Anda di halaman 1dari 48

MAKALAH OBAT TRADISIONAL OHT TOLAK ANGIN

Disusun Oleh : Yuni Astuti 09023056 Gina Aldi Permana 09023057 Endang Megawati 09023058 Fatimah Faris 09023060 Onyz Sasmita 09023061 Nuroh Asfamufita 09023062 Amelia 09023063 Hikmah Dinamica 09023064 Noverda Ayuchecaria09023065 Anna Khumaira Sari 09023066

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA 2011


KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahiim Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul OHT TOLAK ANGIN yang merupakan tugas dari mata kuliah OBAT TRADISIONAL oleh Ibu Zaenab. M.Si., Apt. Makalah ini berisikan tentang informasi obat herbal terstandar Tolak Angin yang akan membahas komposisi, khasiat, pembahasan komponen tanaman yang terkandung dalam tolak angin serta mekanisme farmakologinya. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan Makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Yogyakarta, Desember 2011

Penyusun

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

DAFTAR ISI Halaman Judul .................................................................................................................................1 Kata pengantar ..................................................................................................................2 Daftar Isi ...........................................................................................................................3 BAB I LATAR BELAKANG .......................................................................................... 4 BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................. 6
1. Deskripsi OHT Tolak Angin .................................................................................. 6 2. Spesifikasi Tanaman Komposisi Tolak Angin ...................................................... 7 3. Kandungan Kimia dan Khasiat ..............................................................................29 4. Farmakologi ...........................................................................................................35 5. Kemasan ................................................................................................................39

........................................................................................................................................... BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 46


1. Kesimpulan ............................................................................................................ 46 2. Saran ...................................................................................................................... 46

Daftar Pustaka .................................................................................................................. 47

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

BAB I LATAR BELAKANG Sesungguhnya Indonesia memiliki keanekaragaman sumber daya alam yang melimpah, namun masih belum bisa dioptimalkan oleh masyarakat Indonesia. Padahal apabila ditelaah lebih lanjut, kekayaan alam tersebut bisa memberikan nilai lebih untuk masyarakat sendiri. Seperti kekayaan flora yang bisa dimanfaatkan untuk pembuatan obatobatan tradisional Obat tradisional merupakan warisan nenek moyang yang telah dikembangkan sejak dahulu kala. Sumber obat tradisional terutama berasal dari bahan alam baik tumbuhan, hewan ataupun bahan-bahan mineral. Saat ini Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tanaman obat yang potensial, dimana hasil alam yang paling banyak digunakan sebagai bahan obat adalah tumbuhan, yang telah digunakan dalam kurun waktu cukup lama (Djauhariyah, 2004). Penelitian dan pengembangan tumbuhan obat baik di dalam maupun di luar negeri sekarang ini berkembang cukup pesat, terutama dalam bidang farmakologi dan fitokimia. Hasil penelitian tersebut tentunya lebih memantapkan para pengguna tumbuhan obat akan khasiat maupun kegunaannya Memang belum banyak dibuktikan secara ilmiah tentang kasiat tanaman-tanaman tersebut, namun sebagai salah satu alternatif pengobatan penyakit,tanaman tersebut sudah digunakan secara turun temurun untuk proses penyembuhan terhadap penyakit. Selain itu, obat tradisional juga memberikan efek samping minimal karena dibuat dari bahan alami. Namun, karena perkembangan jaman, obat-obat tradisional telah tergeser oleh munculnya obat-obatan modern, tetapi justru masyarakat sekarang lebih memilih untuk menggunakan obat modern yang memiliki efek samping tinggi. hal, ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap obat-obatan. Oleh karena itu, dibutuhkanlah suatu sarana yang dapat mengintegrasikan informasiinformasi mengenai obat-obatan tersebut. Sehingga pembuatan situs obat tradisional merupakan salah satu solusi untuk permasalaahan tersebut. Dengan adanya situs obat tradisional ini, masyarakat dapat dengan cepat, praktis, dan mudah untuk mencari dan mendapatkan obat-obatan yang benar-benar dibutuhkan dengan kasiat yang tak kalah dengan obat modern.
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 2

WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk obat herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk kronis, penyakit degeneratif dan kanker. Hal ini menunjukan dukungan WHO untuk back to nature yang dalam hal yang lebih menguntungkan. Untuk meningkatkan keselektifan pengobatan dan mengurangi pengaruh musim dan tempat asal tanaman terhadap efek, serta lebih dalam memudahkan standarisasi bahan obat maka zat aktif diekstraksi lalu dimurnikan sampai diperoleh zat murni. Di Indonesia dari tahun ke tahun terjadi peningkatan produksi obat tradisional. Menurut data Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM), sampai tahun 2007 terdapat 1.012 industri obat tradisional yang memiliki izin usaha industri yang terdiri dari 105 industri berskala besar dan 907 industri berskala kecil. Karena banyaknya variasi sediaan bahan alam, maka untuk memudahkan pengawasan dan perizinan, maka badan POM mengelompokan dalam sediaan jamu, sediaan herbal terstandar dan sediaan fitofarmaka. Persyaratan ketiga sediaan berbeda yaitu untuk jamu pemakaiannya secara empirik berdasarkan pengalaman, sediaan herbal terstandar bahan bakunya harus distandarisasi dan sudah diuji farmakologi secara eksperimental, sedangkan sediaan fitofarmaka sama dengan obat modern bahan bakunya harus distandarisasi dan harus melalui uji klinik.

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

BAB II PEMBAHASAN 1. DESKRIPSI OHT TOLAK ANGIN Tolak Angin

Komposisi : Oryza sativa, Foeniculi Fructus, Isorae Fructus, Caryophylli Folium, Zingiberis Rhizoma, Bahan-bahan lain. Kegunaan : Mengobati masuk angin karena kehujanan, kurang tidur, atau terlalu lelah. Gejala gejalanya seperti : mual, perut kembung/sakit (mules), pusing, lesu, demam, pilek, badan terasa dingin, mata berair. Menjaga stamina/kondisi tubuh di saat-saat bekerja keras/lembur dan melakukan perjalanan jauh. Terutama petugas jaga malam dan pekerja berat. Cara pemakaian : gelas) air hangat. Dapat 1 bungkus diseduh dengan 100 cc ( ditambahkan air jeruk nipis bila suka dan madu kembang Sido Muncul. Diminum 2 kali sehari @ 1 bungkus sampai sembuh. Untuk pencegahan : 1 bungkus sehari atau 2-3 hari 1 bungkus. Kemasan : 10 Sachet Serbuk 12 Sachet @ 15 ml 10 cacth cover @ 2 kaplet Untuk Pria dan Wanita.

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

2. SPESIFIKASI TANAMAN KOMPOSISI TOLAK ANGIN (Pembahasan fisik, Botanical dan Kimia)
A. Zingiberis Rhizoma (JAHE)

Indonesia Inggris : Melayu Vietnam Thailand Pilipina Cina : Jepang : Klasifikasi

: Ginger : : : : Jiang

Jahe Helia, halia, aliya Cay gung Khing Luya, laya, giya

Shouga

Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil) Sub Kelas: Commelinidae Ordo: Zingiberales Famili: Zingiberaceae (suku jahe-jahean) Genus: Zingiber Spesies: Zingiber officinale Rosc. a. Botani 1. Obat Spesies: Zingiber officinale Roscoe 2. Nama-nama umum: Jahe, Jahe Afrika, Jahe Hitam, Cochin jahe, gan jiang, Gegibre. Ingwer, jahe Jamaika, Ras ginger 3. Botani Keluarga: Zingiberanceae, Jahe erat berhubungan dengan kunyit dan kapulaga. 4. Tanaman diskripsi: jahe memiliki 2-3 kaki dengan rumput seperti daun. Akar bawah tanah (rimpang) yang digunakan untuk tujuan kuliner dan obat-obatan. 5. Dimana tumbuh: pada iklim tropis, Asia, Afrika, India, Jamaika, Meksiko, dan Hawaii. a. Biokimia
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

1. Jahe: Pendukung Kimia berpotensi aktif 2. Senyawa fenolik: shogaols dan gingerols 3. Seisquiterpen: bisapolene, zingiberene, zingiberol, sesquiphellandrene, curcurmene 4. Lain-Lain: 6-dehydrogingerdione, galanolactone, asam gingesulfonic, zingerone, geraniol, neral, monoacyldigalactosylglycerols, gingerglycolipids. a. Morfologi Di dunia terdapat 47 genera dan 1400 spesies yang tersebar luas di daerah tropika dan subtropika. Tanaman jahe merupakan terna tahunan, berbatang semu dengan tinggi antara 30-75 cm. Berdaun sempit memanjang menyerupai pita dengan panjang 15-23 cm, lebar lebih kurang 2.5 cm, tersusun teratur dua baris berseling. Tanaman jahe hidup merumpun, beranak-pinak, menghasilkan rimpang dan berbunga berupa mali yang tersembul pada permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bulat telur dengan panjang lebih kurang 25 cm. Mahkota bunga berbentuk tabung dengan helaian agak sempit, tajam, berwarna kuning kehijauan. Bibir mahkota bunga berwarna ungu gelap, berbintik-bintik putih kekuningkuningan. Kepala sari berwarna ungu dan mempunyai dua tangkai putik. Rimpang jahe memiliki bentuk yang bervariasi mulai dari agak pipih sampai gemuk (bulat-panjang0 dengan warna putih kekuning-kuningan hingga kemerah-merahan. Tanaman jahe terdiri atas akar, rimpang, batang, daun, dan bunga. 1. Perakaran tanaman jahe merupakan akar tunggal yang semakin membesar seiring dengan umurnya, hingga membentuk rimpang serta tunas-tunas yang akan tumbuh menjadi tanaman baru. Akarnya berbentuk rimpang dengan daging akar berwarna kuning hingga kemerahan dengan bau menyengat. 2. Batang tanaman jahe merupakan batang semu yang tumbuh tegak lures. Batang ini terdiri atas seludang-seludang dan pelepah daun yang menutup batang. Bagian luar batang liein dan mengilap, serta mengan-dung banyak air. Batang jahe merupakan batang semu dengan tinggi 30 hingga 100 cm 3. Daun tanaman jahe berbentuk lonjong dan lancip menyerupai rumput-rumputan besar. Ukuran panjang daun sekitar 5 25 cm dan lebar 0,8 2,5 cm. Bagian ujung daun agak tumpul dengan panjang lidah 0,3 0,6 cm. Bila daun mati, pangkal daun tetap hidup dalam tanah. Tangkai daun berbulu halus. 4. Bunga jahe tumbuh dari dalam tanah berbentuk bulat telur dengan panjang 3,5 hingga 5 cm dan lebar 1,5 hingga 1,75 cm. Gagang bunga bersisik sebanyak 5 hingga 7 buah. 5. Bunga berwarna hijau kekuningan. Bibir bunga dan kepala putik ungu. Tangkai putik berjumlah dua.
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

6. Jika cukup tersedia air, bagian pangkal daun ini akan ditumbuhi tunas dan menjadi rimpang yang baru. a. Syarat Pertumbuhan 1. Iklim a. Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun. b. Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yang terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari. c. Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-35C. 2. Media Tanam a. Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus. b. Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik. c. Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0. 3. Ketinggian Tempat a. Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2.000 m dpl.. b. Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 600 m dpl. a. Panen 1. Ciri dan Umur Panen : Pemanenan dilakukan tergantung dari penggunaan jahe itu sendiri. Bila kebutuhan untuk bumbu penyedap masakan, maka tanaman jahe sudah bisa ditanam pada umur kurang lebih 4 bulan dengan cara mematahkan sebagian rimpang dan sisanya dibiarkan sampai tua. Apabila jahe untuk dipasarkan maka jahe dipanen setelah cukup tua. Umur tanaman jahe yang sudah bisa dipanen antara 10-12 bulan, dengan ciriciri warna daun berubah dari hijau menjadi kuning dan batang semua mengering. Misal tanaman jahe gajah akan mengering pada umur 8 bulan dan akan berlangsung selama 15 hari atau lebih.
2. Cara Panen : Cara panen yang baik, tanah dibongkar dengan hati-hati menggunakan alat

garpu atau cangkul, diusahakan jangan sampai rimpang jahe terluka. Selanjutnya tanah dan kotoran lainnya yang menempel pada rimpang dibersihkan dan bila perlu dicuci. Sesudah itu jahe dijemur di atas papan atau daun pisang kira-kira selama 1 minggu.

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

Tempat penyimpanan harus terbuka, tidak lembab dan penumpukannya jangan terlalu tinggi melainkan agak disebar. 3. Periode Panen. : Waktu panen sebaiknya dilakukan sebelum musim hujan, yaitu diantara bulan Juni Agustus. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada musim kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif karena lebih banyak kadar airnya. 4. Perkiraan Hasil Panen : Produksi rimpang segar untuk klon jahe gajah berkisar antara 15-25 ton/hektar, sedangkan untuk klon jahe emprit atau jahe sunti berkisar antara 10-15 ton/hektar.
A. PADI (Oryza Sativa)

Nama Umum Indonesia Inggris : Pilipina Klasifikasi Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil) Sub Kelas: Commelinidae Ordo: Poales Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan) Genus: Oryza Spesies: Oryza sativa L. : Rice : Palai Padi, pari (Jawa), pare (Sunda)

a. Botani Berdasarkan literatur Grist (1960), tanaman padi dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan ke dalam divisio Spermatophytae dengan subdivisio
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 2

Angiospermae, digolongkan ke dalam kelas Monocotyledonae, termasuk ordo Poales dengan famili Graminae serta genus Oryza Linn dan dengan nama spesies Oryza sativa L. Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah Oryza sativa dengan dua subspesies yaitu indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu 1. Padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi 2. Padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan. Akar tanaman padi memiliki sistem perakaran serabut. Ada dua macam akar yaitu : A. Akar seminal yang tumbuh dari akar primer radikula sewaktu berkecambah dan bersifat sementara B. Akar adventif sekunder yang bercabang dan tumbuh dari buku batang muda bagian bawah. Akar adventif tersebut menggantikan akar seminal. Akar ini disebut adventif/buku, karena tumbuh dari bagian tanaman yang bukan embrio atau karena munculnya bukan dari akar yang telah tumbuh sebelumnya (Suharno, 2005). Batang terdiri atas beberapa ruas yang dibatasi oleh buku, dan tunas (anakan) tumbuh pada buku. Jumlah buku sama dengan jumlah daun ditambah dua yakni satu buku untuk tumbuhnya koleoptil dan yang satu lagi buku terakhir yang menjadi dasar malai. Ruas yang terpanjang adalah ruas yang teratas dan panjangnya berangsur menurun sampai ke ruas yang terbawah dekat permukaan tanah (Tobing, dkk, 1995). Anakan muncul pada batang utama dalam urutan yang bergantian. Anakan primer tumbuh dari buku terbawah dan memunculkan anakan sekunder. Anakan sekunder ini pada gilirannya akan menghasilkan anakan tersier (Suharno, 2005). Daun tanaman padi tumbuh pada batang dalam susunan yang berselang seling terdapat satu daun pada tiap buku. Tiap daun terdiri atas : 1. Helaian daun yang menempel pada buku melalui pelepah daun 2. Pelepah daun yang membungkus ruas di atasnya dan kadang-kadang pelepah daun dan helaian daun ruas berikutnya 3. Telinga daun (auricle) pada dua sisi pangkal helaian daun 4. Lidah daun (ligula) yaitu struktur segitiga tipis tepat di atas telinga daun 5. Daaun bendera adalah daun teratas dibawah malai (Suharno, 2005) Bunga padi secara keseluruhan disebut malai. Malai terdiri dari 810 buku yang menghasilkan cabangcabang primer selanjutnya menghasilkan cabangcabang sekunder.

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

Dari buku pangkal malai pada umumnya akan muncul hanya satu cabang primer, tetapi dalam keadaan tertentu buku tersebut dapat menghasilkan 23 cabang primer (Tobing, dkk, 1995). Lemma yaitu bagian bunga floret yang berurat lima dan keras yang sebagian menutupi palea. Ia memiliki suatu ekor. Palea yaitu bagian floret yang berurat tiga yang keras dan sangat pas dengan lemma. Bunga terdiri dari 6 benang sari dan sebuah putik. Enam benang sari tersusun dari dua kelompok kepala sari yang tumbuh pada tangkai benang sari (Suharno, 2005). Butir biji adalah bakal buah yang matang, dengan lemma, palea, lemma steril, dan ekor gabah (kalau ada) yang menempel sangat kuat. Butir biji padi tanpa sekam (kariopsis) disebut beras. Buah padi adalah sebuah kariopsis, yaitu biji tunggal yang bersatu dengan kulit bakal buah yang matang (kulit ari), yang membentuk sebuah butir seperti biji. Komponen utama butir biji adalah sekam, kulit beras, endosperm, dan embrio (Suharno, 2005). b. Morfologi 1. Akar Berdasarkan literature Aak (1992) akar adalah bagian tanaman yang berfungsi menyerap air dan zat makanan dari dalam tanah, kemudian diangkut ke bagian atas tanaman. Akar tanaman padi dapat dibedakan atas: a. Radikula Akar yang tumbuh pada saat benih berkecambah. Pada benih yang sedang berkecambah timbul calon akar dan batang. Calon akar mengalami pertumbuhan kea rah bawah sehingga terbentuk akar tunggang, sedangkan calon batang akan tumbuh ke atas sehingga terbentuk batang dan daun. b. Akar Serabut (Akar Adventif) Setelah 5-6 hari terbentuk akar tunggang, akar serabut akan tumbuh. c. Akar Rambut Merupakan bagian akar yang keluar dari akar tunggang dan akar serabut. Akar ini merupakan saluranpada kulit akar yang berada di luar, dan ini penting dalam pengisapan air maupun zat-zat makanan. Akar rambut biasanya berumur pendek, sedangkan bentuk dan panjangnya sma dengan akar serabut.

d. Akar Tajuk (Crown Roots)

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

Adalah akar yang tumbuh dari ruas batang terendah. Akar tajuk iini dibedakan lagi berdasarkan letak kedalaman akar di tanah yaitu akar yang dangkal dan akar yang dalam. Apabila kandungan udara di dalam tanah rendah, maka akar-akar dangkal mudah berkembang. 1. Batang Padi termasuk golongan tumbuhan Graminae dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas. Ruas-ruas itu merupakan bubung kosong. Pada kedua ujung bubung kosong itu bubungnya ditutup oleh buku. Panjangnya ruas tidak sama. Ruas yang terpendek terdapat pada pangkal batang. Ruas yang kedua, ruas yang ketiga, dan seterusnya adalah lebih panjang dari pada ruas yang didahuluinya. Pada buku bagian bawah dari ruas tumbuh daun pelepah yang membalut ruas sampai buku bagian atas. Tepat pada buku bagia atas ujung dari daun pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang yang terpendek menjadi ligula (lidah) daun, dan bagian yang terpanjang dan terbesar menjadi daun kelopak yang memiliki bagian auricle pada sebelah kiri dan kanan. Daun kelopak yang terpanjang dan membalut ruas yang paling atas dari batang disebut daun bendera. Tepat dimana daun pelepah teratas menjadi ligula dan daun bendera, di situlah timbul ruas yang menjadi bulir padi. Pertumbuhan batang tanaman padi adalah merumpun, dimana terdapat satu batang tunggal/ batang utama yang mempunyai 6 mata atau sukma, yaitu sukma 1, 3, 5 sebelah kanan dan sukma 2, 4, 6 sbelah kiri. Dari tiap-tiap sukma ini akan timbul tunas yang disebut tunas orde pertama. Tunas orde pertama tumbuhnya didahului oleh tunas yang tumbuh dari sukma pertama, kemudian diikuti oleh sukma kedua, disusul oleh tunas yang timbul dari sukma ketigadan seterusnya smapai kepada pembentukan tunas terakhir yang keenam pada batang tunggal. Tunas-tunas yang timbul dari tunas orde pertama disebut tunas orde kedua. Biasanya dari tunas-tunas orde pertama ini menghasilkan tunas-tunas orde kedua, ialah tunas orde pertama yang terbawah sekali pada batang tunggal/ utama. Pembentukan tunas dari orde ketiga pada umumnya tidak terjdi, oleh karena tunas-tunas dari orde ketiga tidak mempunyai ruang hidup dalam kesesakan dengan tunas-tunas dari orde pertama dan kedua. 2. Daun Padi adi termasuk tanaman jenis rumput-rumputan mempunyai daun yang berbedabeda, baik bentuk, susunan, atau bagiab-bagiannya. Cirri khas daun padi adalah adanya sisik dan telinga daun. Hal inilah yang menyebabkan daun padi dapat dibedakan dari jenis rumput yang lain. Adapaun bagian-bagian daun padi adalah:
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

a. Helaian daun: terletak pada batang padi dan selalu ada. Bentuknya memanjang seperti pita. Panjang dan lebar helaian daun tergantung varietas padi yang bersangkutan. b. Pelepah daun (upih): merupakan bagian daun yang menyelubungi batang, pelepah daun ini erfungsi member dukungan pada bagiasn ruas yang jaringannya lunak, dan hal. c. Lidah daun: terletak pada pebatasan antara helai daun dan upih. Panjang lidah daun berbeda-beda, tergantung pada varietas padi. Lidah daun duduknya melekat pada batang. Fungsi lidah daun adalah mencegah masuknya air hujan diantara batang dan pelepah daun (upih). Disamping itu juga mencegah infeksi penyakit, sebab media air mrmudahkan penyebaran penyakit. 1. Bunga Sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas dinamakan malai. Bulir-bulir padi terletak pada cabang pertama dan kedua, sedangkan sumbu utama malai adalah ruas buku yang terakhir pada batang. Panjang malai tergantung pada varietas padi yang ditanam dan cara bercocok tanam. Dari sumbu utama pada ruas buku yang terakhir inilah biasanya panjang malai (rangkain bunga) diukur. Panjang mali dapat dibedakan menjadi ukuran, yaitu mali pendek (<20 cm), malai sedang (20-30 cm), dan malai panjang (>30 cm). Jumlah cabang pada setiap mali berkisar 15-20 buah, yang paling rendah 7 buah cabang dan yang terbanyak dapat mencapi 30 cabang. Jumlah cabang ini akan mempengaruhi besarnya rendemen tanaman padi varietas baru, setiap malai biasa mencapai 120 bunga (Aak, 1992). Bunga padi adalah bunga telanjang, artinya mempunyai perhiasan bunga. Berkelamin dua jenis dengan bakal biah di atas. Jumlah benang sari ada 6 buah, tangkai sarinya pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai dua kandung serbuk. Putik mempunyai dua tangkai putik dengan 2 buah kepala putik yang berbentuk malai dengan warna pada umumnya putih atau ungu (Departemen Pertanian, 1983) Komponen komponen bunga padi adalah: a. Kepala sari b. Tangkai sari c. Palea (belahan yang besar) d. Lemma (belahan yang kecil) e. Kepala putik f. Tangkai bunga 1. Buah Buah padi yang sehari-hari kita sebut biji padi atau butir/ gabah, sebenarnya bukan biji melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan palea. Buah ini terjadi setelah selesai
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

penyerbukan dan pembuahan. Lemma dan palea serta bagian lainnya yang membentuk sekam atau kulit gabah (Departemen Pertanian, 1983) Jika bunga padi telah dewasa, kedua belahan kembanh mahkota (Palea dan Lemma) yang semula bersatu akan membuka dengan sendirinya sedemikian rupa sehingga anatara lemma dan palea terjadi siku/ sudut sebesar 30-600. Membukanya kedua belahan kembang mahkota itu terjadi pada umumnya pada hari-hari cerah antara 10-12, dimana suhu kira-kira 30-320 C. Di dalam dua daun mahkota palae dan lemma itu terdapat bagian dalam dari bunga padi yang terdiru dari bakal uah (karyiopsis). Jika buah padi telah masak, kedua belahan daun mahkota bunga itulah yang menjadi pembungkus besarnya (sekam). Diatas karyiopsis terdapat 2 kepala putik yang dipikul oleh masing-masing tangkainya, Lodicul yang berjumlah 2 buah, sebenarnya merupakan daun mahkota yang telah berubah bentuk. Pada waktu padi hendak berbunga, lodicula menjadi mengembang karena menghiasap cairan dari bakal buah. Pengembangan ini mendorong lemma dam palea terpisah dan terbuka. Hal ini memungkinkan benang sari yang memanjang keluar adri bagian atas atau dari samping bunga yang terbuka tadi. Terbukanya bunga diikuti dengan pecahnya kandung serbuk, yang kemudian menumpahkan tepung sarinya. Sesudah tepung sarinya tertumpahkan dari kandung serbuk maka lemma dan palae menutup kembali. Dengan berpindahnya tepung sari dari kepala putik maka selesailah sudah proses penyerbukan. Kemudian terjadilah pembulaian yang menghasilkan lembaga dan endosperm. Endosperm adalah penting sebagai sumber cadangan makanan bagi tanaman yang baru tumbuh, (Departemen Pertanaian, 1983) a. Syarat Tumbuh 1. Iklim Tanaman padi dapat hidup baik di daerah yang berhawa panas dan banyak mengandung uap air. Suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah 23 0C. Tanaman padi dapat tumbuh di daerah tropis/subtropics pada 45 0 LU450 LS dengan cuaca panas dan kelembapan tinggi dengan musim hujan 4 bulan. Ratarata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 15002000 mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau, produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah produksi dapat menurun, karena penyerbukan kurang intensif. Tanaman padi dapat tumbuh pada daerah mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian tempat 0650 m dpl dengan temperatur 220 C270 C sedangkan di dataran tinggi 6501.500 m dpl dengan temperatur 190 C230 C. Temperatur sangat mempengaruhi pengisian biji padi. Temperatur yang
2

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

rendah dan kelembaban yang tinggi pada waktu pembungaan akan mengganggu proses pembuahan yang mengakibatkan gabah menjadi hampa. Hal ini terjadi akibat tidak membukanya bakal biji. Temperatur yang juga rendah pada waktu bunting dapat menyebabkan rusaknya pollen dan menunda pembukaan tepung sari (Luh, 1991). 2. Tanah Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang kandungan fraksi pasir, debu dan lempung dalam perbandingan tertentu dengan diperlukan air dalam jumlah yang cukup. Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm di bawah permukaan laut. Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 1822 cm. Keasaman tanah yang dikehendaki tanaman padi adalah antara pH 4,07, 0. Pada padi sawah, penggenangan akan mengubah pH tanah menjadi netral (7,0). Pada prinsipnya, tanah berkapur dengan pH 8,18, 2 tidak merusak tanaman padi. Karena mengalami penggenangan, tanah sawah memiliki lapisan reduksi yang tidak mengandung oksigen dan pH tanah sawah biasanya mendekati netral. b. Panen Ada tiga stadia umum proses pertumbuhan tanaman padi dari awalpenyemaian hingga pemanenan : 1. Stadia vegetatif; dari perkecambahan sampai terbentuknya bulir. Padavarietas padi yang berumur pendek (120 hari) stadia ini lamanya sekitar 55 hari, sedangkan pada varietas padi berumur panjang (150 hari) lamanya sekitar 85 hari. 2. Stadia reproduktif; dari terbentuknya bulir sampai pembungaan. Pada varietas berumur pendek lamanya sekitar 35 hari, dan pada varietas berumur panjang sekitar 35 hari juga. 3. Stadia pembentukan gabah atau biji; dari pembungaan sampai pemasakan biji. Lamanya stadia sekitar 30 hari, baik untuk varietas padi berumur pendek maupun berumur panjang. Apabila ketiga stadia dirinci lagi, maka akan diperoleh sembilan stadia. Masing masing stadia mempunyai ciri dan nama tersendiri. Stadia tersebut adalah : 1. Stadia 0; dari perkecambahan sampai timbulnya daun pertama, biasanya memakan waktu sekitar 3 hari. 2. Stadia 1; stadia bibit, stadia ini lepas dari terbentuknya duan pertama sampai terbentuk anakan pertama, lamanya sekitar 3 minggu, atau sampai pada umur 24 hari. 3. Stadia 2; stadia anakan, ketika jumlah anakan semakin bertambah sampai batas maksimum, lamanya sampai 2 minggu, atau saat padi berumur 40 hari.
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 2

4. Stadia 3; stadia perpanjangan batang, lamanya sekitar 10 hari, yaitu sampai terbentuknya bulir, saat padi berumur 52 hari. 5. Stadia 4; stadia saat mulai terbentuknya bulir, lamanya sekitar 10 hari, atau sampai padi berumur 62 hari. 6. Stadia 5; perkembangan bulir, lamanya sekitar 2 minggu, saat padi sampai berumur 72 hari. Bulir tumbuh sempurna sampai terbentuknya biji. 7. Stadia 6; pembungaan, lamanya 10 hari, saat mulai muncul bunga, polinasi, dan fertilisasi. 8. Stadia 7; stadia biji berisi cairan menyerupai susu, bulir kelihatan berwarna hijau, lamanya sekitar 2 minggu, yaitu padi berumur 94 hari.
9. Stadia 8; ketika biji yang lembek mulai mengeras dan berwarna kuning, sehingga seluruh

pertanaman kelihatan kekuning-kuningan. Lama stadia ini sekitar 2 minggu, saat tanaman berumur 102 hari. 10. Stadia 9; stadia pemasakan biji, biji berukuran sempurna, keras dan berwarna kuning, bulir mulai merunduk, lama stadia ini sekitar 2 minggu, sampai padi berumur 116 hari. Sudarmo, 1991). A. KAYU ULES Klasifikasi

Nama latin: Helicteres isora Linn Nama daerah: Jelumpang, Dlumpang, Puteran, Kayu mules, Puteran tali, Buah raja, Kayu puter Deskripsi tanaman: Merupakan tumbuhan perdu basah dan tinggi sampai 4 m.
1. Batang : Basah

2. Kulit kayu : Berserat-serat


3. Buah : Berbentuk dari 5 helai daun yang mengumpul seperti pilin. Dinding buah

berbumbung, lapisan luar tipis seperti kertas, lapisan dalam tebal dan berwarna putih. Tiap-

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

tiap buah mempunyai satu baris biji-biji kecil warna coklat tua dan membelit dengan panjang 5-9 cm. Bagian luar buah berwarna hijau coklat atau sawo matang , berbulu pendek, dan ujungnya tajam.
4. Habitat : Tumbuh di daerah kering pada semak belukar, di hutan-hutan pada dataran rendah

sampai 1200 m dpl.


5. Bagian tanaman yang digunakan : Buah, Akar, Kulit kayu 6. Kandungan kimia : Pigmen kloroplas, Pitosterol, Saponin, Gula, Flobatanin, Asam

hidroksikarboksilat
7. Khasiat : Buahnya berkhasiat sebagai antidiare, obat sakit perut, dan obat cacing. 8. Nama simplisia : Isorae Frustus, Isorae Cortex

9. Umur panen : Umur panen sangat mempengaruhi kulit kayunya, semakin tua umur tanaman maka kulit kayunya akan semakin tebal sehingga produksi akan lebih tinggi. Umur ideal untuk dipanen sekitar 6-12 tahun. 10. Waktu panen : Ditandai dengan warna daun yang sudah menjadi hijau tua.
A. ADAS (Foeniculum vulgare Mill)

Berasal dari Eropa Selatan dan Asia. Namun saat ini penyebarannya sudah sangat merata disemua kawasan dataran tinggi di Indonesia, terutama di Jawa. Masyarakat biasanya menanam adas di pinggiran pematang ladang, bersama dengan tanaman lainnya. Sosok tanaman adas yang daunnya sangat khas itu akan mudah dikenali di tengah-tengah tanaman sayuran lainnya. Meskipun kalau sudah sama-sama berbunga dan berbuah, rumpun adas tampak mirip tanaman wortel (1). Di Indonesia, adas telah dibudidayakan dan kadang sebagai tanaman bumbu atau tanaman obat. Tumbuhan ini dapat hidup dari dataran rendah sampai ketinggian 1.800 m di atas permukaan laut, namun akan tumbuh lebih baik pada dataran tinggi. Karena manfaatnya, tumbuhan ini banyak pula ditanam di Indonesia, India, Argentina, Eropa, dan Jepang (2).
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 2

Sinonim Sumatra : Das pedas (Aceh), adas, adas pedas (Melayu), adeh manih (Minangkabau) Jawa : Hades (Sunda), adas, adas londa, adas landi (Jawa), adhas (Madura) Sulawesi : Paapang, paampas (Manado), popaas (Alfuru), denggu-denggu (Gorontalo), papaato (Buol), Porotomu (Baree), adasa, rempasu (Makasar), adase (Bugis), kumpasi (Sangir talaut) Nusa Tenggara : wala wunga (Sumba) Bali : adas (4). Beragamnya sebutan dimasing-masing etnis ini, menandakan bahwa introduksi tanaman adas sudah dimulai sejak adanya kontak dagang antara masyarakat nusantara dengan Hindu dan Timur Tengah. Nama asing : phong karee, mellet karee (Thai), jintan manis (Malaysia). Nama simplisia : Foeniculi Fructus (buah adas) (2). Klasifikasi Superregnum: Eukarya Regnum: Plantae Divisio: Magnoliophyta Classis: Magnoliopsida Ordo: Apiales Familia: Apiaceae Subfamilia: Apioideae Tribus: Incertae sedis Genus: Foeniculum Species: F. vulgare Subspecies: F. v. subsp. piperitum F. v. subsp. vulgare F. v. subsp. vulgare F. v. subsp. vulgare (3). Tanaman dicirikan dengan bentuk herba tahunan, tingga tanaman dapat mencapai 1 2 m dengan percabangan yang banyak, batang beralur. Daun berbagi menyirip, berbentuk bulat telur sampai segi tiga dengan panjang 3 dm, bunga ber-warna kuning membentuk kumpulan payung yang besar. Dalam satu payung besar terdapat 15 40 payung kecil, dengan panjang tangkai payung 1 6 cm. Bunga ber-bentuk oblong dengan panjang 3,5 4 mm. Dalam masing-masing biji terdapat tabung minyak yang letak-nya berselang-seling. Pada waktu muda biji adas bewarna hijau kemudian kuning kehijauan, dan kuning kecokelatan pada saat panen (6). Deskripsi
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 2

1. Tanaman 2. Batang 3. Daun 4. Letak daun 5. Bunga 6. Batang 7. Akar

: Perdu, tahunan, tingi 2 m. :Berlubang, beruas, beralur, percabangan monopodial,hijau keputih-putihan. :Majemuk, menyiripganda, benluk jarum, ujung dan pangkal runcing, tepi rata. panjang 30-50 cm, lebar 15-25 cm, panjang pelepah 5-7 cm, hijau muda,hijau. :berseling, majemuk menyirip ganda dua :Majemuk, bentuk payung, lumbuh di ujung balang,kelopak bentuk tabung, hijau, daun mahkota lima,kuning. :Bentuk lonjong, beralur, panjang 6-10 m, lebar 3-4 mm, masih muda hijau setelah tua hijau keabuabuan. :Tunggang, putih.

Identifikasi a. Makroskopik Kremokarp berbentuk memanjang, ujung pipih, gundul, stilopodium pendek bercabang dua, buah yang utuh umumnya bertangkai, warna coklat kehijauan atau coklat kekuningan hingga coklat, panjang sampai 10 mm, lebar sampai 4mm. Merikarp mempunyai 5 rusuk primer, menonjol, warna kekuningan, permukaan bidang lekat merikarp tidak beralur. Perikarp pada irisan melintang tampak 2 saluran tampak 2 saluran minyak pada bidang lekat merikarp dan 4 saluran minyak pada lekukan yang terdapat diantara rusuk primer, pada tiap rusuk terdapat satu berkas pembuluh. Embrio kecil, terletak pada ujung atas endosperm. Endosperm berisi banyak minyak (4). b. Mikroskopik Epikarp terdiri dari 1 lapis sel tetrahedral atau polyhedral, kutikula tidak bergaris, stomata bertipe anomositik (Ranucunlaceae). Mesokarp umumnya parenkimatik, di mesokarp daerah rusuk terdapat berkas pembuluh fibrovasal dengan serabut sklerenkim bernoktah sempit dan berlignin. Di sekitar berkas pembuluh terdapat parenkim berwarna kecoklatan dengan diding sel berpenebalan jala dan berlignin. Saluran minyak atau vitae dengan satu lapis epithelium berwarna coklat endocarp terdiri dari 1 lapis sel pipih. Pada penampanag tagensial tampak sebagai sel-sel berbentuk tersusun dalma kelompok-kelompok sel yang berlawana arah. Kulit terdiri dari ilapis sel terentang tagensial. Endosperm terdiri dari sel-sel parenkim bentuk polyhedral, dinding tebal tidak berlignin , berisi minyak lemak dan butirbutir aleueron yang berisi hablur kalsium oksalat berbentuk roset (4). Serbuk berwarna coklat kekuningan. Fragmen pengenal adalah jaringa endosperm berdinding tebal, berisi minyak lemak dan butir-butir aleuron yang berisi hablur kalsium oksalat berbentuk roset kecil; saluran minyak berwarna kuningan atau kecoklatan parenkim
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

berpenebalan jala berwarna kecoklatan, serabut bernoktah sempit; endocarp dengan kelompok sel-sel berbentuk hampir tetrahedral tersusun berlainan arah. Tidak terdapat rambut atau pati (4). Kadar abu. Tidak lebih dari 12,9 % Kadar abu yang tidak larut dalam asam. Tidak lebih dari 2,9%. Kadar sari yang larut dalam air. Tidak kurang dari 20,5% Kadar sari yang larut dalam etanol. Tidak kurang dari 11,8% Bahan organik asing. Tidak lebih dari 2%. Penetapan kadar. Lakukan penetapan kadar menurut cara yang tertera pada penetapan kadar minyak atsiri. Penyimpanan. Dalam wadah tertutup baik (4). Kandungan Adas mengandung minyak asiri (Oleum Foeniculi) 1 6%, mengandung 50- 60% anetol, lebih kurang 20% fenkon, pinen, limonen, dipenten, felandren, metilchavikol, anisaldehid, asam anisat, fitoestrogen, dan 12% minyak lemak. Kandungan anetol yang menyebabkan adas mengeluarkan aroma yang khas dan berkhasiat karminatif. Akar mengandung bergapten. Akar dan biji mengandung. stigmasterin (serposterin) (5). Tanaman Adas (Foeniculum vulgare Mill.) adalah tanaman herba tahunan dari familii Umbelliferae dan genus Foeniculum. Tanaman ini berasal dari Eropa Selatan dan daerah Mediterania, yang kemudian menyebar cukup luas di berbagai negara seperti Cina, Meksiko, India, Itali, Indian, dan termasuk negara Indonesia. 1. Perakaran Akar tanaman adas merupakan akar tunggang yang berwarna putih. Perakaran dalam, dapat mencapai 3 meter di bawah permukaan tanah. 2. Batang Tanaman dicirikan dengan habitus herba atau perdu tahunan, tinggi tanaman dapat mencapai 1 - 2 m dengan percabangan monopodial, batang berlubang, beralur, beruas dan berwarna hijau keputihan. Bila batang memar mengeluarkan bau wangi. Tanaman Adas Fase Vegetatif Tanaman Adas Fase Generatif. 3. Daun Letak daun berselang-seling, daun tumbuh sehingga 40 cm panjang, berbentuk pita, dengan segmen terakhir dalam bentuk rambut, kira-kira selebar 0,5 mm (daun majemuk,

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

menyirip ganda, bentuk jarum, ujung dan pangkal runcing, tepi rata berseludang warna putih, seludang berselaput, panjang 30-50 cm, lebar 15-25 cm, panjang pelepah 5-7 cm hijau muda dan hijau). 4. Bunga Bunga yang dihasilkan di ujung tangkai (ujung batang) adalah bunga payung majemuk yang berdiameter 5 hingga 15cm, panjang gagang bunga 2-5 mm, kelopak bentuk tabung hijau, daun mahkota lima,kuning). Setiap bagian umbel mempunyai 20-50 kuntum bunga kuning yang amat kecil pada pedikel-pedikel yang pendek. 5. Biji Buahnya adalah biji kering dengan panjang 4 - 9 mm (literatur lain 6-10 mm), lebar 34 mm, masih muda berwarna biru kehijauan setelah tua hijau kecoklatan atau coklat kekuningan sampai sepenuhnya coklat, dengan lebar separuh panjangnya, dan mempunyai alur, bentuk lonjong, beraroma kuat dan manis. Warna buah berbeda-beda tergantung negara asal. Biji yang dikeringkan dikenali sebagai biji adas. C. Jenis-Jenis Adas Berdasarkan literature yang dikeluarkan oleh Perkumpumpulan Tanaman Herbal Amerika, genus Foeniculum mempunyai 4 subspesies yaitu :
1. Foeniculum vulgare subsp. vulgare (adas, adas manis, adas liar) Tanaman berbulu

besar dengan batang kokoh tumbuh sampai 2 m tingginya. Daun menyirip, segmen 15 cm, berbentuk seperti benang berwarna hijau tua. Gagang bunga diameter 1-2 mm melintang dan berwarna kuning cerah. Panjang buah 4 mm, bujur-bulat telur, pipih, berwarna kehijauan atau abu-abu.
2. Foeniculum vulgare subsp. vulgare var. azoricum (adas Florence, adas umbi,

finocchio, anis) Mirip varietas dulce, tanaman memiliki daun basal lebih pendek yang sangat bengkak pada bagian dasar, membentuk semacam umbi palsu ukuran apel besar, sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan.
3. Foeniculum vulgare subsp. vulgare var. dulce (adas manis, adas Roman) Bentuk

tanaman ini jika bibit berasal benih memiliki struktur yang sama seperti Adas liar tetapi buah umumnya lebih besar. Hal ini mudah dibedakan dari Adas liar dimana aroma adas manis var dulce lebih kuat dan dapat dirasakan melalui daun dan buahnya.

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

4. Foeniculum vulgare subsp. piperitum (adas lada liar) Carosella (Var. piperatum)

merupakan tanaman lebih besar dari adas liar atau manis, dengan seludang daun sangat panjang yang menyelimuti tangkai bunga. Penelitian mengenai karakterisasi tanaman adas (Foeniculum vulgare Mill.) dilakukan di Manoko, Jawa Barat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi dan mutu 2 tipe adas yaitu :
1. Tipe adas asal Cepogo (Jawa Tengah). Tipe Cepogo memiliki rata-rata tinggi

tanaman, jumlah batang, jumlah tandan bunga per batang dan produksi buah kering per rumpun yang lebih banyak dibandingkan tipe manoko yaitu berturut-turut 151.67 cm, 51.25, 29.54 cm dan 123.7 gram (data panen tahun ke-2)
2. Tipe asal Manoko (Jawa Barat). Tipe Manoko memiliki jumlah ruas, jumlah individu

bunga per tandan dan diameter tandan bunga yang lebih besar dibanding tipe Cepogo yaitu berturut-turut 18.30, 36.59 dan 12.37 cm. Parameter yang diamati meliputi karakter morfologi, agronomi serta mutu buah dan sifat fisika dan kimia minyaknya. Tidak ditemukan perbedaan dalam karakter morfologi batang, daun, bunga dan buah namun ditemukan perbedaan dalam beberapa karakter agronomi yang diamati (Bermawi, et al., 2002). D. Kandungan Minyak Atsiri Penelitian mengenai kandungan minyak atsiri adas di Indonesia menyatakan biji adas yang berasal dari Boyolali, Cipanas, dan Bintang memiliki kandungan minyak yang berbedabeda. Kandungan minyak tertinggi dihasilkan dari biji adas yang berasal dari daerah Bintang yaitu sebesar 6,15%. Bahan dasar dan fraksinasi dalam ketel penyulingan meningkatkan kandungan minyak. Namun perlakuan tersebut memberikan efek lebih kecil terhadap karakteristik minyak. Panen tertinggi dari produksi minyak dihasilkan sebesar 4,21 % dengan kandungan anethol sebesar 26,17 % (Taurin, et al., 1989). Minyak atsiri adas adalah campuran dari paling tidak satu lusin kimia yang berbeda dan bahan utama adalah: anethole (40 - 70%), fenchone (1 - 20%) dan estragole (2 - 9%), senyawa lainnya (pinene, chavicole, dipentena,limenene dll) yang hadir dalam konsentrasi biasanya kurang dari 1% ( Kaur dan Aurora, 2010). E. Syarat Tumbuh Tanaman adas dapat tumbuh dari dataran rendah sampai dataran tinggi (10 - 1.800 m dari pemukaan laut). Di pulau Jawa adas ditanam pada daerah dengan ketinggian 1.600 Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

2.400 m dpl. Adas memerlukan cuaca sejuk dan cerah (150C - 200C) untuk menunjang pertumbuhannya, dengan curah hujan sekitar 2500 mm/tahun. Adas banyak ditemukan di tepi sungai, danau atau tanggul daerah pembuangan. Adas merupakan tanaman khas di palung sungai. Adas akan tumbuh baik pada tanah berlempung, tanah yang cukup subur dan berdrainase baik, berpasir atau liat berpasir dan berkapur dengan pH 6,5 - 8,0 (Rusmin dan Melati, 2007). Tanaman adas membutuhkan sinar matahari penuh, toleran terhadap kondisi tanah yang beragam diantaranya tanah asam, tanah kering dan membutuhkan pengaturan drainase yang baik. Derajat keasaman yang diperlukan yaitu pH 4.8 - 8.2 (Anonim3, 2011). F. Panen dan pasca panen Tanaman adas mulai dipanen pada umur 8 bulan setelah tanam yang ditandai dengan warna buah hijau keabu-abuan sampai kehitaman dan cukup keras apabila dipijit. Jika bibit tanaman berasal dari pemisahan anakan akan menghasilkan buah yang lebih cepat dibanding dari biji. Buah adas matangnya tidak serempak, sehingga panennya membutuhkan waktu yang cukup lama (4 bulan) dengan 15 kali pemetikan dalam interval waktu 1 2 minggu. Pemanenan dilakukan dengan cara memetik karangan buah yang telah masak, buah yang masih muda ditinggalkan untuk periode panen berikutnya. Buah hasil panen dijemur di bawah sinar matahari sampai kadar air mencapai 12 14%. Buah yang telah dikeringkan kemudian dibersihkan dari kotoran tanaman. Pengemasan dilakukan dalam kantong-kantong plastik yang bersih dan disimpan dalam gudang. Perubahan komposisi kimia minyak adas yang disebabkan oleh perlakuan penyimpanan dengan analisis GCMS (Gas Chromatography Mass Spectrometri), pada minyak adas yang telah disimpan selama 3 bulan menunjukkan bahwa komponen utamanya yaitu transanethol mengalami oksidasi dan reduksi menjadi p-anisaldehid, anis keton dan senyawa benzyl metilketon. Perubahan komposisi kimia minyak adas tersebut diperkirakan karena pengaruh cahaya dan oksigen yang terdapat di udara. Wadah simpan yang digunakan untuk menyimpan minyak adas tersebut adalah botol yang bening (transparan), yang sebaiknya digunakan botol yang gelap. (Rusmin dan Melati, 2007).

A. CENGKEH Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L. M. Perry Sinonim Eugenia aromatica (L.) Baill. Eugenia caryophyllata Thunb.
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 2

Eugenia caryophyllus (Spreng.) Bull. & Harr. Caryophyllus aromaticus L. Klasifikasi Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Rosidae Ordo: Myrtales Famili: Myrtaceae (suku jambu-jambuan) Genus: Syzygium Spesies: Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L. M. Perry Tumbuhan perdu yang dapat memiliki batang pohon besar dan berkayu keras, cengkeh mampu bertahan hidup puluhan bahkan sampai ratusan tahun , tingginya dapat mencapai 20 -30 meter dan cabang-cabangnya cukup lebat. Cabang-cabang dari tumbuhan cengkeh tersebut pada umumnya panjang dan dipenuhi oleh ranting-ranting kecil yang mudah patah . Mahkota atau juga lazim disebut tajuk pohon cengkeh berbentuk kerucut . Daun cengkeh berwarna hijau berbentuk bulat telur memanjang dengan bagian ujung dan panggkalnya menyudut, rata-rata mempunyai ukuran lebar berkisar 2-3 cm dan panjang daun tanpa tangkai berkisar 7,5 -12,5 cm. Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendekserta bertandan. Pada saat masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan , kemudian berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan berubah lagi menjadi merah muda apabila sudah tua. Sedang bunga cengkeh keringakan berwarna coklat kehitaman dan berasa pedas sebab mengandung minyak atsiri. Umumnya cengkeh pertama kali berbuah pada umur 4-7 tahun. Tumbuhan cengkeh akan tumbuh dengan baik apabila cukup air dan mendapat sinar matahari langsung. Cengkih memiliki nama lain seperti clove tree (Inggris) dan ting hsiang (Tiongkok). Selain Syzygium aromaticum cengkih juga sering disebut Eugenia aromatica L. a. Morfologi Daun cengkih tidak termasuk daun lengkap karena memiliki tangkai daun (petiolus), helaian daun (lamina), namun tidak memiliki upih/pelepah daun (vagina). Daunnya berbentuk
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 2

1. Daun (folium)

lonjong dan berbunga pada bagian ujungnya. Termasuk daun majemuk karena dalam satu ibu tangkai ada lebih dari satu daun. Bangun daunnya (circumscriptio) adalah lanset (lanceolatus), ujungnya (apex) adalah runcing (acustus) pangkalnya (basis folii) adalah meruncing (acuminatus), susunan tulang daunnya (nervatio) adalah menyirip penninervis), tepi daunnya (margo) adalah rata (integer), dan daging daunnya (intervenium) adalah seperti kertas, tipis tetapi cukup tegar (papyraceus). Daun ini berwarna hijau. Ukuran daun cengkeh : - Lebarnya berkisar 2-3 cm - Panjang daun kira-kira 7,5 -12,5 cm. Daun, bunga, dan tangkainya mengandung minyak cengkeh yang banyak disenangi orang karena baunya yang khas. Selain itu minyak tersebut mempunyai sifat stimulan, anestetik, karminatif, antiemetik, antiseptik dan antispasmodik. Bunga dan buahnya muncul pada ujung rantingnya. Warna dari bunganya - Keungu-unguan lalu menjadi kuning kehijau-hijauan (muda) - Merah muda (tua) 2. Batang (Caulis) Batang dari pohon cengkeh biasanya memiliki panjang 10-15 m. Batang berbentuk bulat (teres), permukaan batangnya kasar biasanya memiliki cabang-cabang yang dipenuhi banyak ranting atau dapat dikatakan lebat rantingnya. Arah tumbuh batangnya tegak lurus (erectus) dan cara percabangan dari rantingnya dapat dikatakan monopodial karena masih dapat dibedakan antara batang pokok dan cabangnya. Lalu arah tumbuh cabangnya adalah condong ke atas (patens). Selain itu pohon cengkeh dapat bertahan hidup hingga puluhan tahun. Tangkainya kira-kira1-2,5 cm (Steenis 1975).
3. Akar(Radix)

Sistem akarnya tunggang, akar ini merupakan akar pokok (berasal dari akar lembaga) yang kemudian bercabang-cabang. Bentuk akar tunggangnya termasuk berbentuk tombak (fusiformis) pada akar tumbuh cabang yang kecil-kecil. Akar kuat sehingga bisa bertahan sampai puluhan bahkan ratusan tahun. Akarnya biasanya mampu masuk cukup dalam ke tanah. 4. Biji (Semen) Pohon cengkeh mampu menghasilkan biji setelah penanaman 5 tahun. Bijinya terdiri dari kulit (spedodermis), tali pusar (funiculus), dan inti biji (nukleus seminis). Walaupun dalam jangka 20 tahun masih dapat menghasilkan biji, biji ini dapat dikatakan sudah tidak
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 2

menguntungkan. Hal ini dikarenakan kualitasnya telah menurun dan tidak dapat digunakan lagi untuk industri, misal rokok. 5. Bunga (Flos) Bunga cengkeh muncul pada ujung ranting daun (flos terminalis) dengan tangkai pendek dan bertandan (bunga bertangkai nyata duduk pada ibu tangkai bunga). Bunga cengkeh termasuk bunga majemuk yang berbatas karena ujung ibu tangkainya selalu ditutup bunga. Bunga terdiri dari tangkai (pedicellus), ibu tangkai (pedunculus), dan dasar bunga (repectaculum). Bunga cengkeh adalah bunga tunggal (unisexualis) jadi masih dapat dibedakan menjadi bunga jantan (flos masculus) dan betina (flos femineus). Dasar bunganya (repectaculum) menjadi pendukung benang sari dan putik (andoginofor). Bunga cengkeh ini termasuk dalam setangkup tunggal maksudnya hanya bisa dibagi oleh satu bidang simetri menjadi 2 bagian. Warna bunganya akan berubah-ubah sesuai umur pohonnya. Saat masih muda bunga cengkeh berwarna keungu-unguan , kemudian berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan jika sudah tua menjadi merah muda. 6. Buah (Fructus) Cengkeh memiliki tangkai buah yang pada masa awal berwarna hijau dan saat sudah mekar berwarna merah. Buahnya termasuk buah semu karena ada bagian bunga yang ikut ambil bagian dalam pembentukan buah. a. Anatomi Seperti diketahui bahwa tumbuhan cengkeh terdiri dari akar, batang , dan daun yang tentunya pada masing-masing organ tersebut memiliki lapisannya masing masing. Pada akarnya tersusun atas lapisan epidermis, korteks dan stele. Bagian korteksnya terdiri dari bagain eksodermis, parenkim korteks, dan endodermis. Sedangkan berkas pengangkut ada pada bagian stele selain berkas pengangkut stele masih mengandung selapis sel parenkim (perisikel). Daun dari cengkeh yang berwarna hijau tersusun atas bagian epidermis atas, mesofil (terdiri dari jaringan tiang dan spons selau ada pada tumbuhan dikotil), jaringan pengangkut, dan epidermis bawah. Lalu pada batangnya yang berbentuk bulat terdiri dari epidermis, korteks , stele (ada berkas pengangkut), dan empulur. Tipe berkas pengangkutnya adalah kolateral terbuka, jadi antara xilem dan floem terdapat kambium yang menyebabkan tumbuhan dapat bertambah besar.
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 2

Untuk bunganya yang tumbuh pada ujung (flos terminalis) ada 4 bagian seperti kelopak, mahkota, benang sari, dan putik. Kelopak tersusun atas: epidermis atas, mesofil (+klorenkim), berkas pengangkut, dan epidermis bawah. Mahkota tersusun atas epidermis atas, mesofil, berkas pengangkut, danepidermis bawah. Benang sarinya terdiri dari epidermis, parenkim, berkas pengangkut, dan serbuk sari. Terakhir putik tersusun atas epidermis, parenkim, berkas pengangkut, ovulum. Buah cengkeh memiliki tangkai buah yang pada masa awal berwarna hijau dan saat sudah mekar berwarna merah. Buahnya secara umum tersusun atas bagian-bagian secara umum pada kulit buah antara lain epikarpium, mesokarpium, dan endokarpium. Selain itu ada septum dan ovarium. Pada bijinya yang sering dipakai dalam industri rokok terdiri dari kulit biji, endosperm, dan embrio. Pada berkas penganngkut secara lebih rinci berupa xilem dan floem. Untuk xilem, sel ini tersusun atas trakea, trakeida, serabut xilem, dan parenkim kayu.xilem ini memiliki ciri yang membedakan dengan floem yaitu merupakan penyusun utama sel kayu, terdiri dari sel sklerenkimatis, dan sel mati kecuali untuk parenkim kayunya. Fungsinya untuk pengangkut air dan mineral, penguat. Sedangkan floem terdiri dari sel tapis, sel pengiring, parenkim floem, dan serabut floem yang berupa serabut sklerenkim. Ciri-cirinya adalah pada umumnya berada di luar xilem, tersusun atas sel parenkim, dan merupakan sel hidup kecuali serabut floem. Fungsinya mengangkut hasil asimilasi.

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

1. KANDUNGAN KIMIA DAN KHASIAT A. JAHE

Kandungan Nutrien Berikut ini adalah besar kandungan nutrient pada tiap 2 gr jahe : 1. Kandungan air 1,6 gr dan Kandungan bahan kering 0,4 gr 2. Protein 0 % atau tidak mengandung protein 3. Lemak Jahe mengandung lemak yang rendah hanya 8%,lemak tersebut berasal dari Omega-3 fatty acids 0,7mg dan Omega-6 fatty acids. Hasil perhitungan lemak pada jahe ini dapat dikatakan rendah karena lemak yang di butuhkan ikan antara 4 -18 % dan bahan di katakan lemak tinggi bila mengandung lemak di atas 18%. 4. Vitamin Jahe ini juga mengandung vit komplek B yaitu colin 0,6 mg dan asam folat 0,2 mcg ,vit C 0,1 mg, dari nilai kandungan vit tersebut jahe dapat di katakan juga rendah vitamin karena sebenarnya ikan membutuhkan colin sebagai pakan tambahan 440 mg, 0,1 mg dan vit C 0-100 mg. 5. Mineral Calsium.. 0,3 mg Magnesium..0,9 mg Phosphorus..0,7 mg Potassium....8,3 mg Sodium.....0,3 mg

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

6. Kandungan lain yang Menyusun Jahe Hasil penelitian jahe mengandung dua enzim pencernaan yang penting pertama, protease yang berfungsi memecah protein dan enzim lipase yang berfungsi memecah lemak. Selain itu jahe juga sekurangnya mengandung 19 komponen bio-aktif yang berguna bagi tubuh. Senyawa kimia pada jahe adalah di antaranya minyak atsiri yang terdiri dari senyawa-senyawa seskuiterpen, zingiberen, bisabolena, zingeron, oleoresin, kamfena, limonen, borneol, sineol, sitral, zingiberal, felandren. Di samping itu, terdapat juga sagaol, gingerol, pati, damar, asam-asam organik seperti asam malat dan asam oksalat, Vitamin A, B (colin dan asam folat), dan C, senyawa- senyawa flavonoid, polifenol, aseton ,methanol, cineole, dan argininin Kandungan Kimia. Rimpang jahe mengandung 2 komponen, yaitu: 1. Volatile oil (minyak menguap) Biasa disebut minyak atsiri merupakan komponen pemberi aroma yang khas pada jahe, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Minyak atsiri merupakan salah satu dari dua komponen utama minyak jahe. Jahe kering mengandung minyak atsiri 1-3%, sedangkan jahe segar yang tidak dikuliti kandungan minyak atsiri lebih banyak dari jahe kering. Bagian tepi dari umbi atau di bawah kulit pada jaringan epidermis jahe mengandung lebih banyak minyak atsiri dari bagian tengah demikian pula dengan baunya. Kandungan minyak atsiri juga ditentukan umur panen dan jenis jahe. Pada umur panen muda, kandungan minyak atsirinya tinggi. Sedangkan pada umur tua, kandungannyapun makin menyusut walau baunya semakin menyengat. 2. Non-volatile oil (minyak tidak menguap) Biasa disebut oleoresin salah satu senyawa kandungan jahe yang sering diambil, dan komponen pemberi rasa pedas dan pahit. Sifat pedas tergantung dari umur panen, semakin tua umurnya semakin terasa pedas dan pahit. Oleoresin merupakan minyak berwarna coklat tua dan mengandung minyak atsiri 15-35% yang diekstraksi dari bubuk jahe. Kandungan oleoresin dapat menentukan jenis jahe. Jahe rasa pedasnya tinggi, seperti jahe emprit, mengandung oleoresin yang tinggi dan jenis jahe badak rasa pedas kurang karena kandungan oleoresin sedikit. Jenis pelarut yang digunakan, pengulitan serta proses pengeringan dengan sinar matahari atau dengan mesin mempengaruhi terhadap banyaknya oleoresin yang dihasilkan. Volatile (-)-zingeberene, (+)-ar-curcumene,
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

(-)--sesquiphelandrene, -bisaboline, -pinene, bornyl acetat, borneol, camphene, -cymene, cineol, cumene, -elemene, farnesene, -phelandrene, geraneol, limonene, linalool, myrcene, -pinene, sabinene. Non Volatile Gingerol, shogaol, gingediol, gingediasetat, Gingerdion, Gingerenon Sumber : WHO Monographs on selected medicinal plants Vol 1,1999 Kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman jahe terutama golongan flavonoida, fenolik, terpenoida, dan minyak atsiri (Benjelalai, 1984). Senyawa fenol jahe merupakan bagian dari komponen oleoresin, yang berpengaruh dalam sifat pedas jahe (Kesumaningati, 2009), sedangkan senyawa terpenoida adalah merupakan komponenkomponen tumbuhan yang mempunyai bau, dapat diisolasi dari bahan nabati dengan penyulingan minyak atsiri. Monoterpenoid merupakan biosintesa senyawa terpenoida, disebut juga senyawa essence dan memiliki bau spesifik. Senyawa monoterpenoid banyak
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

dimanfaatkan sebagai antiseptik, ekspektoran, spasmolitik, sedative, dan bahan pemberi aroma makanan dan parfum. Menurut Nursal, 2006 senyawa-senyawa metabolit sekunder golongan fenolik, flavanoiada, terpenoida dan minyak atsiri yang terdapat pada ekstrak jahe diduga merupakan golongan senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakeri. 2. PADI Kandungan Kimia Biji mengandung karbohidrat, dextrin, arabanoxylan, xylan, phytin, glutelin, enzim (phytase, lypase, diastase), dan vitamin B. Tangkai buah, buah dan batang Oryza sativa mengandung saponin, disamping itu tangkai buah dan batangnya juga mengandung polifenol serta tangkai buahnya juga mengandung alkaloida. Khasiat a. Selaput biji (Gu ya) berkhasiat untuk mengatasi: - lambung dan limpa lemah, - tidak nafsu makan, gangguan pencernaan, rasa penuh di dada dan perut, - beri-beri, serta - tangan dan kaki rasa kesernutan, baal. b. Tangkai buah (merang) berkhasiat untuk mengatasi: - rambut kotor, - penyubur rambut dan - keguguran. c. Biji (beras) berkhasiat untuk mengatasi: - demam, - diare, - gondongan, - rematik, keselco, - radang payudara, radang kulit, dan - bisul.

d. Akar (No tao ken) berkhasiat untuk mengatasi:


Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 2

- keringat berlebiban, berkeringat spontan, dan - filariasis. 2. ADAS Kandungan Kimia Adas mengandung minyak asiri (Oleum Foeniculi) 1 - 6%, mengandung 50 - 60% anetol, lebih kurang 20% fenkon, pinen, limonen, dipenten, felandren, metilchavikol, anisaldehid, asam anisat, dan 12% minyak lemak. Kandungan anetol yang menyebabkan adas mengeluarkan aroma yang khas dan berkhasiat karminatif. Akar mengandung bergapten. Akar dan biji mengandung stigmasterin (serposterin). Khasiat Buah bermanfaat untuk mengatasi : - sakit perut (mulas), perut kembung, rasa penuh di lambung, mual, muntah, diare, - sakit kuning (jaundice), kurang nafsu makan, - batuk berdahak, sesak napas (asma), - haid: nyeri haid, haid tidak teratur, - air susu ibu (ASI) sedikit, - putih telur dalam kencing (proteinuria), - susah tidur (insomnia), - buah pelir turun (orchidoptosis), - usus turun ke lipat paha (hernia inguinalis), - pembengkakan saluran sperma (epididimis), - penimbunan cairan di dalam kantung buah zakar (hidrokel testis), - mengurangi rasa sakit akibat batu dan membantu menghancurkannya, - rematik gout, dan - keracunan tumbuhan obat atau jamur. Daun berkhasiat mengatasi : - batuk, - perut kembung, koilk, - rasa haus, dan - meningkatkan penglihatan Penyakit Yang Dapat Diobati :
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

Sakit perut (mulas), perut kembung, mual, muntah, ASI sedikit,; Diare, sakit kuning (jaundice), kurang nafsu makan, batuk,; Sesak napas (Asma), nyeri haid, haid tidak tertur, rematik goat,; Susah tidur (insomnia), buah pelir turun (orchidoptosis), kolik,; Usus turun ke lipat paha (hernia inguinalis), batu empedu,; Pembengkakan saluran sperma (epididimis),; Penimbunan cairan dalam kantung buah zakar (hiodrokel testis),; Keracunan tumbuhan obat atau jamur, meningkatkan penglihatan; Sifat Kimiawi Buah : buah masak mengandung bau aromatik, rasa sedikit manis, pedas, hangat, masuk meridian hati, ginjal, limpa, dan lambung. Daun : berbau aromatik Minyak dari buah : minyak adas (fennel oil). 3. KAYU ULES Kandungan kimia: Pigmen kloroplas Pitosterol Saponin Gula Flobatanin Asam hidroksikarboksilat tanin, Alkaloid Khasiat: Stomakik Antipiretik 4. CENGKEH Kandungan Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) selain mengandung minyak atsiri, juga mengandung senyawa kimia yang disebut eugenol, asam oleanolat, asam galotanat, fenilin, karyofilin, resin dan gom.

Khasiat

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

Sebagai obat tradisional khasiat cengkeh adalah mengatasi sakit gigi, sinusitis, mual dan muntah,kembung, masuk angin, sakit kepala, radang lambung, batuk, terlambat haid, rematik, campak, dan lain-lain

1. FARMAKOLOGI TOLAK ANGIN a. Mengandung bahan yang dapat menurunkan demam (kayu ules, daun cengkih, daun permen). b. Mengandug bahan yang mencegah pusing, mual (jahe, daun permen). c. Mengandung bahan yang mengatasi gangguan tenggorokan (adas, daun cengkih, dan daun Khasiat Mengobati masuk angin karena kehujanan, kurang tidur, atau terlalu lelah. Gejala-gejalanya seperti : mual, perut kembung/sakit (mules), pusing, lesu, demam, pilek, badan terasa dingin, mata berair. Menjaga stamina/kondisi tubuh di saat-saat bekerja keras/lembur dan melakukan perjalanan jauh serta mencegah mabuk perjalanan. Terutama petugas jaga malam dan pekerja berat. Khasiat dari segi farmakologi, secara umum adalah : a. Oryza Sativa (beras) berguna sebagai absorben untuk menyerap zat-zat beracun, atau zat yang yang menyebabkan diare. b. Foeniculli Fructus (adas) dapat meningkatkan transport mukosilier yang efektif untuk mengatasi batuk produktif akibat masuk angin. c. Isorae Fructus (kayu ules) mengurangi rasa nyeri (analgetik). d. Caryophylli Folium (cengkeh) dapat menghilangkan rasa mual muntah dan mencegah kerusakan hati akibat bahan racun tertentu (CCI4), juga penambah tenaga. Mekanisme kerja secara umum : Tolak angin mengandung jahe, daun mint, kayu ules, cengkeh dan adas dapat meningkatkan kekebelan tubuh melalui parameter kenaikan sel T yang merupakan indikator meningkatnya daya tahan tubuh. permen).

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

Mekamisme Kerja Tanaman Obat

1. JAHE (Zingiberis Rhizoma)


a. Sifat khas jahe disebabkan adanya minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1 - 3 persen. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol. b. Minyak jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, dapat mencegah mual, karena jahe mampu memblok serotonin, yaitu senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasa mual. Termasuk mual akibat mabok perjalanan. c. Rasanya yang tajam merangsang nafsu makan, memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi jantung. d. Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati selesma, batuk, diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis. Jahe juga dipakai untuk meningkatkan pembersihan tubuh melalui keringat. e. Menurunkan tekanan darah. Hal ini karena jahe merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah, akibatnya darah mengalir lebih cepat dan lancar dan memperingan kerja jantung memompa darah. f. Membantu pencernaan karena jahe mengandung enzim pencernaan yaitu protease yang berfungsi mencerna protein dan enzim lipase yang berfungsi mencerna lemak. Kedua enzim inilah yang membantu mencerna dan menyerap pakan sehingga meningkatkan nafsu makan. g. Gingerol yang merupakan salah satu komponen senyawa kimia dalam jahe bersifat antikoagulan yaitu mencegah pengggumpalan darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah selain itu senyawa ini juga dapat menurunkan kadar kolesterol. h. Jahe juga mengandung bahan antioksidan diantaranya senyawa flavonoid dan polifenol,asam oksalat dan vit C,antioksidan ini dapat membantu menetralkan efek merusak yang di sebabkan oleh radikal bebas dalam tubuh. i. Melindungi system pencernaan dengan menurunkan keasaaman lambung dan menghambat terjadinya iritasi pada saluran pencernaan hal ini karena jahe mengandung senyawa aseton dan methanol.

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

j. Jahe mengandung senyawa cineole dan arginine yang memiliki manfaat memperkuat daya tahansperma. Mekanisme amti emetic.
Kulit otak dan sitem Limbis

Saraf SSO di saluran Lambung dan usus (Ach-5HT)

PUSAT MUNTAH

CTZ dengan reseptor Dopamin dan 5HT3 Organ Keseimbangan (Ach histamin)

JAHE

1. FOENICULI FRUCTUS (minyak adas) Berkhasiat menghilangkan dingin, antiradang, antispasmodik, penghilang nyeri (analgesik), peluruh kencing (diuretik ringan), menormalkan fungsi lambung, antibakteri, meningkatkan napsu makan (stomakik), peluruh dahak, peluruh kentut (karminatif), dan merangsang produksi ASI (laktagoga). Buah adas yang diproses dengan garam berkhasiat menghangatkan ginjal, mengusir dingin dari dalam dan meredakan nyeri. Buah adas mengandung minyak asiri (Oleum Foeniculi) 1-6%, mengandung 50-60% anetol, lebih kurang 2o% fenkon, pinen, limonen, dipenten, felandren, metilchavikol, anisaldehid, asam anisat, dan 12% minyak lemak. Adas juga sumber vitamin A, kalsium, fosfor, dais kalium. Kandungan anetol yang menyebabkan adas mengeluarkan aroma yang khas, berkhasiat karminatif, dan antispasmodik. Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian : a. Meningkatkan peristaltik saluran cerna dan merangsang pengeluaran kentut (flatus).
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

b. Menghilangkan dingin dan dahak. c. Minyak adas yang mengandung anetol, fenkon, chavicol, dan anisaldehid berkhasiat menyejukkan saluran cerna dan bekerja menyerupai perangsang napsu makan. Efek Toksisitas Adas sebaiknya jangan diberikan pada penderita alergi terhadap wortel, selederi, penderita epilepsi dan anak di bawah umur. Adas aman digunakan sebagai obat dalam jangka waktu yang tidak lama. Pemakai-an jangka lama dalam jumlah yang banyak akan memberikan efek samping di antaranya, kulit menjadi sensitif terhadap cahaya matahari, di mana kulit menjadi gelap dan sakit terbakar matahari.

2. CARYOPHYLLI FOLIUM (cengkeh) Minyak esensial dari cengkih mempunyai fungsi anestetik dan antimikrobial. Minyak cengkih sering digunakan untuk menghilangkan bau napas dan untuk menghilangkan sakit gigi. Zat yang terkandung dalam cengkih yang bernama eugenol, digunakan dokter gigi untuk menenangkan saraf gigi. Aroma cengkeh yang khas dihasilkan oleh senyawa eugenol, yang merupakan senyawa utama (72-90%) penyusun minyak atsiri cengkeh. Eugenol memiliki sifat antiseptik dan anestetik (bius). Minyak atsiri cengkeh dimanfaatkan untuk mengobati rasa nyeri pada gigi. Cengkeh memiliki sifat mampu meningkatkan produksi asam lambung, menggiatkan gerakan peristaltik saluran pencernaan, juga mampu menjaga energi panas tubuh (yang ), maka cengkeh hanya boleh digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kurangnya yang dalam tubuh, seperti impotensi, muntah dan diare akibat dinginnya lambung dan limfa, serta morning sickness. 3. ISORAE FRUCTUS (kayu ules) Pigmen kloroplas, pitosterol, saponin, gula, flobatanin, asam hidroksikarboksilat Khasiat Stomatik,antipiretik 2. ORYZA SATIVA (Padi)
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

a. Selaput biji (Gu ya) berkhasiat untuk mengatasi: Lambung dan limpa lema, tidak nafsu makan, gangguan pencernaan, rasa penuh di dada dan perut, beri-beri, tangan dan kaki rasa kesernutan,baal. b. Tangkai buah (merang) berkhasiat untuk mengatasi: Rambut kotor, keguguran c. Biji (beras) berkhasiat untuk mengatasi: Demam, diare, gondongan, rematik, kesleo, radang payudara, radang kulit, bisul. d. Akar (No tao ken) berkhasiat untuk mengatasi: Keringat berlebiba, berkeringat spontan, filariasis.

1. KEMASAN Menurut Tjiptono (2000) PRODUK merupakan segala sesuatu yang dapat di tawarkan kepada seluruh pasar untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan atau di konsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan secara lebih terperinci. Konsep produk meliputi barang, kemasan, label,merek, pelayanan dan jaminan seperti terlihat pada gambar berikut :

Barang

Produk

Kemasan
Merk

Kepuasan Pelangga

Label Pelayanan

Jaminan
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

Dari ulasan singkat dan bagan mengenai produk atau barang jadi, satu hal penting mengenai konsep produksi yang akan dibahas lebih lanjut yaitu KEMASAN A. Definisi Kemasan Menurut Kotler (1995) pengemasan adalah kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus sebagai sebuah produk. Swatha mengartikan (1980) pembungkusan (packaging) adalah kegiatan-kegiatan umum dan perencanaan barang yang melibatkan penentuan desain pembuatan bungkus atau kemasan suatu barang, sedangkan Menurut Saladin (1996) kemasan adalah wadah atau bungkus. Jadi beberapa pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan kemasan adalah suatu kegiatan merancang dan memproduksi bungkus suatu barang yang meliputi desain bungkus dan pembuatan bungkus produk tersebut. Menurut Saladin (1996) wadah atau bungkus terdiri atas :
1. 2. 3.

Kemasan dasar atau primer (primary package) Bungkus langsung dari suatu produk (direct contack) Kemasan sekunder (secondary package) Bahan yang melindungi kemasan dasar dan di buang bila produk digunakan Kemasan pengiriman (shipping package) Kemasan yang diperlukan saat penyimpanan dan pengangkutan

A. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) BPOM Republik Indonesia No. HK.00.05.41.1384 menegaskan bahwa, seluruh kemasan obat tradisional baik lokal, impor, berlisensi dan lain sebagainya harus memuat Nomor Pendaftaran Obat Tradisional sebagai syarat wajib edar di samping syarat labeling lainnya. Berikut merupakan hal-hal yang harus tercantum dalam kemasan obat tradisional, seperti nama tradisional, logo, TR, TL, batch, exp date, brosur, dll. 1. Nama obat tradisional

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

Nama Obat Tradisional

2. Ukuran kemasan (berat / netto) 12 sachet @ 15 ml 1. Nomor pendaftaran obat tradisional, seperti : a. Depkes RI/POM RI No. TR --> 9 digit (Obat Tradisional Lokal)

b. Depkes RI/POM RI No. TL --> 9 digit (Obat Tradisional Lisensi) c. Depkes RI/POM RI No. TI --> 9 digit (Obat Tradisonal Impor) d. Depkes RI/POM RI No. BTR --> 9 digit (Obat Tradisional Berbatasan Lokal) e. Depkes RI/POM RI No. BTL --> 9 digit (Obat Tradisional Berbatasan Lisensi) f. Depkes RI/POM RI No. BTI --> 9 digit (Obat Tradisional Berbatasan Impor) 1. Nama dan alamat industri (sekurang-kurangnya nama kota diikuti kata INDONESIA) Diproduksi oleh : SIDO MUNCUL, INDONESIA 1. Komposisi (nama latin bahan baku) Dapat dilihat pada lampiran gambar berikut :
Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

2. Khasiat (kegunaan)

3. Cara penggunaan

4. Peringatan atau Kontra Indikasi (bila ada)


Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011 1

Nomer Pendaftaran : Terdiri dari 9 digit, diawali dengan TR TL 1


a. digit 1,2 b. digit 3

: Produk dalam negeri : Produk Lisensi 2 3 4 5 6 7 8 9

: tahun produk mulai terdaftar : bentuk usaha 1. Pabrik Farmasi 2. Pabrik Jamu 3. Perusahaan Jamu

c. digit 4

: bentuk sediaan 1. rajangan 2. serbuk 3. kapsul 4. pil, granul, boli 6. cairan 7. salep, krim 8. plaster / koyok 9. dupa, mangir,permen,pastiles, jenang

5. dodol, majun, tablet / kaplet


d. digit 5,6,7,8 e. digit 9

: nomor urut jenis produk yang terdaftar : jenis / macam kemasan


1. 15 ml

2. 30 ml

3. 45 ml

4. 60 ml, dst

Nomer Kode Produksi : 1. Enam Digit 1 2 3 4 5 6

a. digit 1 : bulan berakhir pdaftaran, huruf kecil

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

a, menunjukkan bulan Januari b, menunjukkan bulan Feberuari


b. digit 2 : tahun berakhir nomor pendaftaran, huruf kapital

A, menunjukkan tahun 2000 B, menunjukkan tahun 2001, dst


c. digit 3 : produk ke- , dalam bulan tsb, angka d. digit 4 : bulan produksi, huruf kecil e. digit 5,6 : tahun produksi

Perusahaan Jamu OT, memproduksi jamu singset, masa berlaku No. Pendaftaran November 2004, di[produksi April 2002, ke-4 kalinya K 1. Sembilan Digit
a. digit 1,2 b. digit 3,4 c. digit 5 d. digit 8,9

: bulan berakhir pendaftaran, angka, 01 Januari, 02 Feberuari : tahun berakhir nomor pendaftaran, ditulis dua angka : produksi ke- bulan pada digit 6,7 : tahun produksi, dua angka 1 0 4 4 0 4 0 2

1. Kode produksi

2. Tanggal kadaluwarsa

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

KETERANGAN : Definisi dan Simbol Obat Tradisional sesuai SK Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.05.4.2411 tahun 2004 Kelompok Jamu a. Jamu harus memenuhi kriteria : - Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan - Klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris - Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku b. Jenis klaim penggunaan sesuai dengan jenis pembuktian tradisional dan tingkat pembuktian umum & medium c. Jenis klaim penggunaan harus diawali dengan kata-kata : " Secara tradisional digunakan untuk...", atau sesuai dengan yang disetujui pada pendaftaran Kelompok Obat Herbal Terstandar a. Obat Herbal Terstandar harus memenuhi kriteria : - Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan; - Klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah/pra klinik; - Telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi; - Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku b. Jenis klaim penggunaan sesuai dengan tingkat pembuktian yaitu tingkat pembuktian umum dan medium

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

Fitofarmaka a. Harus memenuhi kriteria : - Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan; - Klaim khasiat harus dibuktikan berdasarkan uji klinik; - Telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi; - Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku b. Jenis klaim penggunaan sesuai tingkat pembuktian medium dan tinggi

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

BAB III PENUTUP 1. KESIMPULAN


1. Obat Herbal Terstandar adalah obat tradisional yang disajikan dari

ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral.
2. OHT yang kami pilih adalah Tolak Angin dengan khasiat: :

a. Mengobati masuk angin karena kehujanan, kurang tidur, atau terlalu lelah. Gejala-gejalanya seperti : mual, perut kembung/sakit (mules), pusing, lesu, demam, pilek, badan terasa dingin, mata berair. b. Menjaga stamina/kondisi tubuh di saat-saat bekerja keras/lembur dan melakukan perjalanan jauh serta mencegah mabuk perjalanan. Terutama petugas jaga malam dan pekerja berat. 2. SARAN Penulis menyadari makalah ini sangat banyak kekurangan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran bagi perbaikan makalah yang akan datang.

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011

DAFTAR PUSTAKA http://www.plantamor.com/index.php plant http://blog.ub.ac.id/cantika/2010/05/28/jahe-yang menggiurkan/ http://rachmadrevanz.com/2011/tanaman-jahe.html http://www.iptek.net.id/ind/warintek/ http://tanamanherbal.wordpress.com/2007/12/16/kayu-ules/ http://books.google.co.id/books kayu ules http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25711/5/Chapter%20I.pdf http://www.lawskripsi.com/index.php toiusd.multiply.com/journal/item/55/Foeniculum_Vulgare068114048 http://spesifikasihabbatussauda.blogspot.com/2009/09/cengkeh-syzygium-aromaticum-linn merr.html Van Steenis, C. G. G. J. (1975). 'Flora Untuk Sekolah Indonesia', Jakarta Pusat, PT Pradnya Paramita, hal. 326-328. http://www.medikaholistik.com/2033/2004/11/28/medika.html. Diakses 8 Februari 2007 http://www.iptek.net.id. Diakses 6 Februari 2007. http://www.bokormascorp.com/ind/cengkeh.htm

Kelompok OHT TOLAK ANGIN/09023058-066/OT/2011