Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN (AHYT 253)

AKTIVITAS ENZIM PTYALIN

Oleh: ROBBY PRIMADANI AIC204002 KELOMPOK VII

Dosen Pembimbing: Drs. Kaspul, M.Si PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN 2006

PRAKTIKUM III
Topik Tujuan Hari/ tanggal Tempat : Aktivitas enzim Ptyalin : Untuk mengetahui aktivitas enzim ptyalin : Kamis, 5 Oktober 2006 : Laboratorium Biologi FKIP UNLAM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN: a. Alat: - Beacker glass - Termometer - Lampu spiritus - Tabung reaksi - Hot plate - Pipet tetes - Batang pengaduk - Penjepit tabung reaksi - Rak tabung reaksi b. Bahan: - Larutan fehling A - Larutan fehling B - Larutan Iodium - Tepung kanji - Aquadest - Saliva II. CARA KERJA 1. Memanaskan air dalam becker glass hingga mencapai 37C (stabil). 2. Membuat larutan kanji yang dimasak pada hot plate dalam becker glass. 3. Menampung saliva dalam becker glass yang lain kemudian encerkan dengan aquadest.

4. menyediakan 2 tabung reaksi dan memberi label A dan B, dan yang lainnya B. Kemudian masukkan larutan kanji masak 1/3 (sepertiga) bagian. 5. Menambahkan saliva pada tabung A dengan perbandingan 2 : 1 lalu mengamati perubahan warnanya, menambahkan aquadest pada tabung B dengan perbandingan 2 : 1 dan mengamati perubahan warnanya. 6. Memasukkan kedua tabung tersebut ke dalam air panas 37C. 7. Mengambil masing-masing larutan sebanyak 3 ml (setelah 1 menit) dan masukkan ke dalam tabung reaksi yang lain, kemudian tes dengan meneteskan 3 tetes larutan fehling A dan fehling B lalu mengamati perubahan warna yang terjadi dari perlakuan tersebut panaskan tabung reaksi di atas dengan lampu spiritus dan mengamati perubahan yang terjadi. 8. Dengan interval waktu 10 menit, mengambil 3 ml larutan dari tabung A dan masukkan ke dalam tabung yang lain lalu menambahkan 3 tetes lartan fehling A dan B, kemudian panaskan dengan menggunakan lampu spiritus (lakukan seperti kegiatan no 7). 9. Mengulangi percobaan di atas sebanyak 3 kali ulangan khusus terhadap larutan dalam tabung A. 10. mengambil 3 ml larutan dari tabung A dan B, kemudian masukkan ke dalam tabung reaksi isi yang lain dan tambahkan 3 tetes larutan iodium pada masing-masing tabung kemudian amati perubahan yang terjadi.

III. TEORI DASAR


Semua makhluk hidup memerlukan makanan. Makanan itu diperlukan untuk: Membangun tubuh Sumber energi Regulasi dalam tubuh Hewan mempunyai berbagai cara makan, makanan dicerna secara intra atau ekstrasel. Metazoa yang heterotrof mencerna makanan dengan menggunakan sistem pencernaan makanan.

Bahan makanan yang dikonsumsi pada umumnya berupa senyawa organik misalnya; karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Agar makanan dapat dipergunakan oleh tubuh maka harus dicerna terlebih dahulu baik secara mekanik maupun secara enzimatik sehingga menjadi molekul-molekul sederhana yang siap digunakan oleh tubuh. Dalam pencernaan secara enzimatik diperlukan enzim-enzim tertentu yang dihasilkan oleh berbagai kelenjar pada sistem pencernaan makanan. Kelenjar ludah misalnya pada mamalia menghasilkan enzim ptyalin dan mucin. Enzim ptyalin, mucin dan air liur (saliva) dihasilkan oleh kelenjarkelenjar sebagai berikut: Kelenjar lingualis (glandula lingualis) yang terletak di bawah lidah. Kelenjar parotis (glandula parotis) yang terletak di bawah telinga. Kelenjar submaxilary (glandula maxillary) yang terletak di bawah sisi ke dua tulang rahang. Saliva adalah cairan yang bersifat alkali, mengandung musin, enzim pengencer zat tepung yaitu ptyalin dan sedikit zat padat. Fungsi saliva bekerja secara fisis dan secara kimiawi. Kerja fisisnya adalah membasahi mulut, membersihkan makanan agar mudah ditelan, dengan hal tersebut saliva melarutkan beberapa unsur sehingga memudahkan reaksi kimianya. Dimana kerja kimia ludah disebabkan oleh enzim ptyalin (amilase) yang di dalam lingkungan alkali bekerja terhadap zat gula dan zat tepung yang telah masak. Enzim ptyalin hanya bisa bekerja pada zat tepung bila pembungkus selulosa pada zat tepung telah pecah, misalnya sesudah dimasak. Kemudian tepung yang telah dimasak diubah menjadi sejenis gula yang mudah larut yaitu maltosa. Kerja ini dimulai dari mulut kemudian saliva ditelan bersama makanan, ptyalin bekerja di dalam lambung selama kirakira 20 menit atau sampai makanan menjadi asam karena adanya cairan lambung. Amilase ludah merupakan penguraian rantai glukosa panjang, tepung kanji dan glikogen dalam potongan-potongan yang semakin kecil yang akhirnya terurai maltosa, maltotriosa, maltotetrose dan oligosakarida

disekitar titik percabangan dengan 5 10 kesatuan glukosa yang disebut dengan deketrin perbatasan.

IV. HASIL PENGAMATAN


Tabel pengamatan No PERLAKUAN A A1 A2 A3 A4 B B1 B2 PERUBAHAN WARNA Sebelum Sesudah dipanaskan dipanaskan Larutan kanji + Putih, ada endapan Lebih bening, endapan saliva (2 : 1) makin mengeras A + fehling A Biru muda Orange dan fehling B A + fehling A Biru, agak terang Jingga lebih terang dan fehling B A + fehling A Biru muda Kuning keruh dan fehling B A + Iodium Kuning kecoklatan Hijau tua Larutan kanji + Putih ada endapan Lebih bening, endapan aquades menebal B + Iodium Biru kehitaman Bening kuning B + fehling A Biru muda Tetap dan fehling B

Gambar hasil pengamatan.

V. ANALISIS DATA
Pada percobaan yang telah dilakukan yaitu untuk mengetahui kerja atau aktivitas enzim ptyalin. Enzim ptyalin ini dihasilkan oleh kelenjar ludah pada Mammalia yang berfungsi pada proses pencernaan yaitu sebagai katalisator atau mengubah molekul-molekul kompleks menjadi molekul sederhana. Pada percobaan pertama yaitu larutan A, larutan kanji + saliva yang dicampur berwarna putih keruh dan terdapat endapan dan setelah dipanaskan warnanya tidak berubah hanya saja lebih bening dan endapannya lebih banyak dan terlihat padat, hal ini menandakan bahwa enzim ptyalin belum bekerja sepenuhnya. Pada larutan tabung B yaitu larutan kanji yang ditambahkan dengan aquadest berubah menjadi putih agak keruh dan terdapat endapan dan setelah dipanaskan warnanya berubah menjadi lebih bening dengan endapan semakin menebal. Pada tabung B ini tidak terdapat enzim ptyalin (saliva) karena larutan kanji hanya ditambahkan air yang mengubah konsentrasi larutan kanji menjadi lebih encer. Pada percobaan kedua yaitu larutan A ditambahkan dengan fehling A dan fehling B (A1) yang kemudian dipanaskan maka warnanya berubah dari warna yang sebelumnya biru muda dan bening menjadi berwarna orange. Hal ini menunjukkan bahwa saliva bersifat alkali, mengandung musin, enzim pengencer zat tepung yaitu ptyalin dan sedikit zat padat. Saliva atau kelenjar ludah oleh enzim ptyalin pada lingkungan alkali ini bekerja pada zat gula dan zat tepung yang telah dimasak. Sedangkan pada tabung B atau larutan kanji yang ditambahkan dengan aquadest berwarna putih dengan adanya endapan dan setelah dipanaskan warnanya hanya menjadi lebih bening dengan endapan yang semakin menebal, hal ini berarti pemanasan tersebut hanya berfungsi untuk melarutkan endapan. Pada percobaan berikutnya pada tabung A2 sebelum dipanaskan berwarna biru dan agak terang, dan setelah dipanaskan warnanya berubah menjadi jingga agak terang. Ini berarti bahwa enzim ptyalin hanya bisa bekerja pada zat tepung bila pembungkus selulosa pada zat tepung telah pecah, sudah dimasak. Tepung yang telah dimasak diubah menjadi gula yaitu maltosa yang mudah larut.

Pada percobaan berikutnya yaitu pada A4 yang sebelumnya berwarna kuning kecoklatan setelah dipanaskan berubah menjadi hijau tua. Pada larutan B1 sebelumnya berwarna biru kehitaman dan setelah dipanaskan berwarna menjadi bening kuning. Dan pada tabung B2 tidak terjadi perubahan dari warna awalnya karena di dalamnya tidak terdapat enzim ptyalin. Pada dasarnya kerja enzim atau aktivitas enzim ptyalin ini dimulai dari mulut kemudian saliva ditelan bersama makanan sedangkan ptyalin bekerja pada lambung selama kira-kira 20 menit atau sampai pada asam, makanan menjadi asam karena adanya cairan pada lambung. Amilase atau kelenjar ludah merupakan pengurai rantai glukosa panjang, tepung kanji, glikogen dalam potongan-potongan yang semakin kecil yang akhirnya terurai oleh maltosa, maltriose dan oligosakarida di sekitar titik-titk percabangan dengan 5 10 glukosa yang disebut dengan deketrin perbatasan.

VI. KESIMPULAN
1. Saliva adalah cairan yang bersifat alkali, mengandung musin, enzim pengencer zat tepung yaitu ptyalin. 2. Amilase atau kelenjar ludah merupakan pengurai rantai glukosa panjang, tepung kanji, glikogen dalam potongan-potongan kecil. 3. Enzim ptyalin bekerja aktif pada lambung. VII. DAFTAR PUSTAKA Wulangi, K.S. 1993. Prinsip-prinsip Fisiologi Hewan. DepDikBud. Jakarta.