Anda di halaman 1dari 7

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

Pendeteksian Manajemen Laba Menggunakan Rumus Modified Jones pada Laporan Keuangan PT Multipolar Corporation Tahun 2004 - 2005

Disusun Oleh: Imanniar Septi Yustriani C1C008049

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI PURWOKERTO 2011

PENDAHULUAN

Salah satu informasi penting bagi public dalam laporan keuangan perusahaan adalah informasi mengenai laba perusahaan. Informasi laba ini dapat membantu pemilik maupun pihak lain dalam menaksir resiko atas investasi dan kredit yang mereka tanamkan pada perusahaan. Bagi pemilik saham atau investor, laba berarti peningkatan nilai ekonomis (wealth) yang akan diterima melalui pembagian dividen. Laba juga digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja manajemen perusahaan selama periode terkait terutama untuk menaksir kinerja dan pertanggungjawaban manajemen dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka, serta dapat dipergunakan untuk memperkirakan prospeknya di masa depan (Vidiyanto, 2009) dalam Nadia (2010). Adanya pemisahan kepemilikan dan pengelolaan perusahaan mengakibatkan adanya benturan kepentingan antara principal (investor/kreditur) dengan pihak agen (manajemen) yang dalam agency theory dikenal dengan sebutan agency conflict. Adanya perbedaan keinginan, motivasi dan utilitas yang tidak sama antara agen dan principal dapat mendorong manajemen untuk melakukan perilaku menyimpang (dysfungtional behavior), yang salah satu bentuknya adalah manajemen laba (earnings management). Scott (2000: 351) dalam Heri (2009) mendefinisikan manajemen laba sebagai berikut: Given that managers choose accounting policies form a set (for example, GAAP), it is natural to expected that they will choose policies so as to maximize their own utility and/or the market value of the firm. Pernyataan tersebut jika diterjemahkan secara bebas memiliki arti bahwa standar akuntansi yang ada (missal GAAP, PABU) memungkinkan manajer untuk memilih kebijakan kebijakan yang dapat memaksimalkan utilitas mereka dan/atau nilai pasar perusahaannya. Scott (1997) dalam Heri (2009) juga membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak hutang, dan political cost (opportunistic earnings management). Kedua dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting (efficient earnings management) dimana manajemen laba memberikan suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak terduga untuk kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar perusahaannya melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu.

Scott (2000) dalam Putri (2009) menyatakan bahwa earnings management dapat dilakukan dengan empat bentuk yaitu: a. Taking a Bath b. Income Minimization c. Income Maximization d. Income Smoothing Menurut Scott (1997: 298) dalam Heri (2009), terdapat empat cara dalam mengindikasikan ada tidaknya earnings management, antara lain: a. Depresiasi atau Amortisasi b. Peningkatan Piutang Dagang Bersih c. Peningkatan Persediaan d. Penurunan dalam Utang Dagang dan Utang Biaya Menurut Bagnoli dan Watts dalam Wiwik (2005), praktik manajemen laba banyak dilakukan oleh manajemen karena mereka menganggap perusahaan lain juga melakukan hal yang sama. Dengan demikian, kinerja competitor juga dapat menjadi pemicu untuk melakukan manajemen laba karena investor dan kreditur akan melakukan komparasi untuk menentukan perusahaan mana yang mempunyai rating yang baik (favorable). Sedangkan menurut Scott (1997) dalam Heri (2009) terdapat beberapa motivasi manajemen untuk melakukan manajemen laba, yaitu : a. Motivasi Program Bonus (Bonus Plan Motivations) b. Motivasi Politik (Political Motivations) c. Motivasi Perpajakan (Taxation Motivations) d. Motivasi Perubahan CEO (Changes of CEO Motivations) e. Initial Public Offering (IPO) f. Motivasi Perjanjian Utang (Debt Covenants Motivations)

ISI

Nuryaman (2009) menyatakan bahwa manajemen laba adalah suatu kondisi di mana manajemen melakukan intervensi dalam proses penyusunan laporan keuangan bagi pihak eksternal sehingga dapat meratakan, menaikkan, dan menurunkan pelaporan laba. Dechow dkk (1995) dalam Nuryaman (2008) menyatakan bahwa model modified Jones memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mendeteksi manajemen laba. Melalui modified Jones, manajemen laba dapat ditentukan dengan rumus berikut: TAit TAit = NIit - CFOit ................................................................................................... (1) = NDAit + DAit ............................................................................................... (2)
1

TAit/Ait-1 =

(1/Ait-1) +

(Revt/Ait-1) +

(PPEt/Ait-1) +

........................................ (3)

Dengan menggunakan koefisien regresi pada persamaan (3) di atas, maka nilai non discretionary accruals (NDA) dapat diperoleh dengan rumus: NDAit =
1

(1/Ait-1) +

(Revit/Ait-1- Rect/Ait-1) +

(PPEt/Ait-1) ........................... (4)

Selanjutnya nilai discretionary accruals (DA) dapat dihitung sebagai berikut: DAit DAit = TAit/Ait-1 NDAit ........................................................................................ (5) = (TAit/Ait-1) [(
1

(1/Ait-1) +

(Revit/Ait-1 - Rect/Ait-1) +

(PPEt/Ait-1)] .. (6)

Keterangan: TAit NIit CFOit NDAit DAit Revit Rect PPEit Ait-1
it

= Total akrual perusahaan i pada tahun t = Laba bersih (net income) perusahaan i pada tahun t = Kas dari operasi (cash flow from operation) perusahaan i pada tahun t = Non discretionary accrual perusahaan i pada tahun t = Discretionary accrual perusahaan i pada tahun t = Pendapatan perusahaan i pada tahun t dikurangi pendapatan tahun t-1 = Perubahan piutang perusahaan i pada tahun t = Aktiva tetap perusahaan i pada tahun t = Total aktiva perusahaan i pada tahun t-1 = Error term perusahaan i pada tahun t

Berdasarkan isi laporan keuangan PT Multipolar Tbk (terlampir), maka didapatkan data seperti berikut ini: (disajikan dalam jutaan rupiah) Komponen NI CFO Rev Rec PPE A Tahun 2005 7208 41.671 1.462.425 120.744 2.903.183 4.703.222 2004 (1.587) (16.410) 147.349 233.770 1.234.189 1.652.289 Revit = 1.315.076 Rect = 113.026

Dari data diatas,maka perhitungan rumus modified Jones untuk tahun 2005 adalah sebagai berikut: TAit TAit = NIit - CFOit
= 7208

- 41.671

= -34.463

TAit/Ait-1 =

(1/Ait-1) +

(Revt/Ait-1) +

(PPEt/Ait-1) +

= 2,55

NDAit

= = =

(1/Ait-1) +

(Revit/Ait-1- Rect/Ait-1) +

(PPEt/Ait-1)

= 2,485

DAit

= (TAit/Ait-1) [(

(1/Ait-1) +

(Revit/Ait-1 - Rect/Ait-1) +

(PPEt/Ait-1)]

KESIMPULAN DAN PENUTUP Berdasarkan hasil perhitungan rumus modified Jones, terlihat bahwa total akrual perusahaan pada tahun 2005 sebesar Rp -34.443, dengan nilai discretionary accrual sebesar 0,065. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa PT Multipolar Tbk melakukan manajemen laba, yaitu dengan menaikkan laba bersihnya sebesar 0,065%.

DAFTAR PUSTAKA

Heri Vidiyanto. 2009. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Biaya Modal Ekuitas Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Universitas Muhamadiyah Surakarta. Nadia Sriherdiati. 2010. Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Cost of Equity Capital dengan Manajemen Laba sebagai Variabel Intervening. Skripsi. Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Nuryaman. 2008. Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan Mekanisme Corporate Governance terhadap Manajemen Laba. Simposium Nasional Akuntansi XI. Pontianak. Putri Arnida Sari. 2009. Pengaruh Corporate Governance Mechanism terhadap Cost of Equity Capital. Skripsi. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Wiwik Utami. 2005. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Biaya Modal Ekuitas (Studi pada Perusahaan Manufaktur). Simposium Nasional Akuntansi VIII. 15-16 September: 100 116) Solo.

www.idx.co.id. Diakses pada tanggal 1 Juni 2011