Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG Semua organisme besar ataupun kecil, tanaman ataupun binatang termasuk manusia, tergantung pada lingkungan di atas habitatnya. Mereka tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan yang cocok. Lingkungan yang sehat untuk perkembangan beberapa organisme mengikuti kondisi : a. Tempat untuk tumbuh dan berkembang. b. Udara yang segar dan cukup jumlahnya. c. Air untuk transport nutrisi dan pembentuk makanan. d. Garam-garam mineral untuk membangun badan. e. Enersi untuk proses kehidupan. Di dunia ini ada dua habitat, yaitu habitat daratan dan habitat perairan. Yang kita ketahui, karena keadaannya berbeda maka jumlah dan kualitas penghuninya juga berbeda. Lingkungan merupakan kompleks faktor-faktor dan suasana di suatu tempat merupakan hasil kerjasama antara faktor-faktor tersebut. Secara garis besar, faktor-faktor tersebut dibagi dua yaitu faktor biotik dan abiotik. Tetapi secara terperinci faktor-faktor tersebut dibagi menjadi 7 bagian yaitu tanah, air, suhu, cahaya, atmosfir, api, dan biotik.
I.2 TUJUAN

Mengetahui nilai kapasitas lapang suatu jenis tanah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organic (Prayoto, 2010). Sedangkan menurut Rafii (1994), tanah adalah bendayang berwujud padat (solid), cair (liquid), dan gas yang tersusun dari bahan anorganik dan bahan organik yang terdapat dalam tanah. Menurut ahli Geologi, Ilmu alam Murni, dan Pertanian, tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya pertanian sebagai penopang tumbuh tegaknya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan hara ke atas tanaman; secara kimiawi berfungsi sebagai habitat dari organism tanah yang turut berpatisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aktif bagi tanaman (Anonim1, 2007). Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis. Struktur tanah berhubungan dengan cara di mana, partikel pasir, debu dan liat relatif disusun satu sama lain. Di dalam tanah dengan struktur yang baik, partikel pasir dan debu dipegang bersama pada agregat-agregat (gumpalan kecil) oleh liat humus dan kalsium. Ruang kosong yang besar antara agregat (makropori) membentuk sirkulasi air dan udara juga akar tanaman untuk tumbuh ke bawah pada tanah yang lebih dalam. Sedangkan ruangan kosong yang kecil ( mikropori) memegang air untuk kebutuhan tanaman. Idealnya bahwa struktur disebut granular (Utomo, 1982). Tanah dapat ditafsirkan dari beberapa sudut pandang. Pengertian tanah dalam arti sempit merupakan terjemahan dari soil, sedangkan pengertian tanah dalam arti luas merupakan terjemahan dari land (lahan). Dalam pengertian soil dan land ini, maka soil adalah bagian dari land. Tanah pertanian dapat dikatakan sebagai tumbuh dari tumbuhan, sedangkan lahan pertanian meliputi tanah pertanian, air, udara, tumbuhan, dan batuan induk (Beib, 2009). Tekstur dan komposisi kimia tanah merupakan factor utama yang menentukan jrnis tumbuhan. Tumbuhan yang tumbuh secara alamiah pada

jenis tanah tertentu dapat beradaptasi terhadap kandungan mineral dan tekstur tanah tersebut dan mampu menyerap air dan mengekstraksi nutrient esensial dari tanah itu, tanah berasal dari pelapukan batuan padat yang mengalami proses tertentu hingga menghasilkan bunga tanah. Bunga tanah merupakan campuran partikel yang diperoleh dari batu, organism hidup, dan humus, suatu residu bahan organik yang dibusukkan secara bertahap. Tekstur bunga tanah tergantung dari ukuran partikelnya, yang diklasifikasikan dalam suatu rentang dari pasir kasar sampai partikel tanah-liat mikroskopis. Tanah yang paling subur umumnya adalah lempung (loam), yang terbuat dengan jumlah yang hamper berimbang antara pasir, silt (partikel dengan ukuran sedang), dan tanah liat (Campbell, 2003). Pengaruh struktur dan tekstur tanah terhadap pertumbuhan tanaman terjadi secara langsung. Struktur tanah yang remah (ringan) pada umumnya menghasilkan laju pertumbuhan tanaman pakan dan produksi persatuan waktu yang lebih tinggi dibandingkan dengan struktur tanah yang padat. Jumlah dan panjang akar pada tanaman makanan ternak yang tumbuh pada tanah remah umumnya lebih banyak dibandingkan dengan akar tanaman makanan ternak yang tumbuh pada tanah berstruktur berat. Hal ini disebabkan perkembangan akar pada tanah berstruktur ringan/remah lebih cepat per satuan waktu dibandingkan akar tanaman pada tanah kompak, sebagai akibat mudahnya intersepsi akar pada setiap pori-pori tanah yang memang tersedia banyak pada tanah remah. Selain itu akar memiliki kesempatan untuk bernafas secara maksimal pada tanah yang berpori, dibandingkan pada tanah yang padat. Sebaliknya bagi tanaman makanan ternak yang tumbuh pada tanah yang bertekstur halus seperti tanah berlempung tinggi, sulit mengembangkan akarnya karena sulit bagi akar untuk menyebar akibat rendahnya pori-pori tanah. Akar tanaman akan mengalami kesulitan untuk menembus struktur tanah yang padat, sehingga perakaran tidak berkembang dengan baik. Aktivitas akar tanaman dan organisme tanah merupakan salah satu faktor utama pembentuk agregat tanah (Utomo, 1982).

Besarnya partikel tanah relative sangat kecil, diistilahkan dengan tekstur. Tekstur tanah menunjukkan sifat halus atau kasarnya butiran-butiran tanah (RafiI, 1994). Klasifikasi tekstur tanah (Manan, 2009): 1. Pasir Memiliki cirri terasa terasa kasar jika dipegang Berbutir, tidak lengket Mengalirkan air 2. Debu atau endapan Terasa tidak kasar Masih terasa berbutir, agak melekat Dapat dibentuk bola 3. Liat Halus, sangat lekat Dapat dibentuk bola Terasa berat Mudah digulung Tidak porous (sulit menyerap air) Kapasitas lapang adalah presentase kelembaban yang ditahan oleh tanah sesudah terjadinya drainase dan kecepatan gerakan air ke bawah menjadi sangat lambat. Selama air di dalam tanah masih lebih tinggi daripada kapasitas lapang, maka air menjadi tidak mobile. Kapasitas lapang sangat penting karena dapat menunjukkan kandungan maksimum dari tanah dan dapat menentukan jumlah air pengairan yang diperlukan untuk membasahi tanah sampe lapisan dibawahnya. Tergantung dari tekstur lapisan tanahnya, maka untuk menaikkan kelembaban 1 feet tanah kering sampai kapasitas lapang diperlukan air pengairan sebesar 0,5-3 inches (Anonim2, 2010).

BAB III ALAT, BAHAN, DAN FUNGSI 3. 1. Alat-alat Gelas ukur Untuk mengukur volume air yang digunakan. Gunting / cutter Untuk memotong kertas saring. Kertas saring Untuk menahan tanah agar tidak jatuh. Crucible Untuk menyimpan tanah. Timbangan Untuk menimbang crucible. Waskom berisi air Untuk merendam crucible berisi tanah. 3. 2. Bahan-bahan Air Untuk membasahi tanah, sehingga dapat diketahui kemampuan tanah dalam menyerap dan menahan air. Berbagai jenis tanah ( pasir, tanah biasa, tanah liat ) Sebagai medium percobaan.

BAB IV PROSEDUR

1. Crucible yang telah dilapisi kertas saring, kemudian ditimbang (a). 2. Crucible diisi sample tanah (pasir, tanah biasa, dan tanah liat) sampai penuh, kemudian ditimbang (b). 3. Crucible dimasukkan kedalam Waskom berisi air dan dibiarkan air merembes ke tanah sampai jenuh air. 4. Crucible diletakkan di atas Erlenmeyer dan air yang terkandung dalam sampel tanah dihisap dengan vaccum pum sampai air tidak menetes lagi. 5. crucible diangkat kemudian ditimbang (c). 6. hitung kapasitas lapang.

BAB V HASIL

BAB VI PEMBAHASAN Percobaaan kali ini mengenai kapasitas lapang yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan ketiga jenis tanah, yaitu pasir, tanah biasa, dan tanah liat dalam menahan kadar air yang tersimpan didalamnya. Sebagai wadah untuk menampung sample tanah digunakan crucible yang bagian dasarnya dialasi dengan kertas saring. Kertas saring berfungsi selain untuk mencegah jatuhnya tanah lewat lubang crucible, juga berfungsi untuk mengontrol jatuhnya air yang telah diserap oleh pori-pori tanah. Waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing sample tanah untuk menyerap air berbeda-beda, karena masing-masing sample memiliki pori-pori yang berbeda juga, selain itu juga perbedaan tekstur tanah dapat mempengaruhi kemampuan tanah dalam menahan air. Tanah bertekstur kasar cenderung memiliki daya menahan air yang kecil dibandingkan tanah yang bertekstur halus. Begitu juga dengan pori-pori, jumlah pori-pori yang kecil akan menyerap air dalam jumlah kecil juga, sedangkan untuk pori-pori yang besar kemampuan menyerap air juga lebih besar. Perbedaan pori-pori ketiga sample tanah tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi proses pengeluaran air yang tertampung pada partikel tanah. Pori pori yang besar menyebabkan proses pengeluaran air menjadi cepat dan besar, sedangkan pori pori yang kecil menyebabkan proses pengeluaran air menjadi lambat dan kecil, sehingga kapasitas lapangnya menjadi besar. Berdasarkan perhitungan, ketiga tanah sampel menunjukkan hasil atau besar kapasitas lapang yang berbeda beda, yaitu pasir 16,6% tanah biasa 32,4%, dan tanah liat 8,1%. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui kapasitas lapang yang terbesar adalah tanah biasa dan yang terkecil adalah tanah liat. Hal ini berarti bahwa tanah biasa memiliki struktur tanah yang tidak terlalu besar,dan tidak terlalu kecil, serta tekstur yang tidak terlalu kasar dan tidak juga terlalu halus sehingga pori pori tanahnya pun tidak terlalu besar

dan rapat. Sehingga air yang melewatinya tidak langsung lolos begitu saja atau terikat terlalu lama. Pada pasir , pori - pori yang besar akan menyebabkan proses pengeluaran air menjadi besar pula, selain itu karena daya hantar air yang kuat. Jika dilihat dari pori - porinya tanah pasir memiliki tingkat aerasi yang baik, tapi kemampuan dalam menyimpan air dan unsur hara yang ada di dalamnya rendah sehingga kapasitas lapang cenderung memiliki kapasitas lapang yang kecil. Selain itu, bila dilihat dari ukuran partikel dan teksturnya yang kasar, pasir akan cenderung memiliki kemampuan menahan air yang kecil disbanding kedua tanah lainnya. Tetapi dalam hal penyerapan air, tanah pasir dapat melakukan penyerapan air lebih cepat, hal ini disebabkan pori pori tanah pasiryang besar dibanding tanah liat dan tanah biasa sehingga kemampuan menyerap airnya lebih cepat dan lebih mudah. Sedangkan pada tanah liat dan tanah biasa, pori - pori atau ruang antar partikelnya lebih kecil. Tanah biasa yang pori - porinya lebih kecil dari tanah pasir dan lebih besar dari tanah liat mampu menyerap air lebih besar dibanding tanah liat dan mampu menahan air lebih besar daripada tanah pasir.

Daftar Pustaka Anonim1. 2007. Definisi Tanah. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2007/11/definisi-tanah.html. Diakses tanggal 23 Maret 2010. Anonim2. 2010. Kapasitas Lapang. http://fp.uns.ac.id/~hamasainslekotan.6.htm. Diakses tanggal 25 Maret 2010. Manan, A. 2009. Tekstur dan Stuktur tanah. http://lingkungangeografi.blogspot.com/2009/02/tekstur-dan-stukturtanah.html. Diakses tanggal 24 Maret 2010. Prayoto. 2010. Tanah. http://prayoto.com/tanah.html. Diakses tanggal 24 Maret 2010. Rafii. 1994. Ilmu Tanah. Angkasa. Bandung. Utomo, H. 1982. Dasar-Dasar Fisika Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.