Anda di halaman 1dari 20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Persediaan

Setiap perusahaan pasti akan selalu membutuhkan persediaan bahan baku untuk dapat menjalankan usahanya. Hal itu dikarenakan apabila perusahaan tidak memiliki persediaan bahan baku maka ada kemungkinan perusahaan tidak akan dapat menciptakan produknya dan beresiko tidak dapat memenuhi permintaan dari konsumen.

Menurut Chase, Jacobs, dan Aquilano (2004:545) Inventory is the stock of any item or resource used in an organization.

Menurut Russel dan Taylor (2003:456) mendefinisikan sebagai berikut: Inventory is a stock of items kept by an organization to meet internal or external customer demand.

Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah semua barang atau sumber daya dalam bentuk bahan baku yang disimpan perusahaan dalam waktu tertentu dan digunakan untuk mencapai tujuan perusahaan

2.1.1 Fungsi persediaan Persediaan bahan baku mempunyai beberapa fungsi yang akan memberikan kemampuan flexibilitas pada kegiatan operasi perusahaan. Empat macam fungsi persediaan itu sendiri menurut Heizer dan Render (2011:484) adalah 1. Fungsi decoupling Adalah persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan konsumen tanpa bergantung pada supplier. Persediaan bahan baku diadakan agar perusahaan tidak akan sepenuhnya bergantung pada pengadaannya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman. Selain itu juga fungsi decoupling

memiliki arti bahwa persediaan bahan baku diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diperkirakan atau diramalkan 2. Fungsi antisipasi Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan permintaan yang meningkat. Disamping itu Anticipation Stock dimaksudkan pula untuk menjaga kemungkinan sukarnya

diperoleh bahan-bahan sehingga tidak mengganggu produksi atau menghindari kemacetan produksi. 3. Lot size inventory Persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu. Adapun keuntungan yang diperoleh dari adanya Lot Size Inventory adalah sebagai berikut: a. Memperoleh potongan harga pada harga pembelian b. Memperoleh efisiensi produksi (manufacturing economis) karena adanya operasi atau production run yang lebih lama. c. Adanya penghematan didalam biaya angkutan.

Menurut Richard (1994:6) terdapat empat (4) macam fungsi dari persediaan yaitu: 1. Time Persediaan memungkinkan sebuah organisasi untuk mengurangi lead time dalam memenuhi permintaan. Profitabilitas dapat ditingkatkan dengan reputasi memiliki produk yang tersedia segera atau dalam waktu yang wajar. 2. Discontinuity Faktor diskontinuitas dari persediaan memungkinkan perusahaan untuk menjadwalkan banyak operasi pada masing-masing operasi dengan tingkat kinerja yang lebih baik daripada jika mereka saling ketergantungan. 3. Uncertainty Kekhawatiran akan kejadian tak terduga yang mengubah rencana asli dari organisasi, apabila persediaan tersedia organisasi memiliki dapat menghindari dari kejadian yang tidak diduga atau tidak direncanakan tersebut dan perusahaan akan dapat terus menjalankan kegiatan operasinya. 4. Economy

Dengan persedian hal ini memungkinkan organisasi untuk membeli atau memproduksi barang dalam jumlah besar. Jika barang dipesan secara terpisah tanpa memperhatikan pembelian secara massal maka akan memberikan dapak pada biaya yang akan membesar akan tetapi melakukan pembelian massal akan memperoleh diskon kuantitas yang dapat mengurangi biaya secara signifikan sehingga persediaan dapat digunakan untuk mendukung tercapainya tujuan organisasi.

Berdasarkan hal diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa fungsi persediaan secara umum adalah untuk menghindari ketidakpastian yang terjadi akibat terlalu berfluktuatifnya tingkat permintaan dari konsumen maupun keterlambatan pengiriman dari produsen. Selain itu juga persediaan dapat memungkinkan organisasi untuk data membeli dalam jumlah tertentu yang akan membuat organisasi memperoleh potongan pembelian yang dapat mengurangi biaya secara signifikan. 2.1.2 Tipe persediaan Perusahaan sebaiknya memiliki persediaan agar dapat mencapai tujuannya. Persediaan itu dibagi dalam beberapa jenis, menurut Heizer dan Render (2011:484) yaitu: 1. Persediaan bahan mentah (raw materiais), Yaitu persediaan barang-barang berwujud mentah. Persediaan ini dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari Supplier atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya 2. Persediaan barang dalam proses (work in process), Yaitu persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi. 3. Maintenance, repair, dan operating materials (MRO) MRO adalah persediaan yang diperuntukkan bagi pasokan

pemeliharaan/perbaikan/operasi yang diperlukan untuk menjaga agar mesin dan proses produksi tetap produktif. MRO harus ada karena kebutuhan, waktu pemeliharaan dan perbaikan beberapa peralatan tidak diketahui. 4. Persedian barang jadi (finished goods), Yaitu persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam bentuk produk dan siap untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan

Menurut David J. Piasecki (2009:8) persediaan terbagi menjadi empat (4) tipe yaitu: 1. Finished goods Finished goods adalah barang yang yang sudah dapat dijual dan dikirim. 2. Unfinished goods Unfinished goods adalah barang yang digunakan untuk menciptakan barang siap jual. 3. Maintenance, repair and operating (MRO) inventory Disebut juga sebagai persediaan lainnya, seperti peralatan kator, peralatan maintenance, repair parts, dan lainnya yang merupakan barang yang dapat habis digunakan. 4. Work in process (WIP) Work in process adalah bahan baku atau komponen yang sudah mengalami beberapa perubahan tetapi belum selesai 2.1.3 Biaya persediaan Untuk pengambilan keputusan penentuan besarnya biaya-biaya variable dan untuk menentukan kebijakan persediaan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perusahaan dapat meminimalkan biaya-biaya. Biaya-biaya persediaan yang harus dipertimbangkan menurut Chase, Jacobs, Aquilano (2004: 546) adalah sebagai berikut: 1. Biaya Penyimpanan (Holding cost/carrying costs) Yaitu terdiri dari biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantutas persediaan, biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak atau rata-rata persediaan semakin tinggi. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan antara lain: biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pendingin ruangan , dan sebagainya), keusangan, perhitungan fisik, asuransi persediaan, pajak persediaan, pencurian, pengrusakan, atau perampokan, penanganan persediaan dan sebagainya. Biaya-biaya tersebut diatas merupakan variable apabila bervariasi dengan tingkat persediaan.

2. Biaya pemesanan atau pembelian (ordering costs atau procurement costs). Biaya-biaya ini meliputi pemrosesan pesanan, biaya ekspedisi, Upah, Biaya telepon, Pengeluaran surat-menyurat, pengepakan penimbangan, pemeriksaan (inspeksi) penerimaan, pengiriman ke gudang, utang lancar dan sebagainya. Pada

umumnya biaya perpesanan (diluar biaya bahan dan potongan kuantitas) tidak naik apabila kuantitas pesanan bertambah besar. Tetapi apabila semakin banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan , jumlah pesanan per-periode turun, maka biaya pemesanan total akan turun.

3. Biaya persiapan(manufacturing atau set up costs). Hal ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri oleh perusahaan, perusahaan menghadapi biaya persiapan (set-up costs)untuk

memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya ini terdiri dari biaya mesin-mesin menganggur, persiapan tenaga kerja langsung, penjadwalan, ekspedisi dan sebagainya.Seperti halnya biaya pemesanan, biaya penyiapan total per-periode sama dengan biaya persiapan dikalikan jumlah persiapan per periode 4. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage costs) Adalah biaya yang timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya yang kekurangan bahan adalah sebagai berikut kehilangan penjualan, kehilangan pelanggan, biaya pemesanan khusus, biaya ekspedisi, selisih harga, terganggunya operasi, tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya. Biaya kekurangan bahan sulit di ukur dalam praktik, terutama karena kenyataannya biaya ini sering merupakan opportunity costs yang sulit diperkirakan secara objektif.

Menurut Russel dan Taylor (2003:530) terdapat 3 dasar biaya dalam persediaan yaitu: 1. Carrying or holding cost

2. Ordering cost 3. Shortage cost

Berdasarkan definisi-definisi tentang biaya persediaan diatas dapat disimpulkan secara garis besar bahwa biaya persediaan terdiri atas biaya penyimpanan, biaya pengadaan, biaya pemesanan, dan biaya kekurangan persediaan. Dalam penerapannya, biaya-biaya tersebut diupayakan seminimal mungkin dimana menerapkan sistem pengendalian persediaan. 2.1.4 sistem klasifikasi ABC untuk barang-barang persediaan hal itu dikelola oleh perusahaan melalui

Pengendalian persediaaan yang sama untuk bermacam-macam jenis barang biasanya kurang tepat untuk dilakukan. Elwood S. buffa dalam bukunya Manajemen Produksi/operasi modern" (1990) menjelaskan bahwa pertama-tama adanya perbedaan nilai diantara barangbarang persediaan mengharuskan perusahaan mencurahkan lebih banyak perhatian pada barang-barang yang bernilai tinggi. Klasifikasi ABC tujuan utamanya adalah untuk mengfokuskan pengendalian persediaan pada item barang yang nilai tinggi daripada barang yang bernilai rendah. Klasifikasi ABC membagi persediaan kedalam tiga kelas berdasarkan nilai persediaan tersebut. Dengan mengetahui kelas-kelas tersebut, dapat diketahui item-item persediaan tertentu yang harus mendapatkan perhatian yang lebih intensif dibandingkan dengan item-item lainnya. Yang dimaksud dengan nilai dalam sistem klasifikasi ABC adalah volume persediaan suatu barang yang dibutuhkan dalam satu periode dikalikan dengan harga per unit, jadi nilai investasi suatu item adalah jumlah nilai seluruh item tersebut dalam satu periode. Dampak dari barang yang memiliki nilai investasi yang lebih tinggi adalah item tersebut mendapatkan perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan item lain yang memiliki nilai investasi yang lebih rendah. kriteria masing-masing kelas menurut Heizer dan Render (2011:467) adalah sebagai berikut: 1. Class A items Adalah persediaan yang mempunyai nilai volume tahunan rupiah yang tinggi. Kelas ini mewakili sekitar 70% sampai 80% dari total nilai persediaan, meskipun jumlahnya hanya sedikit sekitar 15% dari seluruh item. 2. Class B items Adalah persediaan yang memiliki nilai volume tahunan rupiah menengah. Kelas ini mewakili sekitar 15% sampai 25% dari total nilai persediaan dan jumlahnya sekitar 30% dari seluruh item. Barang dalam kelas ini memerlukan teknik pengendalian yang moderat. 3. Class C items Adalah persediaan yang memiliki nilai volume tahunan rupiah yang rendah. Kelas ini mewakili sekitar 5% dari total nilai persdiaan, namun jumlanya mencapai sekitar 555 dari seluruh item. Barnag dalam kelas ini hanya memerlukan teknik pengendalian yang sederhan dan pemeriksaaan hanya perlu dilakukan sekali-sekali saja.

Walaupun terdapat kriteria mengenai sistem klasifikasi ABC ini, dalam penerapannya kriteria tersebut dapat berubah-ubah disesuaikan dengan jenis dan jumlah persediaan pada masingmasing item seperti yang terlihat dalam gambar dibawah ini.

2.2 Pengendalian Persediaan Perencanaan dan pengendalian merupakan bagian dari manajemen persediaan. Pengendalian adalah suatu tindakan agar aktifitas dilakukan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pengendalian tanpa perencanaan adalah sia-sia dan perencanaan tanpa pengendalian merupakan tindakan yang tidak efektif. Pengendalian persediaan diperlukan oleh setiap perusahaan agar kegiatan operasi perusahaan dapat berjalan dapat berjalan dengan baik. Pengendalian persediaan menurut Adam dan Ebert (1995:454): Inventory controls is the technique of maintaining stockeeping items at desire levels. Pengendalian persediaan dilakukan dengan menggunakan data historis, dimana tingkat penjualan dan permintaan suatu barang dari periode sebelumnya untuk kemudian dapat ditentukan jumlah serta kapan pembelian terhadap barang tersebut dilakukan. Pengendalian persediaan dilakukan dengan tujuan untuk menghindari situasi kekurangan persediaan, prinsip dasar dalam pengendalian persediaan adalah menyediakan bahan baku yang dibutuhkan dengan optimal sehingga dapat membuat kegiatan operasional perusahaan berjalan dengan efektif dan efisien. Pengendalian persediaan akan terasa manfaatnya pada perusahaan yang mengalami masalah dalam penyediaan barang baku dan memiliki modal yang terbatas. Dengan memakai metode pengedalian persediaan yang tepat, diharapkan perusahaan dapat terbantu dalam menyelesaikan masalah tersebut. Menurut Assauri (2008: 250) tujuan dari pengendalian persediaan sebagai berikut: 1. Menjaga agar perusahaan tidak kehabisan persediaan, mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi. 2. Menjaga supaya penentuan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar, sehingga biaya yang timbul tidak terlalu besar. 3. Untuk menghindari pemesanan dalam jumlah yang sedikit tetapi sering, karena akan menyebabkan biaya pesanan menjadi besar. karena hal ini dapat

Maka dari keterangan diatas dapat diambil kesimpulan bahawa pengendalian persediaan adalah penanganan barang mulai dari proses penerimaan maupun penyimpanan barang hingga barang tersebut sampai ke tangan konsumen dimana pengendalian persediaan berhubungan dengan penentuan banyaknya, penentuan waktu, penjadwalan, serta lokasi penyimpanan untuk persediaan selain itu juga memperhatikan biaya yang dikeluarkan untuk persediaan, dimana biaya ini diusahakan seminimal mungkin sehingga tujuan pengendalian persediaan dapat tercapai. 2.3 Model pengendalian persediaan Menurut Heizer dan Render (2008:470) model pengendalian persediaan menganggap bahwa permintaan atas sebuah produk mungkin bebas (independent) atau terikat (dependent) dengan permintaan barang lain. Yang dimaksud dengan permintaan atas sebuah barang independent adalah permintaan atas barang tersebut tidak berhubungan dengan permintaan atas barang lain dan biasanya permintaan akan barang tersebut diperkirakan dari peramalan dan atau pesanan pelanggan. Sedangkan yang dimaksud dengan permintaan yang dependent adalah permintaan atas barang tersebut berhubungan terhadap permintaan barang lain. 2.4 Sistem Pengendalian Persediaan Sebuah sistem pengendalian persediaan menyediakan struktur dan kebijakan operasi yang terorganisir untuk mengendalikan dan memelihara barang sebagai persediaan. Sistem ini bertanggung jawab dalam pemesanan dan penerimaan barang, pekerjaan pekerjaan seperti : penentuan waktu pemesanan, mencatat barang apa saja yang sudah dipesan, berapa banyak dan dari siapa barang tersebut dipesan. Menurut Chase (2004: 547) sistem pengendalian persediaan dibagi menjadi 2 yaitu, single period system dan multiple period system. Single period system adalah sebuah model yang digunakan untuk menghitung jumlah pesanan tiap kali pesan yang paling optimal agar jumlah biaya pemesanan dan penyimpanan menjadi sekecil mungkin. Pengklasifikasiannya dilakukan berdasarkan keputusan yang dibuat hanya untuk satu kali pembelian. Untuk memenuhi kebutuhan satu periode waktu yang tetap dan barang barang yang akan dibeli secara periodik dimana persediaan harus tersedia harus memenuhi permintaan. Menurut Chase (2004: 550) ada 2 tipe dasar dari multiple period system, yaitu : 1. Fixed order quantity models

Dalam fixed order quantity models atau biasa disebut juga Q system atau Economic Order Quantity merupakan sebuah system pengendalian persediaan yang memonitor persediaan secara terus menerus, sehingga ketika level persediaan mencapai titik tertentu (reorder point) maka perusahaan akan langsung membuat pemesanan persediaan yang dibuat selalu dalam jumlah tetap yang dapat meminimalkan biaya. Kelebihan dari sistem ini adalah perusahaan bisa memantau keadaan persediaannya secara terus menerus sehingga pihak manajemen akan selalu mengetahui status persediaan perusahaan 2. Fixed time period models Dalam fixed time period models atau disebut juga P system mmerupakan sebuah sistem yang memeriksa persediaan barang secara periodik, misalnya perhari, perbulan, persemester yang bergantung pada keputusan perusahaan dalam jumlah yang tidak tetap.. Perusahaan menetapkan suatu tingkat tertentu untuk persediaan. Pada metode ini ada target persediaan yang merupakan batas atas level persediaan, banyaknya persediaan diperiksa setiap periode tertentu, dan pemesanan dilakukan sebesar level persediaan dikurangi persediaan yang ada saat pemesanan dilakukan sehingga jumlah besarnya pemesanan tidak selalu sama pada setiap periode. Kekurangan sistem ini adalah kurangnya pengawasan perusahaan secara langsung yang berakibat tingkat persediaan lebih besar jika dibandingkan dengan sistem fixed order quantity. Fixed order quantity models merupakan sebuah model pengendalian persediaan yang mana tingkat persediaannya dimonitor secara terus menerus. Model ini sering disebut juga Q system. Schroeder (2007:342) menjelaskan: A formal definition Q-system decision rule follows : continually review the stock position ( on-hand plus on order). When the stock position drops to the reorder point R, a fixed quantity Q is ordered.

Jadi, jumlah barang yang dipesan adalah tetap, sebesar Q, dan dilakukan pada saat tingkat persediaan berada pada reorder point (R). Fixed cost merupakan biaya yang tetap ada walauun aktivitas produksi tidak menghasilkan produk apa pun. Dalam rantai pasokam, fixed cost terjadi setiap kali melakukan pemesanan barang. Biaya tersebut meliputi biaya saat melakukan pemesanan, menerima pesanan, dan biaya transportasi. Untuk meminimalkan biaya total persediaan dapat dilakukan lot-sizing decision. Lot size adalah jumlah barang yang

diproduksi atau dibeli dalam waktu yang sama. Menurut Sunil Chopra dan Peter Meindl (2007: 279) tedapat 2 macam lot sizing decision yaitu: 1. Lot sizing for single product (Economic Order Quantity) 2. Lot sizing with multiple products or customers.

2.5 Lot sizing for single product (Economic Order Quantity) EOQ atau Economic Order Quantity didefinisikan oleh Heizer dan Render (2011:490) dalam buku operations management adalah merupakan teknik mengelola persediaan yang meminimasi total dari ordering dan holding cost. Selain itu juga model persediaan ini menjelaskan kapan pembelian harus dilakukan dan berapa banyak harus dibeli dari sudut pandang ekonomi. Beberapa asumsi yang digunakan dalam teknik ini adalah: 1. Demand diketahui dan konstan. 2. Lead time diketahui dan konstan. 3. Material dipenuhi secara instan. 4. Tidak ada quantity discounts. 5. Hanya order (setup) cost dan holding cost. 6. Tidak ada stockout.

Sumber: Heizer dan Render (2011:491) Dari gambar dapat terlihat efek pada total cost dari menggunakan teknik ini

Sumber : Heizer dan Render (2008:491) Asumsi yang digunakan dalam metode EOQ adalah 1. Demand diketahui dan konstan. 2. Lead time diketahui dan konstan. 3. Material dipenuhi secara instan. 4. Tidak ada quantity discounts. 5. Hanya order (setup) cost dan holding cost. 6. Tidak ada stockout. Dengan kata lain menggunakan variable variable di bawah ini, kita dapat menentukan setup / order cost dan holding cost, sehingga didapatkan nilai Q* : 1. Annual Setup Cost = (number of orders placed per year) x (setup or order cost per order)  2. Annual Holding Cost = (average inventory level) x ( holding cost per unit per year)  3. Optimal Order Quantity is found when annual setup cost equals annual holding costnamely



4. To solve for Q* , simply cross multiply terms and isolates Q on the best of equals sign


Berikut ini adalah penjelasan dari masing masing lambing pada rumus yang digunakan Q = number of pieces per order Q*= optimum number of pieces per order (EOQ) D = annual demad inunits per the inventory item S = setup or ordering cost for each order H = holding or carrying cost per unit per year R = reorder point L = lead time Dari uraian persamaan di atas, dapat dilihat bahwa untuk mengetahui jumlah pesanan optimal (Q*) pada model EOQ, persamaan dasar yang digunakan adalah  Sedangkan optimal ordering frequency dihitung sebagai berikut:


Dengan: D = annual demand of the product S = fixed cost incurred per order C = cost per unit

h = holding cost per year as a fraction of product cost

Dapat disimpulkan bahwa EOQ merupakan metode yang digunakan untuk mengoptimalkan pembelian bahan baku yang dapat menekan biaya-biaya persediaan sehingga persediaan bahan dalam perusahaan dapat berjalan dengan baik. Penggunaan metode EOQ dalam perusahaan dapat membantu perusahaan dalam menentukan jumlah unit yang dipesan agar tercapai biaya pemesanan dan persediaan seminimal mungkin.

2.6 Lot sizing for multiple product or customer Kunci untuk mengurangi siklus persediaan adalah dengan mengurangi lot size. Kunci untuk mengurangi lot size tanpa meningkatkan biaya biaya adalah dengan mengurangi biaya tetap yang berhubungan dengan setiap lot. Hal ini bisa dicapai dengan mengurangi biaya tetap tersebut atau dengan cara agregasi, dengan mengombinasikan lot lot tersebut berdasarkan beberapa produk, konsumen, atau, pemasok. Dengan cara agregasi ini, dapat mengurangi biaya untuk setiap produknya, karena biaya pemesanan dan transportasi dibagi ke beberapa produk, beberapa konsumen, atau beberapa pemasok. Menurut Sunil Chopra dan Peter Meindl (2007: 283) terdapat 3 macam pendekatan multiple aggregations models, yaitu 1. Simple Aggregation Model ini merupakan yang paling sederhana dan hampir mirip dengan pendekatan single product yang menggunakan rumus EOQ untuk setiap jenis produknya. Setiap produk dipesan dan dikirim secara independen, produk produk dikirim secara terpisah sehingga terdapat biaya pemesanan untuk masing masing produk yang dikirim. Pemesanan yang independen tersebut, mengabaikan kesempatan untuk melakukan pemesanan secara agregat yang seharusnya dapat mengurangi biaya pengiriman. 2. Complete Aggregation Complete aggregation adalah sebuah pendekatan yang melakukan pemesanan secara agregat untuk semua produknya. Keuntungan utama dari pendekatan ini adalah mempermudah proses administrasi dan mudah diterapkan. Kerugian dari model ini adalah tidak cukup selektif dalam mengombinasikan barang yang akan dipesan dalam waktu yang bersamaan. Total biaya dapat dikurangi apabila barang yang permintaan yang rendah dipesan lebih jarang.

 Dengan: S* = Biaya total per pesanan S = Biaya tetap per pesanan (common order cost) = Biaya perpesanan produk merk i = Permintaan dalam unit merk i = Cost per unit merk i h = holding cost per year as a fraction of product cost

Langkah berikutnya adalah mencari optimal ordering frequency. n adalah jumlah order yang dilakukan per tahun. Optimal ordering frequency (n*) dapat meminimalkan total annual cost dan dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut:  Lalu akan memperoleh: Annual order cost Annual holding cost = S*n =       

Total annual cost dapat dicari dengan: Total annual cost =

Permintaan terhadap barang yang dimiliki oleh perusahaan terkadang mengalami ketidakpastian, maka perusahaan harus menghadapi ketidakpastian permintaan yang tiba tiba meningkat. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan safety stock, untuk mencegah terjadinya stock out/ kekurangan barang. Safety stock untuk Q system:

 Maka total annual cost menjadi: Total annual cost =    


 

Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa dengan melakukan proses agregat dapat dihasilkan penghematan biaya yang signifikan dan mengurangi siklus inventori dalam manajemen rantai pasokan. Simple aggregation secara umum lebih baik daripada pemesanan independen untuk setiap produk, apabila biaya pemesanan spesifik produk rendah. Sedangkan complete aggregation lebih baik digunakan ketika biaya pemesanan spesifik produk kecil, sehingga tiap barang akan dimasukkan pada tiap pemesanan. Jadi, kunci untuk melakukan pengurangan biaya persediaan terletak pada jumlah lot size dimana dengan melakukan pengurangan yang terfokus pada fixed cost dari setiap lot yang dipesan. 2.7 Safety Stock dan Reoder Point Tingkat permintaan suatu barang di sebuah perusahaan terkadang mengalami ketidakpastian. Oleh karena itu perusahaan harus menghadapi ketidakpastian permintaan yang tiba tiba meningkat tersebut namun barang barang yang diperlukan tidak tersedia di perusahaan. Salah satu fungsi dari persediaan adalah mengatasi stock out / kekurangan barang, yaitu menerapkan safety stock. Menurut Roberta S. Russell dan Bernard W. Taylor III (2003: 476), Safety stock is a buffer added to the inventory on hard during lead time. Hal serupa dikatakan oleh Heizer dan Render (2011: 477), Safety stock is an extra stock to allow for uneven demand a buffer. Namun menurut Sunil Chopra dan Peter Meindl (2007: 317): Safety stock is inventory carried to satisfy demand that exceeds the amount forecasted for a given period. Safety inventory is carried because demand is uncertain and a product shortage may result if actual demand exceeds the forecast demand.

Jadi safety stock merupakan persediaan tambahan sebagai alat partisipasi jika sewaktu waktu terjadi peningkatan demand yang bervariasi. menggunakan rumus sebagai berikut :   Perhitungan safety stock (ss)

Z merupakan angka distribusi normal dari service level yang diinginkan. Sedangkan

harus dilakukan untuk memasok kembali persediaan dinamakan dengan reorder point.

adalah standar deviasi dari tingkat permintaan selama lead time. Titik dimana pemesanan

Reorder point menurut Heizer dan Render (2011: 476) adalah The inventory level (point) of which action is taken to replenish the stocked item. Dengan menggunakan reorder point sebagai acuan dalam melakukan pemesanan, maka perusahaan masih memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi permintaan selama menunggu persediaan yang dipesan ( lead time). Jumlah permintaan dan waktu antara pemesanan dan penerimaaan barang ( lead time) diasumsikan diketahui dan bersifat konstan. Perhitungan reorder point dapat dicari dengan cara sebagai berikut  merupakan rata rata tingkat permintaan ketika lead time, yang didapat dengan cara mengalikan rata rata tingkat permintaan (D) dengan rata rata lead time (L) 2.8 Peramalan Peramalan atau forecasting adalah suatu upaya untuk memperoleh gambaran mengenai apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dalam hal ini gambaran yang didapat tersebut akan menjadi acuan untuk membuat suatu keputusan. Pada kondisi yang tidak menentu sulit bagi kita untuk menentukan suatu perencanaan yang efektif. Peramalan dapat membantu para pemimpin untuk mengurangi ketidakpastian dalam melakukan perencanaan. Selain itu juga peramalan dapat diartikan sebagai suatu proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan di masa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang atau jasa. Dalam dunia bisnis, peramalan merupakan dasar bagi perencanaan kapasitas, anggaran, perencanaan penjualan, perencanaan produksi dan inventory, perencanaan sumberdaya, perencanaan pembelian atau pengadaan bahan baku, dan sebagainya. Heizer dan Render (2011:107) membagi permalan menjadi beberapa tipe yaitu: a. Economic forecast Merupakan indikator peramalan yang dapat membantu organisasi

mempersiapkan peramalan untuk jangka waktu medium hingga jangka panjang.

b. Technological forecast Merupakan peramalan jangka panjang yang berhubungan dengan tingkat kemajuan teknologi. c. Demand forecast Proyeksi dari penjualan perusahaan untuk setiap periode dalam kurun waktu perencanaan.

Berdasarkan sifatnya, peramalan dibedakan atas dua macam menurut Heizer dan Render (2011:108) yaitu: a. Quantitative forecast Peramalan Kuantitatif adalah peramalan yang didasarkan atas data kuantitatif masa lalu. Hasil peramalan yang dibuat sangat bergantung pada metode yang dipergunakan dalam peramalan tersebut. Baik tidaknya metode yang dipergunakan ditentukan oleh perbedaan atau penyimpangan antara hasil ramalan dengan kenyataan yang terjadi. Semakin penyimpangan antara hasil ramalan dengan kenyataan yang akan terjadi maka semakin baik pula metode yang digunakan b. Qualitative forecast Peramalan Kualitatif adalah peramalan yang didasarkan atas data kualitatif pada masa lalu. Hasil peramalan yang dibuat sangat bergantung pada orang yang menyusunnya. Hal ini penting karena hasil peramalan tersebut ditentukan berdasarkan pemikiran yang instuisi, pendapat dan pengetahuan serta pengalaman penyusunnya.

Dalam menentukan dan memperkirakan jumlah permintaan akan produk yang akan diminta oleh konsumen dimasa yang akan datang maka akan lebih tepat menggunakan teknik peramalan permintaan time series analysis dimana menurut Heizer dan Render (2008:109) peramalan time series analysis adalah A forecasting technique that uses a series of past data points to make a forecast. Dalam metode time series analysis menurut Heizer dan Render (2011:109) metode ini dibagi menjadi beberapa metode yaitu: a) Nave approach

Pendekatan nave merupakan metode peramalan permintaan yang mengasumsikan permintaan produk pada periode berikutnya sama dengan permintaan yang terjadi pada periode saat ini. b) Moving average Moving average adalah metode peramalan rata-rata bergerak sederhana yang dianggap mampu menghilangkan pengaruh fluktuatif random dalam peramalan, dengan formulasi MA: Demand in Previous n Periods / n c) Weighted Moving Average Method (Metode Rata-Rata Tertimbang) Weighted Moving Average Method adalah metode perhitungan yang samarata bergerak sederhana namun diperlukan adanya koefisien penimbang d an digunakan apabila terjadi trend pada pola data masa lalu. Koefisien penimbang berdasarkan pada intuisi dengan besaran: 0 CW1 rumus: Kelemahan-Kelemahan Weighted Moving Average Method adalah Metode Weighted Moving Average tidak dapat dengan mudah berubah tanpa merubah masing-masing angka penimbangnya. Peningkatan dalam pembuatan ramalan kurang sensitif dengan perubahan. Tidak dapat melakukan trend peramalan dengan baik. perlakuan data berdasarkan historis Menurut Heizer dan Render (2008:112) rumus dari metode weighted moving average adalah: WMA =      

d) Exponential smoothing Metode Exponential Smoothing Method merupakan metode rata-rata bergerak yang memberikan bobot yang lebih kuat pada data yang lebih terakhir dari pada data yang lebih awal. Adapun rumus exponential smoothing menurut Heizer dan Render (2008:114) adalah Ft = Ft-1 + (At-1 Ft-1) Dimana: Ft = Peramalan baru

Ft-1

= Periode peramalan sebelumnya = Smoothing (or weighting) constant (0 1)

At-1 = Periode permintaan nyata yang sebelumnya