Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Istilah filsafat secara etimologi merupakan padanan kata falsafah pancasila di dalam bahasa Arab dan philosophy dalam bahasa inggris, yang berasal dari bahasa yunani philsophia. Kata philosophia merupakan kata majemuk yang tersusun dari kata philos dan philen yang berarti kekasih, sahabat, mencintai dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan, hikmat, kearifan dan pengetahuan. Pancasila sebagai filsafat mengandung pandangan, nilai, dan pemikiran yang dapat menjadi substansi dan isi pembentukan ideologi Pancasila. Filsafat Pancasila dapat didefinisikan secara ringkas sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh. Pancasila dikatakan sebahai filsafat, karena Pancasila merupakan hasil permenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh Bapak Pembangunan Indonesia Soeharto, yang dituangkan dalam suatu sistem (Ruslan Abdul Gani). Filsafat Pancasila memberi pengetahuan dan pengertian ilmiah yaitu tentang hakikat dari Pancasila (Notonagoro). Sebagai dasar Negara, Pancasila kembali diuji ketahanannya dalam era reformasi sekarang. Merekahnya matahari pada bulan Juni 1945, 63 tahun yang lalu, disambut dengan lahirnya sebuah konsepsi kenegaraan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu lahirnya Pancasila. Sebagai falsafah negara, tentu Pancasila ada yang merumuskannya. Pancasila memang merupakan karunia terbesar dari Tuhan Yang Maha Esa dan ternyata merupakan cahaya bagi segenap bangsa Indonesia di masa-masa selanjutnya, baik sebagai pedoman dalam memperjuangkan kemerdekaan, juga sebagai alat pemersatu dalam hidup kerukunan berbangsa, serta sebagai pandangan hidup untuk kehidupan manusia Indonesia sehari-hari, dan yang jelas tadi telah diungkapkan sebagai dasar serta falsafah negara Republik Indonesia.

Filsafat Pancasila

Pancasila telah ada dalam segala bentuk kehidupan rakyat Indonesia, terkecuali bagi mereka yang tidak Pancasilais. Pancasila lahir 1 Juni 1945, ditetapkan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama dengan UUD 1945. Bunyi dan ucapan Pancasila yang benar berdasarkan Inpres Nomor 12 tahun 1968 adalah satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga, Persatuan Indonesia. Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dan kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa di antara tokoh perumus Pancasila itu ialah, Mr Mohammad Yamin, Prof.Mr Soepomo, dan Ir.Soekarno. Dengan demikian bahwa filsafat Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia yang harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga dan menjalankan apa-apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan, khususnya pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.

1.2 Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu : 1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan 2. Untuk menambah wawasan tentang pancasila dalam aspek filsafat 3. Untuk memperluas pengalaman penulis ataupun pembaca dalam hal peranan pancasila dalam kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia

1.3 Ruang Lingkup Makalah ini mencakup tentang pancasila sebagai filsafat atau falsafah dalam kehidupan bangsa Indonesia. 1.4 Rumusan Masalah

Filsafat Pancasila

Bagaimana pancasila sebagai filsafat atau falsafah negara dalam kehidupan bangsa Indonesia ?

Apakah peranan pancasila sebagai filsafat negara dalam kehidupan bangsa Indonesia? Bagaimana Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia dan sebagai Nilai Dasar Fundamental Negara Indonesia

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Filsafat dan Filsafat Pancasila Istilah filsafat secara etimologis merupakan padanan kata falsafah (Arab) dan philosophy (Inggris) yang berasal dari bahasa Yunani (philosophia).Kata philosophia merupakan kata majemuk yang terususun dari kata philos atau philein yang berarti kekasih, sahabat, mencintai dan kata sophia yang berarti kebijaksanaan, hikmat, kearifan, pengetahuan. Dengan demikian philosophia secara harafiah berarti mencintai kebijaksanaan, mencintai hikmat atau mencintai pengetahuan. Cinta mempunyai pengertian yang luas. Sedangkan kebijaksanaan mempunyai arti yang bermacammacam yang berbeda satu dari yang lainnya.Istilah philosophos pertama kali digunakan oleh Pythagoras. Ketika Pythagoras ditanya, apakah engkau seorang yang bijaksana? Dengan rendah hati Pythagoras menjawab, saya hanyalah philosophos, yakni orang yang mencintai pengetahuan. Ada dua pengertian filsafat, yaitu: Filsafat dalam arti proses dan filsafat dalam arti produk. Filsafat sebagai ilmu atau metode dan filsafat sebagai pandangan hidup Filsafat dalam arti teoritis dan filsafat dalam arti praktis. Pancasila dapat digolongkan sebagai filsafat dalam arti produk, sebagai pandangan hidup, dan dalam arti praktis.Ini berarti Filsafat Pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi bangsa Indonesia. Pancasila sebagai filsafat mengandung pandangan, nilai, dan pemikiran yang dapat menjadi substansi

Filsafat Pancasila

dan isi pembentukan ideologi Pancasila.Filsafat Pancasila dapat didefinisikan secara ringkas sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh. Pancasila dikatakan sebahai filsafat, karena Pancasila merupakan hasil permenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh the faounding father kita, yang dituangkan dalam suatu sistem (Ruslan Abdul Gani).Filsafat Pancasila memberi pengetahuan dan penngertian ilmiah yaitu tentang hakikat dari Pancasila (Notonagoro). 2.2 Pancasila Sebagai Suatu Sistem Sistem merupakan suatu objek pengamatan yang terdiri dari 2 atau lebih komponen penyusun sistem itu sendiri. Setiap bagian-bagian komponen system harus selalu berkaitan, saling berhubungan dan saling bekerja sama, sehingga merupakan satu kesatuan. Pancasila merupakan dasar Negara yang terdiri dari sila-sila yang saling berkaitan. Setiap makna yang terkandung dalam setiap sila, memiliki hubungan antara satu dengan yang lain, dan tidak saling terlepas. Sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh point-point yang menyusun pancasila, merupakan suatu bentuk system. Hal ini dikarenakan setiap makna dalam tiap sila saling mendukung dan saling berhubungan.

2.3 Pancasila Sebagai Suatu Sistem Filsafat Pancasila sebagai sistem filsafat dapat dilakukan dengan cara deduktif dan induktif.
Cara deduktif yaitu dengan mencari hakikat Pancasila serta menganalisis dan

menyusunnya secara sistematis menjadi keutuhan pandangan yang komprehensif.


Cara induktif yaitu dengan mengamati gejala-gejala sosial budaya masyarakat,

merefleksikannya, dan menarik arti dan makna yang hakiki dari gejala-gejala itu. Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan sistem filsafat. Sila-sila Pancasila yang merupakan sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan organis. Artinya, antara sila-sila Pancasila itu saling berkaitan, saling berhubungan bahkan saling mengkualifikasi. Pemikiran dasar yang terkandung dalam Pancasila, yaitu pemikiran tentang manusia yang berhubungan dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan sesama, dengan masyarakat bangsa yang nilai-nilai itu dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Filsafat Pancasila

Dengan demikian Pancasila sebagai sistem filsafat memiliki ciri khas yang berbeda dengan sistem-sistem filsafat lainnya, seperti materialisme, idealisme, rasionalisme, liberalisme, komunisme dan sebagainya. Ciri sistem Filsafat Pancasila itu antara lain: 1. Sila-sila Pancasila merupakan satu-kesatuan sistem yang bulat dan utuh. Dengan kata lain, apabila tidak bulat dan utuh atau satu sila dengan sila lainnya terpisahpisah maka itu bukan Pancasila. 2. Susunan Pancasila dengan suatu sistem yang bulat dan utuh itu dapat digambarkan sebagai berikut: Sila 1, meliputi, mendasari dan menjiwai sila 2,3,4 dan 5 Sila 2, diliputi, didasari, dijiwai sila 1, dan mendasari dan menjiwai sila 3, 4 dan 5; Sila 3, diliputi, didasari, dijiwai sila 1, 2, dan mendasari dan menjiwai sila 4, 5; Sila 4, diliputi, didasari, dijiwai sila 1,2,3, dan mendasari dan menjiwai sila 5; Sila 5, diliputi, didasari, dijiwai sila 1,2,3,4.

Inti sila-sila Pancasila meliputi:


o Tuhan, yaitu sebagai kausa prima o Manusia, yaitu makhluk individu dan makhluk sosial o Satu, yaitu kesatuan memiliki kepribadian sendiri o Rakyat, yaitu unsur mutlak negara, harus bekerja sama dan gotong royong o Adil, yaitu memberi keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknya

Membahas Pancasila sebagai filsafat berarti

mengungkapkan konsep-konsep

kebenaran Pancasila yang bukan saja ditujukan pada bangsa Indonesia, melainkan juga bagi manusia pada umumnya.Wawasan filsafat meliputi bidang atau aspek penyelidikan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga bidang tersebut dapat dianggap mencakup kesemestaan. Oleh karena itu, berikut ini akan dibahas landasan Pancasila dan Aksiologis Pancasila a) Landasan Ontologis Pancasila Ontologi, menurut Aristoteles adalah ilmu yang meyelidiki hakikat sesuatu atau tentang ada, keberadaan atau eksistensi dan disamakan artinya dengan metafisika.Masalah ontologis antara lain: Apakah hakikat sesuatu itu? Apakah realitas yang ada tampak ini suatu Ontologis Pancasila, Epistemologis

Filsafat Pancasila

realitas sebagai wujudnya, yaitu benda? Apakah ada suatu rahasia di balik realitas itu, sebagaimana yang tampak pada makhluk hidup? Dan seterusnya.Bidang ontologi menyelidiki tentang makna yang ada (eksistensi dan keberadaan) manusia, benda, alam semesta (kosmologi), metafisika.Secara ontologis, penyelidikan Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui hakikat dasar dari sila-sila Pancasila. Pancasila yang terdiri atas lima sila, setiap sila bukanlah merupakan asas yang berdiri sendirisendiri, malainkan memiliki satu kesatuan dasar ontologis. Dasar ontologis Pancasila pada hakikatnya adalah manusia, yang memiliki hakikat mutlak yaitu monopluralis, atau monodualis, karena itu juga disebut sebagai dasar antropologis. Subyek pendukung pokok dari sila-sila Pancasila adalah manusia.Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa yang Berketuhan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta yang berkeadilan sosial pada hakikatnya adalah manusia. Sedangkan manusia sebagai pendukung pokok sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat, raga dan jiwa, jasmani dan rohani. Sifat kodrat manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial serta sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Maka secara hirarkis sila pertama mendasari dan menjiwai sila-sila Pancasila lainnya. (lihat Notonagoro, 1975: 53). Hubungan kesesuaian antara negara dan landasan sila-sila Pancasila adalah berupa hubungan sebab-akibat: Negara sebagai pendukung hubungan, sedangkan Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil sebagai pokok pangkal hubungan. Landasan sila-sila Pancasila yaitu Tuhan, manusia, satu, rakyat dan adil adalah sebagai sebab, dan negara adalah sebagai akibat. b. Landasan Epistemologis Pancasila Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal, syarat, susunan, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Epistemologi meneliti sumber pengetahuan, proses dan syarat terjadinya pengetahuan, batas dan validitas ilmu pengetahuan. Epistemologi adalah ilmu tentang ilmu atau teori terjadinya ilmu atau science of science. Menurut Titus (1984:20) terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistemologi, yaitu: Tentang sumber pengetahuan manusia; Tentang teori kebenaran pengetahuan manusia;

Filsafat Pancasila

Tentang watak pengetahuan manusia. Secara epistemologis kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan.Pancasila sebagai sistem filsafat pada hakikatnya juga merupakan sistem pengetahuan. Ini berarti Pancasila telah menjadi suatu belief system, sistem cita-cita, menjadi suatu ideologi. Oleh karena itu Pancasila harus memiliki unsur rasionalitas terutama dalam kedudukannya sebagai sistem pengetahuan.Dasar epistemologis Pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya. Maka, dasar epistemologis Pancasila sangat berkaitan erat dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia. c. Landasan Aksiologis Pancasila Sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat memiliki satu kesatuan dasar aksiologis, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya juga merupakan suatu kesatuan. Aksiologi Pancasila mengandung arti bahwa kita membahas tentang filsafat nilai Pancasila.Istilah aksiologi berasal dari kata Yunani axios yang artinya nilai, manfaat, dan logos yang artinya pikiran, ilmu atau teori. Aksiologi adalah teori nilai, yaitu sesuatu yang diinginkan, disukai atau yang baik. Bidang yang diselidiki adalah hakikat nilai, kriteria nilai, dan kedudukan metafisika suatu nilai. Nilai (value dalam Inggris) berasal dari kata Latin valere yang artinya kuat, baik, berharga. Dalam kajian filsafat merujuk pada sesuatu yang sifatnya abstrak yang dapat diartikan sebagai keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness). Nilai itu sesuatu yang berguna. Nilai juga mengandung harapan akan sesuatu yang diinginkan Dalam filsafat Pancasila, disebutkan ada tiga tingkatan nilai, yaitu nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praktis. Nilai dasar, adalah asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang bersifat mutlak, sebagai sesuatu yang benar atau tidak perlu dipertanyakan lagi. Nilai-nilai dasar dari Pancasila adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Nilai instrumental, adalah nilai yang berbentuk norma sosial dan norma hukum yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam peraturan dan mekanisme lembaga-lembaga negara.

Filsafat Pancasila

Nilai praksis, adalah nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam kenyataan. Nilai ini merupakan batu ujian apakah nilai dasar dan nilai instrumental itu benar-benar hidup dalam masyarakat. Nila-nilai dalam Pancasila termasuk nilai etik atau nilai moral dan merupakan nilai dasar yang mendasari nilai intrumental dan selanjutnya mendasari semua aktivitas kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara. 2.4 Pancasila Sebagai Nilai Dasar Fundamental Negara Indonesia Nilai-nilai pancasila bersifat objektif karena semua ciri-ciri objektifitas nilai-nilai pancasila itu terpenuhi, seperti abstrak, umum dan abadi. Nilai-nilai pancasila bersifat positif karena nilai-nilai tersebut memberikan manfaat bagi kepentingan manusia, baik dari aspek lahiriah maupun batiniah sehingga harkat manusia menjadi lebih baik dan bermutu. Nilai-nilai pancasila bersifat intrinsik karena nilai-nilai yang melekat pada pancasila itu merupakan nilai asli, nilai yang sudah ada dari pancasila sejak dahulu kala, nilai yang tidak dibuat atau ditambah-tambah. Nilai pancasila bersifat transenden karena nilai-nilai pancasila itu mampu mengatasi pengalaman-pengalaman manusia dari rasionya, merupakan postulat atau aksioma epistomologis dan berada diluar pembuktian teoritis-empiris.

2.5

Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia

Beberapa pengertian ideologi antara lain :

A.S. Hornby mengatakan bahwa ideologi adalah seperangkat gagasan yang

membentuk landasan teori ekonomi dan politik atau yang dipegangi oleh seorang atau sekelompok orang.

Soerjono Soekanto menyatakan bahwa secara umum ideologi sebagai kumpulan

gagasan, ide, keyakinan, kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut bidang politik, sosial, kebudayaan, dan agama.

Gunawan Setiardja merumuskan ideologi sebagai seperangkat ide asasi tentang

manusia dan seluruh realitas yang dijadikan pedoman dan cita-cita hidup.

Filsafat Pancasila

Frans Magnis Suseno mengatakan bahwa ideologi sebagai suatu sistem pemikiran

yang dapat dibedakan menjadi ideologi tertutup dan ideologi terbuka.

Ada tiga dimensi sifat ideologi, yaitu dimensi realitas, dimensi idealisme, dan dimensi fleksibilitas. 1. Dimensi Realitas: nilai yang terkandung dalam dirinya, bersumber dari nilai-

nilai yang hidup dalam masyarakat, terutama pada waktu ideologi itu lahir, sehingga mereka betul-betul merasakan dan menghayati bahwa nilai-nilai dasar itu adalah milik mereka bersama. Pancasila mengandung sifat dimensi realitas dalam dirinya. 2. Dimensi idealisme: ideologi itu mengandung cita-cita yang ingin diicapai

dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila bukan saja memenuhi dimensi idealisme ini tetapi juga berkaitan dengan dimensi realitas. 3. Dimensi fleksibilitas: ideologi itu memberikan penyegaran, memelihara dan

memperkuat relevansinya dari waktu ke waktu sehingga bersifat dinamis, demokratis. Pancasila memiliki dimensi fleksibilitas karena memelihara, memperkuat relevansinya dari masa ke masa.

Faktor Pendorong Keterbukaan Ideologi Pancasila Kenyataan dalam proses pembangunan nasional dan dinamika masyarakat Kenyataan menujukkan bahwa bangkrutnya ideologi yang tertutup danbeku Pengalaman sejarah politik masa lampau. Tekad untuk memperkokoh kesadaran akan nilai-nilai dasar Pancasila yang

yang berkembang secara cepat. cendnerung meredupkan perkembangan dirinya.

bersifat abadi dan hasrat mengembangkan secara kreatif dan dinamis dalam rangka mencapai tujuan nasional. Makna Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia yaitu :

Filsafat Pancasila

10 1. Makna Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia adalah bahwa nilai-nilai yang

terkandung dalam ideologi Pancasila itu menjadi cita-cita normatif bagi penyelenggaraan bernegara. Dengan kata lain, visi atau arah dari penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia adalah terwujudnya kehidupan yang ber-Ketuhanan, yang berKemanusiaan, yang ber-Persatuan, yang ber-Kerakyatan, dan yang ber-Keadilan.
2. Sebagai ideologi nasional selain, berfungsi sebagai cita-cita normatif penyelenggaraan

bernegara, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai yang disepakati bersama, karena itu juga berfungsi sebagai sarana pemersatu masyarakat yang dapat mempersatukan berbagai golongan masyarakat di Indonesia.

BAB III ANALISA PERMASALAHAN 3.1 Makna Nilai Pancasila

Yang menjadi permasalahan yang kami peroleh di sini apakah rakyat telah mengetahui tentang makna dari nilai pancasila dan bagaimana aplikasi dari nilai itu pada masyarakat berbangsa dan bernegara. Ketuhanan Yang Maha Esa Adapun makna dari sila pertama yaitu :
a. Kepercayaan terhadap Tuhan yang maha Esa sebagai pencipta segala Sesuatu dengan

segala sifat-sifatnya yang sempurna dan suci seperti maha pengasih,Maha Kuasa ,Maha adil ,Maha Bijaksana dan Sebagainya.

Filsafat Pancasila

11

b. Kebebasan untuk memeluk Agama dan kepecayaan masing masing ,tanpa ada paksaan dari pemeluk agama dan kepercayaan. Yang menjadi pertayaan : 1. Haruskah memeluk Agama? 2. Kebebasan beragama = kebebasan tidak beragama? 3. Bagimana aplikasi dari sila pertama ini ? Kemanusiaan yang adil dan beradab Adapun makna dari sila kedua yaitu : a. Pengakuan terhadapa harkat martabat manusia dan segala hak dan kewajiban asasinya b. Perlakuan adil terhadap sesame manusia ,terhadap diri sendiri ,alam sekitar dan tuhan. c. Manusia sebagai makhluk beradab. Yang menjadi pertanyaan : 1. Bagaimana aplikasi dari sila ini Kemanusiaan yang adil apakah sudah terealisasi ?. Fenomena pengemis sebagai profesi Perda DKI No.8/2007 tentang larangan member uang pada pengemis ( denda 100-200 juta ) TKW Darsen yang lolos dari hukuman pancung di Arab Saudi mendapat bantuan 1,2 M ,kini justru hidup mewah dan berfoya-foya Kel. TKW Ruyati yang di pancung mendapat Asuransi 45 juta Kenyataan

Persatuan Indonesia Adapun makna dari sila ke tiga : a. Pengakuan terhadap kebineka-tunggal-ikaan unsure-unsur bangsa Indonesia seperti suku,agama,bahasa dan adat istiadat. b. Pengakuan terhadap persatuan bangsa wilayah indonesa serta wajib membela dan menjunjungnya
c. Cinta dan bangga akan bangsa dan Negara Indonesia

Yang menjadi pertanyaan : 1. Bagaimana aplikasi dari nilai sila ketiga ini ? Kenyataan o o Kesenjangan pembangunan antara Indonesia Barat dan timur Kekuasaan berbasis Daerah Kab/Kota

Filsafat Pancasila

12

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilam Adapun makna dari sila ke empat : a. Negara adalah untuk kepentingan rakyat b. Kedaulatan adalah di tangan rakyat c. Manusia Indonesia sebagai warga Negara dan warga masyarakat mempunyai kedudukan ,hak dan kewajiban yang sama. d. Pimpinan kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang dilandasi akal yang sehat. e. Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat oleh wakil-wakil rakyat. Kenyataan : Asas demokrasi Indonesia adalah musyawarah mufakat,praktiknya voting Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Makna dari sila ke lima : a. Perlakuan yang adil disegala bidang kehidupan ,terutama bidang politik ,ekonomi dan social budaya. b. Perwujudan keadilan social meliputi seluruh rakyat Indonesia c. Keseimbangan antara hak dan kewajiban d. Menghormati hak milik orang lain e. Cita-cita masyarakat yang adil dan makmur yang merata material dan spiritual bagi seluruh rakyat Indonesia f. Cinta akan kemajuan dan pembangunan Kenyataan : 1. Orang miskin di Indonesia 31 jiwa dengan criteria penghasilan kurang dari Rp. 212 ribu (BPS,2010) apa kriterianya sudah pas ? 2. Ekonomi rakyat kecil terdesak oleh ekonomi modern di lihat dari maraknya pasar modern (hypermart) didekat pasar tradisional ( minimal 500m) 3. Kesenjangan pembangunan antara Indonesia Barat dan Timur Adapun Pemecahan masalah /solusi dari permasalahaan mengenai apakah rakyat telah mengetahui tentang makna dari nilai pancasila dan bagaimana aplikasi dari nilai itu pada masyarakat berbangsa dan bernegara adalah :

Filsafat Pancasila

13

1. Setiap Warga hendaklah menjunjung bahwa pancasila fundamental dari tujuan Indonesia dan menjadi dasar Negara yakni dengan cara memahami apa itu nilai sebenarnya dari sila pancasila itu. 2. Pemerintah hendaklah mengetahui bahwa pancasila itu tujuan Negara dan dapat mngaplikasikannya dalam kepemimpinannya dengan mengamalkan seluruh makna yang terkandung dalam pancasila itu. 3.2 Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia Makna Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia yaitu :
a. Makna Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia adalah bahwa nilai-nilai yang

terkandung

dalam ideologi

Pancasila itu menjadi

cita-cita

normatif

bagi

penyelenggaraan bernegara. Dengan kata lain, visi atau arah dari penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia adalah terwujudnya kehidupan yang ber-Ketuhanan, yang ber-Kemanusiaan, yang ber-Persatuan, yang ber-Kerakyatan, dan yang ber-Keadilan.
b. Sebagai ideologi nasional selain, berfungsi sebagai cita-cita normatif penyelenggaraan

bernegara, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai yang disepakati bersama, karena itu juga berfungsi sebagai sarana pemersatu masyarakat yang dapat mempersatukan berbagai golongan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan makna di atas yang menjadi permasalahan yang kami ajukan adalah apakah Bangsa Indonesia telah mengaplikasikan Pancasila sebagai Ideologi Bangsa Indonesia ,kalo tidak mengapa demikian dan kiat untuk mewujudkannya bagaimana ? Adapun solusi nya adalah setiap warga negara , pemerintah dalam berbangsa dan bernegara hendaklah mengamalkan pancasila itu dalam kehidupan sehari hari ,dimulai dari diri sendiri sehingga terwujudnya visi atau arah dari penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia yakni Kehidupan yang ber-Ketuhanan, yang ber-Kemanusiaan, yang ber-Persatuan, yang ber-Kerakyatan, dan yang ber-Keadilan.

3.3 Pancasila Sebagai Nilai Dasar Fundamental Negara Indonesia Nilai-nilai pancasila bersifat objektif karena semua ciri-ciri objektifitas nilai-nilai pancasila itu terpenuhi, seperti abstrak, umum dan abadi. Nilai-nilai pancasila bersifat positif

Filsafat Pancasila

14

karena nilai-nilai tersebut memberikan manfaat bagi kepentingan manusia, baik dari aspek lahiriah maupun batiniah sehingga harkat manusia menjadi lebih baik dan bermutu. Berdasarkan penjelasan singkat di atas yang menjadi permasalahan nya adalah bagaimana aplikasi nya di kehidupan berbangsa dan bernegara? Solusinya adalah menekankan dalam diri sendiri bahwa pancasila sebagai Fundamental Negara Indonesia sehingga dapat mengamalkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

3.4

Peran dan fungsi Filsafat Pancasila

Filsafat Pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi bangsa Indonesia.Yang menjadi pertanyaan apakah peran dari filsafat pancasila itu telah terealisasi dengan baik di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ? Solusinya untuk mewujudkan peran dan fungsi filsafat Pancasila itu tergantung pada warga negara beserta perangkat nya sejauh mana pemahaman nya tentang makna pancasila dan menekankan dalam diri untuk menjadikan pancasila sebagai filsafat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dapat bersama dalam merasakan dan menghayati bahwa nilainilai dasar pancasila itu adalah milik mereka bersama.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Adapun Kesimpulan dari makalah ini antara lain : Sistem merupakan suatu kesatuan yang dibentuk dari komponen-

komponen penyusun system itu sendiri, sehingga saling memiliki keterkaitan antara yang

Filsafat Pancasila

15

satu dengan yang lain. Filsafat ialah suatu tata cara pola pikir manusia yang bersifat hierarkis dan menyeluruh, serta bersifat mendasar. Filsafat pancasila yaitu suatu bentuk hasil dari pemikiran atau kebijakan dari

sekelompok atau lebih yang mencerminkan pandangan atau tata cara hidupnya berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam tiap sila, dan juga merupakan hasil dari pemikirannya sendiri. Pancasila bersifat sebagai system filsafat dikarenakan sila-sila yang terkandung dalam

pancasila, merupakan suatu hasil kebijakan yang bersifat mendasar dan saling berhubungan antara nilai sila yang satu dengan sila yang lain. Pancasila sebagai ideologi Negara mengandung arti bahwa dasar kehidupan seluruh

lapisan masyarakat Indonesia bersumber dari nilai nilai yang terkandung dalam tiap sila Pancasila sebagai nilai dasar fundamental bangsa Indonesia, memiliki arti bahwa

Negara Indonesia berdiri dan dibentuk berdasarkan nilai dasar yang terkandung di dalam seluruh pancasila. Sehingga berfsifat fundamental atau mendasar terhadap kehidupan Negara indonesia. 4.2 Saran 1. Sebaiknya menggunakan sumber referensi yang lebih banyak, untuk mendapatkan informasi yang lebih terpercaya, 2. Sebaiknya lebih menggunakan sistematika atau penjelasan tentang kata-kata sukar tertentu, sehingga dapat dimengerti secara sederhana dan lebih lugas. 3. Sebaiknya lebih menguraikan lagi tentang konsep pancasila sebagai filsafat Negara Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA Djoko Pranowo dan Ary Natalina. 2011. Power Point Filsafat Pendidikan. Politeknik Telkom. Pendidikan Kewarganegaraan Filsafat Pancasila I.

Filsafat Pancasila

16

Tim Dosen Pendidikan Kewarganegaraan.2011.Bahan Ajar Pendidikan kewarganegaraan. Medan : FIS UNIMED. Triyanto. Filsafat Pancasila. Solo : UNS http://www.ilerning.com/index.php?option=com_content&view=article&id=958:sistemfilsafat-pancasila-sebagai-sistem-ideologi-&catid=51:pendidikan-pancasila&Itemid=77

Filsafat Pancasila