Anda di halaman 1dari 5

Pengertian Ijtihad

Kata ijtihad (ar-ijtihad) berakar dari kata al-Juhd yang berarti al-taqhah (daya, kemampuan, kekuasaan) atau dari kata al-Jahd yang berarti al masyqqah (kesulitan, kesukaran). Dari ijtihad menurut pengertian kebahasaannya bermakna badal al wus wal mahud (pengerahan daya kemampuan), atau pengerahan segala daya kemampuan dalam suatu aktivitas dari aktivitas-aktivitas yang sukar dan berat.
Secara bahasa ijtihad berarti pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu. Yaitu penggunaan akal sekuat mungkin untuk menemukan sesuatu keputusan hukum tertentu yang tidak ditetapkan secara eksplisit dalam al-Quran dan as-Sunnah. Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abdullah bin Mas'ud sebagai berikut : " Berhukumlah engkau dengan al-Qur'an dan as-Sunnah, apabila sesuatu persoalan itu engkau temukan pada dua sumber tersebut. Tapi apabila engkau tidak menemukannya pada dua sumber itu, maka ijtihadlah ". Kepada ? Ali bin Abi Thalib beliau pernah menyatakan : " Apabila engkau berijtihad dan ijtihadmu betul, maka engkau mendapatkan dua pahala. Tetapi apabila ijtihadmu salah, maka engkau hanya mendapatkan satu pahala ". Muhammad Iqbal menamakan ijtihad itu sebagai the principle of movement. Mahmud Syaltut berpendapat, bahwa ijtihad atau yang biasa disebut arro'yu mencakup dua pengertian :

a. Penggunaan pikiran untuk menentukan sesuatu hukum yang tidak ditentukan secara eksplisit oleh al-Qur'an dan as-Sunnah. b. Penggunaan fikiran dalam mengartikan, menafsirkan dan mengambil kesimpulan dari sesuatu ayat atau hadits. Adapun dasar dari keharusan berijtihad ialah antara lain terdapat pada al-Qur'an surat anNisa ayat 59.

Dasar Ijtihad Ijtihad bisa sumber hukumnya dari al-qur'an dan alhadis yang menghendaki digunakannya ijtihad. 1. Firman Allah dalam Surat An-Nisa' Ayat 59 Artinya: Hai orang-orang yang beriman taatilah allah dan taatilah rosul dan orng-orang yang memegang kekuasaan diantara kamu kemudian jika kamu berselisih pendapt tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada allah(alqur'an dan sunnah nabi) 2, Sabda Rosullullah Saw:

Artinya dari mu'adz bin jabal ketika nabi muhammad saw mengutusnya ke yaman untuk bertindak sebagai hakim beliau bertanya kepda mu'adz apa yang kamu lakukan jika kepadamu diajukan suatu perkara yang harus di putuskan? Mua'dz menjawab, "aku akan memutuskan berdasarkan ketentuan yang termaktuk dalam kitabullah" nabi bertanya lagi "bagaimana jika dalam kitab allah tidak terdapat ketentuan tersebut?" mu'adz menjawab, " dengan berdasarkan sunnah rosulullah". Nabi bertanya lagi, "bagaimana jika ketenyuan tersebut tidak terdapat pula dalam sunnah rosullullah?" mu'adz menjawab, "aku akan menjawab dengan fikiranku, aku tidak akan membiarkan suatu perkara tanpa putusan" , lalu mu'adz mengatakan, " rosullulah kemudian menepuk dadaku seraya mengatakan, segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepada utusanku untuk hal yang melegakan". 1. Sabda Rosulullah SAW yang artinya: "bila seorang hakim akan memutuskan masalah atau suatu perkara, lalu ia melakukan ijtihad, kemudian hasilnya benar, maka ia memperoleh pahala dua (pahala ijtihad dan pahala kebenaran hasilnya). Dan bila hasilnya salah maka ia memperoleh satu pahala (pahala melakukan ijtihad) 1. Ijtihad seorang sahabat Rosulullah SAW, Sa'adz bin Mu'adz ketika membuat keputusan hukum kepada bani khuroidhoh dan rosulullah membenarkan hasilnya, beliau bersabda "Sesungguhnya engkau telah memutuskan suatu terhadap mereka menurut hukum Allah dari atas tujuh langit". Artinya hadist ini menunjukkan bahwa ijtihad sahabat tersebut mempunyai manfaat dan dihargai oleh rosulullah 1. Firman Allah yang artinya : "Mereka menanyakan kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang. Katakanlah, hanya rampasan perang itu keputusan Allah dan rosul sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara sesamamu, dan taatilah kepada Allah dan Rosulnya jika kamu adalah orang-orang yang beriman". (Al-Anfal:1) 2. fiman Allah yang artinya : "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampaan perang maka sesungguhnya setengah untuk Allah, Rosul, Kerabat rosul, anak-anak yatim, orang-oarang miskan dan ibnu sabil. Jika kamu beriamn kepada Allah dan kepada apa yang kami terunkan kepada hamba kami muhammad dari hari furqon yaitu bertemunya dua pasukan. Dan Allah maha kuasa ata segala sesuatu". (Al-Anfal:41)
Dasar Hukum Ijtihad Dasar hukum ijtihad dalam menggali hukum islam, atau ijtihad sebagai metode istinbath hukum ada beberapa dari al-quran dan juga hadits, diantaranya: 1) Firman Allah SWT:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu (Q.S.Annisa:105)

dan orang-orang yang berjihad untuk ( mencari keridlaan ) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orangorang yang berbuat baik.( Q.S. Al-Ankabut:69 )

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berfikir 2) Adanya keterangan sunnah yang membolehkan berijtihad diantaranya: hadits yang diriwayatkan oleh umar, ( ).

Hakim apabila berijtihad kemudian dapat mencapai kebenaran maka ia mendapat dua pahala. Apabila ia berijtihad kemudian tidak mencapai kebenaran, maka ia mendapat satu pahala.(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim) Rasulullah juga pernah bersabda kepada Abdullah bin Masud sebagai berikut: Berhukumlah engkau dengan al-Quran dan as-Sunnah, apabila sesuatu persoalan itu engkau temukan pada dua sumber tersebut. Tapi apabila engkau tidak menemukannya pada dua sumber itu, maka ijtihadlah Hadits yang menerangkan dialog Rasulullah SAW dengan Muadz bin Jabal, ketika Muadz diutus menjadi hakim di Yaman berikut ini: . : . : .( ) : : . : : :

Diriwayatkan dari penduduk homs, sahabat Muadz ibn Jabal, bahwa Rasulullah saw. Ketika bermaksud untuk mengutus Muadz ke Yaman, beliau bertanya: apabila dihadapkan kepadamu satu kasus hukum, bagaimana kamu memutuskannya?, Muadz menjawab:, Saya akan memutuskan berdasarkan Al-Quran. Nabi bertanya lagi:, Jika kasus itu tidak kamu temukan dalam Al-Quran?, Muadz menjawab:,Saya akan memutuskannya berdasarkan Sunnah Rasulullah. Lebih lanjut Nabi bertanya:, Jika kasusnya tidak terdapat dalam Sunnah Rasul dan AlQuran?,Muadz menjawab:, Saya akan berijtihad dengan seksama. Kemudian Rasulullah menepuknepuk dada Muadz dengan tangan beliau, seraya berkata:, Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah terhadap jalan yang diridloi-Nya.(HR.Abu Dawud)

LAPANGAN LAPANGAN IJTIHAD


Secara ringkas lapagan ijtihad ada dua yaitu, perkara yang tidak ada nash (ketentuan) sama sekali.perkara yang ada nashnya tetapi tidak qathi wurud dan dalahahnya. Pembatasan lapangan ijtihad seperti ini sama sekali dengan apa yang diikuti oleh system hukum positif karena selama undang-undang menyatakan dengan jelas maka tidak boleh ada penawilan dan perobahan terhadap nash-nashnya dengan dalil bahwa jiwa undang-undangnya menghendaki adanya perobahan tersebut. Sekalipun seandainya hakim sendiri berpendapat bahwa undang-umdang tersebut tidak mencerminkan rasa keadilan karena sumber undang-undang tersebut adalah majelis per-undang-

undangan sendiri sedang wewenang hakim hanya terbatas pada pemberian keputusan berdasarkan undang-undang tersebut bukan untuk mengadili undang-undang itu sendiri. Perlu kita ketahui bahwa ijtihad seorang mujtahid tidaklahselamanya sama dengan hasil mujtahid lainnya. Hal ini disebabkan banyak faktor antara lain : A. Perbedaan pengkajian dan penggambilan suatu dalil dan system yang dipakainya. B. Situasi masyarakat dan lingkungan dimana seorang mujtahid itu tinggal hal ini sangat mempenggaruhi seorang mujtahid didalam berijtihad. C. Sejauh mana kebijaksanaan dan wawasan ilmu Islam yang dimiliki oleh seseorang mujtahid.
Menurut Abdul Wahab Khallaf, persoalan yang menjadi lapangan ijtihad adalah semua hal yang bersifat zhanni (tidak pasti), baik dari segi datangnya dari Nabi maupun segi maksud yang dikandung suatu ayat atau hadis. Dalam hal ini, lapangan ijtihad dapat dikategorikan menjadi tiga macam11yaitu : 1. Hadis ahad, yaitu hadis yang diriwayatkan seorang atau beberapa orang tetapi jumlah perawinya tidak sampai ketingkat mutawatir. Keberadaan hadis ahad berasal dari Nabi sa. Hanya sampai pada tingkat dugaan kuat (zhanni). Ini berarti bahwa hadis ini mungkin saja palsu, meskipun dugaan tersebut hanya kecil. Untuk mebuktikan hadis itu berasal dari Nabi, para mujtahid melakukan ijtihad dengan menguji kebenaran jalur periwayatannya. 2. Redaksi Al-Quran atau hadis yang mengandung pengertian Zhanni sehingga mungkin saja mempunyai pengertian lain selain cepat diketahui ketika mendengan bunyi redaksi itu. Ayat-ayat dan hadis-hadis yang demikian menjadi lapangan ijtihad dalam rangka memahami maksudnya. Dalam hal ini, ijtihad mengambil peran untuk menentukan makna mana yang sebenarnya dimaksudkan redaksi itu. Hal ini berimplikasi pada muncul perbedaan pendapat ulama dalam menetapkan hukum yang terkait dengan redaksi itu. 3. Semua persoalan yang tidak ada ketentuan hukumnya dalam Al-Quran dan Sunnah, semenatara itu tidak ada ijma ulama yang menjelaskan hukum kasus tersebut. Dalam menghadapi kasus seperti ini, ijtihad mempunyai peranan penting untuk mengembangkan prinsip-prinsip hukum yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah. Jadi peranan ijtihad untuk meneliti dan menemukan hukum kasus yang terjadi melalui pendekatan tujuan hukum, seperti qiyas, istihsan, maslahah al-mursalah, urf, istishab dan saddu al-zariah. Berkaitan dengan hal ini, para ulama berpeluang untuk berbeda pendapat satu sama lain.

Syarat Mujtahid Syarat-syarat umum yang disepakati oleh para ulama' menurut Dr. Yusuf Qordhowi sebagai berikut: 1. Harus mengetahui Al-Qur'an dan ulumul Qur'an: 1. Mengetahui sebab-sebab turunnya ayat 2. Mengetahui sepenuhnya sejarah pengumpulan atau penyusunan al-qur'an. 3. Mengetahui sepenuhnya ayat-ayat makiyah dan madaniyah, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, dan sebagainya 4. Menguasai ilmu tafsir, pengetahuan tentang pemahaman al-qur'an.

2. Mengetahui Assunah dan ilmu Hadits

3. Mengetahui bahasa arab 4. Mengethui tema-tema yang sudah merupakan ijma' 5. Mengetahui usul fiqih 6. Mengetahui maksud-maksud sejarah 7. Mengenal manusia dan alam sekitarnya 8. Mempunyai sifat adil dan taqwa syarat tambahan : 9. Mengetahui ilmu ushuluddin 10. Mengetahui ilmu mantiq 11. Mengetahui cabang-cabang fiqih

3.