P. 1
Portofolio Obs Dyspneu ec Susp Ca Paru +Syok Septik + Susp TB paru

Portofolio Obs Dyspneu ec Susp Ca Paru +Syok Septik + Susp TB paru

|Views: 355|Likes:
Dipublikasikan oleh Handre Putra

More info:

Published by: Handre Putra on Jan 08, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/21/2014

pdf

text

original

Borang Portofolio

No ID dan Nama Peserta Nama Wahana Topik Tanggal (Kasus) Nama Pasien Tanggal Presentasi Nama Pendamping Tempat Presentasi Objektif Presentasi

: 13.1.1.100.1.11.122576 / dr. Handre Putra : RSUD Lubuk Basung : Syok Sepsis : 20 Agustus 2011 : Ny. A : 14 September 2011 : dr. Valencia : Aula Komite Medik RSUD Lubuk Basung : Keilmuan Diagnostik Keterampilan Manajemen Dewasa No Registrasi IGD : 386

Deskripsi

: Seorang wanita, 53 tahun masuk IGD RSUD Lubuk Basung Padang dengan keluhan sesak nafas yang semakin meningkat sejak 5 hari yang lalu. Sesak ini sudah dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu. Sesak nafas tidak berbunyi menciut, sesak nafas tidak dipengaruhi oleh cuaca, aktivitas, suhu,

lingkungan, makanan ataupun emosi. Riwayat demam yang hilang timbul terutama pada sore dan malam hari (+). Riwayat batuk (+) sejak ± 1 bulan yang lalu, dahak (+), batuk berdarah (-). Riwayat penurunan berat badan (+) dalam 6 bulan terakhir ± 10 kg. Riwayat penurunan nafsu makan sejak 6 bulan yang lalu (+). Riwayat nyeri pada ulu hati (-).

Riwayat sering merasakan perut tidak nyaman dan riwayat begah disangkal. Riwayat nyeri-nyeri pada tulang disangkal. Mual, muntah (-). Riwayat BAK warna dan frekuensi biasa. Riwayat BAB hitam disangkal. Riwayat minum obat selama 6 bulan disangkal. Riwayat kontak dengan penderita batuk lama disangkal Tujuan : Mendiagnosis dan memberikan penatalaksanaan awal yang tepat pada pasien gagal nafas. Bahan Bahasan Cara Membahas Data Pasien : Kasus : Presentasi dan diskusi : Nama Umur : Ny. A : 55 tahun

No. Registrasi IGD : 386 Tempat Data Utama Untuk Bahan Diskusi 1. Diagnosis : Gagal nafas e.c Susp. Ca Paru + Susp. TB Paru 2. Gambaran Klinis : Sesak nafas yang semakin meningkat sejak 5 hari yang lalu. Sesak ini sudah dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu. Sesak nafas tidak berbunyi menciut, sesak nafas tidak dipengaruhi oleh cuaca, aktivitas, suhu, lingkungan, makanan ataupun emosi. Riwayat demam yang hilang timbul terutama pada sore dan malam hari (+). Riwayat batuk (+) sejak ± 1 bulan yang lalu, dahak (+), batuk berdarah (-). Riwayat penurunan berat badan (+) dalam 6 bulan terakhir ± 10 kg. Riwayat penurunan nafsu makan sejak 6 bulan yang lalu (+). Riwayat nyeri pada ulu hati (-). Riwayat sering merasakan perut tidak nyaman dan riwayat begah disangkal. Riwayat nyeri-nyeri pada tulang disangkal. Riwayat mual, muntah (-). : IGD RSUD Lubuk Basung

-

Riwayat minum obat selama 6 bulan disangkal Riwayat kontak dengan penderita batuk lama disangkal Riwayat BAK warna dan frekuensi biasa. Riwayat BAB hitam disangkal.

3. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat pernah menderita tumor di tempat lain disangkal Riwayat penyakit jantung, DM, hipertensi (-)

4. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit seperti ini Riwayat anggota keluarga menderita sakit tumor disangkal

5. Riwayat Pekerjaan, Kebiasaan : Pasien adalah seorang petani Riwayat merokok (+), lamanya ± 10 tahun, ½ bungkus perhari

Pemeriksaan Fisik : Vital Sign : Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Nafas Suhu Status Generalis : Kepala Mata Leher Thorax : Cor : Bentuk normal, rambut hitam, tidak mudah dicabut. : Konjungtiva anemis (-), Sklera ikterik (-) : JVP 5-2 cmH2 O : I : Ictus tidak terlihat Pa : Ictus teraba 1 jari medial LMCS RIC V : Buruk : Compos mentis : 100/60 mmHg : halus : 40 x/menit : 34,3 o C

Pe : Batas jantung dalam batas normal Au : Irama regular, Murni, Bising jantung (-) Pulmo : I : Hemithorak dextra tertinggal dari sinistra Pa : fremitus sukar dilakukan Pe : Sonor pada hemithorak sinistra, sonor pada hemithorak dextra setinggi RIC V ke atas, pekak pada RIC V ke bawah Au : Hemithorak sinistra Vesikuler, Rhonki kasar (+) pada

bagian basal paru, Wheezing -/Hemithorak dextra RIC V ke atas, vesikuler, Rh -/-,

wh -/-. RIC V ke bawah, SN (-) Abdomen : I : distensi (-) Au : BU (+) N Pa : NT epigastrium (-), Hepar Lien tidak teraba Pe : Timpani Ekstremitas Laboratorium : 10.45 : Darah : Hb Leukosit Eritrosit Ht Trombosit CT BT : 11,2 gr/dl : 23.000/mm3 : 3.800.000/mm3 : 36 % : 601.000/mm3 : 3 menit : 1 menit 30 detik GDR U/Cr Bil. Total Bil. Direct Bil. Indirect SGOT SGPT : 138 mg/dl : 37,27/1,82 : 4,1 : 3,15 :0,95 : 195 : 147 : Akral dingin, refilling kapiler < 2´, edema -/-

EKG : irama sinus takikardi Ro Thorax : tampak gambaran bayangan opaque pada paru kanan bawah dan gambaran infiltrate pada paru kiri,

Diagnosis : Observasi dyspneu e.c Susp. Ca Paru + Syok Sepsis + Susp. TB Paru Penatalaksanaan : Awal (20 Agustus 2011, 10.45) Elevasi kepala 30o O2 5 L/¶ Terpasang kateter IVFD RL tetesan cepat (awalnya 250 cc RL, kemudian tekanan darah drop dilanjutkan dengan guyur sampai 2 L, tidak sampai guyur 2 L, pasien menunjukkan perubahan fluktuasi tekanan darah mulai dari 100/60 60/pulse 40/pulse 80/pulse

tidak teraba. Pasien menunjukkan tanda terminal (pupil

midriasis, nadi (-), nafas (-). Pasien akan di RKP, tapi keluarga pasien menolak untuk di RKP karena keluarga pasien sudah ikhlas. 20 Agustus 2011, 11.09 Pasien apneu, TD tidak teraba, pupil dilatasi maksimal, EKG flattening, pasien dinyatakan meninggal di depan keluarga dan petugas medis lainnya. Rangkuman Hasil pembelajaran Portofolio 1. Subjektif Seorang pasien wanita, 53 tahun masuk IGD RSUD Lubuk Basung Padang dengan keluhan sesak nafas yang semakin meningkat sejak 5 hari yang lalu. Sesak ini sudah dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu. Sesak nafas tidak berbunyi menciut, sesak nafas tidak dipengaruhi oleh cuaca, aktivitas, suhu, lingkungan, makanan ataupun emosi. Riwayat demam yang hilang timbul terutama pada sore dan malam hari (+). Riwayat batuk (+) sejak ± 1 bulan yang lalu, dahak (+), batuk berdarah (-). Riwayat penurunan berat badan (+) dalam 6 bulan terakhir ± 10 kg. Riwayat penurunan nafsu makan sejak 6 bulan yang lalu (+). Riwayat nyeri pada ulu hati (-). Riwayat sering merasakan perut tidak nyaman dan riwayat begah disangkal. Riwayat nyeri-nyeri pada tulang disangkal. Mual, muntah (-). Riwayat BAK warna dan frekuensi biasa. Riwayat BAB hitam disangkal. Riwayat minum obat selama 6 bulan disangkal. Riwayat kontak dengan penderita batuk lama disangkal

2. Objektif Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik pada saat masuk sangat mendukung diagnosis Observasi dyspneu e.c Susp. Ca Paru + Syok Sepsis + Susp. TB Paru Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan : Gejala klinis : adanya keluhan sesak nafas yang semakin lama semakin meningkat, yang tidak berbunyi menciut, tidak dipengaruhi oleh aktivitas, suhu, lingkungan, makanan ataupun emosi. Sesak yang disebabkan oleh kelainan jantung dan asma dapat disingkirkan. Kemungkinan sesak pada pasien ini dapat disebabkan oleh infeksi pada paru, tumor paru, ataupun sepsis. Adanya riwayat batuk ± 1 bulan yang lalu, demam subfebril, penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan menunjukkan kearah TB paru dan keganasan paru.

-

Pemeriksaan fisik : adanya keadaan umum yang jelek, nadi halus, dispneu, suhu tubuh 34,3 oC. Pada pemeriksaan pulmo, ditemukan inspeksi : Hemithorak dextra tertinggal dari sinistra, perkusi : Sonor pada hemithorak sinistra, sonor pada hemithorak dextra setinggi RIC V ke atas, pekak pada RIC V ke bawah dan auskultasi : Hemithorak sinistra Vesikuler, Rhonki kasar (+) pada bagian basal RIC V ke atas, vesikuler, Rh -/-, wh -/-

paru, Wheezing -/-, Hemithorak dextra RIC V ke bawah, SN (-)

3. Asssesment

Syok Sepsis
A. Definisi Sepsis adalah suatu sindroma klinik yang terjadi oleh karena adanya respon tubuh yang berlebihan terhadap rangsangan produk mikroorganisme. Ditandai dengan panas, takikardia, takipnea, hipotensi dan disfungsi organ berhubungan dengan gangguan sirkulasi darah. Sepsis sindroma klinik yang ditandai dengan: y y y y y  Derajat Sepsis 1 Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), ditandai dengan .2 gejala sebagai berikut: a. Hyperthermia/hypothermia (>38,3°C; <35,6°C) b. Tachypneu (resp >20/menit) c. Tachycardia (pulse >100/menit) d. Leukocytosis >12.000/mm atau Leukopenia <4.000/mm e. 10% >cell imature 2. Sepsis Ringan : Infeksi disertai SIRS 3. Sepsis Berat : Sepsis yang disertai MODS/MOF, hipotensi, oligouri bahkan anuria. Hyperthermia/hypothermia (>38°C; <35,6°C) Tachypneu (respiratory rate >20/menit) Tachycardia (pulse >100/menit) 10% >cell imature Suspected infection Biomarker sepsis (CCM 2003) adalah prokalsitonin (PcT); Creactive Protein (CrP).

4. Sepsis dengan hipotensi : Sepsis dengan hipotensi (tekanan sistolik <90 mmHg atau penurunan tekanan sistolik >40 mmHg). 5. Syok septik Syok septik adalah subset dari sepsis berat, yang didefinisikan sebagai hipotensi yang diinduksi sepsis dan menetap kendati telah mendapat resusitasi cairan, dan disertai hipoperfusi jaringan.

Perbedaan Sindroma Sepsis dan Syok Sepsis Sindroma sepsis Takipneu, respirasi 20x/m Takikardi 90x/m Hipertermi 38 C Hipotermi 35,6 C Hipoksemia Peningkatan laktat plasma Oliguria, Urine 0,5 cc/kgBB dalam 1 jam Syok Sepsis Sindroma sepsis ditambah dengan gejala: Hipotensi 90 mmHg Tensi menurun sampai 40 mmHg dari baseline dalam waktu 1 jam Membaik dengan pemberian cairan danpenyakit shock hipovolemik, infark miokard dan emboli pulmonal sudah disingkirkan

B. Epidemiologi Dalam kurun waktu 23 tahun yang lalu bakterimia karena infeksi bakteri gram negatif di AS yaitu antara 100.000-300.000 kasus pertahun, tetapi sekarang insiden ini meningkat antara 300.000-500.000 kasus pertahun (Bone 1987, Root 1991). Shock akibat sepsis terjadi karena adanya respon sistemik pada infeksi yang seirus. Walaupun insiden shock sepsis ini tak diketahui namun dalam beberapa tahun terakhir ini cukup tinggi Hal ini disebabkan cukup banyak faktor predisposisi untuk terjadinya sepsis antara lain diabetes melitus, sirhosis hati, alkoholisme, leukemia, limfoma, keganasan, obat sitotoksis dan imunosupresan, nutrisi parenteral dan sonde, infeksi traktus urinarius dan gastrointestinal. Di AS syok sepsis adalah penyebab kematian yang sering di ruang ICU.

C. Etiologi

Infeksi dapat disebabkan oleh virus, bakteri, fungi atau riketsia. Respon sistemik dapat disebabkan oleh mikroorganisme penyebab yang beredar dalam darah atau hanya disebabkan produk toksik dari mikroorganisme atau produk reaksi radang yang berasal dari infeksi lokal. Umumnya disebabkan kuman gram negatif. Insidensnya meningkat, antara lain karena pemberian antibiotik yang berlebihan, meningkatnya penggunaan obat sitotoksik dan imunosupresif, meningkatnya frekuensi penggunaan alat-alat invasive seperti kateter intravaskuler, meningkatnya jumlah penyakit rentan infeksi yang dapat hidup lama, serta meningkatnya infeksi yang disebabkan organisme yang resisten terhadap antibiotic.

D. Patofisologi Baik bakteri gram positif maupun gram negatif dapat menimbulkan sepsis. Pada bakteri gram negatif yang berperan adalah lipopolisakarida (LPS). Suatu protein di dalam plasma, dikenal dengan LBP (Lipopolysacharide binding protein) yang disintesis oleh hepatosit, diketahui berperan penting dalam metabolisme LPS. LPS masuk ke dalam sirkulasi, sebagian akan diikat oleh faktor inhibitor dalam serum seperti lipoprotein, kilomikron sehingga LPS akan dimetabolisme. Sebagian LPS akan berikatan dengan LBP sehingga mempercepat ikatan dengan CD14. Kompleks CD14-LPS menyebabkan transduksi sinyal intraseluler melalui nuklear factor kappaB (NFkB), tyrosin kinase (TK), protein kinase C (PKC), suatu faktor transkripsi yang menyebabkan diproduksinya RNA sitokin oleh sel. Kompleks LPSCD14 terlarut juga akan menyebabkan aktivasi intrasel melalui toll like receptor-2 (TLR2). Pada bakteri gram positif, komponen dinding sel bakteri berupa Lipoteichoic acid (LTA) dan peptidoglikan (PG) merupakan induktor sitokin. Bakteri gram positif menyebabkan sepsis melalui 2 mekanisme: eksotoksin sebagai superantigen dan komponen dinding sel yang menstimulasi imun. Superantigen berikatan dengan molekul MHC kelas II dari antigen presenting cells dan V -chains dari reseptor sel T, kemudian akan mengaktivasi sel T dalam jumlah besar untuk memproduksi sitokin proinflamasi yang berlebih.

Peran sitokin pada sepsis Mediator inflamasi merupakan mekanisme pertahanan pejamu terhadap infeksi dan invasi mikroorganisme. Pada sepsis terjadi pelepasan dan aktivasi mediator inflamasi yang berlebih, yang mencakup sitokin yang bekerja lokal maupun sistemik, aktivasi netrofil, monosit, makrofag, sel endotel, trombosit dan sel lainnya, aktivasi kaskade protein plasma seperti komplemen, pelepasan proteinase dan mediator lipid, oksigen dan nitrogen radikal. Selain mediator proinflamasi, dilepaskan juga mediator antiinflamasi seperti sitokin antiinflamasi,

reseptor sitokin terlarut, protein fase akut, inhibitor proteinase dan berbagai hormon (Widodo, 2004). Pada sepsis berbagai sitokin ikut berperan dalam proses inflamasi, yang terpenting adalah TNF- , IL-1, IL-6, IL-8, IL-12 sebagai sitokin proinflamasi dan IL-10 sebagai antiinflamasi. Pengaruh TNFdan IL-1 pada endotel menyebabkan permeabilitas endotel meningkat,

ekspresi TF, penurunan regulasi trombomodulin sehingga meningkatkan efek prokoagulan, ekspresi molekul adhesi (ICAM-1, ELAM, V-CAM1, PDGF, hematopoetic growth factor, uPA, PAI-1, PGE2 dan PGI2, pembentukan NO, endothelin-1.1 TNF- , IL-1, IL-6, IL-8 yang merupakan mediator primer akan merangsang pelepasan mediator sekunder seperti prostaglandin E2 (PGE2), tromboxan A2 (TXA2 ), Platelet Activating Factor (PAF), peptida vasoaktif seperti bradikinin dan angiotensin, intestinal vasoaktif peptida seperti histamin dan serotonin di samping zat-zat lain yang dilepaskan yang berasal dari sistem komplemen. Awal sepsis dikarakteristikkan dengan peningkatan mediator inflamasi, tetapi pada sepsis berat pergeseran ke keadaan immunosupresi antiinflamasi.

Peran komplemen pada sepsis Fungsi sistem komplemen: melisiskan sel, bakteri dan virus, opsonisasi, aktivasi respons imun dan inflamasi dan pembersihan kompleks imun dan produk inflamasi dari sirkulasi. Pada sepsis, aktivasi komplemen terjadi terutama melalui jalur alternatif, selain jalur klasik. Potongan fragmen pendek dari komplemen yaitu C3a, C4a dan C5a (anafilatoksin) akan berikatan pada reseptor di sel menimbulkan respons inflamasi berupa: kemotaksis dan adhesi netrofil, stimulasi pembentukan radikal oksigen, ekosanoid, PAF, sitokin, peningkatan permeabilitas kapiler dan ekspresi faktor jaringan

Peran NO pada sepsis NO diproduksi terutama oleh sel endotel berperan dalam mengatur tonus vaskular. Pada sepsis, produksi NO oleh sel endotel meningkat, menyebabkan gangguan hemodinamik berupa hipotensi. NO diketahui juga berkaitan dengan reaksi inflamasi karena dapat meningkatkan produksi sitokin proinflamasi, ekspresi molekul adhesi dan menghambat agregasi trombosit. Peningkatan sintesis NO pada sepsis berkaitan dengan renjatan septik yang tidak responsif dengan vasopresor.

Peran netrofil pada sepsis

Pada keadaan infeksi terjadi aktivasi, migrasi dan ekstravasasi netrofil dengan pengaruh mediator kemotaktik. Pada keadaan sepsis, jumlah netrofil dalam sirkulasi umumnya meningkat, walaupun pada sepsis berat jumlahnya dapat menurun. Netrofil seperti pedang bermata dua pada sepsis. Walaupun netrofil penting dalam mengeradikasi kuman, namun pelepasan berlebihan oksidan dan protease oleh netrofil dipercaya bertanggungjawab terhadap kerusakan organ. Terdapat 2 studi klinis yang menyatakan bahwa menghambat fungsi netrofil untuk mencegah komplikasi sepsis tidak efektif, dan terapi untuk meningkatkan jumlah dan fungsi netrofil pada pasien dengan sepsis juga tidak efektif Infeksi sistemik yang terjadi biasanya karena kuman Gram negatif yang menyebabkan kolaps kardiovaskuler. Endotoksin basil Gram negatif ini menyebabkan vasodilatasi kapiler dan terbukanya hubungan pintas arteriovena perifer. Selain itu, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler. Peningkatan kapasitas vaskuler karena vasodilatasi perifer meyebabkan terjadinya hipovolemia relatif, sedangkan

peningkatan permeabilitas kapiler menyebabkan kehilangan cairan intravaskular ke interstisial yang terlihatsebagai edema. Pada syok sepsis hipoksia, sel yang terjadi tidak disebabkan oleh penurunan perfusi jaringan melainkan karena ketidakmampuan sel untuk menggunakan oksigen karena toksin kuman Berlanjutnya proses inflamasi yang maladaptive akan menhyebabkan gangguan fungsi berbagai organ yang dikenal sebagai disfungsi/gagal organ multiple (MODS/MOF). Proses MOF merupakan kerusakan (injury) pada tingkat seluler (termasuk disfungsi endotel), gangguan perfusi ke organ/jaringan sebagai akibat hipoperfusi, iskemia reperfusi, dan mikrotrombus. Berbagai faktor lain yang ikut berperan adalah terdapatnya faktor humoral dalam sirkulasi (myocardial depressant substance), malnutrisi kalori-protein, translokasi toksin bakteri, gangguan pada eritrosit, dan efek samping dari terapi yang diberikan .

E. Gejala Klinik 1) Fase dini: terjadi deplesi volume, selaput lendir kering, kulit lembab dan kering. 2) Post resusitasi cairan: gambaran klinis syok hiperdinamik: takikardia, nadi keras dengan tekanan nadi melebar, precordium hiperdinamik pada palpasi, dan ekstremitas hangat. 3) Disertai tanda-tanda sepsis. 4) Tanda hipoperfusi: takipnea, oliguria, sianosis, mottling, iskemia jari, perubahan status mental.

Bila ada pasien dengan gejala klinis berupa panas tinggi, menggigil, tampak toksik, takikardia, takipneu, kesadaran menurun dan oliguria harus dicurigai terjadinya sepsis (tersangka sepsis). Pada keadaan sepsis gejala yang nampak adalah gambaran klinis keadaan tersangka sepsis disertai hasil pemeriksaan penunjang berupa lekositosis atau lekopenia,

trombositopenis, granulosit toksik, hitung jenis bergeser ke kiri, CRP (+), LED meningkat dan hasil biakan kuman penyebab dapat (+) atau (-). Kedaan syok sepsis ditandai dengan gambaran klinis sepsis disertai tanda-tanda syok (nadi cepat dan lemah, ekstremitas pucat dan dingin, penurunan produksi urin, dan penurunan tekanan darah). Gejala syok sepsis yang mengalami hipovolemia sukar dibedakan dengan syok hipovolemia (takikardia, vasokonstriksi perifer, produksi urin < 0,5 cc/kgBB/jam, tekanan darah sistolik turun dan menyempitnya tekanan nadi). Pasien-pasien sepsis dengan volume intravaskuler normal atau hampir normal, mempunyai gejala takikardia, kulit hangat, tekanan sistolik hampir normal, dan tekanan nadi yang melebar.

F. Penatalaksanaan Untuk penanganan dan pengobatan sepsis dan syok sepsis diperlukan tindakan yang agresif terhadap penyebab infeksi, hemodinamik, fungsi respirasi. Untuk memperbaiki perfusi dan oksigenasi organ vital. Jika perlu dipasang CVP untuk mengukur secara akurat volume cairan, cardiac output, dan resistensi perifer sehingga dapat dimonitor pemberian cairan dan tekanan darah. Perbaikan sepsis tergantung pada seberapa berat penyakit penyebab. Pasen yang dapat imunosupresan, perbaikan baru terlihat bila dosis imunosypresan diturunkan atau dihentikan. Pada pasen dengan netropeni atau disfungsi netropil mungkin memerlukan transfusi granulosit. Perlu juga diperhatikan adalah penggantian kateter intra vena, kateter Folley. Sedangkan untuk fungsi respirasi perlu dimonitor saturasi oksigen arteri tetap 95% dan jika terjadi respiratory failure perlu dipasang intubasi. Untuk pengobatan shock sepsis perlu diperhatikan obat yang esensial (hemodinamik, antibiotik, vasopressor), kontroversial (kortikosteroid, heparin dan opiat antagonis), masa mendatang (antibodi monoklonal).

Perbaikan hemodinamik. Banyak pasen shock sepsis terjadi penurunan volume intravaskuler, sebagai respon pertama harus diberikan cairan jika terjadi penurunan tekanan darah. Cairan koloid dan

kristaloid tak diberikan. Jika disertai anemia berat perlu transfusi darah dan CVP dipelihara antara 10-12 mmHg. Untuk mencapai cairan yang adekuat pemberian pertama 1 L-1,5 L dalam waktu 1-2 jam. Jika tekanan darah tidak membaik dengan pemberian cairan maka perlu dipertimbangkan pemberian vasopressor seperti dopamin dengan dosis 5-10 ug/kgBB/menit Dopamin diberikan bila sudah tercapai target terapi cairan, yaitu MAP 60mmHg atau tekanan sistolik 90-110 mmHg. Dosis awal adalah 2-5 mg/Kg BB/menit. Bila dosis ini g/

gagal meningkatkan MAP sesuai target, maka dosis dapat di tingkatkan sampai 20

KgBB/menit. Bila masih gagal, dosis dopamine dikembalikan pada 2-5 mg/Kg BB/menit, tetapi di kombinasi dengan levarterenol (noreepinefrin). Bila kombinasi kedua

vasokonstriktor masih gagal, berarti prognosisnya buruk sekali. Dapat juga diganti dengan vasokonstriktor lain (fenilefrin atau epinefrin).

Pemakaian Antibiotik Setelah diagnose sepsis ditegakkan, antibiotik harus segera diberikan, dimana sebelumnya harus dilakukan kultur darah, cairan tubuh, dan eksudat. Pemberian antibiotik tak perlu menunggu hasil kultur. Untuk pemilihan antibiotik diperhatikan dari mana kuman masuk dan dimana lokasi infeksi, dan diberikan terapi kombinasi untuk gram positif dan gram negatif.

Indikasi terapi kombinasi yaitu: 1. Sebagai terapi pertama sebelum hasil kultur diketahui 2. Pasien yang dapat imunosupresan, khususnya dengan netropeni 3. Dibutuhkan efek sinergi obat untuk kuman yang sangat pathogen (pseudomonas aureginosa, enterokokus)

G. Prognosis Keseluruhan angka kematian pada pasien dengan syok septik menurun dan sekarang ratarata 40% (kisaran 10 to 90%, tergantung pada karakteristik pasien). Hasil yang buruk sering mengikuti kegagalan dalam terapi agresif awal (misalnya, dalam waktu 6 jam dari diagnosa dicurigai). Setelah laktat asidosis berat dengan asidosis metabolik decompensated menjadi mapan, terutama dalam hubungannya dengan kegagalan multiorgan, syok septik cenderung ireversibel dan fatal.

Daftar Pustaka

Bakta, I Made. 2006. Gawat Darurat di Bidang Penyakit Dalam. Jakarta : EGC

Mitchell. 2006. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit Ed 7. Jakarta: EGC

Buchori. 2006. Dalam jurnal : Diagnosis Sepsis Menggunakan Procalcitonin.

Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 12, No. 3

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->