Anda di halaman 1dari 29

Analisis Kesalahan Berbahasa gemasastrin gemasastrin.wordpress.com/2009/06/14/analisis-kesalahan-berbahasa/ 14 Jun 2009 Analisis Kesalahan Berbahasa. oleh Safriandi, S.Pd.

d. (Mahasiswa Pascasarjana Unsyiah). 1. Pengertian Kesalahan Berbahasa ... [DOC] KESALAHAN-KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA www.ialf.edu/kipbipa/papers/SetyaTriNugraha2.doc Jenis Berkas: Microsoft Word - Tampilan Cepat oleh KB Indonesia - Artikel terkait Kita harus tahu jenis kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar terlebih dahulu sebelum melakukan analisis lanjutan. Ada dua jenis kesalahan berbahasa ... [PDF] ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA file.upi.edu/Direktori/...BAHASA...BAHASA.../10_BBM_8.pdf Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - Tampilan Cepat Analisis kesalahan berbahasa adalah salah satu cara untuk menjawab pertanyaan tersebut. Melalui analisis kesalahan berbahasa, kita dapat menjelaskan ... Analisis Kesalahan Bahasa www.situsbahasa.info/2011/01/analisis-kesalahan-bahasa.html Teori analisis kesalahan berbahasa merupakan koreksi kritis terhadap teori konstratif, bahwa pengajaran bahasa mengkontraskan kedua sistem bahasa ... Analisis Kesalahan Berbahasa takberhentiberharap takberhentiberharap.wordpress.com/.../analisis-kesalahan-berbahasa/ 30 Mei 2011 Dengan diadakan analisis kesalahan berbahasa ini diharapkan para pelajar mahasiswa yang berada pada jurusan bahasa khususnya dapat ... [PDF] ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA PADA WACANA BUKU LKS ... etd.eprints.ums.ac.id/4466/1/A310050121.pdf Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - Tampilan Cepat ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA. PADA WACANA BUKU LKS PRISMA MATA PELAJARAN. BAHASA INDONESIA UNTUK SMP. SKRIPSI. Disusun ... SEMUA TENTANG PENDIDIKAN: ANALISIS KESALAHAN BAHASA ... haryantotips.blogspot.com/2011/.../analisis-kesalahan-bahasa-lisan.ht... 12 Des 2011 Maka dari itu penyusunan makalah ini ingin mencoba menyusun makalah yang berjudul analisis kesalahan berbahasa dengan tujuan ... Analisis Kesalahan Bahasa <br/> - Media Bawean www.bawean.net/2011/01/analisis-kesalahan-berbahasa-dalam.html 14 Jan 2011 Kritik dan saran ini saya bingkai dalam judul "Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia pada Penulisan Berita dan Artikel di Media Bawean. ... Permasalahan dalam Analisis Kesalahan Berbahasa dan Analisis ... massofa.wordpress.com/.../permasalahan-dalam-analisis-kesalahan-be... 27 Agu 2008 Dengan demikian permasalahan yang ditangani analisis kesalahan berbahasa itu berkisar pada kesalahan dalam keterampilan berbahasa ...

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA Oleh : Saefu Zaman

Beberapa Kesalahan dalam Berbahasa Pengajaran bahasa merupakan hal yang sangat kompleks. Pengajaran bahasa dalam praktikya tidak akan lepas dari yang namanya kesalahn-kesalahan berbahsa. Kesalahan bahasa yang meliputi berbagai aspek ini adalah hal yang paling sulit untuk dapat dipahami oleh para pelajar atau pembelajar bahasa. Hal tersebut lebih dikarenakan karena perelu ketelitian yang sangat tinggi untuk dapat mengatasai segala kesalah-kesalahn berbahasa tersebut. Pengajaran bahasa kini lebih banyak difokuskan pada kegiatan siswa belajar. Pengajaran bahasa yang berfokus pada kegiatan guru dalam mengajar telah lama dikritik banyak orang. Setiap ada kegagalan dalam belajar anak faktor penyebabnya selalu dicari pada guru dan pengatasannya pun selalu dilakukan dari sisi guru. Akibat cara berpikir seperti itu, kegagalan belajar bahasa anak selalu terjadi sepanjang zaman dan tidak pernah teratasi secara tuntas. Analisis pengajaran bahasa dapat dilakukan berdasarkan pendekatan psikologis dalam belajar bahasa. Acuan teori psikologi yang dipakai sebagai dasar untuk menganalisis belajar bahasa antara lain psikologi behaviorisme, psikologi kognitivisme, dan psikologi mentalisme. Teori analisis kesalahan berbahasa merupakan koreksi kritis terhadap teori konstratif, bahwa pengajaran bahasa mengkontraskan kedua sistem bahasa kadang-kadang tidak ada manfaatnya., dan hanya akan membuang-buang waktu saja. Analisis kesalahan berbahasa berasumsi bahwa pengajaran bahasa hendaknya lebih difokuskan pada frekuensi terbesar kesalahan berbahasa pembelajar. Penelusuran faktor-faktor penyebab kesalahan serta jenis-jenis kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar jauh lebih penting karena dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memperbaiki kesalahan belajar dan kesalahan berbahasa pembelajar.

Berikut ini beberapa kesalahan berbahasa yang sering terjadi dalam kehidupan seharihari; 1. Mistake (salah) Merupakan penyimpangan struktur lahir yang terjadi karena penutur tidak mampu menentukan pilihan penggunaan ungkapan yang terjadi situasi dengan situasi yang ada. Mistake/ kekeliruan, terjadi ketika seorang pembelajar tidak secara konsisten melakukan penyimpangan dalam berbahasa. Kadang-kadang pembelajar dapat mempergunakan kaidah/norma yang benar tetapi kadang-kadang mereka membuat kekeliruan dengan mempergunakan kaidah/norma dan bentuk-bentuk yang keliru. Contoh : Rasanya panas. Kalau malam tidur di kamar, harus pakai kipas terus, kata Nining. Analisis : Kalimat rasanya panas untuk menggambarkan situasi udara yang panas adalah kurang tepat atau dapat dikatakan adanya kekurangtepatan penggunaan ungkapan terhadap situasi tersebut. Maka dari itu kalimat tesebut masuk dalam mistake. Seharusnya ungkapan tersebut meggunakan ungkapan Udaranya panas agar lebih tepat. Dengan amblesnya tanggul tersebut, saat ini permukaan lumpur yang..... Analisis : penggunaan kata ambles dalam konteks tersebut adalah kurang tepat. Ungkapan tersebut masih sangat terpengaruh bahasa jawa. 2. Selip Merupakan penyimpangan bentuk lahir karena beralihnya pusat perhatian topik pembicaraan secara sesaat (kelelahan bisa menimbulkan selip bahasa). Dengan demikian selip bahasa terjadi secara tidak disengaja. Kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh lapses tidak memiliki implikasi paedagogis yang berbahaya. Lapse, selip lidah, diartikan sebagai bentuk penyimpangan yang diakibatkan karena pembelajar kurang konsentrasi, rendahnya daya ingat atau sebab-sebab lain yang dapat terjadi kapan saja dan pada siapa pun. Contoh : Menjual barang tidak bisa memaksa orang membeli, ujar Fauzi Aziz Analisis : Selip bahasa terjadi pada kalimat tersebut. Selip terjadi karena

kekurangtepatan kalimat yang digunakan yaitu kata yang diucapkan kurang. Seharusnya kata tersebut mendapat tambahan satu kata lagi agar tidak termasuk dalam selip bahasa. Kata yang dimaksud adalah kata untuk. Akan menjadi tidak selip ketika diucapkan Menjual barang tidak bisa memaksa orang untuk membeli,... 3. Silap Merupakan penyimpangan bentuk lahir dari struktur baku yang terjadi karena pemakai belum menguasai sepenuhnya kaidah bahasa. Faktor yang mendorong timbulnya kesilapan adalah faktor kebahasaan yang mengikuti pola-pola tertentu. Contoh : Semuanya sudah empat kali kejadian sama dengan yang sekarang ini. Analisis : Kalimat tersebut mengalami silap bahasa karena dalam kalimat tersebut terdapat kesalahan struktur dan kaidah kalimat dalam bahasa Indonesia yang benar. Kalimat tersebut akan bisa dikatakan kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar jika Semuanya sudah empat kali terjadi, termasuk yang sekarang ini. Lokasi kejadian jauh dari permukiman warga, .... Analisis : Kata permukiman dalam kalima tersebutmengalami silap bahsa. Silap dalam kaliamt tersebut kemungkinan terjadi karena kekurangpahaman akan kaidah bahasa Indonesia yang benar. Seharusnya kata permukiman diganti dengan kata pemukiman agar kalimat tersebut menjadi kalimat yang benar atau tidak silap. Ayah dua anak itu seakan tidak memedulikan lumpur gas yang mnenyembur sekitar 20 meter dari warungnya. Analisis : Kata dalam kalimat tersebut ada yang mengalami silap bahasa. Kata memedulikan tersebut seharusnya tidak digunakan dan diganti dengan kata memperdulikan.

4. Kalimat Rancu Adalah kalimat yang struktur atau bagianya ada yang rancu atau tidak sesuai penempatanya. Contoh :

Pemerintah pun mulai menggaungkan dukungan kepada industri kreatif. Analisis : Kata menggaungkan secara makna kurang tepat atau rancu jka diterapakan dalam kalimat tersebut. Kata menggaungkan tersebut dapat diganti dengan kata menyampaikan, menyerukan dsb. Jalan Raya Porong yang terletak bersebelahan di sisi barat tanggul kolam lumpur terus menurun hingga 80 sentimeter sejak ditinggikan September 2008.

Analisis : Kalimat tersebut memiliki struktur yang rancu dan kurang bisa dipahami.

5. Kalimat Ambigu Merupakan kalimat yang memiliki makna lebih dari satu/ membingungkan/ ambigu. Contoh : Menurut Emi, salah seorang pemilik ruko yang terbakar, gudang oli itu mulai beroperasi sejak dua tahun lalu. Analisis : Kalimat tersebut merupakan kalimat yang ambigu atau menimbulkan tafsir ganda. Letak keambiguan dari kalimat tersebut adalah kita dapat menafsirkan makna kalimat tersebut dalam dua versi makna yaitu Emi ikut terbakar atau Emi hanyalah salah seorang dari pemilik ruko yang ikut terbakar. Muncul ikhtiar untuk mengedepankan produk-produk budaya dan berbasis teknologi, memvisualisasikanya kepada masyarakat banyak melalui pameran. Analisis : Kalimat tersebut memiliki makna ganda atau ambigu. Keambiguan tersebut dapat kita rasakan ketika memaknai kalimnat tersebut. memvisualisasikanya kepada masyarakat / banyak melalui pameran. memvisualisasikanya kepada masyarakat banyak / melalui pameran. 6. Adopsi Adalah mengambil semuanya dengan tidak mengurangi dan tidak menambahi. Contoh : Amblesnya tanggul setinggi 11 meter itu...... Analisis : Kata meter merupakan kata yang diadopsi dari kata dalam bahasa inggris, yaitu meter. Menyusul tertangkapnya imigran asal Iran dan pakistan.

Analisis : Kata imigran merupakan kata hasil adopsi dari kata asing. Pengambilan

yang dilakukan pada kata tersebut dilakukan secara utuh yaitu imigran. Kekurangan biaya sebagai dampak krisis keuangan global. .......

Analisis : Kata global adalah kata yang diadopsi dari kata dalam bahasa inggris. Kata tersebut diambil secara utuh untuk menyebutkan maksud yang sama.

7. Terjemahan Adalah interpretasi makna suatu teks dalam suatu bahasa ("teks sumber") dan penghasilan teks yang merupakan padanan dalam bahasa lain ("teks sasaran" atau "terjemahan") yang mengkomunikasikan pesan serupa. Terjemahan harus

mempertimbangkan beberapa batasan, termasuk konteks, aturan tata bahasa, konvensi penulisan, idiom, serta hal lain antar kedua bahasa. Secara tradisional terjemahan merupakan suatu kegiatan manusia, walaupun banyak upaya telah dilakukan untuk mengotomatisasikan penerjemahan teks bahasa alami (terjemahan mesin, machine translation) atau menggunakan komputer sebagai alat bantu penerjemahan (penerjemahan berbantuan komputer, computer-assisted

translation). Mungkin kesalahpengertian utama mengenai penerjemahan adalah adanya suatu hubungan "kata-per-kata" yang sederhana antara dua bahasa apa pun, dan karena itu penerjemahan sering dianggap langsung dan merupakan suatu proses mekanis. Pada kenyataannya, perbedaan historis antar bahasa sering memberikan perbedaan ekspresi antar keduanya. Contoh : Pencuri telepon genggam itu akhirnya diserahkan kepada polisi setelah dihajar warga. Analisis : Kata telepon genggam merupakan bentuk terjemahan. Dikatakan bentuk terjemahan karena kata tersebut didapat dari menerjemahkan kata hand phone (telepon tangan/genggam) yang merupakan kata aslinya. 8. Adaptasi Adalah menyesuaikan bentuk maupun lafalnya. Istilah adaptasi merupakan bahasa itu yang ber-/di adaptasi (oleh banyak faktor: lingkungan, geografis, dsb) sehingga

menyebabkan Contoh :

variasi-variasi

baik

dalam

bentuk

atau

pemakaiannya.

Bahwa produk kreatif karya anak bangsa banyak yang unik. Analisis : Kalimat tersebut menagndung dua kata yang mengalami adaptasi dari kata asing. Kata tersebut adalah produk yang berasal dari kata product. Selain kata tersebut adaptasi juga terjadi pada kata kreatif yang di adaptasi dari kata creative. Ketua divisi riset.... Analisis : Kata divisi merupakan kata hasil adaptasi dari kata asing yaitu division. Desain Produk Industri................ Analisis : Dalam kalima tersebut kata desain merupakan kata hasil dari proses adaptasi. Kata yang merupakan dasar dari kata tersebut adalah kata Design yang diambil dari bahasa Inggris. Masalah kualitas dan pelayanan..... Analisis : Kata kualitas yang terdapat dalam penggalan kalimat tersebut merupakan kata hasil adaptasi dari kata Quallity yang berasal dari bahasa Inggris. Potensi anak bangsa memang........ Analisis : Kata potensi merupakan hasil adaptasi dari kata potention yang berasal dari bahasa Inggris.

SEKILAS ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA Oleh: Elyhawiyaty, S.Pd 1. Pengertian Analisis Kontrastif a. Konsep analisis kontrastif perlu dipahami oleh guru bahasa Indonesia mengingat bahasa Indonesia bagi sebagian besar siswa merupakan bahasa kedua, walaupun bahasa Indonesia tidak tergolong bahasa asing di Indonesia. b. Dalam mempelajari bahasa kedua yang paling sering dialami oleh siswa adalah siswa sering menghadapi kesulitan dalam mempelajari bahasa kedua itu dan membuat kesalahan berbahasa dalam proses mempelajari bahasa kedua tersebut. c. Ada empat langkah kerja analisis kontrastif 1) Guru membandingkan struktur bahasa pertama dengan bahasa kedua yang akan dipelajari siswa. 2) Guru memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa. 3) Berkaitan dengan pemilihan atau penyusunan, pengurutan, dan penekanan bahan pengajaran. 4) Berkaitan dengan pemilihan cara-cara penyajian bahan pengajaran. d. Sebagai contoh kesalahan berbahasa yang sering terjadi dibuat oleh siswa, saya temui saat mengajar bahasa Indonesia di sekolah yaitu saat pengajaran bahasa Indonesia berlangsung siswa sering menggunakan bahasa ibunya (daerah) atau menulis dengan bahasa ibunya. e. Analisi kontrastif ialah suatu proses kerja yang memiliki empat langkah yakni membandingkan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua, memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa, memilih bahan pengajaran, serta menentukan cara penyajian bahan yang tepat dalam rangka mengefesiensikan dan mengefektifkan pengajaran bahasa kedua. 2. Aspek-aspek Analisis Kontrastif a. Aspek analisis kontrastif ada dua, yakni, aspek linguistik dan aspek psikologi (teori belajar).

Cara

menentukan

aspek-aspek

analisis

kontrastif

tersebut

yakni,

1) Aspek lingistik adalah berkaitan dengan perbandingan struktur dua bahasa untuk menemukan perbedaan-perbedaannya. 2) Aspek psikologi berkaitan dengan langkah kedua yakni berdasarkan perbedaan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua yang akan dipelajari siswa diprediksikan kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang mungkin dihadapi oleh siswa dalam belajar bahasa kedua 3) Langkah ketiga berdasarkan kesulitan belajar dan kesalahan-kesalahan berbahasa itu, disusun bahan pengajaran bahasa kedua yang lebih tepat susunannya, urutannya, dan penekanannya. 4) Langkah keempat, bahan pengajaran itu disajikan dengan cara-cara tertentu. Dasar psikologi analisis kontrastif ada dua yakni asosiasionisme dan teori stimulus-respon. b. Tataran lingistik yang sudah digarap oleh analisis kontrastif yaitu fonologi dan sintaksis. c. Melalui perbandingan struktur dua bahasa dapat diungkap enam hal. 1) Tiada perbedaan, sistem atau aspek tertentu dalam dua bahasa tidak ada perbedaan sama sekali. Misalnya konsonan /l, m, n/ diucapkan sama baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris. 2) Fonemena konvergen, dua butir atau lebih dalam bahasa pertama menjadi satu butir dalam bahasa kedua. Misalnya, kata-kata padi, beras, nasi dalam bahasa Indonesia menjadi satu dalam bahasa Inggris yakni rice. 3) Ketidakadaan, butir atau sistem tertentu dalam bahasa pertama tidak terdapat atau tidak ada dalam bahasa kedua atau sebaliknya. Misalnya, sistem penjamakkan dengan penanda s atau es dalam bahasa inggris tidak ada dalam bahasa Indonesia. Sebaliknya, sistem penjamakkan dengan pengulangan kata dalam bahasa Indonesia (meja-meja, kursi-kursi, sayur-sayur) tidak ada dalam bahasa Inggris.

4) Beda distribusi, butir tertentu dalam bahasa pertama berbeda distribusi dengan butir yang sama dalam bahasa kedua. Misalnya, fonem /ng/ dalam bahasa Indonesia dapat menduduki posisi awal, tengah, dan akhir (ngeri, dengan, sayang). Dalam bahasa Inggris fonem /ng/ hanya terdapat pada tengah dan akhir kata (linguistic, sing). 5) Tiada persmaan, butir tertentu dalam bahasa pertama tidak mempunyai persamaan dalam bahasa kedua. Misalnya, predikat kata sifat dan kata benda dalam bahasa Indonesia tidak terdapat dalam bahasa Inggris. Dia kaya. He is rich. Dia guru. He is a techer. 6) Fonemena divergen, satu butir tertentu dalam bahasa pertama menjadi dua butir dalam bahasa kedua. Misalnya, kata we dalam bahasa Inggris menjadi kita atau kami dalam bahasa Indonesia. d. Beberapa makna istilah-istilah 1) Asosiasi kontak atau asosiasi hubungan yaitu apabila seseorang mendengar kata meja maka yang bersangkutan teringat atau terpikir kepada kata kursi, karena kedua kata itu sering digunakan bersma-sama atau berpasangan. Contoh lain, sendok garpu, kopi susu. 2) Asosiasi kesamaan yaitu apabila seseorang mendengar kata sulit, maka yang bersangkutan segera teringat kata sukar karena kedua kata itu bersinonim. Contoh lain, pintar pandai, mati meninggal. 3) Asosiasi kontras yaitu apabila seseorang mendengar kata atas, maka yang bersangkutan segera teringat atau terpikir kata bawah karena kedua kata itu mempunyai makna yang berlawanan. Contoh lain, susah senang, rajin malas. 4) Belajar secara asosiatif, belajar apabila terjadi hubungan kontak, koneksi, atau asosiasi antara dua hal atau benda.

5) Stimulus responsi, reaksi yang ditimbulkan antara stimulus dan respon atau kebiasaan. Kalau stimulus berlangsung secara tetap maka responsi pun terlatih dan diarahkan tetap. 6) Kebiasaan (habit), apabila hubungan antara stimulus dan responsi itu sudah bersifat mapan atau tetap maka hubungan antara stimulus dan responsi disebut kebiasaan (habit). 7) Ciri-ciri kebiasaan: pertama, kebiasaan itu bersifat observable atau dapat diamati. Apabila kebiasaan itu berupa benda maka benda itu dapat diraba. Kedua, kebiasaan itu terjadi secara spontan tanpa disadari. Ketiga, kebiasaan itu sukar dihilangkan, kecuali kalau lingkungannya diubah. 8) Hubungan antara stimulus-responsi, dan penguatan dapat digambarkan sebagai berikut. Stimulus adalah suatu rangsangan atau aksi yang menuntut suatu tindakan atau reaksi pada seseorang atau organisme. Responsi adalah perilaku yang timbul sebagai reaksi seseorang terhadap suatu aksi atau stimulus. Penguatan adalah suatu stimulus baru yang mengikuti terjadinya suatu responsi. Stimulus baru dapat membuat responsi yang telah terjadi berulang terjadi lagi atau tidak terjadi. Penguatan yang menunjang suatu responsi berulang kembali disebut sebagai penguatan positif dan sebaliknya. 9) Penerapan pembentukan kebiasaan dalam pengajaran bahasa, dalam pengajaran bahasa pertama anak-anak menguasai bahasa ibunya melalui peniruan. Melalui kegiatan peniruan itulah anak-anak menguasai struktur dan kebiasaan yang berlaku dalam bahasa ibunya. Hal yang sama juga terjadi dalam pengajaran bahasa kedua. 10) Tekanan bahasa ibu, pengaruh yang ditimbulkan oleh struktur bahasa ibu. Tekanan bahasa ibu ini berkaitan dengan teori belajar terutama teori transfer. Dengan adanya penguatan, tekanan bahasa ibu terhadap bahasa kedua diharapkan dapat dihilangkan. 3. Tujuan, Metodologi, dan Cakupan Analisis Kontrastif a. Tujuan analisis kontrastif adalah mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh guru dan dialami oleh siswa dalam proses belajar mengajar bahasa kedua.

b. Metodologi analisis kontrastif adalah langkah-langkah kerja analisis kontrastif sekaligus melukiskan daerah cakupan analisis kontrastif. c. Analisis kontrastif mencakup empat langkah yaitu (1) membandingkan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua, (2) memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa, (3) memilih bahan pengajaran dan (4) menentukan cara penyajian bahasa secara tepat dalam rangka mengefesienkan dan mengefektifkan pengajaran bahasa kedua. d. Implikasi analisis kontrastif dalam pengajaran bahasa kedua, (1)

membandingkan struktur bahasa ibu siswa dengan bahasa kedua yang akan dipelajari oleh siswa, (2) berdasarkan perbedaan struktur antara bahasa ibu dan bahasa kedua, guru dapat memprediksikan kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang mungkin dialami dan diperbuat oleh siswa dalam belajar bahasa kedua, (3) kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang telah diprediksi itu dijadikan sebagai landasan dalam memilih dan menyusun bahan, dan menentukan penekanan bahan pengajaran, (4) pemilihan cara-cara penyajian bahan. e. Hubungan antara linguistik dan psikologi dengan metodologi analisis kontrastif berkaitan erat karena landasan kerja analisis kontrastif ada dua yakni teori linguistik dan teori psikologi, langkah-langkah kerja analisis kontrastif sekaligus melukiskan daerah cakupan analisis kontrastif. Langkah pertama berkaitan dengan perbandingan struktur dua bahasa. Ini menunjukkan bahwa analisis kontrastif berkaitan erat dengan linguistik. Langkah kedua,ketiga, dan keempat berkaitan dengan kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa, pemilihan dan penyusunan bahan, serta cara penyajian bahan pengajaran bahasa kedua. Ini membuktikan bahwa analisis kontrastif berkaitan erat dengan psikologi belajar. 4. Hipotesis Analisis Kontrastif a. Asumsi yang mendasari hipotesis bentuk kuat analisis kontrastif ialah berdasar pada lima asumsi berikut. (1) Penyebab utama kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa dalam mempelajari bahasa kedua adalah interferensi bahasa ibu, (2) kesulitan belajar itu disebabkan oleh perbedaan struktur bahasa

ibu dan bahasa kedua yang dipelajari oleh siswa, (3) semakin besar perbedaan antara bahasa ibu dan bahasa kedua semakin besar pula kesulitan belajar, (4) perbedaan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua diperlukan untuk memprediksi kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa yang akan terjadi dalam belajar bahasa kedua, (5) bahan pengajaran bahasa kedua ditekankan pada perbedaan bahasa pertama dan kedua yang disusun berdasarkan analisis kontrastif. b. Analisis yang tersirat dalam hipotesis bentuk lemah analisis kontrastif ialah kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh berbagai faktor. Peranan bahasa pertama tidak besar dalam mempelajari bahasa kedua. Analisis kontrastif dan analisis kesalahan berbahasa harus saling melengkapi. c. Isi yang tersirat dalam hipotesis bentuk kuat analisis kontrastif menyatakan bahwa semua kesalahan berbahasa dalam bahasa kedua dapat diramalkan dengan mengidentifikasikan perbedaan struktur bahasa pertama dan bahasa kedua yang dipelajari siswa. d. Isi yang tersirat dalam bentuk lemah analisis kontrastif menyatakan bahwa tidak semua kesalahan berbahasa disebabkan oleh interferensi.

e. Sumber rasional hipotesis analisis kontrastif adalah (i) pengalaman guru, (ii) kontak bahasa, (iii) teori belajar, penjelasan dari ketiga sumber tersebut adalah: 1) Setiap guru bahasa asing atau bahasa kedua yang sudah berpengalaman pasti mengetahui kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa dalam mempelajari bahasa kedua. Mereka juga dapat mengaitkan kesalahan tersebut dengan tekanan bahasa ibu siswa. 2) Kontak bahasa terjadi di dalam situasi kedwibahasaan orang yang mengenal atau mengetahui dua bahasa disebut dwibahasawan. Dwibahasawan merupakan wadah terjadinya kontak bahasa. 3) Teori belajar merupakan sumber ketiga pendukung hipotesis analisis kontrastif terutama teori transfer. Transfer diartikan sebagai satu proses yang melukiskan penggunaan tingkah laku yang telah di[elajari digunakan secara spontan dalam memberikan responsi baru

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA 1. Kaitan antara pengajaran berbahasa, pemerolehan bahasa, kedwibahasaan, interferensi, dan kesalahan berbahasa. a. Yang dimaksud dengan pengajaran bahasa pertama dan pengajaran bahasa kedua ialah (1) pengajaran bahasa pertama adalah pengajaran bersifat informal yang titik beratnya pada penguasaan bahasa ibu. (2) Sementara pengajaran bahasa kedua ialah kegiatan pemerolehan bahasa biasanya berlangsung melalui pengajaran bahasa yang bersifat formal yang

berlangsung di sekolah, dapat juga berlangsung secara informal. b. Yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah pengajaran bahasa secara alamiah, tidak berencana, tidak disengaja dan tidak disadari. Contohnya anak kecil berumur satu tahun bisa berbicara seperti kakak-kakaknya atau orang tuanya dengan cara meniru dan mendengar. c. Interferensi ialah terjadinya kekacauan pemakaian bahasa oleh

dwibahasawan. Contohnya orang Dayak Maanyan tidak mengenal fonem /o/ sehingga dalam bahasa Indonesia sering terjadi kesalahan fonem /o/ diucapkan /u/. d. Makna istilah dwibahasawan ialah orang menggunakan/menguasai dua bahasa atau lebih, sehingga saling mempengaruhi antara b1 dan b2. Contoh, bahasa Maanyan dan bahasa Indonesia (supir, bahasa Maanyan) (sopir, bahasa Indonesia). e. Kesahan bahasa adalah transfer negatif yang menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran b2 akibat dari sistem yang digunakan berlainan dalam penyampaiannya. f. Kaitan antara pengajaran bahasa, pemerolehan bahasa, kedwibahasaan, interferensi dan kesahan bahasa oleh adanya umpan balik antara kelima unsur itu atau dengan kata lain semua unsur saling berhubungan dan saling berkaitan, sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh. 2. Pengertian dan analisis kesalahan berbahasa. a. Pendapat pengikut pendekatan komunikatif terhadap kesalahan berbahasa merupakan bagian dari proses belajar mengajar. Ini berarti kesalahan

berbahasa adalah bagian yang integral dari pengajaran bahasa, baik pengajaran bahasa bersifat formal maupun informal. b. Kesimpulan yang diperoleh dari pengalaman guru bahasa di lapangan mengenai kesalahan berbahasa tidak hanya dibuat oleh siswa yang mempelajari bahasa kedua, tetapi juga bagi siswa yang mempelajari bahasa pertama, diibaratkan ikan dengan air. Ikan tidak dapat hidup tanpa air begitu pula kesalahan berbahasa selalu terjadi dalam pengajaran bahasa. c. Sangat setuju! Alasannya, saya sering mengalami sendiri waktu mengajar saya sudah berusaha mengarahkan siswa menggunakan bahasa Indonesia (b2) tetapi mereka tetap saja menyelingkannya dengan bahasa pertama (b1) atau bahasa ibu. d. Kaitan antara kesalahan berbahasa dengan tujuan pengajaran bahasa adalah untuk memperkecil kesalahan yang dibuat dalam mempelajari kedua bahasa (b2 maupun b1), bahkan kalau bisa kesalahan itu dihapus sama sekali. e. Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh peneliti atau guru bahasa, yang meliputi kegiatan mengumpulkan sampel kesalahan, mengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam sampel, menjelaskan kesalahan tersebut, mengklasifikasikan kesalahan itu dan mengevaluasi taraf keseriusan kesalahan itu. f. Analisis kesalahan berbahasa menurut saya adalah suatu cara atau langkah kerja yang biasa digunakan oleh peneliti atau guru bahasa untuk mengumpulkan data, mengidentifikasi kesalahan, menjelaskan kesalahan, mengklasifikasikan kesalahan dan mengevaluasi taraf keseriusan kesalahan berbahasa. 3. Tujuan dan metodologi analisis kesalahan berbahasa. a. Kesalahan-kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa harus dicatat dengan teliti oleh guru karena berdasarkan hasil analisis kesalahan berbahasa tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam memperbaiki komponen proses belajar mengajar berbahasa berikutnya. b. Data atau kesalahan berbahasa yang telah dibuat siswa diolah dengan cara (1) mengklasifikasikan jenis kesalahan, (2) mengurutkan kesalahan berdasarkan

frekuinsinya, (3) menggambarkan letak kesalahan dan memperkirakan penyebab kesalahan, (4) memperkirakan atau memprediksi daerah atau butir kebahasaan yang rawan kesalahan, (5) mengoreksi kesalahan atau memperbaiki kesalahan. c. Yang dimaksud dengan metodologi analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur atau langkah-langkah kerja analasis kesalahan berbahasa. d. Langkah-langkah kerja analisis kesalahan berbahasa berikut (1)

mengumpulkan data kesalahan, maksudnya segala kesalahan yang terjadi di dalam proses pembelajaran baik formal maupun nonformal perlu didata atau dicatat dan dikumpulkan, (2) mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kesalahan, kesalahan yang telah didata diidentifikasi kemudian

diklasifikasikan sesuai tingkat keslahannya, (3) mengurutkan kesalahan berdasarkan frekuinsinya, kesalahan itu dilihat dan diurutkan berdasarkan tingkat keseringan terjadinya kesalahan, (4) menjelaskan kesalahan, kesalahan yang terjadi setelah diurutkan dijelaskan sebab akibat terjadinya keslahan, (5) memprediksi tataran kebahasaan yang rawan kesalahan, memperkirakan bidang kebahasaan mana yang sering terjadi kesalahan siswa, (6) mengoreksi kesalahan, kesalahan yang ada dikoreksi atau diperiksa supaya dapat diambil langkah perbaikan selanjutnya. e. Tujuan analisis kesalahan berbahasa adalah mencari dan menentukan landasan perbaikan pengajaran bahasa. 4. pengertian kesalahan, sumber dan penyebab kesalahan. a. Makna kesalahan berbahasa bila dipandang dari sudut,  guru, kesalahan berbahasa itu adalah suatu aib atau cacat cela bagi pengajaran bahasa,  siswa, menandakan bahwa pengajaran bahasa tidak berhasil atau gagal. b. Makna kesalahan berbahasa yang dijumpai dalam literatur analisis kesalahan berbahasa ialah kesalahan berbahasa itu hanya dikaitkan dengan kaidah bahasa atau tata bahasa saja.

c. Makna sembuyan Pakailah bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahwa pemakaian bahasa Indonesia itu harus mengikuti faktor-faktor penentu dalam berkomunikasi dan istilah tata bahasa. d. Beda antara kesalahan berbahasa dengan kekeliruan berbahasa adalah kesalahan berbahasa disebabkan oleh faktor pemahaman, kemampuan kompetensi seseorang. Kekeliruan berbahasa terjadi karena lupa atau keliru dalam menerapkan kaidah bahasa, sifatnya tidakpermanen. Persamaannya adalah penyimpangan kaidah bahasa. e. Sumber dan penyebab kesalahan berbahasa dalam pengajaran bahasa kedua maupun bahasa pertama terletak pada perbedaan sistem linguistik bahasa pertama dengan sistem linguistik bahasa kedua.

ANALISIS KESALAHAN BAHASA DALAM MEDIA BAWEAN

Oleh : Drs. H. Abdul Khaliq

1. Pengantar Dari 20 orang pemberi saran dan kritik kepada Media Bawean, edisi 1 Januari 2011, ada 17 orang ( 85% ) yang memberikan pujian, harapan, dan doanya. Hanya 3 orang ( 15% ) pemberi saran dan kritik yang berhubungan dengan kebahasaan. Ketiga orang tersebut adalah Sdr. Hanif Benjoseph, Sdr. Halis Emilianenkov, dan Sdr. Asror Ch. Saya adalah orang keempat yang akan memberikan saran dan kritik kepada Media Bawean. Kritik dan saran ini saya bingkai dalam judul "Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia pada Penulisan Berita dan Artikel di Media Bawean.

Hasil analisis saya ini, saya tulis menjadi tiga bagian, yaitu : A. Analisis Kesalahan Ejaan pada Judul; B. Analisis Kesalahan Ejaan pada Isi; dan C. Analisis Kesalahan Kalimat.

2. Korpus data : Ada 43 judul berita, dan 2 judul artikel yang saya ambil dari entri lawas pada Media Bawean yang terbit pada kurun waktu akhir Desember 2010 s.d. awal Januari 2011.

3. Metode : Deskriptif komparatif 4. Tujuan : 1. Mengidentifikasi jenis-jenis kesalahan berbahasa Indonesia, yang meliputi ejaan, frase, kata, dan kalimat. 2. Membandingkan dan mendeskripsikan bentuk-bentuk yang salah dengan bentukbentuk yang benar.

3. Membantu dan mendorong penulis berita/ artikel agar memperhatikan dan mengikuti kaidah - kaidah penulisan yang benar.

5. Langkah-langkah : Agar dapat menganalisis kesalahan berbahasa secara baik, maka diperlukan langkah langkah sbb.: a. Pengumpulan data; b. Pengidentifikasian kesalahan; c. Penjelasan kesalahan; d. Pengklarifikasian kesalahan; dan e. Pengevaluasian kesalahan.

Atas dasar langkah langkah di atas dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan analisis kesalahan dalam berbahasa adalah suatu proses kerja yang digunakan oleh para guru atau peneliti bahwa dengan langkah langkah pengumpulan data, pengidentifikasian kesalahan, penjelasan kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian taraf keseriusan kesalahan. (Tarigan, 1990 : 68) dalam Pakde Sofa. (Pdf/ http://www.findtoyou.com)

6. Hasil analisis data: 6.1. Kesalahan ortografi (ilmu ejaan); 6.2. Ketidakmampuan membedakan penggunaan kata depan (di, ke) dengan (di) sebagai imbuhan, seperti penulisan: kedepan > ke depan disungai > di sungai di tandai > ditandai 6.3. Penulisan unsur serapan yang tidak tepat seperti: terisolir > terisolasi standarisasi > standardisasi 6.4. Bidang morfologi, yakni pada afiksasi, seperti penulisan: ketidak tahuan > ketidaktahuan

ketidak sengajaan > ketidaksengajaan 6.5. Penyusunan kalimat yang diawali dengan kata penghubung 6.6. Penyusunan kalimat tidak bersubjek 6.7. Penyusunan kalimat tidak berobjek 6.8. Kata yang mubazir, seperti: agar supaya, mulai dari.

7. Persebaran Kesalahan Ejaan pada Penulisan Judul

8. Analisis

A. Analisis Kesalahan Ejaan pada Penulisan Judul Kajian Pustaka Keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan lambang lambang bunyi ujaran dan bagaimana inter-relasi antara lambang lambang itu (pemisahannya dan penggabungannya) dalam suatu bahasa disebut ejaan. (Keraf, 1984: 47)

Ada tiga ejaan yang pernah berlaku di Indonesia: 1. Ejaan van Ophuysen atau ejaan Balai Pustaka pada tahun 1901. 2. Ejaan Suwandi atau Ejaan Republik pada tahun 1947. 3. Ejaan yang Disempurnakan (EyD) yang mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1972. Berlakunya ejaan ini berdasarkan Keputusan Presiden RI No.57 Tahun 1972.

Kemudian, ejaan ini mengalami revisi dengan nama Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987, dicermatkan pada Rapat Kerja ke-30 Panitia Kerja Sama Kebahasaan di Tugu, tanggal 1620 Desember 1990 dan diterima pada Sidang ke-30 Majelis Bahasa Brunei Darussalam Indonesia Malaysia di Bandar Seri Begawan, tanggal 4 6 Maret 1991. Secara garis besar Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan berisi pedoman tentang: I. Pemakaian huruf, II. Pemakaian huruf kapital dan huruf miring, III. Penulisan kata, IV. Penulisan unsur serapan, dan V. Pemakaian tanda baca.

Pengertian Judul

Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dll. Judul merupakan identitas atau cermin dari jiwa seluruh karya tulis bersifat menjelaskan diri dan dapat menarik perhatian. Ada kalanya judul menunjukkan tempat atau lokasi. Dalam artikel, judul sering disebut juga kepala tulisan. Ada yang mendefinisikan judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi menggambarkan isi bahasan dari artikel tersebut.

Syarat syarat pembuatan judul: 1. Harus relevan, yaitu harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut. 2. Harus provokatif, yaitu harus menarik dengan sedemikian rupa, sehingga menimbulkan rasa keingintahuan dari tiap pembaca terhadap isi buku atau karangan tersebut.

3. Harus singkat, yaitu tidak mengambil kalimat atau frase yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Usahakan judul tidak lebih dari lima kata (Keraf,1985:129).

Judul terbagi menjadi 2, yaitu: 1. Judul langsung Judul langsung ini erat kaitannya dengan bagian utama berita, sehingga hubungannya dengan bagian utama tampak jelas. 2. Judul tidak langsung Judul tidak langsung ini tidak erat hubungannya dengan bagian utama berita, tetapi tetap menjiwai seluruh isi karangan atau berita.

Fungsi judul: 1. Merupakan identitas/ cermin dari jiwa seluruh karya tulis. 2. Temanya menjelaskan isi dan menarik, sehingga mengundang orang untuk membacanya atau untuk mempelajari isinya. 3. Merupakan gambaran global tentang arah, maksud, tujuan, dan ruang lingkupnya. 4. Relevan dengan isi seluruh naskah karya tulis, baik dalam masalah, maksud, dan tujuannya (http://yukfuk.wordpress.topik-tema-judul/).

A. Analisis Kesalahan Ejaan pada Judul

a) Kesalahan penulisan kata depan (di, ke, dari) Perhatikan contoh contoh penulisan judul berikut: (1) Ulama Merapatkan Barisan Stop Kemaksiatan Di Bawean (MB, 30/12/2010) (2) Keluarga Besar Mahali Jasuli Di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010) (3) Subanin (Kades Sukalela) Turun Ke Sungai Cari Batu (MB, 29/12/2010) (4) Sporter Dari Bawean Berangkat Ke Malaysia (MB, 25/12/2010)

Pedoman EyD:

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Misalnya: Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

Ia menyelesaikan makalah Asas-Asas Hukum Perdata.

Alternatif pembenarannya: (1) Ulama Merapatkan Barisan Stop Kemaksiatan di Bawean (MB, 30/12/2010) (2) Keluarga Besar Mahali Jasuli di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010) (3) Subanin (Kades Sukalela) Turun ke Sungai Cari Batu (MB, 29/12/2010) (4) Sporter dari Bawean Berangkat ke Malaysia (MB, 25/12/2010)

b) Kesalahan penulisan singkatan

Perhatikan contoh contoh penulisan judul berikut: (5) Mimpi RS. Tipe D Bawean Dari Listrik Berubah Dokter (MB, 30/12/2010) (6) KH. Kasim Dari Singapore Bantu Renovasi Masjid Jami (MB, 22/12/2010) (7) Listrik Di Bawean 24 Jam Kurangi Beban PT. Telkom (MB, 01/01/2011)

Pedoman EyD: Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.

Misalnya: A.S. Kramawijaya Muh. Yamin

Suman Hs. Sukanto S. A. M.B.A master of bussiness administration M.Sc. master of science S.E. sarjana ekonomi S.Kar. sarjana karawitan S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat Bpk. bapak Sdr. saudara Kol. kolonel

b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.

Misalnya: DPR Dewan Perwakilan Rakyat PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia GBHN Garis Garis Besar Haluan Negara SMTP Sekolah Menengah Tingkat Pertama PT Perseroan Terbatas KTP Kartu Tanda Penduduk

c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.

Misalnya: dll. dan lain-lain dsb. dan sebagainya dst. dan seterusnya hlm. halaman sda. sama dengan atas

Yth. Yang terhormat

Tetapi: a.n. atas nama d.a. dengan alamat u.b. untuk beliau u.p. untuk perhatian

d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

Misalnya: Cu kuprum TNT trinitrotoluen cm centimeter kVA kilovolt-ampere l liter kg kilogram Rp rupiah

Alternatif pembenarannya: (5) Mimpi RS Tipe D Bawean dari Listrik Berubah Dokter (MB, 30/12/2010) (6) K.H. Kasim dari Singapore Bantu Renovasi Masjid Jami (MB, 22/12/2010) (7) Listrik di Bawean 24 Jam Kurangi Beban PT Telkom (MB, 01/01/2011)

c) Kesalahan tidak memakai tanda koma

Kesalahan penulisan tanda koma: (8) Keluarga Besar Mahali Jasuli Di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010)

Pedoman EyD:

Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya: Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.

Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor Surabaya, 10 Mei 2010 Kuala Lumpur, Malaysia

Alternatif pembenarannya: (8) Keluarga Besar Mahali Jasuli di Gelam, Pulau Bawean (MB, 30/12/2010)

d) Kesalahan tidak memakai huruf miring

Perhatikan contoh contoh penulisan judul berikut:

(9) FB Merambah Bumi Bawean Kalangan Anak Sampai Tua (MB, 04/01/2011) (10) Dan Fitnah itu Bernama HP (MB, 26/12/2010)

Pedoman EyD: Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

Misalnya: Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana. Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.

Alternatif pembenarannya:

(9) FB Merambah Bumi Bawean Kalangan Anak Sampai Tua (MB, 04/01/2011) (10) Dan Fitnah itu Bernama HP (MB, 26/12/2010)

e) Kesalahan tidak memakai titik dua (:)

Perhatikan contoh penulisan judul berikut:

(11) Ketua Umum KTB Hadirilah Molod Internasional (MB, 04/01/2011)

Pedoman EyD: Tanda titk dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Alternatif pembenarannya: 11) Ketua Umum KTB: Hadirilah Molod Internasional! (MB, 04/01/2011)

f) Kesalahan tidak konsisten penulisan huruf nama orang Perhatikan contoh contoh penulisan judul berikut: (12) Mahalli Bin Jazuli Pemain Timnas Malaysia Keturunan Bawean (MB, 26/12/2010) (13) Keluarga Besar Mahali Jasuli Di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010)

Penulisan huruf nama orang pada contoh judul (12) dan (13) di atas, manakah ejaan yang benar? Mahalli ataukah Mahali? Jazuli ataukah Jasuli?

g) Kesalahan penulisan kata

Perhatikan contoh penulisan judul berikut: (14) Suara Hati Pengelolah Media Bawean (MB, 01/01/2011)

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ditemukan entri kata pengelolah. Yang ada kata pengelola (tanpa huruf h di akhir kata).

Pengelola di ambil dari kata dasar kelola > mengelola pengelola ( KBBI, 1995: 470)

Alternatif pembenarannya: (14) Suara Hati Pengelola Media Bawean (MB, 01/01/2011)

h) Kesalahan penulisan unsur serapan Perhatikan contoh contoh penulisan judul berikut: (15) Sporter Garuda Dari Bawean Berangkat Ke Malaysia (MB, 25/12/2010) (16) Ribuan Warga Pulau Bawean Terisolir (MB, 16/12/2010)

Pedoman EyD: Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur pinjaman yang belum terserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, lexploitation de lhomme par lhomme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar diubah seperlunya, sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk aslinya. Pedoman yang sesuai dengan kata serapan di atas (15) dan (16) adalah konsonan ganda menjadi tunggal kecuali bila kata dapat membingungkan.

supporter > supporter

Tetapi:

mass > massa

Akhiran asing -(a)tion (Inggris), -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si.

Contoh: publication, publicatie menjadi publikasi isolation, isolatie menjadi isolasi, bukan isolir atau terisolir.

Alternatif pembenarannya: (15) Suporter Garuda dari Bawean Berangkat ke Malaysia (MB, 25/12/2010) (16) Ribuan Warga Pulau Bawean Terisolasi (MB, 16/12/2010)

i) Kesalahan tidak memakai tanda tanya (?) Perhatikan contoh penulisan judul berikut: (17) Berlakukah Ujian Nasional Versi Dagelan Di Bawean (MB, 10/01/2011) Pedoman EyD: Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Alternatif pembenarannya: (17) Berlakukah Ujian Nasional Versi Dagelan di Bawean? (MB, 10/01/2011)