Anda di halaman 1dari 8

Sektor perikanan di negara kita merupakan sektor pembangunan yang kurang mendapat perhatian.

Hal ini terlihat dari realitas kebijakan yang tergolong relatif kurang serta metode kebijakan yang tidak mengarah kepada perkembangan sektor perikanan. Sementara kita ketahui bahwa jutaan manusia menggantungkan hidupnya pada sektor perikanan sebagai penyedia sumber makanan yang penting, lapangan kerja, sumber pendapatan dan rekreasi. Bagi Indonesia yang merupakan negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah laut sebesar 5,8 juta km2, perikanan memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Sayangnya, pendayagunaan sektor perikanan terhambat oleh maraknya tindak pidana di bidang perikanan yang terjadi, akibatnya Indonesia mengalami kerugian yang sangat besar. Tindak pidana di bidang perikanan sebenarnya telah menjadi isu yang sangat penting dalam manajemen perikanan dunia, oleh karena itu Food and Agriculture Organization (FAO) mengeluarkan Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) dengan mandat utama dalam hal penyediaan kerangka pengelolaan bagi pemanfatan sumber daya perikanan yang berkelanjutan baik dalam tatanan global, regional maupun nasional. Sebagai pelaksanaan dari CCRF, FAO mengeluarkan panduan yang dinamakan International Plan of Action (IPOA). Sejalan dengan tuntutan dunia internasional dan kebijakan FAO tersebut, Pemerintah Indonesia berusaha untuk memperbaiki pengelolaan perikanan nasional, termasuk dalam hal penegakan hukum yang selama ini dirasa lemah. Salah satu usaha peningkatan penegakan hukum adalah dengan mengeluarkan Undang - Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Terdapat 3 (tiga) instansi yang berwenang dalam penegakan hukum perikanan berdasarkan ketentuan Pasal 73 UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, yaitu instansi Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Kepolisian Negara RI. Namun Undang Undang Nomor 31 Tahun 2004 ini tidak mengatur pembagian kewenangan secara jelas dan tidak pula mengatur mekanisme perikanan kerja serta yang tanpa Hal pasti, sehingga ketiga instansi sistem tersebut dalam menyatakan instansinya sama-sama berwenang dalam penegakan hukum adanya inilah keterpaduan yang disebut pelaksanaannya. sebagai konflik

kewenangan dalam penegakan hukum perikanan. Timbul pertanyaan hukum seperti: A. Apakah penegakan hukum perikanan yang ada di daerah telah pula terbentuk Forum Koordinasi? Jawabannya, jangankan telah terbentuk Forum Koordinasi di Daerah, pelaksanaan koordinasi tingkat pusat saja sudah tidak jalan. Dilihat dari kewenangan kelembagaan jelas Forum Koordinasi tidak mempunyai wewenang kelembagaan artinya apabila salah satu dari ketiga instansi penegak hukum perikanan tersebut tidak melakukan koordinasi tidak ada akibat hukumnya. Dan kenyataannya di lapangan penegakan hukum perikanan tanpa koordinasi artinya telah berjalan secara sendirisendiri tanpa adanya keterpaduan sistem. Ini perlu kita pikirkan lebih lanjut jalan apa yang terbaik untuk pemecahan masalah tersebut. Masingmasing ketiga instansi penegak hukum perikanan tersebut dalam penegakan hukum perikanan atau dalam penyidikan tindak pidana di bidang perikanan berjalan sendiri-sendiri (penegakan hukum perikanan secara sektoral berjalan sendiri-sendiri) tanpa adanya keterpaduan system.

Hal ini dapat membuka pintu Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KKN) serta dapatmenimbulkan tindakan penyalahgunaan wewenang dan tindakan sewenang-wenang oleh ketiga instansi penegak hukum perikanan itu,sebagai ilustrasi contoh salah satu dari ketiga instansi penegak hukum perikanan tersebut menangkap kapal perikanan illegal dan kasus tersebut tiba-tiba menghilang atau dibekukan tanpa alasan yang jelas. B. Siapa yang akan mengawasi karena disampingtidak adanya lembaga pengawasan juga tidak adanya keterpaduan system dalam pelaksanaannya (integrated system)? Dikaitkan dengan tiga sumber kewenangan, yaitu Kewenangan Atribusi, Delegasi dan Mandat, maka kewenangan penegakan hukum perikanan oleh ketiga instansi penegakan hukum perikanan tersebut yang bersumberkan pada UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, maka kewenangan tersebut merupakan Kewenangan Atribusi. Secara hukum ketiga instansi penegak hukum perikanan tersebut sama-sama berwenang untuk membuat aturan hukum yang bersifat regulasi dalam menjalankan kewenangannya untuk menegakkan hukum perikanan. Sampai saat ini yang paling terdepan dan maju dalam membuat aturan hukum regulasi dalam rangka menjalankan kewenangan penegakan hukum perikanan adalah instansi DKP, kita dapat melihat perkembangan DKP yang jauh lebih maju dibandingkan dengan instansi TNI AL dan Kepolisian. Banyak aturan hukum regulasi yang dikeluarkan oleh DKP (Peraturan Lembaga maupun Peraturan Jabatan) untuk memayungi tindakan hukum dalam penegakan hukum perikanan oleh instansinya, sebagai contoh dibuatnya aturan hukum pembentukan Armada Kapal Patroli DKP yang dilengkapi persenjataan, aturan hukum ketentuan-ketentuan penangkapan kapal ikan illegal dan mekanisme

penyelesaian pemberkasan BAP, dan lain-lain yang kesemuanya itu dipayungi oleh aturan hukum regulasi. Pembentukan aturan hukum regulasi tersebut berdasarkan UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, karena disadari bahwa seluruh tindak pemerintahan di bidang penegakkan hukum harus berdasarkan pada asas legalitas (berdasarkan pada aturan hukum yang jelas) dan disadari pula di instansi DKP banyak pemikirpemikir hukum yang handal. Apabila kita bandingkan dengan instansi TNI AL yang berwenang melakukan penegakan hukum perikanan jauh tertinggal. Pembentukan aturan hukum regulasi oleh TNI AL dalam menjalankan kewenangan penegakan hukum perikanan tersebut, sebagian besar produk pengaturannya diatur dalam aturan hukum Peraturan Kebijaksanaan (beleidsregel, policy rule) bukan berbentuk aturan hukum regulasi (Peraturan Lembaga dan Peraturan Jabatan). Peraturan Kebijaksanaan tidak mempunyai kekuatan hukum berlakunya. Berikut diuraikan beberapa kelemahan Peraturan Kebijaksanaan, sebagai berikut : Jenis Peraturan Kebijaksanaan tidak dikenal dalam hirarki

peraturan perundang-undangan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 7 UU No. 10 Tahun 2004. Bentuk Peraturan Kebijaksanaan seperti Protap, Telegram, Surat Telegram, Juknik, Juklak, Jukminu, Surat Edaran, Nota Dinas, dan lain-lain tidak termasuk Keputusan/Surat Keputusan, bukanlah bentuk aturan hukum regulasi. Badan/lembaga yang mengeluarkan Peraturan Kebijaksanaan tidak memiliki kewenangan pembuatan peraturan perundang-undangan, pada hal TNI AL sebagai lembaga yang berwenangan dalam penegakan hukum perikanan mempunyai kewenangan yang sama untuk membentuk aturan

hukum regulasi (pengaturan) dalam menjalankan kewenangan penegakan hukum, tidak dalam bentuk Peraturan Kebijaksanaan jadi harus dibentuk dalam aturan hukum regulasi berupa Peraturan Lembaga dan Peraturan Jabatan. Peraturan Kebijaksaaan biasanya digunakan dalam rangka freies ermessen artinya Pejabat Pemerintah (lembaga aturan publik) yang diberi sifatnya kewenangan membuat aturan/mengeluarkan

mendesak dibutuhkan dikarenakan belum ada aturan hukum yang mengaturnya, dalam arti Peraturan Kebijaksanaan dikeluarkan pada saat mendesak saja. Penegakan hukum perikanan tidak dapat dilakukan secara mendesak melainkan harus melalui perencanaan yang baik dan matang. Peraturan Kebijaksanaan tidak mempunyai daya ikat hukum secara langsung, namun masih mempunyai relevansi hukum, artinya Peraturan Kebijaksanaan ini dilaksanakan atau tidak dilaksanakan tidak mempunyai akibat hukum atau tidak melahirkan hak dan kewajiban hukum. Peraturan Kebijaksanaan pada instansi TNI AL tetap jalan karena dilindungi oleh UU Hukum Pidana Militer dan UU Hukum Disiplin Militer.Sebagai ilustrasi contoh pengaturan masalah pelepasan kapal-kapal perikanan yang telah mendapatkan Putusan Hukum Tetap (inkracht) berdasarkan putusan Pengadilan dan untuk eksekusi pelepasan oleh Kejaksaan harus menunggu persetujuan dari Kotama Atas dari setiap instansi TNI AL. Pengaturan masalah ini diatur dalam Peraturan kebijaksanaan berupa Surat Telegram. Disamping apa yang diatur tersebut melanggar hukum, yaitu melanggar asas legalitas (setiap tindak pemerintahan harus berdasarkan hukum) juga sarana hukum pengaturannya tidak tepat, seharusnya diatur

dalam undang-undang karena menyangkut hak asasi manusia (lihat Pasal 8 UU No. 10 Tahun 2004). Berdasarkan beberapa kelemahan dari Peraturan Kebijaksanaan tersebut sudah selayaknya instansi TNI AL merencanakan dengan baik proses penegakan hukum perikanan yang dimulai dari pembenahan produk aturan hukum, apabila instansi TNI AL tidak memulainya dari sekarang tidak tertutup kemungkinan di masa mendatang kewenangan penegakan hukum perikanan tersebut akan terlepas dan dialihkan kepada instansi yang lebih tepat dan mampu dalam penegakan hukum perikanan. Apabila dilihat dari sejarah penegakan hukum perikanan memang instansi TNI AL sejak UU No. 20 Tahun 1982 tentang KetentuanKetentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara RI, tugas penegakan hukum perikanan bukanlah tugas pokok TNI AL melainkan tugas membantu pemerintah dalam penegakan hukum. Tugas pokok TNI AL dalam UU No. 20 Tahun 1982 tersebut adalah terfokus pada penegakan keamanan negara dalam hal ini penegakan kedaulatan negara di laut, artinya tugas pokok TNI AL hanya menangkap musuh, mengusir musuh yang datang dari dan lewat laut. Baru disadari bahwa perlunya penambahan tugas pokok TNI AL dalam penegakan hukum di laut dan baru dipositifkan melalui UU No.34 Tahun 2004 tentang TNI. Apabila tugas penegakan hukum di laut ini tidak ditangani secara profesional tidak tertutup kemungkinan tugas penegakan hukum perikanan ini akan menjadi kenangan belaka, karena tuntutan perkembangan keadaan zaman dan tuntutan kemampuan penegakan hukum perikanan secara profesional. Selain itu, berbagai permasalahan lain dalam penegakan hukum di bidang perikanan dapat dikaji sebagai berikut :

1. Pelaksanaan pengawasan dan penegakan hukum perikanan dalam rangka pemberantasan atau setidaknya membatasi aktivitas illegal fishing di WPPRI belum dilaksanakan secara optimal. Jumlah aktivitas illegal fishing yang terdeteksi di seluruh WPPRI dengan berbagai modus operandi sebagaimana yang dikemukakan oleh instansi resmi seperti Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang jumlahnya sangat besar, tidak berbanding lurus dengan jumlah perkara tindak pidana di bidang perikanan yang diproses secara hukum sampai ketahap persidangan pengadilan di seluruh wilayah Indonesia yang menunjukan angka yang sangat kecil/sedikit. 2. Ditemui berbagai hambatan dalam pelaksanaan penegakan hukum perikanan, yaitu hambatan dari aspek substansi hukum yang kurang memberikan efek jera bagi para pelaku illegal fishingkhususnya di ZEEI yang pada umumnya dilakukan oleh nelayan asing. Akhirnya yang lebih banyak terjaring oleh UU Nomor 31 Tahun 2004 adalah nelayan tradisional (domestik), sedangkan nelayan asing sendiri dapat bebas melenggang ke negara asalnya. Hambatan lain dari aspek substansi hukum adalah terbatasnya tenggang waktu penanganan perkara tindak pidana perikanan. Hal itu menimbulkan kesulitan bagi aparat penegak hukum dalam penerapannya di lapangan. Hambatan dari aspek struktural, seperti terbatasnya SDM dalam pelaksanaan penegakan hukum perikanan, serta masih adanya hambatan birokrasi dalam pelaksanaan penegakan hukum. Hambatan dari aspek budaya, dalam pandangan masyarakat masih berlaku bahwa laut adalah milik semua (open acces). Adanya perubahan kebijakan kearah control acces regulation yang mengharuskan nelayan untuk memliki berbagai persyaratan perijinan terutama bagi para nelayan yang sudah berorientasi bisnis, maka

pelanggaran terhadap perijinan yang telah ditentukan ada sanksi pidananya (kriminalisasi), hal ini belum disadari dan dipatuhi secara penuh oleh masyarakat dengan berbagai alasan. Hambatan dari aspek sarana dan prasarana penegakan hukum, seperti jumlah kapal pengawas perikanan yang dimiliki oleh masingmasing instansi pengawas tidak sebanding dengan luas WPPRI yang harus diawasi, terbatasnya jumlah SDM pengawas, dan terbatasnya jumlah anggaran operasional yang disediakan untuk kegiatan pengawasan. Tidak adanya dermaga khusus untuk penyimpanan barang bukti berupa kapal ikan yang berstatus sebagai Rubasan, dapat berakibat hilangnya nilai ekonomis dari barang bukti tersebut, apabila pengadilan memutus barang bukti dirampas untuk negara kemudian dilelang, dikarenakan kurang adanya perawatan dan pengamanan terhadap barang bukti.