Anda di halaman 1dari 11

EXSECUTIVE SUMMARY I.

PENDAHULUAN Kabupaten Lamongan memiliki sumberdaya perikanan yang cukup besar, khususnya perikanan budidaya tambak dan perikanan tangkap (laut). Wilayah ini sangat strategis termasuk sentra produksi perikanan di Jawa Timur. Produksi hasil perikanan di Kabupaten Lamongan sebagian besar mempakan hasil budidaya tambak dengan komoditi udang dan bandeng, juga perikanan tangkap dengan komoditi terbanyak adalah ikan layang, kuningan, tembang, tongkol, dan tengiri,. Penentuan kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah pesisir dan laut untuk berbagai kegiatan seperti tambak, budidaya laut, industri, dan lain-lain selain didasarkan pada kepentingan Pemerintah, juga mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan masyarakat sebagai pengguna sumberdaya. Oleh karena itu potensi sumberdaya perikanan ini perlu dilakukan pengelolaan secara terpadu dan berkelanjutan dengan sebuah kegiatan pemetaan wilayah pesisir dan laut sebagai langkah awalnya. II. TUJUAN PENELITIAN Tujuan umum penelitian ini adalah pemetaan wilayah pesisir dan laut untuk pengembangan dan pengelolaan sumberdaya perikanan berdasarkan kapasitas dan daya dukung sumberdaya alam. Sebagai landasan pengaturan manajemen pengelolaan sumberdaya perikanan. Tujuan khusus hasil penelitian ini dapat memberikan: a) Tersedianya data dan informasi menyangkut penggunaan lahan di wilayah pesisir dan laut yang ada pada saat ini, meliputi komoditas, teknologi, potensi pengembangan yang tersedia, serta keberadaan sarana dan prasarana pendukung. b) Memantapkan sistem data base untuk pengelolaan kawasan pesisir dan laut bagi keperluan pemerintah daerah dan pusat serta investor swasta. c) Memantapkan batas kawasan pesisir dan laut berdasarkan ekosistem untuk berbagai tipe seperti ekosistem tambak, ekosistem mangrove, ekosistem terumbu karang dan ekosistem padang lamun. d) Gambaran tingkat teknologi yang tepat guna dan sesuai bagi pilihan jenis spesies/komoditi serta komoditi wilayah. e) Menyusun konsep penataan ruang kawasan pesisir untuk pengembangan pertambakan dan penangkapan ikan.

f) Menyusun

konsep

pengembangan

kawasan

sentra

produksi

perikanan

yang

diunggulkan dalam upaya pemerataan pembangunan perikanan dalam arti luas sebagai kegiatan usaha untuk peningkatan nilai tambah produk primer yang dihasilkan III. KONDISI DAN POTENSI WILAYAH PESISIR (PERIKANAN TAMBAK) 3.1. Kondisi Eksternal Tambak (a). Kualitas Air Sungai Berdasarkan kondisi kesuburan perairan sungai dibagi menjadi beberapa kategori: Subur; Sedang; Kurang; dan Tidak subur. Kondisi perairan sungai di wilayah pesisir Kabupaten Lamongan berada pada kelas sedang dan kurang subur. Secara umum rendahnya kesuburan dipicu oleh rendahnya nitrat (NOs) dan Pospat (P04) dibawah Nilai Standard kisaran nilai oligotrofik, dimana pembagian nilai kesuburan tersebut adalah sebagai berikut: a) b) c) Oligotrofik < 1,0 ppm Mesotrofik 1,0-1,5 ppm Eutrofik > 2 ppm

Berdasarkan status pencemaran perairan sungai di wilayah pesisir Kabupaten Lamongan, dibagi dalam 4 kategori : Ringan; Sedang; Berat; dan Sangat Berat. Kondisi pencemaran perairan tergolong berat dan satu lokasi sangat berat (Sungai Suwuk). Beratnya pencemaran perairan ini ditentukan oleh tingginya bahan pencemar yang berada diatas Nilai Standard Baku Mutu. Beberapa nilai standart yang masih dapat ditoleransi oleh organisme budidaya adalah sebagai berikut: N02c 0,1; H2S c 0,25; Fenol < 0,2; Pb < 0,02; Cd < 0,01; Cu < 0,02. (b) Vegetasi Mangrove Vegetasi mangrove merupakan salah satu unsur kawasan lindung mempunyai peranan yang cukup penting pada kawasan pertambakan. Karena hutan mangrove disamping berfungsi sebagai daerah penyangga (filter terhadap mikroorganisme penyebab penyakit pada udang atau ikan yang dibawa oleh melalui air, perangkap sedimen dan penyerap bahan pencemar), juga merupakan daerah asuhan {nursery ground) bagi anak ikan dan udang. Ditinjau dari jenis tanahnya, dominasi tanah mangrove di pesisir Kabupaten Lamongan adalah pasir berkarang dan karang berpasir. Tanah dominasi karang berpasir yang ditumbuhi mangrove ini merupakan keistimewaan tetapi sekaligus juga merupakan kekurangan, karena pada tanah semacam ini sangat sulit dilakukan reboisasi. Oleh karena

itu kondisi mangrove disebagian besar wilayah pesisir Kabupaten Lamongan hams dijaga atau dilindungi dari penebangan liar, karena sulit ditanam kembali. 3.2. Kondisi Internal Tambak Jenis tambak di lokasi studi Kabupaten Lamongan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu tambak asin, dan tambak payau. Tambak asin seluruh aimya berasal dari laut, tambak payau aimya berasal sebagian dari sungai dan sebagian dari laut. Kondisi fisik internal tambak yang dihhat meliputi: (a). Kondisi Fisik dan Kimia tanah tambak Adapun gambaran nilai fisik dan kimia tanah tambak di wilayah pesisir Kabupaten Lamongan adalah sebagai berikut: Tekstur tanah Kondisi fisik tanah dilokasi penelitian secara umum mengandung banyak liat. Semakin tinggi persentase liat, maka porositas tanah semakin kecil dan konduktifitas hidrauliknya semakin kecil pula. Ini berarti bahwa tanah berliat di lingkungan daerah penelitian dapat menahan hara dan air serta kemantapan agregatnya tinggi. Kimia Tanah Keberadaan bahan organik dalam tanah merupakan faktor yang sangat menentukan di dalam pengelolaan mintakat tropika, karena bahan organik dapat mempengaruhi upaya perbaikan sifat fisik dan kimia tanah. Dari segi fisik tanah, adanya bahan organik ini dapat memperbaiki tata partikel tanah sehingga dayajerap (mengikat) terhadap hara, air dan udara menjadi lebih baik. Bila ditinjau dari segi kimia tanah, bahan organik merupakan pemasok unsur karbon yang merupakan unsur pokok dalam proses pelapukan, sehingga hara dalam tanah lebih tersedia. Analisis kimia tanah secara lengkap dilakukan terhadap beberapa variable yang sangat menentukan tingkat kesuburan tanah, sehingga mampu menghasilkan sebuah kesimpulan klasifikasi kesuburan wilayah studi. Adapun variabel analisis kimia tanah lengkap trsebut adalah sebagai berikut: Kapasitas tukar kation (KTK), Nitrogen (Ntotal), P tersedia (PBray, P-Olsen), K-dapat ditukar (Kdd), Na dapat ditukar (Na dd), Ca dapat ditukar (Ca dd), Mg dapat ditukar (Mg dd), Bahan Organik C-Organik), pH (H20 dan KC1), Tekstur (Hidrometer). Berdasarkan kondisi kesuburan tambak di wilayah pesisir Kabupaten Lamongan dapat digolongkan mejadi: Subur; Sedang dan Tidak Subur. Adapunwilayah-wilayah tersebut di wakili oleh:

Subur : Tunggul Sedang : Paciran; Labuhan; Tlogo Sadang; Kandang Semangkon Tidak Subur : Lohgung; Sedayu Lawas; Tambak Garam Lohgung Diskripsi hasil analisis dapat diterangkan bahwa: Kejenuhan Basa (KB) adalah kemampuan tanah mengikat unsur-unsur kesuburan dalam kondisi basa, sehingga tanah ini tidak mudah tercuci. Sehingga semakin tinggi Kejenuhan Basa (KB) maka tanah tersebut tergolong semakin subur. C/N rasio : banyaknya kandungan bahan di tanah yang siap diurai untuk meningkatkan kesuburan tanah. Tetapi pada kasus tanali tambak Loh Gung C organik tinggi, sementara KB lebih rendah, dan pH cenderung lebih asam, maka tanali semacam ini: Akumilasi Bahan Organik tinggi, tetapi ada kecurigaan keracunan terhadap Fe dan Mn (dalam kondisi Anaerob). Pada kondisi seperti ini bahan organik tanah tidak diolah, karena mungkin hanya sedikit mikroorganisme yang mampu beradaptasi, sehingga hanya sedikit pula mikroorganisme yang membantu mengurai bahan organik tersebut. Berdasarkan pengamatan di lapang tanah Lohgung mempunyai wama hitam dan berbau busuk, karena dalam sistem budidaya yang dilakukan tidak pemah dikeringkan. Tanah ini nilai potensial redoksnya minus 100 sampai minus 300. Rendalinya nilai Na, K, Ca, Mg pada kasus tanah di Sedayu Lawas menunjukkan bahwa kandungan garam tidak bisa diikat oleh tanali dalam kondisi basa, sehingga kandiingan Na, K, Ca, Mg rendah. Tanah jenis ini dikenal sebagai tanah Litik, yang kondisi lapisan tanahnya dangkal dan kemampuan untuk menyimpan basa rendali. Tanah semacam ini rawan/tidak subur dan sulit direklamasi.

(b) Kondisi Fisik dan Kimia Air Tambak Keberadaan nilai suhu, relatif hampir sama, sedangkan kecerahan perairanmenentukan tingkat kesuburan. Pada wilayah perairan tambak, kecerahan yang mendukung kesuburan berada pada nilai 20 - 40 cm. Dilihat dari nilai DO, relative mempunyai nilai kesuburan yang tinggi. Jarak tambak terhadap pantai mempunyai pengaruh terhadap salinitas perairan. Tetapi, pada 8 titik pengamatan di lapang jauhnya jarak tidak menentukan rendahnya salinitas. Temyata rendahnya salinitas ditentukan adanya sumber-sumber air tawar, dan salinitas tertinggi di tujuh lokasi adalah di lahan tambak garam lohgung. Secara keseluruhan kondisi perairan tambak berada pada kategori sedang, kecuah perairan tambak Labuhan berada pada kategori kurang subur. Rendahnya kesuburan dipicu

oleh rendahnya nitrat (NOs) dan pospat (P04) di perairan dibawah Nilai Standard kisaran oligotrofik. Berdasarkan pencemaran perairan tambak, dibagi dalam kategori: Ringan; Sedang; Berat; Sangat Berat.Kondisi pencemaran perairan tambak tergolong berat dan satu lokasi sangat berat (Paciran). Kondisi dan potensi kesuburan tambak ditentukan oleh tiga variabel utama yaitu : Kesuburan tanah, Kesuburan perairan, Pencemaran perairan. Oleh karena itu dari hasil analisis laboratorium ketiga variabel diatas dikuantifikasi skoring dengan pembebanan nilai yang logis, maka dapat disimpulkan nilai kelas tambak menjadi 4 kategori kelas yaitu: kelas 1; 2; 3; 4. Kelas 1 terbaik dan kelas 4 terjelek. Secara keseluruhan ada sembilan kelompok wilayah yang mewakili lokasi tambak air payau, yang semuanya berada pada kelas 3 kecuah wilayah Telogosadang yang termasuk kelas 2. III. KONDISI DAN POTENSI PERIKANAN LAUT Usaha penangkapan ikan laut di Kabupaten Lamongan terpusat di perairan Laut Jawa pada wilayah Kecamatan Brondong dan Kecamatan Paciran yang memiliki 5 (lima) Tempat Pendaratan Ikan (TPI), yaitu mulai dari arah timur ke barat (Weru, Kranji, Brondong, Labuhan dan Lohgung). Dilihat dari produksinya paling tinggi adalah P elabuhan Perikanan Nusantara Brondong yang mencapai kurang lebih 100 ton/hari, dibandingkan dengan keempat pangkalan pendaratan ikan yang lain yaitu Weru, Kranji, Labuhan dan Lohgung yang hanya mencapai 10 ton/hari. 3.1. Jenis Alat Tangkap dan tipe Perahu Berdasarkan hasil survei diketahui jenis alat tangkap yang dioperasikan di Kabupaten Lamongan yaitu purse seine, payang, gillnet, tramel net, pancing prawe dan lainnya. Alat tangkap yang dominan adalah alat tangkap payang karena pengoperasiannya sesual dengan kondisi di perairan laut utara Jawa, namun jika dilihat dari nilai produktivitas yang tertinggi adalah alat tangkap purse seine. Namun alat tangkap yang mengalami peningkatan cukup tajam yaitu alat tangkap payang. Tipe ukuran kapal di wilayah Kecamatan Brondang dan Paciran rata-rata memiliki kesamaan dan alat tangkap yang digunakan juga mempunyai kesamaan. Tipe kapal yang ada rata-rata adalah tipe perahu ijo-ijo dengan bentuk dasar U. Selain perahu ijo-ijo, tipe yang lain adalah tipe purse seine. Disamping perahu ada juga sebagian kecil yang sudah menggunakan kapal motor dengan tipe skoci. Jumlah fishing base yang terdapat di Kabupaten Lamongan ada 16 buah lokasi, di Kecamatan Paciran ada 12 (dua belas) yaitu : di Desa Weru Lor, Sidokumpul, Weru, Paloh,

Sidokelar, Kemantren, Banjarwati, Kranji, Tunggul, Paciran, Kandang Semangkon, dan Blimbing. Sedangkan di Kecamatan Brondong ada 4 (empat) yaitu : Brondong, Sedayu Lawas, Labuhan, dan Lohgung. Dari fishing base tersebut terdapat 5 (lima) fishing base yang juga merupakan pangkalan pendaratan ikan atau tempat pelelangan ikan, yaitu : Lohgung, Labuhan, Brondong, Kranji dan Weru. 3.2. Fishing Ground (Daerah Penangkapan) Pada dasamya sumberdaya perikanan kususnnya perikanan tangkap bersifat common property dan open acces, sehingga nelayan dapat menangkap di daerah manapun. Namun setelah adanya otonomi daerah, maka daerah penangkapan semakin sempit. Nelayan antar daerah saling tidak memperbolehkan melakukan operasi penangkapan di wilayah 4 mil pada masing-masing daerahnya. Adanya pelanggaran-pelanggaran yang terjadi diantara kedua kelompok nelayan tersebut seringkali memicu terjadinya konflik sosial. Padahal model pengkaflingan laut seperti hal diatas, bukan sebuali pilihan ideal sebagai altematif penterjemahan dan aturan yang ada pada Undang-Undang Otonomi Daerah Secara umum nelayan berpendapat bahwa mereka berhak menangkap kemana saja dan memberikan kebebasan pada nelayan lainnya yang menangkap di daerahnya selama mereka mentaati peraturan yang ada termasuk di dalamnya alat yang digunakan haruslah sama karena bagi nelayan, laut adalah milik bersama. Pada kenyataannya daerah operasi penangkapan nelayan Kabupaten Lemongan hanya berkisar pada wilayah kurang dari 4 mil, kecuali beberapa alat tangkap seperti purse seine, payang dan pancing prawe. 3.3. Terumbu karang dan Padang Lamun Vegetasi Mangrove Vegetasi mangrove yang merupakan salah satu unsur kawasan lindung mempunyai peranan yang cukup penting pada kawasan pertambakan. Karena hutan mangrove disamping berfungsi sebagai daerah penyangga (filter terhadap mikroorganisme penyebab penyakit pada udang atau ikan yang dibawa oleh melalui air, perangkap sedimen dan penyerap bahan pencemar), juga merupakan daerah asuhan {nursery ground) bagi anak ikan dan udang. Hutan mangrove banyak tumbuh di pantai, terutama pada tebing kiri kanan sungai dan sepanjang pantai. Hasil pengamatan terhadap hutan mangrove di daerah Kabupaten Lamongan menunjukkan adanya perubahan yang sangat memprihatinkan karena adanya penebangan hutan mangrove untuk pembukaan lahan tambak baru di kawasan hutan mangrove, di lokasi

Desa Labuhan. Upaya reboisasi juga belum diikuti oleh masyarakat secara mandiri untLik menjaga kelestarian mangrove. Total luas sebaran mangrove di Kabupaten Lamongan adalah 22,2 ha. Adapun Jenis vegetasi mangrove yang dominan tumbuh di wilayah pesisir Kabupaten Lamongan adalah: Avicenia sp; Rhizophora sp; dan Bruguiera sp. Terumbu karang Ekosistem terumbu karang mempunyai manfaat yang bermacam-macam, disamping menunjang produksi perikanan, Secara alami keberadaan terumbu karang dapat melindungi pantai dari baliaya abrasi. Demikian pula break water alami ini juga berfungsi untuk melindungi back reef dari gelombang besar. Produktifitas perikanan di ekosistem terumbu karang atau di perairan terumbu karang sangat tinggi, sehingga memungkinkan perairan ini merupakan tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground), mencari makan (feeding ground) dari kebanyakan ikan. Pengamatan yang dilakukan di perairan utara Kabupaten Lamongan terdapat terumbu karang di 3 (tiga) lokasi yaitu : Desa Tunggul, Desa Kemantren, dan Kandang Semangkon, dengan luas total kurang lebih 11,5 km2. Penanaman terumbu karang buatan pada tiga lokasi tersebut tidak menunjukkan pertumbuhan, dalam tiga tahun terakhir yang tumbuh hanya tritip dan lumut. Oleh karenanya terumbu karang yang ada hams benar-benar dilindungi keberadaanya. Padang Lamun Lamun (seagras) adalah tumbuhan berbunga yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup di bawah permukaan air laut. Lamun hidup di perairan dangkal agak berpasir, soring juga dijumpai di ekosistem terumbu karang. Sama halnya dengan rerumputan di daratan, lamun juga membentuk padang yang luas dan lebat di dasar laut yang masih terjangkau oleh cahaya matahari dengan tingkat energi cahaya yang memadai bagi pertumbuhannya. Padang lamun soring terdapat di porairan laut antara hutan mangrove dan terumbu karang. Hasil pengamatan lapang menunjukkan keadaan lamun masih cukup baik dan berada di depan sekitar terumbu karang pada tiga lokasi yang tersebut. 3.4. Musim Penangkapan dan Jenis Hasil Tangkapan Keimunculan ikan diperairan diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun, tetapi saat yang pasti mengenai kemunculan tersebut masih belum diketahui dengan tepat.Apabila dikaitkan

hubungan antara musim penangkapan dengan daerah Fishing Ground, maka hal ini belum dapat diketahui dengan pasti. Namun adanya suatu kemungkinan yaitu ada pola migrasi ikan di Laut Jawa sepanjang tahun. Hal ini dikarenakan karakteristik hidroklimatologi Laut Jawa sangat dipengaruhi oleh adanya dua angin musim, yaitu angin musim barat dan angin musim timur, dimana kedua angin musim tersebut menyebabkan timbulnya perubalian yang sangat nyata pada pola arah dan kecepatan arus, salinitas serta produktivitas primer dari perairan Laut Jawa. Produksi hasil tangkapan perikanan di wilayah Kabupaten Lamongan, Laut utara Jawa Timur sebagai berikut : 1. Produksi ikan permukaan didominasi oleh jenis ikan layang, yaitu mencapai 24,48 %, produksi ikan dasar di dominasi oleh ikan Kuningan sebesar 20,55 %, produksi ikan karang di dominasi oleh ikan bambangan sebesar 3,52%, produksi cumi-cumi sangat rendah yaitu: sebesar 0,74%, begitu pula untuk produksi udang yang mencapai 0,28%. 2. Komposisi produksi ikan-ikan permukaan (pelagis) mencapai 51,14% yang tidak jauh beda dengan produksi ikan dasar (demersal), sehingga aktifitas dan lapangan kerja usaha perikanan pelagis dan demersal di perairan Laut Jawa keduanya memegang peranan penting terhadap perolehan produksi ikan, lapangan kerja dan pendapatan nelayan. 3. Berdasarkan tingkat harga yang diperoleh dari perbandingan komposisi nilai ikan dengan berat ikan maka diperoleh urutan dari jenis ikan termahal sampai termurah, yaitu udang = 7,04; ikan karang konsumsi = 3,84; cumi-cumi = 2,35; ikan pelagis = 1,16; ikan demersal == 0,48. Namun tidak menutup kemungkinan dari tingkat harga yang terendah salah satu jenis Ikan mempimyai harga yang tinggi. 4. Dengan tersedianya bahan baku industri, dari jenis ikan yang cukup, sekalipun relatif bervariasi, maka perikanan laut di wilayah Kabupaten Lamongan, Laut Utara Jawa Timur menunjukkan tipe perikanan multi spesies yang sebenamya. Kegiatan usaha pengolahan ikan skala industri belum berkembang, namun lapangan kerja pengolahan ikan skala kecil cukup berkembang. 3.5. Status Pemanfaatan Perikanan Laut Berdasarkan data produksi dan trip alat tangkap dari data Laporan Tahunan Dinas Perikanan, Kelautan dan Petemakan Kabupaten Lamongan yang dianalisa menggunakan pendekatan model Schaefer dan Fox, hasil perhitungannya dapat dilihat sebagai berikut:

1. Analisa model Schaefer Jumlah effort optimum yang mempertahankan stok ikan pada kondisi keseimbangan (MSY : Maximum Sustainable Yield) adalah 17.452 trip/tahun atau setara dengan 727 unit/tahun standarisasi alat tangkap purse seine. Jumlah hasil tangkap maksimum yang mempertahankan stok biomas pada kondisi keseimbangan adalah 38.590 ton/tahun dengan hasil tangkap per unit usaha (CPUE : Catch per Unit E f f o r t } adalah 2,211 ton/unit/tahun. Berdasarkan pendekatan model Schaefer, maka dapat dikatakan bahwa stok biomass perairan utara Kabupaten Lamongan mengalami over fishing pada taliun 2002. 2. Analisa model Fox Jumlah effort optimum yang mempertahankan stok ikan pada kondisi keseimbangan (MSY) adalah 21.048 trip/tahun atau 887 unit/ tahun standarisasi alat tangkap purse seine. Jumlah hasil tangkap maksimum yang mempertahankan stok biomass pada kondisi keseimbangan adalah 39.152 ton/tahun dengan hasil tangkap per unit usaha (CPUE) adalah 1,860 ton/unit/tahun. Berdasarkan pendekatan model Fox, maka dapat dikatakan baliwa stok total biomas perairan utara Kabupaten Lamongan berada di titik kritis pada kondisi keseimbangan. Berdasarkan kedua analisa tersebut di atas, maka diketahui bahwa pendekatan Schaefer dan Fox memberikan hasil yang hampir sama, sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan kondisi perairan yang over fishing maka apabila ada penambahan alat tangkap (effort) lebih lanjut dalam jangka panjang akan mengakibatkan tidak hanya over fishing, tetapi bahkan menyebabkan hilangnya potensi sumberdaya ikan. Sehingga paling tidak jumlali alat tangkap atau effort harus dipertahankan seperti sekarang atau bahkan diturunkan untuk sementara waktu agar stok biomass mampu melakukan pemulihan (recovery). 3.6. Sosial Ekonomi masyarakat Nelayan Jumlah rumah tangga perikanan tangkap mencapai 22.930 yang tesebar di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Brondong dan Kecamatan Paciran. Tingkat pendidikan nelayan pada masingmasing daerah umumnya tergolong cukup yaitu: SD sampai SMU. Kemudian dilihat pengalaman pekerjaan sebagai nelayan mulai dari 10 sampai kurang lebih 40 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan pekerjaan sebagai nelayan dalam usaha perikanan tangkap temyata sangat tinggi. Perkembangan jumlah nelayan dari tahun 1996 - 2002

menunjukkan jumlah semakin meningkat. Hal ini juga menunjukkan bahwa pekerjaan sebagai nelayan menjadi prioritas utama, khususnya di Kecamatan Brondong dan Paciran.. IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan dan rekomendasi dari hasil penelitian mi disajikan dalam bentuk matrik kegiatan usulan tindak lanjut sebagai berikut : PROGRAM KEGIATAN
1. Berkaitan dengan pengelolaan Lingkungan: Mengaktifkan dan mengefektifkan Unit Pengolahan Limbah (UPL), serta berkoordinasi integrasi dengan daerah Kabupaten / Kota tetangga (se-wilayah harapan pantura) Penyuluhan dan pelatihan fungsi ekosistem mangrove dan terumbu karang. BAPPEKAB Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi Dinas Perikanan, Kelautan dan Petemakan BAPPEKAB Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi Dinas Perikanan, Kelautan dan Petemakan BAPPEKAB Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi Dinas Perikanan, Kelautan dan Petemakan BAPPEKAB Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi Dinas Perikanan, Kelautan dan Petemakan BAPPEKAB Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan.

PENANGGUNG JAWAB PROGRAM

Pemeliharaan ekosistem mangrove-mangrove spesifik Reboisasi pohon mangrove di 4 lokasi yang telah direhabilitasi yaitu : Labuhan, Lohgung, Sidokelar dan Tlogosandang. Transplantasi terumbu karang pada terumbu

karang buatan di 3 lokasi yaitu : Tunggul, Kemantren dan Kadang Semangkon.

2.

Pengelolaan Sistem Budidaya : Pengembangan usaha budidaya di tambak harus memperharikan klasifika^i tambak yang ada dalam sistem informasi geografis (SIG) Pemenuhan sarana produksi tambak untuk peningkatan mutu intensifikasi tambak Reboisasi pohon mangrove di lahan tambak sebagai barrier pencemaran Penyuluhan tanam dan diversifikasi dan pembinaan pola siklus tanam dengan non udang (karena kondisi pencemaran berat) Pengembangan budidaya laut Karamba Jaring Apung perlu dilakukan kajian Iebih mendalam BAPPEKAB Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan BAPPEKAB Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan BAPPEKAB Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan BAPPEKAB Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan

BAPPEKAB Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan

3.

Pengembangan Perikanan Tangkap : Pengendalian usaha penangkapan di wilayah peraian pantai kurang dari 4 mil untuk mengurangi tekanan terhadap sumberdaya pantai. Pengembangan usaha penangkapan diarah kan pada wilayah perairan diatas4 mil Perlu dukungan kelembagaan ekonomi daiam usaha penangkapan tersebut. BAPPEKAB Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan

BAPPEKAB Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan BAPPEKAB Dinas Koperasi dan Pembinaan Usaha Kecil

Pembahasan secara rinci pemetaan wilayah pesisir dan laut untuk pengembangan perikanan di Kabupaten Lamongan dapat menghubungi BAPPEDA Kabupaten Lamongan.