Anda di halaman 1dari 5

NAMA JURUSAN KELAS

: FERDIAN MALIK : Administrasi Negara (NON-REG) : MPKT kelas B

Dewasa ini sering kali kita dengar dan lihat baik di media massa maupun dari masayarakat tentang kekearasan dalam rumah tangga atau yang biasa disebut KDRT. Definisi dari KDRT itu sendiri adalah setiap perbuatan yang dilakukan seseorang secara sendiri dan atau bersama-sama terhadap seorang perempuan dan pihak-pihak yang tersubordinasi lainnya, yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, ekonomi dan atau psikologis, termasuk ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang dalam lingkup rumah tangga . Pada dasaernya definisi tentang KDRT ini mengacu pada Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan (PBB, 1993) dan Deklarasi dan Landasan Aksi yang dihasilkan Kenperensi Perempuan Sedunia IV di Beijing (PBB, 1995) dimana disamping mengupaya kriminalisasi KDRT ke dalam Undang-undang, mengupayakan pemberian bantuan pemulihan kepada korban KDRT merupakan suatu tindakan strategis yang perlu diselenggarakan berbagai pihak (www.perempuan.or.id)KDRT ini sepertinya sudah biasa terjadi di lingkungan masayarakat,baik masyarakat dikota-kota besar maupun dikota-kota kecil.Dari banyak kasus-kasus yang terjadi di masayarakat,dapat dilihat bahwa banyak yang menjadi korban adalah dari kalangan wanita dan ada beberapa kasus yang menyebutkan korbannya adalah anak-anak. Meskipun tidak terdapat data kolektif dari seluruh Indonesia mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga (domestic violence), namun yang saya dapatkan dari referensi-referensi di internet yang berupa data base yang dikumpulkan dari Hotline dan Women's Crisis Centre yang menyediakan layanan bagi pengaduan kasus KDRT sudah cukup sebagai fakta dan data terjadinya kekerasan tersebut. Saya mendapatkan data berupa data kuantitaf dari Statistik Mitra Perempuan Women's Crisis Centre mencatat jumlah pengaduan dan bantuan kepada perempuan baik dewasa maupun anak-anak yang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga terutama di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Tahun 1997 berjumlah 64 kasus, 1998 - 101 kasus, 1999 - 113 kasus, 2000 - 232 kasus, 2001 - 258 kasus dan Jan-Juni 2002 - 111 kasus. Di

tahun 2008 (hingga 22 Desember) Mitra Perempuan Womens Crisis Centre telah memberikan bantuan dan layanan pendampingan serta pengaduan hotline kepada 275 perempuan dan anak yang mengalami 279 kasus kekerasan. Jumlah ini belum termasuk mereka yang melanjutkan kasusnya dari tahun sebelumnya. Mereka mengakses layanan Mitra Perempuan di 3 wilayah yakni 63,64% di Jakarta, 14,18% di Bogor dan 22,18% di Tangerang. Statistik mencatat bahwa 82,02% dari 279 kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan dari beragam usia tersebut merupakan perkara Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang pelakunya meliputi suami (76,98%), orangtua, saudara dan anak. Juga tercatat bahwa 6,12% dilakukan oleh mantan suami. Seiring dengan 4 tahun implementasi Undang-Undang No. 23 tahun 2004, jumlah mereka yang memanfaatkan layanan Mitra Perempuan WCC dan didampingi oleh Relawan Pendamping, masih belum banyak bergeser dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2007: 283 kasus). Seluruhnya mengakses layanan konseling sedangkan 9,45% menempuh upaya hukum. (www.perempuan.or.id). Data-data ini sudah cukup menunjukan bahwa KDRT dari tahun ke tahun semakin meningkat, ini dikarenakan semakin merosotnya moral dan rasa tanggung jawab setiap individu-individu di masyarakat.Tidaklah heran jika masyarakat sekarang ini semakin jauh dari nilai-nilai dan norma yang ada.

Di bawah ini adalah catatan dari kasus KDRT yang saya dapatkan di (www.perempuan.or.id):

8 dari 10 perempuan yang mengakses datang ke Mitra Perempuan WCC telah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh suami dan mantan suaminya (83,1%). 4 upaya yang terbanyak dilakukan oleh perempuan yang mengalami kekerasan sebelum datang ke WCC adalah meminta bantuan keluarga (32.26%), ke pelayanan hukum (24.37%), pelayanan kesehatan (16.48%) atau didiamkan saja (13,26%).

Hampir 6% dari perempuan yang didampingi Mitra Perempuan adalah anak-anak perempuan yang mengalami kekerasan seksual dan penelantaran. 9 dari 10 perempuan mengalami lebih dari satu bentuk kekerasan (berganda dan berlapis). Hanya 7, 17% dari mereka yang mengalami kekerasan tunggal KDRT (baik fisik, psikis, seksual dan penelantaran serta perselisihan domestik.

9 dari 10 perempuan mengalami dampak kekerasan yang berdampak pada kesehatan jiwa (mental) dari korban (97,84%) termasuk 3 diantaranya mencoba bunuh diri. Sedangkan 1 dari 10 perempuan mengalami dampak pada kesehatan reproduksinya. 50,18% dari perempuan yang mengontak Hotline Mitra Perempuan WCC merupakan rujukan dari layanan lainnya (Komnas Perempuan, Polisi, Kesehatan dll.) . Sementara 12, 36% dari mereka mendapat informasi dari media massa.

Dari beberapa artikel yang saya baca saya menemukan hal-hal penting dari KDRT yang mungkin dapat menjadi tambahan wawasan: Siapa Pelaku dan Korbannya?

Data Statistik Mitra Perempuan menunjukkan bahwa pelaku kekerasan beragam latar belakang usia, agama, wilayah tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan. Demikian pula perempuan yang mengalami kekerasan berasal dari latar belakang usia, agama, wilayah tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan yang beragam pula. Oleh karenanya,

Tidak benar bahwa mereka yang berpendidikan rendah saja dan tidak mempunyai pekerjaan saja, yang melakukan kekerasan terhadap istrinya. Tidak benar bahwa hanya perempuan yang berpendidikan rendah saja atau yang menjadi ibu rumah tangga yang menjadi korban kekerasan oleh suami.

Dimana

Terjadinya?

Data menunjukkan bahwa pelaku kekerasan terbanyak (74% di tahun 2000, 69,26% di tahun 2001 & 73,90 di tahun 2002) adalah suami dari korban dibandingkan pelaku lainnya yaitu mantan suami, atau pasangan intim di luar perkawinan. Dengan demikian kekerasan ini banyak terjadi dalam relasi pasangan perkawinan atau keluarga atau pasangan intim, dimana terdapat ketidak-seimbangan dalam relasi perempuan dan laki-laki tersebut. Apa Bentuk Perbuatannya?

Bentuk-bentuk perbuatan kekerasan dapat digolongkan ke dalam 4 kategori , yaitu kekerasan secara fisik, kekerasan secara psikis, kekerasan secara ekonomi dan kekerasan seksual.

Bagaimana

Dampaknya

Terhadap

Kesehatan

Perempuan?

Kekerasan Dalam Rumah Tangga ini dapat dihubungkan dengan munculnya beragam masalahmasalah kesehatan yang serius, yang mempengaruhi kehidupan perempuan dan anak-anak di lingkungan korban. Salah satu unsur dari definisi kejahatan ini ialah mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan pada diri korbannya. Akibat dari kekerasan ini dapat terkait langsung dengan penyebab atau bentuk kekerasan yang menimpa korban, misalnya penganiayaan secara fisik berakibat cedera fisik, luka memar, luka robek, patah tulang dll. Data base Mitra perempuan menggolongkan dampak dari kekerasan yang berhubungan dengan kesehatan perempuan mencakup: a. Gangguan kesakitan fisik non reproduksi, termasuk cidera, gangguan fungsional, keluhan fisik, cacat permanen; b. Gangguan kesakitan (kesehatan) jiwa, termasuk kecemasan, rasa rendah diri, fobia, depresi; c. Gangguan kesehatan reproduksi, termasuk kehamilan tak diinginkan, infeksi saluran reproduksi, penyakit menular seksual, HIV/AIDS, abortus disengaja, abortus tak disengaja/berat badan lahir rendah; d. Kematian/bunuh diri. (www.perempuan.or.id) Sebenarnya instansi-instansi pemerintah khususnya pemberdaya perempuan sudah banyak berjasa demi perlindungan korban-korban KDRT yang berupa upaya perlindungan hukum yang diberikan negara sejak disahkannya Undang-undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang diberlakukan sejak tahun 2004. UU ini diberlakukan dan telah memberikan perspektif baru kepada masyarakat luas tentang pentingnya upaya pencegahan dan perlindungan bagi Korban. UU juga mengatur kewajiban memberikan perlindungan & pelayanan kepada korban yang diperankan tidak hanya oleh pihak Kepolisian, Kejaksaan dan

Hakim Pengadilan saja, tetapi juga oleh Advokat, Tenaga Kesehatan serta Pekerja Sosial & Relawan Pendamping (pasal 22 & 23 UU No. 23/2004).