae Ciri khusus: Batang berbanir. Batang kasar. Kulit batang bergetah.
43. Sawo Kecik (Manilkara kauki)

Famili: Sapotaceae

Ciri khusus: Pohon langka. Berasal dari Bali. Habitat hutan pantai. Batangnya dijadikan kerajinan untuk membuat patung.
44. Tanjung (Mimusops elengi)

Famili: Sapotaceae Ciri khusus: Bergetah putih. Buah bertepung. Tinggi mencapai 5-15 meter. Bunga harum.
45. Pala-palaan Maluku (Myristica fatua)

Famili: Myristicaceae Ciri khusus: Secara alami tumbuh di Maluku. Banir tipis. Bergetah merah.
46. Mendarahan (Knema laurina)

Famili: Myristicaceae Ciri khusus: Berasal dari Sri Lanka. Hanya satu jenis yang ada di KRB. Mempunyai arillus yang menyelubungi seluruh biji berwarna merah muda. Helaian daun berbulu.
47. Cokelat (Theobroma cacao)

Famili: Sterculiaceae Ciri khusus: Bijinya merupakan bahan baku pembuatan cokelat. Buah cauliflora. Theobroma artinya makanan untuk Dewa sehingga cokelat dikenal sebagai salah satu bahan baku pembuatan para dewa.
48. Durian (Durio zibethinus)

Famili: Bombaceae Ciri khusus: Durian merupakan jenis tanaman yang memiliki buah enak dan lezat. Disukai oleh mayoritas penduduk Indonesia.
49. Kepuh (Sterculia foetida)

Famili: Sterculiaceae Ciri khusus: Daun tunggal. Batang besar menjulang. Habitat di hutan pantai. Daerah penyebaran di Bali dan Jawa. Pohon cepat tumbuh di pemakaman.
50. Bayur (Pterospermum diversifolium)

Famili: Sterculiaceae

Ciri khusus: Pohon ditanam pada tahun 1855. Bagian bawah daun berbulu lebat dan berwarna coklat keperakan.
51. Dungun (Heritiera percoriaceae)

Famili: Sterculiaceae Ciri khusus: Pohon selalu hijau dengan ketinggian mencapai 25 meter. Individu pohon memiliki salah satu bunga betina atau jantan.
52. Pohon Kola (Cola accuminata)

Famili: Sterculiaceae Ciri khusus: Tumbuhan tropika eksotik Afrika. Ujung tangkai membengkak. Buah tunggal. Tata daun opposite.
53. Manggis-manggisan (Garcinia megaphylla)

Famili: Clusiaceae Ciri khusus: Bergetah kuning. Daun kaku. Daun berbeda antara spesies.
54. Mamea (Mammea siamensis)

Famili: Clusiaceae Ciri khusus: Tanaman memiliki getah berwarna kuning.


55. Krasak (Ficus superba)

Famili: Moraceae Ciri khusus: Ujung daun meruncing. Pangkal tumpul. Tulang daun menyirip. Tepi daun bergelombang.
56. Gandaria (Bouea oppositifolia)

Famili: Anacardiaceae Ciri khusus: Berasal dari kepulauan Malaysia-Indonesia. Tersebar di Sumatera. Daun opposite. Bergetah hitam. Buah enak dimakan dengan rasa asam.
57. Renghas (Glutta wallichii)

Famili: Anacardiaceae Ciri khas: Getah beracun, jika terkena kulit manusia dapat menyebabkan gatal. Ditanam di KRB pada tahun 1966.
58. Keruing (Dipterocarpus turbinatus)

Famili: Dipterocarpaceae

Ciri khusus: Buah memiliki sayap sebanyak 5 buah, 2 helai panjang dan 3 helai pendek. Kayu bermanfaat untuk bangunan. Pertulangan daun tersier berbentuk tangga. Kulit batang mengelupas. Berasal dari India.
59. Meranti Merah (Shorea pinanga)

Famili: Dipterocarpaceae Ciri khusus: Dimanfaatkan untuk kayu lapis. Daun buah 3 helai panjang dan 2 helai pendek. Pohon tinggi besar dan batangnya silindris.

60. Resak (Vatica pauciflora)

Famili: Dipterocarpaceae Ciri khusus: Berasal dari Bangka. Daun tunggal.


61. Merawan (Hopea sangal)

Famili: Dipterocarpaceae Ciri khusus: Berasal dari Sumatra. Memiliki banir papan. Daun kecil.
62. Gaharu (Aquilaria malaccensis)

Famili: Thymelaeaceae Ciri khusus: Menghasilkan resin yang beraroma khas sebagai bahan baku parfum. Termasuk tumbuhan langka dan bernilai tinggi.
63. Kamper (Dryobalanops aromatica)

Famili: Dipterocarpaceae Ciri khusus: Daun kamper ini lebih kecil dari kamper tanduk. Beraroma khas pada getahnya. Pohon besar. Kulit batang mengelupas. Daun licin. Tulang daun sejajar, rapat, dan halus. Batang berbanir.
64. Meranti Tembaga (Shorea leprosula)

Famili: Dipterocarpaceae Ciri khusus: Ditanam tahun 1866 dan disebut pohon jodok karena ditanam sangat dekat dengan Ficus albipila. Pohon berbanir papan. Daun tunggal. Interopetiolaris stipule.

65. Ficus (Ficus albipila)

Famili: Moraceae Ciri khusus: Pohon besar sangat tinggi dan diameter yang besar. Merupakan pasangan Meranti Tembaga karena dianggap sebagai pohon jodoh. Pohon memiliki banir.
66. Kayu Manis (Cinnamomum burmanii)

Famili: Lauraceae Ciri khusus: Berasal dari Cina. Daun tunggal. Daun lebih bulat dibandingkan Cinnamomum zeylanicum.

67. Keluwih (Artocarpus communis)

Famili: Moraceae Ciri khusus: Memiliki kunat cincin. Daun muda memiliki belahan seperti bentuk 3 jari namun ketika tua daun akan bersatu.
68. Cemara Sumatra/Cemara Aru (Casuarina sumatrana)

Famili: Casuarinaceae Ciri khusus: Berasal dari Sumatera. Daun merupakan tangkai yang berwarna hijau. Daun berbuku-buku. Biasa digunakan sebagai tanaman peneduh.
69. Kenari (Canarium commune)

Famili: Burseraceae Ciri khusus: Endemik dari Jawa. Biji dimanfaatkan sebagai penghasil resin. Daun majemuk dan bersifat imparipinate, yakni diujung ranting terdapat anak daun dan harum.
70. Sempur (Dillenia indica)

Famili: Dilleniaceae Ciri khusus: Memiliki banyak cabang. Daun mengelopak di ujung. Banyak terdapat bekas daun penumpu. Tepi daun bergerigi. Tulang sekunder langsung ke tepi daun. Batang dan ranting memiliki buku-buku.
71. Teratai Raksasa (Victoria amazonica)

Famili: Nymphaceae Ciri khusus: Mampu menahan beban sampai 25 kilogram. Berasal dari Amerika Selatan. Awalnya bunga teratai putih, lalu menjadi merah muda. Salah satu teratai terbesar di dunia dan langka.
72. Ki Burahol (Stelechocarpus burahol)

Famili: Annonaceae Ciri khusus: Buah cauliflora atau muncul di pohon utama yang bermanfaat untuk menghilangkan bau badan.

Pembahasan Dilihat dari hasil observasi yang dilakukan, praktikan di dalam Kebun Raya Bogor kira-kira telah mengunjungi 72 macam jenis tanaman. Tanamantanaman ini memiliki nama lokal, nama latin, dan famili yang berbeda-beda. Hal inilah yang menjadi salah satu metode identifikasi tanaman dilihat dari morfologi tumbuhannya agar dapat membedakan antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain. Famili yang diidentifikasi diantaranya Fabaceae, Myrtaceae, Pandanaceae, Euphorbiaceae, Sonneratiaceae, Rubiaceae, Ebenaceae, Arecaceae, Lauraceae, Podocarpaceae, Araucariaceae, Pinaceae, Myristicaceae, Moraceae, Sapindaceae, Apocynaceae, Sapotaceae, Sterculiaceae, Bombaceae, Clusiaceae, Anacardiaceae, Casuarinaceae, Burseraceae, Dilleniaceae, Nymphaceae, dan Annonaceae. Masing-masing spesies memiliki kesamaan jika merupakan satu famili. Setiap spesies memiliki ciri khusus yang menjadi ciri-ciri utama dari tanaman tersebut. Ciri itulah yang menjadi kunci utama dalam mengidentifikasi tanaman agar tidak tertukar satu sama lain. Selain bentuk morfologi dari tanaman, kita jika harus mengetahui kegunaan dari tanaman-tanaman tersebut agar dalam penerapannya tidak salah dan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin (zero waste).

BAB IV KESIMPULAN
Kebun Raya Bogor merupakan kawasan konservasi tumbuhan yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Bogor dan merupakan aset penting dalam bidang penelitian dan ilmu pengetahuan tentang tumbuhan karena koleksi-koleksi yang ada di Kebun Raya Bogor tidak sembarangan ada di daerah Indonesia lainnya. Apalagi dengan koleksi langka yang sudah sulit untuk ditemukan. Spesies-spesies tanaman/pohon yang biasa rimbawan kenal hanya melalui morfologi daunnya tidaklah cukup. Oleh karena itu, kuliah lapang ini menjadi salah satu indikator penambah wawasan dalam mengenal morfologi tumbuhan secara utuh. Ciri khusus dan manfaat dari pohon yang kita ketahui juga harus diidentifikasi agar dalam pengenalan dan pemanfaatannya dapat dilakukan secara tepat karena habitat hutan merupakan habitat yang harus dijaga dan dilestarikan.

DAFTAR PUSTAKA
[Anonim]. 1996. Mount Gede Pangrango National Park, Information Book Series Vol. 2. Bogor: Management of Gede Pangrango National Park. Backer, C. A. 1911. Flora van Java. Boekh: Visser & Co. Kusmana, C. 1989. Fitososiologi Hutan Hujan Pegunungan Gunung GedePangrango, Jawa Barat. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Nurhasybi, Dede J. Sudrajat. 2010. Jurnal Tekno Hutan Tanaman: Perbaikan Perkecambahan Benih Ulin (Eusideroxylon zwageri) dengan Seleksi dan Pengupasan Kulit Benih. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman, Kementerian Kehutanan. Pool, R. J. 1994. Flowers and Flowering Plants. London: Mc-Graw-Hill Book Coy Inc. Tjitrosoepomo, Gembong. 2009. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Van Dijk, Kees, Herman Savenije. 2011. Kelapa Sawit atau Hutan? Lebih dari sekedar definisi. Jakarta: Tropenbos International Indonesia Programme.

LAM PI RA N

Gambar 1. Pohon Pinus caribaea

Gambar 2. Pohon Leci, pohon tertua yang ada di Kebun Raya Bogor.

Gambar 3. Pohon Matoa

Gambar 4. Pohon Ulin

Gambar 5. Pohon Keruing Gambar 6. Pohon Pedada

Gambar 7. Pohon Renghas Pemilik getah beracun.

Gambar 8. Pohon Keben