Anda di halaman 1dari 5

Sebuah tindak pidana yang paling tidak di senangi oleh para pejabata yang bertanggung jawab di bidang penerbangan,

transportasi udara,para awak beserta penumpang pesawat udara, dan para organisasi internasional yang berkaitan dengan transportasi udara adalah pembajakan udara atau aircraft heijacking. Bahaya yang yang terjadi akibat pembajakan udara : 1. Membahayakin jiwa manusia dan menimbulkan korban jiwa 2. Merusak harta benda 3. Pesawat udara kehabisan bahan bakar Berbagai usaha penjegahan dan pemberantasan pembajakan udara lakukan : yang telah di

1. Mengadakan penelitian secara pesikologi berdasarkan perilaku / perangai pembajak 2. Mengadakan peralatan elektronik yang cangih untuk mengenali benda-benda yang biasa di gunakan untuk melakukan pembajakan 3. Mengadakan pemeriksaan badan kepada setiap penumpang 4. Menempatkan satuan keamanan untung mengawal penerbangan 5. Membuat berbagai perjanjian ekstradisi dengan nengara lain 6. Menyerukan ke berbagai Negara untuk secara bersama-sama mengutuk setiap pembajakan udara apapun motifnya dan memberikan hukuman yang berat terhadap pembajak yang tertangkap. Sebenarnya, pembajakan sudah di kenal sebelum tahun masehi. Ketika itu para pedagang dari bangsa yunani dan punisia yang mengangkut barang-barang dagangan dengan memaki unta sebagai sarana transportasi di hadang oleh pembajak pada setangah perjalanan. Namun, pada saat itu belum di kenal istilah pembajakan di perkirakan baru di kenal pada abad-18. Pada abad tersebut pembajak biasa menggunakan lentera merah (lampu minyak) di sertai suara lantang (hi jack) untuk menghentikan kendaraan. Pada saat pedagang berhenti para pembajak merampas dan mengambil barang-barang milik pedagang. Kasus pembajakan udara, pertama kali terjadi pada februari 1931 4 golongan besar motif pembajakan udara : 1. 2. 3. 4. Motif pribadi Motif penjulikan Motif politik Motif pengungsian politik

Usaha-usaha pencegahan dan pemberantasan pembajakan udara secara yuridis dengan mengesahkan : 1. Hukum nasional 2. Hukum internasional y Konvensi Tokyo 1963 y Konvensi Den Haag 1970 y Perjanjian ekstradisi 3. Pencegahan dan pemberantasan secara fisik y Pencegahan di darat y Pencegahan di udara 4. Organisasi internasional y United nations organization (UNO) y International civil aviation organization (ICAO) y International air transport association (IATA) y International federation airlines pilot association (IFALPA) y International criminal police organization (INTERPOL) Konsep Kebijakan Transportasi Udara Kebijakan angkutan udara nasional tergantung dari ideologi politik nengara yang bersangkutan. y Di Negara-negara yang ideologinya sosialis, kegiatan yang merupakan pelayanan umum di kuasai oleh Negara dan biasanya di lakukan dengan monopoli. Pelaksanan angkutan udara dilakuka oleh perusahaan penerbangan milik pemerintah atau oleh perusahaan swasta dengan pengaturan yang sangat ketat oleh badan pemerintah atau kementrian. Di Negara-Negara yang menganut ideologi liberalis, penyelenggaraan angkutan udara nasiolnal maupun internasional sepenuhnya di lakukan oleh perusahaan penerbangan milik swasta. Di Negara-negara yang menganut ideologi gabungan antara sosialis dan liberalis (neo-liberal), penyelenggaran angkutan udara di lakukan oleh perusahaan penerbangan milik pemerintah berdampingan dengan perusahaaan penerbangan milik swasta.

Kebijakan Baru Transportasi Udara Nasional.

Dari tahun 1950 sejak Garuda Indonesian Airways (GIA) yang didirikan berdasarkan akta Notaris Raden Kadiman Nomor 137 tanggal 31 maret 1950, idiologi politik Indonesia pada saat orde lama cenderung ideologi sosialis. Pada saat ini tidak ada perusaahan penerbangan milik swasta, perusahan penerbangan hanya ada atau di lakukan oleh perusahaan penerbangan milik pemerintah. Tidak ada persaingan antara perusahaan penerbangan, tetapi pada saat orde baru mulai meningalkan ideologi sosialis dan menuju idelogi neoliberalisme. Berdasarkan ideologi politik neoliberalisme tersebut, pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor SK 13/S/1971 sehingga lahirlah perusahaan-perusahaan penerbangan milik swasta. Dan pada era reformasi sekarang ini, kebijakan relaksasi angkutan udara cenderung liberal. Persyaran mendirikan perusahaan penerbangan menjadi sangat mudah sehinga perusahaan penerbangan tumbuh dengan pesat dan bersaing sangan ketat satu terhadap yang lain tanpa memperhatikan kepentingan penumpang. Dalam perkembangannya, perusahaan penerbangan yan g lahir pada masa orde reformasi tidak dapat menjamimin kelangsungan hidup perusahaan. Mereka lahir membawa modal yang tidak memadai dan personel yang kuran professional sehinga terjadi bannyak kecelakaan pesawat yang pada akhirnya masyarakat menjadi korban.mereka kurang menyadari bahwa bisnis angkutan udara merupakan bisnis yang sangat riskan sekali sehinga apabila terjadi kecalakaan yang fatal, perusaahn tersebut akan bubar Oleh karena itu jiwa undang-undang nomor 1 tahun 2009 meletakkan dasar huk um agar perusahaan penerbangan nasional dapat bertahan dan bersaing pada tataran regional maupun internasional dengan mensyaratkan : 1. Modal angkutan udara niaga menghendaki perushaan penerbangan mempunyai modal yang kuat untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan penerbnagan dan mengurangi beban masyarakat karena bangkrutnya perusahaan penerbangan biasanya akan berimbas kepada masyarakat banyak. 2. Komposisi saham Disamping kewajiban single majority perusahaan penerbangan juga harus mengatur kewajiban menyetor modal, namun tidak di tentukan persentase modal yang harus di setorkan. Kepemilikan modal perusaahn penerbangan yang tidak di miliki badan hokum atau warga Negara Indonesia bertentangan dengan asas yang berlaku pada umumnya di dalam perjanjian angkutan udara bilateral. 3. Kepemilikan pesawat udara Pemegang izin usaha angkutan udara niaga berjadwal wajib paling sedikit mempunyai 10 pesawat udara sesuai dengan rute yang di layani oleh angkutan udara niaga berjadwal. Sedangkan angkutan niaga yang tidak berjadwal harus memiliki paling sedikit 3 unit pesawat udara sesuai dengan daerah operasi yang di layani

4. Jaminan bank Perusahaan penerbangan harus memperoleh izin usaha angkutan udara niaga dan jaminan bank, persyaratan ini penting untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaaan. Sehingga jika perusahaan penerbangan jatuh/ kolaps bank dapat menjamin semua tagihan dari kreditur . 5. Sumber daya manusian yang professional Pada tataran operasional, semua personel penerbangan yanmg meliputi personel ahli perawatan pesawat udara, personel operasi pesawat udara, personel awak pesawat udara, personel Bandar udara, dan personel navigasi penerbangan, wajib memiliki lisensi atau sertifikat kompetensi yang sah dan masih berlaku. Angkutan Udara Komersial : y Asas cabotage y Angkutan udara niaga berjadwal y Angkutan udara niaga tidak berjadwal y Angkutan udara perintis y Angkutan udara niaga berjadwal luar negeri y Angkutan udara niaga tidak berjadwal luar negeri y Jejaring dan rute penerbangan Tariff Penumpang Pesawat Udara : y Tarif kelas ekonomi y Tarif batas atas y Tarif batas bawah y Tarif non-ekonomi Kerjasama Sama Antar Perusahaan Penerbangan Dimaksudkan agar perusahaan penerbangan dapat lebih kuat berasing dengan perusahaan penerbangan laiannya . disamping itu di harapkan dapat melakukan kerjasama dengan perusahaan angkutan udara asing untuk melayani angkutan udara luar negeri Kargo Udara Perusahaan angkutan udara niaga tidak berjadwal asing yang melayani rute ke Indonesia dilarang mengakut penumpang dari wilayah Indonesia, kecuali penumpangnya sendiri yang di trunkan pada penerbangan sebelumnya. jika perusahaan penerbangan tersebut melakukan pelangaran, akan dikenakan sanksi admisnistratif. Dan perusahaan angkutan udara niaga tidak berjadwal asing khusus

pengangkut karga yang melayani rute ke Indonesia dilarang mengakut kargo dari wilayah Indonesia, kecuali dengan izin menteri.