Anda di halaman 1dari 9

EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN TERPADU DI SEKOLAH DASAR

Sutrisno Widodo

Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya Kampus Lidah Wetan

Abstrak: Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan yang melibatkan beberapa bidang studi/ mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran itu akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Pengertian bermakna di sini karena dalam pembelajaran terpadu diharapkan peserta didik memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman-pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Pelaksanaan pembelajaran terpadu diawali dari pemilihan dan pengembangan topik atau tema yang dilakukan guru bersama peserta didik. Konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan wahana pembelajaran dan penjelajahan topik atau tema. Evaluasi pada pembelajaran terpadu berorientasi pada program, proses, dan produk, dan penyelenggaraannya dilakukan dengan menggunakan alat evaluasi tes dan non-tes. Dalam mengevaluasi proses pembelajaran terpadu, observasi merupakan komponen dasar, dan observasi terhadap kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan dengan cermat, seksama, agar data dan informasi proses pelaksanaannya dapat terekam dangan sempurna sehingga evaluasi dapat dilakukan secara objektif.

Kata Kunci: Pembelajaran terpadu, Model keterhubungan, Model jaring laba-laba dan Model keterpaduan

1.

PENDAHULUAN

Perkembangan anak Sekolah Dasar cenderung bersifat holistik. Aspek perkembangan yang satu saling terkait dan mempengaruhi aspek perkembangan yang lain. Perkembangan ini merupakan perkembangan phisik, mental, emosional dan sosial yang tidak dapat terpisahkan satu dengan lainnya, dan sifatnya terpadu (holistik), dengan pengalaman serta kehidupan dalam lingkungan sekitarnya. Apabila kita cermati bersama proses pembelajaran/ pendidikan di Sekolah Dasar yang terjadi selama ini menunjukkan adanya kecenderungan yang relatif kuat dalam hal (Depdikbud. 1996): (1) terjadinya pengkotakan-pengkotakan bidang studi/mata pelajaran khusunya untuk kelas-kelas tinggi di Sekolah Dasar, (2) pembelajaran difokuskan pada pencapaian dampak pembelajaran/efek

8

instruksional, (3) sistem evaluasi berorientasi testing, dan penekanannya pada reproduksi informasi. Dari kenyataan tersebut terlihat jelas terjadinya kontradiksi antara proses perkembangan anak SD bersifat alamiah, dengan proses pendidikan/ pembelajaran yang dilaksanakan di Sekolah Dasar. Jika hal ini dibiarkan terus berlanjut, maka dapat diramalkan akan terjadi dampak negatif

terhadap

pendidikan/pembelajaran di Sekolah Dasar. Bertolak dari berbagai gejala tersebut, maka dipandang perlu para guru Sekolah Dasar yang ada sekarang ini memulai untuk mengembangkan kompetensinya dalam merancang pembelajaran dan merancang evaluasi terpadu pada setiap bidang studi yang akan dibelajarkan kepada peserta didiknya. Evaluasi dalam proses pembelajaran merupakan aktivitas yang bertujuan untuk

hasil

mutu

dan

mendapatkan informasi berkaitan dengan kinerja (performance) peserta didik. Hal ini diharapkan hasil evaluasi dapat digunakan sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan dari suatu proses pembelajaran, dan juga dapat dimanfaatkan sebagai masukan dalam rangka perbaikan kualitas pembelajaran. Pada pembelajaran terpadu peran evaluasi tidak berbeda dengan pembelajaran konvensional pada umumnya. Oleh karena itu berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi kegiatan pembelajaran baik yang menggunakan pendekatan terpadu maupun konvensional adalah sama. Dalam pembelajaran terpadu perhatian yang cukup banyak diarahkan pada evaluasi dampak pengiring (nurturant effects), seperti halnya dengan kompetensi bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, dan sebagainya, di samping dampak pembelajaran (instructional effects). Ditinjau dari segi pentahapan aktivitas evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan aktivitas pembelajaran terpadu. Sedangkan dari segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada proses maupun produk/ hasil pembelajaran.

2. KONSEP PEMBELAJARAN TERPADU

Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi/ mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran seperti ini akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Pengertian bermakna di sini karena dalam pembelajaran terpadu diharapkan peserta didik memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman- pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.

Pada dasarnya, pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik. Pembelajaran terpadu akan

Sutrisno, Evaluasi Dalam Pembelajaran

berlangsung apabila peristiwa-peristiwa otentik atau eksplorasi topik atau tema menjadi pengendali di dalam kegiatan pembelajaran. Dengan berpartisipasi di dalam eksplorasi tema atau topik atau peristiwa tersebut peserta didik belajar sekaligus proses dan isi berbagai mata pelajaran secara serempak. Pandangan lain, pembelajaran terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang memperhatikan dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik (developmentally appropriate practice). Pendekatan berangkat dari teori pembelajaran yang menolak drill sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. (Depdikbud, 1998) Pelaksanaan pendekatan pembelajaran terpadu ini bertolak dari suatu tema atau topik yang dipilih atau dikembangkan guru bersama peserta didik. Tujuan dari tema ini bukan untuk literasi bidang studi, tetapi konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan alat dan wahana untuk mempelajari dan mengeksplorasi topik atau tema. Apabila dibandingkan dengan pendekatan konvensional, pembelajaran terpadu lebih menekankan keterlibatan peserta didik dalam belajar; membuat peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan. Pendekatan ini lebih mungkin menjadi sesuatu yang dikemukakan oleh John Dewey dengan konsep learning by doing-nya. Pendekatan pembelajaran terpadu dapat dipandang sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas (improvement quality) pendidikan di tingkat dasar, terutama dalam rangka mengimbangi gejala penjejalan kurikulum yang sering terjadi dalam proses pembelajaran di sekolah belakang ini.

3. KARAKTERISTIK DAN KELEBIHAN SERTA KETERBATASAN PEMBELAJARAN TERPADU

Pembelajaran terpadu sebagai suatu proses memiliki ciri-ciri: (1) berpusat pada anak (child centered), (2) memberikan pengalaman langsung pada anak, (3) pemisahan antar bidang studi tidak begitu

Jurnal Teknologi Pendidikan, Vol.10 No. 1, April 2010 (8 15)

jelas, (4) menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran, (5) bersifat luwes, dan (6) hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik. Kelebihan-kelebihan pada pembelajaran terpadu dibandingkan dengan pembelajaran konvesional, di antaranya: (1) pengalaman dan kegaiatan belajar peserta didik selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak, (2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan mengacu pada minat dan kebutuhan anak, (3) kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama, (4) pembelajaran terpadu menumbuh kembangkan keterampilan berfikir anak, (5) menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui dalam lingkungan anak, dan (6) menumbuh kembangkan keterampilan sosial anak seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, dan respek atau menghargai terhadap gagasan orang lain. Dalam pendekatan pembelajaran terpadu mengandung keterbatasan terutama dalam pelaksanaannya. Keterbatasan itu terutama terletak dalam aspek evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi tidak hanya terhadap hasil tetapi juga terhadap proses. Tidak hanya evaluasi dampak instruksional (instructional effect), tetapi juga dan mungkin lebih banyak dampak pengiring (nurturant effect). Pembelajaran terpadu memang menghendaki teknnik evaluasi yang lebih beragam dibanding dengan pembelajaran biasa.

Bertolak dari hal-hal tersebut, maka sebelum mendesain pembelajaran terpadu hendaknya para guru mengumpulkan, menyusun, dan memahami standar kompetensi maupun kompetensi dasar dari seluruh bidang studi dalam satu semester, kemudian dilanjutkan dengan proses pendesainan/ perancangan pembelajaran terpadu.

4.

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN TERPADU YANG DISARANKAN DI SD

Model Keterhubungan (Connected models). Model keterhubungan adalah model

10

pembelajaran terpadu secara sengaja diusahakan untuk menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas-tugas yang dilakukan dalam satu hari dengan tugas-tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan ide-ide yang akan dipelajari pada semester berikutnya. (Fogarty,1991). Misalnya, guru secara sengaja memadukan antara subtema kebersihan, keadilan, dan kerukunan yang ada pada mata pelajaran Pkn semester II pada kelas II. Beberapa kelebihan model keterhubungan adalah sebagai berikut: (1) dampak positif dari mengkaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah peserta didik memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu, (2) peserta didik mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus, sehingga terjadilah proses internalisasi, (3) menghubungkan ide-ide dalam suatu bidang studi memungkinkan peserta didik mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide secara terus-menerus sehingga memudahkan terjadinya proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah. Kekurangan dari model keterhubungan ini adalah: (1) masih kelihatan terpisahnya antar bidang studi, (2) tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi pelajaran tetap terfokus tanpa merentangkan kosep- konsep serta ide-ide antar bidang studi, (3) dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang studi, maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan Model Jaring Laba-Laba (Webbed models). Model ini merupakan model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik (Fogarty, 1991). Pendekatan ini dimulai dengan menentukan tema tertentu, misalnya “transportasi”. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru dan peserta didik, sub-subtemanya dengan memperhatikan kaitannya dengan bidang- bidang studi. Dari sub-subtema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik. Beberapa kelebihan model Jaring Laba-Laba, yaitu: (1) penyeleksian tema sesuai

dengan minat akan memotivasi anak untuk belajar, (2) model Jaring Laba-Laba lebih mudah dilakukan oleh guru yang belum berpengalaman, (3) memudahkan perancangan, (4) pendekatan tematik dapat memotivasi peserta didik, (5) memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang terkait, Model Jaring Laba-laba mempunyai kelemahan, antara lain: (1) sulitnya menyeleksi tema, (2) karena sulitnya menyeleksi tema, maka ada kecenderungan untuk merumuskan tema yang dangkal, (3) dalam proses pembelajaran, guru lebih memusatkan perhatian pada kegiatan dari pada pengembangan konsep. Model Keterpaduan (Integrated models). Model ini merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep, dan sikap yang saling tumpang tindih/ overlapping di dalam beberapa bidang studi (Fogarty, 1991). Berbeda dengan model Jaring Laba-laba yang menuntut pemilihan tema dan pengembangannya sebagai langkah awal, maka dalam model keterpaduan tema yang berkaitan dan bertumpang tindih merupakan hal terakhir yang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam tahap perencanaan program. Pertama guru menyeleksi konsep-konsep, keterampilan, dan sikap yang diajarkan dalam satu semester dari beberapa bidang studi (IPA, Matematika, IPS, dan Bahasa). Selanjutnya dipilih beberapa konsep, keterampilan, dan sikap yang memiliki keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di antara berbagai bidang studi. Model Keterpaduan ini mempunyai beberapa kelebihan, antara lain: (1) dimungkinkan pemahaman antar bidang studi, (2) memotivasi peserta didik dalam belajar, (3) guru tidak perlu mengulang kembali materi yang tumpang tindih, sehingga tercapailah efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Sedangkan beberapa kelemahan dari model keterpaduan ini, antara lain: (1) sulitnya menerapkannya secara penuh, (2) guru harus menguasai konsep, sikap, dan keterampilan yang diprioritaskan, (3) model ini memerlukan tim antar bidang studi, baik dalam perencanaannya maupun pelaksanaannya, (4)

Sutrisno, Evaluasi Dalam Pembelajaran

pengintegrasian kurikulum dengan konsep- konsep dari masing-masing bidang studi menuntut adanya sumber belajar yang beraneka ragam.

5. KONSEP EVALUASI PEMBELAJARAN TERPADU

Evaluasi pembelajaran terpadu dapat diartikan sebagai evaluasi yang berupaya mencari informasi tentang pencapaian pengetahuan dan pemahaman peserta didik, pengembangan skill, dan pengembangan sosial dan afektif peserta didik dengan memanfaatkan asesmen alternatif dan cara formal. Untuk menemukan asesmen alternatif didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) evaluasi hendaknya berbasis unjuk kerja sehingga selain memanfaatkan penilaian produk, penilaian terhadap proses, perlu mendapat perhatian yang besar, (2) pada setiap langkah evaluasi hendaknya peserta didik dilibatkan, (3) evaluasi hendaknya memberikan perhatian pula pada refleksi diri peserta didik (self reflection), (4) karena penilaian perlu memdapatkan perhatian yang besar portfolio asessment hendaknya dimanfaatkan, (5) dalam pelaksanaan penilaian umpan balik hendaknya dimanfaatkan sebesar- besarnya untuk pengembangan peserta didik yang bersifat invidual dan sosial, (6) evaluasi pembelajaran terpadu hendaknya mengutamakan Penilaian Acuan Patokan(PAP) daripada penilaian acuan norma (PAN), (7) lebih memberikan perhatian yang lebih besar pada nurturant effect ( kemampuan kerja sama, tenggang rasa, saling tergantung dan lain-lain), (8) perlu memandang peserta didik itu adalah suatu keutuhan yang tak terpisahkan (holistik), (9) evaluasi dilihat sebagai proses yang terus menerus dan multi dimensional, (10) evaluasi harus bersfat komprehensif (menggambarkan keseluruhan aktivitas belajar) dan sistematis ( merupakan kestuan informasi bukan penggalan informasi). Ditinjau dari segi pentahapan kegiatan evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan kegiatan pembelajaran terpadu. Sedangkan dari segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada proses maupun produk/hasil pembelajaran.

11

Jurnal Teknologi Pendidikan, Vol.10 No. 1, April 2010 (8 15)

6. SASARAN EVALUASI

Evaluasi pembelajaran terpadu mencakup proses dan produk dengan sasaran peserta didik dan guru serta evaluasi terhadap program. Evaluasi proses terhadap peserta didik sebagai pembelajar meliputi: (1) perkembangan konseptual anak, (2) tingkat kemampuan menghadapi tantangan, (3) interaksi peserta didik dengan anak lainnya, (4) kemampuan peserta didik berkomunikasi, (5) kerasionalan argumentasi, (6) kerjasama dan kekompakan serta produktivitas kegiatan kelompok, (7) partisipasi anak dalam diskusi kelompok, (8) penggunaan bahasa dengan baik dan benar sesuai tingkat kemampuan peserta didik.

Evaluasi proses terhadap guru mencakup: (1) proses pembelajaran terdiri; perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajar, (2) pendekatan dan metode yang digunakan, (3) materi pembelajaran yang mencakup; pemilihan tema, topik, dan unit, (4) kelengkapan pembelajaran yang disediakan guru.

Evaluasi terhadap produk kegiatan terhadap peserta didik dilakukan melalui; (1) laporan, (2) gambar, diagram, grafik, dan lain- lain, (3) rekaman, video dan kaset. Evaluasi terhadap guru dilakukan melalui; (1) daftar cek yang dilakukan oleh rekan / kolega guru lainnya terhadap strategi dan pengelolaan pembelajaran lainnya, (2) masukan dari peserta didik, orang tua dan rekan guru lainnya. Evaluasi program mencakup; (1) catatan anekdot/file card, (2) analisis kesalahan peserta didik, (3) rubrik, (4) konferensi guru- siswa, (5) diskusi peergroup, (6) perkembangan peserta didik, kemampuan menyajikan pokok pikiran, menarik kesimpulan yang rasional, (7) masukan orang tua.

Evaluasi dengan menggunakan portofolio. Hasil-hasil evaluasi proses, produk, dan program dapat didokumentasikan dalam suatu portofolio. Portofolio ini dapat dijadikan salah satu masukan bagi guru untuk memutuskan atau menetapkan nilai atau grade setiap peserta didik.

12

7. TAHAP-TAHAP EVALUASI PEMBELAJARAN TERPADU

Pada tahap pertama perencanaan. Tahap ini kegiatan- kegiatan mencakup; (1) merumuskan tujuan evaluasi apa yang ingin dicapai melalui kegiatan evaluasi ini, baik tujuan ingin dicapai oleh peserta didik maupun guru, (2) menentukan kriteria keberhasilan yang ingin dicapai, baik oleh guru maupun peserta didik, (3) menentukan teknik dan alat ukur atau instrumen yang akan digunakan dalam proses evaluasi. Tahap ke dua, pelaksanaan. Dalam tahap proses pelaksanaan ini harus disadari bahwa; (1) evaluasi berlangsung sejak awal sampai dengan akhir proses pembelajaran, (2) evaluasi harus dilihat sebagai proses yang berkelanjutan, lebih dari sekedar salah satu aspek belajar yang harus dicapai sebagai bagian suatu program, (3) evaluasi dapat diarahkan pada proses maupun produk serta program. Tahap ke tiga, Penyusunan dan Penyajian Laporan. Laporan hasil penilaian disusun dengan jalan memperhitungkan dan mempertimbangkan seluruh informasi yang terkumpul dan pengolahannya. Penyusunan laporan ini dilakukan secara logis, sistematis, dan komprehensif dan diakhiri dengan sejumlah rekomendasi dan saran-saran. Tahap terakhir, Tindal-lanjut. Hasil pengolahan informasi dan saran-saran ditindak-lanjuti secara operasional. Perlu dikemukakan bahwa tidak seluruh kegiatan akhir berupa tindak lanjut dilakukan pada akhir kegiatan karena evaluasi yang diselenggarakan secara terus menerus, umpan balik dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran.

8. CAKUPAN EVALUASI PEMBELAJARAN TERPADU DI SEKOLAH DASAR

Cakupan evaluasi pembelajaran terpadu dapat disusun dalam matrik sebagai berikut:

Sutrisno, Evaluasi Dalam Pembelajaran

Tahapan

Perencanaan

 

Pelaksanaan

sasaran

Proses

Bagaimana peserta didik berpartispasi dalam menentukan tema-tema terkait.

Bagaimana aktivitas dinamika interaksi dan kemampuan berfikir peserta didik.

Hasil

Bagaimana reaksi pesert didik terhadap rencana yang telah disusun.

Perubahan/perkembangan perilaku apa yang terjadi pada peserta didik?

= aspek kognisi/intelektual.

 

= aspek sosial

= aspek etis

aspek pribadi dan sebagainya, sebagai dampak instruksional maupun dampak pengiring.

=

=

aspek lain,

Mencermati cakupan evaluasi pembelajaran terpadu seperti pada matrik di atas, maka evaluasi pembelajaran terpadu bersifat multi dimensional, berlangsung dalam konteks yang alami, kolaboratif, dan berorientasi pada perkembangan intelektual peserta didik serta lingkungan budayanya. Pada pembelajaran terpadu penekanan evaluasi terletak pada proses maupun hasil. Karena aspek perilaku yang menjadi sasaran evaluasi banyak variasinya, maka diperlukan teknik dan alat evaluasi yang bervariasi pula. Kegiatan evaluasi dimulai dengan pengamatan langsung yang bersifat informal sampai kepada tes formal yang sahih/valid dan handal/reliabel.

9. METODE EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN TERPADU

Terdapat beberapa metode evaluasi yang dapat digunakan dalam mengevaluasi proses dan hasil pada pembelajaran terpadu (Depdikbud, 1996), berikut ini. Observasi dan Dokumentasi. Dengan bekerja sama dengan peserta didik, guru dapat melakukan observasi pada saat itu. Dari sini kelihatan bahwa evaluasi sebagai bagian integral dari interaksi sosial. Dalam kegiatan ini guru berusaha memahami tugas maupun situasi dari sudut pandang peserta didik, dan sementara itu evaluasi diri semakin kuat pada diri anak. Observasi dan dokumentasi berkala dapat juga dilakukan dengan cara guru merekam catatan kejadian di kelas, misalnya untuk satu unit tema atau beberapa unit tema selama satu periode satu tahun, satu semester. Catatan ini berisi rekaman sekilas tentang sekilas tentang kesan yang tampak kelihatan bermakna selama proses pembelajaran berlangsung di kelas. Catatan ini dapat juga

dilengkapi dengan hasil rekaman guru pada lembaran pengamatan, misalnya untuk kelompok kecil. Dialog Peserta Didik dengan Guru. Cara ini dapat dibatasi untuk masalah khusus, seperti halnya dalam mata pelajaran matematika atau IPS. Dialog peserta didik dan guru dapat pula dilakukan dalam kelompok kecil dan direkam secara penuh. Dalam hal ini peserta didik dapat diberi tugas untuk merangkum hasil diskusi tersebut. Evaluasi Diri Peserta Didik-Guru. Dalam melakukan evaluasi pembelajaran terpadu, evaluasi diri juga dapat dipakai. Peserta didik dapat menyusun sendiri pertanyaan atau butir soal dan kemudian menjawabnya sendiri. Selanjutnya guru dapat juga melakukan evaluasi diri untuk perbaikan dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. Tes dan Ujian. Pada pembelajaran terpadu dilakukan juga tes maupun ujian baik untuk satu tema pembelajaran maupun untuk beberapa tema. Perlu juga diketahui bahwa tes formal tidak / belum memberikan informasi yang cukup tentang bagaimana seorang peserta didik sebagai individu berpikir dan memproses konsep-konsep, bagaimana mereka dalam menggunakan kemampuan intelektualnya. Oleh karena itu perlu dilakukan juga cara lain yaitu dengan analisis masalah dan pemaparan pemecahannya. Dalam pemaparan ini dapat ditekankan pentingnya penggunaan kosa kata yang tepat, sistematika penyajian dan pengetahuan lain untuk memecahkan masalah tersebut. Pengamatan Orang tua. Keterlibatan orangtua dianggap amat positif untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Karena itu masukan dari orangtua akan dapat membantu menghapus penafsiran yang keliru dari pihak guru dan peserta didik.

13

Jurnal Teknologi Pendidikan, Vol.10 No. 1, April 2010 (8 15)

Penyelenggaraan pengamatan oleh orangtuapun memungkinkan guru dan orangtua berorientasi dalam kaitan kemajuan dan kekurangan anak/ pesrta didik yang bersangkutan. Sekaligus memungkinkan interaksi antara guru dengan peserta didik. Dalam kelas pembelajaran terpadu peserta didik asyik sibuk, aktif, dan terlibat. Guru hendaknya sadar akan aksi dan reaksi peserta didik, dan selalu membuat catatan; kemudian akan dianalisis. Hasil analisis ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan/ masukan dalam menilai proses pembelajaran terpadu.

10. ALAT EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN TERPADU

Pada dasarnya alat evaluasi terdiri dari dua macam yaitu tes dan non-tes. Dalam pembelajaran terpadu, untuk melakukan evaluasi proses digunakan alat evaluasi non- tes. Kegiatan penting dalam proses pembelajaran terpadu adalah observasi untuk pengungkapan perilaku/ unjuk kerja non- verbal.

Observasi yang cermat terhadap kegiatan peserta didik dalam menyelesaikan tugas dan bagaimana mereka saling berinteraksi memberikan data pada guru dalam rangka membantu perencanaan kurikulum dan mengevaluasi perkembangan peserta didik (Charbonneau & Reider, 1995). dalam hal ini observasi merupakan komponen dasar dalam evaluasi pembelajaran terpadu. Berikut ini disajikan contoh alat evaluasi berupa daftar cek dan skala penilaian/penilaian berskala pelaksanaan pembelajaran terpadu.

Alat Evaluasi Daftar Cek Keterampilan Keterampilan Intelektual dan Sosial

Jenis Kemampuan

Ya

Belum Berkembang

Intelektual:

   

- Keterbukaan

- Kreativitas

- Rasa ingin tahu

Sosial:

- Kemampuan kerja sama

- Kemandirian termasuk percaya diiri dan kontrol diri

- Kepedulian terhadap orang lain

- Kepedulian lingkungan

- Kepercayaan diri

(Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu, 1996)

Alat Evaluasi Skala Penilaian /Penilaian Berskala Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu

Pelaksanaan Kegiatan Nama (kelompok/individu)

: --------------------------------------

   

Skor

   
 

Aspek Yang Dinilai

1

2

3

4

Keterangan

A.

Ketaatan kepada perencanaan

         

a.

pemberian informasi

b.

penggunaan sumber

c.

penggunaan bahan dan alat

d.

penggunaan waktu

B.

Pengelolaan Kelas:

a.

antusiasme

b.

memotivasi kerja kelompok

c.

memotivasi indivdu

C.

Keberanian

a.

stimultanius

b.

bertindak

c.

berkomunikasi

D.

Proses Pembelajaran

14

Sutrisno, Evaluasi Dalam Pembelajaran

a. kejelasan b. perhatian siswa c. partisipasi siswa d. kreativitas siswa e. interaksi f. kerja
a. kejelasan
b. perhatian siswa
c. partisipasi siswa
d. kreativitas siswa
e. interaksi
f. kerja sama antar siswa
E. Produk/ Hasil*)

*) Dirinci aspek-aspek hasil belajar yang akan dinilai. (Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu, 1996)

11. KESIMPULAN

Berdasarkan pada uraian di atas, ada beberapa kesimpulan yang dapat dipetik, yaitu; a. Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberpa bidang studi dan bertujuan untuk memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik, dan berorientasi pada proses pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. b. Pelaksanaan pembelajaran terpadu diawali dari pemilihan dan pengembangan topik atau tema yang dilakukan guru bersama peserta didik. Konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan wahana pembelajaran dan penjelajahan topik atau tema, c. Evaluasi pada pembelajaran terpadu berorientasi pada program, proses, dan produk, dan penyelenggaraannya dilakukan dengan menggunakan alat evaluasi tes dan non-tes., d. Dalam mengevaluasi proses pembelajaran terpadu, observasi

merupakan komponen dasar, dan observasi terhadap kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan dengan cermat, seksama, agar data dan informasi proses pelaksanaannya dapat terekam dangan sempurna sehingga evaluasi dapat dilakukan secara objektif .

DAFTAR PUSTAKA

Charboneau, Manon P. & Reider, Barbara E. 1995. The Integrated Elementary Classroom. London, Tokyo: Allyn and Bacon Depdikbud. 1996. Materi Pokok pembelajaran Terpadu PGSD. Jakarta:

BP3GSD.

Fogarty. R. 1991. How To Integrate The Curricula. Palatine, I llonis: IRI/ Skylight Publishing, Inc. IGK. Wardani, 2000. Materi Pokok Pembelajaran Terpadu PGSD. Jakarta, Penerbit: Universitas Terbuka.

15

16