Anda di halaman 1dari 19

Blok 15 Skin and Integument

INFEKSI MENULAR SEKSUAL GONORE

Winda Anastesya
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Alamat : Jl. Terusan Arjuna No. 6 Jakarta Barat Email : winda_anastesya@ymail.com

Pendahuluan Gonore merupakan penyakit yang mempunyai insidens yang tinggi diantara infeksi menular seksual lainnya. Pada pengobatannya terjadi pula perubahan karena sebagian disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang telah resisten terhadap penicilin dan disebut Pencillinase Producing Neisseria gonorrhoeae ( P.P.N.G ). Kuman ini meningkat di banyak negeri termasuk Indonesia. Pada umumnya penularannya melalui hubungan kelamin yaitu genito-genital, orogenital, dan ano-genital. Tetapi, disamping itu dapat juga terjadi secara manual melalui alat-alat, pakaian, handuk, termometer, dan sebagainya. Oleh karen aitu secara garis besar dikenal gonore genital dan gonore ekstra genital.1,2

Epidemiologi Diperkirakan terdapat lebih dari 150 juta kasus gonore di dunia setiap tahunnya, meskipun di beberapa negara cenderung menurun, namun negara lainnya cenderung meningkat. Perbedaan ini menunjukkan bervariasinya tingkat keberhasilan sistem dan program
1

Blok 15 Skin and Integument

pengendalian IMS yang meliputi peningkatan informasi data, deteksi awal dengan menggunakan fasilitas diagnosis yang baik, pengobatan dini dan penelusuran kontak. Di Swedia. Dengan pengendalian IMS yang baik, insidens penyakit gonore terus menurun. Di Inggris pada tahun 1962 ratio pria dibanding wanita dari 4 : 1, dan pada tahun 1985 menjadi 1,5 : 1. Penurunan rasio tersebut kemungkinan akibat meningkatnya liberalisasi seksual di kalangan wanita. Sedangkan di AS terjadi peningkatan yang mencapai puncaknya pada tahun 1975 yaitu antara 473 per 100.000 penduduk pertahun kemudian menurun 324 per 100.000 penduduk pada tahun 1987. Rasio wanita dan pria yang semula sebesar 3 : 1 pada tahun 1966 berubah meenjadi 1,5 : 1 pada tahun 1974. Di Singapura juga terjadi penurunan insidens IMS yaitu 684 per 100.000 penduduk tahun 1979 menjadi 318 tahun 1985. Di Malaysia prevalensi gonore dikalangan WTS 20%, di Ethiopia pada kelompok wanita, prevalensi gonore sebesar 59%. Di Indonesia, dari data yang diambil dari beberapa RS bervariasi, di RSU Mataram tahun 1989 dilaporkan kasus gonore yang sangat tinggi yaitu sebesar 52,87% dari seluruh penderita IMS. Di RS Dr. Pirngadi Medan 16% dari sebanyak 326 penderita IMS, sedangkan klinik IMS Dr. Soetomo antara januari 1990-Desember 1993 terdapat 3055 kasus uretritis atau 25,22% dari total penderita IMS dan 1853 atau 60,65% diantaranya menderita uretritis gonore, di RS. Kariadi Semarang, gonore menmpati urutan ke-3 atau sebesar 17,56% dari seluruh penderita IMS tahun 1990-1994, di RSUP Palembang prevalensi gonore sebesar 39% pada tahun 1990. Data tersebut di atas menunjukkan bahwa insidens gonore sangat bervariasi akibat pengaruh kondisi sosial budaya setempat, fasilitas pelayanan kesehatan dan metode penelitian yang digunakan. Setelah tahun 1976 di Amerika dilaporkan temuan kasus gonore yang resisten terhadap antibiotik yang dikenal sebagai Neisseria gonorrhoeae penghasil penisilinase ( NGPP ), penyakit gonore kembali menjadi masalah. Pada tahun 1982 kasus-kasus NGPP meningkat menjadi 4500 kasus dan tahun 1987 diperkirakan menjadi 16.000 pertahun. Di Inggris jumlah NGPP sejak tahun 1976 dengan cepat sebesar 2 kali lipat seyaip tahunnya. Demikian juga di Thailand dilaporkan pertama kali pada tahun 1977, setelah 3 tahun menjadi 41,6%. Di Indonesia NGPP pertama kali dilaporkan pada tahun 1980 di Jakarta yang kemudian diikuti laporan kasus di Surabaya, Medan, Denpasar, dll. Prevalensi NGPP di Jakarta dari data yang di ambil dari lokasi Kramat Tunggak, sebesar 52,7%.2

Blok 15 Skin and Integument

Etiologi Penyebab gonore adalah gonokok yang ditemukan oleh Neisser pada tahun 1879 dan baru diumumkan pada tahun 1882. Kuman tersebut termasuk dalam grup Neisseria dan dikenal ada 4 spesies, yaitu N. Gonorrhoeae dan N. Meningitidis yang bersifat patogen serta N. Catarrhalis dan N. Pharyngis ini sukar dibedakan kecuali dengan tes fermentasi. Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8 u dan panjang 1,6 u bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan Gram bersifat Gram negatif, terlihat diluar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas. Cepat mati dalam keadaaan kering, tidak tahan suhu 390 C, dan tidak tahan zat desinfektan. Secara morfologik gonokok ini terdiri atas 4 tipe yaitu, tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat non virulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang. Daerah yang paling mudah terinfeksi ialah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang ( immatur ), yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.1-4

Patofisiologi Infeksi dimulai dengan adhesi pada sel mukosa ( urethra, vagina, rectum, tenggorok ) kemudian penetrasi ke submukosa dan menyebar baik secara langsung maupun hematogen. o Langsung Pada pria menyebabkan prostatitis dan epididymitis, sedangkan pada wanita langsung menyebar ke kelenjar Bartholin, paraserviks, tuba falopii, dst. o Hematogen Hanya 1% kasus, kebanyakan dari asymptomatic infection pada wanita. Ini disebabkan adanya kelainan pertahanan tubuh, misalnya. Defisiensi C6-9 atau bakteri yang kebal terhadap antibodi dan komplemen, bakteri dengan protein porin A pada dinding sel kemudian menginaktivasi C3b. Manifestasi berupa arthritis, lesi kulit, dan tenosynovitis.

Blok 15 Skin and Integument

Manifestasi Klinis Masa tunas gonore sangat singkat, pada pria umumnya berkisar antara 2-5 hari, kadangkadang lebih lama dan hal ini disebabkan karena penderita telah mengobati diri sendiri, tetapi dengan dosis yang tidak cukup atau gejala sangat samar sehingga tidak diperhatikan oleh penderita. Pada wanita masa tunas sulit untuk ditentukan karena pada umumnya asimptomatik. Tempat masuk kuman pada pria di uretra menimbulkan uretritis. Yang paling sering adalah uretritis anterior akuta dan dapat menjalar ke proksimal, dan mengakibatkan komplikasi lokal, asendens serta diseminata. Keluhan subyektif berupa rasa gatal, panas dibagian distal uretra disekitar orifisium uretra eksternum, kemudian disusul disuria, polakisuria, keluar duh tubuh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah, dapat pula disertai nyeri pada waktu ereksi. Pada pemeriksaan tampak orifisum uretra eksternum kemerahan, edema, dan ektropion. Tampak pula duh tubuh yang mukopurulen. Pada beberapa kasus dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening ingunal unilateral atau bilateral. Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dengan pria. Hal ini disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisologi alat kelamin pria dan wanita. Pada wanita, baik penyakitnya akut maupun kronik, gejala subyektif jarang ditemukan dan hampir tidak pernah didapati kelainan obyektif. Pada umumnya wanita datang berobat kalau sudah ada komplikasi. Sebagian besar penderita ditemukan pada waktu pemeriksaan antenatal atau pemeriksaan keluarga berencana. Infeksi pada wanita, pada mulanya hanya mengenai serviks uteri. Duh tubuh yang mukopurulen dan mengandung banyak gonokok mengalir ke luar dan menyerang uretra, duktus parauretra, kelenjar Bartholin, rektum, dan dapat juga naik ke atas sampai pada daerah kandung telur.1,4,6 Anamnesis Untuk mendapatkan informasi yang penting, terutama pada waktu menanyakan riwayat seksual, perlu hati-hati dan dengan cara tertentu. Hal yang harus dijaga ialah kerahasiaan. Pertanyaan diajukan dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien. Anamnesis pada pasien dugaan IMS meliputi : o Identitas dan pekerjaan
4

Blok 15 Skin and Integument

o Umur

o Jenis kelamin o Keluhan dari riwayat penyakit saat ini o Keadaan umum yang dirasakan o Pengobatan yang telah diberikan, baik topikal maupun sistemik, dengan penekanan pada antibiotik. o Riwayat seksual : kontak seksual ( baik didalam maupun diluar pernikahan atau berganti-ganti pasangan atau banyak kontak seksual ), kontak seksual dengan pasangannya setelah mengalami gejala penyakit, frekuensi dan jenis kontak seksual ( homo atau heteroseksual ), cara melakukan hubungan seksual ( genitogenital, orogenital, anogenital ), apakah pasangannya juga mengeluhkan gejala yang smaa. o Riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan IMS atau penyakit di daerah genital lainnya. o Riwayat penyakit berat lainnya o Riwayat keluarga : pada dugaan IMS yang ditularka lewat ibu kepada bayinya o Keluhan lain yang mungkin berkaitan dengan komplikasi IMS, pada wanita tentang nyeri perut bawah, dll. o Riwayat alergi obat

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Setelah melakukan anamnesis dan mendapatkan informasi yang cukup dari pasien. Dokter tentu mendapatkan gambaran penyakit yang diderita pasien tersebut tetapi perlu dilakukan

Blok 15 Skin and Integument

pemeriksaan fisik dan penunjang ( laboratorium )untuk mendapatkan diagnosis yang tepat sehingga tindakan terapi/penatalaksanaan dapat diberikan secara optimal. Pada pemeriksaan fisik secara umum pada infeksi menular seksual, teknik pemeriksaan meliputi inspeksi dan palpasi. Daerah kelamin dan sekitarnya harus terbuka, sehingga memudahkan pemeriksaan. Mula-mula inspeksi daerah ingunal, dan raba apakah ada pembesaran kelenjar, dan catat konsistensi, ukuran, mobilitas, rasa nyeri, serta tanda-tanda radang pada kulit di atasnya. Inspeksi meatus uretra eksternus, adakah meatitis, lesi uretra, atau duh tubuh uretra, serta kelainan kongenital. Kadang-kadang juga perlu memeriksa celana dalamnya untuk melihat adanya bercak duh tubuh.

Pada pemeriksaan laboratorium meliputi ; A. Sediaan langsung Pada sediaan langsung dengan pengecatan Gram akan ditemukan gonokok negatifGram, interseluler dan ekstraseluler. Bahan duh tubuh pada pria diambil dari daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara kelenjar Bartholin dan endoserviks. Pemeriksaan Gram dari duh uretra pada pria memiliki sensitivitas tinggi ( 90-95% ) dan spesifisitas 95-99%. Pemeriksaan ini direkomendasikan untuk klinik diluar rumah sakit/ praktek pribadi, klinik dengan fasilitas laboratorium terbatas, maupun rumah sakit dengan fasilitas laboratorium lengkap.

B. Kultur ( biakan ) Untuk identifikasi perlu dilakukan kultur ( pembiakan ). Dua macam media yang dapat digunakan ialah media transpor dan media pertumbuhan. Media Transpor Media Stuart : hanya untuk transpor saja, sehingga perlu ditanam kembali pada media pertumbuhan. Media Transgrow : selektif dan nutritif untuk N. Gonorrhoeae dan N. Meningitis, dalam perjalanan dapat bertahan hingga 96 jam dan merupakan gabungan media transpor dan media pertumbuhan, sehingga tidak perlu ditanam pada media pertumbuhan. Media ini merupakan modifikasi media
6

Blok 15 Skin and Integument

Thayer-martin dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus spp.

Media Pertumbuhan Media Thayer-Martin : selektif untuk mengisolasi gonokok. Mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman positive-Gram, kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-Gram, dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur. Modifikasi Thayer-Martin : isinya ditambah dengan trimetoprim untuk mencegah pertumbuhan kuman proteus spp. Agar coklat McLeod : dapat ditumbuhi kuman lain selain gonokok.

Pemeriksaan kultur dengan bahan dari duh uretra pria, sensitivitasnya lebih tinggi ( 94-98% ) dari duh endoserviks ( 85-95% ). Sedangkan spesifisitas dari kedua bahan tersebut sama yaitu lebih dari 99%. Pemeriksaan kultur ini dianjurkan untuk dilakukan pada rumah sakit dengan fasilitas laboratorium lengkap maupun terbatas.

Tes Definitif Tes oksidasi : reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-pfenilendiamin hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka. Semua Neisseria memberi reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang semula bening berubah menjadi merah muda sampai warna lembayung. Tes fermentasi : tes oksidasa positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai glukosa, maltosa, dan sukrosa. Kuman gonokok hanya meragikan glukosa.

C. Tes beta-laktamase Tes ini menggunakan cefinase TM disc. BBL 961192 yang mengandung chromogenic cephalosporin. Apabila kuman mengandung enzim beta laktamase, akan menyebabkan perubahan warna koloni dari kuning menjadi merah.

D. Tes Thomson

Blok 15 Skin and Integument

Tes ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah berlangsung. Dalam pemeriksaan ini perlu dilakukan karena pengobatan pada waktu itu ialah pengobatan setempat. Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan : Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi Urin dibagi dalam dua gelas Tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling sedikit 80-100 ml, jika kurang maka gelas II sukar dinilai karena baru menguras uretra bagian anterior.3

Hasil pembacaan : Gelas I Jernih Keruh Keruh Jernih Gelas II Jernih Jernih Keruh Keruh Arti Tidak ada infeksi Infeksi uretritis anterior Panuretritis Tidak mungkin

Diagnosis Working Diagnosis ( WD )  Gonore Neisseria gonorrhoeae Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan pembantu yang terdiri atas beberapa tahapan. Ditemukannya bakteri diplokokus negatif-Gram intreseluler pada pemeriksaan mikroskopik sekret uretra seorang laki-laki dengan gejala yang spesifik, mempunyai nilai sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi untuk menegakkan diagnosis gonore.1

Blok 15 Skin and Integument

Kultur sangatlah penting untuk menegakkan diagnosis gonore pada seorang wanita atau laki-laki dengan gejala yang tidak spesifik, dan untuk spesimen yang diambil dari lokasi selain uretra. Kultur juga diperlukan untuk spesimen yang diambil dari seseorang laki-laki dengan gejala yang spesifik , dengan tujuan : Konfirmasi hasil mikroskopik Dilanjutkan uji resitensi Evaluasi keberhasilan pengobatan atau mengetahui adanya infeksi ulang.2

Different Diagnosis
 Infeksi genital non spesifik

Infeksi genital nonspesifik ( IGNS ) atau Nonspecific genital infection ( NSGI ) adalah infeksi menular seksual ( IMS ) berupa peradangan di uretra, rektum, atau serviks yang disebabkan oleh kuman nonspesifik. Uretritis nonspesifik ( UNS ) atau Nonspesific urethritis ( NSU ) merupakan peradangan hanya pada uretra yang disebakan oleh kuman nonspesifik. Infeksi genital nongonokok ( IGNG ) atau Nongonococcal genital infection ( NGGI ) merupakan peradangan di uretra yang disebabkan oleh kuman lain selain gonokok. Yang dimaksud kuman spesifik adalah kuman yang dengan fasilitas laboratorium biasa / sederhana dapat diketemukan seketika, misalnya gonokok, Candida albicans, Trichomonas vaginalis, Gardnella vaginalis. Etiologi : Kurang lebih 75% telah diselidiki penyebab IGNS dan diduga penyebabnya adalah : Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum dan Mycoplasma hominis, Gardnella vaginalis, alergi dan bakteri. Manifestasi Klinis : Manifestasi klinis pada pria gejala baru timbul biasanya setelah 1-3 minggu kontak seksual dan umumnya tidak seberat gonore. Gejalanya berupa disuria ringan, perasaan tidak enak di uretra, sering kencing, dan keluarnya duh tubuh seropurulen. Dibandingkan dengan

Blok 15 Skin and Integument

gonore perjalanan penyakit lebih lama karena masa inkubasi yang lebih lama dan ada kecenderungan kambuh kembali. Pada beberapa keadaan tidak terlihat kelaurnya cairan duh tubuh, sehingga menyulitkan diagnosis. Dalam keadaan demikian sangat diperlukan pemeriksaan laboratorium. Komplikasi dapat terjadi berupa prostatitis, vesikulitis, epididmitis, dan struktur uretra. Manifestasi klinis pada wanita biasanya infeksi lebih sering terjadi di serviks dibandingkan dengan di vagina, kelenjar Bartholin, atau uretra sendiri. Sama seperti pada gonore, umumnya wanita tidak menunjukkan gejala. Sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina, disuria ringan, sering kencing, nyeri di daerah pelvis, dan disparenia. Pada pemeriksaan serviks dapat dilihat tanda-tanda servisitis yang disertai adanya folikel folikel kecil yang mudah berdarah. Komplikasi dapat berupa Bartholinitis, proktitis, salpingitis, dan sistitis. Peritonitis dan perihepatitis juga pernah dilaporkan.5 Diagnosis : Dengan memperhatikan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan laboratorium adanya uretritis, serta tidak ditemukannya kuman penyebab yang spesifik. Laboratorium : Dasar untuk menegakan diagnosis IGNS ialah pemeriksaan laboratorium berupa apusan sekret uretra / serviks. Pada pemeriksaan sekret uretra dengan pewarnaan Gram ditemukan lekosit > 5 pada pemeriksaan mikroskopik sekret serviks dengan pewarnaan Gram didapatkan > 30 lekosit per lapangan pandang dengan perbesaran 1000 kali. Tidak dijumpai diplokokus negatif Gram, serta pada pemeriksaan sediaan basah tidak didapatkan parasit Trichomonis vaginalis. Pengobatan : Obat yang paling efektif adalah golongan tetrasiklin dan eritromisin. Disamping itu juga dengan gabungan sulfa-trimetroprim, spiramisin, dan kuinolon.

10

Blok 15 Skin and Integument

Komplikasi Gonore Komplikasi gonore sangat erat hubungannya dengan susunan dan anatomi faal genitalia. Kompikasi pada pria bisa berupa ; o Tysonitis Kelenjar tyson ialah kelenjar yang menghasilkan smegma. Infeksi biasanya terjadi pada penderita dengan preputium yang sangat panjang dan kebersihannya kurang baik. Diagnosis dibuat berdasarkan ditemukannya butir pus atau pembengkakan pada daerah frenulum yang nyeri tekan. Bila duktus tertutup akan menimbulkan abses dan merupakan sumber infeksi laten. o Parauretritis Sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka atau hipospadia. Infeksi duktus ditandai dengan butir pus pada kedua muara uretra. o Litritis Tidak ada gejala khusus, hanya pada urin ditemukan benang-benang atau butir-butir. Bila salah satu saluran tersumbat, dapat terjadi abses folikular. Didiagnosis dengan uretroskopi. o Cowperitis Bila hanya duktus yang terkena biasanya tanpa gejala. Kalau infeksi terjadi pada kelenjar Cowper dapat terjadi abses. Keluhan berupa nyeri dan adanya benjolan pada daerah perineum disertai rasa penuh dan panas, nyeri pada waktu defekasi, dan disuria. Jika tidak diobati abses akan pecah melalui kulit perineum, uretra, atau rektum dan mengakibatkan prokitis. o Prostatitis Prostatitis akut ditandai dengan perasaan tidak enak pada daerah perineum dan suprapubis, malese, demam, nyeri kencing sampai hematuri, spasme otot uretra sehingga terjadi retensi urin, tenesmus ani, sulit baung air besar, dan obstipasi.
11

Blok 15 Skin and Integument

Pada pemeriksaan teraba pembesaran prostat dengan konsistensi kenyal, nyeri tekan, dan diapatkan fluktuasi bila telah terjadi abses. Jika tidak diobati, abses akan pecah, masuk ke uretra posterior atau ke arah rektum mengakibatkan prokitis. Bila prostatitis menjadi kronik, gejalanya ringan dan intermiten, tetapi kadang-kadang menetap. Terasa tidak enak pada perineum bagian dalam dan rasa tidak enak bila duduk terlalu lama. Pada pemeriksaan prostat terasa kenyal, berbentuk nodus, dan sedikit nyeri pada penekanan. Pemeriksaan dengan pengurutan prostat biasanya sulit menemukan kuman diplokok atau gonokok. o Vesikulitis Vesikulitis ialah radang akut yang mengenai vesikula seminalis dan duktus ejakulatorius, dapat timbul menyertai prostatitis akut atau epididimis akut. Gejala subyektif menyerupai gejala prostatitis akut, berupa demam, polakisuria, hematuria termina, nyeri pada waktu ereksi dan ejakulasi, dan spasme mengandung darah. o Vas deferenitis atau funikulitis Gejala berupa perasaan nyeri pada daerah abdomen bagian bawah pada sisi yang sama. o Epididimitis Epididimitis akut biasanya unilateral, dan setiap epididimitis biasanya disertai defernitis. Keadaan yang mempermudah timbulnya epididimitis ini adalah trauma pada uretra posterior yang disebabkan oleh salah penanganan atau kelalaian penederita sendiri. Faktor yang mempengaruhi keadaan ini antara lain irigasi yang terlalu sering dilakukan, cairan irigator terlalu panas atau terlalu pekat, instrumentasi yang kasar, pengurutan prostat yang berlebihan, atau aktivitas seksual atau jasmani yang berlebihan. Epididmitis dan tali spermatika bengkak dan teraba panas, juga testis, sehingga menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa nyeri sekali. Bila mengenai kedua epididimis dapat mengakibatkan sterilitas.

12

Blok 15 Skin and Integument

o Trigonitis Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai trigonum vesika urinaria. Trigonitis menimbulkan gejala poliuria, disuria terminal, dan hematuria.

Pada wanita infeksi pada serviks ( servisits gonore dapat menimbulkan komplikasi ; o Parauretritis Kelenjar parauretra dapat terkena, tetapi abses jarang terjadi. o Servisitis Dapat asimptomatik, kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada punggung bawah. Pada pemeriksaan, serviks tampak merah dengan erosi dan sekret mukopurulen. Duh tubuh akan terlihat lebih banyak, bila terjadi servisitis akut atau disertai vaginitis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis. o Bartholinitis Labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah dan nyeri tekan. Kelenjar Bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila penderita berjalan dan penderita sukar duduk. Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan dapat pecah melalui mukosa atau kulit. Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren atau menjadi kista. o Salpingitis Peradangan dapat bersifat akut, subakut, atau kronis. Ada beberapa faktor predisposisi, yaitu ; masa puerperium ( nifas ), dilatasi setelah kuretase, pemakaian IUD, tindakan AKDR ( alat kontrasepsi dalam ). Cara infeksi langsung dari serviks melalui tiba Fallopii sampai pada daerah salping dan ovarium sehingga dapat menimbulkan penyakir radang panggul ( PRP ). Infeksi PRP ini dapat menimbulkan kehamilan ektopik dan sterilitas. Kira-kira 10% wanita dengan gonore akan berakhir dengan PRP. Gejalanya terasa nyeri pada daerah abdomen bawah, duh tubuh vagina, disuria, dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal.
13

Blok 15 Skin and Integument

Harus dibuat diagnosis banding dengan beberapa penyakit lain yang menimbulkan gejala hampir sama, misalnya : kehamilan diluar kandungan, apendisitis akut, abortus septik, endometriosis, ileitis regional, dan diivertikulitis. Untuk menegakkan diagnosis dapat dilakukan pungsi kavum Douglas dan dilanjutkan kultur dengan laparoskopi mikroorganisme. Selain mengenail alat-alat genital, gonore juga menyebabkan infeksi nongenital yang akan diuraikan berikut ini : o Proktitis Prokitis pada pria dan wanita pada umumnya asimtomatik. Pada wanita dapat terjadi karena kontaminasi dari vagina dan kadang-kadang karena hubungan genitoanal seperti pada pria. Keluhan pada wanita biasanya lebih ringan daripada pria, terasa seperti terbakar pada daerah anus dan pada pemeriksaan tampak mukosa eritematosa, edematosa, dan tertutup ous mukopurulen. o Orofaringitis Cara infeksi melalui kontak secara orogenital. Faringitis dan tonsilitis gonore lebih sering daripada gingivitis, stomatitis, atau laringitis. Keluhan bersifat asimtomatik. Bila ada keluhan sukar dibedakan dengan infeksi tenggorokan yang disebabkan kuman lain. Pada pemeriksaan daerah orofaring tampak eksudat mukopurulen yang ringan atau sedang. o Konjungtivitis Penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dari ibu yang menderita servistis gonore. Pada orang dewasa infeksi terjadi karena penularan pada konjungtiva bengkak dan merah dan keluar eksudat mukopurulen. Bila tidak diobati dapat beerakibat terjadinya ulkus kornea, panoftalmitis sampai timbul kebutaan. o Gonore diseminata Kira-kira 1% kasus gonore akan berlanjut menjadi gonore diseminata. Penyakit ini banyak didapat pada penderita dengan gonore asimtomatik sebelumnya terutama pada

14

Blok 15 Skin and Integument

wanita. Gejala yang timbul dapat berupa : artritis ( terutama monoartritis ), miokarditis, endokarditis, perikarditis, meningitis, dan dermatitis.1-7

Penatalaksanaan Uretritis gonore Pada penatalaksanaan uretritis gonore, sebelumnya kita harus memperhatikan fasilitas laboratorium yang ada untuk menemukan penyebabnya. Begitu juga dalam penatalaksanaan duh tubuh uretra, prinsipnya pertama kali ditujukan untuk uretritis gonore dan bila kemudian ternyata ditemukan uretritis nongonore, maka pengobatannya baru dilaksanakan setelah infeksi gonorenya teratasi. Oleh karena itu pada praktisnya perlu dibedakan antara ada atau tidak adanya fasilitas pemeriksaan mikroskopis. Non-medikamentosa Kondisi yang terkait dengan infeksi menular seksual adalah pentingnya edukasi dan penyuluhan kepada pasien. Edukasi kepada pasien dapat diberikan dengan menjelaskan hal hal sebagai berikut : o Bahaya IMS termasuk komplikasinya. o Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan. o Cara penularan IMS dan perlunya pengobatan untuk seksual tetapnya. o Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, bila tidak dihindarkan lagi, pakai kondom tiap kali berhubungan seks. o Hindari IMS di massa yang akan datang, dengan cara : tidak berganti ganti pasangan seksual.7

Medikamentosa Pada pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektivitas, harga, dan sesedikit mungkin efek toksiknya. Dulu ternyata pilihan utama ialah penislin + probenisid, kecuali di daerah yang tinggi insidens Neisseria gonorrhoeae penghasil penisilinase ( NGPP ). Secara

15

Blok 15 Skin and Integument

epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah obat dengan dosis tunggal. Macam-macam obat yang dipakai antara lain :


Penislin

Yang efektif ialah penislin G prokain akua. Dosis 4,8 juta unit + 1 gram probenisid. Angka kesembuhan di RSCM pada tahun 1991 ialah 91,2%. Di RSCM 3 juta unit + 1 gram probenisid. Obat tersebut dapat menutupi gejala sifilis. Kontraindikasinya ialah alergi penisilin. Mengingat tingginya kasus gonore denga strain NGPP dan juga dengan tingginya tingkat resistensi terhadap strain non NGPP, maka pada saat ini pemakaian penisilin tidak dianjurkan lagi.


Ampisilin dan amoksilin

Ampisiln dosisnya ialah 3,5 gram + 1 gram probenisid, dari amoksilin 3 gram + 1 gram probenisid. Angka kesembuhan di RSCM pada tahun 1987 hanya 61,4% sehingga tidak dianjurkan. Suntikan ampisilin tidak dianjurkan. Kontraindikasinya ialah alergi penisilin. Untuk daerah dengan Neisseria gonorrhoeae penghasil penislin ( NGPP ) yang tinggi, ampisiln dan amoksilin juga tidak dianjurkan.


Sefalosporin

Seftriakson ( generasi ke-3 ) cukup efektif dengan dosis 250 mg intramuskular. Sefoperazon dengan dosis 0.50 sampai 1.00 g secara intramuskular. Sefiksim 400 mg per oral dosis tunggal memberi angka kesembuhan > 95%.


Spektinomisin

Dosisnya ialah 2 gram i.m. baik, untuk yang penderita alergi penisilin, yang mengalami kegagalan pengobatan dengan penisilin, dan terhadap penderita yang juga tersangka menderita sifilis karena obat ini tidak menutupi gejala sifilis.


Kanamisin

Dosisnya 2 gram i.m. Angka kesembuhan di RSCM pada tahun 1985 ialah 85%. Baik untuk penderita yang alergi penisilin, gagal dengan pengobatan penisilin dan tersangka sifilis.
16

Blok 15 Skin and Integument

Tiamfenikol

Dosisnya 3,5 gram, secara oral. Angka kesembuhan di bagian RSCM pada tahun 1988 ialah 97,7%. Tidak dianjurkan pemakaiannya pada kehamilan.


Kuinolon

Dari golongan kuinolon, obat yang menjadi pilihan adalah ofloksasin 400 mg, siprofloksasin 250-500 mg, dan norfloksasin 800 mg secara oral. Angka kesembuhan pada tahun 1992 untuk ofloksasin masih tinggi, yakni 100%. Mengingat pada beberapa tahun terakhir ini resisten terhadap siprofloksasin dan ofloksasin semakin tinggi, maka golongan kuinolon yang dianjurkan adalah levofloksasin 250 mg per oral dosis tunggal.2,7

Gonorrhoeae yang disebabkan oleh Neisseria Gonorrhoeae penghasil penisilinase ( NGPP )

Pada permulaan tahun 1976 NGPP ditemukan pertama kali di Timur Jauh, dan segera setelah itu atau hampir bersamaan waktunya ditemukan di Amerika Serikat satu galur Neisseria gonorrhoeae yang mampu membuat enzim penisilinase atau beta laktamase yang dapat merusak penisilin menjadi senyawa aktif. Galur demikian dikenal sebagai PPNG atau Penicillinase Producing Neisseria gonorrhoeae. Gonore dengan galur Neisseria gonorrhoeae penghasil penisilinase ( NGPP ) ini sukar diobati dengan penisilin dan derivatnya, walaupun dengan peninggian dosis. Disamping itu harus dibedakan dengan gonokok yang resisten ringan terhadap antibiotik yang disebabkan karena mutasi pada lokus. Resistensi ringan ini masih dapat diobati dengan penisilin dengan cara oeninggian dosis penislin dan disebut resisten relatif. Gejala klinis dan komplikasi gonore dengan galur NGPP ini tidak berbeda dengan gonore biasa. Cara diagnostiknya ialah dengan melakukan tes iodometrik atau asidometrik pada koloni yang tumbuh pada biakan. Pada 1980 telah berhasil dilaporkan galur NGPP sejumlah 17,1% dari semua galur Neisseriae gonorrhoeae yang berhasil diisolasi. Obat obat yang dapat digunakan untuk pengobtan gonore akibat galur NGPP ialah kuinolon, spektinomisin, kanamisin, sefalosporin, dan tiamfenikol. Mengingat begitu
17

Blok 15 Skin and Integument

cepatnya peningkatan frekuensi galur NGPP, kita harus waspada bahwa dalam jangka waktu yang singkat akan ditemukan frekuensi galur NGPP yang lebih tinggi. Karena itu pengobatan penisilin dan derivatnya perlu ditinjau lagi efektivitasnya.1,2

Prognosis Dengan pengobatan antibiotik, infeksi gonore 95 - 99% pada penderita bisa

disembuhkan.5

Kesimpulan Gonore merupakan penyakit yang mempunyai insidens yang tinggi diantara infeksi menular seksual lainnya. Diperkirakan terdapat lebih dari 150 juta kasus gonore di dunia setiap tahunnya, meskipun di beberapa negara cenderung menurun, namun negara lainnya cenderung meningkat. Perbedaan ini menunjukkan bervariasinya tingkat keberhasilan sistem dan program pengendalian IMS yang meliputi peningkatan informasi data, deteksi awal dengan menggunakan fasilitas diagnosis yang baik, pengobatan dini dan penelusuran kontak. Penyebab gonore adalah gonokok, gonokok termasuk golongan diplokok, bersifat Gram negatif, terlihat diluar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas. Cepat mati dalam keadaaan kering, tidak tahan suhu 390C, dan tidak tahan zat desinfektan. Infeksi dimulai baik secara langsung maupun hematogen. Masa tunas gonore sangat singkat pada pria umumnya berkisar antara 2-5 hari dan pada wanita masa tunas sulit untuk ditentukan karena pada umumnya asimptomatik. Manifestasi klinis biasanya menimbulkan uretritis dan tampak pula duh tubuh yang mukopurulen. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan laboratorium adanya uretritis, serta ditemukannya kuman penyebab. Secara epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah obat dengan dosis tunggal golongan penisilin kecuali gonore dengan galur Neisseria gonorrhoeae penghasil penisilinase ( NGPP ) ini sukar diobati dengan penisilin dan derivatnya, walaupun dengan peninggian dosis. Selain itu pentingnya edukasi dan penyuluhan kepada pasien sangat berguna untuk menghindari bahaya IMS dan komplikasinya.

18

Blok 15 Skin and Integument

Daftar pustaka 1. Adhi Djuanda, Mochtar H, Siti Aisah dkk. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-6. Badan penerbit FKUI. Jakarta; 2010 : 363-79. 2. Sjaiful FD, Wresti Indriatmi BM, Jubianto J. Infeksi menular seksual. Edisi ke-3. Badan penerbit FKUI. Jakarta; 2007. 3. Josodiwondo S. Pemeriksaan bakteriologik dan serologik infeksi menular seksual. Dalam : Infeksi menular seksual, ed 3. Jakarta : Balai penerbitan FKUI, 2007 : 2547. 4. Sherrad J. Gonorrhoeae. Med. Progress July ; 2006 : 330-333. 5. Lumintang H. Suatu tinjauan epidemiology uretritis gonore dan uretritis nongonore diRSUD Dr Soetomo Surabaya. Bandung : kumpulan makalah ilmiah KONAS PADVI VI, 1989 : 415-20. 6. WHO. Guidelines for management of sexually transmitted infection. Geneva. 2003. 7. Pedoman penatalaksanaan infeksi menular seksual. Departemen kesehatan direktorat jenderal pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan. 2006.

19