Anda di halaman 1dari 5

http://lkara.wordpress.com/2008/09/17/syeikh-abdurrauf-singkel/ ABDURRAUF SINGKEL, SYEIKH nama lengkapnya adalah Syekh Abdurrauf Ali Al Fansury Al Singkily Al Jawi.

Beliau adalah penyair, budayawan, ulama besar, pengarang tafsir, ahli hukum, cendikiawan muslim dan seorang Sufi yang sangat terkenal di Nusantara yang lahir pada tahun 1615 atau 1620 di Singkel, sebuah kabupaten di Aceh Selatan. Dia berasal dari kalangan keluarga muslim yang taat beribadah. Ayahnya berasal dari Arab bernama Syeikh Ali dan ibunya seorang wanita berasal dari desa Fansur Barussebuah pelabuhan (bandar) yang sangat terkenal waktu itu. Dimasa mudanya mula-mula Abdurrauf belajar pada Dayah Simpang Kanan di pedalaman Singkel yang dipimpin Syeikh Ali AlFansuri ayahnya sendiri. Kemudian ia melanjutkan belajar ke Barus di Dayah Teungku Chik yang dipimpin oleh Syeikh Hamzah Fansury. Ia sempat pula belajar di Samudera Pase di Dayah Tinggi yang dipimpin oleh Syeikh Samsuddin asSumatrani. Setelah Syeikh Samsuddin pindah ke Banda Aceh lalu diangkat oleh Sultan Iskandar Muda sebagai Qadhi Malikul Adil, Abdurrauf pun pergi mengembara. Beliau tidak suka menetap di kota kelahirannya. Beliau lebih suka memilih mengembara meninggalkan kota kelahirannya untuk menuntut ilmu di berbagai pelosok nusantara dan Timur Tengah. Abdurrauf selalu merasa haus terhadap ilmu pengetahuan. Beliau pernah belajar hampir dua puluh tahun di Mekkah, Madinah, Yaman dan Turki. Sehingga tidak mengherankan kalau Beliau menguasai banyak bahasa, terutama bahasa Melayu, Aceh. Arab dan Persia. Disebutkan selama belajar ilmu agama di Timur Tengah, Syeikh Abdurrauf telah berkenalan dengan 27 ulama besar dan 15 orang sufi termashyur. Tentang pertemuannya dengan para sufu itu, ia berkata adapun segala mashyur wilayatnya yang bertemu dengan dengan fakir ini dalam antara masa itu. Pada tahun 1661 M Syeikh Abdurraur kembali ke Aceh dengan memangku jabatan selaku Qadly Malikul Adil, sebagai Mufti Besar dan Syeikh Jamiah Baitur Rahim, untuk

menggantikan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Mengenai pendapatnya tentang faham Syeikh Hamzah Fansuri (Tarekat Wujudiah) nampaknya berbeda dengan Syeikh Nuruddin ar-Raniry. Beliau tidak begitu keras, Walaupun Syeikh Abdurrauf termasuk penganut faham tua mengenai ajarannya dalam ilmu tasawuf. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini sebagai kafir. Membuat tuduhan seperti itu sangatlah berbahaya. Jika benar ia kafir, maka perkataannya itu akan berbalik kepada dirinya sendiri. Karya tulisnya yang diketahui lebih kurang dua puluh buah dalam berbagai bidang ilmusastra, hukum, filsafat, dan tafsir, antara lain; 1. Umdat al-Muhtajin ila suluki Maslak al-Mufridin; dengan terjemahannya sendiri; Perpegangan Segala Mereka itu yang Berkehendak Menjalani Jalan Segala Orang yang

Menggunakan Dirinya. Dalam karya ini diterangkannya tentang tasawuf yang dikembangkannya itu. Dzikir dengan mengucap La Illah pada masa-masa tertentu merupakan pokok pangkal tarikat ini. Kitab tersebut terdiri atas tujuh faedah dan bab. Sesudah faedah yang ketujuh diberinya khatimah yang berisi silsilah. Di samping memberi penjelasan tentang ajaran Abdur-Rauf, silsilah ini juga memberikan gambaran di mana dengan cara apa ulama-ulama dan pengarang-pengarang besar Melayu lainnya mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam kitab ini pula ia menyebut telah berada selama sembilan belas tahun di negeri Arab. 2. Mirat al-Tullab fi Tashil Marifat al-Ahkam al-Syariyah lil-Malik al-Wahab. Dalam kitab ini disebutnya ia mengarang atas titah Sultanah Tajul-Alam Safiatuddin Syah. Isinya ialah ilmu fikah menurut mazhab Syafii. Ilmu muamalat yang tidak dibicarakan

dalam Sirat al-Mustaqim karangan Nuruddin ar-Raniri, dimasukkan disini. 3. Kifayat al-Muhtajin ila Suluk Maslak Kamal al-Talibin. Dalam karya ini disebutnya ia dititahkan oleh Sultanah Tajul-Alam untuk mengarang. Isi kitab ini ialah tentang ilmu tasawuf yang dikembangkan oleh Abdur-Rauf. 4. Mauizat al-Badi atau al-Mawaith al-Badiah. Karya ini terdiri atas lima puluh pengajaran dan ditulis berdasarkan Quran, hadith, ucapan-ucapan sahabat Nabi Muhammad saw serta ulamaulama besar. 5. Tafsif al-Jalalain. Abdur-Rauf juga telah menterjemah sebagian teks dari Tafsir al-Jalalain, surah 1 sampai dengan surah 10. 6. Tarjuman al-Mustafiq. Merupakan saduran dalam bahasa Melayu dari karya bahasa Arab ini. Dalam sebuah naskah Jakarta disebut ada tambahan dari murid Abdur-Rauf, Abu Daud al-Jawi ibn Ismail ibn Agha Ali Mustafa ibn Agha al-Rumi (Van Ronkel, Catalogus der Maleische Handschriften 1909 dalam ibid). 7. Syair Marifat. Syair ini terdapat dalam naskah Oph 78, perpustakaan Leiden, yang disalin pada 28 Januari 1859 di Bukit Tinggi.

SYAIR MARIFAT dimulai dengan;

Pahamkan olehmu di dalam hati Kepada guru mintalah pasti Tulus dan yakin kedua mati Inilah bekal tatkala mati

Apabila mufakat empat mana Agama Islam baharulah sempurna Apabila mufakat empat di sana Mengenal dzat Tuhan yang Ghana . Fakir khabarkan suatu pendapat Tatkala mencari ilmu marifat Sepohon kayu cawangnya empat Buahnya diambil tiada dapat Kayunya tinggi bukan kepalang Buahnya banyak tiada berbilang Warnanya indah amat cemerlang Hendak diambil dibawa pulang Mengambil buahnya hendak mendapat Tuntut olehmu dengan isyarat Fiil yang baik dengan martabat Mintak diguru janganlah baiat Tuntut olehmu dengan pengguruan Tiadalah jadi dengan tiruan Serta tarikat mengenal Tuhan Hakikat marifat sempurna jalan Adalah ibarat fakir yang hina Sepohon kayu banyak mananya Jikalau pohon tiada sempurna Cawang dn dahan tiada berguna Jikalau sempurna pohon itu Cawang dan dahan terhimpun di situ Buah dan bunga di sanalah tentu Baiklah fakir hati di situ Baik-baik tuan kita menerima Kepada pohonnya ialah sempurna Daun dan buah tiada sama Masing-masing berlainan nama Jikalau diibarat saja kelapa Kulit dan isi tida serupa Janganlah kita bersalah tapa Tetapi beda tiadalah berapa Sebiji kelapa ibarat sana Lafadnya empat suatu mana Di situlah banyak orang terkena

Sebab pendapat kurang sempurna Kulitnya itu ibarat syariat Tempurungnya itu ibarat tarikat Isinya itu ibarat hakikat Minyaknya itu ibarat marifat Syariat itu ibarat tubuh Tarikat itu jalan yang teguh Hakikat itu bersungguh-sungguh Marifat itu seperti suluh Baik-baik Itikad kita sempurna Supaya Itikad kita sempurna Jikalau bercerai lafadh mana Akhirnya tiada berguna . Jika tuan menuntut ilmu Ketahuilah dulu keadaanmu Man arafa nafsahu kenal dirimu Faqad arafa rabbahu kenal Tuhanmu Kenal dirimu muhadath semata Kenal Tuhanmu qadim dzatnya Tiada bersamaan itu keduanya Tiada semisal seupamanya Adapun dikata mana yang empat Iman, Islam, tawhid, marifat Keempatnya itu suatu tempat Kurang dituntut tiadalah dapat Kemudian diterangkan keempat-keempat perkara itu. Pada akhir tulisan ini disebut judul syair ini serta nama pengarangnya

Tamatlah sudah Syair Marifat Syaikh Abdur-Rauf mengarang di Aceh Fakir menyalin kurang nan dapat Jangan dicela jangan diupat.