Anda di halaman 1dari 9

SUMBER POKOK PENGETAHUAN (EPISTIMOLOGI) Sumber Pokok Pengetahuan Pengetahuan manusia adalah titik tolak kemajuan filsafat, jika

sumber-sumber pemikiran manusia, kriteria-kriteria, dan nilai-nilainya tidak ditetapkan, maka tidak mungkin melakukan studi apapun. Pengetahuan (persepsi) terbagi menjadi dua : 1. Konsepsi atau pengetahuan sederhana, pengetahuan tanpa penilaian; 2. Tashdiq (assent atau pembenaran), yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian.

Konsepsi dan sumber pokoknya a. Pengertian-pengertian konseptual sederhana dan konsepsi-konsepsi tunggal lain manusia; b. Pengertian-pengertian majemuk, yakni konsepsi yang merupakan hasil kombinasi antara konsepsi-konsepsi sederhana.

1. Teori Plato tentang pengingatan kembali (abad ke-5 SM) Berpendapat bahwa pengetahuan adalah fungsi mengingat kembali informasiinformasi yang telah terlebih dahulu diperoleh. Konsepsi-konsepsi umum mendahului penginderaan. Penginderaan tidak akan terlaksana kecuali dengan proses melacak dan mengingat kembali. berkaitan dengan realitas-realitas universal abstrak. Teori ini berdasarkan pada dua proposisi : (1) Bahwa jiwa sudah ada sebelum adanya badan di alam yang lebih tinggi dari pada alam materi; (2) Bahwa pengetahuan rasional tidak lain adalah pengetahuan tentang realitasrealitas yang tetap di alam yang lebih tinggi (archetypes). Aristoteles (abad ke-4 SM)

Konsep-konsep inderawi itu sama dengan konsep-konsep universal yang diketahui oleh pikiran sesudah mengabstraksikan karakteristik-karakteristik individualnya dan menyisakan gagasan umumnya. 2. Teori Rasional (Descartes 1596-1650; dan Imanuel Kant 1724-1804) Adanya sumber bagi konsepsi : (1) Penginderaan (sensasi); (2) Fithrah, yakni bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan konsepsikonsepsi yang tidak muncul dari indera, tetapi sudah ada dalam lubuk fithrah. Indera menurut teori tersebut, adalah sumber pemahaman terhadap konsepsi-konsepsi dan gagasan- gagasan sederhana. Teori ini dibantah oleh john Locke (1632-1704), Berkeley (1684-1753) dan David Hume (1711-1776), dengan dua cara, yakni : (1) Menganalisis pengetahuan; (2) Metode folosofis untuk menolak konsepsi-konsepsi fitri. Penafsiran lain tentang teori rasionalisme, adalah bahwa gagasan-gagasan fitri itu ada dalam jiwa secara potensial, konsepsi-konsepsi fitri bukan bersumber dari indera, tetapi terkandung oleh jiwa tanpa disadarinya. 3. Teori Empirikal Penginderaan adalah satu-satunya yang membekali akal manusia dengan konsepsikonsepsi dan gagasan-gagasan. John Locke Marxisme mengembalikan segala konsepsi dan ide kepada indera. kesadaran manusia sebagai cerminan realitas objektif. Setiap

pengetahuan dapat dinisbahkan kepada cerminan realitas tertentu. Georges Politzer (1903-1942) pada kebutuhan alaminya. Mao Tse Tung (1893-1976) sumber segala pengetahuan itu tersembunyi dalam sumber penginderaan terhadap manusia berakar

penginderaan oleh organ-organ penginderaan dalam jasmani manusia terhadap alam objektif yang mengelilinginya : adanya hubungan primer dengan lingkungan luar (penginderaan); dan akumulasi (pengurutan dan pengorganisasian semua pengetahuan yang telah kita dapatkan dari persepsi-persepsi inderawi).

Teori emprikal berdasarkan atas eksprementasi. Eksperimen ilmiah menunjukkan bahwa indera adalah yang memberikan persepsi-persepsi yang menghasilkan konsepsi-konsepsi manusia. Indera adalah struktur pokok yang diatasnya konsepsi manusia dibangun. Teori ini terdapat kegagalan, bila dilihat dari persepsi : Kausalitas mempersepsi hubungan tertentu antara keduanya, yakni pengaruh satu

gejala terhadap gejala lainnya dan kebutuhan gejala terakhir itu akan gejala pertama agar ia maujud. Konsepsi kausalitas bukanlah terdiri dari konsepsi-konsepsi mengenai dua hal yang saling beriringan. David Hume, kausalitas dalam arti yang sebenarnya tidak mungkin diketahui oleh indera. Maka Ia mengingkari teori kausalitas. 4. Teori Disposisi Adanya pembagian konsepsi-konsepsi primer dan sekunder : a. Konsepsi-konsepsi Primer dasar konseptual bagi akal manusia. Ini lahir dari

persepsi inderawi secara langsung terhadap kandungan-kandungannya. b. Konsepsi-konsepsi sekunder konseptual turunan dari konsepsi primer.

Teori ini dapat memahami konsep sebab akibat, substansi dan aksiden, wujud dan unitas muncul dalam akal manusia. (konsep terdisposesi) yangdiciptakan akal berdasarkan ide-ide terinderai. Konsepsi dan Sumber Pokoknya pokok (primer) sumber hakiki bagi konsepsi atau pengetahuan-pengetahuan

sederhana, terdiri dari : (1) Pengertian-pengertian konseptual sederhana, dan konsepsi-konsepsi tunggal lain manusia; (2) Pengertian-pengertian majemuk, yakni hasil kombinasi antara konsepsi-konsepsi sederhana.

Tashdiq dan Sumber pokoknya

Tashdiq

pengetahuan sebagai pembenaran (assent) yang melibatkan penilaian

(judgment) yang berdasarkan realitas objektif partikular.

1. Doktrin Rasional Pengetahuan manusia dibagi menjadi : (1) Pengetahuan yang mesti (intuitif) akal harus mengakui suatu proposisi

tertentu tanpa mencari dalil atau bukti kebenarannya; (2) Informasi dan pengetahuan teoritis bergantung pada proses pemikiran dan

penggalian kebenaran dari kebenaran-kebenaran yang lebih dahulu dan lebih pasti darinya. Pengetahuan-pengetahuan teoretis harus bersandarkan pada pengetahuan-

pengetahuan primer yang mesti. Doktrin rasional menjelaskan bahwa landasan pengetahuan adalah informasi primer, diatas itu berdirilah bangunan-bangunan pikiran manusia (informasi sekunder). Berpikir ialah usaha akal untuk mencari pembenaran (kebenaran) baru atau pengetahuan baru dari pengetahuan-pengetahuan sebelumnya, proses berpikir diawali dengan mengamati pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Pikiran dapat membuat hubungan antara asal dan materi (gerak materi), yang membuat kita yakin bahwa materi memiliki asal. Doktrin rasional percaya bahwa hubungan kausal dalam pengetahuan manusia adalah antara satu informasi dengan informasi lainnya. Pengetahuan primer dianggap sebagai sebab pertama pengetahuan, yang terdiri dari : (1) Kondisi pokok setiap pengetahuan manusia pada umumnya (prinsip nonkontradiksi); (2) Sebab bagi sebagian informasi.

Doktrin rasional yakin bahwa eksperimen semata-mata tak mampu melaksanakan peran penting. Sebab, dalam menarik kesimpulan ilmiah apapun, eksperimen membutuhkan aplikasi kaidah-kaidah rasional. Doktrin rasional dapat memecahkan problem pembenaran (justifikasi)

pengetahuan dan membuat kriteria dan prinsip-prinsip primer pengetahuan (terkandung dalam jiwa manusia itu sendiri) 2. Doktrin Empirikal Pengalaman adalah sumber pertama semua pengetahuan manusia, tidak mengakui adanya pengetahuan rasional yang mendahului pengalaman. Manusia tidak memiliki penilaian yang pengukuhannya terlepas dari asional yang tidak tunduk kepada eksperimen, hal tersebut menimbulkan, antara lain : (1) Pembatasan daya pikir manusia oleh batas-batas wilayah empirikal; (2) Berpikir itu dari yang khusus ke yang umum. Maka dalam mencari dalil dan berpikir bersandar pada metode induktif, karena induksi adalah metode yang bergerak dari yang parikular ke yang universal. Doktrin empirikal menolak prinsip penalaran silogistik, karena silogistik dalam kesimpulannya tidak mendatangkan pengetahuan baru. Satu-satunya sandaran untuk menetapkan adanya materi adalah proposisiproposisi rasional primer. Doktrin empirikal pasti menyebabkan gugurnya prinsip kausalitas dan ketidakmampuan membuktikan hubungan-hubungan yang niscaya antara segala sesuatu. Apabila prinsip kausalitas itu gugur, maka gugur pula semua ilmu alam, karena ilmu-ilmu itu berdasarkan prinsip kausalitas. Teori empirikal dalam ilmu-ilmu alam itu berdasarkan sejumlah pengetahuan, yaitu : (1) Prinsip kausalitas; (2) Prinsip keselarasan antara sebab akibat; (3) Prinsip nonkontradiksi. Jelaslah bahwa pembuatan kesimpulan ilmiah dari eksperimen selamanya bergantung pada penalaran silogistik yang di dalamnya pikiran manusia berangkat dari umum ke khusus, dan dari yang universal ke yang partikular. Marxisme dan Pengalaman
5

Mempertahankan tempat pengalaman, doktrin empirikal dan menganggapnya sebagai kriteria umum bagi pengetahuan manusia. Ia menyatakan bahwa teori tidak mungkin terpisah dari aplikasi, yakni kesatuan teori dan aplikasi. Marxisme memperkuat posisi empirikalnya, yakni bahwa pengalaman indera adalah patokan yang harus diterapkan pada setiap pengetahuan dan teori, dan bahwa tak ada suatu pengetahuan pun yang terpisah dari pengalaman. Pengetahuan empirikal yang didapatkan melalui pengalaman inderawi itu sendiri tidak menghendaki pembentukan gagasan rasional tertentu tentang hal eksternal. Pengetahuan itulah yang memungkinkan kita menyajikan sejumlah teori dan pengertian, serta memperhatikan sejauh mana keselarasan fenomena-fenomena yang tercermin dalam pengalaman-pengalaman dan sensasi-sensasi; teori-teori dan pengertian-pengertian. Satu-satunya mengenai langkah kedua dari pengetahuan yaitu tahap penilaian dan penyimpulan, adalah pernyataan yang menjadi dasar doktrin rasional.

Mengesampingkan setiap pengetahuan yang tidak bergantung pada pengalaman dan menolak pengetahuan rasional pada umumnya merupakan sebab bagi mustahilnya melangkah melampaui tahap pertama pengetahuan, yakni penginderaan dan pengalaman.

Pengalaman Inderawi dan Bangunan Filsafat Doktrin empirikal yang teorinya mengacu pada pengalaman inderawi, mempengaruhi dan membahayakan bangunan filsafat, filsafat yang menggarap eksistensi secara umum tanpa batasan, dan menyelidiki fenomena-fenomena dan prinsip-prinsipnya yang tidak tunduk kepada eksperimen langsung. Filsafat yang menggunakan silogisme sebagai sarana rasional dalam berpikir, sementara ilmu pengetahuan memakai teori empirikal dan bergerak dari yang partikular ke hukum-hukum yang lebih tinggi. Dualitas antara filsafat dan ilmu pengetahuan berkembang, karena adanya perbedaan dalam sarana dan subjek pemikiran. Sedangkan doktrin empirikal mempercayai pengalaman inderawi dan mengingkari metode rasional dalam berpikir, dan menyerang filsafat. Aliran filsafat materialistik modern, yang dipelopori oleh materialisme positivis dan materialisme maxis, menegaskan bahwa keberadaan filsafat yang mandiri yang ditegakkan diatas metode rasional dalam berpikir, dan menyetujui adanya filsafat
6

yang bertumpu pada hasil intelektual sejumlah ilmu pengetahuan dan pengalaman empirikal berdasarkan hasil eksprimen dalam semua lapangan ilmiah. Setiap pengetahuan mempunyai filsafatnya masing-masing.

Aliran positivis dan Filsafat (abad ke-19) Aliran ini lahir dan berkembang di bawah naungan empirisme, menyatakan bahwa suatu proposisi tidak akan menjadi kata-kata yang dapat dipahami, dan pada gilirannya tidak menjadi proposisi yang sempurna dalam arti logika.

Sifat-sifat yang dikaitkan oleh aliran positivis kepada proposisi-proposisi filosofis adalah : (1) Subjek dan kajiannya berada di luar batas-batas eksperimen dan pengalaman manusia; (2) Tidak terdapat perbedaan dalam konsep aktualitas (benar atau salah); (3) Tidak memberikan informasi tentang alam; (4) Maka, tidak dibenarkan untuk melukiskan proposisi filosofis sebagai benar atau salah.

Prof. Ayer (tokoh positivisme logika modern di Inggris) Positivisme bermaksud menyatakan suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan dan tidak dapat dibantah lagi, bahwa subjek-subjek metafisika filosofis bukanlah empirikal. Mengatakan bahwa yang penting adalah kemungkinan logis, bukan kemungkinan aktual. Proposisi yang tidak tunduk kepada pengalaman inderawi tidak dapat disifati benar dan palsu, tetapi dalam bentuk positif atau negatif tentang kesesuaian antara konsep proposisi dalam pikiran.

Marxisme dan Filsafat Marxisme menolak sepenuhnya filsafat, baik dalam pandangan maupun metode berpikirnya adalah empirikal. Marxisme tidak memberikan tempat bagi metafisika dalam pembahasan-pembahasannya. Marxisme memerlukan filsafat ilmiah, yaitu materialisme dialektis.
7

Filsafat marxisme tidak terbatas pada batasan-batasan ilmiah bagi suatu pembahasan, karena filsafat yang muncul dari pengalaman ilmiah, melaksakan fungsinya dalam lapangan ilmiah, dan tidak menyebrang ke lapangan lain. Harus adanya keselarasan hasil-hasil filsafat dengan ilmu-ilmu alam dan partisipasi filsafat dalam perkembangan dan integrasi ilmu pengetahuan, sebagai hasil adanya penekanan pada pengalaman inderawi yang sejalan dengan waktu. Sedangkan dalam doktrin rasional dan kepercayaan, akan adanya pengetahuan terdahulu, filsafat bertumpu pada prinsip-prinsip pokok yang pasti, yaitu kepingan-kepingan pengetahuan rasional terdahulu yang pasti dan yang tidak bergantung pada pengalaman inderawi. Hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan sangat kuat, tetapi keduanya mempunyai perbedaan, yakni filsafat dapat tidak memerlukan premis minor empirik, dan juga tak perlu meminjam material mentah dari pengalaman inderawi, sementara ilmu memerlukan pengalaman empirik yang terorganisasi untuk segenap hukumnya. Maka tidaklah harus bagi kandungan filsafat itu untuk berubah terus menerus mengikuti pengalaman empirikal, dan tidak harus pula bagi keseluruhan filsafat untuk menyertai prosesi ilmu pengetahuan dalam perjalanannya.

~~~~~ *** ~~~~~