Anda di halaman 1dari 27

I.

PENDAHULUAN Tanpa adanya permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa yang dihasilkan, maka usaha yang dijalankan tidak mempunyai nilai atau manfaat ekonomis. Sebenarnya banyak cara untuk melihat apakah suatu rencana usaha layak untuk diteruskan atau tidak. Tetapi secara umum kelayakan usaha dilihat pertama kali dari potensi pasarnya. Analisa kelayakan usaha terpenting adalah dilihat dari aspek keuangannya. Ada beberapa ukuran yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk menyatakan apakah suatu rencana usaha atau kegiatan investasi layak untuk dijalankan. Untuk memulai kegiatan usaha perlu dilakukan perencanaan dan perhitungan dengan melakukan evaluasi terhadap kelayakan usaha. Kelayakan usaha mencakup perkiraan laba rugi, perkiraan arus kas dan analisanya yang dibuat sebagai alat untuk memutuskan apakah suatu rencana usaha atau investasi usaha akan dilanjutkan atau dihentikan. Materi dari suatu kelayakan usaha pada prinsipnya memuat empat aspek, yaitu aspek pemasaran, aspek teknis, aspek yuridis, dan aspek keuangan. Selain itu perencanaan dan perhitungan diperlukan karena tidak semua peluang usaha akan memberikan keuntungan, dan disadari pula bahwa keuntungan akan selalu dibatasi oleh faktor produksi (uang, bahan baku, mesin dan peralatan, keterampilan dan kemampuan untuk mengelola) serta kondisi lingkungan. Uang dan modal ternyata bukanlah satu-satunya kunci sukses untuk melakukan kegiatan usaha. Kreativitas, kemampuan menangkap peluang usaha, dan keuletan adalah kunci yang lebih utama. Sebab kreativitas mampu melahirkan berbagai alternatif yang tidak terpikirkan oleh mereka yang tidak kreatif. Sedangkan kemampuan menangkap peluang usaha dapat menghasilkan uang dan tawaran modal dari pihak lain. Keduanya menjadi lengkap apabila disertai dengan keuletan. Mereka yang ulet biasanya akan tampil sebagai pemenang. Mahasiswa yang ulet dan pantang mundur, walaupun hanya memiliki kecakapan dan dana yang relatif terbatas akan dapat mengalahkan orang lain yang memiliki dana dan kecakapan yang lebih baik,

tetapi tidak ulet. Sehingga hanya mahasiswa yang uletlah yang dapat bertahan dalam menghadapi tantangan. Program pembangunan hasil pertanian bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan pemasaran hasil pertanian, serta meningkatkan kualitas dan daya saingnya. Kegiatan program ini dikoordinasikan dengan kegiatan program terkait, misalnya pengembangan industri kecil dan menengah, salah satunya melalui warung THP yang memiliki prospek pasar dan layak. Warung THP memiliki potensi dalam menghasilkan produk-produk olahannya dan untuk meningkatkan kreatifitas mahasiswa, serta meningkatkan kegiatan ekonomi. Dua produk yang memiliki potensi daya saing dan layak jual di warung THP ini adalah sirup dengan variasi yang berbeda (misalnya sirup jamblang) dan bakso yang sehat serta tanpa bahan pengawet. Pada pengolahan bahan pangan, khususnya pada buah-buahan sudah divariasikan sejak dulu. Tetapi ada beberapa hal yang menjadi permasalahan pada pengolahan buah-buahan tersebut. Buah-buahan bersifat perishable atau mudah rusak sehingga harus ditangani dengan benar. Sirup merupakan salah satu produk olahan dari buah-buahan yang berupa cairan kental dan memiliki kadar gula terlarut yang tinggi, akan tetapi memiliki kecenderungan untuk mengendapkan kristal. Selain itu sirup juga merupakan cairan yang dihasilkan dari pengepresan daging buah dan dilanjutkan dengan proses pemekatan. Sirup ini tidak dapat langsung diminum, tetapi harus diencerkan terlebih dahulu dengan air (1 bagian sirup dengan 5 bagian air). Di Indonesia, tumbuhan jamblang bisa hidup dengan subur. Banyak orang suka dengan daging buahnya yang putih kemerah-merahan serta kulit buah licin berwarna merah dan ungu kehitaman. Duwet atau sering disebut dengan jamblang (Eugenia cumini atau Syzgium cumini) termasuk buah-buahan yang langka. Jamblang ternyata memiliki kandungan kimia yang cukup kaya. Pada buahnya terkandung zat penyamak tanin, minyak terbang, damar, asam gallus, dan glicosida. Pada bijinya terdapat zat tanin, asam galat, glukosida phytomelin, dan alfa-phytosterol yang bersifat anticholestemik. Mengingat kayanya kandungan gizi, maka terciptalah ide unuk mengolah buah jamblang menjadi sirup. Sirup jamblang merupakan cairan

kental yang terbuat dari buah jamblang dan memiliki rasa sepat namun enak, serta warna yang menarik. Bakso adalah makanan yang sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia umumnya dan kalangan mahasiswa khususnya. Bakso umumnya terbuat dari campuran daging dan tepung. Daging yang sering digunakan berupa daging sapi, daging ayam, dan ikan. Beberapa pedagang bakso sering menggunakan bahan tambahan pada pembuatan bakso, misalnya seperti bahan pemutih, bahan pengawet, boraks, fosfat, dan tawas, sehingga membuat produk bakso menjadi tidak aman. Sebagai mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (THP), kami ingin membuat produk yang aman di konsumsi dan bebas pengawet. Sirup dan bakso merupakan dua produk yang layak dikembangkan pada usaha warung THP. Warung THP tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa THP saja, melainkan kepada seluruh mahasiswa Pertanian. Pengembangan warung THP ini diharapkan dapat : 1. 2. 3. 4. 5. Meningkatkan kreatifitas mahasiswa Menciptakan kekompakan terhadap sesama mahasiswa Meningkatakan kegiatan perekonomian Menciptakan lapangan kerja sementara Meningkatkan mutu produk

II. ASPEK PASAR DAN PEMASARAN A. Data Kuantitatif dan Kualitatif Permintaan Pasar

Pada dasarnya setiap usaha adalah menjual produk yang dihasilkan untuk digunakan atau dibeli oleh masyarakat tergantung dari kebutuhan masyarakat pada umumnya dan persediaan produk yang dibutuhkan. Sebelum menentukan jenis produk yang akan dijual, perlu diidentifikasi terlebih dahulu produk apa yang disukai, misalnya seperti produk bakso dan sirup yang akan dipasarkan di warung THP. Untuk mengetahui berapa besar permintaan dan bagaimana persaingannya, maka diperlukan pengumpulan data untuk menilai apakah produk bakso dan sirup layak dipasarkan di warung THP. Saat ini khususnya di kota Banda Aceh, untuk produk bakso dan sirup belum ada data yang tercantum pada setiap lembaga yang terkait, sehingga hanya dapat diambil berdasarkan survey lapangan saja. B. Peramalan Permintaan Produk Masa yang Akan Datang Produk sirup jamblang dan bakso direncanakan akan dipasarkan di warung THP Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Prediksi pasar masih belum dapat ditentukan untuk kedua produk ini, karena permintaannya bisa jadi meningkat ataupun menurun. Untuk produk sirup jamblang diprediksi peminatnya masih relatif sedikit, hal ini disebabkan karena sirup jamblang merupakan produk yang belum dikenal oleh masyarakat luas, sedangkan bakso adalah produk yang laku di pasaran sehingga peminatnya banyak. Namun untuk lebih menarik perhatian mahasiswa dan dosen selaku konsumen, bakso yang akan di pasarkan adalah dalam bentuk bakso goreng, karena mengingat lebih praktis dan mudah dikonsumsi oleh siapa saja, kapan dan dimana pun. C. Perkembangan Harga Satu yang amat penting, dan harus dicermati dalam dunia usaha adalah perkembangan harga jual dari produk yang diproduksi atau diperdagangkan. Keberhasilan seorang pengusaha diukur dari kecepatannya memperoleh informasi tentang perkembangan harga barang, perubahan harga barang disebabkan karena adanya perbedaan waktu dan tempat pemasaran. Mereka yang dapat memanfaatkan informasi tersebut dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar dari pesaingnya.

Harga suatu produk sangat ditentukan dari harga bahan baku yang digunakan. Semakin meningkat harga bahan baku, maka semakin meningkat pula harga produk tersebut, terutama pada produk bakso. Berbeda halnya dengan sirup jamblang dimana harga bahan bakunya bernilai murah, hanya saja bahan bakunya bersifat musiman. Selain itu harga produk juga dipengaruhi dengan banyaknya permintaan dari konsumen produk tersebut. Produk bakso direncanakan akan dipasarkan dengan harga Rp.5.000,perbungkusnya, dengan isi perbungkusnya sebanyak 7 butir bakso. Sedangkan sirup jamblang akan dipasarkan dengan harga Rp.10.000,- perbotolnya, namun di warung THP ini juga disediakan sirup yang sudah diencerkan, yang rencananya akan dipasarkan dengan harga Rp.1.000,- percupnya. Harga yang ditawarkan tidak terlalu tinggi karena mengingat kondisi keuangan mahasiswa pada umumnya, dan tidak pula dapat diturunkan lagi harganya karena mengingat harga bahan baku yang terlalu tinggi. Untuk pembuatan bakso dibutuhkan daging yang harganya berkisar Rp.75.000,- perKg, tepung terigu Rp.5.000,- perKg, dan bumbu-bumbu lainnya. Sedangkan buah jamblang diperkirakan Rp.10.000,- perKg, dan gula Rp.7.000,perKg. D. Persaingan Pasar Persaingan merupakan suatu perihal yang wajar dalam bidang usaha. Apalagi dalam usaha pemasaran produk seperti sirup dan bakso, karena produk-produk ini banyak diminati konsumen sehingga banyak pula usaha yang serupa. Di sekitar kampus pertanian, ada tiga kantin yang akan menjadi saingan untuk warung THP, belum lagi penjual pingir jalan yang juga akan menjadi pesaing bagi warung THP ini. Untuk mempertahankan produk agar tetap diminati dan tetap bertahan, maka perlu dilakukan penyusunan strategi pemasaran. Persaingan tidak hanya terjadi pada produk yang dipasarkan, melainkan tempat pemasaran yang strategis juga menjadi salah satu daya saing tersendiri. Selain itu dengan menjaga mutu dari produk, tampilan kemasan yang menarik, dan kebersihan kantin yang tetap terjaga, maka persaingan pasar ini pun dapat dikurangi.

E. Strategi Pemasaran Pemasaran adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk memperlancar arus barang atau jasa dari produsen ke konsumen secara efisien dengan maksud menciptakan permintaan efektif. Rencana pemasaran menyangkut promosi dan cara mengenalkan produk kepada konsumen. Selain itu rencana pemasaran yang baik dapat meyakinkan bahwa produk yang akan dijalankan mempunyai prospek yang menguntungkan. Konsep strategi pemasaran sedikit berbeda dalam aplikasi dibandingkan dengan yang disarankan dalam kepustakaan mengenai pemasaran. Dalam perencanaan pemasaran, strategi cenderung menjadi 3 kelompok yaitu: a.
b.

Segmentasi, yaitu penyeleksian sasaran pasar. Bauran pemasaran (marketing mix), yaitu kombinasi berbagai fungsi Bauran produk.

pemasaran. c. Strategi pemasaran yang akan kami lakukan terhadap produk sirup jamblang dan bakso ini adalah membuat produk dengan kemasan yang menarik dan bernilai gizi tinggi. Selain itu dapat dilakukan dengan cara mempromosikannya melalui selebaran-selebaran di seputaran kampus, dengan cara menawarkan kepada temanteman di jurusan lain (dari mulut ke mulut), dan juga dengan menjaga kebersihan lingkungan kantin maka peminat akan datang dengan sendirinya.

III. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS Suatu produk dapat dikatakan layak secara teknis jika produk dapat diterima dan dapat diproduksi secara mudah. Hal itu dapat diketahui dengan melihat apakah teknologi yang digunakan sesuai atau tidak dengan desain dan kapasitas

penggunaannya. Aspek-aspek teknologis mencakup penentuan letak geografis lokasi, pemilihan teknologi proses produksi, penentuan kapasitas produksi, denah atau tata letak instalasi, dan bangunan instalasi. A. Teknologi Proses Produksi (Pemilihan proses dan Peralatan atau Mesin Produksi) Untuk produk bakso daging dan sirup jamlang memiliki proses pengolahan yang sangat bertolak belakang. Berikut akan dijelaskan proses pengolahan bakso daging dan sirup jamblang. 1. Proses pengolahan bakso daging Pengolahan bakso terdiri dari beberapa tahap yaitu sebagai berikut : a) Pemotongan daging Pemotongan daging, dilakukan untuk mempermudah proses penghancuran atau penggilingan. Daging sapi segar dipotong kecil-kecil dalm ukuran 0,5 cm x 0,5 cm, sambil dibersihkan dari bagian-bagian yang tidak dikehendaki terutama lemak. Setelah dilakukan pemotongan selanjutnya dilakukan penghancuran yang terdiri dari penghancuran pertama dan setelah penyiapan bumbu akan dilakukan penghancuran kedua. b) Penghancuran pertama Daging yang telah dipotong-potong, dihancurkan dengan processor. Garam dan gula dapat dicampurkan pada saat penghancuran tersebut. Kemudian, hasil pencampuran tersebut diaduk kuat-kuat secara manual atau ditumbuk dengan menggunakan lumpang dan alu. Hal tersebut bertujuan untuk membuat sol dari protein yang larut dalam garam dan gula. Sol tersebut akan berubah menjadi gel pada saat dipanaskan atau direbus. Oleh karena itu, agar tidak segera berubah menjadi gel (yang disebabkan oleh naiknya temperatur), maka harus ditambahkan bongkahanbongkahan kecil es batu. Semakin kuat dan lama pengadukan yang dilakukan, maka semakin banyak sol Actomyosin yang terbentuk, sehingga bakso yang dihasilkan akan menjadi semakin kenyal. c) Penyiapan bumbu

Bumbu-bumbu yang digunakan seperti bawang merah, bawang putih, dan jahe dikupas, dipotong-potong, dan dihancurkan dengan tumbukan atau diblender. d) Penghancuran kedua Adonan pasta daging hasil penghancuran pertama dan pengadukan manual atau penumbukan dalam lumpang, ditambah dengan bumbu-bumbu yang telah dihaluskan, merica halus, vetsin, tepung tapioka atau tepung terigu, putih telur yang tlah dikocok, Natrium polifosfat, dan Natrium Benzoat, sedikit demi sedikit sambil terus diaduk atau ditumbuk hingga menjadi adonan yang lumat dan dapat dibentuk. e) Pencetakan bakso Sebelum bakso dicetak atau dibentuk menjadi bulat-bulatan (bola), perlu dipersiapkan terlebih dahulu air sebanyak 2-3 kali volume adonan dan dididihkan . Adapun pencetakan bakso yang dilakukan adalah sebagai berikut: Dimasukkan adonan bakso kedalam kantong plastik kecil (cukup untuk digenggam) Digenggam kantong berisi adonan dengan tangan kiri, gunakan 3 jari (jari tengah, jari manis, dan kelingking) untuk menekan adonan dalam kantong plastik dan biarkan adonan lolos (keluar) melalui celah antara ibu jari dengan jari telunjuk. Lebar sempitnya celah, akan menentukan besar kecilnya bakso yang akan dihasilkan. Kemudian ambil adonan bakso yang lolos dan bentuk bulatan tersebut dengan sendok makan dan langsung dimasukkan kedalam air yang dididihkan. Mulamula, bakso akan tenggelam dan baru akan muncul kepermukaanair beberapa saat setelah bakso menjadi matang. Bakso yang sudah muncul kepermukaan (terapung) diangkat dan Selanjutnya, bakso segera diamgkat dari larutan pemutih tersebut dan Diagram alir pembuatan bakso daging dapat dilihat pada lampiran I. 2. Proses Pengolahan sirup jamblang segera ditiriskan. dicuci bersih dengan air kemudian ditiriskan.

Proses pengolahan buah jamblang menjadi sirup jamblang adalah sebagai berikut : Dipilih buah yang telah tua, segar dan masak lalu cuci Dilumatkan buah jamblang hingga menjadi bubur Dicampurkan 3 liter air untuk 1 liter sirup Disaring campuran dengan menggunakan kain saring Ditambah air, gula pasir, natrium benzoat, asam sitrat dan garam dapur Dipanaskan campuran hingga mendidih sambil diaduk-aduk sampai agak mengental Dalam keadaan panas, saring hasilnya. Setelah dingin masukkan kedalam botol Dimasukkan botol yang telah ditutup rapat dalam air mendidih selama 30 menit; Diangkat botol dan segera dinginkan. Proses pengolahan tidak terlepas dari peralatan dan bahan yang digunakan untuk menunjang proses produksi. Pada pengolahan bakso daging dan sirup jamblang juga memakai beberapa peralatan dan bahan yang berbeda pula. 1. Alat dan Bahan Pengolahan Bakso Daging Alat : Timbangan, baskom, sendok, kompor, panci perebus, dan plastik Bahan : Daging sapi, tepung terigu, tapioka, gula, garam, bawang putih, bawang merah, merica, jahe, putih telur, dan natrium benzoat 2. Alat dan bahan Pengolahan Sirup Jamblang Alat : Pisau, baskom, panci, kompor, pengaduk, kain saring, corong, botol dan tutup yang telah disterilkan Bahan : Buah jamblang, gula pasir, air, garam, dan asam sitrat B. Kapasitas Produksi

Kapasitas produksi bakso daging yang akan diproduksi tergantung dari banyaknya permintaan produk oleh konsumen. Hal ini dapat dijalankan karena bahan baku bakso yang berupa daging sapi mudah didapatkan terutama di kota Banda Aceh. Kapasitas produksi produk bakso yang akan direncanakan yaitu 1 kg/hari. Sedangkan untuk produk sirup jamblang kapasitas produksi yang akan dijalankan yaitu tergantung ketersediaan bahan baku. Bila sirup jamblang tersebut laku di pasaran, maka pada saat musim buah jamblang, sirup akan diproduksi dalam jumlah yang agak besar. Bahan-bahan tambahan untuk bakso daging seperti bahan cukup tersedia di kota Banda Aceh. Selain itu ada pula bahan pengawet yang juga mudah didapatkan seperti Natrium Benzoat. Begitu pula dengan sirup jamblang bahan tambahannya tidak perlu disuplai dari luar daerah. C. Penentuan Lokasi Tujuan penentuan lokasi suatu usaha dengan tepat adalah untuk dapat membantu suatu usaha beroperasi dengan lancar, efektif dan efesien. Pemilihan lokasi yang optimal dilakukan dengan analisis biaya dengan didukung ketersedian bahan baku, letak pasar yang dituju, ketersediaan air, penyediaan tenaga kerja, dan fasilitas transportasi. 1. Ketersediaan Bahan Baku Bahan baku untuk pembuatan bakso daging cukup tersedia. Ketersediaan bahan baku tersebut dipicu oleh pedagang daging sapi yang setiap harinya menjual dagangannya yang terletak di pasar-pasar sekitaran Kota Banda Aceh. Sedangkan untuk bahan baku sirup jamblang yang menggunakan buah jamblang yang sangat langka ini direncanakan berasal dari kawasan Aceh Besar. Berbeda dengan daging yang setiap harinya dapat diperoleh dengan mudah, buah jamblang sangat sulit didapatkan karena bersifat musiman. Pemanenan buah jamblang diperkirakan akan panen 6 bulan sekali. 2. Letak Pasar Yang Dituju

10

Letak pasar yang akan dituju untuk menjual produk tersebut adalah di warung THP yang terletak di fakultas pertanian. Konsumennya khususnya mahasiswa/i pertanian beserta dosen-dosen. Selain itu juga terdiri dari fakultas-fakultas lain seperti Fakultas Kedoktoran dan lain sebagainya. 3. Ketersediaan Air Tidak jauh berbeda dengan bahan baku yang sangat mudah didapatkan, ketersediaan air untuk melakukan proses pengolahan pun sangat mudah dijangkau. Proses pengolahan dilakukan di laboratorium, air yang diperlukan sangat mudah didapatkan baik air mencuci maupun air untuk memasak. Air tersebut berasal dari PDAM. 4. Penyediaan Tenaga Kerja Tenaga kerja yang akan menjalankan usaha ini cukup tersedi yaitu mahasiswa yang tergabung dalam organisasi warung THP, akan tetapi usaha ini tidak selamanya akan dijalankan oleh orang-orang yang tergabung dalam organisasi tersebut akan tetapi usaha penjualan produk ini dapat dijalankan oleh mahasiswa lainnya yang ingin mengembangkan potensinya dalam membuka usaha. 5. Fasilitas Transportasi Fasilitas transportasi cukup memadai. Warung terletak tidak jauh dari jalan raya sehingga banyak terdapat angkutan umum yang mudah dijangkau untuk menuju pasar dan lain sebagainya. Sedangkan untuk konsumen sekitaran kampus untuk menuju ke warung THP tidak perlu menggunakan transportasi akan tetapi dapat dijangkau dengan berjalan kaki saja. D. Tata Letak Mesin dan Ruangan Tata ruang tempat produksi bakso dan sirup merupakan pengadaan suatu rencana penggunaan lantai sehingga dapat diatur tempat pemesinan dan perlengkapan suatu tempat produksi yang diinginkan, ditetapkan, dan dipikirkan sebaik-baiknya sehingga tercapai aliran bahan selancar-lancarnya, dengan biaya serendah-rendahnya dan pelayanan seminimum mungkin dalam arti tidak terlalu menguras energi pekerja

11

selama memproses produk mulai dari penerimaan bahan baku yaitu daging dan buah jamblang sampai pengiriman produk bakso daging dan sirup jamblang. Pentingnya tata-ruang dalam berbagai industri dapat dikatakan bahwa pentingnya memperoleh lay out yang sebaik mungkin adalah bergantung langsung kepada : 1. Berat, ukuran atau immobilitas produk 2. Kerumitan produk 3. Jangka waktu pengolahan dalam hubungannya dengan waktu pemindahan 4. Sampai dimanakah proses mempergunakan metode produksi masal Tata ruang tempat produksi bertujuan untuk memperlancar arus pekerjaan yang melaluinya. Ditempat produksi yang menghasilkan satu produk saja mudah untuk mengatur perlengkapan sehingga tiap operasi berdampingan dengan yang mendahuluinya dalam urutan pembuatan, jadi produk beralih dari proses yang satudengan yang lainnya tetap dalam satu jurusantanpa perlu kembali pada jalan yang sama. Lain halnya dengan pembuatan dua produk yang berbeda, seperti halnya produk bakso dan sirup yang menggunakan mesin yang berbeda pula sehingga tata ruangnya juga harus diatur sebaik mungkin.

IV. ASPEK MANAJEMEN OPERASIONAL

12

Manajemen dalam operasi meliputi bentuk organisasi atau badan usaha yang dipilih, struktur organisasi, deskripsi jabatan, jumlah tenaga kerja yang akan digunakan dan anggota direksi serta tenaga-tenaga terinci. Analisis aspek yang dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai struktur organisasi dari usaha. Gambaran tersebut akan menghasilkan tenaga manajemen apa dan berapa yang diperlukan untuk mengelola proyek secara berhasil. Tujuan dari aspek ini yaitu untuk mengetahui gambaran umum struktur organisasi dari usaha yang akan didirikan.

A. Bentuk Badan Usaha dan Perijinan Bentuk badan usaha yang akan dijalankan merupakan usaha dalam bentuk organisasi bersama yang akan dijalankan oleh mahasiswa THP. Usaha ini terletak dikalangan kampus dan kegiatannya menjual produk kering maupun basah dari hasil kreatifitas mahasiswa seperti bakso, keripik, nata de coco dan lain-lain Perijinan tentunya didapatkan dari berbagai pihak. Pihak utama yang sangat berperan yaitu dosen-dosen THP yang merupakan bagian dari terbentuknya usaha tersebut. Selain itu perijinan juga didapatkan dari lingkungan kampus seperti bagian administrasi fakultas. B. Struktur Organisasi Ketua Pengelola Warrung

Wakil Pengelola warung

Ketua Produksi

Ketua Keuangan

Ketua Pemasaran

C. Rancangan Jabatan dan Persyaratan

13

Jenis-jenis pekerjaan yang akan dilakukan dalam usaha kecil ini antara lain membuat produk dan menjualnya pada warung yang terletak disekitaran kampus. Pada usaha ini tidak ada yang memiliki jabatan khusus untuk menjalankan usaha tersebut. Akan tetapi dalam usaha ini ada beberapa kelompok yang harus bertanggungjawab atas masing-masing bagiannya. Misalnya yang memproduksi produk terdiri dari beberapa orang sedangkan yang menjaga warung ada kelompok lain yang menanganinya. Persyaratan yang harus dijalankan dalam usaha ini tidak terlalu sulit, yaitu setiap kelompok yang terdiri dalam organisasi ini merupakan mahasiswa yang dapat mengatur waktu dirinya sendiri antara kuliah dan pekerjaan yang akan dijalankannya. Akan tetapi persyaratan yang terpenting dalam usaha ini yaitu pekerjanya merupakan bagian dari mahasiswa yang bertanggungjawab atas semua. Selain itu persyaratan yang terpenting dalam usaha ini adalah anggota yang termasuk pengelola warung ini harus memiliki pengalaman dalam bidang membuat produk dan ketrampilan dalam menyusun apa yang diperlukan pada warung ini agar lebih bermakna dan maju. D. Kebutuhan Tenaga Kerja dan Rencana Penggajian Dalam usaha ini kebutuhan tenaga kerja tidak terlalu dipermasalahkan. Hal demikian dapat terjadi karena warung THP merupakan warung yang diresmikan oleh mahasiswa THP sendiri beserta dosen-dosen THP serta yang mengelola warung tersebut juga berasal dari mahasiswa THP. Dengan demikian warung THP berkomitmen rencana penggajian itu dihitung dari banyaknya produk yang terjual dari warung tersebut dan hasilnya akan diperhitungkan kembali untuk merencanakan penggajian.

V. ASPEK HUKUM DAN DAMPAK LINGKUNGAN

14

Aspek yuridis merupakan aspek institusional yang menyangkut perijinan dalam pendirian industri yang dituangkan dalam peraturan pendirian suatu usaha. Peraturan-peraturan tersebut diantaranya adalah hak guna tanah, izin bangunan, izin badan usaha dan izin penggunaan tenaga kerja. Selain itu juga diperlukan izin melakukan dagang dan peraturan pajak. Sedangkan dampak lingkungan merupakan salah satu aspek yang perlu mendapatkan pengkajian yang seksama. Pada suatu proyek industri, masalah yang timbul terhadap lingkungan diantaranya adanya polusi, baik polusi udara, tanah, dan air yang berbentuk limbah, baik limbah padat maupun limbah cair. Proyek yang diperkirakan dapat merusak lingkungan atau menyebabkan polusi tidak layak karena berdampak tidak baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Analisis mengenai dampak lingkungan meliputi identifikasi terhadap pelaksanaan pembangunan yang mungkin dapat menyebabkan pencemaran, mengidentifikasi keadaan lingkunagan yang rentan terhadap pencemaran dan melakukan usaha penanggulangan agar dampak yang timbul sekecil mungkin. A. Tata Cara Perijinan Warung THP merupakan warung yang terletak dalam lingkungan kampus yang juga didirikan pada tanah kecil bagian dari tanah pendirian fakultas, oleh karena itu peraturan-peraturan seperti keharusan adanya hak guna tanah, izin bangunan, izin badan usaha dan izin penggunaan tenaga kerja seperti dijelaskan di atas merupakan peraturan yang tidak perlu dijalankan oleh mahasiswa yang mengelola usaha ini akan tetapi semua peraturan ini akan dijalankan oleh pihak fakultas yang merupakan kewajiban pemerintah semata. B. Dampak Negatif Pendirian Tempat Usaha Dampak negatif yang terjadi terhadap pendirian warung THP sama sekali tidak perlu dipikirkan karena warung tersebut didirikan didalam kampus dimana letaknya jauh dari polusi atau limbah yang merupakan tempat pembuangan sampah.

15

Warung tersebut terletak ditengah-tengah gedung perkuliahan yang disekitarnya terdapat pepohonan yang sangat sejuk. .

VI. ASPEK KEUANGAN

16

A. Dasar Perhitungan Warung THP akan dibangun di Fakultas Pertanian lama Unsyiah dengan beberapa produk, diantaranya bakso daging dan sirup jamblang. Untuk produk bakso daging, warung THP ini berkapasitas 1 kg daging sapi, 500 gr tepung, 2 butir telur, dan bumbu-bumbu pelengkap per harinya atau memproduksi 25 bungkus per hari (1 bungkus = 7 butir bakso daging), dengan 26 hari kerja per bulan atau 312 hari per tahun. Sedangkan untuk produk sirup jamblang, warung THP ini berkapasitas 5 kg buah jamblang, 3 kg gula pasir, dan bahan tambahan lainnya per minggu atau memproduksi sebanyak 6 botol per minggunya. Untuk membangun warung THP tersebut, diperlukan investasi yang terdiri dari investasi awal dan biaya operasional. Warung THP ini diharapkan dapat bertahan lama serta memiliki umur yang panjang, dan akan tetap diteruskan kegiatannya oleh angkatan muda. Walau kami sudah selesai dari THP, tetapi kami berharap warung THP ini akan terus maju dan tetap berjalan. Produk bakso direncanakan akan dipasarkan dengan harga Rp.5.000,perbungkusnya, dimana perbungkusnya berisi 7 butir bakso. Sedangkan sirup jamblang akan dipasarkan dengan harga Rp.10.000,- perbotolnya. Harga yang ditawarkan tidak terlalu tinggi karena mengingat kondisi keuangan mahasiswa pada umumnya, dan tidak pula dapat diturunkan lagi harganya karena mengingat harga bahan baku yang terlalu tinggi. Untuk pembuatan bakso dibutuhkan daging yang harganya berkisar Rp.75.000,- perKg, tepung terigu Rp.5.000,- perKg, dan bumbubumbu lainnya. Sedangkan buah jamblang diperkirakan Rp.5.000,- perKg, dan gula Rp.7.000,- perKg. Anggaran investasi merupakan perhitungan modal dari awal hingga akhir dalam mendirikan suatu industri. Sumber modal untuk warung THP berasal dari pinjaman dari himpunan mahasiswa THP (HIMATEKH), pinjaman dari Jurusan THP, dan proposal baik kepada dosen, Fakultas Pertanian, maupun lembaga lain.

B. Perkiraan Modal

17

a. Modal Investasi Modal yang digunakan ada 2 macam yaitu : 1. Modal Tetap Modal tetap meliputi pembayaran listrik, utilitas, bangunan, tanah, dan lain-lain. 2. Modal Kerja Modal kerja besarnya tergantung pada jenis usaha dan kapasitasnya. Kedua modal di atas digunakan untuk biaya produksi yang terbagi menjadi 3 macam yaitu : 1. Biaya Produksi Langsung Biaya produksi langsung adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk pembiayaan langsung suatu proses, seperti bahan baku, buruh dan supervisor, perawatan, plant supplies, paten dan royalty, serta utilitas. 2. Biaya Produksi Tidak Langsung Biaya produksi tidak langsung adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendanai hal-hal yang secara tidak langsung membantu proses produksi, antara lain laboratorium, pengemasan, dan lain-lain. 3. Biaya Tetap Biaya tetap adalah biaya yang tetap dikeluarkan baik pada saat pabrik berproduksi maupun tidak. Biaya ini mencakup depresiasi, pajak dan asuransi, biaya tenaga kerja tetap, biaya pemasaran dan promosi, biaya transportasi, biaya administrasi, listrik, air dan biaya tetap lainnya. Selain itu ada juga biaya umum yang meliputi administrasi, penelitian dan finance. Laba atau profit diperoleh dari hasil pengurangan harga jual dengan biaya produksi.

Tabel 1. Anggaran Investasi

18

No. Anggaran 1. Dana investasi 2. Dana modal kerja awal Total

Biaya (Rp) Rp. 500.000,Rp.31.987.000,Rp.32.487.000,-

NB : Dana investasi yang dimaksud di atas adalah dana penyediaan peralatan di warung, misalnya meja, kursi, kain lap, sapu, alat mengepel, dan lain sebagainya. Tabel 2. Modal Kerja Awal untuk Produk Bakso Daging dan Sirup Jamblang No. 1. Anggaran Bahan Baku dan Bahan Tambahan a. Daging sapi b. Tepung terigu dan tepung tapioka c. Bumbu-bumbu d. Telur e. Minyak goreng f. Buah jamblang g. Gula 2. h. Asam sitrat Bahan Pengemas a. Kemasan plastik (untuk bakso) 3. b. Kemasan botol (untuk sirup) Cadangan Uang Tunai Total Biaya/tahun (Rp) Rp.23.400.000,Rp. 1.560.000,Rp. 3.120.000,Rp. Rp. 624.000,336.000,-

Rp. 1.200.000,Rp. 1.008.000,Rp. Rp. 10.000,70.000,-

Rp. 150.000,Rp. 500.000,Rp.31.978.000,-

b. Biaya Operasional 1. Biaya Tetap Biaya tetap adalah biaya-biaya yang di dalam kapasitas (range of capacity) tertentu totalnya tetap, meskipun volume kegiatan perusahaan berubah-ubah. Sejauh

19

tidak melampaui kapasitas, biaya tetap total tidak dipengaruhi oleh besar-kecilnya volume kegiatan perusahaan. Selain itu biaya tetap juga merupakan biaya operasional yang dikeluarkan untuk setiap periode kerja, yang tidak terkait langsung dengan jumlah produksi. Tabel 3. Biaya Tetap No. Anggaran 1. Promosi 2. Gaji Tenaga Kerja 3. Pemeliharaan Alat Total Biaya Tetap 2. Biaya Tidak Tetap (Variabel) Biaya variable adalah biaya-biaya yang totalnya selalu berubah secara proporsional (sebanding) dengan perubahan volume kegiatan perusahaan. Besarkecilnya total biaya variable dipengaruhi oleh besar-kecilnya volume produksi/ penjualan secara proporsional. Jenis biaya tidak tetap antara lain : biaya bahan baku biaya tenaga kerja langsung sebagian biaya overhead pabrik (seperti : penyusutan aktiva tetap pabrik yang dihitung berdasarkan jumlah unit produksi) komisi penjualan yang ditentukan berdasarkan persentase tertentu dari hasil penjualan Biaya (Rp) Rp. 100.000,Rp.8.000.000,Rp. 200.000,Rp.8.300.000,-

Tabel 4 Biaya Tidak Tetap (Variabel) No. 1. Anggaran Bahan Baku dan Bahan Biaya (Rp) Rp.31.258.000,Rp. 220.000,Rp.31.478.000,-

Tambahan 2. Bahan Pengemas Total Biaya Tidak Tetap

20

c. Sumber Pembiayaan Sumber modal atau sumber pembiayaan untuk warung THP berasal dari pinjaman dari himpunan mahasiswa THP (HIMATEKH), pinjaman dari Jurusan THP, dan proposal baik kepada dosen, Fakultas Pertanian, maupun lembaga lain. d. Arus Kas Jumlah Biaya Operasional = Biaya Tetap + Biaya Tidak Tetap = Rp. 8.300.000,- + Rp. 31.478.000,= Rp. 39.778.000,

Pendapatan Warung untuk Produk Bakso Daging : = 25 bungkus = 25 bungkus x Rp.5.000,= Rp. 125.000,= 7800 bungkus = 7800 bungkus x Rp.5.000,= Rp. 39.000.000,Pendapatan Warung untuk Produk Sirup Jamblang : = 6 botol = 6 botol x Rp.10.000,= Rp. 60.000,= 288 botol = 288 botol x Rp.10.000,= Rp. 2.880.000,Total Penjualan untuk Produk Bakso Daging dan Sirup Jamblang adalah : = Rp. 39.000.000,-+ Rp. 2.880.000,= Rp. 41.880.000,-

Produksi/hari Total Penjualan/hari Produksi/tahun Total Penjualan/tahun

Produksi/minggu Total Penjualan/minggu Produksi/tahun Total Penjualan/tahun

21

e. Proyeksi Laba Rugi Net Cash Flow (per tahun) = Harga Penjualan Biaya Operasional = Rp.41.880.000 Rp. 39.778.000 = Rp. 2.102.000,Tabel 5. Anggaran Pendapatan dan Keuntungan No. 1. 2. Uraian Kapasitas Produksi Pendapatan f. Analisis Finansial Analisis finansial dalam kerangka studi kelayakan industri lebih bersifat analisis tentang arus dana. Analisis finansial adalah suatu analisis yang membandingkan antara keuntungan dan biaya untuk menentukan apakah suatu usaha akan menguntungkan selama umur proyek. 0 1 80 % 33.504.00 0 2 90% 37.692.00 0 Tahun 3 100% 41.880.00 0 4 100% 41.880.00 0 5 100% 41.880.000

Tabel 6. Net Cash Flow Tahun 0 1 2 3 4 Net Cash Flow -39.778.000 33.504.000 37.692.000 41.880.000 41.880.000

22

41.880.000

Analisis finansial yang dapat dilakukan untuk melihat apakah usaha yang akan dijalankan layak atau tidak, yaitu dengan melihat kriteria-kriteria investasi sebagai berikut :
a. Net Present Value (NPV)

NPV adalah selisih antara percent value dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang. Untuk menghitung nilai sekarang perlu ditentukan tingkat bunga yang relevan. Jika nilai NPV 0 maka rencana investasinya dapat diteruskan, dan jika NPV 0 maka rencana investasi sebaiknya dibatalkan. Tabel 7. Net Present Value Tahun 0 1 2 3 4 5 Net Cash Flow -39.778.000 33.504.000 37.692.000 41.880.000 41.880.000 Discount Factor (12%) 1 0,892857 0797194 0,711780 0,635518 Present Value -39.778.000 29.914.281 30.047.836 29.809.346 26.615.494

41.880.000 0,506631 21.217.706 NPV 97.826.663 NPV = (+) artinya investasi cukup layak untuk dilanjutkan.
b.

Internal Rate of Return (IRR)

IRR adalah tingkat suku bunga yang bila digunakan untuk mendiskonto seluruh selisih kas masuk pada tahun-tahun operasi proyek akan menghasilkan jumlsh kas yang sama dengan jumlah investasi proyek. Jika IRR lebih besar dari suku bunga pinjaman maka proyek layak dilaksanakan. Tabel 8. Internal Rate of Return (IRR) Tahu n Net Cash Flow Discount Factor Present Value Discount Factor Present Value

23

0 1 2 3 4 5

-39.778.000 33.504.000 37.692.000 41.880.000 41.880.000 41.880.000 IRR = 0,12 +

(12%) 1 0,892857 0797194 0,711780 0,635518 0,506631

-39.778.000 29.914.281 30.047.836 29.809.346 26.615.494 21.217.706 97.826.663

(115%) 1 0,465116 0,216333 0,100620 0,046800 0,010124

-39.778.000 15.583.256 8.154.029 4.213.968 1.959.985 424.009 -9.442.753

= 1,059 = 105,9 % IRR > tingkat bunga bank (12%) maka layak dilanjutkan
c. Profitability Index (PI) atau Benefit Cost Ratio (B/C)

PI merupakan nilai perbandingan antara benefit pada tingkat bunga yang berlaku (discount factor) dengan biaya yang didiskonto dengan tingkat bunga yang sama selama umur proyek. Jika PI 1 maka rencana dapat diteruskan, tetapi jika PI < 1 maka rencana ditolak.

Tabel 9. Profitability Index (PI) Tahun 0 1 2 3 4 5 Net Cash Flow -39.778.000 33.504.000 37.692.000 41.880.000 41.880.000 Discount Factor (12%) 1 0,892857 0797194 0,711780 0,635518 Present Value

29.914.281 30.047.836 29.809.346 26.615.494 21.217.706 137.604.663

41.880.000 0,506631 Total PV (1-5)

24

PI = = = 3,460 PI > 1 = maka rencana industri tersebut layak


d. Break Even Point (BEP)

BEP adalah suatu metode analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara beberapa variabel didalam kegiatan perusahaan. Proyek dikatakan impas jika jumlah penjualan produk pada suatu periode sama dengan jumlah biaya yang ditanggung sehingga proyek tidak mengalami keuntungan maupun kerugian. Tabel 10. Break Even Point (BEP) Uraian Biaya Variable Biaya Tetap Pendapatan BEP (Rp) 1 80 % 25.182.40 0 6.640.00 0 33.504.00 0 65.326.40 2 90 % 28.330.200 7.470.000 37.692.000 Tahun 3 100 % 31.478.00 0 8.300.000 41.880.00 0 81.658.00 4 100 % 31.478.00 0 8.300.000 41.880.00 0 81.658.00 5 100 % 31.478.000 8.300.000 41.880.000 81.658.000

73.492.200 0 0 0 BEP = 8.300.000 / (1- (31.478.000/81.658.000) = Rp.134.960 = 1,34 %

e. Pay Back Period (PBP)

PBP adalah waktu minimum yang diperlukan untuk mengembalikan investasi awal dalam bentuk aliran kas yang didasarkan atas total penerimaan dikurangi semua biaya penyusutan.

25

Tabel 11. Pay Back Period (PBP) Tahun 0 1 2 3 4 5 Net Cash Flow -39.778.000 33.504.000 37.692.000 41.880.000 41.880.000 41.880.000 Discount Factor (12%) 1 0,892857 0797194 0,711780 0,635518 0,506631 Present Value -39.778.000 29.914.281 30.047.836 29.809.346 26.615.494 21.217.706 86.526.663 Kumulatif Present Value -39.778.000 -9.863.719 20.184.117 49.993.463 76.608.957 97.826.663 2.146.389

PBP = 1 + (9.863.719 / 30.047.836) = 1 + 0,32826 = 1,33 = 1 tahun

VII. PENUTUP A. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat disimpulkan dari penjelasan sebelumnya adalah sebagai berikut : 1. Warung THP didirikan atas hasil kesepakatan antara dosen THP dan Mahasiswa THP
2. Produk yang dijual di warung THP bermacam-macam, antara lain bakso

daging, sirup jamblang, nata de coco, keripik bayam, roti, es cream, dan lain sebagainya

26

3. Dari hasil analisis finansial untuk produk bakso daging dan sirup jamblang menunjukkan hasil layak untuk dilanjutkan penjualannya 4. Produk diolah di laboratorium agar mudah untuk memasarkannya 5. Produk yang dijual adalah hasil produksi mahasiswa THP B. Saran 1. Sebaiknyanya dilanjutkan dengan mengolah produk sirup dalam hal rasa yang bervariasi 2. Sebaiknya dilajutkan dengan mengemas sirup dalam kemasan lain misalnya dalam cup 3. Sebaiknya dilanjutkan pengolahan bakso dengan memvariasikan bahan bakunya misalnya bakso tahu, telur dan sebagainya.

27