Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM I FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

Disusun oleh : Suci Hati (Pembahasan Prosedural) Rina Nuriyah (Buat Nutrient Agar) Vani Nur Pratami (Buat Nutrient Agar) Dana Nasrullah (Cover,Tujuan,Prinsip) Rida Rufaidah (Pembahasan Teori) Aulia Assari (Teori) Rimadani Pratiwi (Sterilisasi Alat) Furqan Ridha(Sterilisasi Alat) Hesti Amalia (Alat Bahan & Prosedur) Valdis R.A (Sterilisasi Alat) Rizky D.W (Teori) R.R Audhea B (Sterilisasi Alat) Lina Adeliana (Data Pengamatan, Perhitungan) Dodi Munandar (Sterilisasi LAF) M. Hilmi F (Sterilisasi Alat) Okky Sri Purwanti (Editor) Ruth Widya Valentine (Editor) Josi Meika M (Sterilisasi LAF) 260110080071 260110080072 260110080073 260110080074 260110080075 260110080077 260110080078 260110080079 260110080080 260110080081 260110080083 260110080084 260110080085 260110080086 260110090024 260110090025 260110090027 260110090028

Universitas Padjadjaran Fakultas Farmasi Laboratorium Formulasi dan Teknologi Sediaan Steril Jatinangor 2011

STERILISASI RUANG

I.

TUJUAN Untuk mengetahui adanya jasad renik hidup atau yang mempunyai daya hidup di dalam suatu ruangan aseptis.

II. PRINSIP 1. Sterilisasi Suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada dengan cara fisik (pemanasan, radiasi, penyaringan). 2. Aseptik Bebas dari mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi atau kontaminasi.

III. TEORI

Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri (Fardiaz, 1992). Sterilisasai adalah tahap awal yang penting dari proses pengujian mikrobiologi. Sterilisasi adalah suatu proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan spora-sporanya. Ada 5 metode umum sterilisasi yaitu (Hadioetomo, 1993): y y y y y Sterilisasi uap (panas lembap) Sterilisasi panas kering Sterilisasi dengan penyaringan Sterilisasi gas Sterilisasi dengan radiasi

Metode yang paling umum digunakan untuk sterilisasi alat dan bahan pengujian mikrobiologi adalah metode sterilisasi uap (panas lembap) dan metode sterilisasi panas kering. A. Sterilisasi Uap Sterilisasi uap dilakukan dengan autoklaf menggunakan uap air dalam tekanan sebagai pensterilnya. Bila ada kelembapan (uap air) bakteri akan terkoagulasi dan dirusak pada temperature yang lebih rendah dibandingkan bila tidak ada kelembapan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial dari organism tersebut.: Prinsip cara kerja autoklaf Seperti yang telah dijelaskan sebagian pada bab pengenalan alat, autoklaf adalah alat untuk memsterilkan berbagai macam alat & bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (2 atm) dan suhu 1210C. Untuk cara kerja penggunaan autoklaf telah disampaikan di depan. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mesterilkan media digunakan suhu 1210C dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan digunakan suhu 1210C atau 249,8 0F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 1000C, sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan memdididh pada suhu 1210C. Ingat kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoklaf diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 1210 C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 1210C dan tekanan 15 psi selama 15 menit (Hadioetomo, 1993).

Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi. Untuk mendeteksi bahwa autoklaf bekerja dengan sempurna dapat digunakan mikroba pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus, lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan disterilkan. Setelah proses sterilisai lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja dengan baik. B. Sterilisasi Panas Kering Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan menggunakan oven pensteril. Karena panas kering kurang efektif untuk membunuh mikroba dibandingkan dengan uap air panas maka metode ini memerlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang. Sterilisasi panas kering biasanya ditetapkan pada temperature 160-170oC dengan waktu 1-2 jam.

Sterilisasi panas kering umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif untuk disterilkan dengan uap air panas, karena sifatnya yang tidak dapat ditembus atau tidak tahan dengan uap air. Senyawa-senyawa tersebut meliputi minyak lemak, gliserin (berbagai jenis minyak), dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air. Metode ini juga efektif untuk mensterilkan alat-alat gelas dan bedah (Suriawiria, 2005). Karena suhunya sterilisasi yang tinggi sterilisasi panas kering tidak dapat digunakan untuk alat-alat gelas yang membutuhkan keakuratan (contoh:alat ukur) dan penutup karet atau plastic (Suriawiria, 2005). C. Sterilisasi dengan penyaringan Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan untuk mensterilisasi cairan yang mudah rusak jika terkena panas atu mudah menguap (volatile). Cairan yang disterilisasi dilewatkan ke suatu saringan (ditekan dengan gaya sentrifugasi atau pompa vakum) yang berpori dengan diameter yang cukup kecil untuk menyaring bakteri. Virus tidak akan tersaring dengan metode ini (Suriawiria, 2005). D. Sterilisasi gas Sterilisasi gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk membunuh mikroorganisme dan sporanya. Meskipun gas dengan cepat berpenetrasi ke dalam pori dan serbuk padat. Sterilisasi adalah fenomena permukaan dan

mikroorganisme yang terkristal akan dibunuh. Sterilisasi gas biasanya digunakan untuk bahan yang tidak bisa difiltrasi, tidak tahan panas dan tidak tahan radiasi atau cahaya (Lim, 1998). E. Sterilisasi dengan radiasi Radiasi sinar gama atau partikel elektron dapat digunakan untuk mensterilkan jaringan yang telah diawetkan maupun jaringan segar. Untuk jaringan yang dikeringkan secara liofilisasi, sterilisasi radiasi dilakukan pada temperatur kamar (proses dingin) dan tidak mengubah struktur jaringan, tidak meninggalkan residu dan sangat efektif untuk membunuh mikroba dan virus

sampai batas tertentu. Sterilisasi jaringan beku dilakukan pada suhu -40 derajat Celsius. Teknologi ini sangat aman untuk diaplikasikan pada jaringan biologi (Lim, 1998).
IV. ALAT DAN BAHAN

Alat : a. Alat Swabb b. Batang pengaduk c. Beaker glass d. Cawan petri e. Erlenmeyer 250 mL f. Erlenmeyer 500 mL g. Gelas ukur 100 mL h. Kaca arloji i. Ottoklaf j. Oven dan incubator k. Spatel logam

Bahan : a. Aquadest steril b. Alkohol 70% c. Disinfektan d. Nutrient agar

V. PROSEDUR 1. a. SANITASI RUANGAN UNTUK PENGUJIAN Sebelum pengujian dilakukan, ruangan dibersihkan dengan menggunakan fenol dan suci hamakan LAF dengan alcohol 70%, kemudian lampu UV dinyalakan di LAF selama 1 jam. Ketika pengujian akan dilakukan, lampu UV dimatikan, lampu neon serta aliran udara dinyalakan. LAF siap digunakan.

b.

Pembuatan media agar padat untuk pemantauan lingkungan (Nutrient agar) Nutrient agar ditimbang sebanyak 23 gram dan dilarutkan dalam 1 L aquadest, lalu didihkan sampai semua larut. Larutan agar disterilkan dalam otoklaf pada temperature 121oC selama 20 menit.

c. y

Persiapan peralatan Pakaian, sarung tangan, masker, dan sepatu : Disterilkan dalam otoklaf pada temperature 121oC, selama 20 menit kemudian dikeringkan dalam oven pada temperature 85oC, selama 3 jam. y Alat-alat gelas Masing-masing dibungkus dengan kertas roti atau kertas biasa, lalu disterilkan di oven, pada temperature 180oC, selama 1 jam dan otoklaf 121oC, selama 20 menit.

2. a. b.

CARA PENGUJIAN Sterilkan alat-alat yang digunakan dalam otoklaf dan oven. Siapkan semua reagensia yang diperlukan untuk Uji Cemaran

Mikroorganisme. c. Pemantauan lingkungan dilakukan dengan menempatkan cawan media untuk bakteri dan jamur di dalam LAF dan di luar LAF untuk kelas 10.000 selama 15 menit. d. Cawan media di tutup, kemudian inkubasikan pada temperature 37oC selama 24 jam. e. Interprestasi hasil

VI. DATA PENGAMATAN

No 1. 2. 3. 4. 5. Kontrol Dinding Lantai

Tempat

Perlakuan Didiamkan Metode usap Metode usap Didiamkan Didiamkan

Jumlah Koloni 3 1 4 7 2

Bagian dalam LAF Bagian luar LAF

a) Kontrol

b)

Lantai

b) Dinding

d) Bagian dalam

e) Bagian luar

VII. PERHITUNGAN Perhitungan jumlah bakteri Rumus : Jumlah bakteri = 10n Ket: n= jumlah koloni

1) Kontrol n= 3 jumlah bakteri : 10 3

2) Dinding n= 1 Jumlah bakteri: 10 1

3) Bagian Dalam n= 7 Jumlah bakteri: 10 7

4) Bagian luar n= 2 Jumlah bakteri: 10 2

5) Lantai - n= 4 - Jumlah bakteri:

10 4

VIII. PEMBAHASAN Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada pada setiap aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personil, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, dan segala sesuatu yang dapat merupakan sumber pencemaran produk. Sumber pencemaran potensial hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu. Sterilisasi menghilangkan adalah salah satu prosedur yang suci digunakan dan untuk

mikroorganisme.

Pemiliharaan

hama

penyakit

(keaseptikan) atau kondisi steril sangat penting dalam pengerjaan produk-produk steril. Tidak hanya untuk produk-produk steril, tetapi kondisi ruangan atau tempat produksi yana steril juga harus diperhatikan . Menurut CPOB, ruangan steril dikategorikan ruang kelas I dan II atau sering disebut white area, yang harus memenuhi syarat jumlah pertikel dan mikroba. Kelas I sebenarnya berada dalam ruangan kelas II, tetapi ruang kelas I memiliki alat LAF (Laminar Air Flow), yaitu alat yang menjamin ruangan dalam kondisi steril dan bisa dipakai untuk pembuatan secara aseptik. Menurut CPOB, ruangan steril dikategorikan ruang kelas I dan II atau sering disebut white area, yang harus memenuhi syarat jumlah pertikel dan mikroba. Kelas I sebenarnya berada dalam ruangan kelas II, tetapi ruang kelas I memiliki alat LAF (Laminar Air Flow), yaitu alat yang menjamin ruangan dalam kondisi steril dan bisa dipakai untuk pembuatan secara aseptik. Ruangan produksi steril harus memenuhi syarat sebagai berikut: y Bebas mikroorganisme aktif.

Untuk mendapatkannya, udara yang ada dalam ruangan disaring dengan HEPA (High Efficiency Particulate Air) filter agar mendapatkan udara yang bebas mikroorganisme dan partikel.

y y

Ada batasan kontaminasi dengan partikel. Tekanan positif, yaknitekanan udara di dalm ruangan lebih besar daripada udara di luar, sehingga udara di dalam mengalir ke luar (udara di luar yang lebih kotor bersih). tidak dapat masuk ke dalam ruangan yang lebih

Minimal terbagi atas tiga area, yaitu area kotor (black area), intermediate area (grey area), dan area bersih (white area).

Pada praktikum kali ini dilakukan dua hal yaitu yang pertama adalah pengenalan alat serta ruang-ruang yang ada di laboratorium steril Universitas Padjadjaran dan yang ke dua sterilisasi ruang aseptik untuk mengetahui

adanya jasad renik hidup atau yang mempunyai daya hidup di dalam suatu ruangan aseptik dan pengambilan sampel permukaan dengan menggunakan metode apus (Swabb) dan metode Rohdac. Yang dilakukan adalah sterilisasi ruangan aseptik yang nantinya akan dilakukan untuk pengujian, yaitu ruangan Laminar Air Flow (LAF). Pengenalan alat dan ruang Pada laboratorium steril UNPAD terdapat beberapa ruang. Seperti yang telah disebutkan di atas tadi. Dalam ruang steril terbagi atas 4 kelas kelas I, II, III, dan IV. Kelas I dan II adalah white area. Yang persyaratan mikroba dari masing-masing ruang berbeda-beda misalnya saja untuk kelas I yang >100 cfu.Ruang-ruang yang ada pada laboratorium ini diantanya adalah: 1. Ruang Penyimpanan Zat/Bahan Pada ruang ini disimpan bahan baku untuk pembuatan sediaan. Bahan baku tersebut tersimpan rapi dan teratur di rak-rak.

2. Ruang Timbang Pada ruang ini dilakukan proses penimbangan bahan ketika akan membuat sediaan. Di ruang ini terdapat alat yaitu timbangan yang menunjang proses pengimbangan tersebut. 3. Ruang Sterilisasi Di ruang ini dilakukan proses sterilisasi alat-alat yang akan digunakan saat praktikum. Alat-alat tersebut di antaranya adalah: a. Autoklaf Autoklaf merupakan alat yang dikenal untuk sterilisasi peralatan medis dan sains maupun bahan-bahan pembuatan media. Alat ini terbuat dari baja tebal biasanya berlapis stainless steel atau galvanis. Autoklaf dirancang dengan tutup yang sangatrapat sehingga uap air hasil pemanasan air di dalam autoklaf akan terus meningkatkan suhu dan tekanan, pada ambang tertentu alat ini dapat berbahaya. Kegunaan utama dari alat ini yaitu untuk membunuh mikroorganisme yang bandel diatasi dengan pemanasan, penurunan kadar air dan antibiotik biasa. Tekanan autoklaf yang tinggi hingga 17.5 psi (pound per square inch) dimaksudkan untuk menggempur endospora dari sel bakteri yang sangat resisten (tahan) terhadap metode-metode tersebut dalam waktu singkat.

Tekanan ini terjadi karena uap air yang terus bertambah karena pemanasan di dalam autoklaf tidak dapat keluar. Tutup yang didesain rapat menggunakan karet tahan panas membuat uap air tetap berada di dalam, akibatnya jumlah molekul air semakin banyak dan memenuhi ruangan autoklaf. sebagai pembanding yaitu balon yang ditiupkan gas akan terus membesar, sedangkan besi autoklaf tidak dapat

mengembang dan menimbulkan tekanan. Pada tekanan tertentu autoklaf juga dapat meledak seperti halnya balon yang tidak kuat lagi menahan tekanan yang terus bertambah. Ambang batas ini pasti dimiliki setiap materi / bahan termasuk besi

yang sangat kuat. Oleh karena itu, penggunaan autoklaf sebaiknya tetap pada level tekanan 17.5 psi, sedangkan variabelnya yaitu waktu atau lama pemanasan, misalkan dipertahannkan selama 15-20 menit untuk sterilisasi media dan 1 jam untuk steriliasi alat-alat dan wadah. Suhu standar yang dibutuhkan untuk melakukan sterilisasi dengan alat ini mencapai 121 C. Suhu tinggi autoklaf ini akan membunuh sel-sel vegetatif / sel tubuh dari bakteri dan cendawan dengan mudah. Secara otomatis suhu autoklaf selalu berkaitan dengan tekanan, peningkatan suhu dibarengi dengan peningkatan tekanan. Suhu sterilisasi sebenarnya cukup pada level 100 C atau sesuai titik didih air karena pada level ini endopora sudah dapat dieliminasi. Akan tetapi, tekanan 17.5 psi baru akan dicapai pada suhu 121 C. Suhu dan tekan ini diharapkan dapat mengeliminasi semua mikroorganisme termasuk golongan termofilik dan sel-sel resisten lainnya dengan waktu singkat. b. Oven Teknik sterilisasi dengan oven merupakan cara kering. Oven bisa juga digunakan utuk mengeringkan alat yang telah di sterilisasi dengan cara basah atau autoklaf. c. Inkubator Inkubator adalah alat yang digunakan untuk menciptakan suhu stabil dan konstan. Suhu inkbator dipengaruhi oleh adanya perubahan suhu pada suhu ruang, oleh karena itu perubahan suhu ruang perlu diawasi terutama saat terjadi perubahan musim. 4. Ruang produksi Ruang tempat diproduksinya sediaan. Ruang ini berbatasan dengan ruang kelas I, yang berisi LAF 5. Ruang LAF Ruang yang dibutuhkan untuk melakukan sesuatu yang khusus dan harus steril seperti menyambung ampul. Ketika akan memasuki ruang ini semua harus steril. Termasuk tangan dan kaki, biasanya dilakukan

penyemprotan dengan alkohol 70% terlebih dahulu ketika akan memasuki ruangan ini.

Sterilisasi Ruang Aseptik

Pada praktikum kali ini dilakukan sterilisasi ruang aseptik untuk mengetahui adanya jasad renik hidup atau yang mempunyai daya hidup di dalam suatu ruangan aseptik dan pengambilan sampel permukaan dengan menggunakan metode apus (Swabb) dan metode Rohdac. Yang dilakukan adalah sterilisasi ruangan aseptik yang nantinya akan dilakukan untuk pengujian, yaitu ruangan Laminar Air Flow (LAF). LAF merupakan kabinet kerja yang steril untuk kerja mikrobiologi LAF memiliki suatu pengatur aliran udara yang menciptakan aliran udara kotor (kemungkinan ada kontaminan) untuk disaring dan diresirkulasi melalui filter. Sebelum masuk ke ruang Laminar Air Flow, tangan dan kaki harus dibersihkan dahulu dengan alkohol 70% agar tidak membawa masuk kontaminan ke dalam ruang LAF. Alkohol 70% digunakan karena dapat mendenaturasi protein bakteri sehingga mengakibatkan bakteri lisis. Tangan merupakan bagian tubuh yang paling sering kontak dengan bahan uji selama percobaan dilakukan, sehingga sangat berpotensial memindahkan

mikroorganisme dan menyebabkan kontaminasi. Mikroorganisme yang sering terdapat pada kulit adalah bakteri pembentuk spora dan Staptylococcus sp. Kepala, mulut dan hidung juga harus ditutup dengan menggunakan penutup kepala dan masker supaya partikel dari tubuh dan mikroba dari saluran pernafasan tidak menyebabkan kontaminasi,. Sterilisasi ruangan menggunakan alkohol 70% dan desinfektan. Selain alkohol 70% digunakan juga desinfektan karena alkohol bekerja mengkoagulasi protein dan pelarutan membran tetapi tidak membunuh spora, maka digunakan desinfektan yang memiliki daya hambat besar terhadap spora.

Untuk pemantauan cemaran mikroba digunakan media pertumbuhan bakteri berupa nutrien agar. Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme

memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya. Media agar dibuat dengan melarutkan 2,3 gram nutrient agar dalam 100 ml air, dipanaskan sambil digoyang hingga mendidih, dan kemudian disterilisasi bersama alat gelas yang digunakan dalam autoklaf agar bebas mikroorganisme yang berasal dari wadah, air maupun ketika proses pelarutan. Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai berbagai macam alat dan bahan yang menggunakan tekanan 15 Psi (2atm) dan suhu 121C. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding udara panas. Saat pengisian nutrien agar di ruangan LAF, lampu neon dinyalakan dan lampu UV di dalam kabinet LAF dimatikan, serta aliran udara dinyalakan. Semua perlakuan dilakukan di dalam kabinet LAF yang tidak terbuka lebar. Kemudian nutrien agar yang telah disterilkan dimasukkan ke dalam cawan petri steril, masing-masing sebanyak 20 ml. Pengerjaan dilakukan aseptis (dekat dengan api) untuk menghindari kontaminan. Setelah itu nutrien agar ditunggu hingga memadat selama kurang lebih 15 menit. Setelah nutrien agar membeku, satu cawan petri digunakan sebagai kontrol negatif, dua cawan petri untuk pengujian cemaran mikroba di ruang kelas A dan dalam LAF, dan satu cawan petri lainnya digunakan untuk pengujian cemaran mikroba dengan metode Swabb. Mikroorganisme di dalam ruang LAF dapat diuji dengann Metode Swab (ulas). Metode ini dilakukan karena sampel memiliki permukaan luas dan pada umumnya sulit dipindahkan. Caranya batang apus yang steril

dioleskan pada dinding LAF lalu digoreskan pada permukaan medium agar. Sebelumnya LAF disterilkan secara fisik dengan penyinaran UV, untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Laminar Air Flow. Sinar UV panjang gelombang 210-300 nm dapat membunuh mikroorganisme jika di paparkan karena komponen seluler yang dapat menyerap sinar UV adalah asam nukleat sehingga dapat rusak dan menyebabkan kematian. Berbicara,batuk atau bersin sekitar bahan uji sebaiknya dihindarkan supaya tidak terjadi kontaminasi. Setelah 15 menit, cawan Petri dibungkus dan dimasukkan dalam inkubator selama kurang lebih 244 jam. Inkubator adalah alat untuk menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol. Suhu yang digunakan dalam percobaan ini adalah 37C. Hasil percobaan dilihat setelah diinkubasi selama 24 jam. Berikut merupakan syarat koloni yang ditentukan untuk dihitung adalah sebagai berikut: y y y y Satu koloni dihitung 1 koloni. Dua koloni yang bertumpuk dihitung 1 koloni. Beberapa koloni yang berhubungan dihitung 1 koloni. Dua koloni yang berhimpitan dan masih dapat dibedakan dihitung 2 koloni. y Koloni yang terlalu besar (lebih besar dari setengah luas cawan) tidak dihitung. y Koloni yang besarnya kurang dari setengah luas cawan dihitung 1 koloni.

Dapat dilihat Cawan Petri yang dibiarkan terbuka dalam alat LAF mempunyai terkontaminasi mikroba 107. Sedangkan di bagian luar 102 Ini menunjukkan bahwa terdapat kontaminasi mikroba yang lebih banyak dari persyaratan ruang kelas I yaitu 101 koloni. Hal ini mungkin dikarenakan kurang sterilnya tangan atau kaki ketika memasuki ruang LAF atau dapat

juga karena terlalu banyaknya bicara serta bergerak ketika di ruang LAF serta lampu UV yang baru saja dinyalakan, seharusnya lampu UV dinyalakan jauh sebelum ketika kita akan memulai praktiukum. Meskipun aliran udara dalam alat itu tidak mengandung mikroba dan juga sinar UV dapat membunuh mikroorganisme karena komponen seluler yang menyerap sinar UV adalah asam nukleat sehingga dapat rusak dan menyebabkan kematian tapi dikarenakan terlalu banyaknya kontaminasi dinyalakan maka hal tersebut dapat terjadi. Sedangkan untuk cawan petri yang menggunakan metode usap dapat dilihat banyaknya koloni pada dinding adalah 101 dan untuk lantai 104 koloni . Pada dasarnya udara tidak mengandung mikroorganisme secara alami , tetapi kontaminasi dari lingkungan sekitarnya mengakibatkan udara mengandung berbagai mikroorganisme. Misalnya dari debu, air, proses aerasi, dari penderita saluran infeksi dan lain-lain. Mikroorganisme yang terdapat di udara biasanya melekat pada bahan padat mikro misalnya debu atau terdapat didalam droplet atau tetesan air. Ketika dirata-ratakan koloni yang dihasilkan adalah 103. Hasil ini tentu jauh dibandingkan persyaratan koloni ruang kelas I yaitu 101. Seperti yang telah dipaparkan tadi hal ini dikarenakan terjadinya kontaminasi dari lingkungan luar. Prosedur terakhir, semua peralatan yang digunakan dalam percobaan ini dicuci dengan deterjen. Deterjen yang digunakan tidak boleh bersifat korosif dan mudah dicuci atau dibilas dari permukaan. Keuntungan penggunaan deterjen dalam pencucian adalah melunakkan air, serta lampu UV yang baru

mengemulsifikasi lemak, melarutkan mineral dan kompenen-komponen larut lainnya. IX. KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan terlihat bahwa jasad renik tetap mempunyai daya hidup di dalam ruangan aseptis, tetapi dapat dikendalikan

jumlahnya agar tidak melebihi batas yang seharusnya, dengan cara sterilisasi dengan catatan harus dikerjakan dengan teliti, tidak banyak bicara, dan pastikan ketika kita memasuki ruang LAF keadaan kita telah steril. Terdapat beberapa ruang di laboratorium steril yaitu Ruang penyimpanan zat, Ruang timbang, Ruang sterilisasi, Ruang Produksi dan Ruang kelas I(LAF).

DAFTAR PUSTAKA

Fardiaz, Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PAU Pangan dan Gizi: Institut Pertanian Bogor. Hadioetomo,R.S.1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: Gramedia. Suriawiria,U.2005. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Papas Sinar Sinanti. Lim,D.1998. Microbiology,2nd Edition. New York: McGrow-hill book.