Anda di halaman 1dari 9

Batu, Permen, dan Berbagi yang Adil

(Belajar FPB di Kelas IV A, SD N 21 Palembang) Rully Charitas Indra Prahmana1 a. Pendahuluan Pembelajaran Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) pada kelas IV di SD N 21 Palembang yang dibawakan oleh saya, Nila, Sasa, dan ditemani oleh bu Neti, selaku guru kelas, serta diikuti oleh 27 siswa. Pembelajaran ini, dibagi dalam 2 pertemuan, dimana pertemuan pertama berlangsung selama + 45 menit dan pertemuan kedua berlangsung selama + 80 menit. Pada pertemuan pertama, pembelajaran ini dibawakan oleh saya, Sasa, dan ditemani oleh bu Neti. Disini, kami hanya mengenalkan konsep pemfaktoran dan pada pertemuan kedua (dibawakan oleh saya, Nila, Sasa, dan ditemani oleh bu Neti), kami me-review konsep pemfaktoran, dengan memberikan permasalahan berupa cerita, kemudian dilanjutkan dengan pemahaman konsep persekutuan, dan diakhiri dengan mencari nilai terbesar dari persekutuan tersebut atau dengan kata lain mereka sudah mengenal FPB secara utuh. Dalam hal ini, semua pembelajaran dilakukan menggunakan pendekatan PMRI, yaitu di mulai dengan problem, yang sesuai dengan konteks pembelajaran dan membiarkan siswa sendiri yang menemukan konsep FPB tersebut, dimana guru hanya bertindak sebagai fasilitator (pembimbing). b. Tujuan Adapun tujuan dari observasi ini adalah menanamkan konsep FPB melalui pendekatan PMRI. c. Latar Belakang Penelitian Latar belakang penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana efek dari pendekatan PMRI dalam pemahaman siswa, dalam pembelajaran FPB? d. Kegiatan Penelitian Pada pertemuan pertama, kami mencoba memperkenalkan apa itu faktor, tanpa menggunakan istilah faktor, dengan menggunakan media batu kerikil kecil. Semua siswa dibentuk berpasangpasangan dengan teman sebangkunya dan mendapatkan 20 batu di setiap meja-nya. Kami membimbing siswa untuk melakukan pembagian batu-batu tersebut secara adil, mulai dari 10 batu, 12 batu, dan akhirnya 20 batu. Proses pembagiannya adalah sebagai berikut: 1. Kami meminta siswa untuk menggunakan 10 batu dan sisanya disisihkan terlebih dahulu. Begitu juga ketika, kami meminta menggunakan 12 batu dan 20 batu. 2. Batu-batu yang digunakan, dikelompokkan, mulai dari 1 batu pada tiap kelompok sampai 20 batu tiap kelompoknya. 3. Siswa dibimbing untuk memahami bahwa pada tiap kelompok, terkadang ada kelompok yang tidak mendapatkan batu secara adil, dalam hal ini dikatakan sisa.
1

International Master Program on Mathematics Education (IMPoME) student 2010 (rully.math@gmail.com)

Siswa menyisihkan batu-batu yang akan digunakan (kiri) dan siswa mengelompokkan batu-batu tersebut secara adil (kanan)

Siswa mengelompokkan batu-batu tersebut secara tidak adil (terdapat sisa dari hasil pengelompokkan)

4. Di akhir pertemuan, siswa sudah mulai faham, bahwa pada setiap batu-batu yang digunakan, kemudian di kelompok-kelompokkan, maka terdapat batu yang dapat dibagi secara adil dan terdapat batu yang tidak dapat dibagi secara adil pada kelompok-kelompok tertentu.

Pada pertemuan kedua, kami memulai pembelajaran dengan suatu permasalahan dalam bentuk cerita, dimana salah seorang siswa, Devi, diminta membagi secara adil 20 permen rasa coklat dan 15 permen rasa buah-buahan kepada teman-temannya. Adapun solusi yang dilakukan Devi, dengan bantuan beberapa temannya, Jimmi, Windi, dan Rasid, melalui beberapa tahapan, yaitu: 1. Devi memanggil 20 orang temannya ke depan kelas, karena dia berfikir, jumlah permen coklatnya ada 20. Setelah itu, dia membagikan keduapuluh permen coklat dan kelimabelas permen rasa buah kepada teman-temannya yang ada di depan kelas. Kami mengingatkan, kalau semua permen yang ada harus dibagi secara adil kepada semua teman-temannya. Dalam hal ini, Devi melihat, ada 5 orang temannya yang tidak mendapatkan permen coklat, sehingga, dia berfikir sejenak, kemudian melakukan pengurangan jumlah temannya yang ada di depan kelas.

Nila dan Sasa menjelaskan permasalahan yang harus Devi selesaikan (kiri) dan teman-teman yang dikumpulkan Devi di depan kelas untuk dibagikan permen olehnya (kanan)

Devi berfikir sejenak, setelah mendapatkan arahan dari Sasa untuk membagikan permen secara adil, sebelum mengambil langkah berikutnya

2. Devi menyuruh 5 orang temannya yang tidak mendapatkan permen rasa buah untuk duduk dan mengembalikan permen rasa coklat kepadanya. Setelah itu, dia membagikan 5 permen tersebut kepada teman-temannya yang tersisa di depan kelas. tapi, Devi juga belum berlaku adil, karena ada temannya yang hanya mendapatkan 1 permen coklat dan 1 permen rasa buah; dan ada yang mendapatkan 2 permen rasa coklat dan 1 permen rasa buah. Oleh karena itu, dia mengurangi jumlah temannya lagi yang ada di depan kelas. 3. Devi menyuruh 5 orang temannya lagi, yang memiliki 1 permen rasa coklat dan 1 permen rasa buah, untuk duduk dan mengembalikan permen yang mereka punya. Setelah itu, dia membagikan permen coklatnya kepada temannya yang baru mendapatkan 1 permen rasa coklat. Dia merasa senang, karena dapat membagi permen coklatnya secara adil. Tapi, ketika membagikan permen rasa buahnya, dia tidak berlaku adil lagi, karena ada temannya yang mendapatkan 2 permen rasa buah dan ada yang cuma mendapatkan 1 permen. Oleh karena itu, dia mengurangi jumlah temannya lagi yang ada di depan kelas.

Devi membagikan permen-permen dari temennya yang disuruh duduk (kiri) dan teman-teman yang mendapatkan permen secara belum adil (kanan)

4. Devi menyuruh 5 orang temannya lagi, yang memiliki 2 permen rasa coklat dan 1 permen rasa buah, untuk duduk dan mengembalikan permen yang mereka punya. Setelah itu, dia membagikan permen rasa coklat dan buah-buahan kepada semua temannya yang tersisa di depan kelas. Dia menemukan teman-temannya yang ada di depan kelas mendapatkan 4 permen rasa coklat dan 3 permen rasa buah secara merata, dalam hal ini dia telah berlaku adil dan dia mengatakan kepada kami, kalau dia telah menyelesaikan permasalahan ini, yaitu membagi 20 permen rasa coklat dan 15 permen rasa buah kepada teman-temannya dan dia mendapatkan bahwa dia hanya bisa membagikannya kepada 5 orang secara adil.

Devi membagikan permen terakhir kepada teman-temannya di depan kelas (kiri) dan teman-teman yang mendapatkan permen secara adil (kanan)

Setelah Devi menyelesaikan permasalahannya, kami mengajak seluruh siswa untuk melakukan hal sama, dengan menggunakan batu, seperti pada pertemuan pertama. Kali ini, siswa dibagi menjadi 6 kelompok, dimana tiap kelompok ada yang terdiri dari 4 siswa dan ada yang terdiri dari 5 siswa. Siswa diajak untuk menggunakan 20 batu pada pengelompokkan-pengelompokkan pertama dan 15 batu pada pengelompokkan berikutnya. Setelah itu, kami membimbing mereka, untuk mencoba menuliskan, jumlah kelompok, jumlah batu pada tiap kelompok, dan sisanya (jumlah batu pada

kelompok yang belum mendapatkan batu secara adil). Belajar dari pertemuan pertama, siswa dapat dengan mudah mengelompokkan batu-batu tersebut, tapi masih sedikit kesulitan pada saat mendatanya dalam bentuk tabel. Untuk itu, kami mengajak mereka mendatanya di depan kelas, secara bergantian dan kami melihat mereka sangat antusias untuk melakukan hal tersebut.

Hasil pendataan siswa secara berkelompok yang dituangkan dalam bentuk tabel

Antusiasme siswa untuk mendata hasil yang mereka peroleh di depan kelas (kiri) dan salah satu anak yang sedang menuliskan jawabannya (kanan)

Tahap selanjutnya, kami mengajak siswa untuk melihat, pada kelompok mana saja, yang tidak memiliki sisa (sisanya 0 atau mereka berlaku adil), dan mencoba menuliskannya. Kemudian, kami membimbing siswa untuk menamakan kelompok-kelompok (angka-angka yang habis membagi bilangan yang diminta) tersebut dan akhirnya salah satu siswa, Windi, mengeluarkan istilah faktor. Jadi, bilangang-bilangan tersebut (sisanya 0) merupakan faktor dari bilangan-bilangan yang diminta.

Siswa melingkari kelompok-kelompok yang memiliki sisa 0 (kiri) dan salah satu siswa (Jimmi) menuliskan faktor-faktor dari bilangan tersebut (kanan)

Setelah mereka mendata semua faktor-faktor dari kedua bilangan yang diminta (20 dan 15), belajar dari pengalaman belajar kelipatan persekutuan terkecil (KPK) sebelumnya, mereka dapat dengan mudah memahami maksud dari kata persekutuan, dengan masih menggunakan istilah sebelumnya, yaitu galo-galo (bahasa Palembang, yang artinya sama-sama). Untuk itu, mereka dapat segera melingkari angka-angka yang sama dari hasil pemfaktoran kedua bilangan yang diminta. Akhirnya, kami hanya memberi bimbingan, untuk mencari bilangan yang terbesar dari bilangan yang sudah mereka lingkari, dari hasil pemfaktoran sebelumnya, dalam hal ini, mereka menggunakan Jimmi sebagai alat pengingat, karena berhubung, Jimmi merupakan salah seorang siswa yang memiliki tubuh yang paling besar. Jadi, kalau melihat Rasid (salah seorang siswa yang paling kecil di kelas), mereka ingat KPK, maka ketika melihat Jimmi, mereka teringat akan FPB.

Tampak dari kedua gambar diatas, hasil faktor persekutuan, yang dilingkari oleh siswa

Hasil jawaban akhir bahwa FPB dari 20 dan 15 adalah 5

Berhubung waktu pembelajaran telah selesai, maka kami memberikan mereka tugas, yang berasal dari buku panduan mereka dan akan kami diskusikan minggu depan. Kami yakin, mereka dapat dengan mudah menyelesaikan tugas tersebut, melihat pemahaman mereka dalam proses pembelajaran diatas. Ini dibuktikan, saat waktu luang, saya pribadi mencoba menguji salah satu kelompok siswa (kelompoknya Windi), untuk mencari FPB dari 12 dan 9. Mereka dengan cepat mengelompokkan batu, mendata, melingkari, dan mendapatkan jawabannya adalah 3. e. Analisis Kegiatan Permasalahan utama yang kami temukan dalam observasi ini adalah bagaimana menanamkan konsep pemfaktoran, dimana faktor merupakan bilangan-bilangan yang habis membagi bilangan yang diminta. Karena dengan mengetahui konsep pemfaktoran, para siswa akan lebih mudah di bawa ke konsep persekutuan, belajar dari pembelajaran KPK, dan diakhiri dengan mencari faktor persekutuan terbesar dari hasil faktor persekutuan yang telah mereka data sebelumnya. Untuk itu, kami membawa mereka dalam permasalahan kontekstual terlebih dahulu (membagikan permen secara adil), setelah itu, membawa konsep pembagian permen, ke dalam pengelompokan batu secara adil, kemudian mendatanya. Dalam hal pendataan, terlihat saat pendataan yang dilakukan bersama-sama di depan kelas, terdapat salah satu kesalahan, dimana siswa salah meletakkan jumlah kelompok ke dalam sisa batu. Dalam hal ini, kami selaku guru, tidak langsung menyalahkan siswa yang melakukan kesalahan, tetapi, setelah semua hasil pengelompokkan di data, kami mengajak siswa untuk refleksi, melihat hasil jawaban mereka secara berkelompok, kemudian membandingkan dengan jawaban yang ada di depan kelas (baca: papan tulis). Dari sini, timbul beberapa pendapat, bahwasanya, ada yang salah dengan jawaban di papan tulis, dan mereka membuktikannya, dengan melakukan simulasi langsung menggunakan batu, untuk memperkuat jawaban mereka, sehingga teman yang melakukan kesalahan, dapat menyadari kesalahannya, tanpa, kami selaku guru yang memperbaikinya.

Tampak, siswa sedang membandingkan hasil jawaban kelompok mereka dengan jawaban yang ada di papan tulis

Dalam PMRI, kami mengenal yang namanya iceberg, yang digunakan untuk mendeskripsikan proses pemahaman siswa dari sesuatu yang real (dapat dibayangkan oleh siswa) menuju punjak dimana mereka mampu untuk memahami simbol matematika yang bersifat abstrak (bottom to up), dalam kasus ini FPB. Berikut ini merupakan iceberg dari aktifitas yang kami lakukan dalam pembelajaran FPB pada kelas IV A di SD 21 Palembang.

Iceberg dalam pembelajaran FPB

f.

Kesimpulan

Berdasarkan atas kegiatan yang kami lakukan diatas, kami dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Awalnya, siswa mengalami kesulitan dalam men-transfer hasil pengelompokkan batu, yang mereka lakukan ke dalam pendataan dalam bentuk tabel. Akan tetapi, setelah mereka melakukan pendataan secara bersama-sama di depan kelas, mereka dapat dengan mudah melakukannya secara berkelompok. 2. Pembagian permen dan pengelompokkan batu secara adil, membuat mereka lebih memahami konsep pemfaktoran. Ini dikarenakan, mereka dapat dengan mudah melihat, kapan mereka berlaku adil, dengan membagikan atau mengelompokkan tanpa adanya sisa, dan kapan mereka belum berlaku adil, dengan masih adanya sisa (ada kelompok yang jumlah batunya tidak sama dengan kelompok yang lain pada umumnya). 3. Setelah para siswa memahami konsep pemfaktoran, kami dapat dengan mudah memandu mereka mengenal apa itu persekutuan, selanjutnya mencari FPB. Dengan pemahaman konsep yang mereka bangun sendiri, mereka akan dapat dengan mudah menyelesaikan tugas, yang berupa soal-soal, yang ada di dalam buku panduan mereka. 4. Pendekatan PMRI dalam pembelajaran FPB ini, yang dimulai dari konteksual (bottom) menuju symbol matematika yang abstrak (up) dan diikuti dengan pembelajaran yang bersifat bimbingan daripada menggurui, sehingga mereka dapat menemukan konsep itu sendiri, dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran FPB.