Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Saat ini banyak sekali produk-produk yang dihasilkan oleh manusia dari berbagai macam makhluk hidup lain, baik dengan cara konvensional maupun dengan cara modern. Bidang yang mempelajari tentang hal-hal tersebut disebut bioteknologi. Bidang ini

sangat banyak dipelajari dan dimanfaatkan oleh manusia, baik mereka sadar bahwa mereka sedang mempelajarinya maupun tidak. Sebenarnya banyak manfaat yang dapat diambil dari bioteknologi, tetapi ada satu kendala besar yang menyebabkan manfaat yang diambil sampai saat ini masih belum terlalu banyak. Kendala tersebut adalah banyak masyarakat yang tidak tahu atau tidak sadar tentang bioteknologi. Banyak orang masih beranggapan ilmu semacam itu hanya untuk golongan elit atau mereka yang ahli dalam bidang ilmu mereka, yaitu biologi. Padahal sebenarnya banyak orang yang mempelajari dan memanfaatkan bioteknologi secara tidak sadar, tentunya dengan cara mereka masing-masing. Contoh nyata yang dapat kita lihat adalah dalam pembuatan tape. Dalam

pembuatan tape kita menggunakan mikroba tertentu untuk mengubah karbohidrat yang terdapat dalam singkong menjadi alkanol dan karbon dioksida. Hal ini sudah

menunjukkan bahwa dalam hal yang sangat sederhana sekalipun kita sudah memanfaatkan bioteknologi, sayangnya banyak dari kita yang masih belum menyadari hal tersebut. Melihat kenyataan dan contoh di atas, sudah jelas harus ada orang yang sadar dan peduli bahwa masyarakat masih kekurangan informasi tentang bioteknologi dan masih banyak anggapan yang salah tentang bioteknologi. Kami membuat makalah ini agar anggapan yang salah tentang bioteknologi dapat diantisipasi dan masyarakat bisa mendapatkan lebih banyak informasi tentang bioteknologi. Kami sadar hanya orang-orang tertentu yang mau membaca dan mampu memahami makalah ini. Akan tetapi di dalam makalah ini akan banyak contoh penerapan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan banyaknya contoh tersebut maka

mereka yang membaca makalah ini diharapkan dapat membantu masyarakat baik yang belum memanfaatkan bioteknologi maupun yang secara tidak sadar telah memanfaatkan bioteknologi. Dengan demikian masyarakat dapat memanfaatkan bioteknologi secara lebih benar dan terarah sehingga kehidupan masyarakat menjadi lebih sejahtera.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah bioteknologi itu? 2. Apa sajakah jenis-jenis bioteknologi yang telah ditemukan? 3. Apa perbedaan bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern? 4. Apa sajakah kegunaan enzim dalam bioteknologi? 5. Bagaimanakah sejarah perkembangan bioteknologi? 6. Bagaimanakah penerapan kemajuan bioteknologi diberbagai bidang? 7. Bagaimanakah dampak bioteknologi terhadap lingkungan? C. Tujuan Penulisan Makalah 1. Untuk mengetahui tentang bioteknologi. 2. Untuk mengetahui jenis-jenis bioteknologi yang telah ditemukan. 3. Untuk mengetahui perbedaan bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern 4. Untuk mengetahui kegunaan enzim dalam bioteknologi. 5. Untuk mengetahui sejarah perkembangan bioteknologi. 6. Untuk mengetahui penerapan kemajuan bioteknologi di berbagai bidang. 7. Untuk mengetahui dampak bioteknologi terhadap lingkungan.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Bioteknologi Berasal dari tiga kata dalam istilah latin, yaitu bio (hidup), teknos (teknologi), dan logos (ilmu). Dari semua istilah tersebut, dapat disimpulkan bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari cara memanfaatkan prinsip-prinsip ilmiah yang mengunakan makhluk hidup untuk menghasilkan produk dan jasa demi kesejahteraan manusia. Bioteknologi didukung oleh ilmu-ilmu tertentu yang dapat mendukung kelancaran bioteknologi tu sendiri antara lain mikrobiologi, biokimia, genetika, biologi sel, teknik kimia, dan enzimologi. Dalam bioteknologi digunakan bakteri, jamur, serta bagian-

bagian tumbuhan dan hewan. Pada dasarnya bioteknologi tidak terlalu sulit, juga tidak terlalu mudah. Ciri utama dari bioteknologi adalah adanya pemanfaatan alam seperti mikroorganisme, tumbuhan, dan hewan. Bioteknologi juga tidak akan dapat berjalan tanpa memanfaatkan teknologi dan industri yang ada pada saat itu. Hasil dari bioteknologi adalah hasil proses ekstrasi dan pemurnian. B. Jenis-jenis Bioteknologi 1. Bioteknologi Berdasarkan Cabang Ilmu 1.1. Bioteknologi Merah Dalam dunia medis biasanya kita menghadapi berbagai macam hal yang berhubungan dengan tubuh manusia, terutama organ tubuh manusia. Disebut bioteknologi merah karena organ tubuh yang kita hadapi selalu mengandung darah. Jadi dapat disimpulkan cabang ilmu bioteknologi ini mempelajari aplikasi bioteknologi di bidang medis. Bioteknologi merah mencakup segala hal tentang pengobatan manusia mulai dari tahap pencegahan, diagnosis, sampai pengobatan. Dalam bioteknologi merah banyak sekali sumber-sumber dari alam yang dimanfaatkan demi kepentingan medis. Contoh yang mudah adalah pemanfaatan jamur Penicilium notatum yang berfungsi menekan pertumbuhan bakteri tertentu. Hasil dari proses tersebut adalah antibiotik atau obat yang biasa kita konsumsi ketika sakit. Contoh lain yang nyata adalah dalam pembuatan vaksin, dengan cara melemahkan bakteri atau virus dengan pemanasan atau pemberian bahan kimia.

1.2. Bioteknologi Putih/Abu-abu Disebut bioteknologi putih/abu-abu karena pengaplikasian cabang ilmu bioteknologi tersebut adalah pada industri. Dalam cabang ilmu ini dipelajari segala macam cara untuk memanfaatkan dan memanipulasi organisme serta enzim. Manfaatnya sangat luas, mulai dari produksi makanan, vitamin,

meningkatkan efisiensi kerja dalam industri, sampai pengolahan limbah dengan lebih baik. Contoh yang sangat banyak kita rasakan manfaatnya adalah dalam pembuatan vitamin. Vitamin-vitamin tersebut tidak diproduksi hanya melalui serangkaian reaksi kimia, namun juga membutuhkan bantuan bakteri dalam prosesnya. Misalnya vitamin B1 diproduksi oleh bakteri Assbya gossipii.

Contoh lain yang sangat dekat dengan kita adalah dalam pembuatan sirup dan minuman lain yang sejenis. Rasa dalam sirup dibuat dengan bantuan bakteri Aspergillus niger. Bakteri ini akan memproduksi asam sitrat. Sehingga selain untuk memproduksi rasa dalam sirup asam sitrat dimanfaatkan juga sebagai pengemulsi susu dan memproduksi antioksidan. 1.3. Bioteknologi Hijau Seperti yang bisa kita lihat dari namanya, jelas bahwa bioteknologi hijau mempelajari cara-cara memanfaatkan alam di bidang pertanian dan peternakan. Bioteknologi hijau sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hal ini karena sumber utama makanan dan minuman masyarakat berasal dari pertanian dan peternakan, sehingga otomatis sudah banyak pengaplikasian cabang ilmu ini di lapangan. Tanaman tahan penyakit adalah salah satu manfaat bioteknologi hijau di bidang pertanian. Suatu tanaman menjadi tahan penyakit karena dalam gen

tanaman tersebut disisipi bagian gen lain yang dapat membantu mengenali dan melawan bekteri merugikan tertentu. Dalam bidang peternakan ada sapi yang dapat memproduksi daging dan susu lebih banyak. Ini disebabkan sapi tersebut disilangkan atau gennya direkombinasi sehingga tingkat produksinya menjadi lebih tinggi. 1.4. Bioteknologi Biru Cabang ilmu bioteknologi yang tidak kalah penting adalah bioteknologi biru. Cabang ilmu ini dimanfaatkan untuk mengendalikan proses-proses yang terjadi di lingkungan akuatik. Salah satu contoh yang paling tua adalah

akuakultura, yaitu menumbuhkan ikan dan kerang-kerangan dalam lingkungan

akuatik tertentu dan dalam kondisi tertentu sehingga pertumbuhannya terkontrol. Hasilnya dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Contoh lain dari bioteknologi biru adalah pemanfaatan rekombinasi gen untuk membuat ikan salmon tumbuh lebih pesat dalam waktu yang lebih singkat. Hal ini disebabkan ikan salmon hasil rekombinasi gen memproduksi hormon pertumbuhan secara berlebihan. Diperkirakan 30% makanan laut di seluruh

dunia dihasilkan oleh akuakultura dan rekombinasi gen. 2. Bioteknologi Berdasarkan Cara Pemanfaatan 2.1. Bioteknologi Konvensional Bioteknologi konvensional (tradisional) mempelajari cara memanfaatkan alam secara alami. Dalam bioteknologi konvensional, mikroba, proses biokimia, serta mutasi terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia. Bioteknologi konvensional sudah ada sebelum ditemukannya gen dan enzim, bahkan sejak abad SM (Sebelum Masehi). Ini disebabkan semua proses yang terjadi dalam bioteknologi konvensional adalah alami sehingga aplikasinya tidak sesulit bioteknologi modern. Misalnya dalam pengolahan produk susu, susu yang diambil dari hewan seperti sapi atau kambing biasanya hanya difermentasikan sehingga

menghasilkan asam laktat. Hasil fermentasi tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membuat produk olahan susu lainnya, yaitu keju, yoghurt, dan mentega. Cara ini tentu saja melibatkan bakteri dan enzim, tapi masyarakat pada saat itu tidak mengetahuinya. secanggih sekarang. Bioteknologi konvensional sangat menguntungkan jika dilihat dari segi keramahan lingkungan dan biaya. Bahkan sampai saat ini masih ada sebagian orang yang menggunakan bioteknologi konvensional sebagai usaha kecil-kecilan, misalnya dalam pembuatan tempe. Akan tetapi dalam praktiknya bioteknologi konvensional membutuhkan waktu yang tidak sedikit, padahal saat ini tingkat dinamisme masyarakat sangat tinggi dan membutuhkan sesuatu yang segera jadi. Sehingga muncullah bioteknologi modern. 2.2. Bioteknologi Modern Seperti yang telah sedikit disinggung di atas bahwa saat ini tingkat dinamisme masyarakat sangat tinggi, sehingga terbentuklah zaman bioteknologi modern. Zaman bioteknologi modern diawali dengan ditemukannya gen dan Hal ini disebabkan teknologi pada saat itu belum

enzim. Hal ini memungkinkan para saintis untuk memproduksi barang-barang kebutuhan manusia dengan lebih cepat, lebih pasti, dan sesuai dengan permintaan konsumen. Barang-barang yang kita gunakan maupun makanan yang kita konsumsi sebenarnya sebagian besar adalah hasil dari bioteknologi modern. Sirup, obat, vaksin, bahkan buah dan daging yang kita anggap alami sebagian besar adalah hasil dari proses bioteknologi modern. Sirup, obat, dan vaksin jelas tidak dapat diproduksi tanpa bantuan enzim atau gen tertentu. Makanan yang kita konsumsi sehari-hari, misalnya beras sebagian besarnya adalah hasil dari transgenik atau rekombinasi gen. Perbedaan utama dari bioteknologi konvensional adalah dalam

bioteknologi modern sudah diketahui jenis enzim, bakteri, bahkan gen yang berperan dalam suatu proses. Bahkan faktor-faktor lain seperti temperatur,

tekanan udara, pH, dan sebagainya dapat disesuaikan. Sehingga hasil dari proses tersebut akan lebih pasti dan lebih sesuai dengan keinginan kita. Memang dalam segi waktu bioteknologi modern hanya memerlukan jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan bioteknologi konvensional. Hasilnya juga jauh lebih memuaskan dan jauh lebih bervariasi. Akan tetapi dalam

perkembangannya bioteknologi modern mendapatkan masalah baru untuk dipecahkan, yaitu masalah biaya dan lingkungan. Memang dalam segi biaya bioteknologi modern membutuhkan jumlah yang tidak sedikit, baik dalam penelitian maupun ketika memproduksi suatu barang. Akan tetapi masalah yang paling besar adalah masalah lingkungan. Tanaman atau hewan hasil transgenik seringkali memiliki penyakit dan kelainan baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Hal ini akan

berpengaruh terhadap lingkungan sekitarnya dan akan meluas. Untuk menyikapi masalah tersebut harus dilakukan penelitian baru dan akan membutuhkan biaya yang semakin besar. Sehingga saat ini sudah ada sebagian dari bioteknologi modern yang dikolaborasikan dengan bioteknologi konvensional.

C. Perbedaan bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern. Bioteknologi tradisional (konvensional) merupakan bioteknologi yang

memanfaatkan mikroba,proses biokimia,dan proses genetik alami seperti mutasi. Sedangkan

bioteknologi modern merupakan bioteknologi yang didasarkan pada manipulasi atau rekayasa DNA,selain memanfaatkan dasar mikrobiologi dan biokimia. Perbedaaan antara bioteknologi konvensional dan modern : No. Aspek 1. Tempat manipulasi B.Konvensional Dilakukan pada kondisi lingkungan dan media tumbuh B.Modern Tidak hanya dilakukan pada kondisi lingkungan dan media tumbuh,tapi juga pada susunan gen dalam kromosom 2. 3. 4 Teknologi Biaya Rekayasa genetika Relatif sederhana Relatif lebih murah Berifat sederhana dan perubahan bahan genetic yang dihasilkan tidak terarah atau tidak tepat sasaran pembuatan 5. Waktu Relatif lama Relatif lebih cepat dibandingkan bioteknologi konvensional 6. Contoh Pembuatan tempe,tahu,oncom,tapai,kecap,antibi otik,vaksinteknik hidroponik,domba ankon Tomat yang tahan lama dan tidak cepat matang serta tidak mudah busuk,kentang ddengan kadar pati lebih tinggi,pembuatan hormon insulin Relatif modern dan lebih canggih Relatif lebih mahal Bersifat modern dan perubahan genetik yang dihasilkan dapat dilakukan secara terarah

D. Kegunaan Enzim dalam Bioteknologi Enzim secara umum yaitu enzim merupakan senyawa organik bermolekul besar yang berfungsi untuk mempercepat jalannya reaksi metabolisme di dalam tubuh tanpa memperngaruhi keseimbangan reaksi. Enzim banyak berperan pada pemecahan beberapa masalah vital di era modern seperti sekarang, misalnya produksi makanan, kekurangan dan pemeliharaan energi, dan peningkatan lingkungan dan beberapa industri. Ribuan tahun yang lalu proses seperti membuat bir, membuat roti, dan produksi keju melibatkan enzim yang belum diketahui jenisnya. Dalam cara konvensional ini, teknologinya dipercayakan pada dikembangkan. konversi enzim sebelum bangun pengetahuan yang koheren

Di negara barat, industri menggunakan enzim pada produksi yeast dan ragi dimana pembuatan bir dan roti secara tradisional sudah jarang dikembangkan. Beberapa perkembangan awal biokimia dipusatkan pada fermentasi yeast dan konversi energi pada glukosa. Di negara timur, industri yang sama memproduksi sake dan banyak makanan fermentasi, semuanya dibuat dari filamentous fungi sebagai sumber aktivitas enzim. Pada tahun 1896, memperlihatkan permulaan yang sebenarnya dari teknologi mikrobia enzim dengan pemasaran pertama takadiastase, campuran kasar dari enzim hidrolitik yang disiapkan pada pertumbuhan jamur Aspergillus oryzae pada tepung gandum. Perkembangan lebih lanjut dari penggunaan enzim meningkatkan proses secara konvensional ke era baru. Meskipun sebagian besar produksinya masih menghasilkan enzim kasar. Sampai saat ini lebih dari 200 enzim telah diisolasi dari mikroorganisme, tumbuhan dan hewan, tetapi kurang dari 20 macam enzim yang digunakan pada skala komersial atau industri. Contoh penggunaan enzim : Bidang Makanan Enzim Amilase Proteinase Kegunaan Pembuatan detergen dalam makanan dan

Detaglukanase,amiloglukosidase Pembuatan roti Pembuatan bir Industri Amilase tripsin Kesehatan Tripsin,pancreatic tripsin Industri tekstil Industri kulit Farmasi dan pembuatan obat-obatan

E. Sejarah Perkembangan Bioteknologi 1. Periode Bioteknologi Sederhana (Sebelum Abad ke-15 M) Periode bioteknologi sudah ada bahkan sejak abad SM. Dalam periode ini pemanfaatan bioteknologi masih secara tradisional, seperti dalam pembuatan bir dan roti. Hal ini disebabkan teknologi yang ada pada saat itu masih sangat terbatas

sehingga masih sangat sulit untuk melakukan penelitian, sehingga pada saat itu proses yang ada masih sangat alami dan kondisi alam masih sangat baik. 2. Periode Bioteknologi Ilmiah (Abad ke-15 sampai ke-20 M) Pada periode ini sudah ditemukan langkah-langkah kerja ilmiah dalam suatu proses bioteknologi, dan juga sudah ditemukan alat-alat yang lebih baik untuk

menunjang penelitian pada saat itu.

Memang pada saat itu alam sudah sedikit

dimanipulasi oleh manusia, tetapi tidak terlalu banyak sehingga kondisi alam masih tergolong stabil. Contoh bioteknologi yang ada pada saat itu adalah pemanfaatan bakteri tertentu untuk mengolah limbah. Pada saat itu penisilin juga sudah ditemukan ole Alexander Fleming. Dalam pertambangan pun bakteri tertentu juga dimanfaatkan untuk mempercepat prosesnya. Periode ini ditandai dengan adanya beberapa peristiwa berikut ini : Tahun 1670 : Usaha penambangan biji tembaga dengan bantuan mikrob di Rio Tinto, Spanyol. Tahun 1686 : Penemuan mikrosop oleh Antony van Leeuwenhoek yang juga menjadi manusia pertama yang dapat melihat mikrob. Tahun 1870 : Louis pasteur menemukan adanya mikrob dalam makanan dan minuman. Tahun 1890 : Alkohol dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar motor. Tahun 1897 : Penemuan enzim dari ekstrak ragi yang dapat mengubah gula menjadi alkohol oleh Eduard Buchner. Tahun 1912 : Pengolahan limbah dengan menggunakan mikrob. Tahun 1915 : Produksi aseton, butanol, dan gliserol dengan menggunakan bakteri. Tahun 1928 : Penemuan zat antibiotik penisilin oleh Alexander Fleming Tahun 1994 : Produksi besar-besaran penisilin Tahun.1953 : Penemuan struktur asam deoksiribo nukleat ( ADN ) oleh Crick dan Watson .

3. Periode Bioteknologi Modern (Abad ke-20 M sampai Sekarang) Periode ini diawali dengan penemuan teknik rekayasa genetik pada tahun 1970-an. Era rekayasa genetik dimulai dengan penemuan enzim endonuklease restiksi oleh Dussoix dan Boyer. Dengan adanya enzim tersebut memungkinkan kita dapat memotong ADN pada posisi tertentu, mengisolasi gen dari kromosom suatu organisme, dan menyisipkan potongan ADN lain ( dikenal dengan teknik ADN rekombinan). Setelah penemuan enzim endonuklease restriksi, dilanjutkan dengan program bahan bakar alkohol dari brazil, teknologi hibridoma yang menghasilkan antibodi monoklonal (1976), diberikannya izin untuk memasarkan produk jamur yang

dapat dikonsumsi manusia kepada Rank Hovis Mc. Dougall (1980). Peran teknologi rekayasa genetik pada era ini semakin terasa dengan diizinkannya penggunaan insulin hasil percobaan rekayasa genetik untuk pengobatan penyakit diabetes di Amerika Serikat pada tahun 1982. insulin buatan tersebut diproduksi oleh perusahaan Eli Lilly dan Company. Hingga saat ini, penelitian dan penemuan yang berhubungan dengan rekayasa genetik terus dilakukan. Misalnya dihasilkan organisme transgenik penelitian genom makhluk hidup. Perkembangan bioteknologi modern secara tidak langsung menandakan kemajuan bioteknologi yang cukup pesat. Adapun contoh dari kemajuan bioteknologi ini antara lain : Golden Rice Golden rice diciptakan tahun 2001 yang diharapkan dapat membantu jutaan orang yang mengalami kebutaan dan kematian dikarenakan kekurangan vitamin A dan besi. Golden rice diciptakan dengan menggunakan rekayasa genetika karena tidak ada plasma nutfah padi yang mampu untuk mensintesis karotenoid Pendekatan transgenik dapat dilakukan karena adanya perkembangan teknologi transformasi dengan Agrobacterium dan ketersediaan informasi molekuler biosintesis karotenoid yang lengkap pada bakteri dan tanaman. Dengan adanya informasi tersebut terdapat berbagai pilihan cDNA. Produksi prototype Golden Rice menggunakan galur padi japonica (Taipe 309), teknik transformasi menggunakan agrobacterium dan beberapa gen penghasil beta karoten tanaman daffodil hingga bakteri.

Antibodi monoklonal Prinsipnya yaitu mengembang biakkan suatu klon sel-sel limfosit-B yang mensekresikan satu jenis antibodi yang digabungkan sel-sel tumor limfosit-B sehingga menghasilkan satu jenis antibodi yang kekal (immortal). Berdasarkan campuran heterogen sel-sel hibrid tersebut, dapat dihasilkan hibrid yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan antibodi tertentu dan kemampuan memperbanyak kultur sel tertentu dengan tak terhingga. Hibridoma tersebut kemudian diperbanyak sebagai klon individu yang stabil dan permanen untuk menghasilkan antibody monoclonal.

Kemajuan dan penerapan bioteknologi tanaman pada tanaman hortikultura Teknik kultur jaringan telah dimanfaatkan secara luas pada tahaman hortikultura, seperti perbanyakan klonal yang dikombinasikan dengan teknik bebas virus pada kentang, pisang, anggur, apel, pear dan berbagai jenis tanaman hias, serta penyelamatan embrio untuk mendapatkan tanaman hibrida dari hasil persilangan interspecies. Teknologi rekayasa genetika juga telah diaplikasikan pada tanaman hortiklutura. Sebagai contoh yang cukup terkenal adalah Tomat FlavrSavr. Tomat merupakan salah satu produk hortikultura utama. Seperti produk hortikultura pada umumnya, tomat memiliki shelf-life yang pendek. Shelf-life yang pendek ini disebabkan dengan aktifnya beberapa gen seperti pectinase saat tomat mengalami kematangan.Untuk mengatasi hal ini para peneliti di Amerika mencoba merekayasa kerja gen polygalacturonase (PG) yang berasosiasi dengan shelf-life tomat yaitu dengan menginsert antisense dari gen PG. Dengan demikian shelf-life tomat menjadi lebih lama. Tomat ini dinamakan dengan FlavrSavr. Pada industri tanaman hias, teknik kultur jaringan telah digunakan secara meluas pada berbagai tanaman hias. Teknik kultur jaringan yang diaplikasikan mencakup kultur meristem, organogenesis dan somatic embryogenesis, konservasi, eliminasi patogen. Sementara itu untuk meningkatkan keragaman dapat memanfaatkan adanya variasi somaklonal. Teknik lain untuk keperluan ini adalah mutasi. Pada industri tanaman hias dalam pot sering digunakan Zat Pengatur Tumbuh untuk mengatur pola pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Contohnya adalah penggunaan retardan untuk membuat

pertumbuhan menjadi pendek dan meroset. Pemanfaatan rekayasa genetika pada tanaman hias berpotensi untuk menambahkan sifat-sifat baru yang unik. Contoh tanaman yang telah direkayasa antara lain krisan dan mawar dengan tingkat ketahanan dan vase life yang lebih tinggi. Kemajuan dan penerapan bioteknologi tanaman pada tanaman perkebunan Bioteknologi juga diterapkan pada beberapa tanaman perkebunan seperti tebu, tembakau, kelapa sawit dan lain-lain. Di Amerika, hingga saat ini tanaman transgenik yang paling banyak dilepas adalah kapas. Kapas transgenik yang terkenal adalah kapas Bt (Bacillus thuringiensis). Dengan introduksi gen Bt ke tanaman kapas, tanaman kapas menjadi tahan terhadap hama yang disebabkan tanaman dapat memproduksi protein Bt-toxin. Bt pertama ditemukan tahun 1911 dan terdaftar sebagai biopestisida di Amerika Serikat tahun 1961.

Salah satu dari sekian banyak kerugian merokok adalah gangguan kesehatan karena kadar nikotin yang tinggi. Pendekatan bioteknologi dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini yaitu dengan merakit tanaman tembakau yang bebas kandungan nikotin. Dengan cara ini perokok dapat terkurangi resiko gangguan kesehatannya. Pada tahun 2001 jenis tembakau ini diklaim dapat mengurangi resiko serangan kanker akibat merokok. Selain bebas nikotin, sentuhan bioteknologi lain juga dilakukan untuk tanaman tembakau misalnya dengan meningkatkan aroma menggunakan gen aroma dari tanaman lain. Salah satu yang telah berhasil adalah menggunakan monoterpene synthase dari lemon. Klona dengan transfer inti Teknik klona dengan transfer inti adalah klon-klon yang dihasilkan dari satu individu. Prinsip klona dengan transfer inti adalah dengan memasukkan donor DNA dari hewan yang karakternya diinginkan ke dalam sel telur hewan yang intinya(DNA)sudah dihilangkan. Setelah terbentuk embrio,kemudian ditanamkan ke rahim induk hewan yang akan membesarkannya. Contoh klona dengan transfer inti adalah domba Dolly,yang dilakukan oleh ilmuan Skotlandia yang dipimpin oleh Ian Wilmot. Wilmot dan timnya merusak nucleus satu sel telur ,kemudian memasukan nukleus donor dari kelenjar susu domba dewasa,sehingga sel ini memiliki materi genetik yang sama persis dengan induk yang mendonorkan nukleusnya. Kemudian sel telur itu distimulasi agar membelah menjadi kumpulan sel-sel(blastomer) yang ditanam ke dalam rahim domba betina dewasa sebagai induk pengganti. Kemudian lahirlah domba Dolly.

F. Dampak Bioteknologi terhadap Lingkungan Meskipun bioteknologi sangat menguntungkan dan dapat membuat hidup manusia menjadi lebih mudah, tetapi ada efek samping dari bioteknologi tersebut, terutama terhadap lingkungan. Untuk bioteknologi konvensional tidak terlalu banyak masalah karena bahan yang digunakan masih sangat aman. Sedangkan untuk beiteknologi modern masalah semakin banyak bermunculan dikarenakan bahan dan prosesnya sangat berdampak terhadap lingkungan. Contoh nyata yang banyak di sekitar kita adalah masalah limbah, entah itu limbah rumah tangga, industri, padat, cair, maupun gas. Limbah-limbah tersebut sangat

mengganggu dan sangat merugikan lingkungan sekitarnya. Cara yang paling baik untuk mengatasinya adalah dengan mendaur ulang limbah tersebut dengan cara yang seaman dan sealami mungkin.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari cara-cara memanfaatkan alam demi kesejahteraan manusia. Berdasarkan bidang ilmunya biteknologi ada 4 macam yaitu bioteknologi merah, putih/abu-abu, hijau, dan biru. Berdasarkan cara pemanfaatan alam bioteknologi dibagi menjadi bioteknologi konvensional dan modern. Bioteknologi sangat berguna bagi manusia, tetapi memiliki efek samping terhadap lingkungan sehingga perlu dilakukan pembenahan untuk menjaga alam tetap stabil.