Anda di halaman 1dari 13

dAFTAR ISI

Kata pengantar2 Pendahuluan4 Isi.5


a. Types of fraud.5 b. Condition for fraud..6 c. Assesing the risk of fraud9 d. Corporate governance oversight to reduce fraud risk10 e. Responding to the risk areas..12 f. Specifics fraud risk areas13 g. Responsibilities when fraud is suspected...14

Penutup. Contoh kasus...15

BAB I PENDAHULUAN

Profesi akuntansi menghadapi gempuran. Koran-koran dipenuhi dengan periincian baru tentang skakndal akuntansi korporasi. Banyak perusahaan sering tertangkap basah menggelembungkan laba serta aktiva dengan memanipulasi aturan-aturan akuntansi secara terang-terangan. Sebagai buntut dari banyaknya skandal penyelewengan itu profesi auditing menanggapi dengan menetapkan standar-standar formal yang pertama untuk prosedur audit. Standar-standar tersebut mengharuskan dilakukannya konfirmasi piutang dan observasi atas persediaan fisik, yang sekarang merupakan prosedur standar, ditambah pedoman mengenai tanggung jawab auditor untuk mendeteksi kecurangan, Sebagai respons atas kecurangan yang lebih terkini, kongres menyetujui UU Sarbanes-Oxley pada tahun 2002 dan AICPA mengembangkan standar auditing yang khusus berhubungan dengan penilaian resiko kecurangan dan pendeteksinya. Disini akan dibahas tentang tanggung jawab auditor untuk menilai resiko kecurangan dan mendeteksi salah saji yang material akibat kecurangan, serrta menjelaskan area-area utama resiko kecurangan, serta pengendalian untuk mencegah kecurangan dan prosedur audit untuk mendeteksi kecurangan.

BAB II ISI

FRAUD AUDITING
A. Types of fraud Kecurangan menggambarkan setiap upaya penipuan yang disengaja, yang dimaksudkan untuk mengambil harta atau hak orang atau pihak lain. Kecurangan didefenisikan sebagai salah saji laporan keuangan yang disengaja. Pelaporan keuangan yang curang adalah salah saji atau pengabaian jumlah atau pengungkapan yang disengaja dengan maksud menipu para pemakai laporan keuangan tersebut. Sebagian besar kasus melibatkan salah saji jumlah yang disengaja, bukan pengungkapan. Perusahaan mungkin saja bisa sengaja merendahkan sajikan laba ketika laba itu tinggi untuk membentuk cadangan laba atau cookie jar reserve yang dapat digunakan untuk memperbesar laba dalam periode mendatang. Praktik semacam ini disebut income smoothing (perataan laba) dan earnings management (pengaturan laba). Pengaturan laba (earnings management) menyangkut tindakan manajemen yang disengaja untuk memenuhi tujuan laba. Perataan laba (income smoothing) merupakan salah satu bentuk pengaturan laba dimana pendapatan dan beban ditukar-tukar di antara periode-periode untuk mengurangi fluktuasi laba. Salah satu teknik meratakan laba adalah dengan mengurangi nilai persediaan dan aktiva lain perusahaan yang diperoleh pada saat akuisisi, yang menghasilkan laba yang lebih tinggi ketika aktiva tersebut nanti dijual. Perusahaan juga mungkin sengaja melebihsajikan cadangan keusangan persediaan dan penyisihan piutang tak tertagih untuk mengimbangi laba yang tinggi. Penyalahgunaan (misappropriation) aktiva adalah kecurangan yang melibatkan pencurian aktiva entitas. Istilah ini biasanya digunakan untuk mengacu pada pencurian

yang melibatkan pegawai dan orang lain dalam organisasi. Menurut perkiraan Association of certified fraud examiners, perusahaan rata-rata kehilangan enam persen pendapatannya akibat kecurangan, meskipun banyak dari kecurangan ini melibatkan pihak-pihak luar, seperti pengutilan oleh pelanggan dan penipuan oleh pemasok. Biasanya dilakukan oleh tingkat hierarki organisasi yang lebih rendah.1

B. Condition for fraud Tiga kondisi kecurangan yang berasal dari pelaporan keuangan yang curang dan penyalahgunaan aktiva yang diuraikan dalam SAS 99 (AU 316) serti gambar dibawah ini :

Gambar Segitiga kecurangan Insentif/tekanan

kesempatan

Sikap/rasionalisasi

1. Insentif/tekanan, manajemen atau pegawai lain merasakan insentif atau tekanan untuk

melakukan kecurangan.
2. Kesempatan, situasi yang membuka kesempatan bagi manajemen atau pegawai untuk

melakukan kecurangan.
3. Sikap/rasionalisasi, ada sikap, karakter, atau serangkaian nilai-nilai etis yang

membolehkan manajemen atau pegawai untuk melakukan tindakan yang tidak jujur , atau mereka berada dalam lingkungan yang cukup menekan yang membuat mereka merasionalisasi tindakan yang tidak jujur.
1

Arens, Alvin, Beasley, Elder, Amir Abadi Jusuf, Auditing and Assurance Services an Intregated Approach-An Indonesian Adaption, (Prentice Hall, 2009) : 430-432

Faktor resiko untuk pelaporan keuangan yang curang

Salah satu pertimbangan penting yang dilakukan auditor dalam mengungkap kecurangan adalah mengidentifikasi factor-faktor yang meningkatkan resiko kecurangan. Insentif/tekanan insentif yang umum bagi perusahaan untuk memanipulasi laporan keuangan adalah menurunnya prospek keuangan perusahaan. Contohnya, penurunan laba mungkin mengancam kemampuan perusahaan untuk memperoleh dana pembiayaan Kesempatan resiko bagi perusahaan yang berkecimpung dalam industry yang melibatkan pertimbangan dan estimasi yang signifikan jauh lebih besar. Contohnya, penilaian persediaan mengandung resiko salah saji yang lebih besar bagi perusahaan yang persediaannya tersebar di banyak lokasi. Sikap/rasionalisasi jika CEO atau managerpuncak lainnya sangat tidak peduli ada proses pelaporan keuangan, seperti terus mengeluarkan prakiraan yang terlalu optimistic, atau terlalu cemas mengenai pencapaian prakiraan laba yang dibuat analisis, pelaporan keuangan yang curang lebih mungkin terjadi. Factor resiko untuk penyalahgunaan aktiva

Insentif/tekanan tekanan keuangan adalah dorongan atau insentif yang umum bagi pegawai yang menyalahgunakan aktiva. Pegawai yang memiliki kewajiban keuangan yang besar, atau yang menghadapi masalah penyalahgunaan obat-obatan atau judi, mungkin mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kesempatan kesempatan untuk mencuri ada disemua perusahaan. Akan tetapi kesempatan itu jauh lebih besar di perusahaan yang memiliki kas yang bisa diakses, atau persediaan atau aktiva yang bernilai lainnya, terutama jika akiva itu kecil atau mudah dibawa. Sikap/rasionalisasi sikap manajemen terhadap pengendalian dan perilaku etis dapat membuat pegawai serta manajer merasionalisasi pencurian aktiva. Jika manajemen menipu pelanggan dengna membebankan harga yang terlalu tinggi untuk barang atau terlibat dalam taktik penjualan yang sangat agresif.

FRAUD TREE

C. Assesing the risk of fraud SAS 99 memberikan pedoman bagi auditor dalam menilai resiko kecurangan. Auditor harus mempertahankan tingkat skeptisisme professional ketika mempertimbangkan serangkaian informasi yang luas, termasuk factor-faktor resiko kecurangan, untuk mengidentifikasi dan menanggapi resiko kecurangan. SAS 1 menyatakan bahwa, dalam melaksanakan skeptisisme professional (professional skepticisme), auditor tidak mengansumsikan bahwa manajemen tidak jujur tetapi juga tidak mengansumsikan kejujuran absolute Pikiran yang selalu mempertanyakan SAS 99 menekankan agar mempertimbangkan kerentanan klien terhadap kecurangan, tanpa mempedulikan bagaimana keyakinan auditor tentang kemungkinan kecurangan serta kejujuran dan integritas manajemen. Evaluasi kritis atas bukti audit harus menyelidiki permasalahannya secara mendalam, memperoleh bukti tambahan sebagaimana yang diperlukan, dan berkonsultasi dengan anggota tim lainnya. Lima sumber informasi untuk menilai resiko kecurangan Komunikasi di antara tim audit SAS 99 mewajibkan tim audit mengadakan diskusi untuk berbagi wawasan atau curah pendapat yang menyangkut hal-hal berikut ini: 1. Bagaimana dan dimana menurut keyakinan mereka laporan keuangan entitas mungkin rentan terhadap salah saji yang material akibat kecurangan. Ini harus mecakup pertimbangan tentang factor-faktor eksternal dan internal yang sudah mempengaruhi entitas dan mungkin menimbulkan insentif atau tekanan bagi manajemen untuk melakukan kecurangan, membuka kesempatan dilakukannya kecurangan, dan mengidikasikan budaya atau lingkungan yang memungkinkan manajemen merasionalisasi tindakan kecurangan. 2. Bagaimana manajemen dapat melakukan dan menutupi pelaporan keuangan yang curang. 3. Bagaimana seseorang dapat menyalahgunakan aktiva entitas. 4. Bagaimana auditor menanggapi kerentanan terhadap salah saji yang material akibat kecurangan.
7

Pengajuan pertanyaan keada manajemen SAS 99 menharuskan auditor untuk mengajukan pertanyaan spesifik tentang kecurangan dalam setiap audit yang akan membuka kesempatan bagi pegawai untuk menyampaikan kepada auditor informasi yang dalam kondisi lain mungkin tidak akan disampaikan. Faktor-faktor resiko mengharuskan auditor mengevaluasi apakah faktor-fktor resiko kecurangan mengindikasikan adanya insentif atau tekanan untuk melakukan kecurangan, kesempatan untuk membuat kecurangan, atau sikap atau rasionalisasi yang digunakan untuk membenarkan tindakan yang curang Prosedur analitis melaksanakan prosedur analitis selama tahap perencanaan dan penyelesaian audit untuk membantu mengindentifikasi transaksi atau pristiwa tidak biasa yang mungkin mengindikasikan adanya salah saji yang material dalam laporan keuangan. Informasi lain mempertimbangkan semua informasi yang sudah diperoleh dalam setiap tahap atau bagian audit ketika menilai resiko kecurangan. D. Corporate governance oversight to reduce fraud risk Manajemen bertanggung jawab mengiplementasikan tata kelola korporasi dan prosedur pengendalian untuk meminimalkan resiko kecurangan, yang dapat dikurangi melalui kombinasi antara tindakan mencegah, menghalangi, dan mendeteksi. Untuk membantu manajemen dan dewan direksi dalam upaya memerangi kecurangan, AICPA, bersama dengan beberapa organisasi profesional, menerbitkan managements antifraud program and controls: guidance to help prevent, deter and detect fraud. Pedoman ini mengidentifikasikan tiga unsur untuk mencegah, menghalangi, dan mendeteksi kecurangan: 1. Budaya jujur dan etika yang tinggi Enam unsur penciptaan budaya jujur dan etika yang tinggi: 1. 2. 3. 4. Menetapkan tone at the top Menciptakan lingkungan kerja yang positif Memperkerjakan dan mempromosikan pegawai yang tepat Pelatihan pegawai baru tentang ekspektasi perusahaan
8

5. 6.

Konfirmasi Disiplin

2. Tanggung jawab manajemen untuk mengevaluasi resiko kecurangan

Langkah-langkah untuk mengurangi resiko yang teridentifikasi serta memantau pengendalian internal yang mencegah dan mendeteksi kecurangan.: 1. 2. 3. Mengidentifikasi dan mengukur resiko kecurangan Mengurangi resiko kecurangan Memantau program dan pengedalian pencegahan kecurangan

3. Pengawasan oleh komite audit Komite audit mengemban tanggung jawab utama mengawasi laporan keuangan serta proses pengendalian internal organisasi yang memperhitungkan potensi diabaikannya pengendalian internal oleh manajemen serta serta mengawasi proses penilaian resiko kecurangan oleh manajemen dan program serta pengendalian antikecurangan. Pengawasan oleh komite audit juga berfungsi sebagai penghalang dilakukannya kecurangan oleh manajemen senior yang mencakup: 1. Pelaporan langsung temuan-temuan penting oleh audit internal kepada komite audit 2. Laporan periodic oleh pejabat etika tentang whistle-blowing
3. Laporan lain tentang tidak adanya perilaku etis atau kecurangan yang dicurigai.

E. Responding to the risk areas Respons auditor terhadap resiko kecurangan meliputi hal-hal berikut ini: 1. Mengubah pelaksanaan audit secara keseluruhan

Auditor dapat memilih diantara beberapa respons secara keseluruhan bila resiko kecurangan meningkat. Jika meningkat personil yang lebih berpengalaman dapat ditugaskan dalam audit itu. SAS 99 mengharuskan auditor memasukkan auditor unsure ketidakterdugaan dalam rencana audit. 2. Merancang dan melaksanakan prosedur audit untuk menangani resiko kecurangan Prosedur audit yang tepat yang digunakan untuk menangani resiko kecurangan tertentu tergantung pada akun yang diaudit dan jenis resiko kecurangan yang diidentifikasi. 3. Merancang dan melaksanakan prosedur untuk menangani pengabaian pengendalian oleh manajemen Tiga prosedur yang harus dilaksanakan dalam setiap audit: Memeriksa ayat jurnal dan penyesuaian lainnya untuk mencari bukti salah saji yang mungkin akibat kecurangan Mereview estimasi akuntansi untuk mengetahui adanya bias Mengevaluasi dasar pemikiran bisnis untuk transaksi tidak biasa yang signifikan

4. Memutakhirkan proses penilaian resiko Penilaian resiko salah saji yang material akibat kecurangan harus terus dilakukan auditor sepanjang audit dan dikoordinasikan dengan prosedur penilaian resiko lainnya. Auditor harus mewaspadai kondisi-kondisi berikut ketika melakukan audit: -

Perbedaan dalam catatan akuntansi Bukti audit yang bertentangan atau hilang Hubungan yang serba salah Hasil dari prosedur substantive/prosedur analitis pada tahap review akhir
Jawaban yang tidak jelas atau tidak masuk akal

10

F. Specifics fraud risk areas

Resiko kecurangan dalam pendapatan dan piutang usaha Akun pendapatan dan piutang usaha yang terkait serta kas sangat rentan terhadap

manipulasi dan pencurian. Suatu study yang disponsori oleh Committee of sponsoring organizations (COSO) menemukan bahwa lebih dari separuh kecurangan laporan keuangan melibatkan pendapatan dan piutang usaha. Resiko pelaporan keuangan yang curang atas pendapatan pada akhir tahun 1990 an AICPA dan SEC mengeluarkan pedoman yang berhubungan dengan pengakuan pendapatan. SAS 99 yang dikeluarkan oleh Auditing Standards Boards secara khusus mengharuskan auditor mengidentifikasi pengakuan pendapatan sebagai resiko kecurangan dalam kebanyakan audit. Tiga jenis utama manipulasi pendapatan: 1. Pendapatan fiktif 2. Pengakuan pendapatan premature 3. Manipulasi atas penyesuaian pendapatan Tanda-tanda peringatan kecurangan pendapatan dua diantara yang paling bermanfaat adalah : 1. Prosedur analitis, sering kali mengisyaratkan adanya kecurangan pendapatan, terutama persentase marjin kotor dan perputaran piutang usaha 2. Perbedaan documenter, transaksi fiktif jarang memiliki bukti documenter pada tingkat yang sama seperti dalam transaksi yang sah. Penyalahgunaan penerimaan yang melibatkan pendapatan kecurangan semacam ini bisa berdampak buruk terhadap organisasi karena aktiva langsung hilang. Kelalaian mencatat penjualan apabila penjualan tidak dicatat dank as dari penjualan itu dicuri. Kecurangan ini lebih mudah dideteksi jika barang dikirim secara kredit kepada pelanggan.

11

Pencurian penerimaan kas setelah penjualan dicatat lebih sulit menyembunyikan pencurian ini Tanda-tanda peringatan atas penyalahgunaan pendapatan dan penerimaan kas Resiko kecurangan persediaan Resiko pelaporan keuangan yang curang untuk persediaan Tanda-tanda peringatan kecurangan persediaan

Resiko kecurangan dalam pembelian dan utang usaha


-

Resiko pelaporan keuangan yang curang untuk utang usaha Penyalahgunaan dalam siklus akuisisi dan pembayaran Aktiva tetap Beban penggajian

G. Responsibilities when fraud is suspected Merespons salah saji yang mungkin ditimbulkan oleh kecurangan: 1. Jenis-jenis teknik pengajuan pertanyaan 2. Pengajuan pertanyaan informasional 3. Pengajuan pertanyaan penilaian 4. Pengajuan pertanyaan interogatif 5. Mengevaluasi respons atas Pengajuan pertanyaan 6. Teknik menyimak 7. Mengamati petnjuk perilaku
8. Tanggung jawab lain apabila dicurigai kecurangan

12

Contoh kasus kecurangan auditing


Kasus penyelewengan BLBI Kasus BLBI berawal dari krisis ekonomi yang menerpa Negara-negara di asia tahun 1997. Satu persatu mata uang Negara-negara di asia merosot nilainya. Nilai rupiah pun menjadi ikut merosot. untuk mengatasi pelemahan rupiah, bank Indonesia kemudian memperluas rentang intervensi kurs jual dan kurs beli rupiah, dari Rp. 192 (8%) menjadi Rp. 304 (12%). Guna mengurangi tekanan terhadap rupiah, bank Indonesia mulai melakukan pengetatan likuiditas dengan menaikkan suku bunga SBI dari 6% menjadi 14% . akibat kondisi ini bank-bank umum kemudian meminta bantuan BI sebagai lender of the last resort . ini merujuk pada kewajiban BI untuk memberikan bantuan kepada bank dalam situasi darurat. Dana talangan yang dikucurkan oleh BI ini yang dikenal dengan BLBI. Penyimpangan BLBI dimulai ketika BI memberikan dispensasi kepada bank-bank umum untuk mengikuti kliring meskipun rekening gironya di BI bersaldo debet. Dispensasi diberikan kepda semua bank tanpa melakukan pre-audit untuk mengetahui apakah bank tersebut benar-benar membutuhkan bantuan likuiditas dan kondisinya sehat. Akibatnya banyak bank yang tidak mampu mengembalikan BLBI. Penyimpangan BLBI dapat dianggap sebuah lembaran hitam dalam kehidupan perbankan nasional. Bekas gubernur BI Soedrajad Djiwandono dianggap bertanggung jawab dalam pengucuran BLBI. Tanggal 31 desember 1999 BPK telah mengeluarkan laporan audit kinerja pada BI per 17 mei 1999, dalam laporan tersebut BPK mengungkapkan jumlah BLBI yang telah disalurkan oleh BI kepada bank penerima telah mencapai jumlah Rp. 164.536,10 miliar dan jumlah BLBI yang tidak layak dialihkan kepada pemerintah sebesar Rp. 80,24 triliun. Pengalihan hak tagih BLBI dari BI terhadap bank umum penerima kepada pemerintah

merupakan tindak lanjut dari pengalihan 54 bank dalam penyehatan dari BI ke BPPN pada maret 1998 dan pelaksanaan program penjaminan pemerintah yang dicanangkan melalui persetujuan bersama gubernur BI dan menteri keuangan pada 6 februari 1999. Audit BPK menunjukkan pada agustus 1998 menunjukkan sebanyak Rp. 138 triliun dari dana itu atau sekitar 96%nya ternyata diselewengkan pemilik bank untuk kepentingan sendiri. Hingga akhir tahun 2002 dari 52 kasus BLBI baru 20 dalam proses penyelidikan dan penyidikan.

13