Anda di halaman 1dari 11

Paper Biokomposit - Material Teknik Aplikasi Biokomposit Sebagai Adsorban Uranium (VI)

Rhidiyan Waroko 0806331935

Departemen Teknik Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia

2011

Aplikasi Biokomposit Sebagai Absorban Uranium (VI)


Pendahuluan
Beberapa tahun belakangan ini, konsep green economic sedang digalakkan hampir di semua bidang di seluruh dunia. Hal tersebut sebagai tindakkan antisipasi terhadap isu pemanasan global. Konsep green economic ini mengarahkan generasi saat ini untuk lebih peduli terhadap lingkungannya. Penghematan energi, mencari sumber energi terbarukan dan salah satu perhatiannya adalah pada material. Para peneliti kedepannya ingin dapat men-subtitusi material yang tidak bisa di daur ulang dengan material yang bisa didaur ulang dan lebih ramah terhadap lingkungan. Oleh sebab itu, penelitian tentang material berbasis biomaterial sangat banyak dikembangkan, salah satunya material biokomposit yang paling banyak dikembangkan untuk berbagai aplikasi.

Gambar 1. Foto mikro struktur tulang, material biokomposit terbaik yang tersusun secara alami Material komposit adalah material yang tersusun dari dua atau lebih jenis material atau fasa yang berbeda, baik dalam skala mikroskopis ataupun dalam skala makroskopis. Term komposit biasanya mengacu kepada material yang disusun dari dua material yang berbeda yang dapat dipisahkan dalam skala yang lebih besar dari skala atomik, dan dapat merubah sifat material dasarnya, seperti contoh sifat ke-elastisannya yang akan berubah ketika dikomposit dibandingkan sebelum dikomposit. Material alam cenderung berupa material komposit, seperti kayu, tulang, gigi dan kulit. Material komposit yang tersusun dari material alami bisa dikatakan sebagai material biokomposit yang tentunya ramah lingkungan[3].

Universitas Indonesia

Material Biokomposit Sebagai Biosorban


Peningkatan kegiatan industri tentunya berefek terhadap peningkatan polusi lingkungan dan terdegradasinya suatu ekosistem sebagai akumulasi dari polutan seperti logam berat, paduan sintetik, limbah nuklir dan lainnya. Meningkatnya perhatian terhadap lingkungan tersebut mengindikasikan adanya bahaya lingkungan yang diakibatkan oleh polutan-polutan tersebut, seperti polusi logam berat yang mencemari lingkungan. Limbah cair dari industri tambang dan metalurgi tentunya menjadi sumber terbesar pencemaran logam berat ke lingkungan dan dibutuhkan metode yang ekonomis dan efisien untuk menghilangkan logam berat tersebut dari lingkungan. Pengendapan, pertukaran ion, proses elektrokimia dan/atau proses membran sering digunakan sebagai treatment untuk penghilangan logam berat dari limbah cair tetapi terbatasi karena faktor ekonomi. Pencarian teknologi baru untuk mengadsorpsi logam berat dari limbah cair dengan menggunakan metode biosorption, berdasarkan sifat pengikatan logam ke bermacam makhluk biologi. Alga, bakteri dan ganggang memiliki potensi untuk menjadi adsorban[2]. Material biokomposit dapat digunakan dalam banyak apliksi, misalkan pada dunia kedokteran dan dunia struktural. Salah satu apliksainya adalah sebagai suatu absorban atau penyaring suatu logam dari larutan atau media tertentu. Aplikasi ini tentunya sangat berguna untuk dunia pemurnian larutan lainnya. Biosorpsi diyakini sangat berpotensi untuk menjadi adsorban, tidak hanya untuk logam yang beracun (polusi), tetapi juga logam mulia seperti emas dan perak. Biomass mikroba memiliki bentuk yang sebagai partikel kecil dengan densiti yang rendah, kekuatan mekanik yang sangat buruk dan kekakuan yang kecil. Kontak mikroba dengan logam berat dengan volume besar pada larutan sulit untuk terjadi adsorpsi karena masalah pemisahan liquid/solid. Immobilisasi biomass pada struktur yang solid membuat material memiliki ukuran yang tepat, kekauatan mekanik dan kekakuan yang lebih baik. Potensi penggunaan material biomass sangat efisien untuk digunakan sebagai adsorban menurut faktor ekonomi[2]. Sudah banyak penelitian tentang pemanfaatan bakteri sebagai bahan absorban logam-logam berat. Banyak jenis dari ragi, alga, bakteri dan macam binatang air yang memiliki kemampuan untuk menangkap logam dengan jenis tertentu dari larutan cair. Mekanisme penangkapan logam tersebut baik dengan cara pertukaran ion, kompleksasi dan adsorpsi atau dengan pengendapan. Biosorption terjadi akibat adanya kontak antara permukaan dinding sel yang merupakan biopolimer dengan organisme lain yang masih hidup ataupun telah mati.

Universitas Indonesia

Bahan Baku
Tumbuhan laut seperti alga banyak ditemukan di sepanjang pantai. Ganggang laut memiliki kemampuan sebagai material biosorbent dengan kemampuan pengikatan logam yang tinggi. Ada banyak potensi kemampuan alga seperti sebagai preconcentration, speciation, pemisah dan pendeteksi ada atau tidaknya suatu elemen logam pada lingkungan cair. Biosorption uranium atau elemen radioaktif yang lain dengan menggunakan alga telah banyak dikembangkan. Biosorption logam dengan menggunakan alga terbentuk dari koordinasi antara ion dengan fungsi grup yang berbeda dari sel alga. Komponen struktural seperti protein, lemak, karbohidrat, polisakarida, mineral sebagai komponen mayor dan oligoelemen penting seperti asam amino bebas, dan vitamin sebagai minor komponen. Usaha yang keras harus dilakukan untuk meningkatkan proses biosorption, termasuk sdan mengoptimalkan proses biosorption. Sumber alga merupakan by-product dari industri fermentasi karena dalam industri dihasilkan dalam skala sangat besar. Saccharomyces cerevisiae banyak digunakan pada industri makanan dan minuman dan meskipun berupa absorban yang kurang baik, tetap menjadi fokus studi untuk para peneliti dalam mengembangkan biomaterial sebagai adsorban karena karakteristik penangkapan elemen logam yang unik. Teknik immobilization menjadi kunci penting dalam aplikasi biosorpsi elemen mati (logam) dengan menggunakan ganggang atau elemen hidup lainnya. Komposit menjadi bentuk adsorban yang efektif dari pada adsorban organik maupun inorganik yang berdiri sendiri karena komposit memiliki karakter yang lebih baik sebagai adsorban. Penggunaan matriks inorganik seperti semen, silika gel dan alumina inorganik banyak digunakan sebagai komposit adsorban. Untuk meng-adsorpsi uranium dari suatu larutan digunakan material bi-functionalized biocomposite.

Proses Pembuatan
Red macro marine algae (ganggang), J.rubenss dan ganggang immobilization S. cerevisiae dipersiapkan untuk membuat bifunctionalized biocomposite sebagai adsorban untuk biosorpsi uranium. Untuk persiapan bahan baku adsorban ini, ganggang S. cerevisiae harus melalui tahap immobilization. Ada empat cara untuk membuat membuat suatu biomass immoblization yaitu, adsorption of inert support, entrapment pada matriks polimer, on covalent bond to vector compound dan membuat jaringan silang[2].

Universitas Indonesia

Gambar 2. Teknik immobilization. Biomasa kering J. rubins (16.67%), S. cerevisiae (41,5%) dicampur dengan silika gel (41,5%). Pencampuran dilakukan di dengan pembasahan oleh H2O dengan kemurnian yang tinggi. Setelah di lakukan proses mixing, maka akan menghasilkan pasta yang kemudian dimasukkan ke dalam oven dengan temperatur 105OC selama dua jam untuk proses pengeringan. Pembasahan dan pengeringan dilakukan secara berulang sehingga mencapai kontak yang maksimal antara J. rubins, S. cerevisiae dan silika gel dengan tujuan meningkatkan immobilization efficiency. Kemudian biokomposit ini disaring pada ukuran <125mm. Langkah berikutnya adalah dengan mengeringkan biokomposit menggunakan oven pada temperatur kurang lebih 100OC selama beberapa jam.
Bahan baku:

Mixing diikuti dengan Bipembasahan oleh air functionalized 1. J. rubins murni kemudian biocomposite 2. S. cerevisiae pengeringan dan 3. Silika gel dilakukan berulang-ulang Gambar 3. Alur pembuatan bi-functionalized biocomposite

Karakteristik Bi-Functionalized Biocomposite


Scanning electron microscope (SEM) digunakan untuk menganalisa permukaan dan morfologi permukaan untuk berbagai material. Gambar 4. menunjukkan permukaan material biokomposit adsorban. Analisa dari hasil foto mikro dengan SEM dapat diketahui bahwa terindikasi adanya pori yang mengakibatkan high internal surface area dan membuat permukaan biokomposit menjadi lebih kasar, yang mana permukaan tersebut lebih disukai untuk mengadsorpsi uranium. Ukuran pori yang terbaca dari foto SEM adalah sekitar 4 mm, sehingga uranium kompleks akan mudah masuk dan tertangkap oleh pori tersebut.

Universitas Indonesia

6 FT-IR spectroscopy digunakan untuk menentukan perubahan frekuensi getaran pada gugus fungsi adsorban. Spektrum FT-IR dari adsorban biokomposit menunjukkan banyaknya gugus fungsi yang ada menggambarkan kompleksitas yang terbentuk secara alami. Spektrum dari biomass tersebut menunjukkan karakteristik peak pada 3461,66 cm-1 yang menandakan bahwa adanya ikatan O-H pada biokomposit tersebut. Peak antara 3500-3200 cm-1 menunjukkan adanya ikatan N-H yang berarti adanya grup amino. Daerah peak antara 2300-2400 cm-1 menandakan adanya NH2+, NH+ dan ikatan N-H pada biokomposit. Ketiga spektrum tersebut menunjukkan adanya struktur protein pada material biokomposit[1].

Gambar 4. Gambar SEM dari bi-functionalized


biocomposite

Bi-Functionalized Biocomposite sebagai Adsorban


Sebagai adsorban uranium pada lingkungan cair, banyak variabel yang mempengaruhi kinerja dari adsorban tersebut. Hal-hal yang mempengaruhi kinerja bi-functionalized biocomposite adalah seperti pH larutan, konsentrasi uranium dalam larutan, waktu kontak untuk adsorpsi dan temperatur. pH pada larutan menjadi salah satu parameter penting untuk adsorban logam pada proses adsorpsi. Dalam penangkapan metal. Peran pH adalah mengatur sifat permukaan dari gugus fungsi suatu dinding sel dan sifat kimia logam pada larutan. Untuk biosorpsi uranium (VI), bi-functionalized biocomposite secara maksimal berada pada pH 4.0 dengan distribusi koefisiensi 1463 mL/g. Mekanisme biosorpsi uranium dipengaruhi oleh pH karena hidrolisis dari ion uranyl dalam laurtan. Pada pH rendah, uranium yang berada dalam larutan dalam bentuk bebas sebagai ion UO22+. Pada peningkatan pH, gugus uranyl akan cenderung untuk lebih terhidrolisasi dan membentuk

Universitas Indonesia

7 larutan oligometrik. Berikut macam-macam bentuk gugus uranyl yang terbentuk pada berbagai macam kondisi pH.

pH optimal untuk berbagai logam mungkin berbeda, tetapi pH optimal untuk mengadsorpsi uranium dengan menggunakan S. cerevisiae adalah 4 sampai 5. Dimana pada pH 4 tercatat bahwa adsorpsi uranium mencapai 94%.

Gambar 5. Pengaruh pH terhadap adsorpsi uranium dengan menggunaka S. cerevisiae Selain dipengaruhi oleh pH, kinerja adsorbsi uranium oleh S. cerevisiae juga dioengaruhi oelh konsentrasi dari uranium yang ada dalam larutan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa larutan dengan konsentrasi uranium sekitar 50 mg/L menjadi titik yang optimum terhadap kinerja adsorbsi, yaitu sekitar 94%, seperti yang terlihat pada gambar 6.

Universitas Indonesia

Gambar 6. Pengaruh konsentrasi uranium dalam larutan terhadap kinerja adsorpsi

Temperatur dan waktu juga mempengaruhi kinerja adsorpsi seperti terlihat pada gambar 7 dan gambar 8. Peningkatan temperatur akan meningkatkan adsorpsi karena energi sistem bertambah[1].

Gambar 7. Pengaruh waktu proses terhadap kinerja adsorpsi

Universitas Indonesia

Gambar 8. Pengaruh temperatur terhadap kinerja adsorpsi

Kesimpulan
Dari studi tersebut, dapat disimpulkan bahwa adsorban bi-functionalized biocomposit dapat digunakan untuk menghilangkan atau menangkap uranium dari larutan cair. S. cerevisiae sebagai biomassa dan mudah didapatkan dari berbagai macam industri makanan dan minuman serta industri fermentasi. Alga laut, J. rubens banyak ditemukan di laut aegean. Pemilihan biomaterial yang baik dan murah menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhitungkan.

Tabel 1.

Telah ditunjukkan diatas bahwa biosorption uranium dari larutan cair dengan adsorban biokomposit dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pH, konsentrasi uranium, waktu operasi dan temperatur. Persen biosorpsi

Universitas Indonesia

10 dan konstanta distribusi untuk ion uranium sekitar 97-+ 2 % dan 3471-+ 104 mL/g. Keadaan tersebut dapat diambil dalam keadaan larutan dengan pH 4.0, konsentrasi uranium 100 mg/L, waktu proses 120 menit dan temperatur 313 K[1]. Berdasarkan kesimpulan diatas, menunjukkan bahwa bi-functionalized composite dapat digunakan sebagai adsorban untuk menurunkan kadar uranium dalam larutan dengan biaya yang murah dan tentunya juga ramah lingkungan.

Referensi
[1] S. Aytas, D. A. Turkozu, C. Gok, Biosorption of uranium (VI) by bifunctionalized low cost biocomposite adsorbent, Desalination 280 (2011) 354-362. [2] F.Veglio, F.Beolchini, Removal of metals by biosorption : a review, Hydrometallurgy 44 (1997) 301316.

Universitas Indonesia

11 [3] Joon P, Lakes RS. 2007. Biomaterial An Introduction Third Edition. pp 207-224. New York: Springer.

Universitas Indonesia