Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Esofagitis korosif adalah peradangan di daerah esofagus yang disebabkan oleh luka bakar karena tertelannya zat kimia yang bersifat korosif misalnya asam kuat, basa kuat, dan zat organik. Zat kimia yang tertelan dapat bersifat toksik atau korosif. Zat kimia yang bersifat korosif ini akan menimbulkan gejala keracunan bila telah diserap oleh darah.5,6 Esofagitis korosif mempunyai keluhan gejala atau timbulnya manifestasi klinis sangat tergantung pada jenis zat korosif, konsentrasi zat korosif, jumlah zat korosif, lama kontaknya dengan dinding esofagus, sengaja diminum atau tidak dan dimuntahkan atau tidak. Akibatnya esofagitis korosif ini bisa menimbulkan beberapa keadaan, seperti pada fase akut, fase laten dan fase kronis. Pada fase akut, esofagitis akut mudah dikenali karena berlansung cepat dan biasanya penyebabnya lebih mudah dikenali. Sedangkan pada fase laten dan fase kronis yang membutuhkan waktu yang lebih lama juga lebih sulit dikenali dan biasanya sudah menimbulkan komplikasi. Akibatnya penanganan esofagitis korosif pada fase laten dan kronis juga lebih sulit. 1 1.2 Batasan Masalah Clinical science session ini membahas mengenai definisi, epidemiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan pada esofagitis korosif.
1

1.3 Tujuan Penulisan Mengetahui definisi, epidemiologi, patogenesis, diagnosis dan

penatalaksanaan pada esofagitis korosif. 1.4 Metode Penulisan Clinical science session ini ditulis dengan menggunakan metode tinjauan pustaka yang merujuk dari berbagai literatur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Definisi Esofagitis erosif adalah peradangan pada esofagus yang disebabkan oleh luka bakar karena zat kimia yang bersifat korosif, misalnya asam kuat, basa kuat dan zat organik. 1 2. 2. Epidemiologi Angka kejadian esofagitis korosif tertelan asam kuat, basa kuat, cairan pemutih diperkirakan sekitar 3-5 % dari kasus kecelakaan dan bunuh diri atau sekitar 5.000-10.000 kasus pertahun di Amerika Serikat. Anak di bawah 5 tahun dilaporkan sering tertelan zat yang bersifat korosif akibat ketidaksengajaan dan kelalaian. Sedangkan pada remaja dan dewasa dilaporkan kasus cukup sering pada remaja sebagai percobaan bunuh diri. Tidak ada perbedaan jenis kelamin dan ras yang mempengaruhi terjadinya esofagitis korosif. 5 2. 3. Etiologi-Patogenesis Esofagitis korosif paling sering ditimbulkan oleh tertelannya zat pembersih rumah tangga, biasanya oleh anak-anak. Zat yang paling merusak adalah natrium hidroksida, atau lye, yang menyebabkan lisisnya jaringan serta seringkali menembus dinding esofagus. Cairan pembersih saluran dapat merusak esofagus atau menimbulkan lesi

gastrik yang serupa. Zat tertentu tidak hanya membakar terhadap esofagus tetapi mempunyai akibat sistemik berat, seperti gagal ginjal. 2 Zat yang sering menimbulkan terbakar pada esofagus 2 Pembersih saluran (NaOH) Cairan Plumbum Drano (cairan atau kristal) Pembersih open Easy off Amonia Tablet klinitest Pemutih Fosfat Asam Sulfat Nitrat Fenol Iodine Kalium permanganate

Basa kuat menyebabkan terjadinya nekrosis mencair (liquifactum necrosis). Secara histologik dinding esofagus sampai lapisan otot seolah-olah mencair.1 Asam kuat yang tertelan akan menyebabkan nekrosis menggumpal (coagulation necrosis). Secara histologik dinding esofagus sampai lapisan otot seolah-olah menggumpal.1
4

Zat organik misalnya lisol dan karbol biasanya tidak menyebabkan kelainan yang hebat, hanya terjadi edema di mukosa atau submukosa.1 Asam kuat menyebabkan kerusakan pada lambung lebih berat dibandingkan dengan kerusakan esofagus, sedangkan basa kuat menimbulkan kerusakan di esofagus lebih berat dari pada lambung.1 2.4. Manifestasi Klinis Gejala klinik esofagitis kronik dibagi menjadi 5 bentuk klinis berdasarkan beratnya luka bakar yang ditemukan yaitu: 1
1. Esofagitis korosif tanpa ulserasi

Pasien mengalami gangguan menelan yang ringan. Pada esofagoskopi tampak mukosa yang hiperemis tanpa disertai ulserasi. 1 2. Esofagitis korosif dengan ulserasi ringan Pasien mengeluh disfagia ringan. Pada esofagoskopi tampak ulkus yang tidak dalam yang mengenai mukosa esofagus saja. 1 3. Esofagitis korosif dengan ulserasi sedang Ulkus sudah mengenai lapisan otot. Biasanya ditemukan satu ulkus atau lebih (multipel). 1

4. Esofagitis korosif dengan ulserasi berat tanpa komplikasi

Terdapat pengelupasan mukosa serta nekrosis yang letaknya dalam, dan telah mengenai seluruh lapisan esofagus. Keadaan ini jika dibiarkan akan menimbulkan striktur esofagus. 1 5. Esofagitis korosif ulseratif berat dengan komplikasi Terdapat perforasi esofagus yanag dapat menimbulkan mediastinitis dan peritonitis. Kadang-kadang ditemukan tanda-tanda obstruksi jalan nafas atas dan gangguan keseimbangan asam dan basa. 1

Berdasarkan gejala klinis dan perjalanan penyakitnya esofagitis korosif dibagi dalam 3 fase, yaitu fase akut, fase laten (intermediate), dan fase kronik (obstruktif). 1

FASE AKUT Keadaan ini berlansung 1-3 hari. Pada pemeriksaan fisik ditemukan luka bakar di daerah mulut, bibir, faring dan kadang-kadang disertai perdarahan. 1 Gejala yang ditemukan pada pasien ialah disfagia hebat, odinofagia, serta suhu badan yang meningkat. 1 Gejala klinis akibat tertelan zat organik dapat berupa perasaan terbakar di saluran cerna bagian atas, mual, muntah, erosi pada mukosa, kejang otot, kegagalan sirkulasi, dan pernafasan. 1 FASE LATEN Berlansung selama 2-6 minggu. Pada fase ini keluhan pasien berkurang, suhu badan menurun. Pasien merasa ia telah sembuh, sudah dapat menelan dengan
6

baik akan tetapi prosesnya sebetulnya masih berjalan terus dengan pembentukan jaringan parut (sikatriks). 1 FASE KRONIS Setelah 1-3 tahun akan terjadi disfagia lagi oleh karena telah terbentuk jaringan parut, sehingga terjadi striktur esofagus. 1 2. 5. Diagnosis

2. 5. 1. Anamnesis Berdasarkan anamnesis ditegakkan dengan adanya riwayat tertelan zat korosif atau zat organik, serta ditunjukkan dengan keluhan utama pasien rasa terbakar pada daerah kerongkongan, rasa nyeri yang hebat, serta bisa juga mengeluhkan susah menelan. 1 2. 5. 2. Pemeriksaan Fisik Selain penegakan diagnosis dari autoanamnesis atau alloanamnesis yang cermat serta diperlukan bukti-buki yang diperoleh ditempat kejadian. Masuknya zat korosif melalui mulut dapat diketahui dengan bau mulut ataupun muntahan. Adanya luka bakar keputihan pada mukosa mulut atau keabuan pada bibir dan dagu menunjukkan akibat bahan kaustik atau korosif baik yang bersifat asam kuat maupun basa kuat. Perbedaaan pada dampak luka bakarnya yaitu nekrosis koagulatif akibat paparan asam kuat sedangkan basa kuat mengakibatkan nekrosis likuitaktif. Kerusakan korosif hebat akibat alkali (basa) kuat pada esofagus lebih berat

dibandingkan akibat asam kuat, kerusakan terbesar bila PH > 12, akan tetapi tergantung juga konsentrasi bahan tersebut. 3 2. 5. 3. Pemeriksaan penunjang Untuk menegakkan diagnosis, selain berdasarkan hasil anamnesis serta gambaran keluhan dan gejala seperti yang diuraikan di atas juga diperlukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan laboratorium, radiologik, esofagoskopi.1 Pemeriksaan laboratorium Peranan pemeriksaan laboratorium sangat sedikit, kecuali bila terdapat tandatanda gangguan elektrolit, diperlukan pemeriksaan elektrolit darah. 1 Pemeriksaan radiologik Foto Rontgen toraks postero-anterior dan lateral perlu dilakukan mendeteksi adanya mediastinitis atau aspirasi pneumonia. 1 Pemeriksaan Rontgen esofagus dengan kontras barium (esofagogram) tidak banyak menunjukkan kelainan pada stadium akut. Esofagus mungkin terlihat normal. Jika ada kecurigaan akan adanya perforasi akut esofagus atau lambung serta rupture esofagus akibat trauma tindakan, esofagogram perlu dibuat. Esofagogram perlu dibuat setelah minggu kedua untuk melihat ada tidaknya striktur esofagus dan dapat diulang setelah 2 bulan dievaluasi. 1 Pemeriksaan esofagoskopi

Esofagoskopi diperlukan untuk melihat adanya luka bakar di esofagus. Pada esogoskopi akan tampak mukosa yang hiperemis, edema dan kadang-kadang ditemukan ulkus. 1 2. 6. Diagnosis Banding GERD (Gastro Esophageal Reflux Disease) Refluks Gastro Esofagus (RGE) didefinisikan sebagai aliran retrograde isi lambung ke dalam esofagus. Gejala tipikal atau klasik pada orang dewasa adalah: 1
1. Rasa panas di dada terjadi setelah makan (postprandial heart burn),

didefinisikan sebagai rasa panas substernal di bawah tulang dada, rasa terbakar/panas menjalar ke atas sampai tenggorok atau mulut 1-2 jam setelah makan atau setelah mengangkat berat atau posisi bungkuk.1
2. Regurgitasi isi lambung secara spontan ke esofagus atau mulut.1

2. 7.

Penatalaksanaan Tujuan pemberian terapi pada esofagitis korosif adalah untuk mencegah

pembentukan striktur. 1 Terapi esofagitis korosif dibedakan antara tertelan zat korosif dan zat organik. Terapi esofagitis korosif akibat tertelan zat korosif dibagi dalam fase akut dan fase kronis. Pada fase akut dilakukan perawatan umum dan terapi khusus berupa terapi medic dan esofagoskopi. 1
9

Perawatan umum Perawatan umum dilakukan dengan cara memperbaiki keadaan umum pasien, menjaga keseimbangan elektrolit, serta menjaga jalan nafas. Jika terdapat gangguan keseimbangan elektrolit diberikan infuse aminofusin 600 2 botol, glukosa 10% 2 botol, NaCl 0,9 % + KCl 5 meq/liter 1 botol. 1 Untuk melindungi selaput lender esofagus bila muntah dapat diberikan susu atau putih telur. Jika zat korosif yang tertelan diketahui jenisnya dan terjadi sebelum 6 jam, dapat dilakukan netralisasi (bila zat korosif basa kuat diberi susu atau air, dan bila asam kuat diberi antasida). 1 Terapi medik Antibiotika diberikan selama 2-3 minggu atau 5 hari bebas demam. Biasanya diberikan penisilin dosis tinggi 1-1,2 juta unit/hari.1 Kortikosteroid diberikan untuk mencegah terjadinya pembentukan fibrosis yang berlebihan. Kortikosteroid harus diberikan sejak hari pertama dengan dosis 200300 mg sampai hari ketiga. Setelah itu dosis diturunkan perlahan-lahan tiap 2 hari (tappering off). Dosis yang dipertahankan (maintenance dose) ialah 2x50 mg perhari.1 Analgesik diberikan untuk mengurangi rasa nyeri. Morfin dapat diberikan, jika pasien sangat kesakitan. 1 Esofagoskopi

10

Biasanya dilakukan esofagoskopi pada hari ke tiga setelah kejadian atau bila luka bakar di bibir, mulut, dan faring sudah tenang.1 Jika pada waktu melakukan esofagoskopi ditemukan ulkus, esofagoskop tidak boleh dipaksa melalui ulkus tersebut karena ditakutkan terjadinya perforasi. Pada keadaan demikian sebaiknya dipasang pipa hidung lambung (pipa nasogaster) dengan hati-hati dan terus menerus (dauer) selama 6 minggu. Setelah 6 minggu esofagoskopi diulang kembali. 1 Pada fase kronik biasanya sudah terdapat striktur esofagus. Untuk ini dilakukan dilatasi dengan bantuan esofagoskop. Dilatasi dilakukan sekali seminggu, bila keadaan pasien lebih baik dilakukan sekali 2 minggu, setelah sebulan, sekali 3 bulan, dan demikian seterusnya sampai pasien dapat menelan makanan biasa. Jika selama 3 kali dilatasi hasilnya kurang memuaskan sebaiknya dilakukan reseksi esofagus dan dibuat anastomosis ujung ke ujung (end to end). 1 2. 8. Komplikasi Komplikasi esofagitis korosif dapat berupa syok, koma, edema laring, pneumonia aspirasi, perforasi esofagus, mediastinitis, dan kematian. 1 Komplikasi tersering dari esofagitis korosif adalah mediastinitis dan perforasi esofagus. Mediastinitis terjadi akibat kontaminasi jaringan mediastinum oleh isi dari esofagus yang mengalami perforasi esofagus. Robekan kecil biasanya akan tertutup secara spontan tanpa ada infeksi mediastinum yang signifikan. Perforasi yang lebih serius yang ditandai dengan kebocoran yang terus menerus megakibatkan respon
11

inflamasi dan infeksi pada jaringan di mediastinum. Perlu diketahui bahwa menegakkan diagnosis perforasi esofagus agak sulit karena lambatnya perkembangan gejala yang muncul. 4

12

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 3. 1. Kesimpulan

1. Esofagitis Korosif ialah Peradangan di esofagus yang disebabkan oleh luka bakar karena zat kimia bersifat korosif misalnya asam kuat, basa Kuat,dan zat organik. 2. Zat kimia yang bersifat korosif akan menimbulkan kerusakan pada saluran yang dilaluinya, sedangkan zat kimia yang bersifat toksik hanya menimbulkan gejala keracunan bila telah diserap oleh darah. 3. Penyebab dari esofagitis korosif adalah asam kuat, basa kuat dan zat organik. 4. Keluhan dan gejala yang timbul akibat tertelan zat korosif tergantung pada jenis zat korosif, konsentrasi zat korosif, jumlah zat korosif, lamanya kontak dengan dinding esofagus, sengaja diminum atau tidak dan dimuntahkan atau tidak.
5. Esofagitis korosif dibagi dalam 5 bentuk klinis berdasarkan beratnya luka

bakar yang ditemukan, yaitu Esofagitis korosif tanpa ulserasi, esofagitis korosif dengan ulserasi ringan, esofagitis korosif dengan ulserasi sedang, esofagitis korosif dengan ulserasi berat tanpa komplikasi, esofagitis korosif dengan ulserasi berat dengan komplikasi.

13

6. Berdasarkan gejala klinis dan perjalanan penyakitnya esofagitis korosif dibagi

dalam 3 fase yaitu fase akut, fase laten (intermediate) dan fase kronik (obstruktif). 7. Diagnosis ditegakkan dari adanya riwayat tertelan zat korosif atau zat organik, gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan esofagoskopi.
8. Terapi esofagitis korosif dibedakan antara tertelan zat korosif dan zat organik.

Terapi esofagitis korosif akibat tertelan zat korosif dibagi dalam fase akut dan fase kronis. Pada fase akut dilakukan perawatan umum dan terapi khusus berupa terapi medik dan esofagoskopi.
9. Penatalaksanaan

esofagitis korosif bertujuan untuk untuk mencegah

pembentukan striktur. 10. Komplikasi esofagitis korosif dapat berupa syok, koma, edema laring, pneumonia aspirasi, perforasi esofagus, mediastinitis, dan kematian. 3. 2. Saran Esofagitis korosif sering terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun dan remaja atau dewasa yang melakukan percobaan bunuh diri. Diagnosis dini perlu segera ditegakkan berdasarkan autoanamnesis atau alloanamnesis yang cermat serta diperlukan bukti-buki yang diperoleh ditempat kejadian. Hal ini bertujuan agar penatalaksanaan segera dapat dilakukan. Penatalaksanaan segera perlu dilakukan

14

untuk menghindari berbagai komplikasi yang tidak diinginkan di kemudian hari. Diharapkan dengan meningkatnya penemuan kasus dini, penanggulangan terhadap penyakit ini dapat diperbaiki, sehingga angka kematian dapat ditekan.

15