Anda di halaman 1dari 20

DIMENSI MORAL DALAM KEGIATAN KEILMUAN

Nur Iswanti Hasani, Damiri, Ahadi Setiawan Mahasiswa Program Pasca Sarjana Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Abstract The purpose of this article is to know the relationship between moral values and science. Both of them are very important in our daily lives. Science is a great blessing for mankind. It utility in everyday life is unlimited. Moral values are extremely important for our overall well-being. Moral values provide a structure for our life. There are thee kinds of values, that is: material, vital and religious. Beside the moral values, science development should be based on the religion. Religion as the basic for all of the human activities, including science. Science will be danger if it does not based on the moral and religion values.In conclusion, science, moral values and religion are supporting one another.

1. Pendahuluan Ilmu senantiasa berkembang mengikuti kemajuan daya pikir manusia. Dengan adanya perkembangan ilmu tersebut, maka taraf hidup manusia pun semakin meningkat. Meskipun begitu, perkembangan ilmu tersebut bisa bernilai positif maupun negatif. Ilmu yang digunakan untuk kemaslahatan manusia bisa dikatakan bahwa ilmu tersebut memiliki nilai positif terhadap kehidupan. Misalnya, perkembangan ilmu dalam bidang kedokteran dengan adanya berbagai penemuan baru dalam hal obat maupun vaksin. Sementara itu, ilmu yang berdampak negatif bagi kehidupan misalnya adalah penemuan sistem cloning yang menyalahi hakikat keagamaan.

Dari kenyataan tersebut, maka diperlukan dasar/landasan dalam penilaian maupun penggunaan sebuah ilmu. Landasan moralitas dalam pemanfaatan sebuah ilmu sangat diperlukan agar mendapat nilai yang positif dari sebuah ilmu. Menurut Kondratyev (2000), moralitas diartikan sebagai kesadaran akan loyalitas pada tugas dan tanggung jawab. Moralitas berasal dari dalam kepribadian manusia itu sendiri. Moralitas tidak bisa dijelaskan dengan akal, karena itu berasal dari kepribadian manusia. Moralitas dalam filsafat ilmu merupakan dasar yang berfungsi sebagai pembentuk sikap hidup sang ilmuwan. Ini berguna bagi pembangunan hubungan yang harmonis antara dirinya dengan orang lain. Bagaimanapun juga kita berkepentingan agar perkembangan ilmu dapat berjalan secara wajar sehingga mampu menjadi pendorong terwujudnya kehidupan yang lebih baik. Maka dari itu, melalui tulisan ini kami ingin menjelaskan mengenai pengertian nilai dalam keilmuan yang berlanjut pada kaitan antara ilmu dengan moralitas dalam konteks ini adalah agama. Selain itu, pemanfaatn ilmu dalam kehidupan yang sesuai dasar moral kiranya juga perlu untuk diungkapkan.

2. Pengertian nilai (values) Nilai bisa diartikan dari berbagai sudut pandang. Nilai bisa berarti hasil yang diraih dari sebuah usaha. Nilai tersebut menunjukkan kualitas usaha yang telah dilakukan. Namun begitu, nilai dalam konteks yang akan dibicarakan saat ini adalah nilai yang berkaitan dengan keilmuan. Banyak pakar yang telah mendefinisikan tentang arti nilai. Adanya perbedaan tentang pengertian nilai tersebut disebabkan karena nilai tersebut sangat erat hubungannya dengan pengertianpengertian dan aktivitas manusia yang komplek dan sulit ditentukan batasannya. Sehingga seorang ahli bernama Kosttaff memandang bahwa nilai merupakan kualitas empiris yang tidak dapat didefinisikan, tetapi hanya dapat dialami dan dipahami secara langsung. Hal ini bisa dipahami bahwa seseorang mengetahui akan sebuah nilai ketika sudah melaksanakan dan mengalaminya. Nilai yang hanya berhenti pada tahap teori tak akan membekas pada tingkah laku seseorang. Kimball Young pun juga mempunyai pendapat yang hampir sama. Dia mengatakan

bahwa nilai adalah asumsi yang abstrak dan sering kali tidak disadari tentang apa yang dianggap penting dalam masyarakat. Selain kedua ahli tersebut, berikut beberapa pengertian nilai dari beberapa ahli yang diambil dari situs Wikipedia. A.W.Green mengatakan bahwa nilai adalah kesadaran yang secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap objek. Sedangkan Woods mengemukakan bahwa nilai merupakan petunjuk umum yang telah berlangsung lama serta mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari. Ahli yang berikutnya adalah M.Z.Lawang yang menyatakan nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, yang pantas, berharga, dan dapat mempengaruhi perilaku sosial dari orang yang bernilai tersebut. Pakar dari Indonesia yaitu Hendropuspito berpendapat bahwa nilai adalah segala sesuatu yang dihargai masyarakat karena mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan kehidupan manusia. Pendapat terakhir memandang dari kacamata sosiologi yang dinyatakan oleh Karel J. Veeger yang memandang nilai-nilai sebagai pengertian-pengertian (sesuatu di dalam kepala orang) tentang baik tidaknya perbuatan-perbuatan. Dengan kata lain, nilai adalah hasil penilaian atau pertimbangan moral. Sementara itu, Mcmullin (2000: 550) berpendapat bahwa nilai berasal dari kata valoir yang berarti sesuatu yang berharga. Menilai sesuatu berarti menganggapnya berharga, merasa memiliki sebagai bagian tujuan dari sebuah usaha, menghormati sebagai sesuatu yang diinginkan, berpandangan positif terhadap sesuatu. Secara korelatif, nilai adalah karakteristik yang menganggap sesuatu sebagai hal yang sangat dihargai/dihormati. Dari pengertian tentang nilai di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang didapatkan dari hidup bermasyarakat berupa penghargaan terhadap sesuatu. Nilai bisa dirasakan ketika telah mengaplikasikan secara langsung. Doppelt mengemukakan bahwa nilai terutama nilai sosial sangat mempengaruhi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh dalam hal penemuan ilmiah, motivasi ilmuwan dalam mengembangkan ilmu, ilmu pengetahuan yang dicari beserta tujuannya. Nilai-nilai yang baik akan menghasilkan aplikasi ilmu pengetahuan yang lebih baik pula.

Dalam kaitan antara nilai dan ilmu, Mcmullin (2000: 551) juga menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan nilai dapat berinteraksi dalam berbagai cara. Salah satunya adalah bagaimana ilmu sangat berpengaruh terhadap penciptaan ataupun perkembangan ilmu pengetahuan.

3. Macam-macam nilai (values) Dalam hal penelitian, banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang sebuah nilai. Dalam kaitan tentang macam nilai, maka terdapat beberapa ahli pula yang menyertakan pandangannya. Notonegoro dalam Kaelan (2000) menyebutkan adanya 3 macam nilai. Ketiga nilai itu adalah sebagai berikut : a. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia atau kebutuhan ragawi manusia. b. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas. c. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian meliputi : 1) Nilai kebenaran yang bersumber pada akal (rasio, budi, cipta) manusia. 2) Nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsur perasaan (emotion) manusia. 3) Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak (karsa) manusia. Nilai religius yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak serta bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia. Nilai di atas masih bersifat abstrak, atau disebut nilai dasar, karena nilai ini masih berada dalam pemikiran manusia. Nilai dasar kemudian dijabarkan secara interpretasi menjadi nilai instrumental yang berupa parameter yang lebih konkrit, yang masih berupa rumusan umum berwujud norma-norma. Nilai instrumental dijabarkan ke dalam nilai praksis, berwujud indikator yang sifatnya sangat konkrit berkaitan suatu bidang dalam kehidupan.

4. Hubungan antara ilmu dan agama Ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dari waktu ke waktu ilmu telah mengubah kehidupan manusia dan peradabannya. Kehidupan manusia pun menjadi lebih dinamis dan berwarna. Perkembangan ilmu di satu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Berbagai penemuan di bidang ilmu maupun teknologi terbukti amat bermanfaat dalam kehidupan manusia. Sebagai contoh adalah dengan ditemukannya mesin jahit. Dalam 1 menit bisa dilakukan sekitar 7000 tusukan jarum jahit. Bisa dibandingkan jika kita harus menjahit dengan tangan yang hanya bisa 23 tusukan per menit (Qardhawi, 1997). Dahulu Ratu Isabella (Italia) di abad XVI perlu waktu 5 bulan dengan sarana komunikasi tradisional untuk memperoleh kabar penemuan benua Amerika oleh Columbus. Lalu di abad XIX Orang Eropa perlu 2 minggu untuk memperoleh berita pembunuhan Presiden Abraham Lincoln. Tapi pada 1969, dengan sarana komunikasi canggih, dunia hanya perlu waktu 1,3 detik untuk mengetahui kabar pendaratan Neil Amstrong di bulan (Winarno, 2004). Dulu orang naik haji dengan kapal laut bisa memakan waktu 17-20 hari untuk sampai ke Jeddah. Sekarang dengan naik pesawat terbang, kita hanya perlu 12 jam saja. Tapi di sisi lain, tidak jarang pula ilmu pengetahuan berdampak negatif karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Bom atom telah menewaskan ratusan ribu manusia di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Pada tahun 1995, Elizabetta, seorang bayi Italia, lahir dari rahim bibinya setelah dua tahun ibunya (bernama Luigi) meninggal. Ovum dan sperma orang tuanya yang asli, ternyata telah disimpan dan kemudian baru dititipkan pada bibinya, Elenna adik Luigi (Kompas, 16/01/1995). Bayi tabung di Barat bisa berjalan walau pun asal usul sperma dan ovumnya bukan dari suami isteri (Hadipermono, 1995). Bioteknologi dapat digunakan untuk mengubah mikroorganisme yang sudah berbahaya, menjadi lebih berbahaya, misalnya mengubah sifat genetik virus influenza hingga mampu membunuh manusia dalam beberapa menit saja (Bakry, 1996). Kloning hewan rintisan Ian Willmut yang sukses menghasilkan domba kloning bernama Dolly, akhir-akhir ini diterapkan pada manusia (human cloning). Lingkungan hidup seperti laut, atmosfer udara, dan hutan juga tak sedikit mengalami kerusakan dan pencemaran yang sangat parah dan berbahaya. Beberapa varian tanaman pangan

hasil rekayasa genetika juga diindikasikan berbahaya bagi kesehatan manusia. Tak sedikit yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk melakukan kejahatan di dunia maya (cyber crime) serta untuk mengakses situs porno, kekerasan dan perjudian. Ada beberapa tipe hubungan antara ilmu dan agama yang telah muncul dipermukaan sejarah. A. Pertentangan Sejarah di Eropa mencatat bahwa terjadi konflik atau pertentangan antara ilmu dan agama yang dianut mayoritas yaitu. berawal dari temuan Copernicus (1473-1543) yang kemudian diperkuat oleh Galileo Galilei (1564-1642) tentang struktur alam semesta yang heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) berhadapan dengan gereja yang geosentris (bumi sebagai pusat tata surya), telahelahirkan ketegangan antara ilmu dan agama. Hukuman yang dijatuhkan pada Galileo Galilei pada tahun 1633 juga menunjukkan pertentangan tersebut. Persoalan lain yang menggambarkan hubungan konflik antara ilmu dan agama adalah masalah teori evolusi Darwin yang muncul pada abad ke-19. Sejumlah ilmuwan dan agamawan menganggap bahwa teori evolusi Darwin dan kebenaran kitab suci tidak dapat di pertemukan. Kaum Literalis Biblikal memahami bahwa alam semesta di ciptakan Tuhan secara langsung (kreasionisme), adapun kaum evolusionis berpandangan bahwa alam semesta terjadi secara alamiah melalui proses yang sangat panjang (evolusionisme).

B.

Saling Lepas Pandangan independensi menempatkan ilmu dan agama tidak dalam posisi konflik.

Kebenaran ilmu dan agama sama-sama absah selama berada pada batas ruang lingkup penyelidikan masing-masing. Ilmu dan agama tidak perlu saling mencampuri satu dengan yang lain karena memiliki cara pemahaman akan realitas yang benar-benar terlepas satu sama lain, sehingga tidak ada artinya mempertentangkan keduanya. Menurut pandangan ini upaya peleburan merupakan upaya yang tidak memuaskan untuk menghindari konflik.

Pendekatan independensi ini di nilai cukup aman karena dapat menghindari konflik dengan cara memisahkan hubungan di antara keduanya. Pendekatan ini menggambarkan ilmu dan agama sebagaimana jalur kereta yang berel ganda, masing-masing memiliki jalan yang independen dan otonom. Pendekatan independensi meskipun merupakan pilihan yang cukup aman, namun dapat menjadikan realitas kehidupan menjadi terbelah. Penerimaan kebenaran antara ilmu dan agama menjadi satu pilihan dikotomis yang membingungkan karena tidak dapat mengambil keduanya sekaligus. Adapun bagi seseorang yang berusaha menerima keduanya akan mengalami split personality (berkepribadian ganda) karena menerima dua macam kebenaran yang saling berseberangan. Menurut Barbour, pendekatan ini membantu tetapi membiarkan segala kebenaran ilmu dan agama menjadi satu pilihan yang dilematis.

C.

Integrasi Ada dua makna dalam tipologi ini. Pertama, bahwa integrasi mengandung makna implisit

reintegrasi, yaitu menyatukan kembali ilmu dan agama setelah keduanya terpisah. Kedua, integrasi mengandung makna unity, yaitu bahwa ilmu dan agama merupakan kesatuan primordial. Makna yang pertama populer di Barat karena kenyataan sejarah menunjukan keterpisahan itu. Adapun makna kedua lebih banyak berkembang di dunia Islam karena secara ontologis di yakini bahwa kebenaran ilmu dan agama adalah satu, perbedaannya pada ruang lingkup pembahasan, yang satu pengkajian dimulai dari pembacaan Al-Quran, yang satu dimulai dari pembacaan alam. Kebenaran keduanya saling mendukung dan tidak saling bertentangan. Adapun integrasi ilmu dan agama yang direflesikan dari filsafat Mulla Shadra dapat dipahami dalam tiga pendekatan, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. 1) Hubungan Ontologis Secara ontologis, hubungan ilmu dan agama bersifat integratif-interdependentif, artinya eksistensi (keberadaan) ilmu dan agama saling bergantung satu sama lain. Tidak ada ilmu tanpa

agama dan tidak ada agama tanpa ilmu. Ilmu dan agama secara primordial berasal dari dan merupakan bagian dari Tuhan, oleh karena Al-Ilm adalah salah satu dari nama Tuhan, sehingga wujud (eksistensi) ilmu dan agama adalah identik dan menyatu dalam wujud Tuhan.

2) Hubungan Epistemologis

Secara epistemologis, hubungan ilmu dan agama bersifat intagratif-komplementer, artinya seluruh metode yang diterapkan dalam ilmu dan agama saling melengkapi satu sama lain. Dalam pencarian kebenaran ilmu tidak hanya menerima sumber dari kebenaran dari empiris dan rasio saja, namun juga menerima sumber kebenaran dari intuisi dan wahyu. Kebenaran ilmiah juga tidak hanya melalui usaha manusia/capaian, namun juga melalui pembersihan diri dan pendekatan diri kepada Tuhan sehingga ilmu itu hadir dalam diri manusia. Oleh karena ilmu memiliki makna yang spiritual, maka pencapaian ketinggian ilmu berkorelasi dengan kedekatannya kepada Tuhan. Ilmu bukan hanya sarana untuk mencapai kebenaran (k kecil) namun juga mencapai Kebenaran (K besar).Ilmu yang sharih. Kata Ibnu Taimiyah tidak akan bertentangan dengan wahyu ( Taufiq Pasiak,2002:218 ).

3) Hubungan Aksiologi Secara aksiologi, hubungan ilmu dan agama bersifat integratif-kualifikatif, artinya seluruh nilai (kebenaran, kebaikan, keindahan, dan keilahian) saling mengkualifikasi satu dengan yang lain. Nilai kebenaran, yang sering kali menjadi tolak ukur utama ilmu merupakan kebenaran yang baik, yang indah dan yang ilahiah sekaligus. Justifikasi ilmu tidak hanya benar-salah (nilai kebenaran) saja, namun juga termasuk didalamnya baik-buruk (nilai kebaikan), indah-jelek (nilai keindahan) dan sacral-profan/halal-haram (nilai keilahian). Ilmu tidak bebas nilai, ilmu tidak hanya untuk ilmu tetapi ilmu harus disinari oleh-terutama-nilai tertinggi, yaitu nilai keilahian (ketuhanan). Implikasi atas saling mengkualifikasinya keseluruhan nilai dalam ilmu akan mengarahkan perkembangan ilmu menjadi ilmu yang bermoral.

Dengan demikian, kesimpulan akhir dari integrasi ilmu dan agama dalam perspektif filsafat Mulla Shadra adalah bahwa integrasi ilmu dan agama adalah integrasi yang interdependentif-

komplementer-kualifikatif, yaitu integrasi yang dibangun merupakan kristalisasi dari landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis atas ilmu. Selain ketiga tipe hubungan antara agama dan ilmu di, secara garis besar, berdasarkan tinjauan ideologi yang mendasari hubungan keduanya, terdapat tiga paradigma. Pertama adalah paradigma sekuler yang memandang bahwa agama dan iptek merupakan sesuatu yang terpisah. Agama tidak dinafikkan eksistensinya tetapi dibatasi dalam perannya dalam hubungan pribadi manusia dengan Tuhannya. Agama dan iptek tidak bisa mengintervensi satu dengan yang lain. Agama dan iptek sama sekali terpisah baik secara ontologis (berkaitan dengan pengertian atau hakikat suatu hal), epistemologis (berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan) dan aksiologis (berkaitan dengan cara menerapkan pengetahuan). Kedua, paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideologi sosialisme yang menafikan eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, tidak ada hubungan dan kaitan apa pun dengan iptek. Iptek bisa berjalan secara independen dan lepas secara total dari agama. Paradigma ini mirip dengan paradigma sekuler di atas, tapi lebih ekstrem.Dalam paradigma sekuler, agama berfungsi secara sekularistik, yaitu tidak dinafikan keberadaannya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan vertikal manusia dengan tuhan. Sedang dalam paradigma sosialis, agama dipandang secara ateistik, yaitu dianggap tidak ada (inexist) dan dibuang sama sekali dari kehidupan. Ketiga, paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan. Aqidah Islam yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits menjadi qaidah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia (An- Nabhani, 2001). Paradigma ini memerintahkan manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan Aqidah Islam, bukan lepas dari aqidah itu. Ini bisa kita pahami dari ayat yang pertama kali turun (artinya) : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (QS. Al Alaq:1).

Ayat ini berarti manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam (Al-Qashash, 1995:81). Paradigma Islam ini menyatakan bahwa, kata putus dalam ilmu pengetahuan bukan berada pada pengetahuan atau filsafat manusia yang sempit, melainkan berada pada ilmu Allah yang mencakup dan meliputi segala sesuatu (Yahya Farghal, 1994:117). Firman Allah SWT (artinya) : Dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu. (QS An-Nisaa` [4] : 126) Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.(QS Ath-Thalaq [65] : 12). Dari ketiga paradigma di atas, maka ajaran dari semua agama memang semua berkiblat pada pandangan paradigma terakhir. Dalam pandangan tersebut agama ditempatkan sejajar dengan ilmu pengetahuan. Kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Bahkan seorang fisikawan terkemua (Albert Einstein) menyebutkan bahwa ilmu tanpa agama adalah buta dan agama tanpa ilmu akan binasa. Pernyataan tersebut menggambarkan betapa erat kaitan antara ilmu pengetahuan dengan agama. Jelaslah kiranya bahwa konsep integrasi ilmu dan agama sesungguhnya berpusat pada Tuhan (tauhid) karena dari-Nya semua berasal dan kepada-Nya semua kembali, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (segala sesuatu berasal dari Allah dan kepada-Nya semua akan kembali). Integrasi holistik ilmu dan agama hendaknya menjadi dasar bagi perkembangan seluruh keilmuan yang ada.

5. Prinsip-prinsip pemanfaatan ilmu Jujun Suriasumantri dalam Sri Soeprapto (2003: 90) mengatakan bahwa pengetahuan termasuk dalam hal itu ilmu, seni atau pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga landasan pengembang, yaitu ontologis, epistemologis dan aksiologis. Ontologis membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang

ada. Epistemologis membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Aksiologis membahas tentang manfaat pengetahuan yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang diperolehnya. Manfaat ilmu bagi manusia tidak terhitung jumlahnya. Sejak Nabi Adam hingga sekarang, dari waktu ke waktu ilmu telah mengubah manusia dan peradabannya. Kehidupan manusia pun menjadi lebih dinamis dan berwarna. Dengan ilmu, manusia senantiasa: a. mencari tahu dan menelaah bagaimana cara hidup yang lebih baik dari sebelumnya b. menemukan sesuatu untuk menjawab setiap keingintahuannya c. menggunakan penemuan-penemuan untuk membantu dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam tingkatan aksiologi ilmu pengetahuan, menurut Bertrand Russel, tahap ini disebut juga tahap manipulasi. Dalam tahap ini, ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi), melainkan juga untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. Konsep ilmiah tentang gejala alam sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi (Jujun S. Suriasumantri 1994). Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis, dalam perjalanan dan pencapaian-pencapaiannya, justru menimbulkan masalah lain. Eksesnya yang dapat disebutkan misalnya dehumanisasi, degradasi eksistensi kemanusiaan, dan pengrusakan lingkungan hidup. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan kontroversi. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan alam, sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian dari rangkain perjalan ilmu untuk mengungkap hakikat gejala alam dan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor manusia. Misalnya, manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi baru (Jaques Ellul 1964). Akhirnya, eksistensi

manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Jujun S. Suriasumantri 1984). Posisi manusia dalam ilmu pengetahuan sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. Dalam psikologi, dikenal konsep diri dari Freud yang dikenal dengan nama id, ego dan super-ego. Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). Ego adalah penyelaras antara id dan realitas dunia luar. Super-ego adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal, hati nurani (Jalaluddin Rakhmat, 1985). Dalam agama, ada sisi destruktif manusia, yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis, mereka dapat saja hanya memfungsikan id-nya, sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Misalnya dalam pertarungan antara id dan ego, dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi optimal, maka nafsu angkara murka yang mengendalikan tindakan manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan sehingga amatlah nihil kebaikan yang diperoleh manusia, atau malah mungkin kehancuran. Kisah dua kali perang dunia, kerusakan lingkungan, penipisan lapisan ozon, adalah pilihan id dari kepribadian manusia yang mengalahkan ego maupun super-ego-nya. Oleh karena itu, pada tingkat aksiologis, pembahasan tentang nilai-nilai adalah hal yang mutlak. Nilai ini menyangkut etika, moral, dan tanggungjawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena dalam penerapannya, ilmu pengetahuan juga punya bias negatif dan destruktif, maka diperlukan patron nilai dan norma untuk mengendalikan potensi id (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak, yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Hakikat moral, tempat ilmuwan mengembalikan kesuksesannya.

Etika adalah pembahasan mengenai baik (good), buruk (bad), semestinya (ought to), benar (right), dan salah (wrong). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Keduanya bertalian dengan hati nurani, bernaung di bawah filsafat moral (Herman Soewardi 1999). Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban, dengan argumen bahwa kalau sesuatu itu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Oleh karena itu, etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa asas dari pemanfaatan ilmu adalah nilai (value), menyangkut etika, moral, dan tanggungjawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar kemaslahatan manusia itu sendiri. Dengan nilai diharapkan efek ilmu yang destruktif dapat dinetralisir, karea manusia pengguna ilmu bisa berpikir logis tanpa tendensi pribadi/sesaat. Hajat manusia akan ilmu pengetahuan disebabkan oleh dua hal mendasar yaitu, ilmu sebagai penunjuk ke jalan yang lebih baik dalam kehidupan manusia di segala sektor dan ilmu sebagai alat untuk mempermudah jalan hidup manusia dalam menghadapi masalah (Beni Ahmad Saebani, 2009: 172 ) Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan alam. Dengan mempelajari atom kita dapat memanfaatkannya untuk sumber energi bagi keselamatan manusia, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia jika pemanfaatanya tidak menggunakan etika pemanfaatan ilmu. Jika kita menyelami hal tersebut, maka masalahnya terletak pada hakikat ilmu itu sendiri. Sebenarnaya ilmu bersifat netral, tidak mengenal sifat baik dan buruk, manusianyalah yang menjadi penentu. Dengan kata lain netralitas hanya terletak pada dasar epistemologisnya saja. Sedangkan ontologis dan aksiologisnya, tergantung dari manusianya. Pemanfatan ilmu pengetahuan harus sesuai etika pemanfatan ilmu pengetahuan, karena apabila tidak menggunakan etika maka akan terjadi bencana-bencana yang diakibatkan ilmu pengetahuan tersebut. Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology) antara lain kerusakan ekologi. Banyak yang dapat disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air, udara, tanah, dampak rumah kaca,

kepunahan spesies tumbuhan dan hewan, pengrusakan hutan, akumulasi limba-limba toksik, penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi, kerusakan ekosistem lingkungan hidup, dan lainlain. Lebih-lebih lagi, musuh kemanusiaan, yaitu perang. Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. Berapa korban manusia berguguran akibat bom atom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki, Jepang. Atau kawasan Asia Tengah, yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia). Pada akhirnya ilmuwan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan dan teknologi netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh mengingkari suatu nilai, seperti nilai moral, religius, dan ideologi. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri, sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir mengikuti logika dan perspektifnya sendiri-sendiri, dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang diizinkan memberikan kontribusi. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut bayi tabung. Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada bayi tabung itu, yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. Yang terakhir ini mengubah hakikat manusia secara dramatis; ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh manusia mampu menciptakan manusia juga. Bahkan, ilmu pengetahuan yang diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya, justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri Perkembangan ilmu pengetahuan memberi dampak bagi kehidupan, baik itu dampak yang konstruktif ataupun yang destruktif, kita harus mengakui apabila kedua sisi tersebut dibandingkan maka sisi konstruktifnyalah yang lebih besar. Perkembangan ilmu pengetahuan yang membawa kemajuan peradaban umat manusia ini adalah hasil jerih payah ilmuwanilmuwan, pemikir-pemikir dan akademisi-akademisi yang telah rela mengorbankan segalanya demi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sebenarnya bersifat netral, kerusakan yang terjadi di bumi bukan diakibatkan oleh hakikat ilmu, tetapi manusialah sebagai pemanfaat ilmu memegang

peranan essensial. Kenetralan ilmu dapat terjaga apabila manusia sebagai manipulator dan artikulator dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan tetap berpedoman pada nilai dan etika yang menjadi ketentuan mutlak. Nilai dan etika akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Robert Merton (1957) mangatakan bahwa ethos of science adalah seperangkat nilai yang digunakan sebagai ajuan dalam aktivitas keilmuan. Sementara itu dalam pembahasan yang sama, Resnik (2008: 152) menyampaikan bahwa ada norma etis dalam kegiatan keilmuan. Normative ethics of science difokuskan pada norma/aturan umum (standar, nilai atau prinsip) yang menjadi panduan dalam kegiatan keilmuan. Norma tersebut harus memberikan panduan bagi para peneliti maupun ilmuwan dalam menentukan keputusan ataupun melakukan suatu kegiatan terkait keilmuan. Berikut ini beberapa prinsip pemanfaatan ilmu yang dikemukanan oleh Resnik (2008: 153). a. Honesty/kejujuran Seorang peneliti harus terbuka dalam mengadakan penelitian maupun mempublikasikan hasil penelitian tersebut. Selain itu, mereka juga harus terbuka untuk berinteraksi dengan anggota, sponsor, agen dan juga masyarakat umum. Norma ini akan membantu untuk mempromosikan tujuan dari ilmu. Ketidakjujuran dalam ilmu akan melenceng dari aturan atau norma yang ada. b. Objectivity/ objektivitas Seperti disebutkan di awal tadi, maka seorang peneliti harus berpegang pada objektivitas dalam penelitian maupun publikasi. Begitu pula dengan interaksi dengan anggota, sponsor, agen dan juga masyarakat umum. Objektivitas juga diperlukan ketika seorang peneliti harus memberikan testimony. c. Openness/ keterbukaan

Seorang ilmuwan harus membagi data, hasil, ide, metode, peralatan, teknik dan juga sember yang dipakai dalam kegiatan keilmuan. Hal ini penting karena ilmu adalah sebuah kegiatan sosial yang melibatkan kepercayaan dan kerjasama. d. Freedom/ kebebasan Seorang ilmuwan harus bebas dalam melaksanakan kegiatan keimluan tanpa adanya initimidasi politis ataupun agama. Aturan ini diterapkan terutama bagi institusi maupun organisasi yang mendukung suatu penelitian dalam sebuah daerah. e. Penghargaan kepada kolega Seorang ilmuwan harus menghagai rekanan, bawahan, siswa dan juga supervisor. Hal ini penting untuk meningkatkan menjaga kepercayaan serta kerjasama antar elemen. f. Penghargaan kepada properti/peralatan Seorang ilmuwan harus menghargai property fisik dan intelektual termasuk pada individu, institusi dan organisasi. Tujuannya tidak jauh beda dengan apa yang sudah disebutkan sebelumnya. g. Penghargaan kepada hukum Seorang ilmuwan hendaknya patuh terhadap hukum, peraturan, kebijakan dan aturan yang penting untuk mendukung kegiatan keilmuan. h. Manajemen sumber penelitian Seorang ilmuwan harus memperhatikan fisik, sumber daya manusia, teknologi dan finansial yang digunakan selama kegiatan penelitian. Dalam memnjalankan kegiatannya, seorang peneliti peralatan, investasi dana, laboratorium, ruangan dan bangunan, sample dan specimen, sarana geografi serta kelompok manusia. Maka dari itu, menajemen dari sumber-sumber tersebut sangat penting dalam mencapai tujuan dan mempromosikan hasil dari kegiatan keilmuan tersebut.

i. Tanggung jawab sosial Dalam menjalankan kegiatannya, seorang peneliti terlibat dalam aktivitas yang terkait dengan promosi tujuan-tujuan sosial sebagai contoh adalah kampamye tentang kesehatan, keamanan, pendidikan, pertanian, transportasi. Oleh karena itu, ilmuwan harus betul-betul berusaha untuk menghindari kerusakan dalam individu maupun sosial. Ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh ilmuwan dalam menjalankan tanggung jawab sosial tersebut diantaranya dengan menjalankan keilmuan yang bermanfaat bagi masyarakat, melakukan kerjasama dengan pemerintah, memberikan peringatan terhadap bahaya dari sesuatu dan lain sebagainya. Jika dikaitkan dengan apa yang ada di Indonesia, maka tugas tersebut direalisasikan dalam BPOM yang mengawasi obat dan makanan untuk masyarakat. j. Penghargaan terhadap subjek penelitian (hewan) Dalam melaksanakan penelitian, tak jarang seorang ilmuwan menggunakan hewan sebagai subjek penelitian, misalnya tikus untuk penelitian neurology, primata dan lain-lain. Maka dari itu, seorang peneliti melindungi dan mempromosikan kesejahteraan dari hewan yang dipakai sebagai sarana penelitian. Ada tiga prinsip dalam penggunaan hewan sebagai subjek penelitian yaitu: reduction (meminimalisasi penggunaan hewan), replacement (mengganti hewan yang dipakai sebagai sarana penelitian), dan refinement (mengurangi rasa sakit dan stress yang mungkin dirasakan oleh hewan tersebut). k. Penghargaan terhadap subjek penelitian (manusia) Selain menggunakan hewan sebagai subjek penelitiannya, ilmuwan juga menngunakan manusia sebagai subjek. Maka dari itu, ilmuwan harus menghormati hak asasi manusia dengan melindungi mereka dari rasa sakit dan eksploitasi. Penelitian yang biasa menggunakan manusia sebagai subjek adalah penelitian psikologi (emosi dan tingkah laku), sosial (antropologi dan sosiologi), biomedis (terkait dengan penyakit).

6. Penutup Dari paparan yang telah dijelaskan di depan, dapat disimpulknan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan haruslah didasari dengan itikad baik demi kemaslahatan manusia. Nilai dalam kehidupan berupa nilai moralitas sangatlah dibutuhkan dalam perkembangan keilmuan tersebut di berbagai bidang kehidupan. Seorang ilmuwan harus mempunyai akhlaq yang baik dalam pengembangan maupun pemanfaatan sebuah ilmu. Hal tersebut akan berimbas pada kegunaan positif dari sebuah ilmu. Dalam kontekas agama, maka antara ilmu pengetahuan dan agama tidaklah bisa dipisahkan. Kedua unsur tersebut sangat berkaitan dan mendukung satu dengan yang lain. Seperti apa yang pernah diungkapkan oleh seorang fisikawan terkemuka, yaitu Einstein yang berkata bahwa ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu akan binasa. Jelaslah kiranya bahwa kedua hal tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Pada akhir tulisan ini maka kami ingin mengutip sedikit seperti apa yang telah disebutkan dalam Al Quran tentang bukti hubungan antara ilmu pengetahuan dengan agama. Allah SWT telah berfirman dalam surat Al Jaatsiyah (45):3-6, yang artinya: Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk yang meyakini. Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkannya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kamu yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya Agama mendorong kita untuk memperoleh pengetahuan dan mengharapkan kita merenungkan alam semesta dalam sebuah bahasa yang bisa dipahami di era sekarang. Maka dari itulah peran kita sebagai khalifatulllah fil ardi bisa kita jalankan sepenuhnya dengan berdasar ilmu sesuai dengan tuntunan agama.

DAFTAR PUSTAKA
Amien, A. Mappadjantji. 2005. Kemandirian Lokal konsepsi Pembangunan Organisasi dan Pendidikan dari Perspektif Sain Baru. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Gie, The Liang. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty Jerome R. Ravertz. 2007. Filsafat Ilmu (sejarah dan ruang lingkup bahasan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana. Mustamir, Rizal dan Munir, Misnal. 2007. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pasiak, Taufiq.2002. Revolusi IQ/EQ/SQ Antara Neurosains dan Al-Quran. Bandung: Mizan Saebani, Beni Ahmad. 2009. Filsafat Ilmu Kontemplasi Filosofis tentang Seluk-Beluk Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan. Bandung: Pustaka Setia Smith, Newton. 2000. A Companion to the Philososphy of Science. Massachusets: Blackwell Publishers. Statis and Curd Martin. 2008. The Routledge Companion to Philosophy of Science. London and New York: Routledge Taylor and Francis Group. Susanto, A. .2011. Filsafat Ilmu Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistomologis, dan Aksiologis. Jakarta: PT Bumi Aksara

Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. 1996. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

Sumber internet: http://muhadisin18.wordpress.com/2009/09/15/manfaat-ilmu-dalam-kehidupan

http://www.anneahira.com/ilmu/manfaat-ilmu.htm http://tumoutou.net/702_04212/feti_fatimah.htm http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_sosial#Pengertian_Nilai_Menurut_para_Ahli http://www.scribd.com/doc/30220085/Hubungan-Antara-Ilmu-Dan-Agama http://abdullahmbrk9.blogspot.com/2011/10/integrasi-ilmu-dan-agama-perspektif.html http://lhyling.multiply.com/journal/item/16 http://www.ojimori.com/2011/05/14/hubungan-agama-dan-ilmu-menurut-einstein/